Tafsir Al-Azhar - Al-Ahzab -033



 ayat : 1   يا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللهَ وَلا تُطِعِ الْكافِرينَ وَ الْمُنافِقينَ إِنَّ اللهَ كانَ عَليماً حَكيماً
 

Wahai Nabi! Taqwalah engkau kepada Allah dan janganlah engkau ikuti
orang orang yang kafir dan orang-orang munafiq . Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.


        ayat : 2.   وَ اتَّبِعْ ما يُوحى‏ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ إِنَّ اللهَ كانَ بِما تَعْمَلُونَ خَبيراً

Dan ikutilah apa yang telah diwahyukan kepada engkau darl Tuhan engkau ; Sesungguhnya Allah terhadap apa yang kamu kerjakan adalah Maha Tahu.


              ayat : 3      وَ تَوَكَّلْ عَلَى اللهِ وَ كَفى‏ بِاللهِ وَكيلاً

Dan bertawakkallah kepada Allah dan cukuplah kepada Allah sahaja bertawakkal.


ما جَعَلَ اللهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ في‏ جَوْفِهِ وَما جَعَلَ أَزْواجَكُمُ اللاَّئي‏ تُظاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهاتِكُمْ وَما جَعَلَ أَدْعِياءَكُمْ أَبْناءَكُمْ ذلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْواهِكُمْ وَ اللهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَ هُوَ يَهْدِي السَّبيلayat : 4 َ

Tidaklah Allah menjadikan pada seseorang dua hati dalam rongga­nya dan tidaklah isteri-isteri kamu yang telah kamu serupakan punggungnya dari kalangan mereka menjadi ibumu dan tidaklab Dia menjadikan anak yang kamu angkat jadi anakmu benar-benar Itu hanyalah ucapanmu dengan mulutmu. Dan Allah mengatakan yang benar dan Dia akan menunjuki jalan.


 ٱدْعُوهُمْ لِآبائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آباءَهُمْ فَإِخْوانُكُمْ فِي الدِّينِ وَ مَواليكُمْ وَ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُناحٌ فيما أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَ لكِنْ ما تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَ كانَ اللهُ غَفُوراً رَحيما   ً

Panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka. Itulah yap lebih adil disisi Allah. Dan jika tidak kamu ketahui siapa bapa bapak mereka, maka adalah mereka saudara kamu seagama maula-maula kamu. Tetapi tidaklah kamu berdosa jika kamu salah dengan dia, melainkan jika disengaja oleh hati kamu. dan Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang. ( ayat : 5 ) .


Dalam ayat 1 sampai 3 terdapatlah peringatan kepada Nabi.
Dalam ayat 4 sampai 5 terdapat peringatan kepada ummat.

Nampak pada lahir seakan-akan tidak ada hubungan. Tetapi apabila kita fahami lebih mendalam, nampaklah benang sutera halus yang menghubung­kan ayat 3 yang semula dengan ayat 4 dan 5. Mari kita Cobalah perhatikan !

            يا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللهَ
"Wahai Nabi! Taqwalah engkau kepada Allah." (Pangkal ayat 1).

Nabi akan selalu mengajak orang lain supaya bertaqwa. Namun ajakan beliau kepada orang lain itu tidak akan ada artinya, cuma akan jadi cemoohan orang kalau beliau hanya menyuruh padahal dia sendiri tidak bertaqwa. Sebab itu maka Allah menasehatkan kepadanya supaya taqwa itu ditanamnya teguh terlebih dahulu dalam dirinya, sehingga orang lain yang diajak bertaqwa akan mematuhi dengan baik dan setia, sebab mereka melihat contohnya pada tingkah laku beliau sendiri.

             وَلا تُطِعِ الْكافِرينَ
"Dan janganlah engkau ikuti orang-orang yang kafir dan orang-orang yang munafiq".

Tentu saja ajakan dari orang kafir dan munafiq tidak boleh dituruti. Ini pun suatu perintah mawas diri daripada Allah kepada Rasul-Nya. Karena kadang-kadang kafir dan munafiq itu akan menyusun juga ajakan-ajakan yang pada lahirnya manis, padahal dalam batinnya berisi ajakan yang pahit. Kemudian datang sambungan ayat:

           إِنَّ اللهَ كانَ عَليماً حَكيماً
"Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana."
(Ujung ayat 1).

Allah menutup peringatan-Nya terhadap Rasul­Nya dengan kata demikian. Ialah karena orang yang kafir, apatah lagi orang munafiq kerap kali . mengeluarkan perkataan yang manis, padahal mengandung maksud hendak menyeret Rasul ke dalam perangkap yang telah mereka pasang.


           وَ اتَّبِعْ ما يُوحى‏ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ
"Dan ikutilah apa yang telah diwahyukan kepada engkau oleh Tuhan engkau. " (Pangkal ayat 2).

Di ayat pertama melarang mengikuti kehendak kafir dan munafiq, di ayat kedua dijelaskan bahwa jalan yang akan ditempuh hanya satu, yaitu mengikuti wahyu yang diturun­kan Tuhan dari alif sampai yaa.

Dari pangkal jalan sampai ke ujung jalan, jangan disela-sela dengan yang lain. Sebab. jalan lurus itu hanya satu, yaitu jalan Allah. Adapun jalan kafir dan munafiq tidaklah ber­sumber dari wahyu Ilahiy, melainkan dari fikiran manusia atau perdayaan syaithan.

                       إِنَّ اللهَ كانَ بِما تَعْمَلُونَ خَبيراً
 "Sesungguh.nya Allah terhadap apa yang kamu kerjakan adalah Maha Tahu." (Ujung ayat 2)

Oleh karena Allah Maha Tahu dan Maha Teliti atas segala perbuatan yang dikerjakan oleh manusia, jelaslah bahwa hati sanubari manusia pun dalam kontrole Tuhan selalu. Dia tidak boleh menyeleweng dari garis yang ditentukan-Nya.


                       وَ تَوَكَّلْ عَلَى اللهِ
"Dan bertawakkallah kepada Allah". (Pangkal ayat 3).

Artinya ialah supaya beliau, Rasulullah saw. menyerahkan dirinya sebulat­bulatnya kepada 'Tuhan, penuh kepercayaan, jangan bimbang. Harus yakin bahwasanya jalan yang ditunjukkan Tuhan itulah yang benar, yang lain tidak ada.
 

                   وَ كَفى‏ بِاللهِ وَكيلاً
"Dan cukuplah kepada Allah sahaja bertawakkal". (Ujung ayat 3).

Kesimpulan dari ketiga ayat ini adalah pegangan hidup bagi Rasul dan bagi tiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul. Agama Islam hukanlah semata-mata anutan dan pelukan. Dia bukan semata-mata aqidah yang masuk akal atau yang disebut "rasionil". Dan bukanlah semata-mata beribadat, melakukan sembahyang, puasa, zakat dan hajji menurut peraturan, rukun dan syarat yang tertentu.

Al-Islam bukanlah semata-mata mempertengkarkan soal-soal khilafi­yah hasil ijtihad Ulama-Ulama terkemuka. Islam adalah kumpulan dari itu semuanya yang dijiwai oleh rasa kesadaran bahwa kita melangkah dalam arena kehidupan dengan penuh kesadaran akan tanggung jawab berhadapan dengan Tuhan.

Dapat kita tegaskan lagi bahwa agama Islam itu ialah disiplin yang keras terhadap diri sendiri, terutama dalam kedudukan orang sebagai pemimpin.

Pendirian yang tegas dan pegangan yang teguh, berani menghadapi segala kemungkinan di dalam mempertahankan pendiri­an. Itu sebabnya maka pada ayat yang pertama sekali diperingatkan kepada Rasul sendiri agar beliau sekali-kali jangan mengacuhkan dan mengikuti kehendak dan permintaan orang-orang yang telah nyata kafir, apatah lagi munafiq.

Bertawakkal kepada Allah, artinya ialah bahwa tempat bertanggung jawab hanya semata-mata kepada Tuhan :


                 ما جَعَلَ اللهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ في‏ جَوْفِهِ
"Tidaklah Allah menjadikan pada seseorang dua hati dalam rongga­nya. "
(Pangkal ayat 4).

Pangkal ayat ini adalah d a s a r hidup untuk jadi pegangan bagi orang yang mempunyai aqidah Tauhid. Dalam ungkapan secara modern ialah bahwa orang yang pecah tujuan hidupnya atau pecah kumpulan cintanya adalah orang yang sebagai menghentakkan kayu yang berjupang dua ke dalam bumi, niscaya tidak akan mau terbenam.

Maka tidaklah akan beres berfikir seorang yang dalam hatinya berkumpul menyembah kepada Allah dengan menyembah kepada benda. Itu namanya musyrik. Sejak dari ayat 1, dan ayat 2 sudah dijelaskan oleh Tuhan kepada Rasul-Nya, jangan dia mengikuti kehendak kafir dan munafiq disertai dengun tha'at kepada ' Allah.

Kalau sekali hati telah bulat menyembah kepada Allah, persembahan kepada kafir dan munafiq atau persembahan kepada benda mesti ditinggalkan.

وَما جَعَلَ أَزْواجَكُمُ اللاَّئي‏ تُظاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهاتِكُمْ
"Dan tidaklah isteri-isteri kamu yang telah kamu serupakan punggungnya di antara mereka menjadi ibumu".

Kebiasaan orang Arab di zaman jahiliyah jika mereka tidak suka lagi kepada isteri mereka, maka mereka katakanlah bahwa punggung isteri itu serupa dengan punggung ibunya. Tentu saja kalau punggung isteri telah diserupakan dengan punggung ibu sendiri, kasih sayang kepada isteri sudah disamakan dengan kasih sayang kepada ibu.

Kalau isteri sudah dianggap ibu, tentu dikacau-balaukan kasih kepada ibumu yang tidak boleh dikawini sudah dikacau-balaukan dengan kasih kepada isteri yang menjadi teman tidur ! .

Sikap demikian adalah termasuk kekacauan jiwa juga, tidak dapat dibiarkan. Isteri tetap isteri dan kasih kepada isteri ialah disetubuhi dan menghasilkan anak. Ibu tetap ibu dan kasih kepada ibu adalah buat dikhidmati. Sebab itu maka kebiasaan menyerupakan punggung isteri dengan punggung ibunya itu adalah perbuatan yang salah dan tidak benar.

Pada Surat ke-58, Al-Mujaadalah yang diturunkan di Madinah juga, kebiasaan jahiliyah ini telah diberantas dan dilarang. Barang­siapa melakukannya dikenakan denda (Kaffarah). Yaitu memerdeka­kan budak, atau memberi makan 60 orang miskin atau puasa dua bulan berturut-turut. (Lihat Surat pertama dari Juzu' ke-29).

وَما جَعَلَ أَدْعِياءَكُمْ أَبْناءَكُمْ
"Dan tidaklah Dia menjadikan anak yang kamu angkat jadi anakmu benar-benar".

Biasa juga di zaman jahiliyah orang memungut anak orang lain lalu dijadikannya anaknya sendiri. Anak yang diangkat itu berhak membangsakan diri kepada orang yang mengang­katnya itu.
Bahkan hal ini terjadi pada diri Nabi Muhammad saw. sendiri. Seorang budak, (hamba sahaya) yang dihadiahkan oleh isterinya Khadijah untuk merawat beliau, bernama Zaid anak Haritsah. Karena sayangnya kepada anak itu beliau angkat anak dan hal ini diketahui umum.

Di ayat ke-37 kelak akan lebih jelas lagi ahwa Nabi Muhammad saw, sendirilah yang disuruh melepaskan diri terlebih dahulu daripada kebiasaan yang buruk itu, yaitu mengambil anak orang lain jadi anak angkat.

ذلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْواهِكُمْ
"Itu hanyalah ucapan dengan mulutmu".

Yaitu bahwa mengatakan anak orang lain jadi anak sendiri itu hanyalah ucapan mulut, bukan keadaan yang sebenarnya. Sebab yang sebenarnya anak ialah aliran dari air dan darah sendiri.

وَ اللهُ يَقُولُ الْحَقَّ
"Dan Allah mengatakan yang benar",
yaitu anak orang lain bukanlah jadi anakku, walaupun engkau sorakkan di muka umum. Kalau cara sekarangnya walaupun engkau kuatkan dengan kesaksian Notaris, dengan surat-surat pemerintah yang sah. Yaitu sah menurut peraturan yang bukan dari Allah.

وَ هُوَ يَهْدِي السَّبيلَ
"Dan Dia akan rnenunjuki jalan". (Ujung ayat 4).

Jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan itu ialah syari'at Islam. Maka segala peraturan yang lain, terrnasuk peraturan orang kafir yang dijalankan dalam Dunia Islam, mengangkat anak orang lain jadi anak sendiri, bukanlah jalan yang benar.

Islam telah mengadakan aturan sendiri dalam menjaga nasab dan keturunan, sehingga apabila seseo­rang meninggal dunia sudah ada ketentuan pembagian harta pusaka (faraidh).

Namun mengangkat anak orang lain jadi anak sendiri, lalu mengatur pula agar harta pusaka setelah mati diserahkan pula kepada anak angkat itu adalah melanggar pula kepada ketentuan hak milik yang telah ditentukan syari'at.

Di Indonesia sebagai sebuah negeri yang 350 tahun lamanya dijajah diakui pula peraturan mengangkat anak itu, sebagai sisa dari peraturan Belanda.

Kalau Ummat Islam menjalankar pula peraturan yang ditinggalkan Belanda itu, nyatalah mereka melanggar syari'atnya sendiri. Inilah yang diperingatkan Tuhan kepada Rasul-Nya pada ayat pertama surat ini, agar Rasul jangan mengikut kepada kafir dan munafiq.


ٱدْعُوهُمْ لِآبائِهِمْ
"Panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka. "
(Pangkal ayat 5).

Dahulu Zaid budak yang dimerdekakan dan diangkat anak di zaman jahiliyah oleh Nabi ita dipanggilkan Zaid bin Muhammad. Dengan ayat ini datanglah ketentuan supaya dia dipanggil kembai menurut yang sewajarnya , yaitu Zaid bin Haritsah.

Ada juga kejadian seorang anak yang kematian ayah sewaktu dia masih amat kecil. Lalu ibunya kawin lagi dan dia diasuh dan dibesarkan oIeh ayah tirinya yang sangat menyayangi dia.

Dengan tidak segan-segan si anak menaruhkan nama ayah tirinya di ujung. namanya, padahal bukan ayah tirinya itu ayahnya yang sebenarnya. Itu pun salah. Karena walaupun betapa tingginya nilai kasih sayang dan hutang budi, namun kebenaran tidaklah boleh diubah dengan mulut. Mengganti nama ayah itu pun satu kedustaan. Sebab itu maka ditegaskan Tuhan di lanjutan ayat :

هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللهِ
"Itulah yang lebih adil , di sisi Allah".

Maka mengganti itu tidaklah adil. Itu adalah curang.

فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آباءَهُمْ فَإِخْوانُكُمْ فِي الدِّينِ
"Dan jika tidak kamu ketahui siapa bapak-bapak mereka maka adalah mereka saudara-saudara kamu seagama".

Orang yang tidak terang siapa bapak-bapak mereka ini ialah orang yang biasa ditawan dalam peperangan ketika dia masih kecil, orang tuanya telah mati dan dia telah hidup dalam masyarakat Islam. Atau orang seagama dari negeri lain yang belum kita kenal keturunannya.

Ayat ini menunjuk­kan hendaklah mereka dipanggil sebagai saudara. Maka kalau orang itu masih muda, panggil sajalah dia sebagai saudara.

وَ مَواليكُمْ
"Dan maula­ maula kamu".

Maula mengandung arti perlindungan dan pimpinan timbal balik , Pokok kata ialah dari wilayah, menjadi wali, menjadi maulaa. Dia dapat diartikan Pelindung, Raja, Tuanku, tetapi dia pun! dapat diartikan orang yang diperlindungi.

Setelah Agama Islam ber­kembang luas dan negeri yang ditaklukkan oleh tentara Islam bertam­bah jauh, banyaklah anak muda-muda kehilangan keluarga lalu diambil dan dipelihara oleh tentara Islam yang menang. Mereka dibawa ke negeri Islam dididik dalam Islam. Diakui termasuk kekelu­argaan dari kaum yang memeliharanya.

Dalam Islam maula-maula (jama'nya mawaali) diberi didikan yang tinggi. Mereka memperdalam pengetahuan tentang Islam. Imam Bukhari ahli hadits yang masyhur itu adalah seorang Maulaa dari Bani Ju'fah, yaitu qabilah Arabi yang diperintahkan Khalifah menaklukkan Bukhara di zaman Bani Oma­yah.

Banyak Ulama-ulama Islam di zaman Tabi'in adalah Maulaa. Malahan ada di antara mereka yang jadi shahabat Rasulullah, sebagai Bilal bin Rabah, Salim Maula Abu Huzaifah dan lain-lain. ulama Tabi'in yang besar, yaitu Imam 'Athaak di Mekkah, AI-Hasan Al-­Bishriy di Basrah, keduanya adalah Maulaa. Tuan-tuan besar dari Arab berjuang jadi pahlawan dalam perang, sedang maula-maula jadi Pahlawan Ilmu Pengetahuan Islam.

وَ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُناحٌ فيما أَخْطَأْتُمْ بِهِ
"Tetapi tidaklah kamu berdosa jika kamu tersalah dengan dia".

Yaitu salah yang bukan disengaja, karena tidak tahu.

وَ لكِنْ ما تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ
"Melainkan jika disengaja oleh hati kamu".

Misalnya membangsakan orang kepada yang hina, atau menghinakan orang karena warna kulitnya. Itu sangatlah disalahkan oleh Rasulullah saw.

وَ كانَ اللهُ غَفُوراً رَحيماً
"Dan Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (ujung ayat 5).

