Tafsir Al Azhar - Surah Baqarah Aya 148-164




 وَ لِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيْعًا إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
(148) Dan bagi tiap-tiapnya itu satu tujuan yang dia hadapi. Sebab itu berlomba-lombalah kamu pada serba kebaikan. Di mana saja kamu berada niscaya akan di­kumpulkan Allah kamu sekalian.Sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu Maha Kuasa.


وَ مِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ إِنَّهُ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
(149) Dan dari mana saja engkau keluar, hadapkanlah muka engkau ke pihak Masjidil Haram.Dan sesungguhnya (perintah) itu adalah kebenaran dari Tuhan engkau.Dan tidaklah Allah lengah dari apapun yang kamu amalkan.


وَ مِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلاَّ يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلاَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَ اخْشَوْنِيْ وَ لِأُتِمَّ نِعْمَتِيْ عَلَيْكُمْ وَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْ
(150) Dan dari mana sajapun kamu keluar, maka hadapkanlah muka engkau ke pihak Masjidil Haram, dan di mana sajapun kamu ber­ada, hendaklah kamu hadapkan muka kamu ke pihaknya. Supaya jangan ada alasan bagi manusia hendak mencela kamu. Kecuali orang-orang yang aniaya di antara mereka, maka janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada Aku. Dan Aku sempurnakan nikmatKu kepada kamu, dan supaya kamu men­dapat petunjuk.


كَمَا أَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلاً مِّنْكُمْ يَتْلُوْ عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَ يُزَكِّيْكُمْ وَ يُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَ الْحِكْمَةَ وَ يُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ
(151) Sebagaimana telah Kami utus kepada kamu seorang Rasul , dari kalangan kamu sendiri, yang mengajarkan kepada kamu ayat-­ayat Kami dan membersihkan kamu dan akan mengajarkan ke­pada kamu Kitab dan Hikmat, dan akan mengajarkan kepada kamu perkara-perkara yang tidak kamu ketahui.


فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْا لِيْ وَلاَ تَكْفُرُوْن
(152) Maka ingatlah kepadaKu , niscaya Aku akan ingat pula kepadamu ; dan bersyukurlah!! kepadaKu dan janganlah Kamu menjadi kufur."


Dari Hal Kiblat III

وَ لِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا
"Dan bagi tiap-tiapnya itu ada satu tujuan yang dia hadapi. " (pangkal ayat 148).

Ayat ini adalah lanjutan dari keterangan tentang masing-masing golongan yang mempertahankan kiblatny: tadi.
Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai tafsir ayat ini, ialah bahwa bagi tiap-tiap pemeluk suatu agama ada kiblatnya sendiri. Bahkan tiap-tiap kabilahpun mempunyai tujuan dan arah.sendiri, mana yang dia sukai. Namun orang yang beriman tujuan atau kiblatnya hanya satu, yaitu mendapat ridha Allah.
Abul `Aliyah menjelaskan pula tafsir ayat ini demikian: "Orang Yahudi mempunyai arah yang ditujuinya, orang Nasranipun mempunyai arah yang ditujuinya. Tetapi kamu, wahai ummat Muslimin, telah ditunjukkan Allah kepadamu kiblatmu yang sebenarnya."

Nabi lbrahim di zaman dahulu berkiblat ke Masjidil Haram, ummat Yahudi berkiblat ke Baitul Maqdis, ummat Nasrani berkiblat ke sebelah timur, dan Nabi-nabi yang lainpun tentu ada pula kiblat mereka menurut zamannya masing-masing, dan engkau wahai utusanKu dan kamu wahai pengikut utusan­Ku; kamu mempunyai kiblat. Tetapi kiblat bukanlah pokok, sebagai di ayat-ayat di atas telah diterangkan, bagi Allah timur dan barat adalah sama, sebab itu kiblat berobah karena perobahan Nabi. Yang pokok ialah menghadapkan hati langsung kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. itulah dia wijhah atau tujuan yang sebenarnya.

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
"Sebab itu berlomba-lombalah kamu pada serba kebaikan."

Jangan kamu berlarut-larut berpanjang-panjang bertengkar per­kara peralihan kiblat. Kalau orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak mau me­ngikuti kiblat kamu; biarkanlah. Sama-sama setialah pada kiblat masing­-masing. Dalam agama tidak ada paksaan. Cuma berlombalah berbuat serba kebajikan, sama-sama beramal dan membuat jasa di dalam peri-kehidupan ini.

أَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيْعًا
"Di mana saja kamu berada, niscaya akan dikumpulkan Allah kamu se­kalian."

Baikpun kamu dalam Yahudi, dalam Nasrani, dalam Shabi'in dan dalam iman kepada Muhammad s.a.w., berlombalah kamu berbuat berbagai kebajikan dalam dunia ini, meskipun kiblat tempat kamu menghadap shalat berlain-lain. Kalau kamu akan dipanggil menghadap kepada Aliah; tidak perduli apakah dia dalam kalangan Yahudi Nasrani, Islam dan lain-lain; berkiblat ke Ka bah atau ke Baitul Maqdis. Di sana pertanggung jawabkanlah amalan yang telah dikerjakan dalam dunia ini. Moga-moga dalam perlombaan berbuat kebajikan itu, terbukalah hidayat Tuhan kepada kamu, dan terhenti sedikit demi sedikit pengaruh hawanafsu dan kepentingan golongan; mana tahu, akhirnya kamu kembali juga kepada kebenaran;

إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Kuasa."(ujung ayat 148).

Perlombaan manusia berbuat baik di dunia ini beiumlah berhcnti. Segala sesuatu bisa kejadian. Kebenaran Tuhan makin lama makin nampak. Allah Maha Kuasa berbuat sekehendakNya:
Ayat ini adalah seruan merata; seruan damai dari lembah wahyu ke dalam masyarakat manusia berbagai agama. Bukan khusus kepada ummat Mu­hammad saja. Kemudian kembali lagi kepada pemantapan soal kiblat itu:

وَ مِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
"Dan dari mana saja engkau keluar, hadapkanlah muka engkau kepihak Masjidil Haram."(pangkal ayat 149).

Artinya, meskipun ke penjuru yang mana engkau menujukan perjalananmu, bila datang waktu shalat, teruslah hadapkan mukamu ke pihak Masjidil Haram itu Ayat ini sudahlah menjadi perintah yang tetap kepada Rasulullah dan ummatnya terus-menerus di belakang beliau. Sebab itu ditegaskan pada lanjutnya-

وَ إِنَّهُ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ
"Dan sesungguhnya (perintah) itu adalah kebenaran dari Tuhan engkau. "

Tidak akan berobah lagi selama-lamanya:

وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
"Dan tidaklah Allah lengah dari apapun yang kamu amalkan." (ujung ayat 149).

Artinya, kesungguhan kamu melaksanakan perintah ini, tidaklah Allah akan melengahkannya. Gelap malam tak tentu arah; lalu kamu lihat pedoman pada bintang-bintang, kamu kira-kira di sanalah arah kiblat lalu kamu shalat. Allah tidaklah melengahkan kesungguhan kamu itu.
Kamu datang ke negeri orang lain, kamu tanyakan kepada penduduk Muslim di situ; ke mana kiblat? Lalu mereka tunjukkan. Kamupun shalat. Allah tidak lengah dengan kepatuhan kamu itu.
Sengaja engkau beli sebuah kompas (pedoman), engkau kundang dalam sakumu ke mana saja engkau pergi. Lalu orang bertanya; buat apa kompas itu, padahal tuan bukan nakhoda kapal? Engkau jawab: penentuan kiblat jika aku shalat! Tuhan tidak melengahkan perhatianmu itu.

Kamu mendirikan mesjid yang baru. Yang lebih dahulu kamu ukur dan jangkakan ialah mihrab untuk menentukan jurusan kiblat. Allah tidak lengah dari kesungguhanmu itu.
Sampai ada di antara kamu yang khas belajar ilmu falak, yang pada asalnya sengaja buat mengetahui hal kiblat saja, sampai berkembang jadi ilmu yang luas. Allah tidak melengahkan kesungguhanmu itu.
Kemudian dijelaskan lagi:

وَ مِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
"Dan dari mana sajapun kamu keluar, maka hadapkanlah muka engkau ke pinak Masjidil Haram." (pangkal ayat 150).

ini adalah perintah khusus bagi beliau. Kemudian dijelaskan sekali iagi kepada seluruh ummat Muhammad s.a.w. supaya mereka pegang teguh peraturan itu di mana sajapun mereka berada.

وَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ
"Dan di mana sajapun kamu berada." Hai Ummat Muhammad s.a.w.

فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ
"Hendaklah kamu hadapkan muka kamu ke pihaknya."

Jangan diobah-obah lagi dan tidak akan berobah-obah lagi peraturan ini selama-lamanya. Baik sedang kamu di lautan; carilah arah kiblat, shalatlah menghadap ke sana. Baik kamu sedang di Kutub Utara atau Kutub Selatan, carilah arah kiblat dan shalatlah menghadap ke pihak sana. Di pangkal ayat dipakai engkau, untuk Muhammad. Di tengah ayat dipakai kamu , untuk kita ummatnya.

لِئَلاَّ يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ
"Supaya jangan ada alasan bagi manusia hendak mencela kamu."

Karena penetapan kiblat itu sudah pasti diterima oleh manusia yang sudi menjunjung tinggi kebenaran. Sebagaimana tadi telah diterangkan, orang-orang yang keturunan kitab sudah faham akan kebenaran hal ini. Sebab rumah Allah yang pertama didirikan ialah Masjidil Haram di Makkah itulah mereka berkumpul tiap-tiap tahun mengerjakan haji, menjalankan wasiat nenek-moyang mereka Nabi Ibrahim. Pendeknya tidaklah akan ada bantahan dan sanggahan daripada orang yang berfikir sihat tentang penetapan kiblat itu.

إِلاَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَ اخْشَوْنِيْ
"Kecuali orang-orang yang aniaya di antara mereka, maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada Aku . "

Orang-orang yang aniaya, yang lidah tidak bertulang tentu akan ada saja bantahannya. Orang-orang yang aniaya dari kalangan Yahudi akan berkata:

"Muhammad memutar kiblatnya ke Ka'bah, padahal di sana berderet 360 berhala yang selalu dicela-celanya itu. Rupanya dia akan kembali agarna nenek-moyang orang Quraisy." Orang-orang yang aniaya di kalangan musyrikin akan berkata. "Dialihnya kiblat ke Makkah karena rupanya dia hendak menarik-narik kita atau telah insaf atas kesalahannya." Orang munafik di Madinah akan berkata: "Memang pendiriannya tidak tetap, sebentar begini sebentar begitu." Maka janganlah diperdulikan itu semuanya dan jangan takut akan serangan-serangan yang demikian, tetapi kepada Aku sajalah takut, kata Allah. PerintahKu sajalah yang akan dilaksanakan.

وَ لِأُتِمَّ نِعْمَتِيْ عَلَيْكُمْ وَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْ
"Dan Aku sempurna­kan nikmatKu kepada kamu, dan supaya kamu mendapat petunjuk."(ujung ayat 150).

Di ujung ayat itu Allah membayangkan janjiNya, bahwa nikmat perihal kiblat itu akan disempurnakanNya. Nikmat pertama baru peralihan kiblat, padahal di Ka'bah waktu itu masih ada berhala. Tetapi Aku janjikan lagi, negeri itu akan Aku serahkan ke tangan kamu, Ka'bah akan kamu bersihkan dari berhala dan akan tetap buat selama-lamanya menjadi lambang kesatuan arah dari seluruh ummat yang bertauhid. Dalam pada itu petunjuk-petunjuk akan tetap juga Aku berikan kepada kamu sekalian.

Setelah selesai Perjanjian Hudaibiyah di tahun yang keenam, diulang lagi janjiNya oleh Allah bahwa kemenangan telah datang dan nikmatNya yang dijanjikan itu memang akan disempurnakan (lihat Surat al-Fath. Surat 48 ayat 2). Dan tahun kedelapan takluklah Makkah dan habislah berhala disapu bersih dari Ka'bah dan seluruh Masjidil Haram, bahkan dari seluruh Tanah Hejaz, dan tegaklah agama Allah dengan jayanya.

Maka ijma` (sefahamlah) seluruh ulama Islam , bahwasanya shalat meng­hadap kiblat Masjidil Haram adalah wajib. Cuma sedikit pertikaiannya, menjadi syaratkah daripada sahnya shalat atau tidak. Sebab pernah juga Nabi s.a.w. bersama sahabatrjya shalat malam hari pada suatu medan perang; setelah hari pagi kenyataan bahwa kiblatnya salah arah. Maka tidaklah beliau ulang kembali shalat itu.

