Tafsir Al-Azhar - Surah Baqarah Aya-21 to 50 (Indonesia)



 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَ الَّذِيْنَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

(21) Wahai manusia ! Sembahlah olehmu akan Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu ter­pelihara .


اَلَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشاً وَ السَّمَاءَ بِنَاءً وَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوْا ِللهِ أَندَاداً وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْنَ

(22) Yang telah menjadikan untuk kamu akan bumi jadi hampar­an dan langit sebagai bangun an, dan diturunkanNya air dari langit, maka keluarlah dengan sebabnya buah-buahan, rezeki bagi kamu; maka janganlah kamu adakan bagi Allah sekutu-sekutu, padahal kamu mengetahui.


وَ إِنْ كُنتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهِ وَ ادْعُوْا شُهَدَاءَكُم مِّنْ دُوْنِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ

(23) Dan jika adalah kamu dalam keraguan dari hal apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, Maka datangkanlah sebuah Surat yang sebanding dengan dia dan panggilah saksi-saksi kamu selain dari Allah itu, jika adalahkamu orang yang benar.


فَإِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَ لَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَ الْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِيْنَ

(24) Maka jika kamu tidak dapat membuat, dan sekali-kali kamu tidak akan dapat membuat, maka takutlah kamu kepada neraka yang penyala­kannya ialah manusia dan batu, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.


وَ بَشِّرِ الَّذِيْن آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِيْ مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا قَالُوْا هَذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَ أُتُوْا بِهِ مُتَشَابِهاً وَلَهُمْ فِيْهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ

(25) Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman dan beramal ­shalih, bahwasanya untuk mereka adalah surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai­ sungai. Tiap-tiap kali diberikan kepada mereka suatu pem­berian dari semacam buah-buahan, mereka berkata : "Inilah yang telah dijanjikan kepada kita dari dahulu". Dan diberikan kepada mereka akan dia serupa, dan untuk mereka di dalamnya ada isteri­i steri yang suci, dan mereka akan kekal di dalamnya.


Martabat dan tingkat yang dapat dicapai oleh orang yang beriman karena menerima petunjuk Tuhan sudah diterangkan, sebab-sebab orang menjadi kafirpun sudah dijelaskan. Orang yang pecah rohani dengan jasmaninya sehingga menjadi munafikpun sudah. Manusia yang mempergunakan akalnya sudahlah dapat mengerti jalan mana yang akan dia tempuh, jalan selamat atau jalan celaka. Sekarang dihentikan itu dahulu dan disuruhlah manusia supaya dengan pikiran yang tenang memikirkan hubungannya dengan 'Iuhan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ
"Wahai Manusia !" (pangkal ayat 21). -

Rata seruan kepada seluruh manusia yang telah dapat berpikir

اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ
"Sembahlah olehmu akan Tuhanmu yang telah menciptakan kamu "

Dari tidak ada, kamu telah diadakan dan hidup di atas bumi. 

وَ الَّذِيْنَ مِن قَبْلِكُمْ
"Dan orang-orang yang sebelum kamu. "

Artinya datang ke dunia mendapat sawah dan ladang, rumah tangga dan pusaka yang lam dari nenek moyang sehingga yang datang kemudian hanya melanjutkan apa yang dicencang clan dilatih oleh orang tua-tua. Maka orang tua-tua yang telah meninggalkan pusaka itupun Allah jualah yang menciptakan mereka. Disuruh mengingat itu -

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
"Supaya kamu terpelihara. " (ujung ayat 21).

Disuruh kamu mengingat itu agar insaf akan kedudukanmu dalam bumi ini. Dengan mengingat diri dan mengingat kejadian nenek moyang bersambung ingatan yang sekarang dengan jaman lampau, supaya kelak diwariskan lagi kepada anak-cucu, yaitu supaya selalu terpelihara atau dan memelihara diri dan kemanusiaan, jangan jatuh martabat jadi binatang. Yaitu dengan jalan beribadat, berbakti dan menyembah kepada Tuhan, menyukuri nikmat yang telah dilimpahkanNya. Pikirkanlah olehmu hai manusia, akan Tuhanmu itu :

اَلَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشاً
"Yang telah menjadikan untuk kamu akan bumi, jadi hamparan. " (pangkal ayat 22).

Terbentang luas sehingga kamu bisa hidup makmur di atas hamparannya itu.

وَ السَّمَاءَ بِنَاءً
"Dan langit sebagai bangunan "

yang dapat dirasakan melihat awannya yang bergerak di waktu siang dan bintangnya yang gemerlap di waktu malam dan mataharinya yang memberikansinar dan bulannya yang gemilang cahaya.

وَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ
"Dan diturunkanNya air dari langit"---dariatas---" Maka keluarlah dengan sebabnya buah-buahan, rezeki bagi kamu. "

Maka pandanglah dan renungkanlah itu semuanya, sejak dari buminya sampai kepada langitnya, sampai kepada turunnya air hujan menyuburkan bumi itu. Teratur turunnya hujan menyebabkan suburnya apa yang ditanam. Kebun subur, sawah menjadi, dan hasil tanaman setiap tahun dapatlah diambil buat dimakan.

Pikirkanlah dan renungkanlah itu semuanya, niscaya hati sanubari akan merasa bahwa tidak ada orang lain yang sekasih, sesayang itu kepadamu. Dan tidak ada pula kekuasaan lain yang sanggup berbuat begitu; menyediakan ternpat diam bagimu, menyediakan air dan menumpahkan bahan makanan yang boleh dikatakan tidak membayar. Sehingga jika terlambat hujan turun dari jangka yang terbiasa, tidaklah ada kekuatan lain yang sanggup mencepatkan datangnya.

فَلاَ تَجْعَلُوْا ِللهِ أَندَاداً وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْنَ
"Maka janganlah kamu adakan bagi Allah sekutu­ sekutu, padahal kamu mengetahui ." (ujung ayat 22).

Tentu kalau telah kamu pakai pikiranmu itu, mengetahuilah kamu bahwa Yang Maha Kuasa hanyalah Dia sendiriNya. Yang menyediakan bumi buat kamu hanya Dia sendiriNya, yang menurunkan hujan, menumbuhkan dan menghasilkan buah-buahan untuk makananmu hanya Dia sendiriNya. Sebab itu tidaklah pantas kamu buatkan untuk Dia sekutu yang lain. Padahal kamu sendiri merasa bahwa tidak ada yang lain itu berkuasa. Yang lain itu cumalah kamu bikin-bikin saja.

Ayat ini akan diikuti lagi oleh banyak ayat yang lain, yang nadanya menyeru dan membangkitkan perhatian manusia terhadap alam yang berada sekelilingnya. Ayat ini telah menunjukkan kehidupan kita di atas bumi yang subur ini, menyambung keturunan dari nenek-moyang kita.

Dikatakan di sini bahwa bumi adalah hamparan, artinya disediakan dan dikembangkan laksana mengembangkan permadani, dengan serba-serbi keseluruhannya. Dan di atas kita terbentanglah langit lazuardi, laksana satu bangunan besar. Di atas langit itu terdapat matahari, bulan dan bintang dan awan gumawan dan angin yang berhembus sejuk. Lalu diterangkan pula bahwa kesuburan bumi adalah karena turunnya hujan dari langit, artinya dari atas.

Ayat ini menyuruh kita berpikir dan merenungkan, diikuti dengan merasakan. Bukanlah kemakmuran hidup kita sangat bergantung kepada pertalian langit dengan bumi lantaran hujan ? Adanya gunung gunung dan kayu kayuan, menghambat air hujan itu jangan tumpah percuma saja ke laut, tetapi tertahan-tahan dan menimbulkan sungai­sungai. Setengahnya terpendam ke bawah bumi menjadi persediaan air.

Pertalian langit dengan bumi, dengan adanya air hujan itu teratur dengan sangat rapinya, sehingga kehidupan kita di atas bumi menjadi terjamin. Ayat ini menyuruh renungkan kepada kita, bahwasanya semuanya itu pasti ada yang menciptakan; itulah Allah. Tak mungkin ada kekuasaan lain yang dapat membuat aturan setertib dan seteratur itu. Sebab itu maka datanglah ujung ayat mengatakan tidaklah patut kita menyembah kepada Tuhan yang lain, selain Allah :

فَلاَ تَجْعَلُوْا ِللهِ أَندَاداً وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْنَ
"Maka janganlah kamu adakan bagi Allah sekutu- sekutu, padahal kamu mengetahui." (ujung ayat 22).

Kamu sudah tahu bahwa yang menghamparkan bumi dan membangun langit, lalu menurunkan hujan itu, tidak dicampuri oleh kekuasaan yang lain.

Di sini kita bertemu lagi dengan apa yang telah kita tafsirkan di dalam Surat al Fatihah.
Di ayat 21 kita disuruh menyembah Allah, itulah Tauhid Uluhiyah; penyatuan tempat menyembah. Sebab dia yang telah menjadikan kita dan nenek-moyang kita; tidak bersekutu dengan yang lain. Itulah Tauhid Rububiyah.

Di ayat 22 ditegaskan sekali lagi Tauhid Rububiyah, yaitu Dia yang menjadikan bumi sebagai hamparan, menjadikan langit sebagai bangunan dan Dia yang menurunkan hujan, sehingga tumbuhlah tumbuh-tumbuhan untuk rezeki bagi kamu. Ini adalah Tauhid Rububiyah. Oleh sebab itu janganlah disekutukan Allah dengan yang lain; itulah Tauhid Uluhiyah.
Maka pelajaran Tauhid didapat langsung dari melihat alam.

وَ إِنْ كُنتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا
"Dan jika adalah kamu dalam keruguan dari hal apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami. " (pangkal ayat 23)
.
Hamba kami yang Allah maksudkan ialah Nabi kita Muhammad s.a.w, satu ucapan kehormatan tertinggi dan pembelaan atas diri beliau. Dan yang kami turunkan itu adalah al-Qur'an. Di ayat kedua permulaan sekali, Tuhan telah menyatakan bahwa al-Kitab itu tidak ada lagi keraguan padanya, petunjuk bagi orang yang bertakwa.