Memberi ampun atas kesalahan tempo dulu yang telah terlanjur, Maha Penyayang kepada hamba-Nya yang patuh sehingga Dia beri petunjuk jalan yang benar dan langkah yang betul.

Berkenaan dengan ayat-ayat yang tengah kita tafsirkan ini teri­ngatlah kita menyalinkan suatu kejadian ketika Rasulullah mengerjakan 'Umratul Qadhaa di tahun ke tujuh, karena tidak jadi di tahun keenam, lantaran membuat perjanjian dengan kaum Quraisy di Hudai­biyah.

Dalam perjalanan pulang dari Mekkah menuju Madinah, menu­rutlah dari bekalang Nabi dan sahabat-sahabat seorang gadis kecil. Anak itu adalah anak yatim, anak dari "Sayyidusy Syuhadaa"', Hamzah bin Abdil Muththalib, paman Nabi dan saudara sepersusuan dengan Nabi.

Karena di waktu kecilnya dia sama-sama disusukan dengan Nabi oleh pembantu rumah tangga Abu lahab, salah seorang saudara tertua dari Hamzah dan paman pula dari Nabi.

Anak perempuan kecil itu memanggil-manggil dari belakang, minta dibawa serta; Dia berseru-seru: "Ya 'Ammi, Ya 'Ammi". (Hai paman, hai paman!),

Lalu 'Ali bin Abi Thalib mendekati anak itu dan dia berkata kepada isterinya Fathimah binti Muhammad: "Bawa dia. Sebab dia adalah anak dari paman kau". Lalu anak itu dibawa oleh Fathimah.

Tetapi ada tiga orang yang berada di sana waktu itu, yaitu 'Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan Ja'far bin Abi Thalib. Ketiganya sama ingin hendak memelihara dan membesarkan anak itu. Semua mengeluarkan alasan. 'Ali berkata: "Aku lebih berhak. Sebab dia anak perempuan pamanku!"
Zaid bin Haritsah berkata: "Aku lebih berhak, sebab dia anak saudaraku".
Sebab di antara Hamzah dengan Zaid dipersaudarakan oleh Rasulullah dikala mulai hijrah ke Madinah.

Lalu berkata Ja'far bin Abi Thalib: "Dia anak perempuan dari pamanku, dan khalah-nya (saudara perempuan dari ibunya) adalah isteriku". Yang dimaksudnya ialah Asmaa bin 'Umais. Isteri Hamzah adalah kakak kandung dari Asma' bin 'Umais.

Ketiganya lalu meminta keputusan.kepada Rasulullah saw. Maka beliau memutuskan bahwa Ja'far bin Abi Thalib-lah yang akan meme­lihara anak perempuan Hamzah itu, sebab isteri Ja'far, Asma' binti 'Umais adalah saudara kandung ibunya.

Nabi bersabda:
"Saudara perempuan ibu adalah menempati tempat ibu".

Kepada 'Ali bin Abi Thalib beliau berkata: "Engkau dari diriku dan aku dari diri engkau".
Kepada Ja'far bin Abi Thalib beliau berkata:"Engkau serupa benar dengan daku, baik dari pihak bentuk badan ataupun dari pihak bentuk budi".
Kepada Zaid bin Haritsah beliau berkata: "Engkau adalah sauda­ra kami dan maula kami".

Beliau mendasarkan ucapan beliau kepada Zaid itu ialah kepada ayat Al-Qutan tadi bahwa mereka adalah saudara-saudara kamu dan maula-maula kamu".

Dengan demikian beliau telah dapat mendamaikan orang-orang yang berselisih dengar, memuaskan hati masing-masing, dan gadis kecil itu beliau serahkan kepada yang lebih berhak, yaitu adik dari ibu kandungnya, yang disebut khaalah-nya

 



 النَّبِيُّ أَوْلى‏ بِالْمُؤْمِنينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَ أَزْواجُهُ أُمَّهاتُهُمْ وَ أُولُوا الْأَرْحامِ بَعْضُهُمْ أَوْلى‏ بِبَعْضٍ في‏ كِتابِ اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنينَ وَ الْمُهاجِرينَ إِلاَّ أَنْ تَفْعَلُوا إِلى‏ أَوْلِيائِكُمْ مَعْرُوفاً كانَ ذلِكَ فِي الْكِتابِ مَسْطُوراً

Nabi itu adalah lebih utama bagi orang yang beriman dari diri mereka sendiri, dan isteri-isteri beliau adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah yang setengah dengan yang setengah lebih utama di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mu'min dan orang-orang yang berhijrah, kecuali kalau kamu hendak berbuat baik kepada saudara-saudara kamu Adalah yang demikian itu, di dalam Kitab Allah, telah tertulis. ( ayat : 6 )


. وَ إِذْ أَخَذْنا مِنَ النَّبِيِّينَ ميثاقَهُمْ وَ مِنْكَ وَ مِنْ نُوحٍ وَ إِبْراهيمَ وَ مُوسى‏ وَ عيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَ أَخَذْنا مِنْهُمْ ميثاقاً غَليظاً

Dan (ingatlah) seketika Kami telah mengambil perjanjian dari Nabi-Nabi dan dari engkau dan dari Nuh dan Ibrahim dan Musa dan 'Isa anak Maryam. Dan telah Kami ambil dari mereka perjan­jian yang berat.


 لِيَسْئَلَ الصَّادِقينَ عَنْ صِدْقِهِمْ وَ أَعَدَّ لِلْكافِرينَ عَذاباً أَليماً

Agar Dia menanyakan kepada'orang-orang yang jujur akan kejujuran mereka, dan telah Kami sediakan untuk orang-orang yang tidak mau percaya siksaan yang pedih.  ayat : 8. )


Di dalam ayat tiga berturut-turut ini, ayat 6 dan 7 dan 8 kita mendapat betapa erat hubungan seorang ummat dengan Rasul-Nya, dan bagaimana pula hubungan erat janji setia seorang Rasul dengan Tuhan yang .mengutusnya.

النَّبِيُّ أَوْلى‏ بِالْمُؤْمِنينَ مِنْ أَنْفُسِهِم
"Nabi itu lebih utama bagi orang yang beriman daripada diri mereka sendiri".(Pangkal ayat 6).

Inilah pokok hidup orang Islam! Yaitu mencintai Nabi saw. lebih daripada mencintai diri sendiri. Sabda Rasulullah saw. di dalam hadits yang sahih begini bunyinya:

"Demi yang diriku ada dalam tangan-Nya, tidaklah beriman seseorang kamu sebelum aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri dan hartanya, dan anaknya dan manusia sekaliannya".
(Dirawi­kan oleh Bukhari).

Dan sebuah hadits lagi, berkenaan dengan ayat ini:
Dari Jabir (moga-moga ridha Allah atas dirinya), Nabi bersabda:

 "Aku adalah lebih utama bagi tiap-tiap orang yang beriman dari­pada dirinya sendiri. Kalau ada yang meninggal dan dia mening­galkan hutang, akulah yang akan membayarnya. Dan barangsiapa yang meninggalkan harta, maka harta bendanya itu adalah untuk warisnya. "

(Dirawikan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Tersebutlah dalam sebuah hadits yang sahih pula bahwa 'Umar bin Khaththaab pernah berkata: "Ya Rasul Allah! Sesungguhnya engkau adalah lebih aku cintai dari pada apa pun jua, kecuali dari dirimu sendiri".

Maka bersabdalah Rasulullah saw,: "Tidak ya 'Umar ! Melainkan bahwa aku lebih engkau cintai, walaupun dari dirimu sendiri."
Maka menyambutlah 'Umar: "Ya Rasul Allah! Sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari tiap-tiap apa pun, walaupun dari diriku sendiri".
Sekarang Nabi menyambut: "Sekarang baru ya 'Umar!" Artinya sekarang, setelah engkau merasakan bahwa Nabimu lebih engkau cintai, walaupun daripada dirimu sendiri, barulah berarti dan barulah diterima Tuhan imanmu itu.

Tentu saja kecintaan kepada Nabi ini tersebab mengakui bahwa dia adalah Rasul Allah, untuk menyampaikan wahyu Ilahiy kepada makhluk. Lalu orang yang beriman menyatakan bahwa apa yang beliau katakan itu adalah benar, lalu dilaksanakannya apa yang beliau perintahkan, sebab itu adalah perintah dari Allah. Dan dia hentikan segala yang beliau larang, sebab larangan itu pastilah datang dari Allah.

Semata-mata cinta saja dengan tidak memenuhi syarat cinta, mengerjakan suruh menghentikan tegah, tidaklah ada artinya. Tidak ada orang di dunia ini yang lebih cinta kepada Nabi Muhammad saw. daripada pamannya yang membesarkannya dari keciI, yaitu Abu Thalib. Dipertahankannya kemenakannya itu dari segala caci makian musuhnya.

Dia turut ke dalam tawanan bersama kemenakannya seketika Bani Hasyim dan Bani 'Abdil Muthathlib diboikot oleh Quraisy dua tahun lamanya. Tetapi sayang sekali ketika diajak masuk Islam dengan mengucapkan pengakuan "Tidak ada Tuhan melainkanAllah, dan Muhammad adalah Rasulullah", beliau enggan, maka matilah beliau sebelum menyatakan diri jadi Islam.

Begitu jugalah cara-cara menyatakan cinta yang lain kepada Nabi. Membaca shalawat yang berbagai ragam nama shalawat itu, sehingga ada dikarang kitab khusus yang isinya semata-mata berisi shalawat Nabi, tidaklah berarti semuanya itu kalau mencintai Nabi tidak diikuti dengan melaksanakan sunnahnya, melaksanakan perintahnya dan menghentikan larangannya.

   وَ أَزْواجُهُ أُمَّهاتُهُمْ
"Dan isteri-isteri beliau adalah ibu-ibu kamu".

Yaitu untuk dihormati dan dimuliakan, sehingga sesudah Rasulullah wafat, tidaklah boleh ibu-ibu orang yang beriman itu dinikahi oleh ummat Nabi Muhammad.
Isteri-isteri Nabi itu diberi sebutan atau gelar "Ummul Mu'minin", ibu dari orang-orang beriman.

Sama pendapat ahli-ahli fiqhi bahwa anak-anak perempuan dari isteri-isteri Nabi itu atau saudara-saudara perempuannya, tidaklah turut. Semata-mata untuk menghormati saja, menurut suatu riwayat, Imam Syafi'i menyebutkan anak-anak perempuan mereka 'Akhawatu'l mu'minin"; saudara-saudara perempuan dari orang-orang yang ber­iman.
Lantaran itu niscaya Rasulullah sendiri pun dianggap sebagai Bapak, meskipun tidak dipanggilkan beliau "Bapak!"

Tersebut dalam sebuah hadits:

"Aku ini bagi kamu adalah laksana seorang ayah yang mengajarkan kamu; maka jika ada seorang di antara kamu pergi ke kakus, janganlah menghadap ke qiblat dan jangan membelakanginya dan jangan mencuci dengan tangan kanan. "
(Dirawikan oleh Abu Dawud dari hadits AN Hurairah).


ْ وَ أُولُوا الْأَرْحامِ بَعْضُهُمْ أَوْلى‏ بِبَعْضٍ في‏ كِتابِ اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنينَ وَ الْمُهاجِرينَ إِلاَّ أَنْ تَفْعَلُوا إِلى‏ أَوْلِيائِكُمْ مَعْرُوفاً
"Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah yang setengah dengan yang setengah lebih utama di dalam kitab Allah,dari pada orang-orang mu'min dan orang-orang yang berhijrah, kecuali kalau kamu hendak berbuat baik dengan saudara-saudara kamu".

Maksud bahagian ayat ini ialah mendudukkan soal harta-benda menurut hukum hak-milik yang asal dalam kitab Allah. Yaitu bahwa di antara anak dengan bapak, bapak dengan anak atau saudara yang bertali darah, menurut hukum asal di dalam Kitab Allah merekalah yang pusaka-mempusakai.

Tetapi seketika kaum Muslimin Mekkah jadi Muhajirin ke Madinah dan mereka diterima oleh saudara mereka seiman yang bernama Anshar di Madinah, sangatlah akrab hubungan mereka, bahkan sampai mereka itu dipersaudarakan oleh Nabi saw. sehingga sebagai saudara kandung layaknya. Misalnya Zubair bin 'Awwam (Ridha Allah atas beliau) sebagai seorang terkemuka Muhajirin, sampai di Madinah telah dipersaudarakan oleh Nabi saw. dengan Ka'ab bin Malik.

Kedatangan Zubair waktu itu adalah dalam keadaan sangat melarat, tidak ada harta benda sama sekali. Dia disambut sebagai menyambut saudara kandung sendiri oleh Ka'ab. Di waktu Ka'ab jatuh sakit keras nyaris mati, Ka'ab mewasiatkan seluruh hartanya yang tinggal untuk Zubair.

Demikianlah akrabnya Muhajirin dan Anshar itu, sehingga waris mewarisi. Dan hal itu pun dapat dimaklumi karena masing-masing telah putus hubungan dengan kerabat sedarah. Ada Muhajirin yang putus dengan ayah, atau putus dengan anak, atau putus sekali keduanya.

Seumpama Abu bakar sendiri. Dia hijrah, sedang ayahnya sendiri dan puteranya Abdurrahman masih tinggal dalam keadaan musyrik di Mekkah. Yang lain pun begitu pula. Maka dalam ayat ini diperingatkan bahwa hukum yang asal dalam Kitab Allafi ialah pertalian yang erat yang sedarah, sehingga peraturan tirkah harta waris (faraidh) diatur dalam Surat An-Nisaa'. Adapun kasih sayang karena iman dan hijrah tetap berlaku sebelum saudara-saudara atau anak dan bapak itu turut pula memeluk Agama Islam. Itulah yang dimaksud dengan bunyi ayat:

  إِلاَّ أَنْ تَفْعَلُوا إِلى‏ أَوْلِيائِكُمْ مَعْرُوفاً كانَ ذلِكَ فِي الْكِتابِ مَسْطُور
"Kecuali kalau kamu hendak berbuat baik dengan saudara-saudara kamu , Adalah yang demikian itu, di dalam kitab Allah, telah tertulis." (Ujung ayat 6).

Dengan keterangan di ujung ayat ditetapkanlah hukum yang asli dan diakui pula hukum sementara ketika ada perubahan yang tidak disangka-sangka pada mulanya. Lantaran itu maka ayat ini memberikita perbandingan dalam meletakkan hukum, bahwasanya di masa yang sangat darurat, sehingga hukum yang asli tidak dapat berjalan, orang boleh melalui cara yang lain, asal dapat dipertanggungjawabkan menurut suara iman.

وَ إِذْ أَخَذْنا مِنَ النَّبِيِّينَ ميثاقَهُمْ وَ مِنْكَ وَ مِنْ نُوحٍ وَ إِبْراهيمَ وَ مُوسى‏ وَ عيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

"Dan (ingatlah) seketika Kami telah mengambil perjanjian dari Nabi-nabi dan dari engkau dan dari Nuh dan Ibrahim dan Musa dan Isa anak Maryam". (Pangkal ayat 7).

Dalam ayat ini Tuhan menyatakan bahwa sebelum seorang Nabi akan memikul tugasnya terlebih dahulu mereka membuat perjanjian dengan Tuhan, bahwa mereka akan menyampaikan kepada ummat masing-masing apa yang telah mereka terima dari Allah, tidak boleh ada yang disembunyikan, dan mesti tahan menderita, mesti sabar dan teguh hati. Terutama ialah lima orang Nabi, atau Rasul. Yaitu Nabi Muhammad saw. sendiri yang dalam ayat ini disebut 

"dan dari engkau".

Sebelum itu ialah dengan Nabi Nuh, Nabi.yang dahulu sekali menerima syari'at di antara Nabi-nabi. Sesudah itu ialah Nabi Ibrahim, kemudian itu Nabi Musa dan Nabi 'Isa anak Maryam. Kelima Nabi ini disebut "Ulul 'Azmi minar rusuli", yang dianggap sebagai mempunyai tugas lebih berat di antara Nabi-nabi.
Di dalam Surat ke-42, Asy-Syuura ayat 13 dijelaskan pula maksud ayat seperti ini. Yaitu:

"Telah Dia syari'atkan kepada kamu dari hal agama, apa yang lelah diperintahkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyu­kan kepada engkau dan apa yang telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Musa dan 'Isa, agar supaya mereka mendirikan agama dan jangan berpecah-pecah padanya".

    وَ أَخَذْنا مِنْهُمْ ميثاقاً غَليظاً
"Dan telah Kami ambil dari mereka perjanjian yang berat". (Ujung ayat 7 ).

Ujung ayat ini menjelaskan lagi keterangan di pangkal ayat tentang perjanjian itu. Bahwa perjanjian yang diambil itu bukanlah ringan, melainkan amat berat. Dengan demikian agar kita dapat mengambil i'tibar dan pengajaran bahwasanya pekerjaan segala nabi-nabi itu bukanlah pekerjaan yang ringan. Menyampaikan da'wah bukanlah pekerjaan yang dapat disambilkan.

Bahkan dapat kita lihat pada pengalaman Nabi Yunus; yang merasa kecil hati menghadapi kekerasan kepala kaumnya lalu merajuk dan meninggalkan tugas, menimpalah kepadanya percobaan yang berat, yaitu dilemparkan ke laut untuk meringankan isi kapal yang dia tumpang, lalu ditelan ikan.

Nabi Musa sendiri seketika mengatakan bahwa dirinyalah yang paling pintar dan pandai di zamannya; dia disuruh pergi belajar kepada Nabi Khidhir. Nabi Zakariya seketika kepalanya mulai digergaji oleh kaum yang zhalim dia hendak memekik merintih kesakitan, telah ditegor oleh malaikat Jibril, agar penderitaan itu ditanggungkannya dengan tidak mengeluh dan merintih.