Adapun tentang tepat atau tidaknya penghadapan, hendaklah kita fahami bahwa Agama Islam tidaklah agama yang memberati.
Sebab itu maka pada ayat-ayat perintah kiblat itu disebut syathr yang kita artikan pihak. Maka tersebutlah pada sebuah Hadits yang dirawikan oleh al­Baihaqi di dalam Sunnahnya, Hadis Marfu`:

"Baitullah (Ka'bah) adalah kiblat bagi orang-orang yang dalam mesjid. Dan mesjid adalah kiblat bagi orang-orang yang tinggal di Tanah Haram (sekeliling Makkah). Dan Tanah Haram (Makkah) adalah kiblat bagi seluruh penduduk bumi, timurnya dan baratnya; dari ummatku. "

Dengan adanya Hadits ini sudah mudahlah difahamkan tentang arti syathr yang kita artikan pihak atau jurusan itu. Dan dengan demikian dapat pula kita fahami bahwa agama tidaklah memerintahkan kita mengerjakan pekerjaan yang berat, yaitu supaya di manapun kita berada hendaklah tepat setepat­tepatnya wajah kita menghadap ke Baitullah. Karena yang demikian sangatlah sukar melakukannya, asal sudah kena saja jurusannya sudahlah cukup. Dalam hal ini zhan (kecenderungan persangkaan) sudah cukup untuk menentukan arah kiblat, sehingga orang yang belum mengerti benar-benar di mana jurusan kiblat, bolehlah menurut saja ke mana arah yang diberati persangkaannya.

Tetapi suatu kemusykilan karena beragama hanya tersebab pusaka nenek ­moyang belaka , telah terjadi pada bangsa Indonesia yang berpindah dan berdiam bertahun-tahun di Suriname. Ketika terbuka perkebunan-perkebunan besar di sana, pengusaha-pengusaha kebun itu telah membawa beratus-ratus kuli kebun dari Tanah Jawa. Setelah mereka berdiam beranak-cucu di sana, mereka mendirikan mesjid tempat mereka shalat. Tetapi kiblatnya mereka hadapkan ke barat, sebab mesjid-mesjid di Tanah Jawa menghadap ke barat. Padahal oleh karena letak mereka lebih ke barat dari jurusan Makkah, niscaya kiblat mereka yang sah ialah menghadap ke timur. Dan umumnya masyarakat yang mula-mula datang itu bukanlah orang-orang Indonesia terpelajar.

Setelah ada yang datang kemudian, yang jauh lebih cerdas, mereka inipun menyalahkan kiblat menghadap ke barat itu. Teguran ini rupanya menimbulkan perpecahan, sehingga ada mesjid yang berkiblat ke jurusan barat dan ke jurusan timur. Menurut khabar terakhir yang kita terima dari sana, kian lama kiblat ke barat itu kian surut jumlahnya karena sudah banyak yang cerdas dan ada yang telah naik haji ke Makkah.
Selanjutnya Tuhan bersabda:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلاً مِّنْكُمْ
"Sebagaimana telah Kami utus kepada kamu seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri." (pangkal ayat 151).

Tadi Tuhan telah menyatakan bahwa nikmatNya telah dilimpahkan kepada kamu, sekarang kamu telah rnempunyai kiblat yang tetap, pusaka Nabi Ibrahim, sebagaimana ummat-ummat yang lainpun telah mempunyai kiblat. Ini adalah suatu nikmat dari Allah, dan berlombalah kamu dengan ummat yang lain itu menuju kebajikan di dunia ini. Dan kamu tidak usah takut-takut akan gangguan dan kritik, baik dari Yahudi atau dari orang-orang yang masih jahiliyah yang akan mencela perubahan kiblat itu dengan caranya masing-masing karena safih, yaitu bercakap dengan tidak bertanggungjawab. Dan Tuhanpun telah menjanjikan pula bahwa nikmat ini akan Dia sempurnakan.

Di belakang perubahan kiblat akan menyasul lagi nikmat yang lain, yaitu satu waktu Makkah itu akan dapat kamu taklukkan. Di samping nikmat itu ada terlebih dahulu nikmat yang lebih besar, puncaknya segala nikmat, yaitu diutusnya seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri.

يَتْلُوْ عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا
"Yang mengajarkan kepada karnu ayat-ayat Kami. "

yaitu perintah agar berbuat baik dan larang berbuat jahat:

وَ يُزَكِّيْكُمْ
"dan yang akan membersihkan kamu,"

bersih dari kebodohan dan kerusakan akhlak, bersih daripada kekotoran kepercayaan dan musyrik, sehingga kamu diberi gelar ummat yang menempuh jalan tengah di antara ummat-ummat yang ada dalam dunia ini:

وَ يُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَ الْحِكْمَةَ
"dan akan mengajarkan kepada karnu Kitab dan hikmat."

Kitab itu ialah al-Quran, yang akan menjadi pembimbing dan pedoman hidupmu di tengah-tengah permukaan bumi ini dan hikmat ialah kebijaksanaan dan rahasia-rahasia kehidupan, yang dicantumkan di dalam sabda-sabda yang dibawa oleh Rasul itu:

وَ يُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ
"Dan akan mengajarkan kepada kamu perkara-perkara yang (selama ini) tidak karnu ketahui." (ujung ayat 151)

Dalam ayat ini diterangkan bahwa peralihan kiblat adalah-suatu nikmat, tetapi nikmat ini kelak akan disempurnakan lagi. Tetapi di samping itu sudah ada nikmat yang paling besar, yaitu kedatangan Rasul itu sendiri. Dengan berpegang teguh kepada ajaran yang dia bawa, derajatmu akan lebih baik lagi. Dari lembah jahiliyah dan kegelapan, kamu dinaikkan Tuhan ke atas martabat yang tinggi, dengan ayat-ayat, dengan Kitab dan dengan hikmat. Dan tidak cukup hingga itu saja, bahkan banyak lagi perkara-perkara yang tadinya tidak kamu ketahui, akan kamu ketahui juga berkat bimbingan dan pimpinan Rasul itu.

Maka banyaklah soal-soal besar yang dulunya belum diketahui, kemudian jadi diketahui, berkat pimpinan Rasul. Ada yang diketahui karena ditunjukkan oleh wahyu ilahi, seumpama kisah Nabi-nabi yang dahulu dan ummat yang dibinasakan Tuhan lantaran menentang ajaran seorang Rasul. Dan ada soal ­soal besar yang diketahui setelah melalui berbagai pengalaman, baik karena berperang ataupun karena berdamai. Dan diketahui juga beberapa rahasia yang hanya diisyaratkan secara sedikit oleh al-Quran; lama kemudian baru diketahui artinya.

BerNabi, berQuran, berkiblat sendiri yang tertentu, kemudian disuruh berlomba-lomba berbuat kebajikan. Dan tidaklah boleh takut atau berjiwa kecil menghadapi berbagai rintangan dan halangan. Dengan beginilah akan kamu penuhi tugas yang ditentukan Tuhan sebagai ummat yang menempuh jalan tengah.

Dengan ini telah timbul satu ummat dengan cirinya yang tersendiri, untuk jadi pelopor menyembah Allah Yang Esa. Ada orang yang hendak mencoba menimbulkan keraguan orang yang bukan Arab daripada isi ayat ini. Karena disebutkan bahwa Allah mengutus seorang Rasul di antara kamu. Kata mereka, ayat ini menunjukkan bahwa beliau hanya diutus kepada orang Arab, sebab yang dimaksud dengan karnu di sini ialah bangsa Arab.

Penafsiran yang seperti ini salah, ataupun disalah-artikan. Kalau difaham­kan secara demikian, tentu batallah maksud ayat-ayat yang lain, yang mengan­dung seruan kepada Bani Adam, atau kepada al-Insan, atau kepada an-Nas. Tentu batal pula ayat-ayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad s.a.w. diutus Tuhan adalah untuk Rahmat bagi seluruh alam Rahmatan lil-`Alamin.

Tentu orang-orang sebagai Shuhaib yang berbangsa Rum, ataupun Salman yang berbangsa Persia tidak akan menyambut seruan ini. Dan tentu Abdullah bin Salam orang Yahudi, atau Tamim ad-Dari dan Adi bin Hatim orang Nasrani tidak masuk Islam.

Yang dirnaksud dengan di antara kamu di sini, bukanlah di antara orang Arab saja, atau di antara Quraisy saja, melainkan lebih luas. Yaitu mengenai manusia seluruhnya. Nabi Muhammmad diutus dalam kaiangan manusia dan dibangkitkan di antara manusia sendiri; bukan dia Malaikat yang diutus dari langit. Dengan sebab beliau diutus di antara manusia, maka mudahlah bagi manusia meniru me-neladan sikap beliau.

فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ
"Maka ingatlah kepadaKu, niscaya Aku akan ingat pula kepadamu." (pangkal ayat 152).

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan ad-Dailami dari jalan Jubair diterimanya dari ad-Dhahhak, bahwa lbnu Abbas menafsirkan demikian: "Ingatlah kepadaKu, wahai sekalian hambaKu, dengan taat kepadaKu; niscaya Akupun akan ingat kepadamu dengan memberimu ampun."

Dan ditambah pula tafsirnya oleh Abu Hindun ad-Dari, yang dirawikan oleh lbnu `Asakir dari ad-Dailami, menurut sebuah hadits: "Maka barangsiapa yang ingat akan Daku, dan diikutinya ingat itu dengan taat, maka menjadi kewajibanlah atasKu membalas ingatnya itu dengan mengingatnya pula, de­ngan jalan memberinya ampun. Dan barangsiapa yang ingat kepadKu, tetapi dia berbuat durhaka (maksiat), Akupun akan mengingatnya pula dengan menimpakan ancaman kepadanya."

وَ اشْكُرُوْا لِيْ وَلاَ تَكْفُرُوْن
"Dan bersyukurlah kepadaku, dan janganlah kamu menjadi kufur." (ujung ayat 152).

Bersyukurlah atas nikmat-nikmat yang Dia limpahkan, yaitu dengan jalan berterima-kasih dan mengucap syukur, Ucapan itu bukan semata mata dengan mulut, melainkan terbukti dengan perbuatan.

Karena suatu nikmat apabila telah disyukuri, Tuhan berjanji akan menambahnya lagi. Dan janganlah sampai berbudi rendah, tidak mengingat terima kasih. Tidak syukur atas nikmat adalah suatu kekufuran. Kalau nikmat yang telah dianugerahkan Allah tidak disyukuri, mudah saja bagi Allah mencabutnya kembali, dan meng­hidupkan kita di dalam gelap.

Meskipun Rasul sudah diutus, ayat sudah diberikan, al-Qura'n sudah diwahyukan, hikmat sudah diajarkan dan kiblat sudah terang pula, semuanya tidak akan ada artinya kalau tidak ingat kepada Allah (zikir) dan bersyukur. Orang yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan yang telah ada, tidaklah akan rnerasai nikmat Islam itu. Maka zikir dan syukur, adalah dua pegangan teguh yang banyak diterangkan di dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w.



يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْن

(153) Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat; sesung-guhnya Allah adalah beserta  orang-orang yang sabar.


 وَلاَ تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبيْلِ اللهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَ لَكِنْ لاَّ تَشْعُرُوْن

(154) Dan janganlah kamu katakan ter­hadap orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka mati. Bahkan mereka hidup, akan tetapi kamu tidak merasa.


 وَ لَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَ الْجُوْعِ وَ نَقْصٍ مِّنَ الْأَمَوَالِ وَ الْأنْفُسِ وَ الثَّمَرَاتِ وَ بَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ

(155) Dan sesungguhnya akan Kami beri kamu percobaan dengan se­suatu dari ketakutan dan kelaparan dan kekurangan dari harta­ benda dan jiwa-jiwa dan buah buahan; dan berilah khabar yangmenyukakan kepada orang yang sabar.


 اَلَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا ِللهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

(156) (Yaitu) orang-orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kita ini dari Allah, dan sesungguhnya kepadaNya­lah kita semua akan kembali.


 أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَ رَحْمَةٌ وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

(157) Mereka itu, akan dikurniakan atas mereka anugerah-anugerah dari Tuhan mereka dan rahmat, dan mereka itulah orang-orang yang akan mendapat petunjuk.        