Tetapi sudah terbayang selanjutnya bahwa masih ada manusia yang ragu-ragu, yang menyebabkan mereka menjadi munafik, sehingga ada yang mulanya menyatakan percaya tetapi hatinya tetap ragu. Ditantanglah keraguan mereka itu dengan ayat ini.

فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهِ
"Maka datangkanlah sebuah Surat yang sebanding dengan dia. "

Tuhan bersabda begini, karena masih ada di antara yang ragu itu menyatakan bahwa al-Qur'an itu hanyalah karangan Muhammad s.a.w saja, sedang hamba Kami Muhammad s.a.w itu adalah manusia seperti kamu juga. Selama ini tidaklah dia terkenal seorang yang sanggup menyusun kata begitu tinggi mutunya atas kehendaknya sendiri, dan bukan pula terkenal dia sebagai seorang Kahin (tukang tenung) yang sanggup menyusun kata sastra.

Maka kalau kamu ragu bahwa sabda yang disampaikannya itu benar-banar dari 'huhan, karnu cobalah mengarang dan mengemukakan agak satu surat yang sebanding dengan yang dibawakan Muhammad itu! Cobalah. Apa salahnya! Dan kalau kamu tidak sanggup maka:

وَ ادْعُوْا شُهَدَاءَكُم مِّنْ دُوْنِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ
"Dan panggildah saksi-saksi kamu selain Allah, jika adalah kamu orang-orang yang benar. " (ujung ayat 23)

Panggillah ahli-ahli untuk membuktikan kebenaranmu. Kalau kamu tidak bisa, mungkin ahli-ahli itu bisa. Boleh kamu coba-coba. Ayat yang begini dalam bahasa Arab namanya tahaddi yaitu Tantangan.

Di jaman Mekkah ataupun di jaman Madinah, bukan sedikit ahli­ahli syair dan ada pula Kahin atau tukang mantra yang dapat mengeluarkan kata tersusun. Namun tidak ada satupun yang dapat menandingi al-Qur'an. Bahkan sampai kepada jaman kita inipun bangsa Arab tetap mempunyai pujangga--pujangga besar. Merekapun tidak sanggup membanding dan mengadakan tandingan dari al­Qur'an. Sehingga dipindahkan ke dalam kata lain, meskipun dalam bahasa Arab sendiri untuk menyamai pengaruh ungka,pan-ungkapan wahyu tidaklah bisa, apatah lagi akan mengatasi.

Dr. Thaha Husain, pujangga Arab yang terkenal dan diakui kesarjanaannya dan diberi gelar Doctor Honoris Causa oleh beberapa Universitas Eropa, sebagai Universitas di Spanyol, Italia, Yunani, yaitu sesudah dicapainya Ph.D. di Sarbonne, mengatakan bahwa bahasa Arab itu mempunyai dua macam sastra, yaitu prosa (manzhum) dan puisi (mantsur) yang ketiga ialah al-Qur'an. Beliau tegaskan bahwa al-Qur'an bukan prosa, bukan puisi, al-Qur'an ialah al-Qur'an.

Tahaddi atau tantangan itu akan berlaku terus sampai ke akhir jaman.Dan untuk merasai betapa hebatnya tantangan itu dan betapa pula bungkemnya jawaban atas tantangan, seyogianyalah kita mengerti bahasa Arab dan dapat membaca al-Qur'an itu.

Dengan demikianlah kita akan mencapai ainal yakin dari tantangan ini. Bertambah kita mendalaminya, mempelajari sastra-sastranya dan tingkatan-tingkatan kemajuannya, bahkan bertambah kita dapat menguasai istimewa itu, bertambah yakinlah kita bahwa tidak dapat dikemukakan satu Suratpun untuk menandingi al-Qur'an. Surat al­Baqarah rnengandung 286 ayat; telalu panjang.

Tetapi ada Surat yang pendek, sebagai Surat al-lkhash (Qul Hualluhu Ahad), atau Surat al­Kautsar (Inna Athaina); Surat yang sependek pendek itupun tidak ada manusia yang kuasa membuat surat tandingan untuk melawan dia.

فَإِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَ لَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَ الْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِيْنَ
" Maka jika kamu tidak dapat membuat, dan sekali-kali kamu tidak akan dapat membuat, maka takutlah kamu kepada neraka yang menyalakannya ialah manusia dan batu, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. " (ayat 24).

Kalau kamu sudah nyata tidak sanggup menandingi al­Qur'an, dan memang selamanya kamu tidak akan sanggup, baik susun kata atau makna yang terkandung di dalamnya, maka janganlah diteruskan juga lagi penantangan itu, lebih baik tunduk dan patuhlah, dan terimalah dengan tulus-ikhlas.

Jangan dilanjutkan juga lagi sikap yang ragu-ragu itu. Karena meneruskan keraguan terhadap perkara yang sudah nyata, akibatnya hanyalah kecelakaan bagi diri sendiri. Jika kebenaran yang telah diakui oleh hati masih juga ditolak, artinya ialah memilih jalan yang lain yang membawa kesesatan. Ka.lau dipilih jalan sesat, tentu nerakalah ujungnya yang terakhir. Neraka yang apinya dinyalakan dengan manusia dihukum dimasukkan ke dalamnya bercampur dengan batu-batu.

Perhatikan alun gelombang wahyu itu baik-baik. Ancaman bukanlah datang dengan serta-merta begitu saja. Lebih dahulu manusia diajak berpikir dan merenung alam, supaya sadar akan hubungan di antara mereka sebagai makhluk dengan Tuhan Allah sebagai Khaliq. Kalau masih ragu dipersilahkan rnembuat tandingan al-Qur'an. Dan inipun ternyata tidak sanggup. Kalau tidak sanggup bukanlah lebih baik tunduk dan menyatakan beriman ? Tetapi kalau bujukan lunak tidak diterirna, tantangan tidak sanggup menjawab, namun kekufuran diteruskan juga; apakah lagi yang pantas buat orang seperti ini, lain dari ancaman neraka ?

Manusia yang diancam akan menjadi penyalakan api neraka itu ialah yang keras kepala, sebagai pepatah orang kita, "Kanji tak lalu, airpun tak lalu," Yang ini tidak, yang itupun tidak. Tetapi menunjukkan yang mana ganti yang lebih baik, pun tidak sanggup. Ke mana lagi kalau bukan ke neraka ! Tetapi yang patuh clan sadar diberi kabar gembira.

وَ بَشِّرِ الَّذِيْن آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِيْ مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَار
"Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa untuk mereka adalah surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai­sungai. " (pangkal ayat 25).

Keras kepala nerakalah ancamannya. Tetapi kepatuhan dijanjikan masuk surga. Sedangkan yang diajak buat kepatuhan itu ialah hal yang masuk di akal dan hal untuk keselamatan hidup sendiri di dunia ini, bukan memaksa. yang tidak dapat dikerjakan.

ُ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا قَالُوْا هَذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَ أُتُوْا بِهِ مُتَشَابِهاً
"Tiap-tiap kali diberikan kepada mereka suatu pemberian dari semacam buah-buahan, mereka berkata : Inilah yang telah dijanjikan kepada kita dari dahulu. Dan diberikan kepada mereka akan dia serupa. "

Baik juga kita ketahui perlainan pendapat di antara ahli-ahli tafsir tentang mafhum ayat ini. Penafsiran Jalaluddin as-Sayuthi membawakan arti demikian,

هَذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَ أُتُوْا بِهِ مُتَشَابِها
"Inilah yang telah dikuruniakan kepada kita di waktu dulu. Dan diberikan kepada mereka serupa-serupa."

Beliau al-Jalal, memahamkan bahwa buah-buahan yang dihidangkan di surga itu serupa dengan buah-buahan yang telah pernah mereka diberi rezeki di dunia dahulu.

Padahal hanya rupa yang sama, namun rasa dan kelezatannya niscaya berlainan. Adakah sama rasa buah-buahan surga dengan buah-buahan dunia? Adapun penafsir-penafsir yang lain memaknakan ayat itu :

هَذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِن قَبْلُ
"Inilah yang telah dijanjikan kepada kita di waktu dahulu "

Artinya, setelah mereka menerima buah-buahan itu terkenanglah mereka kernbali, memang benarlah dahulu waktu di dunia Tuhan telah menjanjikan itu buat mereka.

 وَلَهُمْ فِيْهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ
'Dan diberikan kepada mereka berbagai ragam. Dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci."

Meskipun setengah ahli tafsir menafsirkan pengertian suci bersih di sini ialah isteri di surga tidak pernah berhaid lagi, sebab haid itu kotor, namun sebaiknya kita memahamkan lebih tinggi lagi dari itu. Sebab setiap kita yang berumahtangga di dunia ini mengalami, bahwa betapapun bersih hatinya seorang istri, cantik rupanya, baik budinya istri di dunia kita ini, namun perangainya yang menjemukan mesti ada juga. Sebagaimana pepatah Melayu : "Tidak ada lesung yang tidak berdedak", tidak ada istri yang tidak ada cacatnya. Ada baiknya di segi ini, ada pula lemahnya di segi itu. Sehingga di dalam Surat an­Nisa (Surat 4 ayat 18), Tuhan menasihatkan :

وَ عاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسى‏ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَ يَجْعَلَ اللهُ فيهِ خَيْراً كَثيراً
"Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik, karena jikapun kamu tidak suka kepada mereka, mudah-mudahan sesudah kamu benci kepada sesuatu, Tuhan Allah akan menjadikan padanya kebaikan yang banyak. " (an-Nisa : 18)

Istri-istri di surga itu suci bersih dari cacat yang menjemukan itu. Bukan sebagai istri dunia yang kadang-kadang memusingkan kepala. Baik istri surga anak bidadari yang dijanjikan, atau istri sendiri yang akan dipertemukan Tuhan kembali dengan kita, karena sama-sama taat beriman dan beramal yang shalih.

