Tafsir Al Azhar - Surah Baqarah Aya 115-147


 وَ ِللهِ الْمَشْرِقُ وَ الْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ إِنَّ اللهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

(115) Dan kepunyaan Allahlah Tintur dan Barat; maka ke mana jugapun kamu menghadap, di­sanapun ada wajah Allah;sesungguhnya Allah adalah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.


وَ قَالُوا اتَّخَذَ اللهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَل لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُوْنَ

(116) Dan mereka berkata : Allah telah mengambil anak ! Maha Suci Dia; bahkan kepunyaanNyalah apa yang ada di semua langit dan bumi; semuanya kepada.Nyalah ber­tunduk.


بَدِيْعُ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ وَ إِذَا قَضَى أَمْراً فَإِنَّمَا يَقُوْلُ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ

(117) Yang mencipta semua langit dan bumi dengan tak ada bandingan. Dan apabila Dia telah menentukan sesuatu, Dia hanya berfirman kepadaNya Jadilah ! Maka diapun terjadi.


وَ قَالَ الَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ لَوْلاَ يُكَلِّمُنَا اللهُ أَوْ تَأْتِيْنَا آيَةٌ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِم مِّثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ قُلُوْبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوْقِنُوْنَ

(118) Dan berkata orang-orang yang tidak berpengetahuan itu,Mengapa tidak bercakap-cakap Allah itu dengan kita, atau datang kepada kita suatu tanda . Seperti itu jugalah kata kata orang-orang yang sebelum mereka seperti kata kata mereka itu pula ,Ber-samaan hati mereka ;Sesungguhnya telah Kami jelaskan ayat-ayat
kepada kaum yang yakin.


Kemudian , setelah ditegaskan zalim orang-orang yang menghalangi tempat beribadat kepada Allah, apatah lagi menghancurkan dan merusakkannya, dijelaskan lagi tentang hakikat ibadat :

وَ ِللهِ الْمَشْرِقُ وَ الْمَغْرِبُ
"Dan kepunyaan Allahlah Timur dan Barat." (pangkal ayat 115).

Ahli tafsir al-Jalal menafsirkannya demikian; "maka kepunyaan Allahlah seluruh jagat ini", sebab di mana-mana ada Timur dan di mana-mana ada Barat. Apabila kita tegak menghadap ketepatan matahari terbit (masyriq) maka yang di belakang kita adalah Barat , yang di kanan kita. adalah Selatan dan di kiri kit:a adalah Utara.

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ إِنَّ اللهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
"Maka kemana jugapun kamu menghadap , di sanapun ada wajah Allah ; sesungguhnya Allah adalala Maha Luas , lagi Maha Mengetahui:" (ujurtg ayat 115).

Inilah hikmat yang sebenarnya ; kemanapun kita menghadapkan muka ketika beribadat kepada Tuhan; ketika sembahyangpun, asal hati telah dihadapkan kepada Allah, diterimalah ibadat itu oleh T'uhan. Sebab Timur dan barat, Utara ataupun Selatan, Allah juga yang empunya. Memang kemudiannya telah diatur oleh Rasulullah, dengan perintah Sabda Tuhan menentukan ka'bah Masjidil Haram sebagai kiblat tetap, namun sekali-sekali ketika hari sangat gelap misalnya, sehingga kita tidak tahu arah kiblat, ke manapun saja muka menghadap, sah jugalah sembahyang kita, asal hati khusyu'. Malahan kalau hati tidak khusyu' terhadap kepada wajah Tuhan, walaupun telah menghadap ke kiblat Masjidil Haram, belum juga tentu sembahyang itu akan diterinta Tuhan. Imam Ghazali berpendirian tidak sah sembahyang kalau tidak khusyu'.

As-Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi Failasuf dan Shufi yang terkenal itu pernah menyatakan pendirian bahwa menghadap kiblat menurut fahamnya , tidaklah syarat sah sembahyang.
Tetapi karena telah ijma' (sefaham) seluruh Ulama menyatakan bahwa menghadap kiblat adalah syarat sah sembahyang, diapun tidak mau berpacul (memisahkan diri) dari ijzna' itu.

Ayat ini dapatlah menimbulkan paham bahwasanya yang termat penting, yang menjadi inti sejati daripada sembahyang, ialah khusyu' menghadap ke wajah Tuhan. Adapun menghadah kiblat ke Ka'bah dalam sembahyang adalah wajib dituruti karena perintah yang nyata , yang kelak kita akan sampai kepada penafsirannya beberapa ayat lagi. Dan ayat 115 ini tetap berlaku kuasanya di malam sangat gelap, sehingga kita tidak tahu di mana kiblat. Atau kita sedang di atas kapal udara yang menuju ke satu tujuan, bukan menjuruskan ke ka'bah. Sesungguhnya Maha Luaslah Tuhan Allah itu. Dia ada di mana-mana dan Maha Mengetahui akan kepatuhan hati hamba-hambaNya sekalian.

Ketika menafsirkan ayat 106 tentang nasikh dan mansukh, telah kita bayangkan juga khilafiyah Ulama tentang adakah atau tidak suatu hukum yang mansukh di dalam al-Qur'an ?
Adakah satu ayat yang tulisannya masih ada, tetapi hukurnnya tidak berlaku lagi ?
Maka ayat 115 ini menjadi salah satu khilafiyah tentang adanya nasikh dan mansukh Golongan yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh mengatakan bahwa ayat 115 ini telah mansukh. Sebab kemudiannya telah datang ayat 144 dan 149 dan 150 yang menentukan Masjidil Haram sebagai kiblat.

Maka dengan demikian tidaklah sah lagi menghadapkan sembahyang kepenjuru yang lain, kecuali ke Masjidil Haram, dan kecuali kalau tidak tahu arah kiblat.
Menurut suatu riwayat yang dibawakan oleh Ibnul Mundzir dan lbnu Abi Hatim dan al-Hakim dan dia berkata riwayat ini shahih, dan al-Baihaqi di dalam Sunannya, dari Ibnu Abbas, bahwa dia berkata: "Yang mula-mula sekali dimansukhkan dari al-Qur'an menurut ingatan kita -- tetapi Allah yang lebih tahu (Wallahu A'lam) - ialah urusan kiblat. Tuhan telah bersabda: "Kepunyaan Allahlah masyriq dan maghrib, " dan seterusnya sebagai tersebut di dalam ayat. Maka menghadaplah Rasulullah s.a.w dan sembahyanglah dia menghadap ke Baitul Maqdis dan ditinggalkannya Baitul Atiq, dan dengan demikian dimansukhkanlah ayat ini; lalu dibaca oleh Ibnu Abbas "dan dari mana saja engkau datang, maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram."(ayat 149 atau ayat 150).

Tetapi golongan yang mempertahankan bahwa di dalam al­Qur' an tidak ada hukum yang mansukh menyatakan bahwa di dalam ayat inipun tidak terdapat mansukh. Sebab isi ayat 115 ini tetap berlaku. Menurut mereka, tetaplah kemana sajapun kita menghadapkan muka, namun di sana tetap ada wajah Allah. Perintah menghadapkan muka kepada Ka'bah tetap berlaku untuk memperlakukan seluruh kiblat kaum Muslimin, jangan sampai mereka berpecah-belah, berkiblat sebanyak mereka. Terutama di dalam sembahyang yang wajib lima waktu. Apa lagi ada pula sebuah riwayat yang dirawikan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abd bin Humaid, dan Muslim dan Tirmidzi dan an­Nasa'i dan lain-lain, yang diterima dari sahabat Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah s.a.w. pernah sembahyang di atas kendaraannya, yaitu sembahyang tathawwu' (sembahyang sunnat), ke mana saja tunggangannya itu menghadapkannya. Lalu Ibnu Umar membaca ayat "Ke mana juapun kamu menghadap, maka di sanalah wajah Allah." (ayat 115 ini) dan dia berkata: "Pada keadaan seperti inilah ayat ini diturunkan."

Dikuatkan pula oleh suatu riwayat yang dirawikan oleh Bukhari, yang diterimanya daripada sahabat Jabir bin Abdullah, babwa Nabi s.a.w. pernah sembahyang di atas tunggangannya menghadap ke Timur, tetapi apabila dia akan sembahyang yang maktubat (yang 5 waktu) beliau pun turun dan menghadaplah beliau ke kiblat, lalu sembahyang. Dan ada pula sebuali Hadits yang dirawikan oleh Abd bin Humaid, dan Ibnu Majah dan Ibnu Jarir dan lain-lain, dan diriwayatkan pula oleh Tirmidzi (meskipun Tirmidzi ini mengatakan dha'if ) yang diterima dari sahabat Nabi, Amir bin Rabi'a h, bahwa Amir bin Rabi'ah ini pernah bcrsama banyak sahabat Nabi berjalan mengiringkan beliau dalam satu perjalanan. Malam sangat gelap, lalu datang waktu sembahyang, merekapun turun sembahyang, ada orang yang pergi ke atas batu dan sembahyang di sana. Setelah hari siang, ternyata bahwa mereka sembahyang tadi malam itu tidak menghadap tepat arah kiblat, lalu dia sampaikari. hal itu kepada Rasulullah s.a.w Maka turunfah ayat ini:

"Kepunyaan Allahlah masyriq dan maghrib", maka bersabdalah Rasulullah s.a.w.:
"telah berlaku sembahyang kamu." Artinya , sah sembahyang itu, tak perlu diulang.

Dengan alasan yang demikian, segolongan yang mengatakan tidak ada nasikh tidak ada mansukh menguatkan bahwa ayat 115 tidak mansukh. Walaupun pada riwayat yang diterima daripada Amir bin Rabi'ah ini seakan-akan nampak bahwa ayat 115 kemudian turun dari pada ayat 144 dan 149 dan 150, dan diragukan keshahihan Hadits ini oleh Tirmidzi, tetapi setelah disambungkan dengan Hadits riwayat Ibnu Umar dan Jabir dan Abdullah tadi, teranglah ayat 115 tidak mansukh, tetapi tetap berlaku, yaitu untuk sembahyang sembalryang tathawwu' di atas kendaraan, atau di waktu tidak jelas di mana arah kiblat sebab hari gelap, atau di jaman modern kita sekarang ini, kita sembahyang yang sunnat atau yang wajib sedang di dalam kereta api api bahkan di dalam kapal. udara. Datang waktu sembahyang, padahal yang dituju kendaraan itu tidak tepat mengarah ke kiblat. Tentu bila waktu sembahyang telah datang kitapun sembahyang. Kalau Nabi s.a.w. naik tunggangan unta, lalu sembahyang menghadap kiblat, niscaya sedang di atas kapal udara kita tidak dapat berbuat demikian, sehingga sembahyang yang maktubatpun dapat kita kerjakan dengan tidak menghadap ke Masjidil Haram, melainkan kita berpegang kepada ayat 115 ini; ke mana sajapun muka menghadap namun disana ada wajah Allah, yang pokok ialah khusyu'.

وَ قَالُوا اتَّخَذَ اللهُ وَلَدًا
"Dan rnereka berkata: Allah telah rnengarnbil anak. " (pangkal ayat 116).

Atau diturunkan asal arti dari Ittakhadza: Allah telah mengambil anak. Orang Nasrani mempunyai kepercayaan bahwa Nabi Isa Al Masih itu adalah anak Allah. Sebagian dari orang Yahudi pun demikian pula, ada yang mengatakan bahwa Uzair atau Izair Imam besar dan Nabi yang membangkitkan kembali Kerajaan Bani Israil setelah penawaran raja Nebukadnezar, adalah anak Allah. Orang musyrikin penyembah berhala di tanah Arab ada pula yang mengatakan bahwa Malaikat-malaikat itu adalah anak Allah dan perempuan semua. Di dalam catatan yang oleh orang Yahudi disebut Taurat, ada dikatakan bahwa Bani Israil itu adalah anak Allah.

Ayat ini adalah pertaliannya dengan ayat-ayat yang sebelumnya. Tempat beribadat kepada Allah hendaklah dimakmurkan dan jangan dihalang-halangi. Timur dan Barat, Utara dan Selatan, seluruhnya kepunyaan Allah, dan kepadaNyalah menghadap yang sebenarnya. Tetapi hendaklah menetapkan benar-benar dalam hati siapa dan bagaimana yang sebenarnya Allah itu. Dia Tunggal, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Hendaklah bersihkan kepercayaan kepadaNya. Jangan dikatakan Dia beranak, karena Tuhan itu bukan makhluk yang memerlukan keturunan dan meneruskan atau menyambung kekuasaanNya kalau Dia mati. Allah itu hidup terus; tidak akan mati-mati.

سُبْحَانَهُ
"Maha Suci Dia. "Tidak masuk dalam akal yang murni bahwa Dia beranak.

بَل لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُوْنَ
"Bahkan kepunyaanNyalah apa yang ada di semua langit dan bumi; semuanya kepadaNyalah bertunduk."(ujung ayat 116).

Hanya satu Dia. Tidak ada anakNya. Yang selainnya ini, segala kandungan semua langit, segala kandungan bumi, semua di bawah kekuasaanNya. Dan semua patuh, menekur bertunduk kepadaNya. Sama saja di antara makhluk yang beku dengan makhluk bernyawa. Malaikat bukan anakNya, manusiapun bukan anakNya, tetapi makhlukNya. Yang terjadi karena diciptakanNya. Kamu orang musyrikin; kamu katakan Malaikat anak Allah, lalu kamu ambil kayu atau batu menjadi berhala dan patung, lalu kamu sembah. Sebab katamu dia anak Allah! "Maha Suci Dia!" Kamu orang Nasrani: Isa al-Masih yang lahir dengan kuat kuasa Ilahi menurut jalan yang tidak terbiasa, kamu katakan pula anak Allah.

Kalau kamu pikirkan hal itu dalam-dalam kamu sendiri akan bingung dengan kepercayaanmu itu. Isa al-Masih itu makan dan minum sebagai manusia biasa. Padahal Tuhan Allah tidak makan dan tidak minum. Dan Isa al-Masih itu kalau mengantuk matanya, diapun tidur. Sedang Tuhan Allah tidak pernah tidur. Memang Isa al-Masih ataupun Uzair ataupun manusia-manusia yang lain, diangkat Tuhan menjadi Rasul dan Nabi, kadang-kadang diberi mukjizat. Nyatalah bahwa semua bukan atas kehendak mereka, melainkan atas kehendak Allah juga. Allahlah yang sebenar Tuhan dan Dia tidak memerlukan anak. Mulai sekarang berhentilah dari pikiran yang demikian. Karena tidak masuk akal.

بَدِيْعُ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ
Badi'us-samawati wal ardhi : Kita artikan: "Yang menciptakan semua langit dan bumi dengan tiada bandingan. " (pangkal ayat 117).

Di sana terdapat kalimat Badi'. Arti Badi', ialah penciptaan, yang mengeluarkan suatu ciptaan belum pernah didahului oleh orang lain. Sebab itu maka ilmu ungkapan kata-kata yang indah dinamai dalam bahasa Arab: Ilmu Badi'. Tuhan Allah mencipta alam adalah atas kehendakNya dan bentuknyapun atas pilihanNya sendiri. Tidak dapat didahului oleh siapapun dan tak dapat disamai oleh siapapun. Sebab itu pula maka kalau ada seorang mencipta satu lukisan yang belum dicapai oleh orang lain, ciptaannya itu disebut juga Badi'. Bahkan kata ­kata Bid'ah yang biasa terpakai dalam agama, juga ambilan dari kata Badi'. Kalau ada orang menambah-nambah suatu amalan agama, yang tidak menurut teladan daripada Rasulullah, disebut pembuat Bid'ah, atau Mubtadi'. Itu pula sebabnya maka tidak mendapat kata lain buat menyatakan maksud dari ayat Badi'us samawati wal ardhi, ialah "menciptakan semua langit dan bumi dengan tiada bandingan." Diberi ujung dengan tiada bandingan supaya jelas apa yang dimaksud dengan kata pencipta.

وَ إِذَا قَضَى أَمْراً فَإِنَّمَا يَقُوْلُ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ
"Dan apabila Dia telah menentukan sesuatu, Dia hanya berjirman kepadanya: , Jadilah Maka diapun terjadi."(ujung ayat 117).

Dengan ayat ini jelas siapa Tuhan dan siapa makhlukNya. Tuhan Allah berkekuasaan mutlak dan langsung, tidak memakai perantaraan. Bila Dia menghendaki sesuatu, diperintahkanN'ya saja supaya terjadi , maka sesuatu itupun terjadi. Bagaimana rahasia kejadian itu, berapa lamanya dan bila masanya, tidaklah kuat otak manusia buat berpikir sampai ke sana.Yang terang dengan ayat ini ialah bahwa Allah yang seperti itu Maha Besar kekuasaanNya tidaklah memerlukan anak.

Orang Yahudi mengatakan Allah itu beranak, Uzair namanya. Orang Nasrani mengatakan Allah itu beranak, Isa al-Masih namanya. Orang musyrikin Arab mengatakan Allah beranak, dan anak itu perempuan, yaitu sekalian Malaikat.

Maka dengan keterangan ayat ini, bahwa Allah itu Maha Kuasa mutlak sendirinya mencipta alam ini, dengan tidak memerlukan pertolongan yang lain memberi kenyataan bahwa anak itu tidak perlu. bagi Allah Yang Maha Kuasa, di dalam menjadikan dan menciptakan seluruh langit dan bumi dengan seluruh isinya. Kalau dipikirkan bahwa anak itu ada bagi Allah pada kekuasaan seluruhnya hanya ada pada Allah, nyatalah bahwa adanya anak itu hanya membuat anak-anak yang menganggur dari kekuasaan.

Dan kalau anak-anak itu turut berkuasa, nyatalah bahwa kekuasaan yang telah dibagikan Allah kepada anak yang dikasih itu telah mengurangi kekuasaan yang ada pada Allah sendiri. Untuk menerima gagasan Tuhan beranak ini, pikiran mesti dikacaukan lebih dahulu, sehingga gambaran tentang kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa itu tidak terang lagi.

"Maha Suci Dia !" Dia Tunggal, Dia Khaliq ! Yang selainNya adalah makhluk. Dengan ini maka bulatkanlah ibadat dan persembahan kepadaNya saja, karena Dia memang Esa, mustahil berbilang. Mustahil beranak. Kepercayaan yang pecah, yang tidak tunggal akan memecah pikiran sendiri. Dan pikirkanlah agama itu baik-balk, sehingga dapat dikerjakan dengan pikiran murni.

Dengan kalimat Kun, artinya : Jadilah, atau Adalah. Tuhan bersabda, maka apa yang dikehendakiNyapun terjadi. Kalimat itu ia tujukan kepada yang belum ada supaya ada, atau kepada yang telah ada supaya lebih sempurna. Sebelum datang kalimat Kun, barang itu belum ada. Maka takluk adanya sesuatu ialah kepada iradatNya (kehendakNya). Jika tidak dengan iradatNya tidaklah jadi.

Bagaimana pertalian di antara sebelum ada, menjadi ada, sejak bila adanya dan bagaimana dahulunya, tidaklah ada seorang sarjanapun mengetahuinya. Yang disusun hanya kumpulan dari kemungkinan, hanya sangka-sangka, (Zhan). Dan itulah yang dinamai ilmu. Sebab hal itu adalah rahasia Ilahi yang sangat dalam; hal itu tertutup buat kita selama-lamanya, sebagaimana juga tertutup rahasia buat mengetahui Dzat Allah.

Kata pendek yang diungkapkan dalam al-Qur'an kun fa yakun. Jadilah, maka diapun terjadi! Hanyalah semata­ mata buat mendekatkan kepada paham kita saja. Kita sendiri tidak dapat lagi berjalan lebih jauh dari itu. Kalau dikatakan bahwa alam yang ada itu timbul dari dalam Allah sendiri, niscaya mustahil. Sebab suatu ketimbulan hanyalah menempuh salah satu dua jalan. Pertama timbul yang mesti, sebagai mestinya timbul panas dari cahaya. Teranglah bahwa timbul yang demikian bukan kehendak dari keduanya ataupun salah satu dari keduanya. Atau jalan kedua, yaitu ada karena perkawinan sebagai lahirnya seorang manusia. Maka Allah adalah Tunggal, dan bukanlah terjadinya apa yang ada ini karena pertemuan di antara satu Allah jantan dengan satu Allah betina: "Maha Suci Dia!"

Setelah ditilik keadaan ini, bertambah tidak perlu diadakan pula anak bagi Allah. Pikiran yang sehat tidak memberinya tempat buat masuk.

وَ قَالَ الَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ لَوْلاَ يُكَلِّمُنَا اللهُ أَوْ تَأْتِيْنَا آيَةٌ
"Dan berkata orang-orang yang tidak berpengetahuan itu: Mengapa tidak bercakap-cakap Allah itu dengan kita, atau datang kepada kita satu tanda?" (pangkal ayat 118).

Selain dari mengatakan bahwa Tuhan Allah beranak, satu waktu datang lagi kepada Rasulullah s.a.w suatu usul, yaitu kalau memang Tuhan Allah itu ada dan Maha Kuasa, mengapa Allah itu tidak datang bercakap-cakap dengan mereka, atau Tuhan membuktikan bahwa Dia ada dengan rnenunjukkan suatu tanda. Dipangkal ayat sudah dinyatakan bahwa usul seperti ini timbulnya ialah daripada orang­ orang yang tidak berpengetahuan. Kalau orang itu berilmu, berpikir mendalam, tidak mungkin timbul usul seperti itu.

Di dalam Surat al-Isra' (Surat 17) yang turun di Mekkah, sudah dilukiskan pula permintaan-permintaan yang tidak-tidak itu. Mereka minta adakan mata air dari bumi (ayat 90), atau kebun indah mempunyai sungai rnengalir, terjadi sendirinya (ayat 91), atau runtuhkan langit (ayat 91), atau Tuhan Allah turun kedunia diiringkan oleh Malaikat (ayat 92), atau dirikan sebuah rumah tempat tinggal Nabi Muhammad sendiri yang berlapis emas (ayat 93).Maka di sambungan ayat Tuhan bersabda:

كَذَلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِم مِّثْلَ قَوْلِهِمْ
"Seperti itu jugalah kata-kata orang-orang yang sebelum mereka, seperti kata mereka itu pula. "

Artinya usul kaum musyrikin Arab atau Yahudi yang sekarang, meminta supaya Tuhan Allah bercakap dengan mereka, bukanlah usul datang sekarang saja. Umat-umat yang dahulupun meminta demikian pula. Umat Nabi Musa mengemukakan berbagai permintaan kepada Musa a. s.; setengah permintaan itu dikabulkan Tuhan, namun mereka tetap keras kepala dan yang kafir bertambah kafir juga. Umat Nabi Shalih a. s meminta didatangkan seekor unta sebagai mukjizat: Unta itu didatangkan, tetapi mereka langgar janji dan mereka bunuh unta itu.

Maka datanglah sambungan ayat:

تَشَابَهَتْ قُلُوْبُهُمْ
"Bersamaan hati mereka."

Baik Yahudi yang dahulu atau Yahudi yang sekarang, atau umat yang dahulu atau musyrikin yang sekarang, namun hati mereka sama saja. Yaitu kekufuran kepada Allah menyebabkan timbulnya berbagai usul yang tidak-tidak, yang bercakap asal bercakap.
Sepintas lalu timbul pertanyaan: "Apakah permohonan mereka itu tidak akan dikabulkan Tuhan ?" Tuhan telah menjawab, dengan ujung ayat:

قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوْقِنُوْنَ
"Sesungguhnya telah Kami jelaskan ayat-ayat itu kepada kaum yang yakin. " (ujung ayat 118).

Bagi orang yang yakin ayat-ayat itu sudah nampak. Tidak perlu lagi menurunkan ayat baru. Tidak perlu lagi tercipta di tengah padang belantara sebuah istana indah berlapis emas dan ratna-mutumanikam lalu tercipta lagi taman sari indah-berseri, sungai mengalir laksana ular gelang; tidak perlu lagi ayat-ayat yang lain yang diminta itu. Sebab bagi orang yang yakin segala yang nampak ini adalah ayat belaka:

Dan pada tiap-tiap sesuatu adalah tanda bagiNya;yang menunjukkan bahwa Dia Esa adanya.

Orang-orang yang yakinpun telah bercakap-cakap dengan Allah di dalam munajatnya, di dalam doanya, di dalam sembahyangnya yang khusyu', dan di dalam segala tingkah-laku perbuatannya. Dia selalu merasai bahwa dirinya tidak lepas dari tilikan Tuhan. Tetapi orang-orang yang bodoh, walaupun berapa banyaknya terbentang di hadapan matanya, tidak,juga dia akan yakin.
 



 إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَ نَذِيْرًا وَلاَ تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم
(119)
Sesungguhnya telah Kami utus engkau dengan kebenaran, pembawa berita gembira dan peringatan ancaman. Dan tidaklah engkau akan ditanya dari hal ahli-ahli neraka.