Menghadapi Percobaan Hidup

Pada ayat-ayat yang di atas telah dijanjikan Tuhan bahwa nikmat itu akan terus-menerus disempurnakan, Nikmat pertama dan utama ialah diutusnya Rasulullah s.a w. menjadi Rasul Beliaulah yang akan memimpin perjuangan selanjutnya. Sebab itu tetaplah mengingat Allah supaya Allah ingat pula akan kamu dan syukurilah nikmatNya, jangan kembali kepada kufur, yaitu melupa­kan jasa dan tidak mengingat budi

Dengan perubahan kiblat setelah berasa di Madinah 16 atau 17 bulan kamu telah dibawa melangkah lebih maju Akhirnya kelak kemenangan yang gilang-gemilang akan diberikan Tuhan kepada kamu. Tetapi adalah satu syarat utama yang wajib kamu penuhi. Sebab perobahan-perobahan besar dan kejadian yang akan diberikan Tuhan kelak kepadamu itu bukanlah terletak di atas talam, perak, lalu dihidangkan saja kepadamu. Melainkan amat bergantung kepada usaha dan semangat kegiatanmu sendiri. Maka peristiwa-peristiwa yang dah­syat akan bertemulah oleh kamu dalam Shirathal Mustaqim yang kamu lalui itu. Syarat utama itu ialah :

 يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْن

"Wahai orang-orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (ayat 153).

Maksud ini adalah maksud yang besar. Suatu cita-cita yang tinggi. Mene­gakkan kalimat Allah, memancarkan tonggak Tauhid dalam alam. Memban­teras perhambaan diri kepada yang selain Allah. Apabila langkah ini telah dimulai, halangannya pasti banyak, jalannya pasti sukar. Bertambah mulia dan tinggi yang dituju, bertambah sukarlah dihadapi. Oleh sebab itu dia meminta semangat baja, hati yang teguh dan pengorbanan-pengorbanan yang tidak mengenal lelah. Betapapun mulianya cita-cita, kalau hati tidak teguh dan tidak ada ketahanan, tidaklah maksud akan tercapai. Nabi-nabi yang dahulu daripada Muhammad s.a.w: semuanya telah menempuh jalan itu dan semuanya meng­hadapi kesulitan.

Kemenangan mereka hanya pada kesabaran. Maka kamu orang yang telah menyatakan iman kepada Muhammad wajiblah sabar, sabar menderita, sabar menunggu hasilnya apa yang dicita-citakan. Jangan gelisah tetapi hendaklah tekap hati.

Sampai seratus satu kali kalimat sabar tersebut dalam al-Quran. Hanya dengan sabar orang dapat mencapai apa yang dimaksud. Hanya dengan sabar orang bisa mencapai derajat Iman dalam perjuangan. Hanya dengan sabar menyampaikan nasihat kepada orang yang lalai. Hanya dengan sabar kebena­ran dapat ditegakkan.

Lebih 25 tahun Ya'kub sabar menunggu pulang anaknya yang hilang, sampai berputih mata; akhirnya anaknya Yusuf kembali juga. Tujuh tahun Yusuf menderita penjara karena fitnah; dengan sabarnya dia jalani nasibnya; akhirnya dia dipanggil buat menjadi Menteri Besar.

Bertahun Ayub menderita penyakit , sehingga tersisih dari anak isteri; akhirnya penyakitnya disembuhkan Tuhan dan setelah pulang ke rumah didapatinya anak yang 10 telah menjadi20, karena semua sudah kawin dan sudah beranak pula. Ibrahim dapat menyem­purnakan kalimat-kalimat ujian Tuhan karena sabar. Demikianlah Musa de­ngan Bani-Israil. Ismail membangun angkatan Arab yang baru. Isa Almasih dengan Hawariyin semuanya dengan sabar.

Ada Nabi yang nyaris kena hukuman karena tidak sabar; yaitu Nabi Yunus. Ditinggalkannya kaumnya karena seruannya tidak diperdulikan. Maka buat melatih jiwa dia ditakdirkan masuk perut ikan beberapa hari lamanya. Tetapi keluar dari sana dia membangun diri lagi dengan kesabaran.

Sebab itu sabarlah perbentengan diri yang amat teguh.

Sabar memang berat dan sabar memanglah tidak terasa apa faedahnya jlka bahaya dan kesulitan belum datang. Apabila datang suatu marabahaya atau suatu musibah dengan tiba-tiba, dengan tidak disangka-sangka, memang tim­bullah perjuangan dalam batin. Perjuangan yang amat hebat. Tarik menarik di antara kegelisahan dengan ketenangan.

Kita gelisah, namun hati kecil kita sendiri tidaklah senang akan kegelisahan itu. Suatu waktu orang yang belum juga menang ketenangannya atas kegelisa­hannya bisa jadi memandang gelap hidup ini, sehingga dari sangat gelapnya mau rasanya mati saja. Mungkin dengan mati kesulitan itu akan habis, lalu dia membunuh diri.

Seseorang yang tengah diperiksa polisi karena suatu tuduhan kejahatan, padahal dia merasa tidak bersalah, ada yang silap sehingga dia ingin hendak membunuh diri. Katanya setelah saya mati nanti, mereka akan dapat membuktikan juga bahwa saya tidak salah dalam hal ini. Lantaran itu dalam sangatnya pemeriksaan itu, polisi menjaga benar-benar supaya barang-barang yang tajam, sampai pisau silet penculcur janggut, dijauhkan daripadanya.

Sudah kita katakan, hati kecil yang di dalam tidaklah suka akan kegelisahan itu. Maka hati kecil yang di dalam itulah yang harus ditenangkan. Sebab itu dalam saat yang demikian sabar tadi tidak boleh dipisahkan dengan shalat! Ingat Tuhan! Hati kecil yang telah dikepung oleh kegelisahan dan kekacauan itu harus dibebaskan dari kepungan itu. Lepaskan dia menghadap Tuhan; Allahu Akbar! Allah Maha Besar !

Mengapa aku mesti gelisah? Padahal buruk clan baik adalah giiiran masa yang pasti atas diriku, bukankah dahulu dari ini aku disenangkanNya? mengapa aku demikian bodoh, sampai terangan-angan dalam perasaan hendak mem bunuh diri? Bukankah dengan membunuh diri keadaanku di akhirat, di sebe­rang maut itu, akan lebih lagi menghadapi kemurkaan Tuhan?

Allahu Akbar! Allah Maha Besar!

Segala urusan dunia ini adalah kecil belaka. Kesulitan yang aku hadapipun soal kecil saja bagi Tuhan, akupun akan memandangnya kesulitan yang kecil saja. Aku memandangnya soal besar, sebab aku tidak insaf bahwa jiwaku kecil. Aku gelisah lantaran kesulitan. Aku mesti mencari di mana sebabnya, kemu­dian ketahuanlah sebabnya. Yaitu ada sesuatu selain Allah yang mengikat hatiku. Mungkin hartabenda, mungkin kemegahan dunia, mungkin pangkat dan kedudukan dan mungkin juga yang lain. Sehingga aku lupa samasekali tujuan hidupku yang sebenarnya, yaitu Tuhan dengan keredhaanNya, sebab itu aku mesti shalat.

Maka apabila ketenangan telah diperteguh dengan shalat, kemenangan pastilah datang. Sabar dan shalat; keduanya mesti sejalan. Apabila kedua resep ini telah dipakai dengan setia dan yakin, kita akan merasa bahwa kian lama hijab dinding kian terbuka. Berangsur-angsur jiwa kita terlepas dari belenggu kesulitan itu sebab Tuhan telah berdaulat dalam hati kita.

Waktu itupun baru kita ketahui bahwa kita terjatuh ke dalam kesulitan tadi, ialah karena pengaruh yang lain telah masuk ke dalam jiwa; terutama syaitan, Yang ingin sekali kita hancur. Maka berangsurlah naik sari cahaya iman kepada waja. Barulah berarti kembali segala ayat-ayat yang kita baca, sampai huruf-huruf dan baris dan titiknya. Kita telah kuat kembali dan kita telah tegak. Kita telah mendapat satu kekayaan, yang langit dan bumipun tidak seimbang

buat menilai harganya. Di sinilah terasa ujung ayat:

إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْن

"Sesungguhnya Allah adalah beserta orang-orang yang sabar." (ujung ayat 153).

Apakah yang engkau takutkan kepada hidup ini, kalau Allah telah men­jamin bahwa Dia ada beserta engkau? Orang yang ditimpa oleh suatu percobaan yang membuat jiwa jadi gelisah, kemudian berpegang teguh kepada ayat ini, membenteng diri dengan sabar dan shalat, dengan berangsur timbullah fajar harapan dalam hidupnya. Kelihatan dari luar dia dalam kesepian, padahal dia merasa ramai, sebab dia bersama Tuhan. Belenggu biar dipasang pada tangannya, namun jiwanya merasa bebas. Pagar besi membatasi jasmaninya dengan dunia luar, tetapi ayat-ayat al-Quran membawa jiwanya membumbung naik melintas ruang angkasa dalam dia mengerjakan shalat. Lantaran ini ketakutanpun hilanglah dan keberanian timbul.

Kalau mati dalam menegakkan cita-cita, ataupun terbunuh, hati bimbang tidak ada lagi. Sebab bagi orang yang telah merasa.dirinya dekat dengan Allah, batas di antara hidup dengan mati tidak ada lagi. Hidup itu sendiri tidak ada artinya kalau jauh dari Tuhan.

Maka datanglah sambungan ayat:

 وَلاَ تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبيْلِ اللهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَ لَكِنْ لاَّ تَشْعُرُوْن

"Dan janganlah kamu katakan terhadap orang yang terbunuh pada jalan Allah bahwa mereka mati. Bahkan mereka hidup, akan tetapi, kamu tidak merasa." (ayat 154).

Dengan ayat ini, kemenangan jiwa karena sabar dan shalat tadi diberi lagi pengharapan baru. Pengharapan yang langsung diberi Tuhan. Jangan takut dan jangan gelisah jika terbunuh atau mati karena menegakkan jalan Allah, karena yakin bahwa yang ditempuh adalah jalan yang benar. Jangan gelisah. Sebab orang yang mati pada menjalani jalan Allah itu bukanlah mati, tetapi hidup terus. Cuma kamu juga yang tidak merasa. Tetapi kalau kamu pelajari dengan seksama, akhirnya kamupun akan merasakan bahwa mereka masih hidup; hidup terus.

Bermacam tafsir ahli tafsir tentang makna hidupnya orang yang terbunuh atau menjadi kurban dari menegakkan jalan Allah itu.

Kata setengahnya, walaupun badannya telah hancur dalam kubur namun namanya tetap hidup. Namanya itu memberikan ilham atau inspirasi kepada pejuang yang meneruskan citanya. Kata setengahnya pula, badannya yang mati, namun fikiran dan citanya, terus hidup. Karena apalah arti hidup kalau bukan karena cita-cita ? Jasmaninya hilang namun isi citanya terus hidup dan dilanjutkan oleh yang datang di belakang. Bukankah manusia itu datang silih berganti, dan yang mereka perjuangkan ialah cita-cita yang tidak pernah mati?

Ada pula yang menafsirkan bahwa Roh manusia itupun mempunyrai bentuk halus serupa dengan bentuk tubuhnya. Maka jika tubuh telah hancur Roh itu tetap ada dalam kehidupannya yang menyerupai ether. Maka bentuk Roh yang bersifat ether itu tidak berubah, tidak berganti-ganti dan tidak musnah. Sedang tubuh kasar manusia, walaupun sebelum dia mati tetap berganti dan berubah. Kekuatan ether itu kata ahli ilmu alam dapat mempengaruhi tubuh yang lain, baik yang kasar ataupun yang halus; sedangkan ruang yang luas ini diisi selalu oleh ether. Sehingga dengan perantaraan ether itulah cahaya bisa menembus dari matahari ke dalam tingkat-tingkat udara.

Demikian kata ahli-ahli tafsir modern Dalam satu Hadits riwayat.Muslim ada pula mengatakan bahwa Roh orang-orang yang syahid itu diletakkan dalam tenggorokan burung yang hijau dalam syurga, artinya dipelihara baik-baik.

Demikianlah bunyi penafsiran. Tetapi apabila kita berpegang teguh dengan mazhab Salaf, tidaklah layak kita menetapkan salah satu dari tafsir itu. Bahkan kita langsung memegang apa yang dikatakan al-Quran; orang yang terbunuh pada.jalan Allah tidaklah mati, melainkan hidup. Malahan di ayat lain, yaitu Surat ali Imran (Surat 3) ayat 160, ditegaskan lagi bahwa mereka terus diberi rezeki.