 وَهُمْ فِيْهَا خَالِدُوْن
"Dan mereka akan kekal di dalamnya. " (ujung ayat 25) kekal di dalam surga itu dan tidak ada mati lagi.

Akan selalu kita berjumpa ayat-ayat janji gembira dari Allah, untuk hamba Allah yang diberi tempat di dalam surga kekal itu. Kepercayaan akan adanya surga dan neraka adalah termasuk dalam rangka iman, sehingga jika kita tidak percaya, kafirlah kita.

Tetapi ada suatu hal yang sebenarnya tidak perlu dipertengkarkan karena membuang-buang waktu, yaitu pertikaian beberapa Ulama tentang apakah surga itu telah ada sekarang itu atau nanti saja akan diadakan ? Kalau sekarang memang sudah ada, apakah dia masih kosong ? Mengapa seketika Rasulullah s.a.w mi'raj beliau melihat sahabatnya Bilal bin Rabah dalam surga, padahal. ketika itu Bila.l masih hidup ? Hal begini semuanya sudah termasuk hal yang gha.ib, yang kita percaya menurut yang diwahyukan dan tidak perlu kita tambah-tambah lagi dengan tafsiran-tafsiran lain yang akan memusingkan kepala kita sendiri.

Demikian juga tentang kekal . Yang perlu kita perhatikan ialah syarat masuk surga yang telah diterangkan tadi, yaitu iman dan amal shalih. Kepercayaan hati kepada Tuhan, lalu kepercayaan itu dibuktikan dengan amal perbuatari. Sebab tidak mungkin terjadi pertikaian di antara iman dengan amal. Tidak mungkin hanya ada keperca,yaan, sedang gerak amal tidak ada. Dan tidak mungkin pula ada gerak amal, padahal tidak datang dari suruhan hati.

Lantaran itu maka di antara iman dengan amal shalih dapat juga dirangkaikan kepada jalan pikiran kita tentang kebudayaan. Kata ahli kalimat kebudayaan itu adalah gabungan daxi dua kata. Budhi clan Daya. "Budhi"artinya cahaya yang timbul dari jiwa. "Daya"ialah perbuatan yang timbul dari gerak anggota. Maka bolehlah kita katakan bahwa mukmin sejati itu adalah orang yang berkebudayaan tinggi.

Sekarang tinggal lagi perhatian kita kepada usaha nenek-moyang kita meresapkan iman itu ke dalam bahasa yang kita pakai. Dalam bahasa Arab kalimat nar dan kalimat Jannah, keduanya mempunyai dua arti. Nar dalam alam kenyataan ini mereka artikan api. Tetapi dalam alam akhirat itu berati neraka. Jannah dalam arti duniawi ialah taman-indah, dan dalam pengertian akhirat artinya surga. Oleh karena nenek-moyang kita mempunyai dua kalimat pusaka dari agama yang dahulu untuk alam akhirat itu, yaitu suarga dan neraka, yang keduanya dari bahasa Sansekerta, maka untuk.jannah akhirat kita artikanlah suarga dan untuk nar akhirat kita artikan neraka. Kemudian oleh pengarang-pengarang Islam jaman Aceh, setelah kita memakai huruf Arab menjadi huruf sendiri, dituliskan suarga itu dengan huruf Syin, Ra dan Kaf pakai titik.

Lantaran itu kebanyakan pengarang-pengarang Islam yang datang kemudian, termasuk penulis "Tafsir"ini lebih cepatlah tangannya menuliskan menurut ejaan huruf Arab (syurga). Yaitu syurga, bukan suarga atau sawarga.

Ingatlah bahwa ini adalah pemakaian dan perkembangan bahasa belaka. Adapun hakikat yang sebenarnya, Allah jualah yang mengetahuinya.



إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِيْ أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ وَ أَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيْراً وَيَهْدِيْ بِهِ كَثِيْراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِيْنَ

(26) Sesungguhnya Allah tidak­lah malu membuat perumpamaan apa saja; nyamuk atau yang lebih kecil dari padanya. Maka adapun or­ang-orang yang beriman mengetahuilah dia bahwasa­nya itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka , Dan adapun orang-orang yang kafir maka berkatalah mereka : Apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan begini ? Tersesatlah dengan sebabnya kebanyakan manusia dan mendapat petunjuk dengan sebabnya kebanyakan. Dan tidaklah akan tersesat dengan dia, melainkan orang-orang yang fasik


اَلَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللهِ مِن بَعْدِ مِيْثَاقِهِ وَ يَقْطَعُوْنَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوْصَلَ وَ يُفْسِدُوْنَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ

(27) (Yaitu) orang-orang yang memecahkan janji Allah sesudah diteguhkan dia , dan mereka putuskan apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan merusak mereka di bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.


كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَ كُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

(28) Bagaima kamu hendak kufur kepada Allah, padahal adalah kamu mati, lalu dihidupkan Nya kamu, kemudian Dia matikan kamu, kemudian Dia hidupkan; kemudian ke­padaNyalah kamu akan kembali.


هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءَ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَ هُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

(29) Dialah yang telah menjadikan untuk kamu apa di b u m i ini sekaliannya.Kemudian menghadaplah Dia ke langit, lalu Dia jadikan dia tujuh langit, dan Dia terhadap tiap­tiap sesuatu adalah Maha Tahu.



إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِيْ أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا

"Sesungguhnya Allah tidaklah malu membuat perumparnaan apa saja, nyamuk atau lebah kecil daripadunya. " (pangkal ayat 26).

Orang-orang yang kafir atau munafik itu mencari-can saja pasal yang akan mereka bantahkan, untuk membantah Nabi. Dalam wahyu Tuhan Allah membuat berbagai perumpamaan. Tuhan pernah mengumpamakan orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lain, adalah laksana laba-laba mernbuat sarang.

Sarang laba-laba adalah sangat rapuh. (Surat al-Ankabut ayat 41). T'uhanpun pernah mengambil perumpamaan dengan lalat.

Bahwa apa-apa yang dipersekutukan oleh orang-orang musyrikin dengan Allah itu, jangankan membuat alam, membuat lalatpun mereka tidak bisa (lihat Surat al-Haj ayat 73). Demikian juga perumparnaan yang lain-lain.

Maka orang yang munafik tidaklah memperhatikan isi, tetapi hendak mencari kelemahan pada misal yang dikemukakan itu. Kata mereka misal-misal itu adalah perkara kecil dan remeh. Adakan laba-laba jadi misal, adakan lalat diambil umpama, apa artinya semua itu. Peremehan yang beginilah yang dibantah keras oleh ayat ini.

"Allah tidaklah malu membuat perumpamaan apa saja, nyamuk atau yang lebih kecil daripadanya. "

Maksud mereka tentu hendak meremehkan Rasulullah , tetapi Tuhan Allah sendiri menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Muhammad itu bukanlah katanya , dan misal perumpamaan yang dikemukakannya, bukanlah misal perbuatannya sendiri. Itu adalah misal Aku sendiri. Aku tidak malu mengemukakan perumpamaan itu.

Mengambil perumparnaan daripada nyamuk, atau agas' yang lebih kecil dari nyamuk, atau yang lebih kecil lagi, tidaklah aku segan-segan.

فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ

"Maka adapun orang-orang yang beriman,mengetahuilah mereka bahwasanya ini, "

yaitu perumpamaan-perumpamaan tersebut

الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ
"adalah kebenaran dari Tuhan mereka. "

Artinya kalau perumpamaan itu tidak penting tidaklah Tuhan akan mengambilnya menjadi perumpamaan. Sebab semua perhitungan Allah itu adalah dengan teliti sekali.

وَ أَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً
"Dan adapun orang-orang yang kafir, maka berkatalah mereka. "Apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan begini?"

Apa kehendak Allah mengemukakan misal binatang yang hina sebagai laba-laba, binatang tidak ada arti sebagai lalat, dan kadang-kadang juga keledai yang buruk, kadang-kadang anjing yang mengulurkan lidah; adakah pantas wahyu mengemukakan hal tetek-bengek demikian ?

Maka bersabdalah Allah selanjutnya.

يُضِلُّ بِهِ
"Tersesatlah dengan sebabnya "
yaitu sebab perumpamaan­perumpamaan itu

كَثِيْراً وَيَهْدِيْ بِهِ كَثِيْراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِيْنَ
"kebanyakan manusia dan mendapat petunjuk dengan sebabnya kebanyakan. Dan tidaklah akan tersesat dengan dia, melainkan orang-orang yang fasik " (ujung ayat 26)

Dengan merenungkan ayat ini apa yang timbul dalam hati kita ? Yang timbul dalam hati kita ialah pertambahan iman bahwa al­Qur'an ini memang diturunkan untuk seluruh masa dan untuk orang yang berpikir dan mencintai ilmu pengetahuan.
Orang-orang kafir itu menjadi sesat dan fasik karena bodohnya. Atau bodoh tetapi tidak sadar akan kebodohan.

Dan orang yang beriman tunduk kepada Allah dengan segala kerendahan hati. Kalau ilmunya belum luas dan dalam, cukup dia menggantungkan kepercayaan bahwa kalau tidak penting tidaklah Allah akan membuat misal dengan nyamuk, lalat, laba-laba dan lain-lain itu.
Meskipun dia belum tahu apa pentingnya. Tetapi orang yang lebih dalam ilmunya, benar-benar kagumlah dia akan kebesaran Allah.

Di jaman modern kita ini sudahlah orang tahu bahwa perkara nyamuk atau agas, bukanlah perkara kecil. Lalatpun bukan perkara kecil. Demikian mikroskop telah meneropong hama-hama yang sangat kecil, beratus ribu kali lebih kecil daripada nyamuk dan lalat. Nyamuk malaria, nyamuk penyakit kuning dan nyamuk yang menyebabkan penyakit tidur Afrika; menyimpulkan pendapat bahwa bahaya nyamuk lebih besar dari bahaya singa dan harimau.