وَ لَنْ تَرْضَى عَنكَ الْيَهُوْدُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللهِ هُوَ الْهُدَى وَ لَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيْر
(120)
Dan sekali-kali tidaklah ridha terhadap engkau orang-orang Yahudi dan Nasrani itu, sehingga engkau mengikut agama mereka. Katakanlah : Sesungguhnya petunjuk Allah, itulah dia yang petunjuk. Dan sesungguhnya jika engkau turuti kemauan-kemauan mereka itu, sesudah datang kepada engkau pengetahuan, tidaklah ada bagi engkau selain Allah akan pelindung dan tidak pula akan penolong.


اَلَّذِيْنَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُوْنَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَ مَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ
(121)
Orang-orang yang Kami datangkan kepada mereka akan Kitab, yang mereka baca dengan sebenar-benar bacaan , itulah orang-orang yang akan percaya kepadanya. Dan barang-siapa yang tidak mau percaya ke­padanya, itulah orang-orang yang merugi.


يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِيْنَ
(122)
Wahai Bani Israil ! Ingatlah olehmu akan nikmatKu yang telah Aku nikmatkan kepada kamu, dan bahwasanya telah Aku muliakan kamu atas bangsa bangsa.


وَ اتَّقُوْا يَوْمًا لاَّ تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْئًا وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ هُمْ يُنْصَرُ
(123)
Dan takutlah kamu akan hal yang tidak akan dapat melepaskan satu diri daripada diri yang lain sesuatupun, dan tidak diterima daripadanya penebusan, clan tidak ber­manfaat padanya satu syafaatpun dan tidaklah mereka akan ditolong.



إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ
"Sesungguhnya telah Kami utus engkau dengan kebenaran. " (pangkal ayat 119).
Kebenaran ialah sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan oleh akal yang sehat, yang tidak akan dapat ditumbangkan oleh kisaran angin zaman, yang menolak akan segala yang salah, menentang yang bobrok, agak-agak dan angan-angan , per- dongeng-dongeng yang tidak berdasar. Kebenaran ialah yang menimbulkan thuma'ninah, yaitu ketenteraman di dalam batin orang yang menganutnya, dan menghilangkan keraguan. Kebenaran pada kepercayaan (i'tikad) tentang keesaan Allah, dan kebenaran tentang syariat dan peraturan yang disampaikanNya. Dengan itulah NabiMuhammad s.a.w diutus Tuhan kedunia ini.

بَشِيْرًا
"Pembawa berita gembira ",
untuk barangsiapa yang menerima kebenaran itu. Berita yang menggembirakan hati mereka, baik di dunia atau kelak di akhi- rat karena tempat yang bahagia yang disediakan untuk mereka

وَ نَذِيْرًا
"dan peringatan ancaman"
bagi barangsiapa yang tak sudi menerima kebenaran itu, ialah ancaman bahwa hidupnya di dunia akan sengsara dan di akhi- rat akan dihinakan dengan azab. Maka lantaran itulah tugas engkau, wahai utusanku yang membawa kebenaran , memberi - kan berita gembira bagi yang taat dan ancaman siksa bagi yang menolak, teguhlah engkau pada tugasmu itu dan bekerjalah terus, jangan berhenti:

وَلاَ تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم
"Dan tidaklah engkau akan ditanya dari hal ahli-ahli neraka." (ujung ayat 119).
Artinya sebagai penghubung untuk Rasul supaya pekerjaan beliau diteruskan. Yaitu menyampaikan kebenaran, menggembirakan yang taat dan menyampaikan berita pahit bagi yang menolak. Pekerjaan engkau ini memang berat dan banyak orang yang akan menentang nya, maka janganlah engkau ambil pusing segala tingkah­laku mereka. Tidaklah engkau yang akan ditanya tentang perangai orang-orang ahli neraka itu.

Hal yang demikian sudahlah hal yang biasa bagi seorang Rasul. Karena seorang Rasul adalah seorang Mahaguru, bukan seorang pemaksa. Tunjukkan kepada mereka mudharat dan manfaat, tunjukkan kepada mereka betapa bahagianya jika mereka patuhi dan betapa bencana jika mereka masih saja berkeras kepala. Yang akan beroleh bahaya bukan orang lain, melainkan diri mereka juga. Sabda Tuhan selanjutnya:

وَ لَنْ تَرْضَى عَنكَ الْيَهُوْدُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
`Dan sekali-kali tidaklah ridha terhadap engkau orung yahudi dan Nasrani itu, sehingga engkau mengikuti agama mereka. "(pangkal ayat 120).

Untuk mengetahui latar belakang sabda Tuhan ini, hendaklah kita ketahui bahwasanya sebelum Rasulullah s.a.w diutus dalam kalangan bangsa Arab , adalah seluruh bangsa Arab itu dipandang Ummi atau orang-orang yang bodoh, tidak beragama , penyembah berhala. Kecerdasannya dianggap rendah .

Sedang orang Yahudi dan Nasrani yang berdiam di sekitar bangsa Arab itu memandang , barulah Arab itu akan tinggi kecerdasannya, kalau mereka suka memeluk agama Yahudi atau agama Nasrani.Sekarang Nabi Muhammad s.a.w diutus Tuhan membawa ajaran Tuhan mencegah menyembah berhala , percaya kepada Kitab-kitab dan Rasul-rasul yang terdahulu, baik Musa a.s. dan Harun a.s. atau Isa Al-Masih. Lantaran Nabi s.a.w tidak menyebut-nyebut agama Yahudi atau Nasrani, melainkan menunjukkan pula cacat-cacat yang telah terdapat dalam kedua agama itu , jengkellah hati mereka .

Mereka ingin hendaknya Nabi Muhammad itu mempropagandakan agama mereka. Yahudi rnenghendaki Nabi Muhammad s.a.w. itu jadi Yahudi, dan Nasrani menghendakinya jadi Nasrani. Setelah itu Tuhan memberikan tuntunan kepada RasulNya :

قُلْ إِنَّ هُدَى اللهِ هُوَ الْهُدَى
"Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah dia yang petunjuk."
Dengan inilah keinginan mereka agar Rasul mengikuti agama mereka telah dijawab. Bahwasanya yang menjadi pedoman di dalam hidup, dan yang diserukan oleh Muhammad s.a.w kepada seluruh umat manusia ialah petunjuk Allah. Petunjuk Allahlah yang sejati petunjuk. Adapun petunjuk manusia, khayal dan teori manusia bukanlah petunjuk.

Dengan ini marilah berikan nilainya kepada Yahudi Nasrani itu, adakah keduanya itu petunjuk Allah ? Tuhan telah mengutus Musa dan Harun dan mengutus Isa al-Masih, dan kemudian disambung oleh Muhammad.

Cobalah perhatikan, apakah segala sesuatu yang menjadi anutan Yahudi dan Nasrani sekarang ini masih berdasar kepada petunjuk Allah yang sejati ? Atau telah dicampuri oleh tangan manusia ? Dengan inipun lebih jelas, bahwa Muhammad s.a.w datang membawa petunjuk Allah. Kalau Yahudi dan Nasrani masih berpegang kepada petunjuk Allah yang asli , bahwa Nabi-nabi yang diutus kepada mereka, dengan sendirinya akan timbullah persesuaian. Dan sabda Tuhan seterusnya:

وَ لَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ
"Dan sesungguhnya jika engkau turuti kemauan-kemauan mereka itu. "
Dengan lanjutan ayat ini, telah diingatkan Tuhan kemauan-kemauan mereka, yang ditulis Ahwaa-ahum. Dan kalimat hawa, atau hawa-nafsu, atau sentimen yang sama sekali tidak ada dasar kebenarannya. Setengah dari hawa-nafsu itu telah dibayangkan pada ayat-ayat di atas tadi , yaitu kata mereka bahwa agama yang benar hanya agama Yahudi dan Nasrani.
Yahudi merasa bahwa segala anjuran dari pihak lain, walaupun benar, kalau tidak timbul dari orang yang berdarah Israil adalah tidak sah. Sebab mereka adalah "Kaum yang telah dipilih dan di istimewakan Tuhan." Yahudi dan Nasrani, telah memandang bahwa masing-masing mereka telah menjadi golongan yang istimewa. Lantaran kepercayaan yang demikian, mereka tidak mau lagi menilai kebenaran dan menguji paham yang mereka anut. Maka kalau kemauan atau hawa-nafsu mereka ini diperturutkan:

بَعْدَ الَّذِيْ جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ
"Sesudah datang kepada engkau pengetahuan ",
yaitu Wahyu yang telah diturunkan Tuhan kepada Rasul s.a.w. bahwa tidak ada Tuhan yang sebenarnya patut disembah melainkan Allah, dan Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan lain-lain dasar pokok tauhid , yang jadi pegangan dan tiang teguh dari ajaran sekalian Nabi dan Rasul. Maka kalau kehendak dan kemauan kedua pemeluk agama itu engkau perturutkan, sedang engkau telah diberi ilmu tentang hakikat yang sebenarnya.

مَا لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيْر
"Tidaklah ada bagi engkau selain Allah akan pelindung dan tidak pula akan penolong. " (ujung ayat 120).

Pokok ilmu telah diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w, dan pokok ilmu itu pegangan sejati untuk seluruh Rasul sejak Nuh a.s. sampai Nabi-nabi yang datang di belakang Nuh sebagai disebutkan dalam Surat 42, as-Syura ayat 13. Allah Satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan itulah hakikat agama, dan satu itulah pegangan bersama sekalian Nabi , tidak boleh berpecah-belah padanya.

Apabila menyeleweng sedikit saja dari ketentuan itu, tersesatlah daripada jalan yang benar dan segala pegangan tidak lagi berdasar ilmu. Dan segala pegangan di luar dari itu, sudah tegas tidak lagi datang dari Allah, maka tidaklah ada lagi jaminan dari Allah bahwa Dia akan melindunginya dan tidak pula lagi akan mendapat pertolongan daripadaNya.

Yahudi mengajarkan bahwa bangsa yang paling pilihan dalam dunia ini, tidak lain hanyalah Bani Israil. Bangsa lain adalah rendah belaka. Ini tidak sesuai dengan hakikat ilmu. Hakikat ilmu ialah bahwa manusia adalah keturunan Adam, dan Adam dari tanah.

Perbedaan warna kulit atau darah keturunan bukan melebihkan yang satu dari yang lain. Yang mulia di sisi Allah ialah barangsiapa yang lebih taqwa kepadaNya.

Nasrani mengajarkan bahwa manusia ini berdosa waris, karena dosa Adam. Beribu-ribu tahun Allah bingung di antara sifat kasihNya dengan sifat adilNya. Akhirnya dia mengambil keputusan, yaitu menjelma sendiri ke dalam alam ini , yaitu masuk ke dalam rahimnya seorang anak-dara yang suci , lalu menjelma menjadi Isa al-Masih, yang disebutnya sebagai anaknya. Artinya, Dia sendiri menjelma menjadi Anak ! Lalu Dia mati di atas kayu-palang untuk menebus dosa manusia itu. Dan yang mati itu ialah Bapak itu sendiri .

Ajaran itu tidaklah berdasar ilmu; ini adalah Ahwaa-ahum, angan-­angan yang tidak ada dasarnya. Kalau diturutkan, niscayalah kita akan sangsi. Di dalam ayat ini ditujukan peringatan kepada Nabi Muhammad s.a.w supaya kemauan mereka itu jangan dituruti, sebab kalau dituruti, terlepaslah beliau dari ilmu yang diberikan langsung oleh Allah. Sudah terang bahwa maksud yang sebenarnya dari ayat ini ialah buat kita , umat Muhammad s.a.w. , Jangan sampai kita diombang-ambingkan oleh kemauan manusia, sehingga petunjuk ilmu dari Tuhan kita tinggalkan.

Segala macam yang menyeleweng dari Tauhid bukanlah petunjuk. Petunjuk sejati banyaklah yang datang dari Allah. Dan dengan ayat ini kita telah diberi peringatan, bahwasanya Lan tardha, sekali-kali tidak akan ridha Yahudi dan Nasrani sebelum kita mengikuti agama mereka. Menurut lughah ( bahas ), huruf Lan itu berarti Nafyin ­waistiqbalin, yaitu mereka tidak akan ridha, tidak, untuk selama­lamanya.

Ayat ini telah memberikan pesan dan pedoman kepada kita, buat terus menerus sampai hari kiamat, bahwasanya di dalam dunia ini akan tetap terus ada perlombaan merebut pengaruh dan menanamkan kekuasaan agama. Ayat ini telah memberi ingat pada kita, bahwasanya tidaklah begitu penting bagi orang Yahudi dan Nasrani meyahudikan dan menasranikan orang yang belum beragama, tetapi yang lebih penting ialah meyahudikan dan menasranikan pengikut Nabi Muhammad saw sendiri .
Sebab kalau Islam merata di seluruh dunia ini, pengaruh kedua agama itu akan hilang. Sebab apabila akidah Islamiyah telah merata dan diinsafi, kedua agama itu akan ditelannya. Sebab pemeluk Islam berarti kembali kepada hakikat ajaran yang sejati daripada Nabi Musa dan Nabi Isa a.s.. Niscaya pemeluk kedua golongan itu tidak senang, sebab agama yang mereka peluk itu telah mereka pandang sebagai golongan yang wajib dipertahankan. Dengan tidak usah mengkaji lagi banar atau tidak benar.

Maka isyarat yang diberikan oleh ayat inilah yang telah kita temui dalam perjalanan sejak Islam bangkit dan tersebar di muka bumi ini sampai sekarang. Kalau sekiranya kita lihat pengkristenan yang begitu hebat, sejak dari Perang Salib pertama pada 900 tahun yang lalu, sampai kepada ekspansi penjajahan sejak 300 tahun yang telah lalu, sampai pula kepada usaha zending-zending dan misi Protestan dan Katholik kenegeri-negeri Islam dengan membelanjakan uang berjuta-­juta dolar untuk mengkristenkan pemeluk Agama Islam, semuanya ini adalah isyarat yang telah diberikan oleh ayat ini, bahwasanya mereka belum ridha dan belum bersenang hati, sebelum umat Muhammad menurut agama mereka .

Pekerjaan mereka itu berhasil pada negeri-negeri yang orang Islamnya hanya pada nama , tetapi tidak mengerti asli pelajarannya. Kadang-kadang mereka berkata , biarkanlah orang Islam itu tetap memeluk Agarna Islam pada lahir, asal kebatinan mereka telah bertukar jadi Kristen.

Orang Yahudi tidaklah mengadakan Zending dan Misi. Pemeluk agama Yahudi lebih senang jika agama itu hanya beredar di sekitar Bani Israil saja, sebab mexeka memandang bahwa mereka mempunyai darah istimewa. Tetapi mereka memasukkan pengaruh ajaran mereka dari segi yang lain. Bukan saja di Dunia Islam, bahkan pada dunia Kristen mcrekapun mencoba memasukkan pengaruh , sehingga merekalah yang berkuasa.

Kita masih ingat bahwa dalam Kitab-kitab Perjanjian Lama yang rnenjadi pegangan mereka , tidak ada pengajaran tentang Hari.Akhirat.Agama orang Yahudi itu terlebih banyak menghadapkan perhatian kepada urusan dunia ,kepada harta-benda. Kehidupan riba (rente) adalah ajaran orang Yahudi.

Negeri Amerika Serikat yang begitu besar dan berpengaruh, terpaksa menutup kantornya dua hari dalarn seminggu. Bukan saja pada hari Ahad, sebagai hari besar Kristen, tetapi hari Sabtupun tutup. Sebab yang memegang keuangan di Wallstreet (New York) adalah Bankir-bankir Yahudi. Sebab itu maka segala sesuatu kelancaran ekonomi ditangan Yahudi. Sedangkan di Amerika lagi demikian, apatah lagi di negeri­negeri lain.

Gerakan Vrijmetselar, Gerakan Masonia , dan beberapa gerakan internasional yang lain, pengaruhnya dalam tangan Yahudi. Dunia Islam tidak perlu masuk agama mereka , asal turutkan pengaruh mereka. Negeri-negeri Islam yang besar-besar terpaksa mendirikan Bank-bank, menjalankan Niaga dan ekonomi berdasarkan kepada riba, baik riba besar atau riba kecil; terpaksa mcmperlicin hukum riba supaya bernafas untuk hidup , tidak dapat mencari jalan lain, sebab seluruh dunia telah dikongkong oleh ajaran Yahudi,

Sedikit orang Yahudi yang berpencar-pencar di seluruh dunia dapat mendirikan sebuah negara Yahudi, mereka beri nama Israel, ditengah-tengah negeri orang Arab; dengan dibantu oleh Kerajaan Inggris dan Amerika, bahkan mendapat pengakuan pertama dari Rusia Komunis. Semuanya inilah yong di isyaratkan oleh ayat yang tengah kita tafsirkan, bahwasanya orang Yahudi dan Nasrani belum merasa puas hati, sebelum kita penganut ajaran Muhammad mengikut agama mereka. Ini bukanlah ancaman yang menimbulkan takut, tetapi sebagai perangsang supaya kaum Muslimin terus berjihad menegakkan agamanya , dan melancarkan dakwahnya ,

Karena selama kaum Muslimin masih berpegang teguh kepada ajaran agama yang dipeluknya, mengamalkannya dengan penuh. kesadaran , tidaklah mereka akan runtuh lantaran usaha kedua pemeluk agama itu. Sebab ayat telah menegaskan, bahwasanya putunjuk yang sejati tidak ada lain, melainkan petunjuk Allah .

Disampaikan orang-orang yang, demikian keras hawa-nafsunya hendak menarik orang lain ke dalam agamanya ; baik Yahudi ataupun Nasrani, maka Tuhan menerangkan lagi segolongan manusia , yang bukan hanya semata membaca Kitab, tapi memaham kan.

اَلَّذِيْنَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُوْنَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهِ
"Orang-orang yang Kami datangkan kepada mereka akan Kitab; yang mereka baca dengan sebenar-benar bacaan, itulah orang-orang yang akan percaya kepadanya." (pangkal ayat 121).

Ayat ini memberi kejelasan kepada kaum Muslimin, bahwasanya apabila mereka membaca Kitab al-Qur'an yang diturunkan kepada mereka dengan perantaraan Nabi s.a.w sebenar-benarnya membaca, yaitu dipahamkan isinya dan diikuti, orang yang semacam itulah yang akan merasai nikmat iman kepadanya.

Kalau kita sambungkan dengan ayat yang sebelumnya , bahwasanya Yahudi dan Nasrani tidak bersenang hati , sebelum or­ang Islam mengikuti agama mereka, maka orang Islam yang tidak memperhatikan, membaca dan mengikuti al-Qur'an yang akan dapat mengikut agama yang lain itu.

Setengah ahli tafsir mengartikan Yatlunahu dengan membaca. Dan setengah lagi mengartikannya rnengikutinya. Kitapun dapat menggabungkan kedua arti itu , membaca dan mengikuti. Jangan hanya semata-mata dibaca, padahal tidak diikuti. Dan disini ditetapkan lagi, Haqqa tilawatihi, sebenar-benar membaca.

Kalau sekiranya al­Qur'an pada mulanya diturunkan kepada orang Arab, yang mereka dengan sekali baca saja sudah paham akan artinya, sebab bahasanya sendiri, betapa lagi kita yang bukan orang Arab. Niscaya lebih bergandalah kewajiban kita untuk memahamkan artinya, dan menjadi kewajibanlah bagi orang yang pandai bacaan dan maknanya, mengajarkannya kepada yang belum pandai.

Hendaklah dibaca dengan penuh perhatian, dan mempelajarinya dengan seksama. Pelajari sampai paham. Orang-orang yang demikianlah yang diharap akan beriman kepadanya. Orang yang langsung mempelajari Kitab dengan akal yang bebas , jangan mendengar penafsiran pendeta-pendeta mereka yang telah mengandung maksud lain. Mereka itulah yang diharapkan beriman kepada kebenaran Nabi Muhammad s.a.w..

وَ مَنْ يَكْفُرْ بِهِ
"Dan barangsiapa yang tidak mau percaya kepadanya. "

Yaitu pemuka-­pemuka mereka sendiri, pendeta-pendeta mereka yang telah membuat tafsiran lain karena maksud tertentu.

فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ
"Itulah orang-orang yang merugi. " (ujung ayat 121).

Rugilah mereka karena tidak rnendapat kebahagiaan hidayat; gelaplah mereka di dalam selubung hawa-nafsu dan kedustaan. Baik oleh karena , mereka, memutar-mutar penafsiran Kitab Suci dari kebenaran, atau karena tidak berani membantah apa yang telah diputuskan olch pendeta-pendeta mereka .

Inipun menjadi i'tibar pula bagi kita kaum Muslimin yang telah 14 abad jarak dengan Nabi kita Muhammad s.a.w Meskipun telah berjarak 14 abad, namun apabila kita mengambil petunjuk Rasulullah s.a.w langsung dari al-Qur'an yang telah beliau bawa, tidaklah kita akan tersesat.

Hanya dengan membaca al-Qur'an dengan sebenar-­benar bacaan dan memahamkan maksudnya; hanya. dengan itulah kita akan dapat beriman kepada kebenarannya. Tetapi orang yang membacanya hanya karena mengharapkan pahala , tetapi tidak tahu apa isinya, tidaklah diharap akan mendapat cahaya iman dari dalamnya .

Kemunduran kita kaum Muslimin dalam lapangan agama kita ialah setelah al-Qur'an hanya untuk dibaca-baca cari pahala, tetapi tidak paham apa yang ditulis di dalamnya. Apatah lagi setelah zaman kemunduran timbut gejala dalam kalangan Islam bahwa penafsiran orang yang dinamai Ulamalah yang wajib diperhatikan, karena beliau lebih paham akan al-Qur'an daripada kita orang awam ini.

Seakan-akan keawaman hendak dipertahankan terus-menerus. Apakah si awam tidak berusaha supaya jadi Ulama pula ?

Satu waktu ada pula larangan mengartikan al-Qur'an. Tetapi berpahala membacanya. Orang-orang yang berpikir bebas jadi bertanya-tanya dalam hatinya. Kita sebagai orang Islam ingin mengetahui isi al-Qur'an itu, tetapi kita tidak mempunyai waktu buat belajar bahasa Arab. Kalau begitu apakah baca-baca itu saja yang menjadi kewajiban kita orang Islam ? Apakah kita tidak boleh turut memikirkannya? . Oleh sebab itu penulis "Tafsir" ini sampailah kepada suatu kesimpulan, bahwasanya mengajarkan arti dan maksud al-Qur'an kepada orang Islam yang belum mengerti bahasa Arab, atau yang tidak ada waktu untuk mempelajarinya adalah menjadi kewajiban bagi or­ang-orang Islam yang mengerti bahasa itu.

Dalam pengalaman saya akhir-akhir ini di Jakarta, adalah berpuluh orang laki-laki dan perempuan Islam yang selama ini mendapat pendidikan di sekolah­-sekolah Barat membaca tafsir atau terjemahan al-Qur'an ke bahasa Belanda atau Inggris dan sekarang sudah ada bahasa Indonesia , telah menjadi orang Islam yang tekun, dan bertambah tekun keinginannya mempelajari lebih mendalam .

Meskipun pada mulanya , jangankan mengetahui bahasa Arab, sedangkan tulisannya itu saja mereka tidak tahu. Banyak sekali mereka lebih paham maksud agama dari membaca terjemahan atau tafsir itu, daripada orang-orang yang selalu membaca al-Qur'an mengharapkan dapat pahala, padahal dia tidak tahu apa yang dia baca.

Kadang-kadang dalam pergolakan zaman timbul juga gejala-­gejala pengaruh agama lain ke dalam masyarakat Islam, bahwa yang berhak menentukan pemikiran itu hanya para golongan yang digelari Ulama atau Kyai. Tetapi karena membaca keterangan-keterangan Is­lam dalam bahasa asing, bahwa dalam Islam tidak ada kelas kependetaan yang memutuskan halal-haram sesuatu, maka timbullah semangat mempelajari agama yang merata, dalam kalangan kaum terpelajar.

Inipun menggembirakan. Sebab dengan demikian golongan-­golongan yang memang mempunyai keahlian, yang sebenarnya Ulama Islam, dapat memperdalam studinya tentang agama dan pengetahuan umum. Sebab kepada rnereka jugalah orang akan menanyakan jika timbul soal-soal yang musykil sebab keahlian mereka. Bukan sebab mereka yang memutuskan.

Pada permulaan peringatan yang dikhususkan kepada Bani Israil di ayat 40 dahulu, yang mula-mula dikatakan kepada mereka ialah supaya mereka ingat betapa besarnya nikmat yang telah dikaruniakan Tuhan Allah kepada mereka 81 ayat banyaknya, adalah peringatan yang sebagian besar terhadap kepada mereka. Sekarang peringatan itu dikuncikan lagi dengan mengulangi peringatan karunia Tuhan itu sekali 1agi:

يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ
"Wahai Bani Israil! Ingatlah olehmu akan nikmatKu yang telah Aku nikmatkan kepada kamu." (pangkal ayat 122).