Bagaimana hidupnya? Di mana dia sekarang? Bagaimana pula macam rezekinya? Tidaklah dapat kita ketahui, tetapi kita percaya.

Ahli-ahli Tasauf mencoba juga memecahkan soal ini dengan jalan ridha; Imam Ghazali dalam kitabnya Bidayatul Hidayah menerangkan pengalaman seorang ayah yang shalih yang anaknya mati syahid dalam satu peperangan. Pada suatu hari dia mengalami, puteranya itu datang dan singgah ke rumahnya dalam keadaan dia setengah bermimpi. Ayahnya bertanya mengapa pulang? Anak itu menjawab bahwa dia hanya singgah sebentar ke rumah menziarahi ayahnya, sebab dia beberapa teman Syuhada,. turun ke dunia kita ini karena ikut bersama-sama menyembahyangkan jenazah Khalifah Umar bin Abdu! Aziz. Dan akan segera kembali ke alamnya. lbnul Qayyim banyak juga men­ceritakan hal-hal serupa ini dalam kitabnya yang bernama al-Arwah.

Pendeknya hal yang begitu telah termasuk alam lain, yang.kita percayai. Tentang bagaimana keadaan yang sebenarnya, apakah di dekat kita ini penuh dengan Roh-roh Syuhada, atau ether. Roh orang mati syahid, kita tidak tahu. Karena hidup kita yang sekarang ini masih terkongkong oleh alam Syahadah, alam nyata.

Kemudian itu Tuhan teruskan lagi peringatanNya kepada kaum mu'min:

 وَ لَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ

"Dan sesungguhnya akan Kami beri kamu percobaan dengan sesuatu." (pangkal ayat 155).

Dengan sesuatu, yaitu dengan aneka warna,

 مِّنَ الْخَوْفِ

"dari ke takutan," yaitu ancaman-ancaman musuh atau bahaya penyakit dan sebagai­nya, sehingga timbul selalu rasa cemas dan selalu terasa ada ancaman. Yang berlaku di zaman Nabi ialah ancaman orang musyrik dari kota Makkah, ancaman kabilah-kabilah Arab dari luar kota Madinah yang selalu bermalaud hendak menyerang Madinah, ancaman fitnah orang Yahudi yang selalu meng­intai kesempatan dan ancaman orang munafik, dan ancaman bangsa Rum yang berkuasa di utara waktu itu.

 وَ الْجُوْعِ

"Dan kelaparan" termasuk kemiskinan sehingga persediaan makanan sangat berkurang.

 وَ نَقْصٍ مِّنَ الْأَمَوَالِ

"Dan kekurangan dari hartabenda."

Sebab umumnya sahabat-sahabat Rasulullah yang pindah dari Makkah ke Madinah itu hanya batang tubuhnya saja yang keluar dari sana; hartabenda tidak bisa dibawa;

 وَ الْأنْفُسِ

"dan jiwa-jiwa, "

ada yang kematian keluarga, anak dan isteri dan bapak, sehingga hidup melarat terpencil kehilangan keluarga di tempat kediaman yang baru;

 وَ الثَّمَرَاتِ

"dan buah-buahan," karena tidak lagi mempunyai kebun­ kebun yang luas, terutama pohon kurma, yang menjadi makanan pokok pada masa itu. Semuanya itu akan kamu derita ! .

Demikian sabda Tuhan. Tetapi derita itu tidak lain ialah karena menegak­kan cita-cita.

 وَ بَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ

"Dan berilah khabar yang menyukakan kepada orang-orong yang sabar." (ujung ayat 155).

Setelah di ayat 153 tadi dinyatakan kepentingan sabar dan shalat, di ayat ini diulangi lagi bahaya-bahaya, percobaan dan derita yang akan mereka tempuh. Disebut pahitnya sebelum manisnya. Orang yang akan menempuh derita itu hendaklah sabar.

Hanya dengan sabar semuanya itu akan dapat diatasi. Karena kehidupan itu tidaklah membeku demikian saja. Penderitaan dirasai dengan merata. Nabi Muhammad s.a.w. sendiri dalam peperangan Uhud kehilangan pamannya yang dicintainya Hamzah bin Abdul Muthalib. Maka apabila mereka sabar menahan derita, selamatlah mereka sampai kelak ke seberang cita-cita. Tidak ada cita-cita yang akan tercapai dengan tidak memberikan pengorblnan. Berilah khabar kesukaan kepada mereka yang sabar itu.

 اَلَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا ِللهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

"(Yaitu) orang -orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kita ini dari Allah, don sesungguh­nya kepadaNyalah kita semua akan kembali." (ayat 156).

Ucapan yang begini mendalam, tidaklah akan keluar dari dalam lubuk hati kalau tidak menempuh latihan. Khabar kesukaan apakah yang dijanjikan buat mereka ? 

 أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَ رَحْمَةٌ

"Mereka itu, akan dikurniakan atas mereka anugerah-anugerah dari Tuhan mereka, dan rahmat. "(pangkal ayat 157).

Inilah khabar kesukaan untuk mereka. Pertama mereka akan diberi kurnia anugerah: dalam bahasa aslinya shalawat. Dari kata shalat. Kalau kita makhluk ini yang mengerjakan shalat terhadap Allah, artinya telah berdoa dan shalat. Kalau kita mengucapkan shalawat kepada Rasul, ialah memohon, kepada Allah agar Nabi kita Muhammad s.a.w. diberi kurnia dan kemuliaan. Tetapi kalau Tuhan Allah yang memberikan shalawatNya kepada kita, artinya ialah anugerah perlindungan­Nya. Kemudian itu menyusul Rahmat, yaitu kasih-sayang.

 وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

"Dan mereka itulah orang-orang yang akan mendapat petunjuk." (ujung ayat 157).

Maka dengan ketabahan hati menghadapi, lalu mengatasi kesukaran dan kesulitan dan derita, untuk menempuh lagi penderitaan lain, perlindungan Tuhan datang, rahmatNya meliputi dan petunjukpun diberikan. Jiwa bertambah lama bertambah teguh, karena sudah senantiasa digembleng dan disaring oleh zaman.

Dengan ini diberikan ketegasan kepada kita, apakah keuntungan yang akan kita dapat kalau kita tahan menderita dan sanggup mengatasi penderitaan itu, atau lulus dari dalamnya dengan selamat? Pertama Tuhan memberikan ShalawotNya kepada kita, artinya bahwa kita dipelihara dan dijamin. Kedua kita diberi limpahan Rahmat, yaitu kasih-sayang yang tidak putus-putus. Tidak cukup hanya sehingga diberi Shalowat dan Rahmat, bahkan dijanjikan lagi dengan yang lebih mulia, yaitu diberi petunjuk di dalam menempuh jalan bahagia ini, sehingga sampai dengan selamat kepada yang dituju.

Ini telah terjadi pada kehidupan Nabi-nabi, setiap mereka lepas dari satu ujian Mihnah , mereka naik guna mencapai anugerah Minhah yang baru Demikian juga kehidupan ulama-ulama yang menerima warisan Nabi-nabi.

Semua ayat ini rnasihlah dalam rangka peralihan kiblat itu; intisarinya tuntunan dalam perjuangan. Dan Islam tidaklah akan tegak, kalau Roh jihad ini tidak selalu diapikan pada diri dan pada ummat. Dan kesulitan, kesukaran, kekurangan sebagai Yang disebutkan Allah itu akan selaluiah ada. Bahagialah ummat yang dapat mengambil pedoman daripada ayat-ayat ini.

Mungkin timbul rasa musykil dari pertanyaan orang: "Mungkinkah kita mengelakkan diri dari perasaan sedih atau susah karena ditimpa musibah?" Jawabnya sudah pasti, yaitu rasa sedih dan susah mesti ada. Sedangkan Nabi s.a.w. kematian puteranya Ibrahim bersedih juga dan titik juga airmata beliau. Bahkan tahun kematian isteri beliau yang tua, Khadijah, beliau namai Tahun Duka. Rasa yang demikian tidaklah dapat dihilangkan, karena dia adalah sifat jiwa. Dia timbul dari rasa belas-kasihan, atau rahmat.

Maka perasaan yang demikian, kalau tidak dikendalikan, itulah yang kerapkali membawa jiwa mera­na. itulah yang diperangi dengan sabar, sehingga akhirnya kesabaran menang, dan kesedihan itu tidak sampai merusak diri. Adapun kalau ada orang yang mati anaknya* tidak sedih hatinya, dan dia gembira-gembira saja, itu adalah orang yang tidak berperasaan. Orang yang berperasaan ialah yang memang tergetar hatinya karena suatu malapetaka, tetapi dengan sabar dia dapat mengendalikan diri, dan diapun menang. Inilah yang dirnaksudkan.

Kadang-kadang berkesan pada wajahnya peperangan batin itu, entah kurus badannya, bahkan sampai setengah buta matanya, sebagai Nabi Ya'kub kehilangan Yusuf, dan kemudian hilang pula Benyamin, namun beliau tetap berkata:



إِنَّ الصَّفَا وَ الْمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللهِ

"Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu adalah daripada syiar-syiar Allah jua."( pangkal ayat 158).

Bahasa kita Indonesia telah kita perkaya juga dengan memakai kalimat syi'ar. Kita telah selalu menyebut syiar Islam. Syiar artinya tanda. Kata jamaknya ialah sya'air. Sya'airallah artinya tanda-tanda periba­datan kepada Allah. Ketika mengerjakan haji banyaklah terdapat syiar itu. Unta-unta dan lembu yang akan dikurbankan waktu habis haji ditukai tengkuk­nya, sebagai tanda Melukai itupun dinamai syi'ar. Shalat di makam lbrahim adalah termasuk syiar ibadat. Tawaf keliling Ka'bah, wuquf di Arafah dan di ayat ini disebut berjalan atau Sa'i di antara Shafa dan Marwah itupun satu di antara syiar-syiar (sya'air) itu pula, dan melempar Jamrah di Mina. Syiar-syiar demi­kian adalah termasuk ta'abbudi, sebagai imbangan dari ta'aqquli( Dalam istilah Ushul Fiqh: Ma'qulul-ma'na ).

Ta'abbudi artinya ialah ibadat yang tidak dapat dikorek-korek dengan akal mengapa dikerjakan demikian.

Ta'aqquli ialah yang bisa diketahui dengan akal. Kita mengetahui apa hikmahnya mengerjakan shalat; itu namanya ta'aqquli. Tetapi kita tak dapat meng-akali mengapa zuhur empat rakaat dan subuh dua rakaat. Itu namanya ta'abbudi. Kita dapat mengetahui hikmah rnengerjakan haji se­kurangnya sekali seumur hidup (ta'aqquli), tetapi kita tidak dapat mengetahui mengapa ada perintah melontar Jamrah dengan batu kecil 7 kali (ta'abbudi). Maka syiar-syiar itu termasuklah dalam ta'abbudi.

 فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا

"Maka barangsiapa yang naik haji atau umrah, tidaklah mengapa bahwa dia keliling pada keduanya."

Rumah itu yang dimaksud di sini ialah Baitullah (Ka'bah) itu. Adapun haji ialah pada waktu tertentu dimulai 9 Zulhijjah sampai selesai berhenti di Mina sekeliling tanggal 12 atau 13 Zulhijjah. Tetapi umrah adalah kewajiban di waktu lain, selain waktu haji, yang tidak memakai wuquf di Arafah dan berhenti di Muzdalifah dan di Mina. Tetapi haji dan umrah sama-sama memakai pakaian ihram, sama-sama memakai tawaf keliling Ka'bah dan sama­-sama memakai sa'i di antara kedua bukit Shafa dan Marwah.

Shafa dan Marwah adalah dua buah bukit kecil, atau menunggu di dekat Masjidil Haram. Jarak di antara kedua bukit itu ialah 760 1/2 (tujuhratus enam­puluh setenggah) hasta. Setelah perbaikan Masjidil Haram yang terakhir (1957) kedua bukit itu telah termasuk dalam lingkungan mesjid. Maka dalam rangka mengerjakan haji dan umrah termasuklah sa'i, yaitu berkeliling pergi dan kembali di antara kedua bukit itu 7 kali. Dikerjakan setelah mengerjakan tawaf. Sehabis sa'i itulah boleh tahallul, yaitu mencukur rambut dan menanggalkan pakaian ihram . Dengan tahallul nusukpun selesai.