Di Sumatera beberapa puluh tahun yang lalu terkenal nyamuk malaria di Panti dan Penyambungan yang menghabiskan orang senegeri-negeri. Penduduk Rao" pindah berbondong ke Malaya kira-kira 60 tahun yang lalu karena dashsyatnya serangan penyakit malaria.

Perserikatan Bangsa-bangsa dalam WHO memberantas hama-hama penyakit.
Ahli ­ahli kuman seperti Erlich, Pasteur dan lain-lain menghabiskan usia dan tenaga buat menyelidiki kuman-kuman penyakit menular. Sekarang dapatlah kita satu penafsiran lagi dari pada sabda tuhan pada Surat al-Muddatstsir (Surat 74 ayat 31).

وَ ما يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلاَّ هُوَ
"Dan tidaklah ada yang mengetahui tentara Tuhanmu, melainkan Dia sendiri. "
(Al Muddatstsir :31)

Hama penyakit pes (sampar), hama penyakit cacar, penyakit anjing gila; masya Allah ! Alangkah banyaknya lagi yang terkandung di belakang sabda Tuhan di ayat ini.

"Nyamuk atau yang lebih kecil daripadanya. "

Kadang-kadang kita harus belajar pada semangatkerjasama lebah dan semut. Kadang-kadang kita kagum melihat kehidupan ulat bulu, serangga dan lain-lain.
Tidak ada rupanya yang soal kecil. Kita bertambah iman bahwa daerah kekuasaan Allah Ta'ala pun meliputi akan kehidupan mereka semuanya.
Janganlah kita menjadi orang fasik yang tersesat karena kebekuan hati dan kesombongan. Berlagak tahu padahal tidak tahu.

اَلَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللهِ مِن بَعْدِ مِيْثَاقِهِ
"Yaitu orang-orang yang memecahkan janji Allah sesudah dia diteguhkan. "
(pangkal ayat 27).

Apakah janji Allah yang teguh yang telah mereka pecah ? Janji Allah terasa dalam diri kita sendiri-sendiri, yang ditunjukkan oleh akal kita. Janji Allah bersuara dalam batin manusia sendiri.

Yaitu kesadaran akalnya. Tadi pada ayat 21 disuruh mempergunakan akal buat mencari di mana janji itu. Apabila akal dipakai mestilah timbul kesadaran akan kekuasaan Tuhan dan perlindungan kepada kita manusia, kalau manusia itu insaf akan akalnya pastilah menimbul kan rasa terima kasih dan rasa pengabdian, ibadah kepada Allah.
Sekarang janji di dalam batin itu sendirilah yang mereka pecahkan, mereka rusakkan, lalu mereka perturutkan hawa ­nafsu.

وَ يَقْطَعُوْنَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوْصَلَ
dan mereka putuskan apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan.

Apa yang mesti dihubungkan ? Yaitu pikiran sehat dengan natijah (konklusi) dari pikiran itu. Karena telah fasik mereka putuskan di tengah-tengah, tidak mereka teruskan sampai ke ujung.

Sebagaimana orang-orang yang mengatakan dirinya Free thinker. Katanya dia bebas berpikir. Lalu berpikirlah dia dengan bebas. Karena sifat pikiran, sampailah dia kepada kesimpulan bahwa tidak mungkin alam yang sangat teratur ini terjadi dengan sendirinya, dengan tidak ada pengaturnya.

Pikirannya telah sampai ke sana, tetapi dia putuskan hingga itu saja. Tidak diteruskannya sampai ke ujungnya> sebab itu dia telah fasik, dan telah mendustai dirinya sendiri.

Katanya dia berpikir bebas, Free thinker, padahal dia tidak bisa lagi.

وَ يُفْسِدُوْنَ فِي الْأَرْضِ
"Dan merusak mereka di bumi."

Kalau pikiran sehat sudah diperkosa itu di tengah jalan, dan dengan paksa dibelokkan kepada yang tidak benar, niscaya kekacauanlah yang timbul. Kekacauan dan kerusakan yang paling hebat di atas dunia ialah jika orang tidak bebas lagi menyatakan pikiran yang sehat. Inilah dia fasik

أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ
"Mereka itulah orang-orang yang merugi. " (ujung ayat 27).

Sebab mereka telah berjalan di luar garis kebenaran.

Rugilah mereka karena kehinaan di dunia dan azab di akhirat. Yang lebih merugikan lagi ialah karena biasanya orang-orang penentang kebenaran itu ada yang hidupnya kelihatan mewah, sehingga orang-orang yang dungu pikiran menyangka mereka benar, se umpama nya Qarun di jaman Fir'aun.

Orang yang kecil jiwanya menjadi segan kepada mereka kebesaran dan kekayaan mereka, lantaran itu mereka bertambah sombong dan lupa daratan.

Bertambah tenggelam mereka di dalam kesesatan dan kerusakan karena puji dan sanjung. Lantaran itu bertambah tidaklah dapat lagi mereka mengendalikaan diri sendiri. Timbullah sifat-sifat angkuh, tak mau mendengarkan nasehat orang. Akhirnya mereka bertambah terang­terang berbuat fasik dan berbangga dengan dosa.

Akhir kelaknya karena tenaga manusia terbatas, usiapun tidak sepanjang yang diharap, timbullah penyakit, baik rohani atau jasmani. Penyakit gila hormat menimbulkan penyakit lain pula, yaitu cemburu kepada segala orang, bahwa orang itu akan menentangnya. 'I'akut akan jatuh, timbul berbagai was-was, sehingga pertimbangan akal yang sehat dikalahkan oleh prasangka. Tadinya ingin bersenang-senang, hasilnya ialah kepayahan yang tidak berunjung. Dicari sebabnya, tidak lain ialah karena kosongnya dada dari pegangan kepercayaan.

Tadinya mereka mencari bahagia tetapi salah memahamkan bahagia. Lantaran iman tidak ada, amalpun tidak menentu. Padahal kalau hendak mencari bahagia, amallah yang akan diperbanyak.

Kesenangan dan istirahat jiwa ialah bila dapat mengerjakan suatu amalan yang baik sampai selesai untuk memulai lagi amal yang baru, sampai berhenti bila jenazah telah dihantar ke kubur.

Orang yang telah fasik, yang telah terpesona haluan bahtera hidupnya dari tujuan yang benar, akan tenggelamlah dia ke dalam kesengsaraan batin, yang walaupun sebesar gunung erztas persediaannya, tidaklah akan dapat menolongnya.

Adakah rugi yang lebih dari ini ?
Kemudian datanglah bujuk ra_yuan Allah kembali untuk menyadarkan manusia supaya jangan rnenerxipuh jalan yang fasik dan kufur itu.

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَ كُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ
"Betapa kamu hendak kufur kepada Allah, padahal adalah kamu mati , lalu dihidupkanNya kamu. " (pangkal ayat 28).

Cobalah pikirkan kembali dari pada tidak ada, kamu telah Dia adakan. Entah dimanalah kamu dahulunya tersebar; entah di daun kayu, entah di biji bayam, entah di air mengalir, tidak ada bedanya dengan batu tercampak, rumput yang lesa terpijak, ataupun serangga yang tengah menjalar, kemudian dihidupkanNya kamu Terbentuklah mani dalam Shulbf ayahmu dan taraib ibumu, yang berasal dari darah, dan darah itu berasal dari makanan; hormon, kalori dan vitamin. Kemudian kamu dalam rahim ibumu, dikandung sekian bulan lalu diberi akal. Mengembara di permukaan bumi berusaha mencukupkan keperluan-keperluan hidup.

ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ
"Kemudian Dia matikan kamu. "

Dicabut nyawamu dipisahkan dari badanmu. Badan dihantarkan kembali kepada asalnya. Datang dari tanah dipulangkan ke tanah; kembali seperti sernula, entah jadi rumput lesa terpijak, entah jadi tumpukan tulang-tulang.

Orang membangun kota yang baru, kubur-kubur dibongkar, tulang-tulangnya dipindahkan atau tidak diketahui lagi bahwa di sana ada kuburan dahulunya, lalu didirikan orang gedung di atasnya.

ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ
"Kemudian Dia hidupkan. "

Yaitu hidup yang kedua kali. Sebab nyawa yang pisah dari badan tadi tidaklah kembali ke tanah, tetapi pulang ke tempat yang telah ditentukan buat menungggu panggilan Hari Kiamat. Itulah hidup yang kedua kali; hidup salah satu dari dua.

Yaitu hidup yang lebih tinggi dan lebih mulia. Karena di jaman hidup pertama di dunia kamu memang melatih diri dari dalam kehidupan yang tinggi dan mulia. Atau hidup yang lebih sengsara, karena memang dalam kehidupan pertama kamu menempuh jalan kepada kesengsaraan itu.

ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
"Kemudian kepadaNyalah kamu akan kembali. " (ujung ayat 28).

Artinya setelah kamu dihidupkan kembali, kamu dipanggil kembali kehadirat Allah untuk diperhitungkan baik baik, dicocokkan bunyi catatan Malaikat dengan perbuatanmu semasa hidupmu, lalu diputuskan ke tempat mana kamu akan digolongkan, kepada golongan orang-orang yang berbahagiakah atau kepada golongan orang-orang yang celaka.

Dan keadilan akan berlaku dan kezaliman tidak akan ada. Sedang belas kasihan IIahi telah kamu rasai sejak dari kini. Kalau kamu mendapat celaka, tidak lain hanyalah karena salahmu sendiri.

Begitulah Tuhan Allah telah membuat tingkat hidup yang kamu tempuh, maka bagaimana juga lagi kamu kufur terhadapNya.

Bagaimana juga lagi kamu hendak berbuat sesuka hati dalam kehidupan yang pertama ini ? Padahal kamu tidak akan dapat membebaskan dirimu daripada garis yang telah ditentukanNya itu.

Padahal bukan pula Dia menyia-nyiakan kamu dalam hidup ini; diutusNya Rasul, dikirimNya wahyu, diberiNya petunjuk agama akan jadi pegangan kamu. DiberikanNya bagi kamu bimbingan sejak matamu terbuka melihat alam ini. Adakah patut, wahai, bimbingan kasih Tuhan yang sedemikian rupa kamu mungkiri dan kamu kufuri Dia ?
Bawalah tafakkur, pakailah akal; adakah patut perbuatanmu itu ?