  لِيَسْئَلَ الصَّادِقينَ عَنْ صِدْقِهِمْ

"Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang jujur akan kejujuran mereka". (Pangkal ayat 8).

Artinya ialah bahwa kelak Allah akan bertanya kepada orang-orang jujur, yang mau menjawab dengan betul, adakah Nabi-Nabi menyampaikan risalah masing-masing dengan jujur ? Ummat tiap-tiap Nabi itu akan ditanyai, adakah nabi-nabi itu melakukan tugas mereka dengan baik ? Adakah risalah yang tidak mereka sampaikan ?

Semuanya tentu akan menjawab dengan sejujur­nya pula, bahwa kewajiban itu telah beliau-beliau lakukan dengan sebaik-baiknya, tidak ada yang ketinggalan Iagi. Itu sebabnya bahwa setengah daripada isi seruan yang warid, bila kita ziarah kepada maqam Rasulullah saw. di Madinah, di antara yang kita ucapkan di hadapan maqam (kubur) beliau ialah:

"Sesungguhnya engkau telah menyampaikan risalah dan telah engkau tunaikan amanat".

Sesudah orang-orang yang jujur itu menjawab dengan sejujurnya pula bahwa Nabi-nabi itu telah melancarkan tugas mereka dengan sempurna, barulah Allah akan mengambil tindakan:

  وَ أَعَدَّ لِلْكافِرينَ عَذاباً أَليماً
"Dan telah Kami sediakan untuk orang-orang yang tidak mau percaya siksaan yang pedih". (Ujung ayat 8 ).

Dengan menanyakan terlebih dahulu kcpada orang-orang yang jujur adakah Nabi-nabi menunaikan risalah mereka dengan baik, ialah agar Allah tidak menjatuhkan azab siksaan secara aniaya. Orang yang benar-benar bersalahlah yang akan dihukum. Berdasar kepada penegasan Tuhan pada ayat yang lain:

"Dan tidaklah ada kami akan menjatuhkan azab, sehingga kami utus seorang Rasul." ( Al-Israa' ayat 15).

Maka apabila Tuhan menjatuhkan hukuman adalah semata-mata dengan adil dan orang yang dijatuhi azab pun tidak akan mengatakan bahwa dia teraniaya. Dia pun akan mengakui bahwa azab yang diterimanya itu adalah patut.

Semuanya ini pun jadi ibarat perbandingan bagi golongan yang disebut Ulama, yang dikatakan oleh Rasul bahwa Ulama adalah penerima waris Nabi-nabi. Sedangkan Nabi-nabi yang mereka warisi lagi memikul tugas dan mengikat janji berat dengan, betapa lagi bagi orang yang diwajibkan mewarisinya.

 



 ayat : 17

 قُلْ مَنْ ذَا الَّذي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللهِ إِنْ أَرادَ بِكُمْ سُوءاً أَوْ أَرادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللهِ وَلِيًّا وَلا نَصير

"Katakanlah!" - Ya Rasul Allah - "Siapakah yang akan melin­dungi kamu dari Allah, jika dia yang menghendaki bencana atas kamu, atau jika Dia yang menghendaki rahmat ? Dan tidaklah mereka akan memperoleh untuk diri mereka selain dari Allah yang akan jadi Pelindung dan tidak puta yang akan jadi Penolong".


قُلْ مَنْ ذَا الَّذي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللهِ إِنْ أَرادَ بِكُمْ سُوءاً أَوْ أَرادَ بِكُمْ رَحْمَة               ً
"Katakanlah!" - Ya Rasul Allah - "Siapakah yang akan melin­dungi kamu dari Allah, jika dia yang menghendaki bencana atas kamu, atau jika Dia yang menghendaki rahmat ? (Pangkal ayat 17).
 
Maksud ayat ini ialah menjelaskan bahwa dalam hal serupa ini hendaklah kamu ingat benar bahwa kamu tengah berhadapan dengan ketentuan Allah sendiri. Bahwasanya kekuasaan tertinggi adalah pada Allah mutlak semata-mata. Kalau kamu lari kamu pasti bertemu dengan bencana; dan tidak seorang jua pun atau tidak sesuatu jua pun yang dapat melindungi kamu daripada bencana yang telah ditentukan Allah itu. Tetapi jika kamu tegak di atas barisan kebenaran, berjuang menegakkan Islam bersama Nabi, pastilah Allah akan menununkan rahmat-Nya. Tidak pula seseorang pun atau sesuatu jua pun yang dapat menghambat kedatangan Rahmat itu.

وَلا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللهِ وَلِيًّا وَلا نَصير  "

Dan tidaklah mereka akan memperoleh untuk diri mereka selain dari Allah yang akan jadi Pelindung dan tidak puta yang akan jadi Penolong".
(Ujung ayat 17).

Inilah pedoman hidup dalam setiap perjuangan. Pelindung dan Penolong Insan yang sejati hanya Allah; lain dari Dia tidak ada. Kalau keyakinan begini telah ada, niscaya manusia akan mendapati kelegahan menghadapi hidup.

Dan dalam tiap langkah yang dilangkahkan kita tidak akan merasa bimbang. Yang benar dan yang diridhai oleh Allah pasti Dia yang melindungi dan menolongnya.
 


ayat : 18 

 قَدْ يَعْلَمُ اللهُ الْمُعَوِّقينَ مِنْكُمْ وَ الْقائِلينَ لِإِخْوانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنا وَلا يَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلاَّ قَليلا

"Sesungguhnya Allah telah mengetahui siapa orang-orang yang menghalang-.halangi di antara kamu Dan yang berkata kepada kawan-kawannya: "Segeralah kepada kami!".
Dan tidaklah mereka datang ke medan perang kecuali sececah".


                          قَدْ يَعْلَمُ اللهُ الْمُعَوِّقينَ مِنْكُم
"Sesungguhnya Allah telah mengetahui siapa orang-orang yang menghalang-.halangi di antara kamu".  (Pangkal ayat I8).

Yang dituju di sini ialah orang-orang munafiq lagi, tukang hasung dan tukang fitnah, lempar batu sembunyi tangan. Kalau ada orang akan berbuat baik mengikuti jejak Nabi saw. selalu dihalang-halanginya. Orang ini menyangka bahwa perbuatannya tidak akan ada yang mengetahui. Maka di pangkal ayat ini telah dijelaskan bahwa Tuhan sendirilah yang tahu lebih dahulu kejahatan orang ini.

وَ الْقائِلينَ لِإِخْوانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنا
"Dan yang berkata kepada kawan-kawannya: "Segeralah kepada kami!".

Bila dilihatnya ada orang agak terpencil sendirian, atau dilihatnya agak ragu-ragu, orang itu digamitnya, diajaknya rnenurut jejaknya, turutilah kami, segeralah menggabungkan diri dengan kami. Dengan menurutkan Muhammad itu kami tidak juga akan beroleh kesenangan. Lebih baik tegak jauh ­jauh saja.

وَلا يَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلاَّ قَليلا
"Dan tidaklah mereka datang ke medan perang kecuali sececah". (Ujung ayat 18).

Mereka menampakkan diri juga ke medan perjuangan, tetapi sececah saja atau sekejap. Tidak lama. Asal kelihatan saja. Karena hatinya tidak terhadap ke situ. Yang diharapkannya bukan kemenangan Agama Allah. Yang diharapkannya maka dia datang juga ke medan perang itu sebentar, atau sececah, ialah kalau terjadi kemenangan, mereka ada dapat bahagian harta rampasan.
 


ayat : 19

 أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذا جاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذي يُغْشى‏ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُولئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللهُ أَعْمالَهُمْ وَ كانَ ذلِكَ عَلَى اللهِ يَسيراً

"Mereka itu bakhil terhadap kamu ! Maka jika datang sesuatu yang menakutkan Engkau lihatlah mereka itu, mereka memandang kepada engkau berputar-putar mata mereka sebagai orang yang pingsan karena akan mati Maka apabila yang menakutkan itu sudah pergi Mereka caci maki kamu dengan lidah yang tajam, karena bakhil mereka akan berbuat baik Orang-orang itu tidaklah beriman Sebab itu maka Allah menggugurkan segala amalan mereka Dan yang demikian itu Adalah mudah saja bagi Allah ".


أَشِحَّةً عَلَيْكُم                   ْ
"Mereka itu bakhil terhadap kamu!" (Pangkal ayat 19).

Artinya kalau diminta kepada mereka mengurbankan harta benda mereka untuk belanja perjuangan, sangatlah enggan mereka mengeluarkannya. Dan kalau diminta pula mereka mengeluarkan tenaga badan, berat turut memikul dan ringan turut menjinjing, mereka melengah seakan-akan tidak tahu.
Inilah salah satu ciri pula dari kelakuan orang munafiq , Lalu ditambah lagi dengan ciri lain yang lebih memuakkan:

فَإِذا جاءَ الْخَوْف                                          
"Maka jika datang sesuatu yang menakutkan".

Yang biasa timbul di waktu-waktu terjadi peperangan atau kekacauan tidak menentu.
Di waktu demikian banyaklah timbul apa yang di zaman sekarang dinamai "issue-issue", yaitu kabar berita yang tidak tentu ujung pangkal. Di zaman revolusi biasa dinamai "radio dengkul". Kalau timbul
hal yang menakutkan itu:

رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذي يُغْشى‏ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْت                ِ
"Engkau lihatlah mereka itu, mereka memandang kepada engkau, berputar-putar mata mereka sebagai orang yang pingsan karena akan mati ".

Di dalam susunan kata ayat ini jelas sekali digambarkan kelemahan pribadi mereka ini. Jika mereka men­dengar berita yang menakutkan, misalnya terdengar bahwa musuh telah masuk menyelusup ke batas kota, dan sebentar lagi akan menerobos ke dalam kota, engkau lihatlah mereka itu dengan penuh rasa ketakutan, memandang kepada engkau.

Dalam ayat ini, yang dimaksud dengan e n g k a u ialah Nabi Muhammad saw. Sebab orang-orang itu mempunyai jiwa yang kerdil, pribadi yang sangat kecil, tidak mempunyai nilai diri sama sekali, bila terdengar saja hal yang membuat mereka takut, mereka pandang mata Nabi dengan pandangan yang penuh ketakutan. Ungkapan "berputar-putar" atau "terbalik-balik" mata mereka, atau "terbelalang" mata mereka memandang Nabi.

Di saat yang seperti demikian jelas sekali bahwa mereka tidak tahu apa yang akan mereka perbuat, sedang mereka sangat takut akan mati. Jika ingat akan mati itu, rasanya maulah mereka pingsan karena pengecutnya. Di saat genting demikian jelas sekali bahwa dalam hati kecilnya si munafiq itu mengakui juga bahwa yang dapat menghadapi hal yang menakutkan itu hanyalah Nabi saw.! , Selanjutnya:

فَإِذا ذَهَبَ الْخَوْف  
"Maka apabila yang menakutkan itu sudah pergi".

Atau bahaya sudah lepas mungkin karena bahaya itu tidak sebesar yang ditakutkan oleh si munafiq yang jiwa kecil itu, atau telah disapu bersih oleh kegagah-beranian kaum yang ber-iman di bawah pimpinaa Nabi saw.;

سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ
"Mereka caci maki kamu dengan lidah yang tajam, karena bakhil mereka akan berbuat baik".

Demikianlah ketika bahaya masih ada mereka pengecut, menjauh dan berdiam diri, takut mendekat dan serba serbi ketakutan. Mereka biarkan orang yang mengatasi bahaya itu berjuang setengah mati. Dan kalau bahaya telah terlepas, barulah mereka membuka mulut mengata-ngatai orang yang telah pergi, mencela orang yang bekerja keras. Lalu dia membela diri, mengemu­kakan berbagai alasan mengapa dia selama ini berdiam diri. Bahwa berdiam dirinya itu adalah suatu siasat. "Orang-orang pengecut memandang bahwa dia pengecut itu adalah suatu pendapat juga. Memang demikianlah thabi'at dari jiwa yang rendah".

Dalam ayat dijelaskan juga sebabnya. Yaitu karena mereka bakhil, enggan berbuat baik. Pendirian hanya sekedar mementingkan diri sendiri atau keuntungan benda yang nyata. Lebih dari itu tidak! Dia tidak mau susah-susah. Dia tidak mempunyai cita-cita yang tinggi dalam hidup. Tidak mempunyai keberanian moral.
Tuhan telah menjelaskan intinya, siapa sebenarnya

أُولئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا 
"Orang-orang itu tidaklah beriman".

Pokok hidup ialah Iman percaya kepada Tuhan. Sebagai tersebut di ayat 17 di atas tadi, bahwa kalau Allah menghendaki akan menjatuhkan bencana, tidak ada orang yang sanggup menghambat, dan kalau Dia hendak menurunkan Rahmat, tidak pula ada yang sanggup menghalangi. Orang yang berjuang berjihad dalam jalan Allah memasang pedoman dalam jiwanya sendiri, pedoman Iman. Adapun orang yang tidak ada hakikat IMAN, tidaklah ada yang akan diperjuangkannya.
Dia tidak mempunyai keberanian menempuh hidup. Sebab itu maka segala amal perbuatan mereka tidaklah mempunyai latar belakang cita-cita.

فَأَحْبَطَ اللهُ أَعْمالَهُمْ
"Sebab itu maka Allah menggugurkan segala amalan mereka".

Yaitu kerap kalilah amal perbuatan mereka itu gugur sebelum berkembang, terhenti di tengah jalan sebelum sampai kepada yang dituju, atau hilang dalam pusaran air, tidak tentu entah kemana.

وَ كانَ ذلِكَ
"Dan yang demikian itu"
yaitu menggugurkan segala amal perbuatan mereka, atau gagal, atau kecewa,

عَلَى اللهِ يَسيراً
" Adalah mudah saja bagi Allah " (Ujung ayat 19).

Oleh sebab itu jadi peringatanlah bagi orang yang beriman agar memperteguh Iman dan mengokohkan tawakkal kepada Tuhan disertai ikhlas di dalam segala pekerjaan yang tengah dihadapi, agar amal itu diberkati oleh Tuhan dan tidak digugurkan begitu saja, sehingga berbeda hasil dari yang direncanakan. Bukan hasil yang baik melainkan buruk .
 


ayat : 20  

 يَحْسَبُونَ الْأَحْزابَ لَمْ يَذْهَبُوا وَ إِنْ يَأْتِ الْأَحْزابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُمْ بادُونَ فِي الْأَعْرابِ يَسْئَلُونَ عَنْ أَنْبائِكُمْ وَلَوْ كانُوا فيكُمْ ما قاتَلُوا إِلاَّ قَليلاً

"Mereka mengira bahwa golongan-golongan bersekutu itu belum pergi Dan jika golongan-golongan bersekutu itu datang, inginlah mereka berada bersama-sama Badwi-A'raab Bertanya-tanya tentang berita kamu Dan jika mereka ada beserta kamu, tidaklah mereka akan turut perang, kecuali sedikit. "


يَحْسَبُونَ الْأَحْزابَ لَمْ يَذْهَبُوا
"Mereka mengira bahwa golongan-golongan bersekutu itu belum pergi".
(Pangkal ayat 20):

Ini pun adalah salah satu ciri perangai si munafiq dan pengecut itu. Meskipun musuh-musuh itu telah pergi, karena telah hampir sebulan mereka melakukan pengepungan namun hasilnya kosong sama sekali, lalu mereka tinggalkan tempat itu karena diusir oleh tentara yang tidak kelihatan, namun si pengecut masih belum percaya bahwa musuh itu telah pergi. Mereka masih bersembunyi di belakang kain sarung isterinya. Ada diceriterakan bahwa tatkala Kerajaan Islam Aceh ditakluk­kan dengan kekerasan senjata oleh penjajah Belanda, lebih dari 40 tahun lamanya terjadi peperangan di antara penyerbu Kristen Barat itu dengan Mujahid Islam mempertahankan kemerdekaan.

Pada suatu hari tentara Belanda masuk menyerbu ke dalam sebuah kampung. Didapati tidak ada seorang laki-laki pun yang kelihatan di kampung itu. Yang tinggal hanya perempuan-perempuan saja. Patroli Belanda mendapati seorang perempuan Aceh sedang menumbuk padinya di halaman rumahnya. Belanda patroli itu bertanya: "Adakah di sini laki-laki ? "Perempuan itu menjawab: "Di sini tidak ada laki-laki" , Karena tidak percaya Belanda itu menggeledah ke atas rumah.
Di bawah tempat tidur didapatinya seorang laki-laki dewasa bergelung bersembunyi. Laki-laki itu ditarik keluar dengan paksa. Mukanya pucat ketakutan.

Lalu diseret leher bajunya dan dibawa kepada perempuan itu. Belanda itu berkata: "Kau katakan tadi tidak ada laki ­laki. Sekarang ternyata kau sembunyikan di bawah tempat tidur. Kau berbohong". "Saya tidak berbohong", kata perempuan itu dengan gagah bera­ninya. "Segala laki-laki telah pergi ke medan perang, jadi Muslimin sejati melawan musuh. Yang tinggal di kampung bukanlah laki-laki. Orang yang tidak berani berjihad ke medan perang bukanlah laki-laki'; kata perempuan itu. Jawaban yang tegas dan berani dari seorang perempuan Aceh itu, dicatat oleh orang Belanda tentang semangat jihad orang Aceh melawan kafir.

Maka jiwa orang yang menyangka bahwa golongan-golongan bersekutu (Al-Ahzaab) masih ada dan belum meninggalkan penge­pungan Madinah, dan mereka masih bersembunyi, samalah dengan laki-laki yang tidak mempunyai semangat laki-laki sejati sampai bersembunyi ke bawah tempat tidur dan disaksikan oleh seorang perempuan di hadapan musuh bahwa orang yang bersembunyi itu bukanlah laki-laki sejati.