Dari perbudakan dan penindasan kamu Aku bebaskan. Kepada tanah yang mulia pusaka nenek-moyangmu, kamu Aku antarkan. Makan dan minummu Aku sediakan. Aku beri kamu pemimpin besar yang tabah dan gagah berani. Itulah Musa. Aku kalahkan bangsa-bangsa yang menghambat jalanmu.

وَأَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِيْنَ
"Dan bahwasanya telah Aku muliakan kamu atas bangsa-bangsa."(ujung ayat 122).
Diakui Tuhan sekali lagi, bahwa memang pada masa lalu itu mereka dimuliakan atas bangsa-bangsa lain yang masih kulub. Sebab-sebab kemuliaan itu ialah karena ajaran yang kamu pegang. Bukan karena darah Keturunan, bukan karena kamu menjadi bangsa pilihan .

Kemudian yang diberikan kepadamu melebihi bangsa-bangsa yang lain, akan tanggal dari diri kamu apabila intisari dari ajaran Musa itu tidak kamu pegang teguh lagi , melainkan kamu campur-adukkan dengan peraturan lain yang dibikin-bikin oleh pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin kamu. Sebab itu peringatan Tuhan selanjutnya ialah:

وَ اتَّقُوْا يَوْمًا لاَّ تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْئًا
"Dan takutlah kamu akan hari yang tidak akan dapat melepaskan satu diri daripada diri yang lain sesuatupun." (pangkal ayat 123).

Satu kenyataan bahwa kemuliaan di sisi Allah Ta'ala hanyalah karena iman dan amal. Maka orang yang kosong imannya, berkurang-kurang amalnya, tidaklah dapat dilepaskan oleh temannya yang lain, baik ayah-bundanya atau gurunya sekalipun, dari azab yang akan dideritanya.

وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ
"Dan tidak diterima daripadanya penebusan. "
Tidaklah dapat ditebus atau dibayar, berapapun banyak uang tebusan, walau sebanyak isi bumi dan langit. Karena harta kekayaan buat menebus tidak ada. Orang pulang ke akhirat tidaklah membawa harta-benda untuk penebus diri.

Harta-benda manusia setelah dia mati telah kembali kepada yang empunya sejati yaitu Allah, lalu dipinjamkanNya kepada waris si mati. Dan apabila mereka telah punah, semua harta itu diambil kembali oleh yang Empunya.

Oleh sebab itu tidak ada sedikitpun hartabenda buat penebus diri dari azab di hari kiamat itu, karena tidak ada yang ditebuskan.

وَلاَ تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ
"Dan tidak bermanfaat padanya satu syafaatpun. "

Persangkaan mereka bahwa Nabi-nabi mereka akan dapat menolong, menjadi permintaan syafaat kepada Allah, minta diringankan, sebagai memintakan grasi, atau abolisi kepada Tuhan Allah, sebagai teradat di atas dunia ini, tidaklah akan berlaku di sana.

وَلاَ هُمْ يُنْصَرُ
"Dan tidaklah mereka akan ditolong. "(ujung ayat 123).
Tidak ada yang akan menolong karena semua manusia dan semua Malaikat, dan semua Jin dan syaitan pada waktu itu adalah mempertanggungjawabkan dosa atau jasa mereka sendiri- sendiri.

Dengan ini tertolak pulalah kepercayaan bahwa Isa al-Masih menebus dosa manusia dengan mati di kayu salib.Penolong satu-satunya hanya Allah. Tetapi pertolongan Allah tidaklah ada faedahnya kalau diminta pada waktu itu, melainkan dari hidup sekarang inilah. Asal periiatahNya diikut, laranganNya dihentikan, urusan di Hari Akhirat itu tidak akan sukar lagi.
 



 وَ إِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيْمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِيْن
(124)
Dan (ingatlah) tatkala telah di­uji Ibrahim oleh TuhanNya dengan beberapa kalimat, maka telah dipenuhinya semuanya. Diapun berfirman : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan engkau Imam bagi manusia. Dia berkata : Dan juga dari antara anak-cucuku. Berfirman Dia : Tidaklah akan mencapai perjanjianKu itu kepada orang-orang yang zalim.


وَ إِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَ أَمْناً وَ اتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ إِبْرَاهِيْمَ مُصَلًّى وَ عَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَاعِيْلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِيْنَ وَ الْعَاكِفِيْنَ وَ الرُّكَّعِ السُّجُوْدِ
(125)
Dan (ingatlah) tatkala telah Kami jadikan rumah itu tempat berhimpun bagi manusia dan (tempat) keamanan : Dan dijadikanlah sebagian dari makam Ibrahim itu tempat sembahyang. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, supaya mereka berdua membersihkan rumah­Ku itu untuk orang-orang yang tawaf dan orang-orang yang i'tikaf dan orang-orang yang ruku' serta sujud.


وَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَ ارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ قَالَ وَ مَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيْلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَ بِئْسَ الْمَصِيْرُ
(126) Dan (ingatlah) tatkala berkata Ibrahim : Ya Tuhanku. Jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan karuniakanlah kepada penduduknya dari berbagai buah-buahan,(yaitu) barang­siapa yang beriman di antara mereka kepada Allah dan Hari Kemudian. Berfirman Dia : Dan orang-orang yang kafirpun, akan Aku beri kesenangan untuk dia sementara , kemudian akan Kami helakan dia kepada siksaan neraka, yaitu seburuk buruk tujuan.


وَ إِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيْمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيْلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
(127)
Dan (ingatlah) tatkala meng­angkat Ibrahim sendi-sendi dari rumah itu dan Ismail : Ya Tuhan kami, terimalah dari­pada kami, sesungguhnya Engkau adalah Maha Men­dengar, Maha Mengetahui.


رَبَّنَا وَ اجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَ مِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَ أَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَ تُبْ عَلَيْنَآ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
(128)
Ya Tuhan kami ! Jadikanlah kami kedua ini orang-orang yang berserah diri kepada Engkau, dan dari keturunan­keturunan kamipun (hendak-nya) menjadi orang-orang yang berserah diri kepada Engkau, dan tunjukkan kiranya kepada kami cara-cara kami beribadat, dan ampunilah kiranya kami, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Penyayang.


رَبَّنَا وَ ابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلاً مِّنْهُمْ يَتْلُوْ عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَ يُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَ الْحِكْمَةَ وَ يُزَكِّيْهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ العَزِيْزُ الحَكِيْم
(129)
Ya Tuhan kami ! Bangkitkanlah di antara mereka itu seorang Rasul dari mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmat, dan akan membersihkan mereka; sesung­guhnya Engkau adalah Maha Gagah lagi Maha Bijaksana .


Perjuangan Nabi Ibrahim a.s.

Setelah rnenyampaikan peringatarn-peringatan yang semacam itu, yang 82 ayat banyaknya terlebih dikhususkan kepada Bani Israil, yang diharapkan moga-moga ada perhatian rnereka rnenerima ajaran kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w., di samping pengharapan kepada kaurn musyrikin Arab sendiri, tetapi tidak juga lepas pertaliannya dengan Bani Israil, maka dengan ayat yang akan datang ini, di antara Bani Ismail, (Arab) dipertemukan dengan Bani Israil pada pokok asal, yaitu Nabi Ibrahirn a.s.. Sebab orang Arab sendiri mengakui, terutama Arab Adnan, atau Arab Musta'ribah mengakui dan membanggakan bahwa rnereka adalah keturunan Ibrahim a.s. dan Ismail a.s. diikuti oleh Arab yang lain (Qahthan).

وَ إِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيْمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ
"Dan (ingatlah) tatkala telah diuji Ibrahim aleh TuhanNya dengan berapa kalimat." (pangkal ayat 124).

Dengan ini diperingatkan kembali siapa Tbrahim a.s..Yang dibanggakan oleh kedua suku bangsa Bani Israil dan Bani Ismail sebagai nenek-moyang mereka. Itulah seorang besar yang telah lulus dari berbagai ujian. Tuhan telah mengujinya dengan beberapa kalimat, artinya beberapa ketentuan dari Tuhan. Dia telah diuji ketika menentang orang negerinya dan ayahnya sendiri yang menyembah berhala. Dia telah diuji sampai dibakar orang. Dia telah diuji, apakah kampung halaman yang lebih dikasihinya atau keyakinannya? Dia telah tinggalkan karnpung halaman karena menegakkan keyakinan.

Dia telah diuji karena sampai tua tidak beroleh putera. Dan setelah dia tua rnendapatkan putera yang diharapkan, maka diuji pula, disuruh menyembelih puteranya yang dicintainya itu. Dan berbagai ujian yang lain.

فَأَتَمَّهُنَّ
"Maka telah dipenuhinya semuanya. "

Artinya, telah dipenuhinya sekalian ujian itu, telah dilaluinya dengan selamat dan jaya. Diriwayatkan oleh Ihrru Ishaq dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas: "Kalimat-kalimat yang diujikan kepadanya itu, dan telah dipenuhinya semuanya. Dia telah memisahkan dari kaumnya karena Allah memerintahkannya memisahkan diri.

Perdebatannya dengan raja Nambrudz tentang kekuasan Allah menghidupkan dan mematikan. Kesabaran hatinya tatkala dia dilemparkan ke dalam api bernyala; tidak lain karena mempertahankan pendiriannya tentang keesaan Allah.

Setelah itu dia hijrah dari kampung halamannya , karena Tuhan yang menyuruh. Ujian Tuhan kepadanya seketika dia didatangi tetamu (seketika tetamu itu singgah kepadanya dalam perjalanan membawa azab kepada kaum Luth), dan ujian kepadanya dengan menyuruh menyembelih puteranya.

Di dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Abd bin Humaid dan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari al-Hasan, la berkata: " Ibrahim a.s. telah diuji dengan kelap-kelipnya bintang, diapun lulus. Dia diuji dengan bulan, diapun lulus. Kemudian diuji dengan matahari , itupun dia lulus. Diuji dengan hijrah, diapun lulus. Diuji pula dengan menyuruh menyembelih anak kandungnya sendiri, itupun dia lulus. Padahal waktu itu usianya telah 80 tahun."

Menjadi Imam Sesudah Lulus Ujian

Setelah dilaluinya segala ujian itu dan dipenuhinya dengan sebaik-baiknya.

قَالَ إِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا
"Diapun berfrman : Sesungguhnya Aku hendak menjadtkan engkau Imam bagi manusia. "

Disini kita mendapat suatu pelajaran yang dalam sekali, tentang jabatan yang begitu mulia yang dianugerahkan Tuhan kepada seorang di antara RasulNya. Setelah beliau lulus dalam berbagai ragam ujian yang berat itu dan diatasinya segala ujian itu dengan jaya, barulah Tuhan memberikan jabatan kepadanya, yaitu menjadi Imam bagi manusia. Imam, ialah orang yang diikut, orang yang menjadi pelopor, yang patut ditiru diteladan, baik berkenaan dengan agama dan ibadat , atau akhlak . Setelah jabatan Imam itu diberikan Tuhan, Ibrahimpun mengemukakan permohonan:

قَالَ وَ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ
"Dan juga dari antara anak-cucuku."
Sebagai seorang ayah atau nenek yang besar yang bercita-cita jauh, Ibrahim a.s. memohonkan supaya jabatan Imam itupun diberikan pula kepada orang-orang yang dipilih Tuhan dari kalangan anak-cucunya. Moga-moga timbullah kiranya orang-orang yang akan menyambung usahanya. Permohonan itu disambut oleh Tuhan:

قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِيْن
"Tidaklah akan mencapai perjanjianKu itu kepada orang-orang yang zalim. " (ujung ayat 124).

Permohonannya dikabulkan Tuhan, bahwasanya dalam kalangan anak-cucu keturunannya memang akan ada yang dijadikan Imam pula, sebagai pelanjut dari usahanya. Akan ada Imam, tetapi janji itu tidak akan berlaku pada anak-cucunya yang zalim. Keutamaan budi, ketinggian agama dan ibadat bukanlah didapat karena keturunan. Yang akan naik hanyalah orang yang sanggup menghadapi ujian, sebagaimana Ibrahim a.s. juga.

Ibrahim a.s. telah memenuhi segala ujian dengan selamat; baru diangkat menjadi Imam. Bagaimana anak­ cucunya akan langsung saja menjadi Imam, kalau mereka tidak lulus dalam ujian atau zalim di dalam hidup. Imam yang dimaksud disini adalah Imamat Agama, bukan kerajaan clan bukan dinasti yang dapat diturunkan kepada anak. Sebab itu keturunan Ibrahim a.s. tidaklah boleh membanggakan diri karena mereka keturunan Imam Besar. Malahan kalau mereka zalim, bukanlah kemuliaan yang akan didapat lantaran mereka keturunan Ibrahim a. s., melainkan berlipat gandalah dosa yang akan mereka pikul, kalau mereka yang terlebih dahulu melanggar apa yang dianjurkan oleh amanat nenek-moyangnya.

Ingatlah betapa beratnya ujian itu semuanya. Bukanlah perkara yang ringan menegakkan paham dan keyakinan sendiri, yang bententangan dengan pendirian ayah kandungnya. Ayahnya Azar tukang membuat berhala, sedang dia sendiri menegakkan Tauhid. Dan untuk itu Ibrahim a.s. bersedia dibakar. Dan ketika akan masuk pembakaran, Malaikat Jibril bertanya: Apakah dia memerlukan pertolongan ? Ibrahim a.s. menjawab dengan tegas: "Kepada engkau tidak." Kemudian ujian lagi karena sampai tua tidak beranak. Kemudian ujian lagi, karena disuruh menyembelih anaknya yang tertua Ismail a.s., yang telah lama diharap-harapkannya.

Oleh sebab itu maka jabatan Imam yang diberikan Allah kepadanya, adalah hal yang wajar. Imamat yang sejati tidaklah mudah didapat oleh sembarang orang. Kekayaan harta bisa diwariskan kepada anak. Pangkat jabatan jadi Raja boleh diturunkan; tetapi Imamat yang sejati haruslah melalui ujian.

Di dalam Surat 32, as-Sajdah, ayat 34, Tuhan menjelaskan pula bahwa di antara pengikut-pengikut Nabi Musa ada yang diangkat Tuhan menjadi Imam, diberi pula petunjuk dan pimpinan, setelah ternyata betapa keteguhan hati, ketabahan mereka dan sabar mereka menempuh berbagai ujian hidup.

Keturunan Ibrahim a.s. terbagi dua, yaitu Bani Ismail dan Bani Israil. Pada kedua cabang turunan ini, terdapatlah beberapa orang Imam ikutan orang banyak. Terakhir sekali Muhammad s.a.w Imam dunia dari keturunan Ismail.

وَ إِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ
"Dan (ingatlah) tatkala telah Kami jadikan rumah itu tempat berhimpun bagi manusia."
(pangkal ayat 1"' 5). Di dalam ayat ini disuruh mengingat kembali bahwasanya Allah Ta'ala telah menyuruhkan kepada Ibrahim a.s mennjadikan rumah itu, yaitu Ka'bah atau Masjidil Haram menjadi tempat berhimpun manusia, yaitu tempat beribadat dari seluruh manusia yang telah mempercayai keesaan Tuhan, supaya mereka dapat berkumpul ke sana mengerjakan haji setiap tahun, sebagaimana yang dijelaskan pula di dalam Surat 22, Surat al-Haj.

وَ أَمْناً
"Dan (tempat) aman. " Sekalian dari tempat berkumpul seluruh manusia mengerjakan ibadat, maka tempat itupun dijadikan tempat yang aman sentosa. Di dalam Surat Ali Imran (surat 3 ayat 97), kelak akan dijelaskan sekali lagi bahwa barangsiapa yang masuk ke dalam pekarangan Masjidil Haram itu, terjaminlah keamanannya. Bukan saja manusia, bahkan juga binatang-binatang perburuan. Oleh sebab itu disebut juga dia tanah Haram , atau daerah yang dihormati.

Demikianlah peraturan mensucikan tanah itu yang dimulai oleh Nabi Ibrahim a.s., telah dipelihara turun-temurun oleh bangsa Arab, terutama oleh penduduk yang berdiam di dalam daerah itu, walaupun dalam masa-masa mereka telah bertolak kepada menyembah berhala:

وَ اتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ إِبْرَاهِيْمَ مُصَلًّى
"Dan jadikanlah sebagian dari makam Ibrahim menjadi tempat sembahyang."

Di sini tersebutlah pula suatu tanda sejarah yang amat penting, yaitu Makam Ibrahim Banyak lah bertemu Hadits-Hadits dan riwayat tentang Makam Ibrahim itu. Di dalam Hadits-Hadits yang shahih ada ter ebut yang menunjukkan bahwa Makam Ibrahim, yang berarti tempat berdiri Ibrahim a.s., ialah sebuah batu tempat Nabi Ibrahim a.s. berdiri ketika beliau membangun Ka'bah. Bilamana bertambah tinggi dinding Ka'bah itu, datanglah Ismail a.s. puteranya mengantarkan batu-batu bangunan ke tangan beliau, dan naiklah pula Ismail a.s. ke atas batu itu. Demikian riwavat Bukhari.

Menurut sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, dahulu batu Makam Ibrahim itu termasuk menjadi dinding Ka'bah. Menurut suatu riwayat dari al-Baihaqi dari Abdul Razzaq, Umar bin Khathab lah yang membawa batu itu dari Ka'bah dan membinanya di tempat tersendiri. Menurut Ibnu Abi Hatim dari Hadits Jabir, ketika Rasulullah s.a.w mengerjakan haji dan tawaf, di antara yang mengiringkan beliau ialah Umar bin Khathab. Sesampai di makam itu, beliau bertanya kepada Kasulullah s.a.w. "Makam Ibrahim ?" Rasulullah menjawab : "Ya !" Menurut Hadits yang dirawikan oleh Muslim, setelah selesai beliau tawaf, lalu beliau sembahyang dua raka'at di belakang Makam Ibrahim itu.

Di dalam ayat 97 surat Ali Imran kelak akan lebih jelas lagi keistirnewaan makam itu. Dikatakan bahwa di sana terdapat ayat (tanda) yang nyata, yaitu Makam Ibrahim. Jarak di antara zaman Muhammad s.a.w. dengan zaman Ibrahim a.s. telah berlalu beribu tahun, tetapi ayat atau tanda bukti masih ada, itulah Makam Ibrahim. Menurut suatu riwayat lagi dari Tabi'in yang terkenal, Mujahid; yang dikatakan Makam Ibrahim itu ialah seluruh pekarangan Masjidil Haram itu.
Maka teringatlah kita tentang usaha Raja Saud dari Saudi Arabia pada tahun 1958 merombak dan memperbesar Masjidil Haram, yang menurut bentuk maketnya yang baru, terpaksa letak Makam Ibrahim digeser. Rupanya pihak Kerajaan berpegang kepada pendapat Mujahid, dan Ularna-ulama mempertahankan tradisi. Di dalam rangka memperluas tempat tawaf mengelilingi Ka'bah , pada bulan Rajab 1387, (1967) Masehi, raja Faisal Ibnu Abdil Aziz telah merombak bangunan yang melingkungi makam yang lama, lalu menggantinya dengan satu bangunan kecil memakai keranda tembaga. Di dalamnya beliau lingkungi dengan keranda kaca (kaca pembesar), sehingga batu makam itu telah jelas kelihatan.
Di zaman raja-raja yang dahulu, rupanya di bekas jejak kaki Nabi Ibrahim a.s. tempat beliau berdiri itu telah diberi pertanda dengan perak, sehingga bekas telapak kaki itu lebih jelas kelihatan.

وَ عَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَاعِيْلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِيْنَ وَ الْعَاكِفِيْنَ وَ الرُّكَّعِ السُّجُوْدِ
"Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail supaya mereka berdua membersihkan rumahKu itu untuk orang-orang bertawaf, dan orang-orang yang i'tikaf dan orang-orang yang ruku' serta sujud. " (ujung ayat 125).

Inilah ujung lanjutan ayat. Yaitu selain dijadikan tempat berkumpul haji setiap sekali setahun dan Umrah, clan dijadikan daerah aman, diapun dijadikan pula daerah tempat beribadah yang tetap.

Pertama sekali, bersihkan RumahKu.
Tuhan menyebut rumah itu sebagai RumahKu, sehingga diapun disebut Baitullah, rumah.Allah , untuk mengangkat kehormatan rumah itu. Dia wajib bersih daripada persembahan yang selain dari pada Allah. Ketika Ibrahim a.s. telah meninggalkan negeri Babil dan Mesir dan tempat-tempat yang lain, sudah terang beliau menolak tegas segala persembahan kepada berhala. Maka di tanah yang telah diamankan ini, di sana rumah Tuhan telah berdiri, hendaklah dia bersih dari berhala. Ini diingatkan kembali kepada bangsa Arab, sebab mereka telah tersesat menyembah berhala. Rumah itu mesti dibersihkan daripada syirik dan perbuatan yang tidak patut, sehingga tetaplah dia untuk orang yang tawaf, yaitu mengelilingi Ka'bah itu tujuh kali, dengan mengambil jalan kanan. Dan untuk orang yang i'tikaf, artinya orang yang duduk berrnenung tafakkur mengingat Allah di dalam mesjid itu. Dan untuk mereka mengerjakan ruku' dan sujud, yaitu mengerjakan sembahyang.

Dengan demikian bertambah jelaslah bahwa Ibrahim a. s. yang dibantu oleh puteranya Ismail a.s. telah diperintahkan Tuhan menjadikan tanah itu menjadi Tanah Haram .

Perhatikanlah betapa besar pengaruh ayat ini ke dalam perjuangan Nabi kita di dalam menegakkan tauhid. Ayat ini diturunkan di Madinah, setelah Nabi Muharnmad diusir oleh kaumnya dari Mekkah kampung halaman dan bumi kelahirannya , dan di ayat ini dijelaskan Tuhan bahwa Nabi Ibrahim a.s. bersama puteranya Ismail a.s. diperintahkan,

Pertama: Mendirikan rumah Allah itu.
Kedua : Menjadikannya daerah aman.
Ketiga : Membersihkannya. Yaitu bersih dari penyembahan kepada yang lain dan bersih daripada amalan yang karut.

Sedang di waktu ayat ini turun, Ka'bah tidak aman lagi, sehingga umat yang membelanya diusir dari sana. Ka'bah kotor karena di sana telah ditegakkan 360 berhala, dan sejak beberapa waktu orang-orang musyrikin mengerjakan tawaf dengan kotor, ada yang bersorak-sorak, ada yang bertepuk-tepuk tangan, bahkan laki­-laki dan perempuan yang bertelanjang.

Untuk mernbangkitkan dan menimbulkan kembali kesucian Baitullah itu, mula-mula sekali setelah 17 bulan Rasulullah pindah ke Madinah, datanglah perintah Tuhan memutarkan kembali Kiblat dari Baitul Maqdis kepada Ka'bah di Mekkah itu. Pada tahun kedelapan Hijriyah negeri Mekkah ditaklukkan, karena orang Quraisyi sendiri yang memungkiri perjanjian Hudaibiyah. Di waktu menaklukkan Mekkah itu, secara langsung beliau perintahkan menghancurkan berhala-berhala itu, dan beliau perintahkan Sayidina Bilal azan ke puncak Ka'bah.

Pada tahun kesembilan beliau perintahkan Abu Bakar as-Shiddiq menjadi Amirul-Haj. Kemudian beliau usulkan dengan memerintahkan Ali bin Abu Thalib membacakan Surat Baraah (at T'aubah), menyampaikan beberapa perintah. Di antaranya ialah bahwa tahun depan tidak boleh lagi ada orang yang tawaf keliling Ka'bah dengan bertelanjang. Kabarnya konon, karena beliau tidak mau melihat orang telanjang bertawaf itulah maka beliau tidak naik haji tahun itu memerintahkan Abu Bakar memimpin haji. Baru tahun depannya, tahun kesepuluh beliau memimpin sendiri naik haji, setelah Ka'bah benar-benar bersih. Dan haji beliau yang terakhir itulah yang dinamai Haji Wada': Haji Selamat Tinggal.

Keterangan lebih lanjut akan didapat kelak ketika menafsixkan Surat Baraah (at Taubah), Surat 9.
Dan menurut sebuah Hadits yang dirawikan oleh Imam Bukhari, bahwasanya Allah Ta'ala telah menjadikan Tanah Mekkah itu menjadi Tanah Haram sejak Tuhan menjadikan semua langit dan bumi, dan akan tetap menjadi Tanah Haram sampai Hari Kiamat. Maka perintah yang diberikan kepada Ibrahim a. s. itu, ialah sebagai pelaksanaan dari kehendak Tuhan sejak dahulu kala itu. Sebab sebelum Ibrahim a.s. dan puteranya Ismail a.s. datang ke tempat itu, khususnya sebelum ada sumur Zamzam, belumlah ada manusia di sana.

وَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا
"Dan (ingatlah) tatkala berkata Ibrahim: Ya Tuhanku! .Jadikanlah negeri ini negeri yang aman."(pangkal ayat 126).

Dimohonkanlah oleh Ibrahim a.s., hendaknya negeri itu tetap aman sentosa selama-lamanya, sehingga tenteramlah jiwa orang-orang yang melakukan ibadat bertawaf dan beri'tikaf, sembahyang dengan ruku' dan sujudnya, menurut peraturan sembahyang yang ada pada masa itu

وَ ارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ
"Dan karuniakanlah pada penduduknya dari berbagai buah-buahan."

Oleh karena wadi (lembah) itu amat kering tidak ada sesuatu yang dapat tumbuh di dalamnya, dimohon kan pula oleh Nabi Ibrahim a.s. agar penduduk lembah itu jangan sampai kekurangan makanan, supaya hati merekapun tidakbosan tinggal disana menjaga peribadatan yang suci mulia itu. Tetapi Nabi Ibrahim a. s. memberi alasan permohonannya:

مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ
"Yaitu barangsiapa yang beriman di antara rrcereka itu kepada Allah dan Hari Kemudian."
Sebagai seorang hamba Allah yang patuh, Nabi Tbrahim a.s. memohonkan agar yang diberi makanan cukup dan buah-­buahan yang segar ialah yang beriman kepada Allah saja. Tetapi Tuhan Allah telah menjawab:

قَالَ وَ مَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيْلاً
"Dan carang-orang yang kafrpun, akan Aku beri kesenangan untuk dia sementara. "
Dengan penjawaban ini Tuhan Allah telah memberikan penjelasan, bahwasanya dalam soal rnakanan atau buah-buahan, Tuhan Allah akan berlaku adil juga. Semuanya akan diberi makanan, semuanya aka:n diberi buah-buahan, baik mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, ataupun mereka kufur. Oleh sebab itu maka dalam urusan dunia ini, orang beriman dan orang kafir akan sarna-sama diberi makan. Beratus tahun Nabi Tbrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. wafat, telah banyak penduduk di dalam lembah Mekkah itu yang menyembah berhala namun makanan dan buah­-buahan mereka dapat juga. Sebab demikianlah keadilan Allah dalam kehidupan dunia ini:

ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَ بِئْسَ الْمَصِيْرُ
"Kemudian akan Kami tarikkan dia kepada siksaan neraka (yaitu) seburuk-buruk tujuan." (Ujung ayat 126).

Di dunia mendapat bagian yang sama di antara Mukmin dan kafir. Malahan kadang-kadang rezeki yang diberikarz kepada kafir lebih banyak daripada yang diberikan kepada orang yang beriman. Tetapi banyak atau sedikit pemberian Allah di atas dunia ini, dalam soal kebendaan belumlah boleh dijadikan ukuran. Nanti di akhirat baru akan diperhitungkan di antara iman dengan kufur. Yang kufur kepada Allah, habislah reaksinya sehingga hidup ini saja. Ujian akan diadakan lagi di Akhirat. Betapapun kaya-raya banyaknya tanam-tanaman, buah-buahan di dunia ini, tidak akan ada lagi setelah gerbang maut dimasuki. Orang yang kaya kebendaan tetapi miskin jiwa, gersang dan sunyi daripada irnan, adalah neraka yang menjadi tempatnya.

Semuanya itu disuruh-ingatkan kembali kepada kaum musyrikin Arab, supaya mereka kenangkan bahwasanya kedudukan yang aman sentosa di negeri Mekkah itu adalah atas kehendak dari karunia Tuhan, yang disuruh laksanakan kepada kedua RasulNya, Ibrahim a.s. dan Ismail a.s., yaitu nenek-moyang mereka. Negeri itu telah mereka dapati aman, buah-buahan dan sayur-sayuran diangkut orang dari negeri­-negeri di luar Mekkah, dari Thaif ataupun lembah-lembah yang lain. Diperingatkan kepada mereka asal mula segala kejadian itu, yaitu supaya mereka menyembah Allah Yang Maha Esa, bersih daripada berhala dan segala macam kemusyrikan. Sudah mereka dapati sentosa, makmur dan subur, tempat kediaman mereka menjadi pusat peribadatan seluruh manusia sejak zaman purbakala, telah beratus beribu-tahun.

Lalu diperingatkan lagi tentang asal-usul berdirinya Ka'bah itu:

وَ إِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيْمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيْلُ
"Dan ingatlah tatkala Ibrahim mengangkat sendi-sendi dari rumah itu, dan Ismail." (pangkal ayat 127)

Di sini diperingatkan kembali bahwa Ibrahim lah, dibantu oleh puteranya Ismail a.s. yang mengangkat sendi­-sendi rumah itu, yaitu Ka'bah. Sendi-sendi atau batu permata, Ibrahim a.s. sendiri yang meletakkannya. Kemudian berangsur-angsur sehingga menjadi dinding, sebab itu disebut beliau mengangkatnya seterusnya membangun sampai tinggi.

Di dalarn Kitab-kitab tafsir, macam-macamlah ditulis tentang bagaimana caranya sendi-sendi itu dibangun, dan dari batu-batu mana, diambil dan diangkut. Ibnu Katsir menulis di dalam tafsirnya, demikian Juga Ibnu Jarir. Dengan mengingatkan ini, terkenanglah hendaknya mereka kembali bahwa nenek-moyang mereka Nabi Ibrahim a.s., dibantu oleh puteranya, Ismail a.s. bukan saja meramaikan dan mengamankan negeri itu atas perintah Tuhan, bahkan lebih dari itu merekalah yang memulai membangun rumah yang pertama di tempat itu, yaitu rumah yang pertama ditentukan buat tempat beribadat kepada Allah Yang Maha Esa.

Demi setelah selesai Ibrahim a.s. dibantu oleh Ismail a.s. mendirikan rumah itu, merekapun bermunajatlah kepada Tuhan:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا
"Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami. "
Artinya, bahwa pekerjaan yang Engkau perintahkan kepada. kami berclua, ayah dan anak, mendirikan Ka'bah sudah selesai. Sudilah kiranya menerima pekerjaan itu:

إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ
"Sesungguhnya Engkau adalah Maha Mendengar", akan segala. permohonan kami dan doa, kami:

الْعَلِيْمُ
"Maha Mengetahui. " (ujung ayat 127). Yaitu Maha Mengetahui jika terdapat kekurangan di dalarn pekerjaan kami ini, Engkaulah yang lebih tahu.
Setelah dengan segenap kerendahan hati, kedua makhluk bapak dan anak itu, Ibrahim a.s. dan Ismail a.s., yang telah menjadi manusia terpilih di sisi Tuhan, memohonkan supaya amalan mereka diterima oleh Tuhan, mereka teruskanlah munajat itu. Si Ayah yang berdoa dan si Anak yang mengaminkan:

رَبَّنَا وَ اجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ
"Ya Tuhan kami! Jadikanlah kami keduanya ini orang-orang yang berserah diri kepada Engkau. " (pangkal ayat 12)Setelah rumah atau Ka'bah itu selesai mereka dirikan, maka mereka berdua pulalah orang yang pertama sekali menyatakan bahwa mereka keduanya: muslimaini Laka, muslimin kami keduanya kepada Engkau! Yang berpokok kepada kata-kata ISLAM yang berarti berserah diri. Berjanjilah keduanya balrwa rumah yang suci itu hanyalah untuk beribadat daripada orang-orang yang berserah diri kepada Allah, tidak bercampur dengan penyerahan diri kepada yang lain.

وَ مِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ
"Dan dari keturunan-keturunan kamipun (hendaknya) menjadi orang-orang yang berserah diri kepada Engkau." Bukan saja lbrahim a. s. mengharapkan agar penyerahan dirinya dan puteranya Ismail a.s. kepada Allah, agar diterima Allah. Bahkan diapun mernohonkan kepada Allah agar cucu-cucu dan keturunannya yang datang dibelakangpun menjadi orang-orang yang berserah diri, menjadi or­ang-orang yang Muslim, atau ISLAM. Sehingga c:ocoklah dan sesuailah hendaknya langkah dan sikap hidup anak-cucu keturunannya dengan dasar pertama ketika rumah itu didirikan.

وَ أَرِنَا مَنَاسِكَنَا
"Dan tunjukkan kiranya kepada kami cara-cara kami beribadat. "

Cara­cara kami beribadat, kita artikan dari Manasikana. Setelah Ibrahim a.s. dan membawa juga nama puteranya Ismail a.s. mengakui bahwa Allahlah tempat rnereka berserah diri, dan telah bulat hati mereka kepada Allah, tidak bercampur dengan yang lain, dan diharapkannya pula kepada'hulran agar anak-cucu keturunannya yang tinggal di sekeliling rumah itu semuanya mewarisi keislaman itu pula, barulah Ibrahim a.s. memohonkan kepada Allah agar ditunjuki bagaimana caranya beribadat, yang disebut juga Manasik. Manasik bisa diartikan umum untuk seluruh ibadat, dan bisa pula dikhususkan untuk seluruh upacara ibadat haji.

Menurut riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim dan Said bin Manshur yang diterima dari Muj ahid , bahwa permohonan Ibrahim a.s. agar Tuhan mempertunjukkan bagaimana cara-cara beribadat itu, datanglah Jibril. Mula-mulanya Jibril telah menuntunnya bagaimana memasang batu-batu sampai tegak menjadi dinding. Setelah selesai dibimbingnyalah tangan Ibrahim a.s. berjalan menuju Mina. Sampai ditempat yang sekarang dinamai Jamratul Aqabah itu (Aqabah boleh diartikan penghalang) kelihatanlah Iblis sedang bernaung di bawah sepohon kayu. Lalu Jibril menyuruh Ibrahim a.s.: " Takbirlah, dan lemparlah Iblis itu!" Lalu Ibrahim a.s. takbir sambil melempar Iblis itu. Iblispun pergi lalu menghambat lagi ditempat yang sekarang dinamai Jamratul Wustha. Lalu Ibrahim a. s. berbuat pula sebagaimana dibuatnya di Jamratul Aqabah tadi, dan demikian juga dibuatnya sampai di Jamrah yang ketiga.

Kemudian Jibril membimbing tangan Ibrahim a.s., lalu berjalan menuju Masy'aril Haram (Muzdalifah), kemudian itu berjalan terus ke Arafah. Sesampai di sana berkatalah Jibril: "Sekarang telah engkau kenal (arafta) ibadat-ibadat yang aku pertunjukkan kepada engkau itu." lbrahim a.s, menjawab: "Na'am" (Ya)!
"Sekarang sudahkah engkau kenal (arafta) ibadat-ibadat yang aku pertunjukkan itu?" Diulang itu oleh Jibril sampai tiga kali. Maka menjawablah Ibrahim a.s.: "Na'am!" (Ya, saya sudah kenal sekarang). Maka berkata pulalah Jibril: "Kalau demikian, mulailah engkau panggil manusia untuk mengerjakan haji." lalu Ibrahim a.s. bertanya: "Bagaimana caranya aku memanggil mereka?" Jibril menjawab: "Katakanlah, wahai sekalian manusia! Sambutlah seruan Tuhan kamu! Serukanlah demikian sampai tiga kali!" Lalu yang demikian itu dilakukan oleh Ibrahim a.s., maka menyahutlah hamba-hamba Al­lah: "SeruanMu telah hamba dengar ya Allah dan hamba segera melakukannya." (Inilah arti yang agak dekat dari kata-kata : Labbaika). Kata Mujahid seterusnya. "Maka barangsiapa yang menyambut seruan Ibrahim di masa itu, akan jadi hajilah dia. "

Kita salinkan riwayat yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Said bin Manshur dari pada Tabi'in yang terkenal ini, yaitu Imam Mujahid, hanyalah sekedar untuk tafsir saja.

Satu riwayat pula daripada Ibnu Jarir dan diterimanya daripada Tabi'in Said bin al-Musayyab, yang diterimanya pula daripada Ali bin Abu Thalib, demikian bunyinya: "Setelah Ibrahim a.s. selesai membina Baitullah itu, berserulah dia kepada Allah: Ya Tuhanku! Telah aku kerjakan apa yang telah Engkau titahkan. Sekarang aku bermohon, pertunjukkanlah kepada kami, bagaimana caranya ibadat-­ibadat kami (Manasik kami). Maka diutus Tuhanlah Jibril, lalu dituntunnyalah Ibrahim a.s. mengerjakan haji."

Ada juga beberapa riwayat lain yang hampir sama isinya. Disebut juga gangguan syaitan ditengah jalan itu, sebagai keterangan Mujahid tadi. Ada juga riwayat lain dari Ibnu Khuzaimah dan at-Thabrani dan al-Hakim dan diakui shahihnya. dan al-Baihaqi di dalam Sya'bul lman, semuanya dari Ibnu Abbas. Dan ada juga riwayat lain dari Ahmad dan al-Baihaqi dan Ibnu Abi Hatim.

Dari sekalian riwayat ini dapatlah kita mengambil kesimpulan bahwasanya setelah selesai mendirikan Ka'bah, Ibrahim as. dituntun oleh Jibril, dengan perintah Tuhan, agar dia mengerjakan, haji. Dan Sunnah yang telah direntangkan oleh Nabi Ibrahim as. itulah yang diterima turun- temurun oleh manusia khusus nya anak-cucunya, sebagai pelopor pemberi contoh yang pertama, yaitu bangsa Arab, dan manusia pada umumnya yang percaya . Lantaran riwayat Mujahid yang kita salinkan di atas, bahwa Nabi Ibrahim menyeru manusia mengerjakan haji, timbullah suatu kepercayaan pada seterigah manusia, lalu mereka meniru Nabi Ibrahim as. mengipas-ngipas memanggil-manggil keluarganya yang dikampung supaya terseru pula naik haji.

Kalau perbuatan memanggil-manggil niengipas-ngipas serban ini dilakukan orang, karena memandangnya sebagai suatu ibadat, maka bid'ahlah perbuatan itu. Dan jika hanya karena iseng.-iseng saja, terserahlah kepada yang mengerjakan.

وَ تُبْ عَلَيْنَآ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
"Dan ampunilah kiranya kami, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Penyoyang. " ( ujung ayat. 128).

Kita sudah maklum bahwasanya Rasul Allah adalah ma'shum, suci daripada dosa, terutarna dosa yang besar.Tetapi orang-orang yang telah mencapai derajat Iman yang sempurna sebagai Ibrahim a.s dan Ismail as, tidaklah berbangga dengan anugerah Allah kepada mereka dengan ma'shum itu. Nabi Ibrahim a.s memohonkan taubat untuk dirinya dan untuk anaknya ini, adalah suatu teladan bagi kita agar selalu ingat dan memohonkan ampun kepada Tuhan. Makna yang asal daripada taubat ialah kembali. Kita bertaubat kepada Allah. Dan Allah mengabulkan permohonan kita, dengan memakai perkataan 'Ala, yang berarti ke atas Kita mendaki menuju Allah, Dan Allah. menarik tangan kita ke atas.

Nabi Isa alaihis salam yang ma'shum, setiap waktu memohon taubat kepada Tuhan, sehingga diriwayat kan oleh Imam Ghazali , bahwasanya beliau menyediakan bunga-karang (spons) untuk menghapus airmatanya , dan Nabi kita Muhammad s.a.w, mengatakan bahwa tidak kurang dari 70 kali sehari semalam beliau memohon ampun. Dengan demikian., bertambah suci manusia, bertambah pula mereka merasa kekurangan. Setelah selesai Ibrahim a.s. membina Baitullah itu dan selesai pula dia mengerjakan Haji dengan tuntunan Jibril sendiri, dan telah selesai dia menyerahkan diri, berdua dengan puteranya Ismail a.s. dan diharapkannya agar anak-cucunyapun menjadi orang-orang yang Mus­lim kepada Allah, maka akhirnya ditutupnyalah permohonannya dengan suatu permohonan lagi:

رَبَّنَا وَ ابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلاً مِّنْهُمْ
"Ya Tuhan kami ! , Bangkitkanlah di antara mereka itu seorang Rasul dari mereka sendiri." (pangkal ayat 129).

Di dalam beberapa ayat disebut bahwa salah satu bawaan budi Nabi Ibrahim a.s. itu ialah awwaah, artinya penghiba, amat halus perasaan, tidak tega hati. Dan perasaan beliau yang halus itu terdapat di dalam nama beliau sendiri, yaitu Ibrahim.

Menurut keterangan al-Mawardi, dan dikuatkan pula oleh catatan Ibnu Athiya, Ibrahim itu adalah bahasa Suryani, yang rumpun asalnya bersamaan dengan bahasa Arab. Dia adalah gabungan di antara dua kalimat, yaitu Ib dan Rahim. Ib sama artinya dengan Abun dalam bahasa Arab, yang berarti bapak atau ayah. Rahim dalam bahasa Suryani sama artinya dengan Rahim dalam bahasa Arab, yang berarti penyayang. Jadi Ibrahim artinya ialah ayah yang penyayang.

Maka ayah yang penyayang ini tidaklah merasa puas dengan menyatakan menyerahkan dirinya bersama puteranya Ismail a. s. saja kepada Allah, menjadi Muslimaini Laka (berdua menyerahkan diri kepada Engkau), rnalahan dimohonkannya pula anak-cucunya, sehingga tetaplah terpelihara Rumah Allah atau Ka'bah itu, jangan sampai menjadi rumah-rumah tempat berhala. Tetapi ayah yang penyayang itu rupanya amat jauh pandangannya ke zaman depan, berkat tuntunan Tuhan. Tidak puas hanya memohon anak-cucunya menjadi Islam semua, bahkan beliau memohonkan pula agar di antara anak dan cucunya itu dikemudian hari dibangkitkan seorang yang menjadi Rasul Allah:

يَتْلُوْ عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ
"Yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau."
Yaitu perintah-perintah Ilahi untuk memupuk dasar yang telah ditinggalkan oleh beliau di dalam mengakui keesaan Tuhan.

وَ يُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَ الْحِكْمَةَ
"Dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmat."
Kitab ialah kumpulan daripada wahyu-wahyu yang diturunkan Ilahi, yang bernama al-Qur'an itu, dan hikmat ialah kebijaksanaan di dalam cara menjalankan perintah, baik di dalam perkataan dan perbuatan atau sikap hidup Nabi itu sendiri yang akan dijadikan contoh dan teladan bagi umatnya ..

وَ يُزَكِّيْهِمْ
"Dan yang akan membersihkan mereka."
Baik avat-ayat, ataupun kitab itu, ataupun hikmat kebijaksanaan yang dibawakan oleh Rasul itu adalah maksudnya rnembersihkan mereka seluruhnya. Bersih daripada kepercayaan yang karut-marut, syirik dan menyembah berhala, dan bersih pula kehidupan sehari-hari daripada rasa berici, dengki, khizir dan khianat. Yuzakkihim , untuk membersihkan mereka pada rohani dan jasmani. Sehingga dapat membedakan mana kepercayaan yang kotor dengan yang bersih. Kebersihan itulah yamg akan membuka akal dan budi, sehingga selamat dalam kehidupan . Itulah pengharapan Nabi lbrahim a.s. kepada Allah, yang ditutupnya dengan ucapan:

إِنَّكَ أَنْتَ العَزِيْزُ الحَكِيْم
"Sesungguhnya Engkau, adalah Maha Gagah, lagi Maha Bijaksana." (ujung ayat 129).

Kepada Allah yang satu di antara sifatNya ialah Aziz, yaitu Maha Gagah, Ibrahim a. s. telah nzenggantungkan pengharapan kepada Al­lah di dalam sifat kegagahanNya itu, bahwa meskipun betapa besarnya rintangan dan halangan akan bertemu di dalarn perjalanan sejarah, namun kehendak Allah mesti terjadi. Tetapi di samping sifat Gagah Perkasa itu Tuhanpun mempunyai sifat Bijaksana; yaitu bahwa kehendakNya mesti berlaku, tetapi menurut arah jalan yang masuk di akal dan mengagumkan.

Maka apabila kita ketahui betapa perjalanan sejarah di antara zaman Nabi Ibrahim a.s. dengan zaman Nabi Muhammad s.a.w, sebagai pelaksanaan Allah atas permohonan Nabi Ibrahim a.s. itu, memang bertemulah betapa hebatnya Kegagah-perkasaan Tuhan dan BijaksanaNya, sehingga Rasul yang diharapkan itu akhirnya datang juga.

Setumpuk Tanah Hejaz itulah yang dengan kebijaksanaan Tuhan tidak sampai dimasuki oleh tentara penakluk, sehingga tidak pernah merasai bila bencana penjajahan. Di sebelah Utara beberapa orang penakluk yang besar telah bertindak semau­-mau, sejak Nebukadneshar raja Babil, sampai Cyprus raja Persia, sampai kemudiannya datang Iskandar Macedonia, sampai pula kepada Julius Caesar dan Antonius, namun Tanah Hejaz dan khususnya Mekkah itu, tidaklah sampai mereka injak. Menurut kebijaksanaan Tuhan , tanah itu dijadikan tanah kering gersang, sehingga penakluk memandang tidak perlu datang ke sana. Setelah Abrahah wakil raja Habsyi mencoba hendak menaklukkannya dan meruntuhkan Ka'bah yang suci itu, dengaar gagah-perkasaNya pula Allah 'I'a'ala membinasakan dan meng-hancurkan tentara Abrahah itu dengan mengirim burung Ababil.

Keturunan Ibrahim a.s. terbagi dua yaitu Bani Ismail yang menurunkan Arab Musta'ribah, berkedudukan dibagian Selatan dan Barat. Keturunannya yang secabang lagi adalah yang diturunkan daripada Ya'qub a.s. anak Ishaq, yang disebut Bani Israil, diberi kedudukan disebelah Utara, daerah Mesopotamia. Dari antara Bani Israil banyak diturunkan Nabi-nabi dan Rasul, tetapi dengan karunia Allah, dari keturunan Bani Ismail itulah diturunkan Rasul Akhir Zaman, Muhammad s.a.w mengabulkan permohonan nenek-andanya Ibrahim a.s. itu.

Dernikianlah beberapa kesimpulan yang kita tarik daripada ayat­-ayat ini, peringatan tentang asal mulanya negeri Mekkah dijadikan Tanah Hararn yang aman, tempat manusia berkumpul dan asal mulanya Ibrahim a. s. dibantu oleh puteranya Ismail a. s. diperintahkan membangun Ka'bah. Sampai kelak dari dekat Ka'bah itulah beribu tahun kemudian dibangkitkan seorang Rasul, Muhammad s.a.w menjadi Rasul Penutup, membawa ayat dan Kitab dan Hikmat dan tuntunan kesucian, hingga terkabul doa Ibrahim a.s..

Di dalam Kitab-kitab Tafsir bertemu juga riwayat-riwayat lain yang lebih panjang dari yang kita salinkan dan kita kupaskan ini, dan kita sambungkan dengan beberapa sejarah. Ada tersebut bahwasanya Ka'bah yang didirikan Nabi Ibrahim a. s. itu adalah menurut contoh dari Ka'bah lain, terletak dilangit yang keempat, bernama Baitul Ma'mur, persis terletak di langit bertentangan dengan Ka'bah yang di Mekkah itu. Dan tersebut pula di dalam satu riwayat bahwasanya Ka'bah itu didirikan oleh Nabi Adam setelah beliau turun kedunia, setelah dia bertemu dengan isterinya Hawa di Padang Arafah.

Tengah Padang itu diberi nama Arafah, sebab di sana Adam dan Hawa kami kenal mengenal kembali. Kata riwayat itu pula, setelah terjadi taufan Nabi Nuh , K.a'bah buatan Nabi Adam itu diangkat Tuhan kelangit , sehingga dasarnya tinggal ; diatas dasar itulah Ibrahim a.s. mendirikan Ka'bah yang baru. Dan tersebut pula bahwasanya Hajarul Aswad (Batu Hitam) yang tertempat di dinding Ka'bah sekarang itu asal mulanya daripada batu Yaqut yang sangat putih, datang dari dalam surga. Tetapi lama kelamaaaz menjadi hitarn karena d ipegang oleh tangan manusia yang berdosa .



وَ مَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ إِبْرَاهِيْمَ إِلاَّ مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ وَ لَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَ إِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِيْن
(130)
Dan siapakah yang akan enggan dari agama Ibrahim kalau bukan orang yang telah memperbodoh dirinya ? Padahal sesungguhnya Kami telah memilih dia di dunia ini, dan sesungguhnya dia di Akhirat adalah dari orang-orang yang shalih.


إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ
(131)
Tatkala berfirman kepadanya Tuhannya; berserah dirilah engkau ! Dia menjawab : Aku serahkan diriku pada Tuhan bagi sekalian alam .


وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيْمُ بَنِيْهِ وَ يَعْقُوْبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلاَ تَمُوْتُنَّ إَلاَّ وَ أَنْتُم مُّسْلِمُوْن
(132)
Dan telah memesankan (pula) Ibrahim dengan itu kepada anak-anaknya dan Ya'qub. Wahai anak-anakku, sesungguh­nya Allah telah memilihkan untuk kamu suatu agama. Maka janganlah kamu mati, me­lainkan hendaklah kamu di dalam Muslimin.


أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِن بَعْدِيْ قَالُوْا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَ إِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيْمَ وَ إِسْمَاعِيْلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَ نَحْنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ
(133)
Atau apakah telah kamu me­nyaksikan seketika telah dekat kepada Ya'qub kematian, tatkala dia berkata kepada anak-anak-nya: Apakah yang akan kamu sembah se­peninggalku ? Mereka men­jawab: Akan kami sembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapakmu, Ibrahim dan Ismail dan Ishaq yaitu Tuhan Yang Tunggal, dan kepada­Nyalah kami akan menyerah diri (Muslimin).


تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَ لَكُم مَّا كَسَبْتُمْ وَلاَ تُسْأَلُوْنَ عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْن
(134)
Mereka itu adalah satu umat yang telah lampau. Mereka akan mendapat apa yang telah mereka usahakan dan untuk kamupun apa yang kamu usahakan, dan tidaklah kamu akan diperiksa perihal apa yang mereka kerjakan.


Demikian pada ayat-ayat yang telah lalu, di akhirnya diterangkanlah bahwa permohonan terakhir dari Nabi Tbrahim a.s. ialah supaya dibangkitkan seorang Rasul dari antara mereka sendiri, anak-cucu beliau itu. Dan permohonan itu sesuai dengan waktunya, telah dikabulkan Tuhan; Nabi Muhammad s.a.w. telah dibangkitkan dari kalangan anak-cucu beliau itu. Dan Dia telah membangkitkan kembali agama Nabi Ibrahim a. s. yaitu agama dari manusia-manusia yang menyerahkan diri kepada Allah.

مِلَّةَ أَبيكُمْ إِبْراهيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمينَ مِنْ قَبْلُ
`Agama bapak kamu Ibrahim: Dialah yang menamai kamu Muslimin dahulunya."
(Surat al-Haj : 78)

Umat yang menyerahkan diri kepada Allah itu bernama Muslimin, dan penyerahan diri itu bernama I s 1 a m.Setelah ini terang dan jelas, datanglah ayat selanjutnya :

وَ مَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ إِبْرَاهِيْمَ إِلاَّ مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ
"Dan siapakah yang akan enggan dari agama Ibrahim itu kalau bukan orang telah memperbodoh dirinya ?" (pangkal ayat 130).

Apakah sikap agama yang lebih tepat dan yang lebih benar daripada menyerahkan diri dengan tulus-ikhlas kepada Allah ? Dan tidak bercabang kepada yang lain ? Siapakah yang akan enggan beragama begitu kalau bukan orang yang telah memperbodoh diri sendiri ? Terutama kamu, hai keturunan Ibrahim a. s. yang meramaikan Ka'bah itu, yang hidup aman damai di sekelilingnya dan menerimai pusaka itu, bukanlah kebodohanmu juga yang menyebabkan kamu enggan kembali kepada hakikat ajaran Ibrahim a. s. itu ?

وَ لَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا
"Padahal sesungguhnya Kami telah memilih dia di dunia ini."
Dia telah menjadi Imam bagi manusia clan telah berkembang anak-cucunya melanjutkan ajarannya. Berpuluh Nabi dan Rasul mengalir darah Ibrahim dalam tubuhnya.

وَ إِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِيْن
"Dan sesungguhnya dia di Akhirat adalah dari orang-orang yang shalih." (ujung ayat 130).

Termasuk daftar orang-orang yang mulia yang mendapat kedudukan tinggi disisi Tuhan.Ayat yang selanjutnya memberikan penegasan lagi:

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ
"Tatkala berfirman kepadanya Tuhannya: berserah dirilah engkau ! Dia rnenjawab: `Aku serahkan diriku kepada Tuhan bagi sekalian alam. " (ayat 131).

Tuhan bersabda: Aslim! Berserah dirilah engkau!
Ibrahim a.s. menjawab : Aslamtu li Rabbil Alamin! Aku telah menyerahkan diriku, jiwa dan ragaku kepada Allah Tuhan seru sekalian alam; aku tidak berpaling sedikit jugapun kepada yang lain. Dari sinilah asal kata ISLAM itu. Dengan demikian, sejak semula sudahlah terang bahwa berhala, atau patung, atau kayu, ataupun batu, atau manusia yang diagung didewakan sudah tidak diakui sama sekali.

Dengan ayat-ayat ini bertambah jelas bahwasanya lahirnya Islam, yang dipancangkan oleh Nabi Ibrahim a. s. dan puteranya Ismail a.s. itu, sama dengan lahirnya bangsa Arab baru, gabungan keturunan Ibrahim a.s. dan puteranya Ismail a.s. karena perkawinannya dengan anak permpuan orang Jurhum itu. Tegasnya mulai saja rumah suci Ka'bah itu didirikan, dengan serta-merta tumbuhlah satu keturunan Arabi, yang sama sekali tidak mengenal penyembahan berhala. Dan patut pula diingat bahwasanya Jurhum adalah sisa-sisa keturunan dari kaum Aad dan Tsamud, yang kepada mereka telah diutus terlebih dahulu Nabi Hud dan Shalih. Dan menurut suatu riwayat daripada Abu Hamid as-Sajastani di dalam kitabnya yang bernama a1-Amaali (Juz 2, ha1.168) dekat dekat zaman Rasul s.a.w masih didapat pemeluk agama Nabi Syu'aib, yang bernama al-Harits bin Ka'ab al-Mudzhaji, Ubaid bin Khuzaimah dan Tamim bin Murr. Oleh sebab itu ahli sejarah berani mengatakan bahwa penyembahan berhala tidaklah asli pada bangsa Arab: Adapun penyembahan berhala adalah penyakit yang kemasukkan dari luar Arab, masuk dari Syargil-Urdun dan negeri-negeri Kanaan, dibawa oleh seorang yang bernama `Amr bin Luhayi.

Di kala suatu waktu kabilah Khuza'ah berkuasa di Hejaz, yaitu kira ­kira 400 tahun sebelum Nabi Muhammad s.a.w diutus Tuhan. Oleh sebab itu maka hanya dalarn masa 4 abad sajalah di Hejaz terdapat penyembahan berhala. Dan seketika Nabi Muhammad s.a.w telah rnenyampaikan risalatnya, nyata saja dengan jelas bahwa penyembahan berhala adalah suatu hal yang menumpang , sebab dia disadar-sadarkan kepada Ka'bah. Masa 400 tahun jauh berbeda dengan pengaruh penyembahan berhala di India atau Tiongkok, atau penyembahan berhala di zaman Fir'aun Mesir atau zaman Athena (Yanani dan Romawi).

Dan dengan mengikuti ayat-ayat yang panjang lebar mengisahkan perjuangan Ibrahim a.s. ini, jelaslah oleh kita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. disuruh menyampaikan hal ini, agar penduduk Mekkah ingat kembali kepada agama mereka yang asal, yaitu agama Ibrahim. Dan kepada agama asli Nabi Ibrahim a. s. itulah beliau mengajak mereka kembali.
Kemudian datanglah ayat berikutnya :

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيْمُ بَنِيْهِ وَ يَعْقُوْبُ
"Dan telah memesankan (pula) Ibrahim dengan itu kepada anak-anaknya dan Ya'qub." (pangkal ayat 132).

Artinya, tatkala Ibrahim a.s. telah dekat akan wafat, dipanggilnyalah sekalian puteranya untuk menyampaikan wasiatnya: Putera beliau yang terkenal ialah Ismail a. s. dan Ishak a. s.. Ibu Ismail ialah Hajar, isteri muda beliau yang dari gundik. Ibu Ishak ialah Sa­rah. Tersebut juga bahwa ada lagi isteri beliau yang ketiga, bernama Katura. Dari Katura ini beliau beroleh putera Zimram, Yoksan, Medan dan Madyan, Isbak dan Suah.

Di antara cucu-cucunya yang telah besar di waktu beliau akan wafat itu ialah Ya'qub a.s. anak Ishaq a.s.. Ya'qub a.s. pun turut hadir dikala Ibrahim a.s. akan melepaskan nafasnya yang penghabisan. Maka kepada anak-anak dan cucu itulah beliau pesankan wasiat terakhir, yaitu supaya mereka semuanya menyerahkan diri kepada Allah (Muslimun), jangan mempersekutukan yang lain dengan Dia, dan jangan menyembah berhala. Maka di antara wasiat beliau itu ialah :

يَا بَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلاَ تَمُوْتُنَّ إَلاَّ وَ أَنْتُم مُّسْلِمُوْن
"Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilihkan untuk kamu suatu agama. Maka janganlah kamu mati melainkan hendaklah kamu di dalam Muslimin." ( Ujung ayat 132 )

Artinya, sampai akhir hayat dikandung badan, pegang-teguhlah agama yang satu ini, agama menyerahkan diri sepenuh dan sebulatnya kepada Allah, tidak bercabang kepada yang lain, dan tidak mempersekutukan, dan tidak mengatakan bahwa Dia beranak atau diperanakkan. Bahkan sampai kamu menutup rnata, hendaklah tegas pegangan kamu, yaitu: "TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH."

Itulah Islam yang sejati. Itu wasiat beliau kepada Ismail a. s. yang diakui sebagai nenek-moyang daripada bangsa Arab. Dan itu juga wasiatnya kepada Ishak a. s., dan kepada Ya'qub a. s. anak Ishak a. s., yang turut hadir bersama-sama ayahnya dan paman-pamannya, di waktu neneknya akan mati. Dan Ya'qub a.s. adalah nenek-moyang dari Bani Israil. Israil adalah nama dari Ya'qub a.s. sendiri.

Dengan memahamkan ayat-ayat ini, nyatalah bahwa di antara Arab dengan Yahudi, yang telah bergaul di bawah kekuasaan Rasul s.a.w. di Madinah di waktu itu, pada hakikatnya tidak ada perbedaan agama. Keduanya, baikArab keturunan Isrnail a.s. atau Yahudi keturunan Ya'qub a.s., diajak supaya kembali kepada agama nenek mereka yang di atas sekali, ayah dari Ismail a. s. dan Ishak a. s., yaitu Ibrahim a. s.

Orang Yahudi mencoba juga hendak meneari dalih, hendak mengatakan bahwa agama mereka lain, lebih tinggi dari Arab. Maka datanglah ayat selanjutnya :

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِن بَعْدِيْ
"Atau apakah kamu menyaksikan, seketika telah dekat kepada Ya'qub kematian, tatkala dia berkata kepada anak­anaknya: Apakah yang akan kamu sembah sepeninggalku?"(pangkal ayat 133).

Atau apakah kamu menyaksikan? Suatu pertanyaan yang bersifat pengingkaran. Pertanyaan yang dihadapkan kepada orang Yahudi ataupun Nasrani, yang mengatakan bahwa Ismail a.s. atau Ya'qub a.s. adalah pemeluk agama Yahudi, ataupun agama Nasrani. Datang pertanyaan seperti ini yang maksudnya boleh diartikan: "Apakah kamu tahu benar apa wasiat Ya'qub a. s. kepada anak-anaknya tidak lain adalah menanyakan, apakah atau siapakah yang akan kamu sembah, kalau aku telah meninggal dunia?" Di dalam ayat ini diterangkan dengan jelas apa bunyi jawaban daripada anak-anaknya itu :

قَالُوْا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَ إِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيْمَ وَ إِسْمَاعِيْلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَ نَحْنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ
"Mereka menjawab : Kami akan rnenyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapakmu Ibrahim dan Ismail dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Tunggal, dan kepadaNya lah kami akan menyerah diri. "(ujung ayat 133).

Di ujung ayat ini dijelaskanlah bahwa jawaban anak-anak Ya'qub a.s., tidak berubah sedikit juga pun dengan apa yang telah mereka pegang teguh selama ini, yaitu agama ayah mereka dan datuk nenek mereka, tidak ada Tuhan yang lain, melainkan Allah. Sesudah mengakui bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, merekapun mengaku pula, bahwa tempat menyerahkan diri hanya Allah itu pula, tidak ada yang lain, dan itulah yang disebut di dalam bahasa Arab: ISLAM.

Sekarang datang pertanyaan kepada Ahlul-Kitab, terutama Yahudi, karena mereka yang banyak berdiam di Madinah seketika ayat turun, dan termasuk juga Nasrani, apakah mereka ada menyaksikan ada kata lain dan wasiat yang lain daripada Ya'qub a.s. ? Atau adakah jawaban anak-anaknya, termasuk Nabi Yusuf a.s., yang mengatakan mereka akan bertuhan kepada yang selain Allah ? Yaitu Tuhan Datuk mereka Ibrahim a. s. dan Nenek mereka Ismail a.s. dan Ishak a.s. ? Atau dapatkah mereka mengemukakan sesuatu kesaksianpun yang menyatakan bahwa anak-anak Nabi Ya'qub a.s. itu menjawab bahwa mereka tidak akan menyerahkan diri kepada Allah ?

Dapatkah mereka mengemukakan suatu kesaksian bahwa Ya'qub a.s. meninggalkan suatu wasiat, bahwa jika dia telah meninggal dunia, hendaklah mereka menukar agama mereka menjadi Yahudi ? Atau agama Nasrani ? Atau ada mereka menjawab wasiat ayah mereka bahwa mereka hendak menukar agama sepeninggal beliau, tidak lagi berserah diri (Islam) kepada Allah, tetapi membuat satu kelompok yang bernama Yahudi , ataupun Nasrani ?

Baik dari segi akal budi, mereka tidak akan dapat mengemukakan kesaksian yang demikian. Tidak mungkin menurut akal bahwa mereka tidak akan mengakui keesaan Allah, dan tidak pula mungkin mereka akan menukar penyerahan diri ajaran Ibrahim a.s., Ismail a.s. dan Ishak a.s. dan Ya'qub a.s. dengan ajaran lain.

Di dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu Kitab Kejadian, Pasal 48 dan 49 memang ada tertulis panjang lebar wasiat-wasiatYa'qub a.s. kepada anak-anaknya ketika dia akan meninggalkan dunia. Di dalam Pasal Pasal itu memang tidak bertemu bunyi wasiat yang sejelas di dalam al-Qur'an ini, bahwa anak-anak Ya'qub a.s. berjanji tidak akan mengubah-ubah agama pusaka Ibrahim a.s. dan Ismail a.s. dan Ishak a.s.. Di Pasal 49 hanya bertemu wasiat-wasiat Ya'qub a.s. tentang kedudukan anak-anak, cucu dan keturunannya di belakang hari, disebutkan satu demi satu kedudukan mereka di dalam masyarakat, bahwa Yahudi akan begini, Benyamin akan begitu, Reubin akan demikian nasibnya, keturunan Yusufpun begitu.

Tetapi sungguhpun demikian apabila kita baca sejak timbulnya Nabi Ibrahim a.s. (dahulunya Abraham) dalam Kitab Kejadian Pasal 12, sampai lahir anaknya yang tertua Ismail a.s. dan anak yang kedua Ishak a.s., dan kehidupan kedua anak itu, disambung lagi oleh kehidupan Ya'qub a.s. dan Yusuf a.s., tidak lain daripada agama datuk mereka Ibrahim a. s.. Maka kalau di dalam ayat-ayat Kitab yang terdahulu itu, sebab aslinya tidak ada lagi, tidak begitu jelas dasar agama Ibrahim itu, datanglah al-Qur'an menjelaskan bahwa agama itu Islam namanya, yaitu penyerahan diri. Dan Tujuan itu ialah Allah yang tiada bersekutu dengan yang lain.

Di dalam Surat Hud (Surat 11 ayat 71 ), ada dikisahkan seketika beberapa Malaikat datang membawa kabar yang menggembirakan kepada Ibrahim a.s. dan isterinya Sarah yang mandul, bahwa mereka akan diberi putera, yaitu Ishak a. s.. Dan dibelakang Ishak a.s. itu akan diberi pula seorang lagi, yaitu Ya'qub a.s.. Maka beberapa Zending Kristen yang belum mendalami seluk beluk bahasa Arab mencoba menyalahkan al-Qur'an dan menyalahkan Nabi Muhammad s.a.w Sebab dia memaharnkan kata-kata Min wara-i Berarti di belakang Ishak ialah Ya'qub, artinya ialah Sarah akan beranak lagi sesudah Ishak, ialah Ya'qub. Padahal maksud ayat ialah menerangkan bahwa kelak Ishak. itu akan berputera Ya'qub sebagai turunan dari Ibrahim , akan menurunkan putera-putera yang banyak, sehingga keturunan Ibrahim akan banyak meriap laksana pasir di pantai, dari keturunan Ya'qub. itu.

Maka ayat 133 Surat al-Baqarah ini memberikan keterangan lebih jelas lagi, dari penjawaban anak-anak Ya'qub a.s. yang berbunyi : "Tuhan bapak-bapakmu Ibrahim dan Ismail dan Ishak." Disini jelaslah bahwa Ishak a.s. saudara tua dari Ya'qub a.s., melainkan bapaknya. Sebagai juga Ismail a.s. dan Ibrahim a.s. adalah bapak­-bapaknya juga. Kalau di dalam ayat ini Ismail a.s. disebutkan bapaknya pula, sama sajalah dia dengan kebiasaan bahasa Melayu (Indonesia) sendiri yang menyebutkan paman (saudara ayah) sebagai bapak juga. Saudara ayah yang sulung disebut orang bapak tua (pak tua) da n saudara ayah yang bungsu disebut orang bapak kecil (pak Cik atau pak bungsu). Dan Ibrahim disebutnya juga bapaknya, sesuai dengan bahasa Inggris menyebutkan nenek Grandfather, atau bahasa Belanda Grootvader.

Dan lagi dalam bahasa Arab, sejak dari ayah kandung, lalu kepada nenek, lalu kepada datuk-nenek yang di atas disebut bapak-bapak.

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ
"Mereka itu adalah umat yang telah lampau. " (pangkal ayat 134).
Setelah ayat-ayat yang diatas menguraikan panjang lebar dari hal Nabi Ibrahim a.s., Nabi Ismail a.s. dan Nabi Ishak a.s. dan menurunkan Bani Israil, menjadi kebanggaanlah pada umat keturunan mereka yang mendengar ayat-ayat ini, apabila nenek-moyang rnereka diperkatakan. Memang nama-nama yang mulia itu telah meninggalkan bekas sejarah yang baik, tetapi mereka sekarang sudah tak ada lagi. Memang keturunan Ibrahim, dari Bani Ismail dan Bani Israil adalah pendukung ajaran Ketuhanan yang murni, yaitu pengakuan atas keesaan Tuhan, tetapi hanya tinggal riwayat:

لَهَا مَا كَسَبَتْ
"Mereka akan beroleh apa yang telah mereka usahakan. "
Artinya, bahwasanya segala usaha mereka, perjuangan mereka, suka dan duka mereka di dalarn menegakkan kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa All, yang tidak bersekutu yang lain dengan Dia, tidaklah lepas dari tilikan Tuhan Allah:

وَ لَكُم مَّا كَسَبْتُمْ
"Dan kamupun akan beroleh (pula) hasil dari apa yang kamu usahakan. "

Artinya tidaklah kamu yang datang di belakang ini akan mendapat pahala dari hasil usaha umat yang telah lampau itu. Tidak pada tempatnya kamu membanggakan hasil usaha umat yang telah lampau itu, yang telah istirahat di alam kubur, sedang kamu tidak berusaha melanjutkannya. Kamu baru akan mendapat pahala, kalau kamu membuat usaha sendiri pula:

وَلاَ تُسْأَلُوْنَ عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْن
"Dan tidaklah kamu akan diperiksa dari hal apa yang telah mereka kerjakan."(ujung ayat 134).

Salah atau benar hasil usaha orang yang telah terdahulu itu tidaklah ada sangkut-pautnya dengan kamu yang datang di belakang, barulah mendapat pahala pula kalau kamu menghasilkan pekerjaan yang baik. Dan kalau sisa peninggalan dari orang yang terdahulu itu salah, tidak perlu kamu cela dan nista, sebab yang berdosa bukanlah kamu, melainkan mereka sendiri. Kalau kamu pandang perbuatan mereka itu salah, jauhilah kesalahan semacam itu dan jangan sampai terulang lagi. Karena kalau kamu ulang lagi, kamu pula yang akan berdosa karena salahmu.Karena pentingnya peringatan ayat ini, kelak akan diperingatkan lagi, dalam kata yang serupa,pada ayat 141.
* Lihat Surat al-Baqarah, ayat 200.
 



 وَ قَالُوْا كُوْنُوْا هُوْدًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوْا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا وَ مَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
(135)
Dan mereka berkata: Men­jadilah kamu Yahudi, atau Nasrani supaya kamu dapat petunjuk. Katakanlah:Bah­kan agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia dari orang-orang yang musyrik.


قُوْلُوْا آمَنَّا بِاللهِ وَ مَآ أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَ مَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ إِسْمَاعِيْلَ وَ إِسْحَاقَ وَ يَعْقُوْبَ وَ الْأسْبَاطِ وَ مَا أُوْتِيَ مُوْسَى وَ عِيْسَى وَ مَا أُوْتِيَ النَّبِيُّوْنَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَ نَحْنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ
(136)
Katakanlah oleh kamu : Kami percaya kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada lbrahim dan Ismail dan Ishak dan Ya'qub dan anak-cucu, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan apa yang diberikan kepada Nabi-nabi daripada Tuhan mereka; tidaklah kami membeda-bedakan di antara seseorang pun dari mereka , dan kami kepadaNya semua menyerah diri.


فَإِنْ آمَنُوْا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَّ إِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِيْ شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
(137)
Maka jika mereka percaya sebagaimana yang kamu telah percaya itu, esungguhnya telah dapat petunjuklah mereka. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka akan berpecah-belah. Tetapi Allah akan menyelamatkan engkau dari mereka. Karena Dia adalah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.


صِبْغَةَ اللهِ وَ مَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ صِبْغَةً وَ نَحْنُ لَهُ عَابِدُوْنَ
(138)
Celupan Allah! Siapakah lagi yang lebih indah celupannya dari pada Allah ?Dan kami, kepada Nyalah kami menghambakan diri.


قُلْ أَتُحَآجُّوْنَنَا فِي اللهِ وَ هُوَ رَبُّنَا وَ رَبُّكُمْ وَ لَنَا أَعْمَالُنَا وَ لَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَ نَحْنُ لَهُ مُخْلِصُوْنَ
(139)
Katakanlah : Apakah kamu hendak membantah kami perihal Allah ? Padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu ? Dan bagi kami adalah amalan kami dan bagi kamu adalah amalan kamu. Dan kami terhadapNya adalah ikhlas.


أَمْ تَقُوْلُوْنَ إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ وَ إِسْمَاعِيْلَ وَ إِسْحَاقَ وَ يَعْقُوْبَ وَ الْأسْبَاطَ كَانُوْا هُوْدًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللهُ وَ مَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللهِ وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
(140)
Ataukah kamu katakan: Sesungguhnya Ibrahim dan Ismail dan Ishak dan Ya'qub dan anak-cucu adalah semuanya Yahudi, atau Nasrani. Katakan­lah : Apakah kamu yang lebih tahu ataukah Allah ? Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya ? Dan Allah tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.


تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَ لَكُم مَّا كَسَبْتُمْ وَلاَ تُسْأَلُوْنَ عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
(141)
Mereka itu adalah suatu umat yang sesungguhnya telah ber­lalu ; mereka akan mendapat apa yang mereka usahakan, dan kamupun akan mendapat apa yang kamu usahakan, dan tidaklah kamu akan diperiksa perihal apa yang mereka amalkan.


وَ قَالُوْا كُوْنُوْا هُوْدًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوْا
"Dan mereka berkata : Menjadilah kamu Yahudi, atau Nasrani supaya kamu dapat petunjuk."(pangkal ayat 135).

OrangYahudi berkata, rnasuklah ke- dalam agama Yahudi supaya kamu mendapat petunjuk. Orang Nasranipun berkata begitu pula. Sekarang setelah dijelaskan duduk perkara, yaitu bahwa yang ditegakkan oleh Muhammad s. a. w adalah agama Nabi Ibrahim a.s., menyerah diri dengan segala tulus-ikhlas kepada Allah, dan agama itu jauh terlebih dahulu daripada apa yang dinamakan agama Yahudi atau apa yang dinamakan agama Nasrani, dapatlah disambut seruan mereka mengajak masuk agarna mereka itu.

قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا
"Katakanlah: Bahkan agama Ibrahirn yang lurus."

Agama Ibrahirn adalah agama yang lurus. Demikian kita artikan kalimat Hanif. Kadang-kadang diartikan orang juga condong, sebab kalimat itupun mengandung arti condong. Maksudnya satu lurus menuju Tuhan, atau condong hanya kepada Tuhan. Tidak membelok kepada yang lain. Sebab itu didalamnya terkandung pula makna Tauhid. Itulah agama Nabi Ibrahim:

وَ مَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
"Dan bukanlah dia dari orang-orang yang musyrik " (ujung ayat 135).

Oleh sebab agama Nabi lbrahirn a.s. adalah lurus kepada Allah dan Ibrahim a. s. itu sendiri bukanlah seorang yang mempersekutukan Allah dengan yang lain, dan itu agama yang kami pegang, perlu apa lagi kami masuk dalam agama Yahudi atau agama Nasrani. Sebab kalau kedua agama itu berasal lurus pula, tidak mempersekutukan Tuhan dengan yang lain perlu apa lagi masuk ke dalam agama yang dua itu, padahal diapun timbul jauh kemudian di belakang Nabi Ibrahim a.s.. Dan lalu pemuka kedua agama itu mengatakan bahwa agama mereka memang agama Nabi Ibrahim a.s. juga.

Mengapa setengah Yahudi mengatakan bahwa "Uzair anak Al­lah ? Atau mengapa Nasrani mengatakan al-Masih anak Allah ? Bukankah itu telah musyrik ? Atau dapatkah mereka mengemukakan bukti-bukti bahwa agama Nabi Ibrahim a.s. itu memang agama musyrik ? Di kitab yang mana terdapatnya ? Orang Yahudi niscaya tidak akan dapat mengemukakan itu dari Taurat, walaupun catatan yang kemudian yang mereka namai Taurat itu. Dan orang Nasranipun ketika memepertahankan pendirian bahwa al-Masih anak Allah , bukanlah dari nash yang terang dari Injil, melainkan dengan berbagai tafsiran yang sangat jauh di belakang. Kalau pihak mereka mengatakan bahwa masuk Yahudi atau Nasranilah yang akan dapat petunjuk dari Tuhan, timbullah pertanyaan : Apakah mengikuti Nabi Ibrahim a.s. tidak mendapat petunjuk ? Sebab itu mereka harus menjelaskan apa kelebihan agama mereka.

Kalau Yahudi mengatakan kelebihannya ialah karena selain dari Taurat merekapun telah mempunyai Kitab tambahan yang bernama Talmud, yaitu kumpulan dari peraturan-peraturan yang telah dibuat jauh terkemuka daripada wafatnya Nabi Musa a. s., teranglah bahwa Yahudi bukan lagi suatu agama yang memberikan jaminan petunjuk Allah, melainkan pindahan daripada petunjuk Allah kepada peraturan-peraturan yang disusun oleh Kahin-kahin dan Ahbar mereka. Agama Nasranipun demikian pula: "Kalau mereka mengatakan bahwa mengakui Nabi Isa anak Allah atau Allah sendiri yang menjelma menjadi anakNya untuk menebus dosa manusia, maka kalau kami masuk ke dalam agama itu, kami artinya kembali dari pendirian dari yang terang (Nur) ke dalam gelap (Zhulumat)." Sebab kepercayaan demikian tidak pernah diajarkan Ibrahim a.s..

Sekarang diterangkan pendirian agama menyerahkan diri atau agarna yang lurus dari Nabi Ibrahim a.s. yang dilanjutkan oleh Nabi Muhammad s.a.w itu:

قُوْلُوْا
"Katakanlah olehmu!" (pangkal ayat 136).

Seruan memakai kamu ini ialah kepada umat beriman pengikut Nabi Muhammad s.a.w. Artinya, terangkanlah pendirian Islam yang sebenarnya tentang agama :

آمَنَّا بِاللهِ وَ مَآ أُنْزِلَ إِلَيْنَا
"Kami percaya kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami. "

Yaitu al-Qur'an yang disampaikan oleh Nabi Muhammad s.a.w

وَ مَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ إِسْمَاعِيْلَ وَ إِسْحَاقَ وَ يَعْقُوْبَ وَ الْأسْبَاطِ
"Dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail dan Ishaq dan Ya'qub dan anak-cucu."

Dan sudahlah dijelaskan tadi bahwasanya dasar ajaran Ibrahim a.s. yang dilanjutkan oleh Ismail a.s., nenek-moyang orang Arab dan Ishak a.s. dan Ya'qub a.s. nenek­ moyang Bani Israil adalah satu juga; yaitu menyerah diri kepada Al­lah. Inipun dipegang teguh oleh anak-cucu mereka, yaitu anak Nabi Ya'qub a.s. yang 12 orang dan keturunan mereka.

وَ مَا أُوْتِيَ مُوْسَى وَ عِيْسَى وَ مَا أُوْتِيَ النَّبِيُّوْنَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَ نَحْنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ
"Dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan apa yang diberikan kepada Nabi­-nabi dari Tuhan mereka; tidaklah Kami membeda-bedakan di antara seorangpun dari mereka, dan kami kepadaNya, semua menyerah diri. " (ujung ayat 136),

Inilah dia pokok ajaran Islam. Segala Nabi-nabi itu sama-sama dipercayai dan diimani, Kepada Ibrahim a.s. dan anak-anaknya diturunkan wahyu ; kami percaya akan ajaran itu. Kepada Musa a.s.dan Isa a.s. diberikan Taurat dan Injil; kamipun percaya bahwa Tuhan memang memberikan Kitab-kitab itu kepada mereka. Dan Nabi-nabi yang lainpun ada yang diberi Kitab-kitab, Shuhuf atau Zabur. Semuanya itu adalah dalam kepercayaan kami. Dan kepada Tuhan Allah sendiri kami tetap menyerah diri, kami tetap Muslim.

Dengan sebab yang demikian, kalau kami kabulkan ajakan kamu; ajakan Yahudi supaya masuk Yahudi, atau ajakan Nasrani supaya masuk Nasrani , artinya ialah bahwa kami pindah dari lapangan yang besar ke dalam bilik kecil. Bagi kami agama itu bukanlah kebangsaan sempit, bukan membangun diri kepada satu suku kaum, yaitu keturunan Yahudi dan bukan pula kepada tempat lahir seorang Nabi, yaitu negeri Nazaret. Dan kalau kami masuk ke dalam agama Yahudi, artinya kami menanggalkan kepercayaan kami kepada Isa al-Masih dan Muhammad, mengkafiri kembali dua Kitab Suci yang penting bagi umat manusia, yaitu Injil dan al-Qur'an. Dan kalau kami masuk Nasrani, kami wajib mendustakan kebenaran yang dibawa oleh al­Qur'an, padahal dimana kesalahan al-Qur'an, cobalah tunjukkan. Dan kalau masuk Nasrani wajib memandang Muhammad Nabi dusta, padahal apakah kedustaannya, cobalah buktikan !

فَإِنْ آمَنُوْا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا
"Maka jika mereka telah percaya sebagaimana yang telah kamu percaya, sesungguhnya telah dapat petunjuklah mereka." (pangkal ayat 137).

Dengan pangkal ayat ini mereka diajak berpikir yang waras, yang logis (menurut Manthiq).
Kalau mereka sudi menurut pikiran yang teratur, tidak dipengaruhi oleh hawa-nafsu mempertahankan golongan, tentu mereka akan menyetujui. Yaitu bahwa sekalian Nabi, sejak dari Ibrahim a. s. sebagai nenek-moyang , sampai kepada Ismail a. s., sampai kepada Musa a. s. sebagai Rasul Pahlawan Pembebas Bani Israil dari belenggu perbudakan Fir'aun, sampai kepada Isa Al-Masih, sebagai pemberi peringatan kembali akan pokok ajaran Taurat, adalah semuanya beliau-beliau itu penegak dari hanya satu paham saja, yaitu menyerah diri kepada Allah yang Tunggal. Kalau mereka telah menyetujui ini dengan sendirinya mereka telah memegang petunjuk itu, artinya itulah hakikat yang ditegakkan oleh Nabi Muhammad s.a.w sebagai penyambung usaha Nabi-nabi yang dahulu itu.

Mari kita perhatikan bunyi ayat sekali lagi. Di dalam ayat ini tidak ada perkataan: "Masuklah ke dalam agama kami ini supaya kamu mendapat petunjuk seperti kami pula." Tetapi susunan ayat lebih halus dari itu. Yaitu kalau kamu telah benar-benar menyerah diri dengan tulus-ikhlas kepada Allah , dengan sendirinya kamu telah mendapat petunjuk.

Maka dengan ayat ini, kita yang telah mengakui diri orang Islam, karena kebetulan kita keturunan orang Islam, diberi pula peringatan bahwa Islam yang sebenarnya ialah penyerahan diri yang sebenarnya kepada Allah, disertai ikhlas, tidak bercabang kepada yang lain. Meskipun bernama orang Islam, tetapi penyerahan diri tidak bulat kepada Allah, sama sajalah dengan orang Yahudi dan Nasrani, yang mengambil persandaran kepada Nabi-nabi Allah pada nama, padahal tidak ada hakikat. Maka sesuailah semuanya itu dengan maksud ujung ayat:

وَّ إِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِيْ شِقَاقٍ
"Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka akan berpecah­ belah. "

Terang sekali tujuan ayat ini. Persatuan seluruh umat manusia hanya akan tercapai bilamana penyerahan mereka hanya satu, yaitu kepada Allah saja. Apabila berpaling daripada Allah kepada yang lain, niscaya perpecahanlah yang timbul, sebab Allah Esa, dan yang lain adalah berbilang dan cerai-berai. Yang ini mengatakan `Uzair anak Allah, yang itu mengatakan al-Masih anak Allah, yang lain menghadapkan hati kepada berhala. Perpalingan membawa perpecahan dan perpecahan membawa permusuhan. Tidak ada agama lagi yang tegak, tetapi mernpertahankan pengaruh dan kedudukan. Berkali-kali, beratus bahkan beribu kali terjadi peperangan dan pertumpahan darah, karena mempertahankan pendirian masing­ masing dan tidak bertemu jalan damai. Maka kepada Nabi Muhammad s.a.w. sudah teguh dan tetap, tidak berkisar lagi, yaitu pegangan Nabi Ibrahim a.s. tadi, Hanifan-Musliman. Perselisihan yang terjadi di antara penyembah berhala sesama penyembah berhala, semuanya tidak akan membahayakan bagi Rasul dan orang yang beriman kepada ajarannya, asal mereka tidak berganjak dari pendirian yang digariskan itu, bahkan merekalah yang akan membawa damai bagi segala yang bertentangan:

فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ
Fasayakfikahumulah!
Allah akan menyelamatkan engkau daripada mereka. Ayat sekelumit kecil ini amat luas yang dicakupnya. Asal pegangan sudah ada, asal Tauhid sudah matang, janganlah bimbang menghadapi hidup. Tidak ada syaitan yang akan dapat memperdayakan, tidak ada jin yang akan dapat mempengaruhi, tidak ada manusia yang akan dapat membujuk. Demikian luas dan dalamnya pengaruh sabda Tuhan yang sepatah ini, sehingga dia dapat kita ingat diwaktu-waktu kita menghadapi bahaya. Apapun yang kita hadapi, namun Tuhan akan tetap menyelamatkan dan memelihara kita, asal kitapun ingat selalu kepadaNya.

وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
"Karena Dia adalah Maha Mendengar, lagi Mahu Mengetahui. " (Ujung Ayat 137).

Tuhan mendengar apa pokok yang diperselisihkan dan Tuhan mengetahui apa tujuan mereka masing-masing. Dan Tuhanpun Mendengar dan Mengetahui apa kegiatan Muslimin sendiri di bawah pimpinan RasulNya menegakkan dakwah Islamiyah yang sejati. Apabila Rasul Allah, dan orang-orang yang beriman sertanya tetap berpegang teguh pada pendirian yang telah digariskan Allah itu.

Kemudian diberikan Tuhanlah jaminan yang tertinggi atas nilai pendirian agama Nabi Ibrahim a. s. itu, maka sabda 'I'uhan:

صِبْغَةَ اللهِ وَ مَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ صِبْغَةً
"celupan Allah, dan siapakah lagi yang lebih bagus celupannya daripada Allah." (Pangkal ayat 138).

Shibghatal-Lahi: Celupan Allah! Berkata al-Akhfasy dan lain ­lain: "Celupan Allah, artinya Agama Allah ! "
Menurut satu riwayat dari Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan celupan Allah ialah Agama Allah, menurut keterangan yang disampaikan oleh Abd bin Humaid dan Ibnu Jarir dari Mujahid bahwa maksud Celupan Allah itu ialah Fitrah Allah, atau kemurnian Allah yang telah difitrahkan manusia atasnya.

Menurut satu penafsiran pula dari Qatadah, yang dirawikan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir, berkata Qatadah:
"Orang Yahudi mencelup anak-anaknya dengan celupan keyahudian. Orang Nasranipun mencelup anak-anaknya dengan celupan kenasranian, tetapi sesungguhnya celupan yang asli daripada Allah ialah Islam, dan tidak ada satu celupanpun yang lebih bagus dan lebih bersih daripada celupan Islam. Sebab dialah Agama Allah yang telah diutus dengan dia Nuh dan Nabi-nabi yang datang sesudahnya.

Dari keterangan tafsir-tafsir sahabat dan Tabi'in tentang Shibghah atau celupan ini, dapatlah kita pahami ke mana maksudnya di sini.Tuhan telah meninggalkan dua celupan, yang keduanya asli dan tidak dapat ditandingi dan dibandingi. Yang pertama ialah celupan warna pada alam, yang dapat dilihat dengan mata. Ini dikuatkan oleh sebuah Hadits yang dirawikan oleh Ibnu Mardawaihi, dan Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah s. a. w pernah menceritakan bahwa Bani Israil pernah bertanya kepada Musa a.s. apakah Tuhan Allah itu mencelup juga? Mendengar pertanyaan demikian marahlah Nabi Musa a. s. kepada mereka dan disuruhnya mereka supaya bertakwa kepada Allah, jangan sampai bertanya sedemikian rupa.

Tetapi tidak berapa lama kemudian datanglah seruan Allah kepada Musa a, s. : "Bertanyalah mereka kepada engkau adakah Allahmu itu mencelupi alam ini?" Menjawab Nabi Musa a.s.: "Benar, ya Tuhanku, mereka tanyakan demikian kepadaku. " Maka bersabdalah Allah kepada Musa: "Katakanlah kepada mereka itu bahwa memang Allah memberikan celupan warna, semuanya adalah celupan."

Menurut Hadits yang dirawikan Ibnu Abbas itu, maka turunlah ayat ini kepada Nabi Muhammad s.a.w menyatakan celupan Allah, bahwa tidak ada yang lain yang sanggup mencelup seindah celupan Allah. Dari kedua macam tafsir ini dapatlah kita memahami bahwa keduanya dapat diterima.

Pertama ialah bahwa alam ini dicelup oleh Tuhan sendiri, dengan warna-warm yang merah, yang hitam, yang jingga, ungu, lembayung, merah jambu, merah-muda, hijau, hijau­laut, biru, biru-laut, putih, kecubung dan lain-lain sebagainya. Sebagaimana yang disebutkan Tuhan kepada Nabi Musa a. s. seketika Bani Israil bertanya itu.

Dengan memegang tafsiran ini, maka ayat ini dapat kita pergunakan buat merenungkan keindahan warna di dalam alam sekeliling kita ini. Warna asli dari Allah, tiap pagi dan tiap petang bertukar celupannya, yang kelihatan kemarin, tidak kelihatan lagi hari ini. Dan besok lain lagi. Berjuta juta hari telah berlalu dan berjuta pula hari akan datang sampai datang kiamat kelak. Adalah kita bosan melihatkan matahari ketika terbit dan kemudian ketika terbenam ? Bagaimana warna langit ketika itu ? Adakah seorang yang sanggup menirunya ? Gambar lukisan indah buatan Rembrandt, atau Rafael, atau Leonardo da Vinci dan lain-lain, memang mengagumkan. Apakah sebabnya dikatakan mengagumkan? Ialah karena mereka sebagai ahli seni yang besar telah mendekati hakikat yang dijadikan Tuhan.Celupan Allah atas alam ini adalah keindahan yang asli, yang di dalam filsafat disebut Aestetika. Maka manusia yang sanggup mendekati keindahan yang asli itu sekali lagi kita katakan: Mendekati! Manusia yang sanggup mendekati keaslian itu dalam lukisannya, dalam campuran warnanya, dinamai seniman. Bertambah pandai mereka mendekati, bertambah agunglah mereka dalam pandangan para peminat seni. Sebab itu kebenaran seni bukanlah keasliannya, melainkan pula kesanggupannya mendekati keaslian.

Begitu uraian kita tentang tafsir celupan itu, yang pertama. Yaitu celupan atau campuran warna ciptaan Allah yang tidak dapat diatasi oleh siapapun dalam alam ini.

Sekarang kita masuk kepada tafsiran yang kedua.
Penafsiran yang kedua sebagai dari Tabi'in yang ternama tadi, yaitu Mujahid, arti celupan ialah Fitrah, yang dapat kita artikan warna asli, atau celupan asli dari jiwa manusia. Dan menurut penafsiran Qatadah tadi, dikatakan bahwasanya keyahudian dan kenasranian adalah celupan buatan manusia yang dicelupkan oleh ayah kepada anak, atau celupan pendeta, yang sewaktu-waktu pasti luntur. Maka Islam yang berarti penyerahan diri yang sungguh-sungguh kepada Dzat Allah Yang Maha Esa, adalah celupan asli pada akal manusia. Sama terjadinya dengan akal itu sendiri. Sebab itu dapatlah dipahami suatu Hadits Shahih yang terkenal , bahwasanya manusia seluruhnya ini dilahirkan dalam Fitrah, artinya dalam Islam. Cuma pendidikan ayah bundanyalah yang membuat anak jadi Yahudi, jadi Nasrani atau jadi Majusi.

Teringat lagi kita satu tafsir yang lain dari Ibnu Abbas, menurut yang diriwayatkan oleh Ibnu an-Najjar di dalam Tarikh Baghdad, bahwa arti celupan ialah putih. Artinya masih putih bersih jiwa itu dalam Fitrahnya, sebelum dihinggapi oleh lain warna paham.

Sebab itu dapatlah kita simpulkan kembali ayat ini kepada ayat­ ayat yang sebelumnya. Yaitu bahwasanya agama Hanif ajaran Ibrahim a. s. itu adalah celupan asli Tuhan, yaitu Fitrah Manusia , itulah Tauhid yang sejati. Celupan manusia akan luntur karena pergiliran zaman. Dia tidak akan tahan kena cahaya matahari kebenaran. Adapun Akidah Islamiyah yang dipusatkan daripada Nabi Ibrahim a.s. tidaklah lekang karena panas, tidak lapuk karena hujan.

Maka agama Hanif itulah celupan Allah yang sejati, pakaian sejak mulai membuka mata menghadapi hidup, sampai rnenutup mata meninggalkan dunia. Sebab itu tersebutlah di dalam sebuah Hadits yang dirawikan oleh Imam Ahmad daripada Umamah; berkata dia, berkata Rasulullah s.a.w.

`Aku diutus dengan agama Hanif yang sangat berlapang dada (toleransi, pemaaf). "

Demikian juga menurut sebuah Hadits yang dirawikan oleh Imam Ahrnad dan Bukhari dan Ibnul Mundzir dari Ibnu Abbas, berkata Ibnu Abbas: "Orang bertanya kepada beliau : "YaRasulullah ! Manakah agama yang lebih disukai oleh Allah ? " Beliau menjawab: "Islam agama Hanifiyah as-Samha, " yaitu agama yang Hanif dan berlapang dada."
Bertambah maju ilmu pengetahuan manusia di dalarn menyelidiki alam ini dari segala bidangnya, bertambah dekatlah mereka sampai kepada kesimpulan akan keesaan Allah dan bertambah menyerahlah mereka kepada Allah. (Hanifan Musliman), meskipun mereka belum mendaftarkan diri dengan resmi masuk Islam. Sebab agama Hanif itu adalah celupan Allah sejati, maka siapapun di antara makhluk Allah tidak ada yang akan dapat mengatasi celupan Allah itu

وَ نَحْنُ لَهُ عَابِدُوْنَ
"Dan kami, kepadaNyalah kami menghambakan diri . "(ujung ayat 138).
Kalau kita ambil taf'siran yang pertama tadi, yaitu bahwa celupan Allah atas alam, dengan berbagai ragam warna, tidaklah dapat diatasi oleh pencelup yang lain, atau keindahan alam karena keindahan Allah. Kita sampai kepada intisari agarna dengan melihat benda yang nyata di sekeliling kita. Kita mengakui beribadat kepada Allah. Di sini kita mendapat Allah di dalam seni.

Kalau kita ambil penafsiran kedua, bahwa celupan Allah yang asli itu ialah keadaan Fitrah Manusia, jiwa murni manusia, belum dicampuri oleh celupan dan Iukisan warna manusia, yang bisa rusak karena hujan dan panas, sampailah kita kepada hakikat hidup, artinya sampailah kepada Tuhan dari segi kerohanian. Di sini kita mendapat Allah dari segi Filsafat. Sebab campuran warna yang lahir telah rnenimbulkan kesan kepada campuran warna yang batin.

Di samping kedua tafsiran tadi, Shibghah dengan makna warna­warni yang diciptakan Allah di dalam Alam, yang menimbulkan minat kesenian , dan Shibghah dengan arti fitrah, celupan asli jiwa manusia, bertemu lagi keterangan dari setengah ahli tafsir. Kata mereka, asalnya maka timbul kata celupan ini ialah karena orang Nasrani membaptiskan puteranya dengan air, yang mereka namai Ma'mudiyah, atau Baptisan atau di Doop, atau dipermandikan, barulah mereka berkata: Shibghahtallah, Celupan Tuhan, artinya Islam, inilah permandian yang betul.

Bila kita renungkan penafsiran yang ketiga ini, dapatlah kita menarik garis perbedaan paham tentang kesucian jiwa di antara Is­lam dengan Nasrani. Di dalam Islam, anak lahir ke dunia dalam keadaan suci, tidak ada dosa dan bersih (fitrah.); setelah datang ke dalam lingkungan orang tuanya, barulah anak itu mempunyai warna yang tidak asli. Oleh sebab itu maka hendaklah pendidikan orang tua memelihara dan menumbuhkan kemurnian anak itu di dalam hidupnya, agar tidak terlepas daripada beribadat kepada Allah. Sedang bagi agama Nasrani adalah sebaliknya; anak lahir ke dunia adalah dalam dosa, yaitu dosa waris dari Nabi Adam. Setelah dipemandian dengan air serani itu, barulah dia bersih dari dosa. Karena dengan permandian itu berarti bahwa dia telah diberkati oleh Yesus Kristus yang dianggap sebagai Tuhan yang menebus dosa manusia dengan mati di kayu palang.

Setelah mengakui celupan Allah, yang satu kuasapun tidak sanggup menyamai, usahpun melebihi celupan Allah, seorang yang beriman bertambah insaf akan kebesaran 'I'uhan. Dan keinsafan itu dibuktikannya dengan berbuat baik. Beribadat mempertahankan diri. Sebab itu jelaslah bahwa peribadatan timbul sesudah berpikir. Bagaimana orang yang telah mencoba pendirian demikian, hanya Allah tempat mereka berabdi, menyembah dan memuja, akan dapat diajak turun kembali pergi menyembah sesama makhluk ?

قُلْ أَتُحَآجُّوْنَنَا فِي اللهِ
"Katakanlah: Apakah kamu hendak membantah kami perihal Allah ?" (pangkal ayat 139).

Apakah kamu hendak membantah kam.i, karena pada sangkamu bahwa Allah telah menentukan hanya Bani Israillah kaum yang terpilih. Nabi-nabi dan Rasul-rasul hanyalah dari Bani Israil. Kami Bani Israil adalah kekasih Allah dan anak-anak Allah. Dan kalau masuk neraka, kami hanya berbilang hari saja. Pendeknya dalam tingkah dan caramu selama ini, kamu hendak memonopoli Allah hanya untuk kamu. Bagaimana kamu mendakwa-kan demikian wahai saudara-saudara kami ahlul-kitab ?

وَ هُوَ رَبُّنَا وَ رَبُّكُمْ
"Padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu?"
Kita sama-sama makhlukNya. Jika Nabi-nabi ada dalam kalangan Bani Israil, maka dalam kalangan Bani Ismailpun apa salahnya ada Nabi ? Apakah kamu sangka bahwa umat yang telah mempercayai Allah dan menyerah diri kepadaNya bukanlah umat yang utama ? Melainkan yang menjadi pengikut kamu saja yang utama ?