Menurut Hadits Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas , syiar sa'i ini adalah kenangan terhadap Hajar (isteri muda Ibrahim) seketika Ismail yang dikandung­nya telah lahir , sedang dia ditinggalkan di tempat itu oleh Ibrahim seorang diri, sebab Ibrahirn melanjutkan perjalanannya ke Syam , maka habislah air persediaannya dan nyaris keringlah air susunya, sedang sumur untuk mengarnbil air tidak ada di iempat itu. Anaknya Ismail telah menangis-nangis kelaparan, hingga hampir parau suaranya. Maka. dengan harap-harap cemas setengah berlarilah (sa'i) Hajar itu di antara kedua bukit ini mencari air , sampai 7 kali pergi dan balik. Anaknya tinggal dalam kemahnya seorang diri di lembah bawah.

Tiba-tiba kedengaran olehnya suara dan kelihatan burung terbang. Padahal tangis anaknya kedengaran pula meminta susu. Selesai pulang balik 7 kali itu diapun berlarilah kembali ke tempat anaknya yang ditinggalkannya itu. Dilihat­nya seorang Malaikat telah menggali-gali tanah di ujung kaki anaknya, maka keluarlah air.

Dengan amat cemas dipeluknya air itu seraya berkata: Zam! Zam! yang artinya; berkumpullah, berkumpullah! Kebetulan di masa itu datang kafilah orang Jurhum yang tengah mencari air. ltulah sumur Zamzam dan itulah asal "lembah yang tidak mempunyai tumbuh-tumbuhan" itu diramaikan men­jadi negeri. ltulah asal Makkah.

Maka perkelilingan Hajar itu dimasukkanlah dalam rangka syiar ibadat haji dan umrah, dan diakuilah , dia oleh ayat yang tengah kita tafsirkan ini , bahwa dia memang syiarlah adanya daripada ibadat kepada Allah. Salah satu dari tanda peribadafan. Barangsiapa yang naik haji atau umrah tidaklah ada salahnya jika dia berkeliling pula di antara kedua bukit itu sebagaimana lazimnva.

Menurut sebuah Hadis yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim, pada suatu hari Urwah bin Zubair menyatakan pendapatnya di dekat Ummul Mu'mi­nin Siti Aisyah, bahwa demikian bunyi ayat tidaklah wajib sa`i di antara Shafa dan Marwah itu. Karena kalau disebut tidaklah mengapa berkeliling di antara keduanya, niscaya tidak berkelilingpun tidak mengapa. Pendapat Urwah ini ditegur dengan baik oleh Aisyah: "Bukan sebagai yang engkau fahamkan itu wahai anak saudaraku." * Adapun sa`i di antara Shafa dan Marwah itu adalah termasuk dalam rangka syiar ibadat: Maka ayat itu menyebut tidak mengapa, . ialah karena di sana di zaman jahiliyah kalau ada orang Anshar pergi beribadat haji atau umrah ke Makkah , mereka mesti bertemu dengan berhala manata yang besar dan seram yang terletak di antara kedua bukit itu. Setelah mereka menjadi Muslim semua musykillah dalam hati mereka bagaimana mereka akan sa'i juga di antara kedua bukit itu , padahal di sana masih berdiri berhala manata itu. Maka ayat ini menjelaskan bahwa tidak mengapa jika mereka sa'i di sana , walaupun di sana masih berdiri berhala itu.

Demikian kita tuliskan maksud dari Hadits Bukhari dan Muslim itu.

Lanjutan ayat:

 وَ مَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللهَ شَاكِرٌ عَلِيْمٌ

"Dan barangsiapa yang menarnbah kerja kebaikan, maka sesungguhnya Allah adalah pembalas terimakasih, lagi Maha Mengetahui." (ujung ayat 158).

Mengerjakan haji atau umrah yang wajib hanya sekali seumur hidup. Tetapi jika orang ingin menambah lagi dengan tathawwu' , menambah haji lagi dan menambah umrah lagi , entah berapa kali dia ke Makkah, maka Allah mensyukuri amalnya itu dan membalas budinya itu dengan baik. Dan semua amalnya yang ikhlas diketahui oleh Allah.

Maka terasalah bahwa ayat ini masih bertali dengan perintah peralihan kiblat dan pengharapan akan kemenangan di zaman depan: Satu waktu kelak merekapun akan dapat mengerjakan umrah. Meskipun di antara bukit Shafa dan Marwah itu masih ada berhala dan di dinding Ka'bah masih bersandar patung-patung , tidak mengapa mereka meneruskan ibadat mereka, karena ibadat itu tidak ada sangkut-pautnya dengan berhala itu. Maka pada beberapa masa kemudian bermimpilah Rasulullah bahwa dia dan sahabat-sahabatnya pergi ke Makkah mengerjakan umrah, lalu mereka pergi bersama-sama, sesuai dengan yang dimimpikan.

Tetapi sampai di Hudaibiyah pada tahun keenarn Hijriyah, mereka dihalangi orang Quraisy clan terjadilah perdamaian Hudai­biyah. Tidak jadi mereka naik tahun itu. Pada tahun mukanya , tahun ketujuh , barulah terjadi Umratul Qadha. Mereka telah mengerjakan umrah dengan baik dan selesai , mereka tawaf keliling Ka'bah yang masih berhala, dan mereka sa` i di antara Shafa dan Marwah yang masih ada berhala manata di sana, tetapi mereka tidak singgung menyinggung dengan itu. Syiar ibadat mereka lakukan dengan sempurna. Dan kelak pada tahun kedelapan setahun kemudian, karena orang Quraisy telah mengkhianati janji , negeri Makkah telah ditaklukkan dan segala berhala telah disapu bersih. Dan semuanya itu mereka capai dengan didahului oleh berbagai penderitaan , kekurangan hartabenda , kekurangan kawan-kawan yang syahid di medan jihad, tetapi akhirnya ialah penyempurnaan

 إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَ مَاتُوْا وَ هُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللهِ وَ الْمَلآئِكَةِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْن
(161)
Sesungguhnya orang-orang yang tidak mau percaya , dan mati , padahal mereka masih di dalam kufur. Mereka itu , atas mereka adalah laknat Allah dan Malaikat dan manusia sekaliannya.


خَالِدِيْنَ فِيْهَا لاَ يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلاَ هُمْ يُنْظَرُوْ
(162)
Kekal mereka di dalamnya; tidak akan diringankan azab atas mereka, dan tidaklah mereka akan di perdulikan.


Ayat-ayat ini masih menyangkut dengan sikap ahlul kitab, terutama Yahudi yang ada di Madinah seketika Rasululiah memulai da'wahnya ini. Mereka telah mengetahui bahwa kiblat yang diajakkan oleh Rasul itu adalah benar. Di ayat 146 di atas telah diterangkan pula bahwa mereka mengenal siapa Rasulullah s.a.w. itu sebagairnana mereka mengenal anak kandung mereka sendiri , sebab sifat-sifatnya cukup tertera di dalarn Kitab yang mereka terima (Taurat), tetapi sebahagian besar di antara mereka sengaja menyemburryikan kebenaran itu. Sekarang datanglah ayat ini, (159) menerangkan orang-orang yang menyem­bunyikan kebenaran itu:

إِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَ الْهُدَى
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah pernah Kami turunkan, dari keterangan-keterangan dan petunjuk. " ( pangkai ayat 159 ).

Keterangan-keterangan itu ialah tentang sifat-sifat Rasul Akhir Zaman yang akan diutus Tuhan itu, yaitu Nabi Muhamrnad s.a.w. yang demikian jelas sifat sifatnya itu diterangkan , sehingga mereka kenal sebagaimana rnengenal anak mereka sendiri. Dengan menyebut keterangan-keterangan , nyatalah bahwa penjelasan ini bukan di satu tempat saja dan bukan satu kali saja, melainkan di berbagai kesempatan. Dan yang dirnaksud dengan petunjuk atau hudan ialah intisari ajaran Nabi Musa , yang sama saja dengan intisari ajaran Muhammad s.a.w. yaitu tidak mempersekutukan yang lain dengan Allah , tiada membuatnya patung dan berhala:

مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ
"Setelah kami terangkan dianya kepada manusia di dalam Kitab."

Artinya, segala keterangan dan petunjuk itu jelas tertulis di Kitab Taurat itu sendiri , dan sudah disampaikan kepada manusia, sehingga tidak dapat disembunyikan lagi:

أُولَئِكَ يَلعَنُهُمُ اللهُ وَ يَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُوْن
"Mereka itu akan dilaknat oleh Allah dan merekapun akan dilaknat oleh orang orang yrang melaknat." (ujung ayat 159).

Orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan itu adalah orang yang tidak jujur, orang-orang yang curang , yang telah melakukan korupsi atas kebenaran , karena mempertahankan golongan sendiri , Orang yang sernacam itu pantaslah rnendapat laknat Tuhan dan laknat manusia. Kecurangan ter­hadap ayat suci di dalam Kitab-kitab Tuhan, hanya semata-mata untuk mem­pertahankan kedudukan, adalah satu kejahatan yang patut dilaknat.

Di dalam Kitab Ulangan fasal 18 ayat 15 telah ditulis perkataan Nabi Musa demikian bunyinya:

"Bahwa seorang Nabi dari tengah-tengah kamu dan antara segala saudaramu , dan yang seperti aku ini; yaitu yang akan dijadikan oleh Tuhan Allahmu bagi kamu, maka akan dia patutlah kamu dengar."

Kemudian pada ayat berikutnya , ayat 18 lebih dijelaskan lagi sebagai sabda Tuhan Allah kepada Musa disuruh menyampaikan kepada Bani Israil:

"Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka seorang Nabi dari antara segala saudaranya, yang seperti engkau, dan Aku akan rnemberi segala firmanKu dalam mulutnya dan iapun akan mengatakan kepadanya segala yang aku suruh akan dia."

Di ayat berikutnya (ayat 19) Iebih dijelaskan lagi;

"Bahwa sesungguhnya barangsiapa yang tidak mau dengar akan segala firmanKu, yang akan dikatakan olehnya dengan namaKu, niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang lain."

Setelah itu pada ayat 20 dijelaskan lagi perbedaan di antara Nabi yang benar-benar Nabi dengan Nabi palsu. Demikian firman Tuhan dengan per­antaraan Nabi Musa.

"Tetapi adanya Nabi yang melakukan dirinya dengan sombong dan me­ngatakan firman dengan namaKu, yang tiada Kusuruh katakan, atau yang berkata dengan nama dewa-dewa , niscaya orang nabi itu akan mati dibunuh hukumnya."
Kernudian pada ayat berikutnya (ayat 21) dijelaskan lagi:

"Maka jikalau kiranya kamu berkata dalam hatimu demikian; dengan apakah boleh kami ketahui akan perkataan yang bukannya firman Tuhan adanya?"

Ayat 22 seterusnya menjelaskan tanda itu demikian:

"Bahwa jikalau Nabi itu berkata demi nama Tuhan, lalu barang yang dikatakannya itu tiada jadi atau tiada datang, jatuhlah perkataan yang bukan firman Tuhan adanya , maka Nabi itupun telah berkata dengan sombongnya, janganlah kamu takut akan dia."

Ayat-ayat ini terpancang dengan jelasnya di dalam Kitab Ulangan tersebut, yang menurut keyakinan orang Yahudi, kitab itu adalah salah satu dari rang­kaian Kitab Taurat.
Orang Kristenpun mengakuinya. Kumpulan kitab yang sebelum Nabi Isa a.s. mereka namai "Perjanjian Lama".
Ayat 20 tersebut sesuai bunyinya dengan al-Quran Surat al-Haqqah (Surat 69), ayat 44, 45 dan 46; yaitu jikalau Nabi Muhammad s.a.w. berani mengatakan suatu perkataan yang bukan wahyu dikatakannya wahyu, diapun akan di­bunuh: "Akan Kami putusken urat lehernya."
Dari antara segala saudara itu, ialah saudara yang satu keturunan yaitu Bani Israil adalah keturunan dari Ishak dan orang Arab adalah keturunan dari Ismail.

Keduanya anak kandung Nabi Ibrahim , maka dari kalangan Bani lsrail itupun akan diutus Tuhan seorang Nabi yang seperti engkau, yaitu seperti Nabi Musa juga.