Selanjutnya:

وَ إِنْ يَأْتِ الْأَحْزابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُمْ بادُونَ فِي الْأَعْراب                        ِ
"Dan jika golongan-golongan bersekutu itu datang , inginlah mereka berada bersama-sama Badwi-A'raab",

yaitu tinggal bersama-sama dengan orang-orang Badwi, hidup mengembara di padang pasir mengembalakan ternak kambing dan onta, pindah dari satu tempat ke tempat lain. Badwi yang masih mengembara itu disebut A'raab. Bukan 'Arab. A'raab disebutkan untuk mereka yang belum hidup ke dalam kota dan belum mencapai kehidupan yang menetap. Dan 'Arab disebutkan kepada mereka yang telah berdiam di kota,sebagai Madinah, di Mekkah dan di Thaif di masa itu, atau di Damaskus atau di Palestina.

Maka orang-orang munafiq yang pengecut itu berfikir, jika misal­nya musuh bersekutu itu menyerbu ke dalam kota, mereka akan lebih dahulu mengelakkan diri lari ke padang pasir jadi Badwi, jauh dari kota-kota.

يَسْئَلُونَ عَنْ أَنْبائِكُم                               
"Bertanya-tanya tentang berita kamu".

Maka fikiran ig terlintas dalam otak mereka ialah lari berlepas diri, tidak mau turut terlibat dengan urusan menghadapi musuh. Di sana menunggu nunggu khabar berita, menangkah kaum Muslimin atau kalah. Masih adakah musuh dalam kota atau sudah pergi.

وَلَوْ كانُوا فيكُمْ ما قاتَلُوا إِلاَّ قَليلاً
"Dan jika mereka ada beserta kamu, tidaklah mereka akan turut perang, kecuali sedikit. " (ujung ayat 20)

Sekedar untuk memperl­ihatkan diri saja, asal jangan tidak sama sekali. Karena kalau peperangan itu menang, mereka mengharap dapat bahagian juga dari harta rampasan.

Sebagai diketahui tidaklah pernah terjadi golongan-golongan musuh yang telah bersekutu itu masuk ke dalam kota Madinah. Sebab angin puting beliung, atau angin sikukut bulu telah menghabiskan dan menjilat hapuskan mereka dari lembah sebelah Timur kota Madinah sebelum mereka dapat berbuat apa-apa. Allah telah mengirim tenta­ranya, terutama angin itu sendiri.
Cuaca telah menjadi salah satu senjata strategi yang ditakdirkan Tuhan buat menghapuskan rencana kaum yang kafir itu.

Tetapi dalam ayat-ayat yang tersebut di atas Tuhan telah menelanjangi jiwa-jiwa manusia dan perangainya, kelema­hannya dan ketakutannya dan kepengecutan. Di suat-saat heboh seperti itulah akan ternyata bagaimana sebenarnya sikap jiwa dari segala orang.

Di dalam ayat 11 di atas tadi sudah dinyatakan bahwa semuanya ini adalah suatu percobaan, atau bala bencana yang menimpa diri kaum yang beriman. Mereka telah digempakan, telah goncangkan, dengan goncangan yang amat sangat.

Nama-nama orang tidaklah disebut di dalam ayat-ayat Surat Ahzaab ini, betita lengkap hanya terdapat di dalam kitab-kitab sirah Nabawiyah". Riwayat Perjuangan Hidup Rasulullah saw., sebagai yang ditulis oleh Ibnu Hisyam yang diterimanya dari Ibnu Ishaq. Tetapi kejadian ini akan jadi peringatan terus-terusan selama zaman. Memang pepatah terkenal "Sejarah berulang", menurut keterangan setengah ahli sejarah tidaklah tepat, sebab sejarah selalu bertukar dan bergiliran, tetapi perangai dan tingkah laku manusia, dipengaruhi oleh lingkungan dan masa, tidaklah banyak perubahannya sehingga orang dapat menyusun perangai jiwa menjadi salah satu ilmu, yaitu "Ilmu Jiwa".

Dan Al-Qur'an kaya dengan bahan-bahan baku untuk mengkaji jiwa manusia itu. Sampai dapat dibandingkan perangai munafiqin di perang Ahzaab dengan kejadian-kejadian di belakang, sebagai kita kemukakan perbandingannya beberapa kali di atas tadi.



 لَقَدْ كانَ لَكُمْ في‏ رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللهَ وَ الْيَوْمَ الْآخِرَ وَ ذَكَرَ اللهَ كَثيراً

Sesungguhnya adalah bagi kamu pada Rasulullah itu teladan yang baik; Bagi barangsiapa yang mengharapkan Allah dan Hari Kemudian dan yang banyak ingat kepada Allah. ( Ayat 21 )  


 وَ لَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزابَ قالُوا هذا ما وَعَدَنَا اللهُ وَ رَسُولُهُ وَ صَدَقَ اللهُ وَ رَسُولُهُ وَما زادَهُمْ إِلاَّ إيماناً وَ تَسْليماً

Dan tatkala orang-orang yang beriman melihat golongan-golongan bersekutu itu, mereka berkaita : "Inilah dia yang dijanjikan kepada kami oleh Allah dan Rasul-Nya, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya". Dan tidaklah hal ini menambah kepada mereka melainkan Iman dan Penyerahan. (ayat 22)


 مِنَ الْمُؤْمِنينَ رِجالٌ صَدَقُوا ما عاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضى‏ نَحْبَهُ وَ مِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَما بَدَّلُوا تَبْديلاً

Setengah dari orang-orang yang beriman itu adalah beberapa laki-laki yang dengan jujur memenuhi apa yang telah mereka janji­kan kepada Allah atasnya; Maka setengah dari mereka selesai tugasnya dan setengah dari mereka menunggu; dan tidaklah mereka mengubah-ubah, perubahan apa pun. ( Ayat 23 )


 لِيَجْزِيَ اللهُ الصَّادِقينَ بِصِدْقِهِمْ وَ يُعَذِّبَ الْمُنافِقينَ إِنْ شاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ كانَ غَفُوراً رَحيماً

Supaya mengganjarilah Allah terhadap orang yang benar karena kebenarannya dan akan diazabnya orang-orang yang munafiq jika Dia kehendaki, atau diberinya taubat atas mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pemberi Ampun, Maha Penyayang ( Ayat 24 ) .   


 وَ رَدَّ اللهُ الَّذينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنالُوا خَيْراً وَ كَفَى اللهُ الْمُؤْمِنينَ الْقِتالَ وَ كانَ اللهُ قَوِيًّا عَزيزاً

Dan Allah usir kembali orang.-orang yang kafir itu dengan sakit hati, tidak memperoleh yang baik. Dan Allah menghindarkan peperangan dari orang-orang yang beriman. Dan Allah adalah Maha Kuat, Maha Perkasa ( Ayat 25 ).  


Ummu Salmah (moga-moga ridha Allah terhadapnya), isteri Rasulullah saw. yang telah banyak pengalamannya sebagai isteri dari Rasulullah saw., yang turut menyaksikan beberapa peperangan yang dihadapi Rasulullah pernah mengatakan tentang hebatnya keadaan Kaum Muslimin ketika peperangan Khandaq itu.

Beliau berkata: "Aku telah menyaksikan di samping Rasulullah saw. beberapa pepe­rangan yang hebat dan ngeri, peperangan di Almuraisiya', Khaibar dan kami pun telah menyaksikan pertemuan dengan musuh di Hudaibiyah, dan saya pun turut ketika menaklukkan Mekkah dan peperangan di Hunain. Tidak ada pada semua peperangan yang saya turut menyaksikan itu yang lebih membuat lelah Rasulullah dan lebih membuat kami-kami jadi takut, melebihi peperangan Khandaq.

Karena kaum Muslimin benar-benar terdesak dan terkepung pada waktu itu, sedang Bani Quraizhah (Yahudi) tidak lagi dipercaya karena sudah belot, sampai Madinah dikawal sejak siang sampai waktu subuh, sampai kami dengar takbir kaum Muslimin untuk melawan rasa takut mereka. Yang melepaskan kami dari bahaya ialah karena musuh-musuh itu telah diusir sendiri oleh Allah dari tempatnya mengepung itu dengan rasa sangat kesal dan sakit hati, karena maksud mereka tidak tercapai". Demikian riwayat Ummu Salmah.

Namun di dalam saat-saat yang sangat mendebarkan hati itu, contoh teladan yang patut ditiru, tidak ada lain, melainkan Rasulullah sendiri. Tepat sekali apa yang dikatakan oleh ayat 21 ini:

لَقَدْ كانَ لَكُمْ في‏ رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
"Sesungguhnya adalah bagi kamu pada Rasulullah itu teladan yang baik".
(Pangkal ayat 2l).

Memang ada orang yang bergoncang fikirannya, berpenyakit jiwanya, pengecut, munafiq, tidak berani bertanggung jawab, berse­dia-sedia hendak lari jadi Badwi kembali ke dusun-dusun, tenggelam dalam ketakutan melihat dari jauh betapa besar jumlah musuh yang akan menyerbu.

Tetapi masih ada lagi orang-orang yang mempunyai pendirian tetap, yang tidak putus harapan, tidak kehilangan akal. Sebab mereka melihat sikap dan tingkah laku pemimpin besar mereka sendiri, Rasulullah saw.

Mulai saja beliau menerima berita tentang maksud musuh yang besar bilangannya itu, beliau terus bersiap mencari akal buat bertahan mati-matian, jangan sampai musuh sebanyak itu menyerbu ke dalam kota. Karena jika maksud mereka menyerbu Madinah berhasil , hancurlah Islam dalam kandangnya sendiri.

Dia dengar nasehat dari Salman Al-Farisiy agar di tempat yang musuh bisa menerobos di dalam khandaq, atau parit pertahanan. Nasehat Salman itu segera beliau Iaksanakan. Beliau sendiri yang memimpin menggali parit bersama ­sama dengan shahabat-shahabat yang banyak itu.

Untuk menimbulkan kegembiraan bekerja siang dan malam menggali tanah, menghancurkan batu-batu yang membelintang, beliau turut memikul tanah galian dengan bahunya yang semampai.

Ketika tiba giliran perlu memikul, beliau pun turut memikul, sehingga tanah ­tanah
dan pasir telah mengalir bersama keringat beliau di atas rambut beliau yang tebal.

Semuanya itu dikerjakan oleh shahabat-shahabatnya dengan gembira dan bersemangat, sebab beliau sendiri kelihatan gembira dan bersemangat.
Sehingga bekerja, bergotong-royong, menggali tanah, menyekap pasir, memukul batu sambil bemyanyi gembira, dengan syair-syair gembira gubahan 'Abdullah bin Ruwahah, dengan bahar rajaz yang mudah dinyanyikan.

"Demi Allah, kalau bukan kehendak Allah, tidaklah kami dapat petunjuk;
Tidaklah kami berzakat, tidaklah kami sembahyang."
"Maka turunkanlah ketenteraman hati kepada kami,
Dan teguhkanlah kaki kami jika kami bertemu musuh. "
"Sesungguhnya mereka itu telah kejam kepada kami,
Kalau mereka mau berbuat ribut, kami tak mau. "

Syair-syair dalam timbangan bahar rajaz ini mudah dilagukan bersama-sama dengan gembira. Maka sambil mengangkat tanah, memikul batu, memecah batu besar dengan linggis, mereka nyanyikan bahar Rajaz gubahan 'Abdullah bin Ruwahah itu bersamar sama.

Sama keadaannya dengan kerja gotong-royong "ramba te rata, ho ho", atau seperti yang saya dengar di kampung saya waktu masa kecil jika orang menarik tanggak dari hutan bersama-sama bergotong ­royong:

Helang hantok,
Muntari bilang lalok,
Di buah pondok.

Tetapi bahar rajaz gubahan 'Abdullah bin Ruwahah, penyair muda dari Madinah ini, yang kemudian mencapai syahidnya dalam peperangan Tabuk bersama Ja'far bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah adalah berisi rasa Iman yang mendalam.

Maka tiap-tiap tiba nyanyian di ujung syair, yaitu shallainaa pada bahar pertama dan Laaqaina dan Abainaa pada bahar kedua dan ketiga, Rasulullah pun turut mengangkat suara beliau dengan gembira , sehingga semua pun senang , lupa bagaimana beratnya pekerjaan dan bagaimana besarnya musuh yang dihadapi.

Maka janganlah kita samakan Rasulullah saw. yang memimpin penggalian parit khandaq itu dengan beliau-beliau orang-orang besar di zaman kini ketika meletakkan batu pertama hendak mendirikan gedung baru, atau menggunting pita ketika sebuah kantor akan dibuka, atau sembahyang ke masjid dengan upacara.

Beliau Rasulullah saw betul-betul memimpin.

Al-Barra' bin Al-'Azib berkata: "Tanah yang beliau angkat pun jatuh ke atas perut beliau dan lekat pada bulu dada dan perut. Karena bulu dada beliau tebal".

Setelah dikaji peperangan Khandaq ini secara ilmiyah, sebagai yang dilakukan oteh Jenderal Pensiun 'Abdullah Syist Khaththaab di Iraq, memang amat besar bahaya yang mengancam dalam Perang Khandaq itu.

Hari di musim dingin, persediaan makanan di Madinah berkurang-kurang. Kalau terbayang saja agak sedikit rasa kecemasan di wajah beliau, pastilah semangat para pejuang akan meluntur. Namun beliau bersikap seakan-akan bahaya itu kecil saja dan dapat diatasi dengan kegembiraan dan kesungguhan bekerja.
Disiplin keras tetapi penuh kasih sayang, meneladan shifat Allah 'Aziz yang disertai Hakiim. Perkasa disertai Bijaksana.

Dalam peperangan Khandaq itu semua bekerja keras siang malam.
Mulanya bekerja menggali parit, sesudah itu berjaga siang dan malam.
Besar dan kecil, tua dan muda. Kanak-kanak dan perempuan perempuan dipelihara dalam benteng (Athaam) dan dikawal. Zaid bin Tsabit, yang kemudian terkenal sebagai salah seorang yang dititahkan oleh Khalifah Rasulillah Abubakar Shiddiq mengumpulkan Al-Qur'an dalam satu mush-haf dan masih sangat muda, turut pula bekerja keras, menggali tanah, memikul pasir, dan memecahkan batu. Rasulullah pernah mengatakan:

"Adapun dia itu sesungguhnya adalah anak baik!"

Rupanya oleh karena sangat lelah bekerja dan berjaga, dan hari sangat dingin, dia masuk ke dalam parit itu sampai di sana dia tertidur dan senjatanya terlepas dari tangannya.

Datang seorang pemuda lain bernama 'Ammarah bin Hazem, diambilnya senjata yang telah terjatuh itu dan disimpannya. Setelah dia terbangun dari tidurnya dilihatnya senjatanya tak ada lagi. Dia pucat terkejut dan cemas.

Maka tibalah Rasulullah di tempat itu. Setelah beliau lihat Zaid baru terbangun dari tidurnya, berkatalah beliau:

"Hai Abaa Ruqaad! (Hai Pak Penidur), engkau tertidur dan senjatamu terbang!"
Tetapi wajah beliau tidak membayangkan marah sedikit juga, sehingga Zaid bertambah takut disertai malu.
Lalu beliau melihat keliling dan berkata pula: "Siapa yang menolong menyimpan senjatanya?"
'Ammarah menjawab: "Saya yang menyimpannya, ya Rasul Allah!"
Lalu beliau suruh segera kembalikan senjata Zaid dan beliau bernase­hat pula kepada 'Ammarah didengar oleh yang lain: "Saya dibuat seorang Muslim jadi cemas dengan menyembunyikan senjatanya sebagai senda gurau".

Suasana memimpin yang seperti itu adalah teladan yang baik kepada Panglima Perang yang menyerahkan tentaranya ke medan pertempuran. Beliau tahu benar bahwa Zaid itu anak baik. Tertidur karena sudah sangat lelah, bukanlah hal yang dapat dilawannya. Sambil bergurau saja beliau menegur, namun kesannya kepada Zaid besar sekali .

Kelihatan lagi sikap beliau yang patut dicontoh. Yaitu seketika Huzaifah telah selesai dari tugas berat dalam malam kelam picik dan sangat dingin diperintah menyelidiki keadaan musuh, sampai Huzaifah telah dekat kepada Abu Sufyan sendiri, sebagai yang telah diterangkan terlebih dahulu.

Huzaifah pulang dari tugas berat itu dalam keadaan malam sangat dingin dan angin sangat keras. Huzaifah menceriterakan bahwa seketika Huzaifah datang didapatinya beliau saw. tengah sembahyang.
Untuk menangkis dingin yang sangat itu, Rasulullah sembahyang berselimut dengan selimut tebal salah seorang isteri beliau.

Huzaifah datang beliau tahu. Tetapi oleh karena sembahyang beliau masih panjang dan belum selesai, ditariknya Huzaifah ke dekatnya, lalu dise­limutkannya kepada Huzaifah ujung selimut yang beliau pakai sembahyang itu, sehingga Huzaifah terpelihara dari pukulan angin dan dingin.

Sembahyang beliau teruskan, dan di belakang beliau, Huzaifah mengekor menutupi dan memanaskan badannya dengan ujung selimut yang dipakai Nabi sedang sembahyang itu. Setelah selesai barulah dia menoleh kepada Huzaifah meminta berita. Setelah mendengar berita Huzaifah, maka disampaikannyalah khabar gembira kepada Huzaifah bahwa tentara yang menyerbu itu dengan persekutuannya akan gagal.