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيْعًا
"Dialah yang telah menjadikan untuk kamu apa yang di bumi ini sekaliannya. " (pangkal ayat 29).

Alangkah besar dan agung Qudrat al-Khaliq itu, dan alangkah besar Rahman dan Rahim yang terkandung di dalamnya. Semuanya ini bukan untuk orang lain, tetapi untuk kamu, untuk kamu saja, hai manusia !

Sehingga air yang mengalir, lautan yang terbentang, kayu yang tumbuh di hutan, batu di sungai, pasir di pantai; untuk kamu! Binatang ternak, ikan di laut; untuk kamu.

Dan apabila kamu gali bumi selapis dua lapis, bertemulah kekayaan entah minyak tanah, mangan, uranium, besi dan segala macam logam; untuk kamu! Dan diberi alat untuk mengarnbil manfaat dari sekalian pemberian rahmat, nikmat dan karunia itu, yaitu akal, ilmu dan pengalaman kamu.

Cobalah perhatikan segala yang ada disekeliling kamu ini dan bertanyalah kepada semuanya, niscaya semua akan menjawab: "Kami ini untuk Tuan!

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءَ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ
"Kemudian menghadaplah Dia ke langit, lalu Dia jadikan dia tujuh langit. "

Artinya diselesaikanNya dahulu nasibmu disini, dibereskanNya segala keperluanmu, barulah Allah menghadapkan perhatianNya menyusun tingkatan langit, yang tadinya adalah Dukhan, yaitu asap belaka.

Dalam bahasa Ilmu pengetahuan disebut Khaos. Maka Tuhanpun mengatur kelompok-kelompoknya, yang dikatakanNya kepada kita ialah tujuh. Bagaimana tujuhnya kita tidak tahu. Kita hanya percaya; sebab urusan kekayaan langit itu tidaklah terpermanai (terhitung) banyaknya.

Sedangkan bila kita duduk pada sebuah perpustakaan besar yang berisi satu juta buku tulisan manusia, lalu kita baca, berumurpun kita 1.000 tahun tidaklah akan dapat dibaca satu juta jilid buku itu. Kononnya akan mengetahui apa perbendaharaan di langit:

وَ هُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
"Dan Dia terhadap tiap-tiap sesuatu adalah Maha Tahu. " (ujung ayat 29).

Artinya Dialah Yang Maha Tahu bagaimana cara pembuatan dan pembangunan alam itu. Bukanlah pula kamu dilarang buat mengetahuinya sekedar tenaga dan akal yang ada padamu., bahkan dianjurkan kamu meniliknya, untuk rnenambah yakinmu bahwa memang Dialah Maha Pengatur itu.

Dan dari ayat inipun dapatlah kita mengerti bahwa penyusunan Tuhan Allah atas alam, baik penciptaan bintang-bintang termasuk bumi ini, ataupun kejadian langit adalah memakai jaman dan waktu yang teratur, terletak di luar daripada hitungan masa dan tahun kita ini. Sebab hitungan tahun kita ini adalah sangat terbatas, hanya pada peredaran bumi rnengelilingi matahari dan bulan mengelilingi bumi. Padahal di luar daerah kita entah berapalah banyak lagi matahari dengan peredarannya sendiri dan hitungannya sendiri. Tuhanlah yang Maha Tahu semuanya itu. Penyelidikan kita hanyalah untuk tahu bahwa kita tidak tahu.

Dan amat janggal dalam perasaan beragama kalau sekiranya hasil penyelidikan kita manusia tentang kejadian alam ini, yang baru bertumbuh kemudian, lalu kita jadikan alat buat membatalkan keterangan wahyu.

Padahal maksud al-Qur'an, terutama maksud ayat ini ialah tertentu buat mernberikan peringatan kepada manusia bahwasanya isi bumi ini disediakan buat mereka semua.

Maka patutlah mereka bersyukur kepada Tuhan clan pergunakan kesempatan buat mengambil faedah yang telah dibuka itu. Setelah siap Tuhan menyediakan segala sesuatu untuk manusia hidup di dalam bumi, maka Tuhan menghadapkan amar perintahNya kepada langit dan terjadilah langit itu tujuh. Apakah manusia telah terjadi sebelum Allah mengatur tujuh langit ? Apakah kernudian baru manusia baru diadakan dalam bumi setelah terlebih dahulu persediaan buat hidupnya disediakan selengkapnya? Tidaklah ada dalarn ayat ini.

Apakah yang dimaksud dengan tujuh langit ? Apakah benar-benar tujuh? Atau hanya menurut undang-undang perbahasan Arabi bahwasanya bilangan tujuh ialah menunjukkan banyak ? Dan bagaimanakah Tuhan menghadapkan amar perintahNya kepada langit itu? Semuanya ini tidaklah akan dikuasai oleh pengetahuan manusia.

Sebab itu janganlah kita belokkan maksud ayat ke sana. Tuntutlah ilmu rahasia alam ini sedalam-dalamnya: Carilah fosil-fosil makhluk purbakala yang telah terbenam dalam bumi berjuta tahun. Pakailah teori Darwin dan lain-lain, moga-moga saja kian lama kian tersingkaplah bagi kita betapa hebatnya kejadian alam itu dan bertambah iman akan adanya Yang Maha Kuasa atas alam.

Tetapi jangan sekali-kali dengan ilmu kita yang terbatas mencoba membatalkan ayat dan ilmu Tuhan yang tidak terbatas.

Belayar ke pulau bakal. Bawa seraut dua tiga; Kalau kail panjang sejengkal, .Ianganlah laut hendak diduga
Maka dengan ayat ini sekali lagi kita tafakkur memikirkan betapa kasih-sayang Allah kepada kita. Sehingga rencana pemeliharaan hidup manusia didahulukan daripada perintah amar atas tujuh langit.



إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِيْ أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ وَ أَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيْراً وَيَهْدِيْ بِهِ كَثِيْراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِيْنَ

(26) Sesungguhnya Allah tidak­lah malu membuat perumpamaan apa saja; nyamuk atau yang lebih kecil dari padanya. Maka adapun or­ang-orang yang beriman mengetahuilah dia bahwasa­nya itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka , Dan adapun orang-orang yang kafir maka berkatalah mereka : Apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan begini ? Tersesatlah dengan sebabnya kebanyakan manusia dan mendapat petunjuk dengan sebabnya kebanyakan. Dan tidaklah akan tersesat dengan dia, melainkan orang-orang yang fasik


اَلَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللهِ مِن بَعْدِ مِيْثَاقِهِ وَ يَقْطَعُوْنَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوْصَلَ وَ يُفْسِدُوْنَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ

(27) (Yaitu) orang-orang yang memecahkan janji Allah sesudah diteguhkan dia , dan mereka putuskan apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan merusak mereka di bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.


كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَ كُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

(28) Bagaima kamu hendak kufur kepada Allah, padahal adalah kamu mati, lalu dihidupkan Nya kamu, kemudian Dia matikan kamu, kemudian Dia hidupkan; kemudian ke­padaNyalah kamu akan kembali.


هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءَ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَ هُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

(29) Dialah yang telah menjadikan untuk kamu apa di b u m i ini sekaliannya.Kemudian menghadaplah Dia ke langit, lalu Dia jadikan dia tujuh langit, dan Dia terhadap tiap­tiap sesuatu adalah Maha Tahu.



إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِيْ أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا

"Sesungguhnya Allah tidaklah malu membuat perumparnaan apa saja, nyamuk atau lebah kecil daripadunya. " (pangkal ayat 26).

Orang-orang yang kafir atau munafik itu mencari-can saja pasal yang akan mereka bantahkan, untuk membantah Nabi. Dalam wahyu Tuhan Allah membuat berbagai perumpamaan. Tuhan pernah mengumpamakan orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lain, adalah laksana laba-laba mernbuat sarang.

Sarang laba-laba adalah sangat rapuh. (Surat al-Ankabut ayat 41). T'uhanpun pernah mengambil perumpamaan dengan lalat.

Bahwa apa-apa yang dipersekutukan oleh orang-orang musyrikin dengan Allah itu, jangankan membuat alam, membuat lalatpun mereka tidak bisa (lihat Surat al-Haj ayat 73). Demikian juga perumparnaan yang lain-lain.

Maka orang yang munafik tidaklah memperhatikan isi, tetapi hendak mencari kelemahan pada misal yang dikemukakan itu. Kata mereka misal-misal itu adalah perkara kecil dan remeh. Adakan laba-laba jadi misal, adakan lalat diambil umpama, apa artinya semua itu. Peremehan yang beginilah yang dibantah keras oleh ayat ini.

"Allah tidaklah malu membuat perumpamaan apa saja, nyamuk atau yang lebih kecil daripadanya. "

Maksud mereka tentu hendak meremehkan Rasulullah , tetapi Tuhan Allah sendiri menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Muhammad itu bukanlah katanya , dan misal perumpamaan yang dikemukakannya, bukanlah misal perbuatannya sendiri. Itu adalah misal Aku sendiri. Aku tidak malu mengemukakan perumpamaan itu.

Mengambil perumparnaan daripada nyamuk, atau agas' yang lebih kecil dari nyamuk, atau yang lebih kecil lagi, tidaklah aku segan-segan.

فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ

"Maka adapun orang-orang yang beriman,mengetahuilah mereka bahwasanya ini, "

yaitu perumpamaan-perumpamaan tersebut

الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ
"adalah kebenaran dari Tuhan mereka. "

Artinya kalau perumpamaan itu tidak penting tidaklah Tuhan akan mengambilnya menjadi perumpamaan. Sebab semua perhitungan Allah itu adalah dengan teliti sekali.

وَ أَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً
"Dan adapun orang-orang yang kafir, maka berkatalah mereka. "Apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan begini?"