وَ لَنَا أَعْمَالُنَا وَ لَكُمْ أَعْمَالُكُمْ
"Dan bagi kami adalah amalan kami dan bagi kamu amalan kamu."
Mengapa kita harus bertengkar berbantah-bantah. Marilah kita masing-masing pihak beramal, bekerja, berusaha. Bukankah agama yang benar adalah mementingkan amal? Kalau kita bertengkar dan berbantah , niscaya amal menjadi terlantar.

وَ نَحْنُ لَهُ مُخْلِصُوْنَ
"Dan kami terhadapNya adalah ikhlas." (ujung ayat 139).
Kami terhadap Allah, ikhlas, bersih tidak terganggu oleh niat yang lain. Sebab kepercayaan kami tidak bercabang kepada yang lain.

أَمْ تَقُوْلُوْنَ إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ وَ إِسْمَاعِيْلَ وَ إِسْحَاقَ وَ يَعْقُوْبَ وَ الْأسْبَاطَ كَانُوْا هُوْدًا أَوْ نَصَارَى
"Ataukah kamu katakan : Sesungguhnya lbrahim dan Ismail dan Ishak dan Ya'qub dan anak-cucu adalah semuanya Yahudi dan Nasrani." (pangkal ayat 140).

Artinya bahwa orang Yahudi akan mengatakan Ibrahim a.s. dan keturunannya itu adalah Yahudi. Nasrani mengatakan demikian pula, mereka semuanya adalah Nasrani. Kalau mereka berkata demikian maka

قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللهُ
"Katakanlah " - wahai utusanKu : `Apakah kamu yang lebih tahu ataukah Allah?"

Dapatkah kamu mengemukakan bukti bahwa nama Yahudi sudah ada di jaman Ibrahim a. s., Ismail a. s., Ishak a. s. dan Ya'qub a. s. ? Nama Yahudi kamu ambil dari Yahuda anak Ya'qub a.s., sebagai nama agama. Mulanya hanya nama dari keturunan satu suku, lama-lama kamu jadikan nama agama. Bagaimana kamu mengatakan nenek-moyang itu beragama Yahudi ? Kitab Talmud pegangan kamu, kumpulan peraturan dari pendeta­-pendeta kamu, lama sesudah Nabi Musa a.s. barulah ada. Bagaimana kamu mengatakan nenek-moyang itu beragama Yahudi ?

Apalagi agama Nasrani. Di zaman Isa al-Masih sendiri nama agama N-asrani atau Kristen, belum ada atau belum pernah terdengar. Barulah Paulus kemudian meresmikan nama Masehi atau Kristen. Yaitu setelah Nabi Isa sendiri meninggal dunia ! Dan ketentuan, upacara peribadatan, pembaptisan, dan sebagainya itu, belumlah di kenal di zaman Nabi Ibrahim a.s., Isrnail a.s., Ishak a.s. dan Ya'qub a.s. dan anak-cucu mereka itu.

Hal ini jelas tertulis dalam Kitab "Perjanjian Baru" sendiri. Yaitu di dalam Kisah segala Rasul, Pasal 11. Di dalam ayat 19 sampai ayat 25, dinyatakan bahwa pada mulanya setelah Isa al-Masih meninggalkan dunia, murid-muridnya hanya menyebarkan ajaran al-Masih dalam kalangan Yahudi saja. Tetapi karena tantangan yang keras dari orang Yahudi di Jerusalem sendiri, sehingga seorang di antara murid itu, yang bernama Stepanus mati dibunuh orang Yahudi, bercerai-berailah murid-murid al-Masih itu. Ada yang mengembara ke Cyprus dan ada yang berangkat ke Cyrania. Dan ada yang berangkat ke Antiochia, mencoba menyebarkan ajaran itu pula kepada orang Greek (Yunani).

Seorang di antara murid al­Masih, bernama Barnabus, berangkat ke Tarsus dan di sana bergabung dengan Paul (Paulus) dan meyebarkan ajaran al-Masih bersama-sama, dan melanjutkan perjalanan ke Antiochia: "Tatkala dijumpainya dia, lalu dibawanya ke Anctiochia."

Demikianlah setahun genap lamanya keduanya itu berhimpun bersama-sama dengan sidang Jum'at, serta mengajarbeberapa banyak orang. Maka di Antochia lah murid-murid itu mula-mula disebut orang Kristen.( kisah segala Rasul , Pasal 11 , ayat 26 )

Jadi nama Kristen, Nasrani atau Masehi itu tidaklah dalam zaman Isa al-Masih itu sendiri, dan tidak beliau yang memberikan nama itu, melainkan murid-muridnya sesudah dia mati saja. Sedang Al-Masih semasa hidupnya menamai dirinya dari keturunan Bani Israil.

Apakah kamu yang lebih tahu ataukah Allah ? Kalau kamu berbicara dengan jujur, kamu akan mengakui bahwa awal pokok ajaran Nabi Musa a. s. ialah menyembah Allah Yang Maha Esa, yang tersebut dalam Hukum Yang Sepuluh. Dan Nabi Isa al-Masih seketika ditanyai oleh orang Yahudi, pun mengakui bahwa yang beliau tegakkan ialah agar mencintai Allah, lebih dari mencintai diri sendiri. Mengapa hal ini hendak kamu sembunyikan?

وَ مَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللهِ
"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya ?"
Yang tertulis dengan jelas dari Kitab-kitabmu itu ? Itulah pokok agarna Ibrahim a.s. sejati, yang dilanjutkan oleh Musa a.s. dan Isa a.s. dan sekarang oleh Muhammad s.a.w Yang lain dari itu adalah tambahan­tambahan saja dari pendeta-pendeta kamu, Kahin [ Uskup (Ulama/Pendeta)] dan Ahbar Yahudi , Uskup, Petrick, Kardinal Kristen.

وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
"Dan Allah tidaklah lengah daripada apa yang kamu kerjakan. " (ujung ayat 140).
Artinya pemalsuan-pemalsuan yang telah kamu lakukan, tambahan yang telah kamu tambahkan, sehingga keputusan pemuka­-pemuka agama yang telah mengobah pokok ajaran yang asal dari Al lah tidaklah lepas dari penglihatan Allah. Tidak selamanya pula manusia dapat didinding dari kebenaran. Sehingga lama-lama bila manusia telah timbul keberanian dan kebebasan , pikiran , agama yang kamu tegakkan dengan cara begini akan kian lama kian ditentang or­ang, dan perpecahan dalam kalanganmu sendiri akan bertambah menjadi jadi. Sebab celupan manusia, bukan celupan Allah.

Agama yang sebenar agama hanyalah satu, yaitu penyerahan diri yang tulus ikhlas kepada Allah. Kalau ini dibantah, berarti kamu membantah fitrahmu.Sekali lagi Tuhan mengulang peringatanNya:

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ
" Mereka itu adalah suatu umat yang sesungguhnya telah berlalu." (pangkal ayat 141).

Mereka telah pergi, dan yang tinggal hanyalah jejak bekas dan sejarah :

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَ لَكُم مَّا كَسَبْتُمْ
"Mereka akan mendapatkan apa yang telah mereka usahakan, dan kamupun akan mendapat apa yang telah kamu usahakan pula."

Inilah peringatan pada umat yang datang di belakang , baik umat Arab keturunan Ismail a.s., atau umat Yahudi keturunan Ya'qub a.s. dan Ishak a.s. dengan keduabelas pecahan keturunannya. Bahwasanya nenek-moyang mereka yang telah terdahulu itu, yang mana mereka telah banyak disebut dan jasa mereka menegakkan agama Allah, atau Hanifan Musliman telah banyak diperkatakan.

Mereka itu sekarang sudah tidak ada lagi , yang tinggal hanya bekas dan sejarah mereka. Mereka itu telah berjasa menyampaikan ajaran agama Allah yang sejati itu kepada dunia. Jasa mereka yang baik akan mendapat ganjaran yang baik dari Tuhan. Dan kamupun yang datang di belakang ini sebagai anak sejak anak cucu keturunan mereka, tidaklah perlu hanya membanggakan dan mencukupkan sebutan dan pujian atas jasa mereka. Kalau mereka mendapat ganjaran yang baik dari Allah, bukanlah itu berarti menjadi ganjaran pula, mentang-mentang kamu kamu membanggakan diri sebagai keturunan mereka.

Barulah kamu akan mendapat ganjaran setimpal pula dari Tuhan, apalagi usaha mereka yang telah lalu itu kamu sambung dengan amalan yang mulia pula :

وَلاَ تُسْأَلُوْنَ عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
"Dan tidaklah kamu akan diperiksa perihal apa yang mereka kerjakan."(ujung ayat 141).
Buruk atau baik mulia atau hina perbuatan umat-umat yang telah terdahulu itu, bukanlah tanggung jawab bagi kamu yang datang belakang. Yang akan kamu pertanggungjawabkan dihadapan Tuhan adalah amal usaha kamu sendiri.

Inilah satu peringatan yang keras, sampai diulang Tuhan dua kali, yaitu ayat 134 dan ayat 141 ini, yang sama isinya dan sama susunannya. Memang patutlah hal ini diulang-ulangi, walaupun berpuluh kali. Sebab sudah menjadi penyakit bagi suata umat keturunan umat yang besar, membanggakan amalan nenek-moyang, tetapi tidak berusaha menyambung usaha itti. Orang Arab keturunan Ismail a.s. di negeri Hejaz, membanggakan bahwa mereka adalah keturunan dari pembangun Ka'bah, padahal mereka telah rnenyembah berhala.

Orang Yahudi di Madinah merasa diri lebih tinggi dari orang Arab, dengan menyebut nama Nabi-nabi yang diutus Tuhan di kalangan mereka, sejak Musa a.s. sampai beberapa Nabi dari Bani Israil, padahal merekalah yang banyak membunuh Nabi-nabi itu, karena tidak cocok dengan hawa-nafsu mereka. Sekarang datang Nabi Muhammad s.a.w mengajak kembali kepada ajaran pokok yang asli dari nenek-moyang itu, tetapi mereka bertahan pada pendirian­-pendirian yang salah, yang telah jauh dari ajaran nenek-moyang itu.

In: dapat menjadi pengajaran bagi kita yang datang jauh sesudah Nabi Muhammad s.a.w Berapa banyak kita banggakan sejarah, sedikit­-sedikit sejarah kebesaran Islam, sejarah Ulama Islam, sejarah kemenangan Islam. Dan semuanya itu memang benar; tetapi semuanya adalah bekas usaha umat yang telah lalu. Kalau mereka beroleh pahala dari usaha itu, tidaklah kita yang datang di belakang ini yang akan menerimanya. Kita hanya menerima bekas dari usaha kita sendiri. Adalah amat membosankan membangga-banggakan zaman yang telah lampau dari usaha orang lain, sehingga masa hanya habis dalam ceritera, tetapi tidak dapat menunjukkan bukti dan usaha sendiri. Inilah penyakit dari umat yang telah masuk ke dalam lumpur.

Kata pepatah ahli syair :

انّ الفتاي من يقول ها أنذا ،
ليس الفتاي من يقول كان أبي

Orang muda sejati ialah yang berkata : Inilah Aku.
Bukanlah orang muda sejati orang yang berkata : Bapakku dahulu begini dan begitu.



 سَيَقُوْلُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلاَهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِيْ كَانُوْا عَلَيْهَا قُلْ ِللهِ الْمَشْرِقُ وَ الْمَغْرِبُ يَهْدِيْ مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
(142)
Akan berkata yang bodoh-bodoh dari manusia itu : Apakah yang memalingkan mereka itu dari kiblat mereka yang telah ada mereka padanya ? Katakanlah :Kepunyaan Allah timur dan barat. Dia memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus.


وَ كَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَ يَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا وَ مَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَا إِلاَّ لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَ إِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً إِلاَّ عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللهُ وَ مَا كَانَ اللهُ لِيُضِيْعَ إِيْمَانَكُمْ إِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ
(143) Dan demikianlah , telah Kami jadikan kamu suatu ummat yang di tengah, supaya kamu menjadi saksi-saksi atas manusia, dan adalah Rasul menjadi saksi(pula) atas kamu. Dan tidaklah Kami jadikan kiblat yang telah ada engkau atasnya, melainkan supaya Kami ketahui siapa yang mengikut Rasul dari siapa yang berpaling atas dua tumitnya. Dan memanglah berat itu kecuali atas orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan tidaklah Allah akan menyia-nyiakan iman kamu. Sesungguhnya Allah terhadap manusia adalah Penyan­tun lagi Penyayang.


Dari Hal Kiblat I

Pada ayat 115 (juzu' 1) telah difirmankan dengan jelas, bahwasanya baik timur ataupun barat, baik jurusan yang mana saja, semuanya itu adalah kepunyaan Allah, dan ke mana sajapun menghadap, di sana akan diterima juga oleh wajah Allah. Sebab Allah tidak menempati sesuatu, bahkan Dia Maha Luas dan Maha Mengetahui. Oleh sebab itu, pada pokoknya ke mana sajapun kita menghadapkan muka di kala shalat, yang kita hadapi tetaplah wajah Allah, asal kita kerjakan dengan khusyu'.

Tetapi agama bukanlah semata-mata urusan peribadi. Agamapun adalah kesatuan seluruh insan yang sefaham dalam iman kepada Allah dan ibadat dan amal shalih. Terutama sekali dalam mengerjakan shalat. Kalau sekiranya semua orang menghadap ke mana saja tempat yang disukainya, meskipun yang disembah hanya satu, di saat itu juga mulailah ada perpecahan ummat tadi. Maka dalam Islam bukan saja cara menyembah Allah itu diajarkan dalam waktu-waktunya yang tertentu, dengan rukun dan syaratnya yang tertentu, tempat menghadapkan mukapun diatur jadi satu.

Menurut riwayat yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim daripada al-­Bara', bahwa Nabi s.a.w, mula datang ke Madinah, beliau menepat pada akhwalnya (keluarga dari pihak ibu) dari kaum Anshar. Di waktu mula datang itu beliau shalat menghadap ke Baitul Maqdis, lamanya l6 atau 17 bulan. Sedang beliau rindu sekali kiblatnya itu menghadap ke Baitullah (Ka'bah). Setelah permohonan beliau itu dikabulkan Tuhan, maka shalat yang mula dihadapkannya ke Ka'bah itu ialah shalat Ashar. Suatu kaum menjadi ma'mum di belakang beliau. Setelah selesai shalat, searang di antara ma'mum itu pergi ke luar mesjid. Maka bersumpahlah orang itu sambil berkata:
"Saya bersaksi di hadapan Allah, bahwa saya baru saja selesai shalat bersama Nabi s.a.w. menghadap ke Ka'bah."
Mendengar perkataan orang itu maka sekalian orang yang shalat itu memalingkan mukanya ke Ka`bah dengan tidak memutusi shalatnya.

Sampai sekarang mesjid tempat orarng mengalih kiblat sedang shalat itu masih tetap dijadikan mesjid peringatan sejarah bernama mesjid Zul Kiblataini. Yang empunya dua kiblat.
Inilah satu riwayat yang berkenaan dengan perputaran kiblat itu, disertai lagi oleh bebarapa Hadits yang lain.
Menurut satu riwayat dari lbnu Abi Hatim , lbnu Jarir, Ibnu Mundzir dan al-Baihaqi, mereka mengatakan bahwa lbnu Abbas pernah berkata bahwa nasikh­ mansukh yang pertama terdapat dalam al-Quran, ialah urusan perpindahan kiblat itu , tetapi setengah ahli lagi berpendapat bahwa dalam urusan ini tidak terdapat nasikh-mansukh. Sebab bila Nabi Muhammad mulanya menghadap Kiblat! Baitul Maqdis, adalah menurut ijtihad beliau sendiri , sebeium ada ketentuan dari Tuhan. Sebab selama ini kedudukan Baitul Maqdis masih istimewa dan Ka'bah sendiri masih penuh dengan berhala.

Menurut riwayat lbnu Abi Syaibah dan Abu Daud dan al-Baihaqi pula dari lbnu Abbas, katanya ketika Rasulullah masih di Makkah sebelum pindah ke Madinah, kalau shalat, beliau menghadap kiblat ke Baitul Maqdis, tetapi Ka'bah di hadapan beliau. Dan setelah pindah ke Madinah, beliau langsung berkiblat ke Baitul Maqdis 16 bulan setelah itu Allah memalingkan kiblatnya ke Ka'bah. Untuk mengetahui duduk perkara, di sini kita salin beberapa riwayat berkenaan dengan soal kiblat itu.

Tentu kita telah mengerti dasar bermula di ayat 115 tadi. Jika ummat dipimpin menyatukan haluan kiblatnya, baik di Baitul Maqdis atau ke Masjidil Haram, bukanlah karena Tuhan Allah bertempat di kedua tempat itu. Atau mulanya Tuhan bertempat di Baitui Maqdis kemudian pindah ke Ka'bah.

Bukan! Kiblat-kiblat itu adalah tempat biasa. Alam biasa dan batu biasa di Baitul Maqdis memang ada Sakhrah, yaitu batu yang menurut riwayat banyak kejadian yang berhubung dengan diri Nabi-nabi pada batu itu. Tetapi diapun batu biasa. Ada orang yang membuat dongeng bahwa batu itu tergantung tidak bertali ke langit. Teranglah bahwa itu dongeng yang tidak-tidak yang hanya dapat dipercaya oleh orang bodoh-bodoh yang belum pernah melihatrrya ke sana. Batu itu tidak tergantung, melainkan terlekat di atas bumi, berlobang sedikit ke dalam, sebagai batu-batu gua di mana-mana di dunia ini.

Dan Ka'bah pun bukan batu akik atau yaqut yang didatangkan dari syurga Maka bukanlah karena batu-batu itu istimewa sangat, sehingga telah tergantung di antara alam dengan Tuhan, maka dianya yang dijadikan tempat buat kiblat , Ka`bah sendiri berkali-kali telah rusak. Di tahun 1957 pernah ada retak di Ka'bah, lalu dicari batu yang bagus-bagus dan ditambah dengan semen; bukan semen dari syurga, tetapi semen dari pabrik.

Enambelas atau tujuhbelas bulan lamanya berkiblat ke Baitul Maqdis Maka Rasulullah s.a.w: sangatlah rindu jika Tuhan Allah menurunkan perintah wahyu kembali menyuruh berkiblat ke Masjidil Haram yang di Makkah. Kerinduan beliau itu sudah dapat dimaklurni dari wahyu-wahyu yang telah turun terlebih dahulu mengatakan bahwa rumah yang di Makkah itu diperintahkan Tuhan kepada Ibrahim buat mendirikannya.

Maka oleh sebab Nabi Muhammad s.a.w. berkewajiban melanjutkan ajaran Ibrahim itu, yaitu menyerah diri kepada Allah, yang menjadi pokok asal dari sekalian agama, niscaya akan datanglah masanya, datang perintah menghidupkan kiblat yang asli itu kembali. Sebab dialah rumah tempat beribadat kepada Allah Yang Esa yang pertama sekali dibangunkan untuk manusia (lihat Surat ali lmran, Surat 3 ayat 96).
Apatah lagi di dalam Strategi perjuangan, kepindahan Rasulullah s.a.w. ke Madinah ialah dengan tujuan memperkuat kaum Muslimin, untuk merebut Ka`bah itu kelak dari kaum musyrikin dan membersihkannya daripada berhala. Dengan segeranya kiblat dikembalikan ke sana, maka semangat buat merebut­nya itu bertambah berkobar dalam dada seluruh ummat Tauhid yang telah mulai disusun di Madinah.

Tuhan Allah Yang Maha Mengetahui akan segala rahasia hati hambaNya dan telah mengetahui keinginan RasulNya itu memberi ingatlah kepada Nabi s.a.w. bahwa peralihan kiblat itu kelak akan membawa suatu keributan lagi di kalangan orang-orang yang bodoh-bodoh. Inilah ayatNya:

سَيَقُوْلُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلاَهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِيْ كَانُوْا عَلَيْهَا
"Akan berkata yang bodoh-bodoh dari manusia itu; Apakah yang memalingkan mereka itu dari kiblat mereka yang telah ada mereka padanya?" (pangkal ayat 142).

Tadi di atas telah kita salinkan beberapa Hadits yang menyatakan bahwa setelah Rasulullah s.a.w. berhijrah ke Madinah, kiblat yang beliau hadapi ialah Baitul Maqdis. Setelah 16 atau 17 bulan, lalu dipalingkan kiblat itu ke Ka'bah. Di dalam ayat ini telah diperingatkan kepada Rasulullah s.a.w. bahwa sebelum kiblat itu beralih , maka orang-orang yang bodoh di kalangan manusia itu akan menjadikannya percakapan yang ribut, mengapa dialihkan kiblatnya, padahal selama ini dia berkiblat ke Baitul Maqdis. Di dalam ayat ini disebut Sufahaau' , sebagai kata jama` dari safih, yaitu orang-orang bodoh yang berfikiran dangkal , yang bercakap asal bercakap saja, tetapi tidak sanggup mempertanggung­jawabkan apa yang diucapkannya.

Mereka bercakap hanya asal keluar saja. Ada yang berkata bahwa peralihan kiblat ini ialah karena Muhammad itu berfikir kurang matang , sebentar menghadap ke sana sebentar menghadap ke mari. Dan ada pula yang berkata bahwa Muhammad hendak mengajak manusia kembali kepada agama nenek-moyangnya. Sebab di waktu itu di Ka'bah masih didapati berhala-berhala. Semuanya ini adalah lidah yang tidak bertulang. Maka di dalam ayat ini Nabi diberi peringatan, bahwa sebagaimana sudah terbiasa, apabila seorang Rasul atau pemimpin membuat suatu perobahan baru, sudah pasti akan ada ribut-ribut.

Tetapi ribut-ribut hanya akan datang dari orang-­orang bodoh , orang yang tidak bertanggung jawab. Baik penduduk Madinah yang memang munafik ataupun orang Yahudi yang berkeliaran di Madinah yang tidak marasa senang hati, karena dengan peralihan kiblat dari Baitul Maqdis itu , kemegahan mereka akan runtuh. Sebab menurut rnereka, sumber agama Yahudi itu adalah Baitul Maqdis dan di Baitul Maqdis pula timbul Nabi-nabi dan Rasul-rasul dari Bani Israil. Dengan demikian orang dapat mengambii kesan bahwa ajaran Nabi Muhammad itu hanyalah tiruan atau jiplakan dari agama mereka saja.

Kepada Nabi Muhammad diperingatkan bahwa kata-kata dari orang-orang yang bodoh itu tidak perlu diacuhkan. Yang akan diberi penerangan bukanlah si bodoh dan dungu atau bebal, melainkan orang yang berfikir waras. sebab itu bersabdaAllah dalam lanjutan ayat itu:

قُلْ ِللهِ الْمَشْرِقُ وَ الْمَغْرِبُ
"Katakanlah : Kepunyaan Allah timur dan barat. "

Artinya bahwasanya di sisi Tuhan, baik barat ataupun timur, baik utara ataupun selatan, adalah sama saja. Segala penjuru dunia ini Tuhan yang empunya. Jika di waktu yang sudah-sudah orang berkiblat ke Baitul Maqdis bukanlah berarti bahwasanya Allah Ta'ala bertempat di Baitui Maqdis dan jika kemudian dialihkan ke Ka`bah, bukan pula berarti bahwa Allah bertempat di Ka'bah atau telah berpindah ke sana. Soal peralihan tempat bukanlah soal penempatan Tuhan di salah satu tempat:

يَهْدِيْ مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
"Dia memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki, kepada jalan yang lurus." (ujung ayat 142).

Ayat ini memberi kejelasan bahwa soal beralih atau tetapnya kiblat, bukanlah berarti karena tempat itu yang kita sembah. Timur dan barat, utara dan selatan dan penjuru yang manapun adalah kepunyaan Allah.
Di antara Baitul Maqdis dengan Baitullah al-Haram di Makkah tidak ada perbedaan pada sisi Allah. Keduanya sama-sama terdiri dari batu dan kapur yang diambil dari bumi Allah. Tujuan yang terutama adalah tujuan hati, yaitu memohonkan petunjuk jalan yang lurus kepada Tuhan, yang Tuhan bersedia memberikannya kepada barangsiapa yang Dia kehendaki. Dengan keterangan ini dijelaskan duduk soal yang bisa mengacaukan fikiran, karena kacau-balau dari cara berfikir orang-orang yang bodoh.

Tegasnya, meskipun tetap meng­hadap ke Baitul Maqdis, ataupun telah beralih kepada Ka'bah, namun kalau hati tidak jujur, kalau langkah yang ditempuh di dalam hidup adalah langkah curang, beralih atau tidak beralih kiblat, tidaklah akan membawa perobahan bagi jiwa.