Dan besoknya setelah matahari naik, mereka melihat ke sebelah timur, jelaslah bahwa tentara besar itu telah pergi dan yang tinggal hanya bekas-bekas dari tentara yang gagal

Maka bersyukurlah Rasulullah saw. kepada Tuhan lalu membaca:
"Tidak ada tuhan, melainkan Allah, yang berdiri sendiri-Nya. Benar janji-Nya, Dia tolong hamba-Nya, Dia muliakan tentara­Nya, dan Dia kalahkan sekutu-sekutu dengan sendiri-Nya. Make tidaklah ada sesuatu jua sesudah-Nya. "

Keteguhan sikap RasuIuIIah saw. itu pun adalah salah satu sebab yang utama maka kemenangan bisa dicapai. Lanjutan ayat ialah:

لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللهَ وَ الْيَوْمَ الْآخِرَ
"Bagi barang siapa yang mengharapkan Allah dan hari Kemudian".

Yaitu sesudah di pangkaI ayat dikatakan bahwa pada diri Rasulullah itu sendiri ada hal yang akan dapat dijadikan contoh teladan bagi kamu. Yaitu bagi kamu yang beriman. Semata ­mata menyebut iman saja tidaklah cukup. Iman mesti disertai pengharapan, yaitu bahwa inti dari iman itu sendiri. Inti Iman ialah harapan. Harapan akan Ridha Allah dan harapan akan kebahagiaan di hari akhirat.

Kalau tidak ingat akan yang dua itu, atau kalau hidup tidak mempunyai harapan, Iman tidak ada artinya. Maka untuk mernelihara Iman dan Harapan hendaklah banyak mengingat Allah. Sebab itu maka di ujung ayat dikatakan:

وَ ذَكَرَ اللهَ كَثيراً
"Dan yang banyak ingat kepada Allah". (Ujung ayat 21).

Ini diperingatkan di akhir ayat. Sebab barang yang mudah mengatakan mengikut teladan Rasul dan barang yang mudah mengata­kan beriman. Tetapi adalah meminta latihan bathin yang dalam sekali untuk dapat menjalankannya.

Seumpama orang yang mengambil alasan menuruti Sunnah Rasul yang membolehkan orang beristeri lebih dari satu sampai berempat, tetapi jarang orang yang mengikuti ujung ayat, yaitu meneladan Rasul di dalam berlaku adil kepada isteri­ isteri. Atau umumnya orang yang mengakui ummat Muhammad tetapi tidak mau mengerjakan peraturan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw.

Maka bertambah besar harapan kita kepada Tuhan dan keyakinan kita akan Hari Kemudian dan bertambah banyak kita mengingat dan menyebut Allah bertambah ringanlah bagi kita meneladan Rasul saw.


وَ لَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزابَ قالُوا هذا ما وَعَدَنَا اللهُ وَ رَسُولُهُ
"Dan (ingatlah) tatkala orang-orang beriman melihat golongan­ golongan bersekutu itu, mereka berkata: "Inilah dia yang dijanjikan kepada kita oleh Allah dan Rasul-Nya". (Pangkal ayat 22).

Sesudah di ayat-ayat sebelum ayat 21, Tuhan menerangkan bagaimana tingkah laku dan perangai orang-orang munafiq dan pengecut, sampai ada yang mengatakan bahwa janji Allah dan Rasul itu hanyalah tipu belaka (Lihat kembali ayat 12), sekarang Tuhan menerangkan pula bagaimana sikap dan tingkah laku orang yang beriman.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa setelah orang-orang beriman itu melihat beribu-ribu tentara Musyrikin Mekkah telah datang dari sebelah timur, kemudian datang pula Ghathfaan dari jurusan Nejd, mereka sanggup dengan ingatan akan janji Allah.

Sebab ayat 20 telah jadi pengantar bagi kita. Yaitu bahwa orang-orang yang beriman itu adalah banyak ingatannya terhadap Tuhan.

Mereka ingat bahwa Tuhan telah pernah berjanji, sebagaimana tersebut dalam Surat Al-Baqarah yang diturunkan di Madinah juga. (Surat 2, At-Baqarah, 214); yang isinya ialah bahwa orang-orang yang beriman jangan menyangka bahwa akan mudah saja masuk syurga sebelum melalui berbagai pengalaman, yang berupa kesukaran dan kemiskinan dan seakan-akam mereka digempakan. Sampai Nabi sendiri dan orang­orang yang telah menyatakan Iman kepada Nabi mengeluh menanya­kan, bilakah akan datang pertolongan Allah itu? Kalau sudah sampai demikian, itulah tanda bahwa pertolongan Allah itu sudah dekat.

Maka bila orang-orang yang beriman melihat musuh itu begitu banyaknya dan begitu pula jahat maksud mereka, tidaklah mereka takut , melainkan ayat Allah dalam Surat Al-Baqarah- ayat 214 itulah yang mereka ingat.

Hati mereka berkata : inilah tanda bahwa kemenangan telah dekat, dan kita tidak akan sampai kepada kemenangan itu kalau hal seperti ini belum pernah kita alami.
Lantar­an itu mereka yakin dan tidak ada ragu-ragu lagi , sampai berkata:

وَ صَدَقَ اللهُ وَ رَسُولُهُ
"Dan benarlah Allah dan Rasul Nya. "

Karena keyakinan yang demikian tidaklah mereka takut lagi menempuh apa jua pun yang akan terjadi, hata mati pun mereka mau menempuhnya. Apalah artinya nyawa sendiri, kalau kematian itu sudah nyata akan membawa kemenangan yang gilang gemilang bagi agama dan 'aqidah yang mereka peluk. Lantaran kepadatan hati menghadapi segala kemungkinan itu, disebutkanlah keadaan mereka di ujung ayat.

وَما زادَهُمْ إِلاَّ إيماناً وَ تَسْليماً
"Dan tidaklah hal itu menambah kepada mereka melain­kan Iman dan Penyerahan".(Ujung ayat 22).

Ujung ayat ini hendaklah diperhatikan betul-betul. Yaitu setelah melihat musuh telah membuat persekutuan besar karena hendak menghancurkan Islam, mereka yakin akan janji Allah dan Rasul, bahwa inilah pintu kepada kemenangan.

Seakan-akan kemenangan itu telah berdiri di hadapan mata mereka, sebab itu Iman dan Penyerahan mereka kepada Allah bertambah kuat dan teguh pula. Artinya bukanlah mereka lalai dan lengah, bukan pula berdiam diri karena telah yakin bahwa mereka akan menang juga.

Karena kemenangan yang dijanjikan itu masih juga bergantung kepada taslim, yaitu menyerah bulat kepada kehendak Allah dan Rasul, biar mati lumat di hadapan musuh. Maka bukanlah mereka berpangku tangan jadinya, bermalas-malas karena janji Allah pasti terjadi, yaitu kemenangan. Kelakuan yang demikian tidaklah sesuai dengan orang yang beriman.

Supaya lebih jelas lagi bagaiman arti mendalam yang terkandung dalam ayat 22 ini, marilah kita ingat bahwa 3000 kaum Muslimin yang berdiri menjaga parit jangan musuh sampai melalui batasnya itu adalah manusia belaka Manusia seperti kita yang datang di belakang ini. Mereka manusia dalam kekuatan dan kelemahannya.

Dalam keberanian atau ketakutannya. Kalau telah kita renungkan hal ini, dapat pula kita mengerti mengapa ada yang pengecut lalu jadi munafik sebagai ayat-ayat yang telah terdahulu tadi, tetapi ada pula yang bertambah teguh, imannya dan bertambah Taslim mereka kepada Allah. Itulah kedua-duanya gejala kemanusiaan, dalam rasa berani dan rasa takut, rasa cemas atau rasa bimbang, ataupun sebaliknya, hati yang padat menghadapi segala kemungkinan, dan kemungkinan paling akhir ialah maut! segaia kemungkinan itu tidak akan terlepas, sebab semuanya ini adalah manusia. Bukan malaikat dan bukan pula syaithan. Bukan binatang liar di rimba belukar lebat terkejut karena rimba terbakar, lalu lari bersama-sama tidak tentu arah dan bukan pula batu yang terpampang di tepi jalan raya atau runtuh di bawah tanah longsor dari puncak gunung.

Tetapi manusia pulalah yang diuluri tali oleh Tuhan tali yang diulurkan dari langit. Yang menyampaikan tali yang teguh, Al-'Urwa­tul Wutsqaa yang diulurkan Tuhan dari langit itu ke tangan manusia ialah para Nabi. Bila lekas tali yang diulurkan itu dia pegang, dia pun selamat. Dia tidak akan jatuh ke dalam lembah yang berisi putus asa, ketakutan dan kecemasan. Dan dia akan tegak menempuh jalan betapapun sulitnya dengan gagah berani. Mana yang berpegang dengan tali itu, dialah yang selamat. Mana yang tidak bergantung kepadanya, itulah yang hancur.

Ini adalah teladan yang kekal buat menempuh segala zaman bagi ummat Muhammad yang datang di belakang. Kita pun insaf bahwa kita ini manusia. Berkali-kali kita ditimpa percobaan hidup, kadang kadang mengerikan, kadang-kadang seakan-akan hendak putus nyawa ketika mendaki, keringat mengalir sampai ke kaki. Berdebar jantung ketika menurun, melalui lurah jurang dan gurun. Sempit alam tempat tegak. Kemiskinan, kelaparan dan serba kekurangan. malam gelap sekali, kelam picik di angkasa.

Di saat itu akan terbukalah langit karena harapan yang tidak putus kalau diukur keadaan diri, memanglah terasa lemah kita. Bagaimanalah seekor semut hendak menaklukkan gunung. Namun kemudian, karena tali tadi tidak terlepas dari tangan, tiba-tiba datang sajalah pertolongan yang tidak disangka-sangka, jauh di luar dari perkiraan kita sejak semula.

Kita pun bukan semata-mata meneyerah dengan arti lemah. Kita hanya menyerah kepada Allah saja, bukan kepada musuh. Dengan penyerahan itu, atau dengan tali yang dipegang teguh itu, kita dengan sendirinya telah bersatu dengan alam keliling, masuk ke dalam hadhrat rububiyah, sehingga medan dan cuaca yang pada mulanya kita sangka tidak ada hubungannya dengan kita, bahkan menjadi salah satu alat bagi kemenangan kita.

Kemudian datanglah ayat selanjutnya, menerangkan suatu contoh teladan dari Iman dan Taslim yang telah bulat kepada Tuhan itu.


مِنَ الْمُؤْمِنينَ رِجالٌ صَدَقُوا ما عاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ
"Setengah daripada orang-orang Yang beriman itu, ada beberapa laki-laki, yang memenuhi apa yang mereka telah janjikan kepada Allah atasnya. " (Pangkal ayat 23).

Pangkal ayat ini menguraikan lebih jelas lagi pendirian hidup orang yang beriman. Lalu dengan tidak menyebut nama orangnya, Allah mengatakan bahwa di antara orang-orang yang beriman itu ada beberapa laki-laki, dipenuhinya janjinya yang telah diikatnya dengan Allah menghadapi suatu amal perhuatan. Karena mu'min itu selalu ingat akan Allah, tidak pernah melupakan Allah, maka tidak pulalah dia lupa akan janjinya.

Bandingkanlah dengan seorang budiman yang berhutang uang kepada seorang yang sudi mempiutangi. Selama hutang itu belum terbayar, sukarlah dia buat melupakan. Tiap teringat kebaikan budi orang itu, pasti dia teringat akan hutangnya yang belum dibayarnya itu.

فَمِنْهُمْ مَنْ قَضى‏ نَحْبَهُ
"Maka setengah dari mereka telah selesai tugasnya".

Selesai tugasnya, atau sampai cita-citanya, terkabul apa yang diingininya, yaitu hutang kepada Allah terbayar dan janji terpenuhi, dan dia pun mati. Hatinya senang menempuh kematian itu. Dia merasa beban yang berat telah diletakkan. Atau pendakian yang amat tinggi dan curam telah selesai terlampaui.

وَ مِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ
"Dan setengah dari mereka menunggu".

Artinya menunggu di sini ialah bersedia pula menghadapi maut, menunggu ajal. Rela menantikan panggilan itu, karena merasa diri belum pernah mungkir akan janji dengan Tuhan, walau nyawa akan melayang dari badan.

وَما بَدَّلُوا تَبْديلاً
"Dan tidaklah mereka mengubah-ubah, perubahan apapun". (Ujung ayat 23).

Tidak mereka akan berganjak dari pendirian, tidak dapat dibujuk dengan berbagai macam bujukan atau dirayu dengan rayuan apa pun; "Selangkah tidak surut, setapak tidak kembali. Esa hilang dua terbilang!".

Imam Bukhariy perawi hadits terkenal menerima sebuah hadits dari Muhammad bin Basyar dan dia menerima dari Muhammad bin 'Abdullah Al-Anshariy dan dia ini menerima pula dari Abi Tsammamah, dari Anas bin Malik r.a. Bahwa ayat ke-23 Surat AI-Ahzaab ini yang menerangkan betapa laki-laki yang dengan jujur rnemenuhi janjinya dengan Allah ihi , asal usul kejadian ini ialah pada diri paman Anas bin Malik sendiri yang bernama Anas bin An-Nadhr.

Bahwa pamannya yang sama namanya dengan dia ini ketika peperangan Badr yang terkenal itu tidak dapat turut hadir , maka sangatlah duka hatinya karena dia tidak turut dalam perang Badr itu berperang bersama Nabi.

Pernah dia mengatakan: "Perang Badr adalah suatu perang kesaksian Rasulullah yang pertama, tetapi aku tidak turut. kalau kiranya Allah membuka peluang bagiku berperang dalam tentara beliau di lain waktu, Tuhan akan menyaksikan apa yang akan :Aku lakukan!". Tak mau dia meneruskan menyebut apa yang akan dilakukannya itu.

Maka terjadilah Peperangan Uhud , Anas bin An-Nadhr itu pun turut hendak pergi berperang ke Uhud. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Sa'ad bin Mu'adz. Lalu dia berkata kepada Sa'ad "Hai Sa'ad! Bukan main harumnya wangi-wangian sorga kubaui sekarang berembus dari balik gunung Uhud itu " .

Dalam sebuah hadits lagi yang dirawikan oleh Ibnu Abi Hatim, Anas bin an-Nadhr itu kecewa sekali melihat kaum Muslimin kucar ­kacir porak-poranda.

Lalu dia berseru:

"Ya Tuhanku! Aku memohon maaf daripada Engkau atas perbuatan mereka itu". (Yang dimaksud­nya kaum Muslimin yang kocar-kacir). "Dan aku berlepas diri kepada Engkau dari perbuatan orang-orang itu!" (Maksudnya kaum Musyri­kin).

Setelah itu dia menyerbukan dirinya ke medan perang. Ketika dia berjumpa dengan Sa'ad bin Mu'adz dia berkata: "Aku akan berjuang bersama,engkau". Dan dia menyerbu terus, sehingga Sa'ad pun kagum melihat bagaimana gagah perkasanya dia menyerbu ke tengah-tengah musuh.

Sampai Sa'ad berkata: "Aku tidak sanggup berbuat seperti dia itu". Dia berjuang sampai dia jatuh! Tewas! Ketika janazahnya diperiksa terdapatlah lebih dari delapan puluh pukulan atas dirinya karena tikaman pedang, karena tusukan tombak dan karena tembusan panah".

Ahli-ahli tafsir dan hadits mengatakan bahwa ayat 23 ini turun khusus memperingati Anas bin An-Nadhr itu dan teman-temannya yang mengikuti jejaknya. Yaitu orang-orang yang menyaksikan sendiri ketewasan Anas bin An-Nadhr atau yang lain-lain, namun mereka masih terus meneruskan perjuangan, sampai menunggu pula panggilan llahiy pulang ke hadhirat-Nya, bila saja dan di mana saja.

Hadits yang meriwayatkan Anas bin An-Nadhr ini terdapat yang dirawikan oleh Bukhari,dan ada juga yang dirawikan At-Tarmidziy, An-Nasaa-iy, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir. Seterusnya bersabdalah Tuhan:

لِيَجْزِيَ اللهُ الصَّادِقينَ بِصِدْقِهِمْ
"Supaya akan mengganjarilah Allah kepada orang-orang yang benar karena kebenaran mereka. "
(Pangkal ayat 24).

Atau "orang­ orang yang jujur karena kejujuran mereka".
Di ayat ini dijelaskanlah bahwasanya orang berbuat jujur, memang karena timbul dari dasar jiwanya yang memang jujur, pastilah akan mendapat ganjaran yang mulia di sisi Allah.

وَ يُعَذِّبَ الْمُنافِقينَ إِنْ شاءَ
"Dan akan diazabnya orang-orang yang munafiq itu jika Dia kehendaki".

Di sini kita pun mendapat lagi dua rahasia ayat. Rahasia pertama ialah orang yang berbuat jujur karena timbul dari lubuk jiwa yang memang jujur, pasti akaan mendapat ganjaran yang mulia di sisi Allah. Berbuat jujur karena orangnya memang jujur jauh berbeda dengan orang yang dipaksa oleh keadaan berbuat jujur, padahal dalam lubuk hatinya kejujuran itu tidak ada.

Maka tidaklah kurang orang yang berbuat serupa jujur, padahal hatinya tidak jujur ,Ini pun munafiq.
Lama kelamaan rahasia itu akan terbuka juga.
Rahasia yang kedua ialah "dan akan diazab-Nya orang-orang yang munafiq itu jika Dia kehendaki".
Suku ayat ini pun sejalan dengan yang sebelumnya. Mentang-mentang orang berbuat perbuatan munafiq, tidaklah langsung saja Allah terus mengazabnya.

Pengazab hanya berlaku sesudah pertimbangan kebijaksanaan dari Tuhan. Ada juga orang berbuat sebagai perbuatan munafiq yang tercela karena belum ada pengalaman. Ingat sajalah peperangan di Uhud yang nyaris kalah itu. Beliau perintahkan 50 orang menjaga di lereng bukit Uhud dan sekali-kali jangan meninggalkan tempat itu walaupun musuh kelihatan telah terdesak mundur.