Apa kehendak Allah mengemukakan misal binatang yang hina sebagai laba-laba, binatang tidak ada arti sebagai lalat, dan kadang-kadang juga keledai yang buruk, kadang-kadang anjing yang mengulurkan lidah; adakah pantas wahyu mengemukakan hal tetek-bengek demikian ?

Maka bersabdalah Allah selanjutnya.

يُضِلُّ بِهِ
"Tersesatlah dengan sebabnya "
yaitu sebab perumpamaan­perumpamaan itu

كَثِيْراً وَيَهْدِيْ بِهِ كَثِيْراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِيْنَ
"kebanyakan manusia dan mendapat petunjuk dengan sebabnya kebanyakan. Dan tidaklah akan tersesat dengan dia, melainkan orang-orang yang fasik " (ujung ayat 26)

Dengan merenungkan ayat ini apa yang timbul dalam hati kita ? Yang timbul dalam hati kita ialah pertambahan iman bahwa al­Qur'an ini memang diturunkan untuk seluruh masa dan untuk orang yang berpikir dan mencintai ilmu pengetahuan.
Orang-orang kafir itu menjadi sesat dan fasik karena bodohnya. Atau bodoh tetapi tidak sadar akan kebodohan.

Dan orang yang beriman tunduk kepada Allah dengan segala kerendahan hati. Kalau ilmunya belum luas dan dalam, cukup dia menggantungkan kepercayaan bahwa kalau tidak penting tidaklah Allah akan membuat misal dengan nyamuk, lalat, laba-laba dan lain-lain itu.
Meskipun dia belum tahu apa pentingnya. Tetapi orang yang lebih dalam ilmunya, benar-benar kagumlah dia akan kebesaran Allah.

Di jaman modern kita ini sudahlah orang tahu bahwa perkara nyamuk atau agas, bukanlah perkara kecil. Lalatpun bukan perkara kecil. Demikian mikroskop telah meneropong hama-hama yang sangat kecil, beratus ribu kali lebih kecil daripada nyamuk dan lalat. Nyamuk malaria, nyamuk penyakit kuning dan nyamuk yang menyebabkan penyakit tidur Afrika; menyimpulkan pendapat bahwa bahaya nyamuk lebih besar dari bahaya singa dan harimau.

Di Sumatera beberapa puluh tahun yang lalu terkenal nyamuk malaria di Panti dan Penyambungan yang menghabiskan orang senegeri-negeri. Penduduk Rao" pindah berbondong ke Malaya kira-kira 60 tahun yang lalu karena dashsyatnya serangan penyakit malaria.

Perserikatan Bangsa-bangsa dalam WHO memberantas hama-hama penyakit.
Ahli ­ahli kuman seperti Erlich, Pasteur dan lain-lain menghabiskan usia dan tenaga buat menyelidiki kuman-kuman penyakit menular. Sekarang dapatlah kita satu penafsiran lagi dari pada sabda tuhan pada Surat al-Muddatstsir (Surat 74 ayat 31).

وَ ما يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلاَّ هُوَ
"Dan tidaklah ada yang mengetahui tentara Tuhanmu, melainkan Dia sendiri. "
(Al Muddatstsir :31)

Hama penyakit pes (sampar), hama penyakit cacar, penyakit anjing gila; masya Allah ! Alangkah banyaknya lagi yang terkandung di belakang sabda Tuhan di ayat ini.

"Nyamuk atau yang lebih kecil daripadanya. "

Kadang-kadang kita harus belajar pada semangatkerjasama lebah dan semut. Kadang-kadang kita kagum melihat kehidupan ulat bulu, serangga dan lain-lain.
Tidak ada rupanya yang soal kecil. Kita bertambah iman bahwa daerah kekuasaan Allah Ta'ala pun meliputi akan kehidupan mereka semuanya.
Janganlah kita menjadi orang fasik yang tersesat karena kebekuan hati dan kesombongan. Berlagak tahu padahal tidak tahu.

اَلَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللهِ مِن بَعْدِ مِيْثَاقِهِ
"Yaitu orang-orang yang memecahkan janji Allah sesudah dia diteguhkan. "
(pangkal ayat 27).

Apakah janji Allah yang teguh yang telah mereka pecah ? Janji Allah terasa dalam diri kita sendiri-sendiri, yang ditunjukkan oleh akal kita. Janji Allah bersuara dalam batin manusia sendiri.

Yaitu kesadaran akalnya. Tadi pada ayat 21 disuruh mempergunakan akal buat mencari di mana janji itu. Apabila akal dipakai mestilah timbul kesadaran akan kekuasaan Tuhan dan perlindungan kepada kita manusia, kalau manusia itu insaf akan akalnya pastilah menimbul kan rasa terima kasih dan rasa pengabdian, ibadah kepada Allah.
Sekarang janji di dalam batin itu sendirilah yang mereka pecahkan, mereka rusakkan, lalu mereka perturutkan hawa ­nafsu.

وَ يَقْطَعُوْنَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوْصَلَ
dan mereka putuskan apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan.

Apa yang mesti dihubungkan ? Yaitu pikiran sehat dengan natijah (konklusi) dari pikiran itu. Karena telah fasik mereka putuskan di tengah-tengah, tidak mereka teruskan sampai ke ujung.

Sebagaimana orang-orang yang mengatakan dirinya Free thinker. Katanya dia bebas berpikir. Lalu berpikirlah dia dengan bebas. Karena sifat pikiran, sampailah dia kepada kesimpulan bahwa tidak mungkin alam yang sangat teratur ini terjadi dengan sendirinya, dengan tidak ada pengaturnya.

Pikirannya telah sampai ke sana, tetapi dia putuskan hingga itu saja. Tidak diteruskannya sampai ke ujungnya> sebab itu dia telah fasik, dan telah mendustai dirinya sendiri.

Katanya dia berpikir bebas, Free thinker, padahal dia tidak bisa lagi.

وَ يُفْسِدُوْنَ فِي الْأَرْضِ
"Dan merusak mereka di bumi."

Kalau pikiran sehat sudah diperkosa itu di tengah jalan, dan dengan paksa dibelokkan kepada yang tidak benar, niscaya kekacauanlah yang timbul. Kekacauan dan kerusakan yang paling hebat di atas dunia ialah jika orang tidak bebas lagi menyatakan pikiran yang sehat. Inilah dia fasik

أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ
"Mereka itulah orang-orang yang merugi. " (ujung ayat 27).

Sebab mereka telah berjalan di luar garis kebenaran.

Rugilah mereka karena kehinaan di dunia dan azab di akhirat. Yang lebih merugikan lagi ialah karena biasanya orang-orang penentang kebenaran itu ada yang hidupnya kelihatan mewah, sehingga orang-orang yang dungu pikiran menyangka mereka benar, se umpama nya Qarun di jaman Fir'aun.

Orang yang kecil jiwanya menjadi segan kepada mereka kebesaran dan kekayaan mereka, lantaran itu mereka bertambah sombong dan lupa daratan.

Bertambah tenggelam mereka di dalam kesesatan dan kerusakan karena puji dan sanjung. Lantaran itu bertambah tidaklah dapat lagi mereka mengendalikaan diri sendiri. Timbullah sifat-sifat angkuh, tak mau mendengarkan nasehat orang. Akhirnya mereka bertambah terang­terang berbuat fasik dan berbangga dengan dosa.

Akhir kelaknya karena tenaga manusia terbatas, usiapun tidak sepanjang yang diharap, timbullah penyakit, baik rohani atau jasmani. Penyakit gila hormat menimbulkan penyakit lain pula, yaitu cemburu kepada segala orang, bahwa orang itu akan menentangnya. 'I'akut akan jatuh, timbul berbagai was-was, sehingga pertimbangan akal yang sehat dikalahkan oleh prasangka. Tadinya ingin bersenang-senang, hasilnya ialah kepayahan yang tidak berunjung. Dicari sebabnya, tidak lain ialah karena kosongnya dada dari pegangan kepercayaan.

Tadinya mereka mencari bahagia tetapi salah memahamkan bahagia. Lantaran iman tidak ada, amalpun tidak menentu. Padahal kalau hendak mencari bahagia, amallah yang akan diperbanyak.

Kesenangan dan istirahat jiwa ialah bila dapat mengerjakan suatu amalan yang baik sampai selesai untuk memulai lagi amal yang baru, sampai berhenti bila jenazah telah dihantar ke kubur.

Orang yang telah fasik, yang telah terpesona haluan bahtera hidupnya dari tujuan yang benar, akan tenggelamlah dia ke dalam kesengsaraan batin, yang walaupun sebesar gunung erztas persediaannya, tidaklah akan dapat menolongnya.

Adakah rugi yang lebih dari ini ?
Kemudian datanglah bujuk ra_yuan Allah kembali untuk menyadarkan manusia supaya jangan rnenerxipuh jalan yang fasik dan kufur itu.

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَ كُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ
"Betapa kamu hendak kufur kepada Allah, padahal adalah kamu mati , lalu dihidupkanNya kamu. " (pangkal ayat 28).

Cobalah pikirkan kembali dari pada tidak ada, kamu telah Dia adakan. Entah dimanalah kamu dahulunya tersebar; entah di daun kayu, entah di biji bayam, entah di air mengalir, tidak ada bedanya dengan batu tercampak, rumput yang lesa terpijak, ataupun serangga yang tengah menjalar, kemudian dihidupkanNya kamu Terbentuklah mani dalam Shulbf ayahmu dan taraib ibumu, yang berasal dari darah, dan darah itu berasal dari makanan; hormon, kalori dan vitamin. Kemudian kamu dalam rahim ibumu, dikandung sekian bulan lalu diberi akal. Mengembara di permukaan bumi berusaha mencukupkan keperluan-keperluan hidup.

ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ
"Kemudian Dia matikan kamu. "

Dicabut nyawamu dipisahkan dari badanmu. Badan dihantarkan kembali kepada asalnya. Datang dari tanah dipulangkan ke tanah; kembali seperti sernula, entah jadi rumput lesa terpijak, entah jadi tumpukan tulang-tulang.