Qleh sebab itu percakapan dari orang-orang yang bodoh janganlah sampai membawa orang-orang yang berakal cerdas terpesona daripada maksud agarna yang bermula.

Jangan sarnpai orang yang berakal fikiran cerdas meninggalkan pokok (prinsip) karena terbawa oleh aliran yang kacau dari orang bodoh, lalu bertengkar pada soal ranting (detail).
Untuk itu dijelaskan lagi bagaimana kedudukan ummat Muhammad di dalam menegakkan jalan lurus yang dikehendaki itu. Berkatalah ayat selanjut­nya.

وَ كَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
"Dan demikianlah telah Kami jadikan kamu suatu ummat yang di tengah." (pangkal ayat 143).

Dan ada dua ummat yang datang sebelum ummat Muhammad, yaitu ummat Yahudi dan ummat Nasrani. Terkenallah di dalam riwayat perjalanan ummat ummat itu bahwasanya ummat Yahudi terlalu condong kepada dunia, kepada benda dan harta. Sehingga di dalam catatan kitab Suci mereka sendiri, kurang sekali diceritakan dari hal soal akhirat. Lantaran itulah maka sampai ada di antara mereka yang berkata bahwa kalau mereka masuk neraka kelak , hanyalah beberapa hari saja, tidak akan lama.

Sebaliknya dari itu adalah ajaran Nasrani yang lebih mementingkan akhirat saja, meninggalkan segala macam kemegahan dunia, sampai mendirikan biara-­biara tempat bertapa, dan menganjurkan pendeta-pendeta supaya tidak kawin. Tetapi kehidupan rohani yang sangat mendalam ini akhirnya hanya dapat dituruti oleh golongan yang terbatas, ataupun dilanggar oleh yang telah me­nempuhnya, sebab berlawanan dengan tabiat kejadian manusia. Terutama setelah agama ini dipeluk oleh bangsa Romawi dan diakui menjadi agama kerajaan.

Sampai kepada zaman kita inipun dapatlah kita rasakan betapa sikap hidup orang Yahudi. Apabila disebut Yahudi, teringatlah kita kepada kekayaan benda yang berlimpah-limpah, menternakkan uang dan memakan riba. Dan bila kita baca pelajaran asli Kristen, sebelum dia berkecimpung ke dalam politik kekua­saan, akan kita dapatilah ajaran Almasih yang mengatakan bahwasanya orang kaya tidak bisa masuk ke dalam syurga, sebagaimana tidak bisa masuk seekor unta ke dalam liang jarum.

Maka sekarang datanglah ayat ini memperingatkan kembali ,ummat Muhammad bahwa mereka adalah suatu ummat yang di tengah, menempuh jalan lurus; bukan terpaku kepada dunia sehingga diper­hamba oleh benda dan materi, walaupun dengan demikian akan menghisap darah sesama manusia. Dan bukan pula hanya semata-mata mementingkan rohani, sehingga tidak bisa dijalankan, sebab tubuh kita masih hidup. Islam datang mempertemukan kembali di antara kedua jalan hidup itu. Di dalam ibadat shalat mulai jelas pertemuan di antara keduanya itu; shalat dikerjakan dengan badan, melakukan berdiri ruku` dan sujud, tetapi semuanya itu hendak­lah dengan hati yang khusyu.

Nampak pula dalam peraturan zakat harta benda. Orang baru dapai berzakat apabila dia kaya raya, cukup harta menurut bilangan nisab. Dan bila datang waktunya hendaklah dibayarkan kepada fakir-miskin. Artinya, carilah harta benda dunia ini sebanyak-banyaknya , dan kemudian berikanlah sebaha­gian daripadanya untuk menegakkan amal dan ibadat kepada Allah dan untuk ­membantu orang yang patut dibantu.

Nampak pula pada peraturan di hari Jum'at. Di hari itu dari pagi bolehlah bekerja keras mencari rezeki, berniaga dan bertani dan lain-lain, tetapi setelah datang seruan Jum'at hendaklah segera berangkat menuju tempat shalat, untuk menyebut dan mengingat Allah. Dan setelah selesai shalat, segeralah keluar dari mesjid untuk bekerja dan bergiat lagi.

Ini menunjukkan jalan tengah di antara tiga agama yang serumpun. Dalam pada itu secara luas dapat pula kita tilik pandangan hidup barat yang - dipelopori oleh alam fikiran Yunani yang lebih mementingkan fikiran (filsafat), dan alam fikiran yang dipelopori oleh India purba yang memandang bahwa dunia ini adalah maya semata-mata , atau khayal. Sejak dari ajaran Upanisab sampai kepada ajaran Veda, dari Persia dan India, disambung lagi dengan ajaran Budha Gautama, semua lebih mementingkan kebersihan jiwa, sehingga jasmani dipandang sebagai jasmani yang menyusahkan.

Bangkitnya Nabi Muhammad s.a.w. di padang pasir Arabia itu, adalah membawa ajaran bagi membangunkan ummatan wasathan, suatu ummat yang menempuh jalan tengah, menerima hidup di dalam kenyataannya. Percaya kepada akhirat, lalu beramal di dalam dunia ini. Mencari kekayaan untuk membela keadilan, mementingkan kesihatan rohani dan jasmani, karena kesi­hatan yang satu bertalian dengan yang lain. Mementingkan kecerdasan fikiran, tetapi dengan menguatkan ibadat untuk menghaluskan perasaan. Mencari kekayaan sebanyak-banyaknya, karena kekayaan adalah alat untuk berbuat baik. Menjadi Khalifah Allah di atas bumi, untuk bekal menuju akhirat. Karena kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Selama ummat ini masih menempuh Shiratal-Mustaqim, jalan yang lurus itu, selama itu pula mereka akan tetap menjadi ummat jalan tengah.

Maka berkata ayat selanjutnya:

لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ
"Supaya kamu menjadi saksi-saksi atas manusia. "

Menurut Imam az-Zamakhsyari di dalam tafsirnya al-Kasysyaf, ummat Muhammad sebagai ummat yang jalan tengah, akan menjadi saksi atas ummat Nabi-nabi yang lain tentang kebenaran risalah Rasul-rasul yang telah disampaikan kepada ummat mereka masing-masing.

Dan berkata lanjutan ayat:

وَ يَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا
"Dan adalah Rasul menjadi saksi (pula) atas kamu."

Yaitu Rasul itu Nabi Muhammad s.a.w. menjadi saksi pula di hadapan Tuhan kelak, sudahkah mereka menjalankan tugas mereka sebagai ummat yang menempuh jalan tengah, adakah kamu jalankan tugas kamu itu dengan baik , ataukah kamu campur-adukkan sajakah di antara yang hak dengan yang batil, sebab sifat tengahmu itu telah hilang.

Ummat Muhammad menjadi ummat tengah dan menjadi saksi untuk ummat yang lain, dan Nabi Muhammad s.a.w. menjadi saksi,pula atas ummat­nya itu adakah mereka jalankan pula tugas yang berat tetapi suci ini dengan baik ?

Maka setelah diketahui latar-belakang ini, mudahlah bagi orang yang berfikir mendalam apa sebab kiblat dialih. Peralihan kiblat bukanlah sebab, dia hanya akibat saja dalam hal membangunkan ummat yang baru, ummatan wasathan. Setelah itu, sebagai lanjutan dari ayat, Tuhan terangkanlah tentang maksud peralihan kiblat di dalam membangun ummatan wasathan;

وَ مَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَا
"Dan tidaklah kami jadikan kiblat yang telah ada enqkau atasnya."

Yaitu kiblat ke Baitul Maqdis yang satu tahun setengah lamanya Rasul berkiblat ke sana, ialu dialihkan kepada Ka'bah yang ada di Makkah:

إِلاَّ لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ
"Melainkan supaya Kami ketahui siapa yang mengikut Rasul dan siapa yang berpaling atas dua tumit­nya."

Kiblat yang asal adalah Ka`bah juga. Ayat-ayat yang terdahulu dari ini telah menerangkan panjang-lebar bahwa Ka'bah itu didirikan oleh Nabi Ibrahim. Dan jauh lebih tua dari Baitul Maqdis. Karena kiblat dikembalikan kepada asalnya, maka orang Yahudi selama satu setengah tahun bermegah dan merasa bangga, sebab hal itu mereka pandang adalah kemenangarr mereka. Dengan peralihan kiblat terbuktilah mana arang yang bertahan pada ujung, yang selama ini menunjukkan suka kepada Rasul lantaran kiblat menuju tempat yang disukai nya, yaitu orang Yahudi.

Setelah kiblat beralih, dia menunjukkan tantangan. Demikian pula kaum munafik, yang selalu mencari-cari saja soal-soaf yang akan mereka timpakan kesalahannya Kepada Rasul

وَ إِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً إِلاَّ عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللهُ
"Dan memanglah berat itu , kecuali atas orang yang diberi petunjuk oleh Allah."

Orang yang imannya ragu-ragu dan imannya tidak mendalam merasa berat atas terjadinya peralihan kiblat itu. Dirawikan oleh ibnu Jarir dan Ibnu Juraij, bahwa beliau ini berkata; Bahwasanya orang-orang yang baru masuk Islam, setelah kiblat dialihkan, ada yang kembali jadi kafir.

Mereka berkata: "Apa ini, sebentar ke sana, sebentar ke situ." Dan menurut suatu riwayat dari Imam Ahmad dan Abd bin humaid dan Termidzi dan lbnu Hibban dan at-Thabrani dan al-Nakim dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
"Tatkala Rasulullah s.a.w. mengalihkan kiblat itu ada beberapa orang yang bertanya kepada beliau:' Ya Rasulullah , sekarang kiblat telah beralih. Bagaimana jadinya dengan orang-­orang yang telah mati, sedang di kala hidupnya mereka shalat berkiblat ke Baitul Maqdis ? Untuk menjawab pertanyaan itu datanglah lanjutan ayat:

وَ مَا كَانَ اللهُ لِيُضِيْعَ إِيْمَانَكُمْ
"Dan tidaklah Allah akan menyia nyiakan iman kamu. "

Artinya, bahwasanya orang­-orang yang mati sebelum kiblat beralih, adalah mereka itu beramal karena imannya juga. Amal mereka itu timbul daripada iman itu tidaklah akan disia-­siakan oleh Tuhan. Ketaatan mereka dan ibadat mereka yang khusyu' diterima juga oleh Allah dengan sebaik-baik penerimaan .

إِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ
"Sesungguhnya Allah terhadap manusia adalah penyantun dan penyayang. " (ujung ayat 143).

Di ujung ayat ini teranglah dua sifat Allah yang penting untuk pedoman beramal. Pertama Tuhan Penyantun, tidak menyia-nyiakan amal hambaNya. Kedua Dia Penyayang, yaitu memberi ganjaran yang sepadan atas tiap-tiap amalan. Dan lagi berkiblat ke Baitul Maqdis sebelum perintah peralihan ke Makkah, tidaklah suatu kesalahan , melainkan ketaatan juga. Sedang orang musyrik jahiliyah yang hidup lampaunya penuh dosa, bila dia telah memeluk Islam, habislah diampuni dosanya yang telah lalu itu, apatah lagi bila amalan yang lama itu dilakukan dengan ketaatan juga.

Ayat 142 dan 143 ini belumlah perintah mengalihkan kiblat, melainkan baru sebagai peringatan kepada Rasul bahwa akan terjadi reaksi dan sanggahan kelak dari orang orang bodoh dangkal fikiran, yang bercakap asal bercakap padahal tidak bertanggung-jawab. Agar supaya Rasul bersiap-siap menghadapi­nya.



 قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ وَ إِنَّ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
(144) Sesungguhnya Kami lihat muka engkau menengadah-nengadah ke langit, maka Kami palingkan­ lah engkau kepada kiblat yang engkau ingini. Sebab itu palingkanlah muka engkau ke pihak Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu semua berada palingkanlah mukamu ke pihaknya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab mengetahui bahwa­sanya itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan tidaklah Allah lengah dari apapun yang kamu amalkan.


وَ لَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَّا تَبِعُوْا قِبْلَتَكَ وَ مَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَ مَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَ لَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِّنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذَاً لَّمِنَ الظَّالِمِيْنَ
(145) Dan meskipun engkau beri orang-orang yang diberi kitab itu dengan tiap-tiap keterangan, tidaklah mereka akan mengikut kiblat engkau itu. Dan engkau pun tidaklah akan mengikut kiblat mereka. Dan tidaklah yang sebahagian mereka akan mengikut kiblat yang sebahagian. Dan jikalau engkau perturutkan kemauan-kemauan mereka sesudah datang kepada engkau sebahagian dari pengetahuan, sesungguhnya ada­ lah engkau di masa itu dari orang-­orang yang aniaya.


اَلَّذِيْنَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُوْنَهُ كَمَا يَعْرِفُوْنَ أَبْنَاءَهُمْ وَ إِنَّ فَرِيْقاً مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَ هُمْ يَعْلَمُوْنَ
(146) Orang-orang yang diberikan kepada mereka kitab, mengenallah mereka akan dia sebagaimana
mereka mengenal anak-anak mereka (sendiri). Dan sesungguhnya sebahagian dari mereka, mereka sembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui


اَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْن
(147) Kebenaran adalah dari Tuhan engkau. Maka sekali-kali jangan lah engkau termasuk dari orang­ orang yang ragu.


Dari Hal Kiblat II

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء
"Sesungguhnya telah Kami lihat muka engkau menengadah-nengadah ke langit." (pangkal ayat 144).

Artinya, bahwasanya Kami (Allah) telah mem­perhatikan bahwa engkau selalu menengadah ke langit mengharap-harap, moga-moga Tuhan mengizinkan engkau mengalihkan kiblat ke Ka'bah. Me­nurut riwayat Ibnu Majah dari al-Bara', setiap akan shalat beliau menghadap­kan wajah ke langit, yang diketahui oleh Tuhan bahwa hati beliau amat rindu jika kiblat itu dialihkan ke Ka'bah. Tiap tiap Malaikat Jibril turun dari iangit atau naik kembali ke langit selalu Rasulullah mengikutnya dengan pandangannya, me­nunggu-nunggu bilakah agaknya akan datang perintah Tuhan tentang peralihan kiblat itu, sampai turun ayat ini:

"Sesungguhnya telah Kami lihat muka engkau menengadah-nengadah ke langit , sampai kepada akhir ayat:

فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا
"maka Karni palingkanlah engkau kepada kiblat yang engkau ingini."

Suatu keinginan yang timbul sebagai suatu risalat yang beliau bawa ke dunia ini, yaitu menyempurna­kan ajaran agama yang dibawa Nabi Ibrahim. Sebab "Wadin ghairi dzi-zar'in" atau lembah yang tidak ditumbuhi tumbuhan di dekat rumah Allah yang suci itu adalah pokok tempat bertolak pertama dari Nabi Ibrahim seketika beliau memulai risalatnya. Rumah itulah yang beliau jadikan pusat pertama dari seluruh mesjid tempat menyembah Allah Yang Tunggal.

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
"Sebab itu palingkan­lah muka engkau ke pihak Masjidil Haram."

Dengan perintah pada ayat ini maka mulai saat itu beralihlah kiblat dari Baitil Maqdis (rumah suci) yang di Palestina (Qudus ), yang didirikan oleh Nabi Sulaiman, kepada Masjidil Haram yang didirikan oleh Nabi Ibrahim, nenek moyang Sulaiman dan nenek-moyang Muhammad s.a.w. yang berdiri di Makkah:

وَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ
"Dan di mana saja kamu semuanya berada palingkanlah muka kamu ke pihaknya."

Dalam suku kata perintah pertama disebutlah engkau yaitu perintah pertama kepada Nabi Muhammad s-a.w. dan dalam lanjutan perintah tersebutlah kamu, yaitu perintah kepada seluruh ummat Nabi Muhammad yang tadi telah disebut keistimewaannya, yaitu ummaton wasathan, ummat jalan tengah.

Dan di kedua perintah itu disebut syathr yang kita artikan pihak, atau dapat juga disebut jurusan. Artinya mulai sekarang alihkan kiblat kamu ke jurusan Masjidil Haram.

وَ إِنَّ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ
"Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab mengetahui bahwasanya itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka."

Artinya orang-orang Ahlul-Kitab Yahudi dan Nasrani, terutama orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah seketika ayat ini turun sesudah mengetahui, bahwa memang dari Ka`bah itu Nabi lbrahim sebagai nenek-moyang bangsa Syam (Semiet) yang menurunkan Bani Israil dan Bani Ismail memulai perjuangannya mendirikan Tauhid, kepercayaan tentang keesaan Allah. Kalau mereka kembali kepada pokok asal yaitu sejarah perkahwinan Ibrahim dengan Hajar, dan beliau membawa Hajar ke tempat suci itu, yang dengan beberapa kerat roti dan satu qirbat air sampai Hajar tersesat di Bersyeba, sampai Malaikat. Jibril datang membujuk Hajar dan mencegahnya dari rasa takut, sebab budak yang dalam kandungannya itu akan dijadikan Allah suatu bangsa yang besar; kalau semua­nya itu mereka ingat kembali, dan itu tertulis di dalam Kitab mereka sendiri (Kitab Kejadian, Pasal 21 dari ayat 13 sampai ayat 21), niscaya mereka tidaklah akan heran jika Nabi Muhammad s.a.w. diperintahkan mengembalikan kiblat kepada asalnya , karena mereka memang sudah mengetahui bahwa di sanalah tempatnya. Di ayat 21 Kejadian, Pasal 21 disebutkan nama tempat itu, yaitu Paran. Dan pembaca kitab Taurat tahu bahwa Paran itu adalah Makkah al­Mukarramah.

Lalu Tuhan bersabda pada ujung ayat:

وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
"Dan tidaklah Allah melengahkan dari apapun yang kamu amalkan." (ujung ayat 144).

Artinya kesediaan dan kesetiaan kamu segera mengalihkan kiblat karena perintah Tuhan telah datang, tidaklah dilengah atau diabaikan oleh Tuhan. Bahkan sangat dihargai. Karena pelaksanaan perintah Allah dengan segera, adalah alamat dari iman yang teguh. Lalu datang lanjutan ayat seterusnya:

وَ لَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَّا تَبِعُوْا قِبْلَتَكَ
"Dan meskipun engkau berikan kepada orang-orang yang diberi Kitab itu dengan tiap-tiap keterangan, tidak­lah mereka akan mengikuti kiblat engkau itu." (pangkal ayat 145).

Di ayat sebelumnya (144) dikatakan mereka telah mengetahui bahwa kiblat yang di Makkah memang lebih asal dan lebih patut, tetapi dalam lanjutan ini diperingatkan pula oleh Tuhan, meskipun mereka telah mengetahui sebab sebab peralihan kiblat itu, namun mereka tidaklah mau mengikut kamu, sebab mereka telah mempertahankan golongan, bukan mempertahankan kebenaran:

وَ مَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ
"Dan engkaupun tidaklah akan mengikuti kiblat mereka,"

sebab perintah Tuhan sudah datang menyuruh alihkan kiblat.
Niscaya Nabi Muhammad s.a.w. dan ummatnya tidaklah akan mengikut kiblat pemeluk agama yang lain, sebab Tuhan telah menentukan kepadanya kiblat Masjidil Haram dengan wahyu:

وَ مَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ
"Dan tidaklah yang sebahagian mereka .akan mengikut kiblat yang sebahagian."

Orang Yahudi tidaklah hendak mengikut kiblat orang Nasrani dan orang Nasranipun tidaklah akan mengikut kiblat orang Yahudi.

وَ لَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِّنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذَاً لَّمِنَ الظَّالِمِيْنَ
"Dan jikalau engkau perturutkan kemauan-kemauan mereka sesudah datang kepada engkau sebahagian dari pengetahuan, se­sungguhnya adalah engkau di masa itu dari orang-orang yang aniaya."(ujung ayai 145)

Artinya, garis yang akan beliau lalui sebagai seorang Rasul, terutama berkenaan dengan kiblat telah terang, yaitu kernbali menghadap kepada rumah suci yang telah didirikan oleh Nabi Ibrahim. Kalau menurut kemauan Yahudi hendaklah kembalikan ke Baitul Maqdis; niscaya ini tidak akan diperhatikan, meskipun telah banyak sanggahan atau gerutu yang mereka sampaikan. Se­orang Rasul sebagai pemimpin ummatnya tidak rnernpunyai pendirian yang ragu. Bagaimana Nabi Muhammad s.a.w. akan ragu, padahal peralihan kiblat itu adalah pengharapan dari beliau sendiri. Yang dituju dengan ujung ayat ini adalah sekedar penguatkan hati beliau dalam perjuangan yang maha hebat ltu, untuk diberikan teladan kepada ummat beliau buat sepanjang masa­

Bagaimana kemauan dari hawanafsu mereka akan diperturutkan? Padahal mereka sendiripun telah tahu bahwa dia inilah, Nabi Muhammad s.a.w., Nabi yang ditunggu-tunggu itu. Dijelaskan pada ayat yang selanjutnya:

اَلَّذِيْنَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُوْنَهُ كَمَا يَعْرِفُوْنَ أَبْنَاءَهُمْ
"Orang-orang yang diberi kepada mereka Kitab, mengenallah mereka akan dia sebagaimana rnereka mengenal anak-anak mereka (sendiri)." (pangkal ayat 146).

Artinya; baik dalam wahyu yang disampaikan oleh Nabi Musa, atau wahyu yang disampaikan oleh Nabi Isa Almasih, demikian juga wahyu yang disampaikan kepada Nabi yang lain, seumpama Yasy'iya, disebutkan bahwa akan datang Nabi itu. Tanda-tandanyapun akan disebutkan, dan dari kaum mana dia akan timbulpun akan disebutkan, sehingga mereka mengenalnya sebagaimana me­ngenal anak mereka sendiri. Tetapi mereka memungkiri itu, artinya mereka tafsirkan isi ayat kitab suci mereka kepada maksud yang lain: Memang seorang Nabi akan datang, tetapi bukan Muhammad ini!

وَ إِنَّ فَرِيْقاً مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَ هُمْ يَعْلَمُوْنَ
"Dan sesungguhnya se­bahagian dari mereka, mereka sembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui." (ujung ayat 146).

Inilah sebab terutama mengapa tidak akan dapat kecocokan. Inilah soal yang terutama mengapa soal kiblat menjadikan heboh mereka. Sebagian dari mereka telah sengaja menyembunyikan kebenaran. Ayat-ayat yang menyebut kan tentang kedatangan Rasul penutup itu, sampai sekarang ada dalam kitab-­kitab mereka itu. Tetapi kalau ditanyakan kepada mereka, tidak mau mereka berterus-terang mengakui kebenaran, jika yang ditanya orang Yahudi, mereka menjawab bahwa memang Nabi itu tersebut dalam Kitab, tetapi bukan ini. Kalau Yang ditanya orang Nasrani, kebanyakan mereka memberi arti bahwa bukan Muhammad s.a.w. Yang dijanjikan Isa Almasih akan datang. Kalau masih ada bertemu ayat-ayat itu dalam Injil-injil yang mereka akui sekarang ini, akan rnereka jawab bahwa yang dimaksud Nabi Isa bukanlah Muhammad, tetapi Rasul Paulus!
Tetapi Tuhan bersabda dengan tegas:

اَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْن
"Kebenaran adalah dari Tuhan engkau, maka sekali-kali janganlah eng­kau termasuk dari orang-orang yang ragu." (ayat 147).

Tegasnya, memang engkaulah Rasul itu. betapapun mereka menyem­bunyikan kebenaran namun kebenaran datang dari Tuhan. Tidak ada satu kekuatan dalam dunia ini yang dapat menghalangi atau menyernbunyikan kebenaran itu.

Di dalam satu dari empat Injil yang mereka pegang hari ini, tersebut bahwa Nabi Palsu itu ada tandanya, yaitu seumpama kayu atau pohon yang buruk juga. Pohon yang buruk tidaklah akan menghasilkan buah yang baik. Pohon yang buruk akan habis ditumbangkan angin. Seratus kali mereka dengan kekuatan manusia, selama sejarah berabad-abad telah mereka coba menum­bangkan pohon yang mereka katakan buruk itu, tetapi dia tambah subur.

Sebagaimana pernah dikatakan oleh sarjana mereka sendiri, Sir Thomas Arnold, bahwa seteiah bangsa Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad dan membunuh Khalifah (1286), pada masa itu pula Islam masuk dan tersebar di pulau Sumatera dengan rnegah dan jayanya. Ditebas di sini, dia tumbuh di sana lebih subur dan lebih berkembang. Berkali-kali dia telah dipukul kalau se­kiranya bukan agama yang benar, dan kaiau Nabinya Nabi Palsu, demi pukulan dan penghancuran itu sudah lama dia hilang dari muka bumi. Tetapi tidak! Dia berkembang terus rnengambil tempatnya yang layak di dunia. Sebab dia memang kebenaran Tuhan.