Karena menurut pertimbangan siasat per­juangan beliau pertahanan di lereng Uhud itu adalah kunci.
Tetapi setelah yang bertahan di lereng bukit itu melihat musuh telah mundur dan harta rampasan telah berserak-serak, mereka tidak tahan lagi, lalu mereka langgar perintah Rasulullah karena ingin harta rampasan. Akhirnya tempat penting itu dapat direbut oleh tentara Musyrikin, yang kebetulan di waktu itu di bawah,pimpinan Khalid bin Al-Walid.

Kalau menurut tinjauan kasar saja, yang meninggalkan pertahan­an itu di bawah pimpinn seorang shahabat yang bernama 'Abdullah bin Jubair , patutlah terus dihukum Tuhan , karena perbuatan mereka itu terang-terang perbuatan orang munafiq.

Memang mereka patut dihukum menurut tinjauan sepintas lalu. Tetapi keputusan sebenarnya adalah di sisi Allah , menurut kehendak-Nya. Dan kebijaksanaan itu dijalankan oleh Rasulullah. Tidak mustahil mereka menyesal , lalu beriman sesudah munafiq , atau beramal shalih sesudah fasiq dan durhaka, sedang sifat Allah yang disebut Rahmat dapat mengalahkan sifat-Nya yang bernama ghadhab atau murka.
Sebab itu di ujung ayat dijelaskan sifat Tuhan itu:

إِنَّ اللهَ كانَ غَفُوراً رَحيماً
"Sesungguhnya Allah adalah Maha Pemberi Ampun, Maha Penyayang." (Ujung ayat 24).


وَ رَدَّ اللهُ الَّذينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ
"Dan Allah usir kembali orang-orang yang kafir itu dengan sakit hati". (Pangkal ayat 25).

Niscaya sakitlah hati mereka karena kegagal­an itu. Sudah lebih dari 10.000 orang datang hendak menyerbu. Disangka semula akan mudah berhasil, rupanya gagal sama sekali. Sesama sekutu pecah pula sebelum maksud tercapai. Dalam ayat ini dikatakan "Wa Raddal-Laahu", kita artikan diusir kembali oleh Allah. Arti ini lebih tepat daripada jika kita katakan "dikembalikan oleh Allah".

Dengan pengusiran kembali ini temyata pula hikmat Allah terhadap da'wah yang dipikulkan kepada pundak Nabi-Nya yang mulia Muhammad saw: Yaitu begitu jahat maksud mereka, hendak menghancurkan Islam di pangkalnya sendiri, kota Madinah, namun mereka hanya semata-mata diusir kembali saja, tidak dimusnahkan.

Didatangkan angin keras menumbangkan khaimah dan tenda-tenda mereka, menimbun air yang sedang mereka masak dengan debu yang bangkit ke udara, maklumlah padang pasir. Api dinyalakan tidak jadi nyala, karena dihembus angin keras sebelum nyala.

Kalau Allah menghen­daki bisa saja semua mereka itu hancur dihantam angin sebagai telah dilakukan Tuhan dengan qaum Tsamud, atau ditimpa dengan batu dari sijjil yang dibawa burung Ababill, sebagai yang diderita Abrahah yang datang hendak meruntuhkan Ka'bah. Namun kebijaksanaan Tuhan da­lam hal ummat dan kaum ini jauh lebih lunak.
Tuhan telah bersabda:

"Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, padahal engkau tengah berada pada mereka". ( AI-Anfaal ,ayat33).

Mereka diusir saja kembali ke tempat masing-masing, Ghathfaan pulang ke Ghathfaan
dan Quraisy pulang ke Mekkah dengan hati sakit, sebab maksud tidak tercapai.

لَمْ يَنالُوا خَيْراً
"Tidak memperoleh yang baik".

Tidak memperoleh barang yang baik yang mereka inginkan. Yaitu kemenangan dan harta rampasan, yang akan dibanggakan dan dibawa pulang dengan sorak sorai. Tidak kebaikan dunia, apatah lagi tidak kebaikan akhirat. Yang mereka peroleh hanya sakit hati, payah, lelah, penderitaan, kehabisan persediaan makanan dan penyesalan.

Tetapi hikmat Allah yang Maha Tinggi hanya semata-mata dengan mengusir, tidak dengan memusnahkan.
Dan akan mengazab yang munafiq jika Dia kehendaki telah membawa perkembangan yang baik.
Sebagian besar dari penyerang-penyerang yang gagal itu kemudiannya akan masuk Islam dengan hati terbuka.

Di antaranya ialah Khalid bin AI-Walid yang nyaris mengalahkan Nabi di Uhud itu, kemudian telah maju
langkah dalam menegakkan Iman dan memba­ngun Islam, sehingga mendapat gelar "Saifullah". Pedang Allah !

وَ كَفَى اللهُ الْمُؤْمِنينَ الْقِتالَ
"Dan Allah menghindarkan peperangan dari orang-orang- yang beriman".

Karena parit (khandaq) telah mempertahankan mereka dan angin puyuh yang hebat telah mengusir kembali musuh-musuh mereka. Sehingga orang-orang yang beriman itu tidak sampai berperang.

وَ كانَ اللهُ قَوِيًّا عَزيزاً
"Dan Allah adalah Maha Kuat, Maha Perkasa". (Ujung ayat 25).

Kekuatan Tuhan kelihatan dengan angin hebat yang datang mengguling dan menghancurkan segala persediaan mereka. Keperka­saan Tuhan jelas dengan larinya mereka meninggalkan tempat itu dengan semangat yang telah patah.
Mereka bertemu dengan kekuatan yang walaupun seluruh kekuatan hendak
mereka kumpulkan buat membendungnya tidaklah akan berhasil.

Dan sejak itu pula mulailah pamor Quraisy menurun. Kalau selama ini mereka yang
selalu menyerang, dan kaum Muslimin bertahan, maka mulai waktu itu merekalah yang bertahan
dan Islamlah yang menyerang. Waktu itulah dengan tegas Rasulullah saw. bersabda:

"Sejak kini kitalah yang mulai, dan mereka tidak akan menyerang kita lagi."
(Dirawikan oleh Bukhari).

Kejadian ini bulan Syawal tahun kelima. Tahun kedelapan jatuh­lah Mekkah ke tangan Muslimin
 



 وَ أَنْزَلَ الَّذينَ ظاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتابِ مِنْ صَياصيهِمْ وَ قَذَفَ في‏ قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَريقاً تَقْتُلُونَ وَ تَأْسِرُونَ فَريقاً

Dan Dia menurunkan orang-orang yang, membantu mereka, dari ahlul-kitab itu dari benteng-benteng meraka dan dibenamkarr kedalam hati mereka rasa takut; sebahagian kamu bunuh mereka dan kamu tawan yang sebahagian lagi. ( Ayat 26 )
 


 وَ أَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَ دِيارَهُمْ وَ أَمْوالَهُمْ وَ أَرْضاً لَمْ تَطَؤُوها وَ كانَ اللهُ عَلى‏ كُلِّ شَيْ‏ءٍ قَديراً

Dan telah Kami wariskan kepada kamu tanah mereka dan harta­benda mereka dan tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah itu terhadap segala sesuatu Maha Kuasa ( ayat 27 )
 


             Hukuman kepada Bani Quraizhah

Sebelum kita uraikan tafsir ayat ini, lebih dahulu kita singkapkan latar belakang sejarah Yahudi di Madinah itu sejak semula. Kepin­dahan mereka ke Madinah atau tanah Hejaz ialah sejak pengusiran­ pengusiran terhadap Kaum Yahudi di zaman Kaisar-kaisar bangsa Romawi, sebab memandang bahwa Tanah Hejaz itu adalah aman bagi mereka. Oleh sebab keahlian mereka berniaga dan kekayaan ilmu lantaran isi kitab Taurat, mereka dipandang lebih cerdas dari penduduk Arab asli penduduk Madinah yang terdiri dari dua qabilah bersaudara, Aus dan Khazraj. Di dalam Taurat pun tersebut bahwa kelak akan datang seorang Rasul menyempurnakan nubuwwat RasuI-rasul yang dahulu daripadanya. Merekalah yang selalu memberi­tahukan kepada Aus dan Khazraj itu bahwa Nabi itu akan datang.

Mereka pun menjadi penduduk yang lebih tinggi martabatnya, ditambah Iagi karena mereka yang memegang perniagaan, di tangan Fnereka kekayaan. Dan mereka sendiri lantaran itu merasa kuat.

Setelah Rasulullah saw. hijrah ke Madinah tidaklah menunggu jarak lama sudah diadakan perjanjian akan hidup damai dengan Rasulullah saw. Di antara isi perjanjian ialah akan bersama-sama mempertahankan negeri Madinah, sebagai tukaran nama dari Yatsrib kalau ada musuh yang menyerang dari luar.

Rasulullah pun berjanji akan rnelindungi keamanan mereka. Dibuat pula persyaratan bahwa mereka tidak akan memungkiri janji, tidak akan jadi spion musuh dan tidak akan membantu segala perbuatan yang menganggu ketente­raman. Mulanya mereka turut mengakui perjanjian itu. Tetapi kian lama kian mereka rasakan bahwa dengan kedatangan Nabi seorang Arab, disambut oleh orang Arab pula, yakni Aus dan Khazraj dan lain-lain, pengaruh mereka kian berkurang. Orang yang telah mengikuti Nabi itu, yang telah diberi gelar kemuliaan baru, "AI-Anshaar" sudah naik martabatnya. Mereka tidak merasa perlu lagi menanyakan sesuatu hal kepada orang Yahudi, padahal Yahudilah tempat bertanya selama ini, sebab mereka dianggap segala tahu, sebab mereka "ahlul kitab".

Selama ini sangatlah keras perlombaan dan perpecahan di antara qabilah Aus dan Khazraj itu. Di atas perpecahan itulah Yahudi dapat memegang peranan tertinggi di Madinah; merekalah pendamai, tetapi pada hakikatnya merekalah yang lebih banyak mengapi-apikan perpe­cahan itu.

Sekarang dengan kedatangan Nabi Muhammad mereka telah bersatu padu di bawah pimpinan Nabi.
Kedudukan dan "martabat mereka telah ditinggikan. Nabi selalu mengatakan bahwa beliau duduk atas sokongan dan kesetiaan dua golongan shahabat beliau, yaitu Muhajirin dan Anshar. Dengan sendirinya kedudukan Yahudi tidak ada lagi di negeri itu.

Apatah lagi, baru saja Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah seorang Yahudi yang terkemuka bernama
'Abdullah bin Salam datang kcpada Rasulullah, menyatakan dirinya memeluk Agama Islam dan
memeluk Islam pula seluruh kaum keluarganya.
Tetapi sebelum masuknya ke agama Islam itu dimaklumkan ke hadapan khalayak ramai, dia meminta kepada Rasulullah agar dipanggil pemuka-pemuka Yahudi dan ditanyakan kepada mereka, siapa Abdullah bin Salam.

Setelah mereka itu berkumpul bertanyalah Nabi kepada mereka, siapa itu 'Abdullah bin Salam. Serentak mereka menjawab dan dengan gembira, bahwa 'Abdullah bin Salam itu adalah pemimpin kami, keturunan dari pemimpin kami, pendeta agama kami dan seorang yang amat alim dalam agama kami.

Sesudah mendengar puji-pujian demikian, keluarlah 'Abdullah bin Salam dan duduk ke tengah-tengah mereka. Lalu beliau mengajak mereka semua supaya menuruti saja langkah yang telah dia langkah­kan, yaitu masuk Islam, beriman kepada Muhammad. Karena inilah rupanya Nabi yang ditunggu-tunggu, yang tersebut diisyaratkan Musa dalam Taurat itu.

Mendengar seruan itu berubahlah muka mereka dari gembira kepada benci, mencacai maki Abdullah bin Salam yang meninggalkan agama nenek-moyangnya, dan mereka pandanglah 'Abdullah bin Salam seorang pengkhianat, seorang busuk, seorang yang tidak mengerti agama nenek-moyangnya dan mereka buatlah propaganda kepada seluruh Yahudi, supaya mulai saat itu 'Abdullah bin Salam itu dikucilkan dari masyarakat Yahudi.

Sejak waktu itu pula mulai mereka membulatkan tekad hendak menghancurkan pengaruh Muhammad dan Islam. Sejak itu pulalah timbul perang dingin berlarut-larut terus menerus, kadang-kadang menjadi perang panas, sampai kepada masa kita sekarang ini.

Segala macam siasat buruk mereka aturlah agar gerakan Islam di bawah pimpinan Nabi ini runtuh sebelum berkembang. Mereka tidak perduli lagi kepada janji-janji yang telah dibuat sejak Nabi saw. hijrah ke Madinah itu.

Kadang-kadang mereka timbulkan keraguan orang terhadap ayat Al-Qur'an. Kadang-kadang diserangnya aqidah Islam. Misalnya ada ayat Allah: "Siapakah yang suka memberi pinjam Allah dengan pinjaman yang baik?", sebagai tersebut dalam Surat AI-Maaidah ayat 12 dan ayat 18, atau Surat 64 At-Taghaabun ayat 17, Al-Baqarah ayat 245, Surat 73 Al-Muzammil ayat 20, Surat ke-57 Al-Hadiid ayat 11 dan 18, yang semua ayat itu turun di Madinah, maka orang Yahudi itu lalu mencela Al-Qur'an, mengatakan bahwa kalau Allah minta diberi pinjaman dan lain hari akan diganti, nyatalah bahwa Al-Qur'an mengajarkan bahwa Allah itu miskin.

Tentu saja hati yang telah diberi dasar dengan kebencian akan selalu menafsirkan suatu maksud yang baik dengan maksud yang salah.

Kadang-kadang dengan secara halus mereka hasut-hasut agar timbul kembali permusuhan di antara Aus dan Khazraj. Hampir saja terjadi perang, kalau tidak segera Rasulullah memberi mereka ingat. Setelah diberi ingat, mereka pun insaf dan berpeluk-pelukan dan bertangis-tangisan.
Dan pernah pula mereka timbul permusuhan di antara Muhajirin dengan Anshar.

Nyaris pula pecah karena hasutan mereka, dengan memakai tenaga kaum Munafiq. Segera pula Rasulullah bertindak memberi ingat, mereka pun sadar dan maksud Yahudi itu tidak berhasil.
Lalu mereka rapatkan hubungan dengan kaum munafiq, supaya dengan. perantaraan kaum munafiq ini kesatuan kaum Muslimin dapat dipecahkan. Itu pun gagal.

Mereka ada tiga golongan yang kuat. Yaitu Bani Qainuqa', dan Bani Nadhiir dan Bani Quraizhah. Yang paling kuat dan terkenal gagah berani ialah Bani Qainuqa'.

Seketika penduduk Madinah bergembira setelah Nabi menang dalam peperangan Badr, maka Bani Qainuqa' dengan sengaja menyebarkan ucapan-ucapan yang sengaja merendahkan nilai keme­nangan itu. Dan berita itu disampaikan orang kepada Nabi.

Lalu Nabi sendiri mendatangi mereka di pasar yang diberi nama "Pasar Bani Qainuqa'." Disuruhnya mereka itu berkumpul, lalu Nabi berpidato di tengah-tengah mereka: "Wahai Bani Qainuqa'! Hati­hatilah kamu sekalian. Janganlah sampai Allah mengazab kalian sebagaimana telah dilakukan-Nya kepada Quraisy. Lebih baik kalian masuk Islam saja. Kalian sendiri pun telah tahu dan baca dalam kitab kalian, bahwa saya ini adalah Nabi yang diutus Allah, yang telah dijanjikan Allah kepada kamu."

Sambutan mereka atas seruan Nabi itu sangat kasar. Mereka berkata: "Hai Muhammad! Engkau kira kami ini sama saja dengan kaum engkau itu? Janganlah engkau jadi teperdaya karena engkau menang menghadapi kaum yang tidak ada pengetahuannya sama sekali dalam ilmu perang, sehingga engkau dapat mencapai kemenangan kebetulan! Demi Allah, kalau engkau berperang dengan kami, waktu itulah engkau akan tahu siapa kami ini!"

Ibnu Hisyam menceriterakan bahwa sesudah pidato Nabi dali sesudah jawab mereka yang sangat tidak pantas itu, mereka pula yang mencari gara-gara. Ada seorang perempuan Arab masuk ke pasar Bani Qainuqa' membawa susu yang baru dia perah, akan dijual. Lalu dia berlepas sejenak di hadapan kedai seorang tukang celup kain. Maka berkerumunlah anak-anak muda Yahudi itu keliling perempuan itu sengaja hendak merenggutkan cadarnya supaya wajahnya lebih jelas kelihatan, namun perempuan itu tidak mau. Lalu Yahudi tukang celup itu dengan diam-diam mengikatkan ujung kain tutup badan perempuan itu ke atas dan menyangkutkannya. Kemudian setelah perempuan itu berdiri, terbukalah kain itu dari badannya dan dia jadi bertelanjarig, terbukalah kemaluannya.

Perempuan itu memekik meminta tolong, sedang pemuda-pemuda Yahudi itu tertawa bersama­ sama. Di sana tiba-tiba melintas seorang pemuda Muslim yang naik darah melihat kejadian yang sangat menghinakan itu. Lalu disentak­nya khanjarnya dan ditikamnya tukang celup itu sampai mati. Melihat itu datanglah pemuda-pemuda Yahudi yang tertawa-tawa tadi menye­rang pemuda Muslim itu bersama-sama, mengeroyok. Mereka pukuli dan tikami pemuda Muslim itu beramai-ramai, lalu mati pula. Segera hal ini tersebar di kalangan kaum Muslimin, dan timbullah kemurkaan yang meluap-luap kepada Bani Qainuqa'.

Segeralah kampung Bani Qainuqa' dikepung. Rasulullah sendiri yang memerintahkan pengepungan itu. Karena sudah nyata bahwa mereka sejak semula telah menantang Rasulullah buat berperang. Ketika mereka telah terkepung rapat, tidak ada lagi suara gagah perkasa bahwa merekalah lawan yang sejati, bukan kaum Quraisy yang tidak mengerti ilmu perang itu.