Demikianlah bunyi firman Tuhan itu, yang sampai sekarang tetap ter­pancang didalam Kitab Ulangan tersebut.
Tetapi orang Yahudi sengaja me­nyembunyikan kebenaran itu. Dan orang Nasrani menafsirkannya kepada Nabi Isa bukan kepada Nabi Muhammad. Padahal kalau difikirkan dengan tenang dan jujur, lebih serupalah Nabi Musa dengan Nabi Muhammad, daripada dengan Nabi Isa. Dan kalau difikir secara jujur pula, jauhlah perbedaan Musa dengan Isa. Lebih banyak keserupaan Musa dengan Muhammad. Musa dan Muhammad sama-sama lahir sebagai manusia biasa, yaitu berbapa. Bapa Musa keturunan Bani Israil clan Bapa Muhammad keturunan Bani Ismail.

Tetapi kebenaran dan kenyataan firman ini mereka sembunyikan. Di zaman Rasulullah s.a.w. masih hidup, benar-benar naskah itu,tidak mereka bolehkan jatuh ketangan orang-orang yang beriman. Tetapi di zamari sekarang dengan kemajuan cetak-mencetak dan telah disalinnya Kitab-kitab itu ke dalam segala bahasa , tidaklah dapat mereka sembunyikan lagi.

Sungguhpun begitu mereka berkeras memberikan tafsir yang lain. Orang.Yahudi mengatakan bahwa Nabi yang disebutkan itu bukanlah Muhammad, melainkan Nabi yang lain masih ditunggu. Dan orang Nasrani berkeras juga mengatakan bahwa Nabi yang disebut itu ialah Isa Almasih; sebab kata mereka Isa Almasih itu keturunan Daud. Padahal Yusuf yang kawin dengan Maryam sesudah Isa lahirlah yang keturunan Daud bukan Isa. Silsilah keturunan Yusuf dari Daud itulah yang ditulis Matius dalam Injilnya fasal 1 ayat 1 sampai ayat 17. Bukan keturunan lsa Almasih, sebab dia bukanlah anak dari Yusuf tersebut, Isa tidak berbapak.

Dan segala puji bagi Tuhan. Nabi kita Muhammad s.a.w. bukanlah mem­buat-buat wahyu sendiri dan bukan menyerukan dewa-dewa. Sebab itu bukan­lah beliau mati dihukum bunuh, dengan diputus urat lehernya. Seorang perempuan Yahudi yang jahat telah mencoba meracuni beliau seketika beliau menaklukkan benteng Khaibar. Tetapi cepat beliau tahu. Sahabatnya Abu Bakar termakan juga sedikit racun itu. Sejak termakan racun itu kesihatan Abu Bakar sangat mundur. Salah satu penyakit yang membawa ajalnya ialah bengkak dalam perut, bekas racun tersebut.

Seketika ditanyakan kepada perempuan tersebut mengapa dia berbuat demikian keji, dengan terus-terang perempuan itu berkata bahwa kalau dia memang Nabi, niscaya dia akan tahu racun itu.

Maka yang dimaksud dengan ayat yang akan kita tafsirkan ini ialah penyembunyian kebenaran yang telah mereka lakukan itu; karena tidak mau percaya kepada Utusan Tuhan, sampai hatilah mereka menyembunyikan. Berani mereka berlangkah curang terhadap yang mereka sendiri mengakui Kitab Suci. Tentu laknat kutuk Allahlah yang akan menimpa orang yang demikian. Dan manusiapun akan mengutuk selama manusia itu masih ingin akan kebenaran. Apatah lagi tulisan itu tidak dapat dihilangkan, melainkan bertambah tersebar di muka bumi ini. Orang yang datang di belakang tentu hanya menurut tafsiran yang telah ditentukan oleh orang yang dahulu.

Ayat yang tengah kita tafsirkan ini adalah celaan keras atas perbuatan curang terhadap kebenaran. Sebab itu janganlah kita hanya menjuruskan perhatian kepada sebab turunnya ayat, yaitu pendeta Yahudi dan Nasrani tetapi menjadi peringatan juga kepada kita ummat Muslimin sendiri. Apabila orang-orang yang dianggap ahli tentang agama tentang al-Quran dan Hadits telah bersikap pula menyembunyikan kebenaran, misalnya karena segan ke­pada orang yang berkuasa, atau takut pengaruh akan hilang terhadap pengikut­pengikut mereka, maka kutuk-yang terkandung dalam ayat inipun akan me­nimpa mereka.

Terutama dari hal Amar Ma'ruf , Nahi Munkar, menganjur-anjurkan berbuat yang baik-baik dan mencegah daripada mungkar, menjadi kewajiban­lah bagi orang-orang yang telah dianggap ahli dalam hal agama. Apatah lagi karena sabda Nabi:

"Ulama-ufama adalah penjawat waris Nabi-nabi." Dirawikan oleh Abu Daud, Termidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Baihaqi dari Hadis Abu Darda'.

Lantaran itu dalam Islam ulama mempunyai dua kewajiban, yaitu menuntut ilmu agama untuk mengajarkanriya pula kepada orang yang belum rahu, sehingga diwajibkan bagi yang belum tahu itu bertanya kepada yang tahu. Kewajiban yang kedua menyampaikan atau mentablighkan. Ulama dalam Islam bukanlah hendaknya sebagai sarjana yang duduk di atas istana gading, men­jauhkan diri dari bawah dan melihat-lihat saja dari atas. Lantaran itu maju mundurnya agama di suatu negeri amat bergantung kepada aktif tidaknya ulama di tempat itu dalam menghadapi masyarakat. Kalau mereka telah menyembunyikan pula ilmu dan pengetahuan , keterangan keterangan dan petunjuk , kutuk laknat Tuhanlah yang akan menimpa dirinya. Dan manusiapun mengutuk pulalah , sehingga kadang-kadang jika terdapat banyak maksiat di satu negeri, maka bertanyalah orang: "Tidakkah ada ulama di sini?"

Imam Ghazali menceritakan bahwa shufi yang besar itu, Hatim si Tuli (al-Asham) datang ke satu negeri Islam dan bermaksud hendak berdiam lama di sana. Tetapi baru tiga hari dirobahnyalah niatnya , dia hendak segera berangkat meninggalkan negeri itu. Maka bertanyalah orang kepadanya , mengapa tidak jadi niatnya diteruskari hendak menetap di negeri itu ? Beliau menjawab: "Sudah tiga hari saya di sini, tidak pernah saya mendengar suatu pengajianpun dalam negeri ini. Tidak ada rupanya ulama di sini yang sudi mencampungkan dirinya kepada orang awam buat mengajar mereka. Maka kalau aku tahan lama-lama di sini akan matilah aku."

إِلاَّ الَّذِيْنَ تَابُوْا
"Kecuali orang-orang yang bertaubat."(pangkal ayat 160)

Taubat artinya kembal:. Yaitu kembali kepada jalan yang benar. Karena jalan menyembunyi­kan kebenaran itu adalah jalan yang sesat.

وَ أَصْلَحُوْا
"Dan berbuat perbaikan. "

Maka langkah yang salah selama ini diperbaiki kembali, lalu mereka jelaskan ke benaran dan tidak ada yang disembunyi-sembunyikan lagi. Atau , mana-mana keadaan yang salah dalam masyarakat segera diperbaiki, sediakan seluruh waktu buat ishlah.

وَ بَيَّنُوْا
"Dan mereka yang memberikan penjelasan. "

Terangkan keadaan yang sebenar-benarnya, jangan lagi berbelok-belok, karena kedustaan tidaklah dapat dipertahankan lama.

فَأُولَئِكَ أَتُوْبُ عَلَيْهِمْ
"Maka mereka itulah yang akan Aku beri taubat atas mereka. "

Inilah penegasan dari Tuhan, bahwa apabila orang te!ah kembali ke jalan yang benar, telah insaf, dan keinsafan itu dituruti dengan kegiatan menyelesaikan yang kusut, menjernihkan yang telah keruh, mern­perbaiki yang telah rusak dan tidak bosan-bosan memberikan penjelasan, segeralah Tuhan akan memberikan taubatnya. Dan segeralah keadaan akan berubah, sebab yang berubah itu ialah orang yang bersalah sendiri.

وَ أَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
"Dan Aku adalah Pemberi taubat, lagi Penyayang." (ujung ayat 160).

Apabila orang telah insaf akan kesalahannya itu, dan segera dia berbalik ke jalan yang benar, maka Tuhanpun cepatlah menerima taubatnya. Kelalaian yang sudah-sudah segera diampuni. Dan Tuhanpun Penyayang; niscaya akan diberiNya pimpinan, bimbingan dan bantuan kepada orang yang telah mulai menempuh jalan yang benar itu.

Lantaran itu maka terhadap ayat ini janganlah kita terlalu berpegang kepada Asbabun-Nuzul.(sebab turun ayat). Karena sudah ditakdirkan Allah didalam hikmatNya yang tertinggi bahwa perlombaan golongan-golongan agama akan masih tetap ada di dunia ini, untuk oramg berlomba berbuat yang baik. Maka ayat ini menjadilah hasungan bagi kita yang telah menyambut al-Quran supaya menghindarkan diri daripada menyembunyikan kebenaran. Mari kita kembali ke jalan Tuhan dan membuat ishlah dan memberikan penjelasan.

إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا
"Sesumgguhnya orang-orangyang tidak rnaupercaya."(pangkal ayat 161),

padahal segala keterangan telah diterimanya , dan dia masih berkeras kepala mernpertahankan yang salah dan tidak mau berganjak daripadanya.

وَ مَاتُوْا وَ هُمْ كُفَّارٌ
"Dan mati padahal mereka masih di dalam kufur,"

sehingga kesempatan yang selalu diluangkan Tuhan bagi mereka, tidak mereka pergunakan. mereka itu,

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللهِ وَ الْمَلآئِكَةِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْن
"atas mereka adalah laknat Allah dan Malaikat dan manusia sekaliannya."(ujung ayat I61).

Kebenaran sudah datang, masih saja tidak mau menerima. Alasan buat menariknya tidak ada selain dari keras kepala atau ta'ashshub, mempertahankan yang salah. Niscaya kutuk laknatnya yang akan menimpa mereka terus menerus. Sebenarnya kutuk dari Allah sajapun sudah cukup; tetapi oleh karena kebenaran Allah itu turut juga dipertahankan oleh Malaikat, yang selalu me­nyembah Allah clan mensucikanNya,'tentu terganggulah perasaan Malaikat melihat kebenaran disanggah. Tidak pelak lagi, MaTaikat itupun mengutuk. Dan umumnya manusiapun menghendaki kebenaran clan tidak menyenangi kecu­rangan clan kekerasan kepala. Niscaya nranusiapurr turut mc:ngutuk pula. Maka laknat Allah dan Malaikat serta manusia itu akan didapatnya terus-menerus:

خَالِدِيْنَ فِيْهَا
"Kekal mereka di dalamnya" (pangkal ayat 162).

Kekal dalam kutukan, walaupun telah hancur tulangnya dalam kubur. Ingatlah nama-nama sebagai Fir'aun, Karun, Haman dan Abu Lahab yang tersebut dalam al-Quran, walau pun telah beribu tahun mereka mati , kutuk Allah dan kutuk Malaikat serta kutuk manusia masih rnereka terima. Bahkan jika timbul manusia lain mem­bawakan kekufuran sebagai mereka, terkenang lagi orang akan mereka dan mengutuk lagi: "Orang ini seperti Fir'aun! Orang ini jahat sebagai Abu Lahab." Dan sebagainya.

لاَ يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ
"Tidak akan diringankan azab atas mereka."

Yaitu azab akhirat di samping kutukan di dunia.

وَلاَ هُمْ يُنْظَرُوْ
"Da» tidaklah mereka akan diperduli­kan." (ujung ayat 162).

Akan dibiarkan mereka berlarut-larut dalam siksaan akhirat.
Di dalam permulaan Surat al-Baqarah sudah juga diterangkan tentang kufur -atau orang kafir. Puncak kekafiran adalah mengingkari adanya Allah , atau mempersekutukanNya dengan yang lain, atau tidak mau percaya kepada adanya hari kemudian (Kiamat) atau tidak mau mengakui wahyu , atau berkata tentang Allah dengan tidak ada pengetahuan. Pendeknya segala sikap menalak kebenaran yang dijalankan agama dan mempertahankan yang batil, yang telah diterangkan batilnya oleh agama.



 وَ إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْم
(163) Dan Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa . Tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Murah, lagi Maha Penyayang.

إِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ وَ اخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ وَ الْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَ مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنَ السَّمَاء مِنْ مَّاء فَأَحْيَى بِهِ الْأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَ بَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَآبَّةٍ وَ تَصْرِيْفِ الرِّيَاحِ وَ السَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَ الْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُوْن
َ
(164) Sesungguhnya pada kejadian semua langit dan bumi dan perubahan malam dan siang d an kapal yang berlayar di lautan membawa barang yang bermanfaat bagi manusia, dan apa yang diturunkan Allah dari langit dari ada air, maka dihidupkanNya dengan (air) itu bumi, sesudah matinya , seraya disebarkanNya padanya dari tiap-tiap jenis binatang, dan peredaran angin, dan awan yang diperintah di antara langit dan bumi; adalah semua­nya itu tanda-tanda bagi kaum yang berakal.



Mengenal Allah Dengan Memperhatikan Alam

Sesudah Tuhan Allah memberikan peringatan yang demikian keras, bahwa kutuk laknat Allah dan Malaikat serta manusia akan datang timpa bertimpa ke atas diri orang yang tidak mau percaya, yang sampai matinya tetap dalam kufur. Tuhan pada ayat ini mengemukakan pokok ajaran agama tentang Tuhan. Dengan demikian orang diperingatkan lagi; janganlah hendaknya mereka sam­pai bertahan dalam kekafiran dan mati dalam kufur.

وَ إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ
"Dan Tuhan kamu itu, adalah Tuhan Yang Maha Esa, "(pangkal ayat 163).

Dialah ilah, Tuhan Pencipta. Berdiri sendiri Dia dalam kekuasaan dan pencipta­anNya, tidak bersekutu Dia dengan yang lain. Mustahil berbilang Tuhan itu; sebab kalau Dia berbilang, pecahlah kekuasaan. Mustahillah alam yang telah ada ini diciptakan oleh kekuasaan yang berbilang. Dia adalah Esa dalam sifatNya sebagai Ilah, sebagai Tuhan Pencipta. Dan Dia adalah Esa dalam sifatNya sebagai Pemelihara, sebagai Rabb

لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ
"Tidak ada Tuhan melainkan Dia. "

Apabila telah diakui TunggalNya dalam penciptaanNya, maka hanya Dialah yang wajib disembah dan dipuja. itulah yang bernama Tauhid Rububiyah. Dan setelah diakui bahwa Tunggal Dia dalam pemeliharaanNya atas alam, maka hanya kepadaNya sajalah tempat memohon pertolongan. Inilah yang disebut Tauhid Uluhiyah. Tersimpul keduanya di dalam ucapan: "Hanya kepada Engkau saja Kami menyembah; dan hanya kepada Engkau saja kami memohon pertolongan."

الرَّحْمَنُ الرَّحِيْم
"Yang Maha Murah, Yang Maha Penyayang," (ujung ayat 163).

Yang Maha Murah arti dari Ar-Rahman; maka Ar-Rahman adalah satu di antara sifatNya yang berhubungan dengan diriNya sebagai Ilah, sebagai Tuhan Pencipta. Ar-Rahman adalah sifat tetap pada dirinya: Sehingga untuk kejelasan sifat tetap Ar-Rahman itu, sifat ini selalu dimulai dengan memakai Alif-lam (AI). Ar-Rahim ialah sifatNya dalam keadaanNya sebagai Rabb, sebagai Tuhan Pemelihara. Maka membekaslah Ar-Rahim Tuhan pada pemeliharaan.

Inilah pokok pendirian agama. Bila pokok yang pertama ini sudah dipegang oleh seorang hamba, berarti dia telah memasuki pintu gerbang kepercayaan. Maka dihimpunkanlah dia ke dalam ucapan syahadat pendek La Ilaha Illallah.

"Tidak ada Tuhan melainkan Allah."
Tidak ada Tuhan yang patut aku sembah melainkan Allah. Tidak ada Tuhan tempat aku meminta tolong melainkan Allah.

Menarik perhatian kita pada ayat ini ialah karena terlebih dahulu dia menerangkan Allah dalam keesaanNya: "Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa." Artinya bahwasanya dalam menciptakan alam ini Dia tidak bersekutu dengan yang lain; "La llaha illa Huwa. "Tidak ada Tuhan melainkan Dia sendirinya. Sebab itu tidak ada yang layak buat dipuja dan disembah, me­lainkan Dia.

Kalau Allah yang menciptakan alam, bukanlah kepada berhala kita meminta terimakasih.
"Yang Maha Murah lagi Maha Penyayang. "
Terasalah kemurahanNya dan kasih-sayangNya di dalam seluruh alam ini. SATU, tiada berserikat dan Pemurah serta Pengasih. Maka ayat ini selain menanamkan rasa Tauhid, adalah pula menanamkan rasa cinta. Rasa cinta adalah lebih mendalam jika kita selalu suka menikmati keindahan alam sekeliling kita. Tuhan Allah bukanlah diakui oleh akal saja adanya, bahkan juga dirasakan dan diresapkan dalam batin, dalam kehalusan dan keindahan. Itulah sebabnya maka lanjutan ayat ini adalah ayat yang menerangkan sebagian dari keindahan alam, yang lebih diketahui apabila pengetahuan tentang alam bertambah mendalam.

Maka datanglah ayat selanjutnya, lihatlah alam sekeliling ini:

إِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ
"Sesungguhnya pada kejadian semua langit dan bumi." (pangkal ayat 164).

Pertama sekali diperhatikanlah kejadian semua langit dan bumi; meng­hadap dan menengadahlah ke langit yang tinggi itu. Berlapis-lapis banyaknya, cuma mata kita dalam tubuh yang kecil ini hanya dapat melihatnya sedikit sekali. Sungguhpun sedikit yang dapat dilihat sudahlah sangat mengagumkan; Langit itu membawa perasaan kita menjadi jauh dan rawan sekali. Mengagum­kan dia pada malam hari dan menakjubkan dia pada siang hari.

Di sana terdapat berjuta-juta bintang hanya sedikit yang dapat dilihat dengan mata, dan lebih banyak lagi yang.tidak terlihat. Bumi adalah salah satu dari bintang-bintang yang banyak itu. Kita yang berdiam di bumi ini merasa bumi sudah besar, padahal dia hanya laksana sebutir pasir saja di antara bintang berjuta. Wahai, alangkah dahsyatnya kekuasaan Tuhan di langit.

Tidak mungkin semuanya itu terjadi dengan sendirinya. Suatu masa lantaran kagumnya manusia pada bintang ­bintang, ada yang menyangka itulah Tuhan. Ini menjadi bukti bahwa akal dan perasaan manusia sejak zaman purbakala telah merasakan bahwa tidaklah alam itu terjadi dengan sendirinya.

Bertambah tinggi pengetahuan manusia tentang ilmu falak , bertambah manusia kagum tentang sangat teraturnya perjalanan cakrawala langit itu. Adanya peraturan memastikan fikiran sampai kepada adanya yang mengatur.

Setelah lama kita menengadah ke langit , marilah menekur ke bumi; pada kejadian bumipun adalah hal yang menakjubkan. Ta'jub yang tidak akan selesai ­selesainya selama umur masih ada , selama akal masih berjalan dan selama bumi itu masih terkembang.

Dia hanya satu di antara berjuta bintang, tetapi alangkah banyaknya rahasia yang terpendam di dalamnya. Perhatian atas kejadian bumi adalah perhatian yang kedua. Bumi itu, hanya seperempat daratan, yang tiga perempatnya adalah lautan. Dalam-daratan yang seperempa: itu berapa ba­nyaknya rahasia kekayaan Ilahi yang terpendam dan berapalah baru yang diketahui oleh manusia. Dan dalam lautan yang tiga perempat itu , baru berapa yang terukur dan baru berapa yang diketahui. Tiap terbuka rahasia yang baru , ternyatalah bahwa di belakangnya berlapis-lapis lagi rahasia kejadian yang lain. Untuk mengetahui itu , hanya akal manusia jua yang berguna. Beribu-ribu universitas didirikan bagi penyelidikan rahasia bumi, maka semuanya menga­gumkan. Mungkinkah semuanya itu terjadi dengan kebetulan? Apakah adanya belerang, minyak tanah, emas, perak dan segala macam logam, garam dan lain ­lain itu terjadi tidak teratur? llmu telah mengatakan bahwa-semuanya itu teratur. Kalau tidak teratur, tidaklah dia menjadi ilmu !

Kemudian itu masuk kepada perhatian yang ketiga.

وَ اخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ
"Dan perubahan malam dan siang."

Pergiliran bumi mengelilingi matahari dalam falaknya sendiri yang menimbulkan hisab atau hitungan yang tepat, sampai dapat membagi tahun, bulan, hari dan jam dan minit serta detik. Sampai dapat mengetahui peredaran musim dalam setahun, sampai manusia hidup di dunia mencocokkan diri dengan edaran malam dan siang itu, sampai manusia mencatat apa yang dinamakan sejarah; baik sejarah ummat manusia seluruhnya, atau sejarah bangsa naik dan bangsa yang punah, atau sejarah orang seorang, mulai lahirnya, hidup dan matinya.

Teratur edaran malam dan siang itu karena teratur peredaran bumi dan perjalanan matzhari, sampai orang dapat menerka akan terjadi gerhana matahari 1,000 tahun lagi, bahkan 100,000 tahun lagi. Dapat manusia memastikannya dengan ilmu, bukan urusan tenung yang ghaib, karena sangat teraturnya. Mungkinkah peraturan yang seperti ini terjadi sendirinya dengan tidak ada yang mengatur?

Kemudian itu masuk kepada perhatian yang keempat:

وَ الْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ
"Dan kapal yang berlayar di lautan membawa barang yang bermanfaat bagi manusia. "

Sesungguhnya sejak zaman purbakala manusia telah tahu membuat kapal. Makanya manusia berani membuat kapal, walaupun pada mulanya sangat sederhana sekali, ialah karena kepada manusia telah diberikan pengetahuan tentang peredaran angin dan kegunaan laut.

Dengan kapal itu manusiapun mengenal akan manusia di pulau dan benua lain dan terjadilah perhubungan antara manusia karena pertukaran keperluan hidup. Supaya ada pertukaran kepen­tingan hidup sehari-hari. Apabila tadi diterangkan, hanya seperempat bahagian daratan, dan tiga perempat bahagian adalah lautan .

Beribu kali kapal diteng­gelamkan taufan dan ombak yang besar, namun keinginan manusia hendak berlayar tidaklah padam. Di dalam al-Quran, selain daripada ayat ini terdapat tidak kurang dari 23 kali sebutan kapal. Malahan di zaman Nabi Nuh telah dipergunakan kapal untuk pengangkutan besar-besaran. ini menjadi bukti bahwa al-Quran telah membayangkan kesanggupan manusia membuat yang lebih sempurna. Sehingga di zaman sekarang berlayar dengan kapal-kapal sebagai Empress of Britain, Queen Elizabeth, Queen.Mary; United States dan lain-lain, adalah laksana berlayar dalam sebuah negeri. Sampai ada kapal yang mempunyai bioskop sendiri, pemandian besar, suratkabar harian sendiri, tele­visi sendiri, dan sebagainya.

Kemudian telah berpindah pula ke udara dengan berbagai ragam penerbangan, sesudah terlebih dahulu menyelam ke dasar laut dengan kapal selam, dan sekarang telah ada kapal selam yang dijalankan dengan tenaga atom. Bagairnana rnanusia akan mencapai kemajuan yang sepesat ini dalam perkapalan, sehingga hubungan dengan bahagian-bahagian dunia yang begini jauh sudah demikian rapatnya ? lalah karena kepada manusia diberikan ilrnu tentang pelayaran. Dengan mendapat ilmu itu mengertilah manusia akan sebahagian kecil daripada rahasia alam. Dan kembalilah mereka kepada pokok pangkal, yaitu bahwa semuanya ini tidaklah terjadi dengan sia-sia atau kebetulan. Pasti ada pengaturannya.

Kemudian itu masuk pula kepada perhatian yang kelima:

وَ مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنَ السَّمَاء مِنْ مَّاء فَأَحْيَى بِهِ الْأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَ بَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَآبَّةٍ
"Dan apa yang diturunkan Allah dari langit daripada air, maka dihidupkanNya dengan (air) itu bumi sesudah matinya, seraya disebarkanNya padanya dari tiap-tiap jenis binatang."