Melihat Bani Qainuqa' sudah terkepung dan sudah pasti Rasulul­lah yang akan memutuskan nasib mereka, tiba-tiba datanglah 'Abdullah bin Ubayy bin Salul, pemimpin kaum munafiq membela mereka di hadapan Rasulullah. Dia mengatakan bahwa Bani Qainuqa' itu sejak dahulu telah bersumpah bersahabat dengan Bani Khazraj. Karena kerasnya permohonan Abdullah bin Ubayy itu Rasulullah pun memperingan tekanannya. Mereka seluruh Bani Qainuqa' dilepaskan dari tawanan, untuk segera keluar dari kota Madinah buat selama­lamanya. Boleh dibawa barang-barang kekayaan apa yang ada, kecuali senjata. Dan perintah ini mesti lekas dilaksanakan.

Tinggallah dua qabilah lagi, yaitu Bani Nadhiir dan Bani - Quraizhah.

Bani Nadhiir serupa pula perangainya dengan Bani Qainuqa'. Pada suatu hari Rasulullah saw. datang ke kampung mereka menem,.i pemuka-pemuka mereka untuk mengumpulkan bantuan diyat akan dibayarkan kepada seseorang yang terbunuh karena salah sangka oleh seorang Muslim. Dalam perjanjian sejak semula Nabi Muhammad datang, disebutkan juga bahwa di saat demikian mereka bersedia juga memberi bantuan. Tetapi sesampai Nabi di kampung itu, sedang bersandar kepada dinding rumah seorang di antara mereka, timbul niyat jahat mereka. Ada seorang di antara mereka naik ke atas sutuh rumah itu hendak menjatuhkan lesung batu ke atas kepala Nabi Muhammad saw. supaya dia mati. Saat itulah peluang yang sebaik­baiknya membunuh Muhammad.

Tetapi Nabi saw. mendapat "gerak" dari Jibril menyuruh meng­hindar dari tempat itu, lalu segera pulang ke Madinah. Kampung Bani Nadhiir itu pun dikepung pula disuruh menyerah. Sekali lagi 'Abdullah bin Ubayy menghasut mereka menyuruh bertahan terus. Dia akan datang membantu. Namun bantuannya itu omong kosong belaka. Tidak pula ada lagi pengikut-pengikut 'Abdullah Ubayy yang sesetia dahulu kepadanya, buat datang membantu Bani Nadhiir. Akhirnya Bani Nadhiir kalah dalam kepungan dan disuruh meninggalkan Madinah buat selama-lamanya, sebagai Bani Qainuqa' pula. Ceritera Bani Nadhiir ini dapat dibaca dalam Surat ke-59, Al-Hasyr (Dalarn Tafsir Juzu' ke-28)

Tinggallah Bani Quraizhah.
Bani Quraizhah itulah yang ber)t:hia;nat dalam pepcrangan Khandaq atau Al-Ahzaab ini.
Biang keladi paling besar dalam kekhianatan Bani Quraizhah ini ialah Huyayy bin Akhthab dari Bani Nadhiir yang ketika pengusiran kaumnya dia berpindah ke Khaibar tetapi tidak berhenti tnencari daya upaya untuk menantang Nabi.

Dia yang pergi menganjurkan Quraisy buat menyerbu Madinah dengan tentara sebesar itu dan ketika nuraisy bertanya, manakah yang benar agama Muhammad ataukah agama Quraisy, ringan saja mulutnya mengatakan bahwa agama Quraisy-lah yang benar.

Setelah berhasil maksudnya membujuk Quraisy dia pergi pula kepada Ghathfaan, menghasut pula di sana.
Dan setelah berhasil karena bujukannya Ghathfaan menyusun kekuatan hendak menyerbu Madinah bersama Quraisy, Huyayy pun perlu kepada Bani Quraizhah.

Pemimpin Bani Quraizhah ialah Ka'ab bin Asad. Setelah dilihatnya tentara Quraisy dan Ghathfaan datang, segera dia mengurung diri dalam benteng dan diambilnya keputusan bahwa dia akan setia memegang janji dengan Nabi Muhammad saw. Tetapi Huyayy datang, lalu diketoknya pintu benteng dan dengan keras dimintanya hendak bertemu langsung dengan Ka'ab bin Asad.

"Buka pintu, Ka'ab! Buka!"
Setelah dilihatnya Huyayy yang datang, Ka'ab berkata: "Saya lihat ke,datanganmu ini akan membawa bencana. Saya telah tahu maksudmu. Saya telah mengikat janji dengan Muhammad Saya tidak akan mengkhiartati janji saya. Muhammad selama ini pun baik kepada kami".
Huyayy menyambut lagi: "Buka sajalah pintu, ada hal penting yang akan saya bicarakan dengan engkau!"
"Saya tidak mau!", sambut Ka'ab.

Lalu dengan cerdik jahatnya Huyayy menyinggung perasaan harga diri Ka'ab: "Demi Allah! Saya tahu engkau enggan membuka pint karena engkau tak mau aku makan dalam hidanganmu!"
Mendengar kata demikian, terpaksalah Ka'ab membuka pintu d Huyayy pun masuk. Sampai di dalam dibukalah pembicaraan: "Celaka engkau Ka'ab! Saya datang sekarang ini membawakan engkau kesempatan yang tidak ada taranya, gelombang lautan dahsyat". "Apa itu?" tanya Ka'ab.

"Saya datang membawa Quraisy dengan segala kelengkapannya, dengan segala pemimpin dan pahlawannya, sekarang telah berlabuh di pertemuan banjir di Raumah. Dan saya pun datang dengan Ghathfaan lengkap dengan segala pemimpin dan pahlawannya, sekarang telah melabuhkan tentaranya di samping Uhud. Mereka semuanya telah membuat janji teguh dengan saya, bahwa mereka belum akan mening­galkan negeri ini sebelum mereka menyapu bersih Muhammad dan segala pengikutnya.

Ka'ab menjawab: "Omong kosong! Engkau datang membawa berita kehinaan belaka, berita mega berkumpul tetapi tidak mengan­dung air akan hujan. Guruh berbunyi, kilat berapi, namun hujan tidak turun. Tinggalkanlah saya dalam keadaan seperti ini. Saya tidak peraah melihat dari Muhammad terhadap kepada kami selain keteguh­an janji dan kejujuran".
Yang lihat menyela: "Kalau kamu tidak mau menolong Muhammad ketika dia telah diserang begini, menurut sepanjang janji kita dahulu, maka biarkanlah dia berhadapan dengan musuhnya, dan kita diam sajalah."

Tetapi Huyayy gigih juga merayu. Dia mengatakan bahwa jaranglah kita mendapati peluang yang sebaik ini. Di saat sedang dia terdesak karena serbuan musuh inilah yang sebaik-baiknya kita hapuskan sendiri janji itu. Kita bersatu padu dengan Quraisy dan Ghathfaan dan bersama kita mengambil tekad, belum akan berhenti sebelum Muhammad dan pengikut-pengikutnya itu kita hapuskan dari muka bumi ini. -

Oleh karena pandainya Huyayy menghasut, tertariklah mereka itu semuanya dan kalahlah pendapat Ka'ab bin Asad oleh gemuruh tan­tangan orang banyak. Lalu dikeluarkan Surat Perjanjian Nabi Muhammad saw. dengan Bani Quraizhah itu dari simpanan, lalu dibakar di hadapan orang banyak.

Berita ini segera sampai kepada Rasulullah saw. Maka beliau utuslah beberapa orang datang kepada benteng pertahanan Bani Quraizhah itu, hendak menyelidiki kebenaran berita itu. Utusan diterima, tetapi dengan sikap yang sudah berubah sama sekali, sikap kasar. Mereka berkata: "Siapa Muhammad? Kami tidak kenal siapa Muhammad! Kami tidak pernah ada janji apa-apa dengan Muham­mad."

Di antara utusan Nabi saw. itu termasuk Sa'ad bin Mu'adz pemimpin Anshar dari qabilah Auss, yang di zaman Jahiliyah mengikat janji persahabatan dengan Bani Quraizhah. Dia tampil ke muka dengan lemai lembut memberi ingat bahwa pengkhianatan mereka dari janji akan membawa akibat yang buruk kepada mereka  sendiri.

Lihatlah Bani Qainuqa' dan Bani Nadhiir, apa jadinya mereiia sekarang? Namun mereka memandang Sa'ad dengan muka penuh kebencian. Setelah Sa'ad memberi ingat sekali lagi, agar mereka berfikir yang tenang, keluarlah satu perkataan sangat hina yang mereka lontarkan kepada Sa'ad: "Kau memakan alat kelamin ayah kau!"

Dari kejadian itu jelaslah bahwa Ka'ab bertahan selama ini, setia memegang janji hanya karena takut kalau kemungkiran kepada janji itu akan gagal, lalu mereka diusir habis: Setelah mendapat penjelasan dari Ubayy bahwa Quraisy telah datang dan Ghathfaan telah datang, tentara besar beribu-ribu, belum akan pulang sebelum menghancur­lumatkan Muhammad dengan seluruh pengikutnya, bersedialah  mereka mengkhianati janji.

Dan yakinlah kaum Muslimin di bawah pimpinan Nabi, bahwa kalau makud kaum yang bersekutu ini berhasil, mereka akan disikat habis, disapu bersih. Artinya menurut aturan perang di zaman itu ialah sekalian laki-laki termasuk Muhammad dibunuh, perempuan clan kanak-kanak ditawan. Yang perempuan dijadikan gundik dan anak laki-laki dijual ke pasar budak .

Memang di permulaan serangan serentak kaum Musyrikin telah mencoba hendak menembus clan melampaui parit. Mereka hendak menuju rumah-rumah Rasulullah saw. sendiri. Tetapi tangkisan Musli­min pun sangat teguh dan kuat. Pada masa itu, sehingga sembahyang pun tidak dapat lagi dilakukan. Sampai sembahyang 'ashar berjama'ah tidak dapat lagi diatur. Sampai Nabi bersabda: "Sampai kita tidak sempat sembahyang 'ashar! Biar Allah membakar perut dan hati mereka dengan api!"

Serangan hebat dan sengit itu ditangkis dengan sengit dan hebat pula oleh pihak Islam. Maksud mereka hendak menerobos ke rumah Nabi gagal. Tetapi Sa'ad bin Mu'adz yang gagah berani kena pangkal lengannya oleh panah musyrikin, sukar mencabutnya clan luka itu amat parah. Sehingga Rasulullah menyuruh buatkan satu tempat memelihara luka Sa'ad dalam masjid akan beliau lihat dan diobati menurut selayaknya.

Sesudah digagalkan serangan hebat pertama itu, Musyrikin surut kembali, tetapi rupanya mereka berfikir panjang terlebih dahulu buat menyusun serangan besar yang kedua, sebab parit dalam itu sangat
sukar untuk dilalui. Siapa menempuh berarti mati akan dihumban dan dihantam oleh kaum Muslimin.

Sebagai kita sebutkan di atas tadi, setelah lebih 20 hari menge­pung, serbuan bersosoh hanya sekali terjadi dan yang mereka maksud tak tercapai, hanya Sa'ad bin Mu'adz yang luka, datanglah "Tentara Allah" angin besar yang menumbangkan segala khaimah dan mema­damkan segala api dan menimbun segala persediaan itu sehingga mereka pulang dengan hati sakit, sebagaimana tersebut dalam ayat 25 di atas. Mereka diusir kembali pulang dengan kecewa dan tidak membawa apa-apa yang baik.

Nabi pun pulanglah kembali bersama shahabat-shahabatnya ke dalam kota, dengan terlebih dahulu menerangkan perhitungan beliau menurut siasat perang, bahwa mulai saat itu Quraisy tidak akan bangkit lagi menyerang kaum Muslimin, melainkan kaum Musliminlah yang mulai saat itu yang akan menyerang dan menaklukkan mereka. '

Sesampai di rumah isteri beliau Ummu Habibah dan istirahat, bermandi-mandi, menukar pakaian dengan yang bersih dan hati gembira bersyukur karena kemenangan, dan orang-orang telah mulai mengembalikan senjata masing-masing ke tempatnya, tiba-tiba datang­lah Malaikat Jibril menyatakan diri di hadapan beliau lalu berkata: "Apakah engkau telah mengembalikan senjata ke tempatnya, ya Rasul Allah?"
Nabi menjawab: "Benar!"
Lalu kata Jibril: "Kami malaikat belum meletakkan sen jata. Kami disuruh ke sana terlebih dahulu sekarang juga untuk menurunkan kegoncangan ke dalam hati mereka".
"Ke mana?" tanya Nabi saw.
"Ke Bani Quraizhah", jawab Jibril. Lalu dianjurkan Nabi segera berangkat.

Habis sembahyang lohor hari itu juga Nabi memerintahkan kaum Muslimin segera bersiap, berangkat dengan senjata lengkap menge­pung Bani Quraizhah. Segera sekarang juga!
Penyerbuan ke Bani Quraizhah itu nampaknya dilakukan secara kilat dan mengejutkaw dengan tiba-tiba. 5ebab itu semua segera mesti sampai di sana, sebelum 'Ashar. Nabi bersabda: "Sembahyang 'ashar kamu semua nanti di Bani Quraizhah saja!"

Maka bersiaplah semua dengan sigap dan bersemangat. Ada yang terus mengikuti menurut bunyi apa yang diperintahkan Nabi, yaitu sembahyang 'ashar di Bani Quraizhah saja, ada pula yang berjalannya
itu lebih cepat lagi, sehingga dia dapat membagi waktu sehingga sebelum waktu 'ashar habis dia dapat sembahyang di tengah jalan dan apabila dia sampai di Bani Quraizhah ketika matahari mulai terbenam, dia tidak merasa ketinggalan waktu.

Tetapi yang sembahyang di tengah jalan itu tidaklah mendapat tegoran Nabi kafena dia tidak menjalankan menurut bunyi perintah dengan tidak berubah sedikit juga. Dan yang terlambat dalam perjalanan, yang oleh karena teguh memegang perintah, walaupun 'ashar telah habis di tengah jalan, sehingga 'asharnya disembahyangkannya malam hari di Bani (2uraizhah tidak pula mendapat tegoran. Artinya bahwa keduanya telah bertindak yang betul. Yang pertama mengambil maksud yang terkandtmg dalam perintah. Yaitu Nabi mengatakan tak usah sembahyang di tengah jalan, biar di Bani Quraizhah saja, ialah dengan maksud agar cepat sampai di sana. Kecepatan sampai itulah yang mereka penuiii dan mereka pertenggangkan waktu, sehingga mereka sembahyang di jalan. Dan yang benar-benar sembahyang di Bani Quraizhah, meskipun waktu 'ashar telah habis, tidak pula kena tegoran Nabi, sebab mereka telah bertindak sesuai dengan bunyi perintah, dengan tidak mengubah atau berfikir lain sedikit juga.

Dari kejadian seperti ini jelaslah bahwa di zaman Nabi sendiri pun telah terdapat orang yang kuat teguh memegang bunyi perintah atau nash dengan tidak memikirkan maksud yang terkandung di dalamnya; inilah yang kemudian jadi Mazhab. Ahlil-Hadits. Dan yang berusaha menyelidiki lebih dalam apa maksud yang terkandung dalam perintah, yang disebut hubungan di antara 'illat dengan hukum, lalu mereka pakai ijtihad. Keduanya dibiarkan bertumbuh oleh Nabi. Yang penting ialah maksud tercapai, mengepung Bani Quraizhah.
Ketika akan berangkat, pimpinan sehari-hari kota Madinah diserahkan kepada Ibnu Ummi Maktum, shahabat Muhajirin yang matanya buta itu, yang terpancang kemuliaannya dalam Al-Qur'an di Surat 'Abasa wa tawalla. Bendera Perang beliau serahkan kepada 'Ali bin Abi Thalib.

Sesampai di Bani Quraizhah dikepunglah kota pertahanan mereka sehingga tidak bisa keluar. Dari sehari ke sehari dalam kepungan, semangat mereka buat bertahan kian lemah. Setelah dikepung sampai dua puluh lima hari, mereka menaikkan bendera putih minta berunding. Permintaan mereka diterima oleh Rasulullah saw., diterima kedatangan utusan mereka dengan baik dan ditanyai maksud­nya. Utusan itu menjawab bahwa mereka bersedia menyerah tetapi menurut hukum yang akan ditentukan oleh Sa'ad bin Mu'adz.
Mereka ingat bahwa Sa'ad bin Mu'adz adalah dari kaum Aus yang telah mengikat persahabatan dengan Bani Quraizhah sejak jaman jahiliyh.

Mereka berharap Sa'ad akan mengeluarkan keputusan yang menguntungkan mereka, sebagaimana Abdullah bin Ubayy dahulu mengeluarkan pembelaan yang baik bagi Bani Qainuqa', lalu diterima oleh Nabi.

Tetapi mereka rupanya tidak ingat bahwa mereka telah pernah memaki Sa'ad di muka umum dengan perkataan yang sangat kotor: "Engkau makan kemaluan ayahmu!" , Rasulullah saw, menerima baik usul. mereka.

Sa'ad bin Mu'adz segera dijemput ke Madinah, dipangku buat dinaikkan ke atas kendaraan yang akan membawanya dalam menderita sakit luka parah. Dia pernah berdoa, bermunajat kepada Tuhan:
"Ya Tuhanku! Kalau masih akan ada lagi peperangan dengan Quraisy ini, panjangkanlah umurku buat ikut dalam peperangan itu. Tetapi jika peperangan dengan Quraisy ini akan berhenti di antara kami dengan meieka, maka porak-porandakanlah dia. Tetapi aku memohon jangan dahulu aku dimatikan sebelum hatiku puas menghadapi Bani Quraizhah".

Sekarang dia sendiri yang diminta oleh Bani Quraizhah jadi hakim.
Ketika mendengar permintaan Bani Quraizhah itu ada beberapa orang Bani Aus membisikkan kepada Sa'ad supaya dia bersikap lunak kepada kaum yang telah dijadikan teman di zaman jahiliyah itu.
Dengan tegas Sa'ad berkata: "Dalam membela agama Allah saya tidak perduli kepada siapa".
Kemudian sampailah dia di hadapan khaimah Rasulullah saw. Berkatalah Rasulullah saw.:
 

"Berdirilah kamu semua menghormati pemimpin kalian".

Kata Ibnu Katsiir dalam tafsirnya: “Semua orang pun berdiri meng­hormati, yang dimaksud oleh Nabi untuk meneguhkan wibawanya sebagai hakim, sehingga kalau dia menjatuhkan suatu hukum kelak diterima dengan penuh kepatuhan."

Setelah dia duduk, bersabdalah Rasulullah saw.: "Sa'ad ! Semua tunduk kepada yang akan engkau putuskan. Sebab itu hukumlah menurut apa yang engkau sukai." .
Lalu Sa'ad menyambut: "Dan hukumku itu kelak berlaku atas mereka?"
Nabi menjawab: "Ya!"
Kata Sa'ad lagi: "Dan dipatuhi juga oleh orang-orang di khaimah ini?"
Nabi menjawab: "Ya!"
Lalu kata Sa'ad lagi: "Dan akan dipatuhi juga oleh yang di sana?"
Lalu diisyaratkannya dengan telunjuknya ke jurusan Nabi tetapi muka­nya melihat ke tempat lain, sebab sangat besar dan mulia dan agung­nya Nabi di hadapan matanya, maka tidaklah tertantang olehnya wajah Nabi , Nabi menjawab: "Ya!"

"Baik", kata Sa'ad, "Sekarang saya hukumkan bahwa segala mereka itu yang menyiapkan peperangan ini dibunuh semuanya. Perempuan-perempuan dan kanak-kanak yang belum ada bulu di wajahnya dijadikan tawanan dan sekalian harta-bendanya dirampas!"

Serta merta Nabi menyambut: "Engkau telah menjatuhkan hukuman sesuai dengan. kehendak Allah di langit ketujuh tingkat!" Mereka diangkut ke Madinah semuanya dengan tangan diikat.
Di dekat pasar di Madinah Nabi memerintahkan menggali lobang-lobang. Diiringkan ke lobang itu sekelompok demi sekelompok, disuruh menekur di muka lobang, dipancung leher dilemparkan ke dalam.

Beberapa sisa yang tinggal masih bertanya sambil berbisik kepada Pemimpinnya Ka'ab bin Asad: "Akan dipengapakan kita ini?" Lalu kata Ka'ab: "Sampai di saat seperti ini tidak juga engkau mengerti? Tidakkah kau lihat, dipanggil satu demi satu lalu digiring dan mana yang telah pergi tidak ada yang kembali. Apalagi kalau bukan potong leher!"

Pengkhianatan paling besar, yang nyaris meluluh-hancurkan Islam pada permulaan tumbuhnya dan kekhianatan kepada janji yang telah di ikat. Apalagi hukuman yang lebih adil dari ini? Mungkin para pengikut tidak bersalah. Mungkin ini karena nafsu berkuasa dari para pemimpin, terutama ambisi dari Huyay bin Akhthab. Tetapi beratus kali terjadi dalam sejarah, para pengikut jadi kurban dari ambisi para pemimpin.

Ketika Huyay bin Akhthab akan disuruh menekur menerima hukumannya dan tangannya telah diikat ke belakang, masih singgah matanya melihat wajah Nabi dan menyampaikan katanya yang terakhir: "Demi Allah, tidaklah saya menyesali diri karena memusuhi engkau ya Muhammad! Soalnya hanya biasa saja, siapa yang dikalah­kan oleh Allah kalahlah dia! Dan aku kalah!"

Kemudian dia menghadapkan mukanya kepada orang banyak dan berkata pula: "Hai manusia! Tidak ada penyesalan atas taqdir yang telah ditentukan Allah. Inilah kitab dan taqdir dan perjuangan yang harus dihadapi oleh Bani Israil!" Kemudian dia pun duduk menunduk menunggu hukuman. Melensinglah pedang dan bercerailah kepalanya dengan badannya !
Menurut riwayat yang dipancung leher itu adalah di antara 700 dengan 800 orang laki-laki dewasa.

Rasa benci dan dendam itulah yang diteruskan oleh orang Yahudi dari masa ke masa, dari zaman ke zaman terhadap Islam terutama. Sampai di zaman tafsir ini dikarang, kebencian itu bertambah menyala, sampai membakar Al-Masjidil Aqshaa, dan sebelum dan sesudahnya, sudah beratus, beribu-ribu bahkan berlaksa orang Islam di Palestina yang dipotong leber pula oleh Bani Israil.

Adapun Sayidina Sa'ad bin Mu'adz, dikabulkan Allah permohon­annya. Karena tidak berapa lama kemudian, setelah hukum itu dijalankan oleh Bani Quraizhah tersebut, beliau pun mencapai syahidnya dari sebab lukanya di Perang Khandaq tersebut.
Sesudah mengetahui latar belakang yang demikiann, maka seka­rang kita tafsirkan ayat seterusnya :

وَ أَنْزَلَ الَّذينَ ظاهَرُوهُم 

Dan Dia menurunkan orang-orang yang membantu mereka" (Pangkal ayat 26).

Yaitu bahwa Allah jualah yang menentukan bahwa orang-orang atau kaum yang membantu kaum Quraisy clan Ghathfaan yang hendak menghancurkan pertahanan Islam itu:

مِنْ أَهْلِ الْكِتابِ   

"Dari ahlul-kitab itu".

Yaitu Bani Quriazhah

 مِنْ صَياصيهِمْ 

"dari benteng-benteng mereka".

Sesudah mereka bertahan selama 25 hari, akhirnya terpaksa mereka turun juga ke bawah.

Kononnya seketika pejuang-pejuang Islam itu telah sampai di tempat itu dan mulai mengelilinginya bentengnya dan mendekati rumah-rumah mereka, mereka masih sama bersikap sombong, satnpai ada yang bercarut-carut mencela-cela Rasulullah dan memaki-maki isteri-isteri beliau dengan mulut kotor. Ketika Rasulullah saw. mulai datang dan hendak mendekat ke tempat itu, beberap4 orang pejuang Islam lebih dahulu menyongsong Nabi dan memohon kepada beliau agar jangan mendekat ke tempat itu, karena akan sakit telinga beliau mendengar maki-makian terhadap diri beliau.

Kata mereka: "Jangan­lah mendekat ke tempat itu, ya Rasul Allah!"
"Mengapa tidak boleh? Apakah kalian mendengar ucapan-ucapan mereka yang menyakiti diriku ?"
Mereka jawab: "Benar, ya Rasul Allah!"
Lalu beliau jawab: "Kalau mereka telah melihat aku datang, mereka tidak akan berani bersikap begitu!"

Setelah Rasulullah saw. mendekat ke pinggir benteng mereka itu, beliau terus berkata: "Hai kawanan monyet! Bagaimana sekarang? Sudahkah turun kepada kalian kutukan Allah dan sudahkah kalian derita bekas murka-Nya?"

Mereka jawab: "Hai Abal Qasim , tuan bukanlah tidak tahu!" Beginilah perangai mereka. Ketika di balik belakang dia memaki-maki, tetapi setelah berhadapan dengan orangnya, mereka merendah­kan diri tersipu-sipu.
Jika mereka merasa aman, mereka bertingkah,; kalau mereka merasa kuat, mereka membunuh. Kalau mereka sudah; terdesak, diperingatkannya kepada lawannya agar berperi-kemanusiaan. Keuntungan hanya buat mereka saja, tidak memikirkan dari segil orang lain.

Namun mereka belum juga mau mengambil keputusan hendakl tunduk.
Di saat sudah kian lama kian sempit, pemimpin mereka Ka'ab bi Asad mengajak mereka musyawarat.
Dia berkata: "Sekarang telah kita derita hal semacam ini. Maka aku minta kamu menempuh salah satu dari tiga jalan, ambil salah satu mana yang baik pada pertimbangan kalian."
"Apa dia?" tanya mereka.
"Kita tunduk kepada orang ini, kita akui seruannya. Apatah la sudah jelas nampak tanda-tanda bahwa dia memang Nabi yang diutus Tuhan, sebagaimana yang terdapat dalam kitab suci kita.
Dengan demikian nyawa dan darah kita selamat, harta benda kita pun selamat anak-anak dan isteri-isteri semua selamat". Serentak mereka menjawab: "Selangkah pun kita tidak boleh bertindak keluar dari Kitab Taurat kita. Kita sekali-kali tidak akan menggantinya dengan kitab lain.

Lalu Ka'ab mengemukakan jalan yang kedua: "Kalau kalian tidak suka mengakui Muhammad sebagai Nabi, mari sekarang kita bunuh sekalian anak-anak dan isteri-isteri kita ini. Setelah mereka mati semua, kita menyerbu ke muka ke tengah-,tengah Muhammad dan kawan-kawannya itu, kita berjuang, bertempur mati-matian. Kalau kita binasa biar hancur kita semua, dan tidak ada lagi keturunan yang akan kita tinggalkan. Tetapi kalau kita menang, ganti dari anak-anak dan isteri-isteri itu akan kita dapati kembali.

Serentak pula mereka menjawab: "Mengapa anak isteri kita mesti kita bunuh dengan tangan kita sendiri? Kasihan mereka! Apa arti hidup lagi kalau tidak bersama mereka. Kami tidak mau itu."

Ka'ab bin Asad berkata lagi: "Kalau yang begitu kalian tidak mau, maka ingatlah, malam ini adalah malam Sabtu. Malam istirahat kita.

Tentu Muhammad mengetahui bahwa malam ini kita tidak akan berbuat apa-apa, sebab itu dia pun tidak akan mengganggu kita. Waktu inilah yang sebaik-baiknya, sedang dia tidak menyangka sama sekali, kita serbu dia. Kita sapu bersih semua!"

Serentak pula mereka menjawab: "Itu lebih tidak bisa! Kita tidak boleh merusakkan malam Sabtu kita. Itu adalah hal yang tidak pernah dikerjakan oleh nenek-moyang kita sejak zaman dahulu. Kami tidak mau!"

Lalu dengan mengeluh Ka'ab berkata:."Itulah malang kalian! Sejak mulai lahir ke dunia tidak pernah kalian seorang jua pun yang mempunyai kebulatan fikiran menghadapi soal besar!"
Maka gagallah usaha pemimpin yang berpandangan jauh itu, yang sejak semula telah dikalahkan oleh semangat dangkal yang muda ­muda.

Harapan mereka yang tinggal hanya satu saja. Yaitu damai! Perdamaian yang telah dilalui oleh Bani Qainuqa' dan Bani Nadhiir. Tidak mereka ingat bahwa di antara ketiga golongan mereka, mereka sendirilah dari Bani Quraizhah yang paling besar kesalahannya. Sedang kaum Muslimin terus mengetatkan kepungan dan tidak akan menghentikan kepungan itu sebelum mereka menyerah tanpa syarat.

Dalam mereka terkepung itu, masih dapat mereka berusaha dengan segala kecerdikan mendekati salah seorang pengepung, yaitu Abu Lubabah bin Abdulmunzir, meminta pendapatnya mana yang baik menyerah tanpa syarat atau bertahan terus? Abu Lubabah Memberi nasehat, lebih baik menyerah tidak bersyarat. "Kalau kami bertahan juga bagaimana?" tanya mereka.
Abu Lubabah tidak menjawab dengan mulut, melainkan digesek­kannya tepi tangannya ke lehernya, yang berarti kalian akan disembe­lih. Mereka mulailah takut dan ngeri mendengarkan. Inilah yang dimaksudkan dengan sambungan ayat: "Dan dibenamkan ke dalam hati mereka rasa takut".

Tetapi Abu Lubabah menyesal atas perbuatannya memberi jawaban pertanyaan yang dia tidak berhak menjawabnya itu. Itu adalah hak Rasulullah semata-mata. Dia sangat menyesal atas kelancangannya itu, sehingga segera dia meninggalkan tempat lari kembali ke Madinah; masuk ke dalam masjid melakukan i'tikaf dengan mengikatkan dirinya ke tonggak, dan bertekad tidak akan membuka ikatan itu sebelum Allah memberinya taubat. Dan taubatnya itu diterima oleh Allah, sebagaimana tersebut di dalam ayat:

"Dan yang lain-lain, yang mereka mengakui berdosa, mereka campur aduk amalan yang shalih dengan yang lain amal yang salah. Moga-moga Allah memberi taubat atas mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Surat ke-9, At­Taubah, 102).

Setelah 25 hari mereka dikepung datanglah perintah Rasul memberi kesempatan kepada orang-orang yang cukup bukti bahwa mereka tidak turut bersekongkol dengan maksud pengkhianatan itu, bahwa rnereka boleh meninggalkan benteng itu dengan selamat.

Mereka boleh pergi ke mana mereka suka. Yang lain terkurung di dalam dipenuhi rasa ketakutan.Akhirnya setelah genap 25 hari belum juga menyerah, kaum Muslimin memutuskan menyerbu ke dalam bentenf itu. 'Ali bin Abi Thalib pemangku bendera atau Petaka perang berseru: "Seluruh brigade Iman, marilah maju. Saya sendiri ingin hendak merasakan apa yang pernah dirasakan oleh pamanku Hamzah bin Abdul Muththalib, mati hancur badan saya, atau saya kuasai benteng ini seluruhnya. Maju! Maka berlompatanlah brigade Iman itu, di dalamnya termasuk pahlawan besar Zubair bin Al-'Awwam!

Tetapi Bani Quraizhah yang telah ketakutan itu minta tangguh, lalu berseru: "Ya Muhammad! Kami tunduk kepada keputusan Sa'ad Bin Muadz , apa yang dia putuskan kami terima ".

Ketundukan yang telah mereka nyatakan itu, menyebabkan serbuan besar-besaran tidak jadi. Sa'ad bin Mu'adz lekas dijemput, sebagaimana yang teiah diterangkan di atas. Maka tersebutlah di ujung ayat:

    الرُّعْبَ فَريقاً تَقْتُلُونَ
"Sebahagian kamu bunuh mereka",

yaitu sekalian orang dewasa yang telah mengatur pengkhianatan ini dan jelas bertahan sekeiika benteng mereka dikepung;

     وَ تَأْسِرُونَ فَريقا
"Dan kamu tawan yang sebahagian lagi. " (Ujung ayat 26).

Yang ditawan ialah perempuan-perempuan dan kanak-kanak yang belum tumbuh bulu di mukanya. Yang mas'ih terhitung kanak-kanak.

  وَ أَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَ دِيارَهُمْ وَ أَمْوالَهُمْ وَ أَرْضاً لَمْ تَطَؤُوها
"Dan telah kami wariskan kepada kamu tanah mereka. dan harta­benda mereka dan tanah yang belum kamu injak. " (Pangkal ayat 27).

Segala ladang, segala kebun kurma, segala bekas tempat tinggal mereka; "dan harta benda mereka", kekayaan banyak yang telah mereka kumpulkan berpuluh tahun, semuanya menjadi harta kekayaan kaum Muslimin; "Dan tanah yang belum kamu injak". Menurut riwayat yang disampaikan oleh Imam Malik dari Zaid bin Aslam, tanah yang kami injak itu ialah Khaibar. Tetapi ada lagi riwayat ialah Mekkah.

Ada pula riwayat mengatakan bahwa yang dimaksud ialah Parsi dan Rum. Ibnu Jurair mengatakan mungkin semuanyalah yang dimaksud.

Tetapi kita lebih berat kepada Khaibar. Sebab Khaibar adalah pertahanan terakhir dari Yahudi di tanah Arab di waktu itu. Setelah ketiga qabilah Bani Qainuqa', Bani Nadhiir dan Quraizhah mendapat hukuman demikian, yang tinggal banyak, yang berlepas diri ke Khaibar. Khaibar itulah yang pada bulan Muharram tahun ketujuh ditaklukkan di bawah pimpinan Nabi saw. sendiri. Di sanalah orang Yahudi yang telah kalah itu masih saja mencoba meracun Nabi.

Perdamaian Hudaibiyah terjadi di akhir tahun keenam, menakluk­kan Khaibar terjadi di permulaan tahun ketujuh dan penaklukan Mekkah terjadi tahun kedelapan.

Kita tidak condong kepada tafsiran yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tanah yang belum kamu injak itu ialah Mekkah. Sebab Mekkah sudah diinjak oleh kaum Muhajirin sebelum mereka hijrah ke Madinah dan telah diinjak oleh Muhajirin dan Anshar pada waktu 'Umratul Qadhaa'. Maka yang lebih cocok ialah Khaibar, sebab disana benteng Yahudi terakhir.

وَ كانَ اللهُ عَلى‏ كُلِّ شَيْ‏ءٍ قَديراً
"Dan adalah Allah itu terhadap segala sesuatu Maha Kuasa". (Ujung ayar 27).

Jelas sekali bagaimana percobaan Al-Ahzaab atau golongan bersekutu itu, yang bermaksud hendak menghancur dan menghapus­kan Islam dengan tentara besar, lebih 10.000 orang, dengan Qudrat Iradat Allah Yang Maha Kuasa, menjadi penmulaan dari keruntuhan mereka itu sendiri. Sehingga sejak rencana mereka digagalkan Tuhan dengan serangan angin besar di malam hari itu, mulailah kekuatan Quraisy menurun dan -habis kekuatan Yahudi dan patah sayap-sayap dari kaum munafiqin yang jadi kaki tangan selama ini.

Selesai Juzu ke-21, Alhamdulillah