Di sini secara pendek diterangkan kepentingan air hujan, meng­hidupkan bumi yang telah mati. Bila hujan datang bumi itupun hidup kembali. Tumbuhlah segala macam tumbuh-tumbuhan karena adanya air. Hujan itu ada yang meresap ke bawah tanah, kelak menjadi telaga. Ada yang mengalir menjadi sungai-sungai bandar berkali untuk mengairi sawah dan ladang , dan alirannya yaAg terakhir melalui tempat yang rendah ialah ke laut. Kelak dari laut akan menguap lagi ke udara, untuk menyusun diri lagi untuk menjadi hujan. Dengan adanya hujan atau turunnya air dapatlah segala-galanya hidup, baik tumbuh-tumbuhan atau binatang berbagai jenis, termasuk manusia sendiri. Dan berusahalah manusia membuat irigasi, bendungan air, dam-dam besar. Malahan satu bendungan besar telah dikenal dalam negeri Saba' 1,000 tahun sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan ada ayat yang khas membicarakannya dalam al-Quran, bagaimana kemakmuran negeri itu ketika bendungan air masih dipelihara baik-baik, dan bagaimana pula bangsa itu menjadi punah setelah bendungan itu tidak dipelihara lagi, sampai mereka mengembara kian ke mari dibawa nasib.*

Perhatian yang keenam ialah:

وَ تَصْرِيْفِ الرِّيَاحِ
"dan peredaran angin."

Yang kita sebut di zaman kita ini peredaran cuaca. Bahkan kepandaian manusia di zaman moden, dalam rangka penyelidikan geofisika telah dapat mengetahui peredaran ke timur dan ke baratnya, ke utara dan ke selatannya, menentukan pada jam sekian akan keras angin, pada jam sekian udara agak panas sedikit, dan jam sekian akan turun hujan. Bagaimana usaha manusia akan dapat mengetahui sepasti itu, menjadi ilmu pengetahuan kalau bukan lantaran teraturnya. Siapa­kah pengatur itu? Niscaya adalah Tuhan!.

Perhatian yang ketujuh:

وَ السَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَ الْأَرْضِ
"Dan awan yang diperintah di antara langit dan bumi."

Pada ayat ini di antara angin dengan awan dipisahkan perhatiannya; karena angin boleh dikatakan dekat kepada manusia setiap hari dan awan beredar pada cakrawalai.yang lebih tinggi. Dia diperintah atau diatur beredar ke sana dan beredar ke mari, membagi-bagikan hujan dan pergantian suhu pada bumi. Bertambah moden hidup manusia bertambah penting perhatian kepada pergeseran awan itu, untuk menentukan penerbangan kapal terbang di udara.

Dan di ujung sebagai kuncinya Tuhan bersabda:

لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ
"Adalah semuanya itu tanda-tanda bagi kaum yang berakal." (ujung ayat 164).

Fikirkanlah dan renungkan ketujuh soal yang dikemukakan Tuhan itu! Dia menghendaki kita mempergunakan akal. Dia menghendaki manusia menjadi sarjana dalam lapangan masing-masing. Mencari Tuhan setelah mempelajari alam. Itu §cbabnya maka di dalam surat Fathir (Surat 35 ayat 28), dengan tegas Tuhan berkata:

"Sesungguhnya yang akan takut kepada Allah, hanyalah orang-orang yang berpengetahuan." (Fathir: 28)
Di ayat ini disebutkan ulama, menurut artinya yang asli, yaitu orang yang berilmu. Dengan ayat ini dapatlah kita fahamkan bahwasanya mencari Tuhan
* Surat Saba' surat 34, ayat 15 sampai ayat 21.

dalam ajaran Islam ialah dengan memperdalam penyelidikan tentang alam. Maka Tuhan Allah yang didapat dari sebab ilmu itu, jauh lebih mendalam pengaruhnya atas jiwa dan budi daripada apa yang ditentukan ilmu sifat 20 , atau susunan manusia atau ilmu theologi orang Kristen yang memberi bentuk Tuhan itu sebagai manusia , atau Tuhan menjelmakan diri sebagai manusia.

Penyelidikan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah demikian tinggi pada abad kita ini rupanya telah membawa para sarjana kepada keimanan akan adanya Tuhan menurut , sistem yang diajarkan oleh al-Quran ini. Beberapa buku tentang kepercayaan kepada adanya Allah Yang Maha Kuasa, ditinjau dari segi ilmu telah banyak dikeluarkan orang. Satu di antaranya karancan Prof. Cresson telah disalin ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Manusia Tidak Hidup Sendirian. Satu buku yang lain yang berjudui Telah Jelas Allah Di Zaman Ilmu Pengetahuan. Beberapa orang ahli telah menulis dalam buku itu dan dari bidangnya masing-masing tentang hal ini.*/Buku ini telah disain oleh Dr. Damardasy Abdulmajid Sarhan ke bahasa Arab.

Dari tulisan Dr. Frank Allan yang dimu!ai di halaman 7 dapat dikutip di antaranya begini: "..... pastilah asal-usul alam ini ada penciptanya, yaitu yang dahulu tidak ada permulaan Yang Maha Tahu dan Maha Meliputi PengetahuanNya itu atas segala-galanya. Maha Kuat, yang kekuasaanNya tidak terbatas. Pastilah seluruh yang ada ini Dia yang menciptakan .....
"Dan Dia adalah akal yang tidak berkesudahan, Dia Allah dengan sendiri­nya, dengan hikmat Yang Maha Sempurna mencipta bahagian bahagian dari proton itu, sehingga bisa menjadi penetapan dari hidup. Maka Dia bangunkan dan Dia beri bentuk dan diberiNya anugerah rahasia hidup."

Di halaman 41 didapat pula tuiisan Dr. George Earl David: "Bertambah maju kendaraan ilrnu pengetahuan dan bertambah jauh terbelakang segala dongeng khurafat kuno, bertambahlah pula penilaian manusia terhadap agama dan penyelidikan keagamaan.

"Mungkin banyak sebabnya yang mendorong; manusia supaya meninjau kembali soal-soal agama, tetapi kita percaya bahwa semuanya itu pulangnya kepada satu sebab jua, yaitu keinginan manusia yang sangat jujur hendak sampai kepada kebenaran.

"Maka hendaklah kita pisahkan dalam hal ini di antara melawan agama atau keluar dari agama dengan atheist ( tidak bertuhan). Dan kita akui bahwa orang yang keluar dari sebagian fikiran-fikiran kuno beragama yang diterima dari ajaran setengah agama, karena hendak percaya kepada satu ujud Yang Maha Kuasa dan Maha Agung belumlah dituduh bahwa orang itu telah atheist , tidak mempercayai Tuhan . Orang semacam ini mungkin tidak memeluk suatu agama, tetapi dia percaya bahwa Tuhan Allah ada. Bahkan boleh jadi imannya kepada adanya Tuhan Allah berdiri atas sendi sendi yang amat kokoh."

Maka kalau kita turutkan pelajaran mencari Tuhan yang ada dalarn al­Quran dengan seksama, akan bertemulah kita dengan kenyataan bahwa mencari Tuhan secara ilmiah moden ini telah mendekati kepada yang di­kehendaki al-Quran.
Amat menarik lagi apa yang telah ditufis oleh Dr. Wolter Oscar Lindberg, yang dimulai di halaman 33 di antaranya demikian:
"Kegagalan beberapa sarjana di dalam memahami dan menerima pokok-pokok dasar pendirian tentang pengakuan adanya Tuhan dari segi ilmu pengetahuan adalah dari beberapa sebab. Dua di antaranya hendak kita sebutkan:

Pertama: Maka orang sampai tidak percaya kepada adanya Allah, ialah karena langkah yang ditempuh oleh setengah organisasi atau gerakan inter­nasionai yang berdasarkan atheist, menurut program politik tertentu, yang bertujuan menyebarkan faham tidak bertuhan dan memerangi kepercayaan kepada Allah. Sebab mereka pandang bahwa kalau kepercayaan kepada Tuhan masih ada, -sangatlah bertentangan dengan dasar gerakan itu.

Kedua: Walaupun telah bebas akal manusia dari ketakutan , tidak juga mudah membebaskannya dari fanatik dan sentimen. Di dalam sekalian gerakan agama Kristen selalu ditanamkan kepercayaan, sejak dari masa kanak-kanak bahwa Tuhan itu ialah berupa manusia, sebagai pengganti dari kepercayaan bahwa manusia itu adalah Khalifah Allah di bumi ini. Dan setelah akal ber­tumbuh selanjutnya dan dilatih mempergunakannya dalam metode-metode ilmu pengetahuan, maka rupa yang ditanamkan sejak masa kanak-kanak itu tidak jugalah dapat mereka sesuaikan dengan jalan berfikir teratur atau logika yang dapat diterima. Akhirnya setelah gagal segala usaha menyesuaikan fikiran keagamaan yang kuno itu dengan metode berfikir ilmiah dan logika , kita dapati ahli-ahli fikir yang demikian mencoba melepaskan dirinya dari kesulitan itu dengan membuang habis fikiran tentang Allah.

Setelah mereka sampai ke dalam keadaan yang begini di dalam persangkaan bahwa mereka telah me­lepaskan diri dari pada kekacauan fikiran agama bersamaan dengan hasil-hasil yang menyebabkan kekacauan dalam jiwa, maka tidaklah mereka mau lagi kembali memikir-mikirkan soal ini, bahkan mereka tantang setiap fikiran baru yang ada hubungannya dengan memperkatakan tentang Tuhan."

Menarik pula tulisan Dr. George Herbert Blunt, di antaranya di halaman 84:

"Semata-mata telah percaya tentang adanya Tuhan, belumlah menyebab­kan seorang telah dapat disebut beriman. Karena setengah manusia takut akan ikatan-ikatan yang dibelenggukan kepada kemerdekaan fikirannya karena mengakui bahwa Allah itu ada. Ketakutan itu bukan tidak berdasar. Karena kita saksikan kebanyakan sekte-sekte Kristen, sampaipun kepada sekte yang boleh disebut besar, kerap memaksakan suatu macam fikiran kepadanya secara diktator. Tidak syak lagi bahwa kediktatoran fikiran ini lain tidak hanyalah bikinan manusia saja, bukan suatu keharusan dari agama. Misalnya Kitab injil sendiri; Dia memberi orang kebebasan berfikir seketika dia berfikir bersama-­sama."

Dan.sebagai kuncinya kita salinkan perkataan Dr. John Adolf Bohler dari halaman 104 dan 105:

"Dan pastilah kita dapat merasakan kodrat Allah pada sekalian peraturan yang Dia jadikan dan undang-undang yang tunduk kepada sekalian yang ada. Mungkin manusia ini sanggup menafsirkan segala yang sulit karena telah mendapat rahasia dari peraturan-peraturan yang mengaturnya itu. Tetapi manusia lemah tak sanggup untuk membuat sendiri undang-undang itu, sebab undang-undang itu adalah ciptaan Allah semata-mata. Kepandaian manusia hanyalah membongkar-bongkar rahasia itu untuk dipakainya mencapai rahasia alam yang belum dia ketahui. Setiap undang-undang dan peraturan yang didapat oleh manusia sebenarnyalah akan memperdekatkannya kepada Allah, dan kemampuan untuk mencapaiNya. Itulah dia tanda-tanda yang dengan dia Allah itu bertambah nyata. Mungkin buat mengenal Allah bukan ini saja jalan satu-satunya. Mungkin juga Allah dapat kita kenal dari Kitab-kitab Suci misal­nya. Tetapi kejelasan ada Allah yang disaksikan pada penciptaanNya atas alam yang kita saksikan ini bolehlah dikatakan yang sepenting-pentingnya dipandang dari segi kita."

Banyak lagi kata-kata lain dalam buku itu yang tidak dapat lengkap kalau hanya kita salin saja. Yang lebih baik ialah bila ditelaah seluruh isi buku itu, akan mernberikan kesan pada kita, bahwa dalam kalangan sarjana-sarjana alam yang besar di zaman moden ini telah timbul suatu kepercayaan Yang murni terhadap adanya Allah, ialah sebagai akibat daripada mendalamnya, ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan tehnik dan fisika atau apa yang disebut ilmu pengetahuan eksakta.

Renungkan kembali ayat yang kita tafsirkan ini dan baca kesan dari ahli-ahli dan sarjana itu, sampai kita kepada kesimpulan: "Dengan mempelajari keadaan alam, kita akan sampai kepada kepercayaan akan adanya Allah."

Sistem yang dianggap moden ini telah dimulai oleh al-Quran sejak 14 abad Yang lalu.
Dan dengan ini kita mendapat kesan pula bahwasanya suatu ilmu pengeta­huan moden yang menjauhkan diri daripada kepercayaan akan adanya Allah, sudah terhitung kolot, atau dikacaukan oleh ambisi-ambisi politik golongan tertentu.


/center>