Orang membangun kota yang baru, kubur-kubur dibongkar, tulang-tulangnya dipindahkan atau tidak diketahui lagi bahwa di sana ada kuburan dahulunya, lalu didirikan orang gedung di atasnya.

ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ
"Kemudian Dia hidupkan. "

Yaitu hidup yang kedua kali. Sebab nyawa yang pisah dari badan tadi tidaklah kembali ke tanah, tetapi pulang ke tempat yang telah ditentukan buat menungggu panggilan Hari Kiamat. Itulah hidup yang kedua kali; hidup salah satu dari dua.

Yaitu hidup yang lebih tinggi dan lebih mulia. Karena di jaman hidup pertama di dunia kamu memang melatih diri dari dalam kehidupan yang tinggi dan mulia. Atau hidup yang lebih sengsara, karena memang dalam kehidupan pertama kamu menempuh jalan kepada kesengsaraan itu.

ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
"Kemudian kepadaNyalah kamu akan kembali. " (ujung ayat 28).

Artinya setelah kamu dihidupkan kembali, kamu dipanggil kembali kehadirat Allah untuk diperhitungkan baik baik, dicocokkan bunyi catatan Malaikat dengan perbuatanmu semasa hidupmu, lalu diputuskan ke tempat mana kamu akan digolongkan, kepada golongan orang-orang yang berbahagiakah atau kepada golongan orang-orang yang celaka.

Dan keadilan akan berlaku dan kezaliman tidak akan ada. Sedang belas kasihan IIahi telah kamu rasai sejak dari kini. Kalau kamu mendapat celaka, tidak lain hanyalah karena salahmu sendiri.

Begitulah Tuhan Allah telah membuat tingkat hidup yang kamu tempuh, maka bagaimana juga lagi kamu kufur terhadapNya.

Bagaimana juga lagi kamu hendak berbuat sesuka hati dalam kehidupan yang pertama ini ? Padahal kamu tidak akan dapat membebaskan dirimu daripada garis yang telah ditentukanNya itu.

Padahal bukan pula Dia menyia-nyiakan kamu dalam hidup ini; diutusNya Rasul, dikirimNya wahyu, diberiNya petunjuk agama akan jadi pegangan kamu. DiberikanNya bagi kamu bimbingan sejak matamu terbuka melihat alam ini. Adakah patut, wahai, bimbingan kasih Tuhan yang sedemikian rupa kamu mungkiri dan kamu kufuri Dia ?
Bawalah tafakkur, pakailah akal; adakah patut perbuatanmu itu ?

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيْعًا
"Dialah yang telah menjadikan untuk kamu apa yang di bumi ini sekaliannya. " (pangkal ayat 29).

Alangkah besar dan agung Qudrat al-Khaliq itu, dan alangkah besar Rahman dan Rahim yang terkandung di dalamnya. Semuanya ini bukan untuk orang lain, tetapi untuk kamu, untuk kamu saja, hai manusia !

Sehingga air yang mengalir, lautan yang terbentang, kayu yang tumbuh di hutan, batu di sungai, pasir di pantai; untuk kamu! Binatang ternak, ikan di laut; untuk kamu.

Dan apabila kamu gali bumi selapis dua lapis, bertemulah kekayaan entah minyak tanah, mangan, uranium, besi dan segala macam logam; untuk kamu! Dan diberi alat untuk mengarnbil manfaat dari sekalian pemberian rahmat, nikmat dan karunia itu, yaitu akal, ilmu dan pengalaman kamu.

Cobalah perhatikan segala yang ada disekeliling kamu ini dan bertanyalah kepada semuanya, niscaya semua akan menjawab: "Kami ini untuk Tuan!

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءَ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ
"Kemudian menghadaplah Dia ke langit, lalu Dia jadikan dia tujuh langit. "

Artinya diselesaikanNya dahulu nasibmu disini, dibereskanNya segala keperluanmu, barulah Allah menghadapkan perhatianNya menyusun tingkatan langit, yang tadinya adalah Dukhan, yaitu asap belaka.

Dalam bahasa Ilmu pengetahuan disebut Khaos. Maka Tuhanpun mengatur kelompok-kelompoknya, yang dikatakanNya kepada kita ialah tujuh. Bagaimana tujuhnya kita tidak tahu. Kita hanya percaya; sebab urusan kekayaan langit itu tidaklah terpermanai (terhitung) banyaknya.

Sedangkan bila kita duduk pada sebuah perpustakaan besar yang berisi satu juta buku tulisan manusia, lalu kita baca, berumurpun kita 1.000 tahun tidaklah akan dapat dibaca satu juta jilid buku itu. Kononnya akan mengetahui apa perbendaharaan di langit:

وَ هُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
"Dan Dia terhadap tiap-tiap sesuatu adalah Maha Tahu. " (ujung ayat 29).

Artinya Dialah Yang Maha Tahu bagaimana cara pembuatan dan pembangunan alam itu. Bukanlah pula kamu dilarang buat mengetahuinya sekedar tenaga dan akal yang ada padamu., bahkan dianjurkan kamu meniliknya, untuk rnenambah yakinmu bahwa memang Dialah Maha Pengatur itu.

Dan dari ayat inipun dapatlah kita mengerti bahwa penyusunan Tuhan Allah atas alam, baik penciptaan bintang-bintang termasuk bumi ini, ataupun kejadian langit adalah memakai jaman dan waktu yang teratur, terletak di luar daripada hitungan masa dan tahun kita ini. Sebab hitungan tahun kita ini adalah sangat terbatas, hanya pada peredaran bumi rnengelilingi matahari dan bulan mengelilingi bumi. Padahal di luar daerah kita entah berapalah banyak lagi matahari dengan peredarannya sendiri dan hitungannya sendiri. Tuhanlah yang Maha Tahu semuanya itu. Penyelidikan kita hanyalah untuk tahu bahwa kita tidak tahu.

Dan amat janggal dalam perasaan beragama kalau sekiranya hasil penyelidikan kita manusia tentang kejadian alam ini, yang baru bertumbuh kemudian, lalu kita jadikan alat buat membatalkan keterangan wahyu.

Padahal maksud al-Qur'an, terutama maksud ayat ini ialah tertentu buat mernberikan peringatan kepada manusia bahwasanya isi bumi ini disediakan buat mereka semua.

Maka patutlah mereka bersyukur kepada Tuhan clan pergunakan kesempatan buat mengambil faedah yang telah dibuka itu. Setelah siap Tuhan menyediakan segala sesuatu untuk manusia hidup di dalam bumi, maka Tuhan menghadapkan amar perintahNya kepada langit dan terjadilah langit itu tujuh. Apakah manusia telah terjadi sebelum Allah mengatur tujuh langit ? Apakah kernudian baru manusia baru diadakan dalam bumi setelah terlebih dahulu persediaan buat hidupnya disediakan selengkapnya? Tidaklah ada dalarn ayat ini.

Apakah yang dimaksud dengan tujuh langit ? Apakah benar-benar tujuh? Atau hanya menurut undang-undang perbahasan Arabi bahwasanya bilangan tujuh ialah menunjukkan banyak ? Dan bagaimanakah Tuhan menghadapkan amar perintahNya kepada langit itu? Semuanya ini tidaklah akan dikuasai oleh pengetahuan manusia.

Sebab itu janganlah kita belokkan maksud ayat ke sana. Tuntutlah ilmu rahasia alam ini sedalam-dalamnya: Carilah fosil-fosil makhluk purbakala yang telah terbenam dalam bumi berjuta tahun. Pakailah teori Darwin dan lain-lain, moga-moga saja kian lama kian tersingkaplah bagi kita betapa hebatnya kejadian alam itu dan bertambah iman akan adanya Yang Maha Kuasa atas alam.

Tetapi jangan sekali-kali dengan ilmu kita yang terbatas mencoba membatalkan ayat dan ilmu Tuhan yang tidak terbatas.

Belayar ke pulau bakal. Bawa seraut dua tiga; Kalau kail panjang sejengkal, .Ianganlah laut hendak diduga
Maka dengan ayat ini sekali lagi kita tafakkur memikirkan betapa kasih-sayang Allah kepada kita. Sehingga rencana pemeliharaan hidup manusia didahulukan daripada perintah amar atas tujuh langit.



 وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَن يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ

[30] Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka : Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ? Dia berkata : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.


وَ عَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُوْنِيْ بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ

(31) Dan telah diajarkanNya kepada Adam nama-nama semuanya, kemudian Dia kemukakan semua kepada Malaikat, lalu Dia berfirman : Beritakanlah kepadaKu nama-nama itu semua, jika adalah kamu makhluk-makhluk yang benar.


قَالُوْا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ

(32) Mereka menjawab: Maha Suci Engkau ! Tidak ada penge­tahuanbagi kami. kecuali yang Engkau ajarkan kepada Kami. Karena sesungguhnya Engkau­lah Yang Maha Tahu, lagi Maha Bijaksana.


قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَّكُمْ إِنِّيْ أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ وَ أَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ

(33) Berkata Dia : Wahai Adam! beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu semuanya! Maka tatkala telah diberi­tahukannya kepada mereka nama-nama itu semua, berfirmanlah Dia : Bukankah telah Aku katakan k e p a d a kamu, bahwa sesungguh­nya Aku lebih mengetahui rahasia semua langit dan bumi, dan lebih Aku ketahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembuyikan.


Malaikat Dan Khalifah

Dengan dua ayat berturut-turut, yaitu ayat 28 dan 29 perhatian kita Insan ini disadarkan oleh Tuhan. Pertama, bagaimana kamu akan kufur kepada Allah, padahal dari mati kamu Dia hidupkan.Kemudian Dia matikan, setelah itu akan dihidupkanNya kembali untuk memperhitungkan amal.

Bagaimana kamu akan kufur kepada Allah, padahal seluruh isi bumi telah disediakan untuk kamu. Lebih dahulu persediaan untuk menerima kedatanganmu di bumi telah disiapkan, bahkan dari amar periatah kepada ketujuh langit sendiri. Kalau demikian adanya, pikirkanlah siapa engkau ini. Buat apa kamu diciptakan. Kemudian datanglah ayat khalifah.

وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً
"Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. " (pangkal ayat 30).

Sebelum kita teruskan menafsirkan ayat ini, terlebih dahulu haruslah dengan segala kerendahan hati dan iman kita pegang apa yang telah dipimpinkan Tuhan pada ayat yang tiga di permulaan sekali, yaitu tentang percaya kepada yang ghaib.

Tuhan telah menyampaikan dengan Wahyu kepada UtusanNya bahwa Tuhan pernah bersabda kepada Malaikat bahwa Tuhan hendak mengangkat seorang khalifah di bumi. Maka terjadilah semacam soal jawab di antara Tuhan dengan Malaikat. bagaimana duduknya dan di mana tempatnya bila waktunya soal jawab itu ? Tidaklah layak hendak kita kaji sampai ke sana.

Ada dua macam cara Ulama-ulama ikutan kita menghadapi wahyu mi. Pertama ialah Mazhab Salaf. Mereka menerima berita wahyu itu dengan tidak bertanya-tanya dan berpanjang soal.

Tuhan Allah telah berkenan menceritakan dengan wahyu tentang suatu kejadian di dalam alam ghaib, dengan kata yang dapat kita pahamkan, tetapi akal kita tidak mempunyai daya upaya buat masuk lebih dalam ke dalam arena ghaib itu. Sebab itu kita terima dia dengan sepenuh iman.

Cara yang kedua ialah penafsiran secara Khalaf, yaitu secara Ulama-Ulama yang datang kemudian. Yaitu dipakai penafsiran­penafsiran yang masuk akal, tetapi tidak melampaui garis yang layak bagi kita sebagai makhluk.

Berdasar kepada ini, maka Mazhab Khalaf berpendapat bahwasanya apa yang dihikayatkan Tuhan ini niscaya tidak sebagai yang kita pikirkan. Niscaya pertemuan Allah dengan MalaikatNya itu tidak terjadi di satu tempat; karena kalau terjadi di satu tempat, tentu bertempatlah Allah Ta'ala. Dan bukanlah Malaikat itu berhadap­ hadapan duduk bermuka.-muka dengan Allah. Karena kalau demikian tentulah sama kedudukan mereka, rnalaikat sebagai makhluk, Allah sebagai Khaliq.

Menurut penyelidikan perkembangan iman dan agama dan perbandingannya dengan Filsafat, betapapun modernnya filsafat itu, maka mazhab khalajia.h yang lebih menenteramkan iman, dan kesanalah tujuan kepercayaan . Umumnya Filosof yang mukmin penganut mazhab Khalaf, seumparna filosof muslim yang besar Ibnu Rusyd. Demikian majunya dalam alarn filsafat, namun berkenaan dengan soal-soal ghaib, dia menjadi orang Khalaf yang tenteram dengan pendiriannya.

Imam Ghazali, dia berselisih tentang hukum akal. Bagi dia api wajib menghangusi , air membasahi. Tidak mungkin tidak begitu. Tetapi jika ditanyakan tentang Nabi Ibrahim a. s. tidak hangus dibakar api, dia menjawab bahwa hal begitu tidaklah tugas filsafat. Itu adalah tempat iman. "Sebagai Muslim saya percaya,"katanya.

Pelopor Filsafat Modern, yaitu Emmanuel Kant, dalam hal kepercayaan dia seakan-akan penganut dari mazhab Khalaf. Dia pernah berkata : "Betapapun kemajuan saya dalam berpikir, namun saya mengosongkan sesudut dari jiwa saya buat percaya '

Sekarang kita teruskan:
Maka nampaklah di pangkal ayat, Tuhan telah bersabda kepada Malaikat menyatakan rnaksud hendak mengangkat seorang khalifah di bumi ini.

قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَن يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ

"Mereka berkata: Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau?

Artinya setelah Allah menyatakan maksudNya itu, maka Malaikatpun mohon penjelasan, khalifah manakah lagi yang dikehendaki oleh Tuhan hendak menjadikan?.

Di dalam ayat terbayanglah oleh kita bahwa Malaikat, sebagai makhluk Ilahi, yang tentu saja pengetahuannya tidak seluas pengetahuan Tuhan, meminta penjelasan, bagaimana agaknya corak khalifah itu ? Apakah tidak mungkin terjadi dengan adanya khalifah, kerusakan yang akan timbul dan penumpahan darahlah yang akan terjadi ? Padahal alam dengan kudrat iradat Allah Ta'ala telah tenteram, sebab mereka, malaikat, telah diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang patuh, tunduk,taat,dan setia. Bertasbih, bersembahyang mensucikan nama Allah.

Rupanya ada sedikit pengetahuan dari malaikat-malaikat itu bahwasanya yang akan diangkat menjadi khalifah itu ialah satu jenis makhluk. Dalam jalan pendapat malaikat, bilamana jenis makhluk itu telah ramai, mereka akan berebut-rebut kepentingan di antara satu sama lain.

Kepentingan satu orang atau satu golongan bertumbuk dengan satu orang atau satu golongan yang lain, maka beradulah yang keras timbullah pertentangan dan dengan demikian timbullah kerusakan bahkan akan timbul juga pertumpahan darah. Dengan demikian ketenteraman yang telah ada dengan adanya makhluk, malaikat yapg patuh, taat dan setia, menjadi hilang.

Pertanyaan dan kemusykilan itu dijawab oleh Tuhan.

قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ
"Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. " (ujung ayat 30).

Artinya, dengan-jawaban itu, Allah Ta'ala tidak membantah pendapat dari MalaikatNya, cuma menjelaskan bahwasanya pendapat dan ilmu mereka tidaklah seluas dan sejauh pengetahuan Allah. Bukanlah Tuhan memungkiri bahwa kerusakanpun akan timbul dan darahpun akan tertumpah tetapi ada maksud lain yang lebih jauh dari itu, sehingga kerusakan hanyalah sebagai pelengkap saja dan pembangunan dan pertumpahan darah hanyalah satu tingkat perjalanan hidup saja di dalam menuju kesempurnaan.

Dalam jawaban Tuhan yang dernikian, Malaikatpun menerimalah dengan penuh khusyu dan taat.

Sekarang kita uraikan terlebih dahulu tentang, apa atau siapakah Malaikat itu ?
Malaikat untuk banyak dan Malak untuk satu.

Tuhan menyebut di dalam al-Qur'an tentang adanya makhluk Allah bernama Malaikat. Disebutkan pekerjaan atau tugas mereka, ada yang mencatat amalan makhluk setiap hari, dan mencatat segala ucapan, ada yang membawa wahyu kepada Rasul-rasul dan Nabi-nabi, ada yang menjadi duta-duta (safarah) yang memelihara al-Qur'an, ada yang memikul Arsy Tuhan, ada yang menjaga surga dan yang menjaga neraka, dan ada yang siang dan malam berdoa, memuji-muji Allah dan bersujud, dan ada pula yang mendoakan agar makhluk yang taat diberi ampun dosanya oleh Tuhan. Dan banyak lagi yang lain.

Tetapi Tuhan Allah tidak menyebutkan dari bahan apa Malaikat itu dijadikan. Dan tersebut juga bahwa ada Malaikat itu yang menyatakan dirinya, sebagai yang datang membawakan Ilham kepada Maryam bahwa dia akan diberi putra, atau yang kelihatan oleh Nabi kita Muhammad s.a.w seketika beliau mula-mula menerima wahyu. Dan disebut juga ada Malaikat itu yang bersayap, dua-dua, tiga-tiga, dan empat-empat.

Orang-orang di jaman jahiliyah mencoba menggambarkan Malaikat itu sebagai manusia dan merekapun menentukan jenisnya; yaitu perempuan. Ini dibantah keras oleh al-Qur'an. Maka tidaklah pantas makhluk gaib itu ditentukan kelamin jantan atau betinanya.

Tersebut pula bahwa Malaikat yang datang membawa wahyu kepada Rasul-rasul itu namanya Jibril, dan disebut juga Ruhul-Arnin, dan disebut juga Ruhul-Qudus. Tetapi manusia yang beriman dan Istiqomah (tetap hati) di dalam Iman kepada Allah, juga akan didatangi oleh Malaikat-malaikat, untuk menghilangkan rasa takut dan duka­cita mereka. Dan di dalam peperangan Badar Malaikat itupun datang, sampai 3.000 banyaknya.

Seperti itulah yang tersebut dalam al-Qur'an. Dan dijelaskan pula oleh hadits-hadits bahwa Malaikat-malaikat itu memberikan ilham yang baik kepada manusia, dan menimbulkan keteguhan semangat dan iman. Sebagai juga tersebut di dalam hadits bahkan di dalam al­Qur'an sendiri bahwa setan, sebaliknya dari Malaikat, selalu membawa ilham buruk dan was-was kepada manusia. Tetapi ketika orang diberi ilham baik oleh Malaikat atau was-was buruk oleh setan maka yang menerima ilham atau was-was itu bukanlah badan kasar, melainkan roh manusia.

Tidaklah ada orang yang nampak dengan matanya seketika Malaikat atau setan datang memberinya ilham atau was-was melainkan masuk pengaruhnya ke dalam jiwa atau perasaan orang itu. Ini dikuatkan oleh sebuah hadits yang dirawikan oleh Tirmidzi, an-Nasa' i dan Ibnu Hibban, demikian bunyinya :

"Sesungguhnya dari setan ada semacam gangguan kepada anak Adam, dan dari Malaikatpun ada pula. Adapun gangguan setan ialah menjanjikan kejahatan dan mendustakan kebenaran, dan sentuhan Malaikat ialah menjanjikan kebaikan dan menerima kebenaran.Maka siapa yang merasai yang demikian, hendaklah dia mengetahui bahwa perkara itu dari Allah, dan berterima-kasihlah dia kepadaNya.Tetapi kalau didapatnya lain, hendaklah dia berlindung kepada Allah dari setan. (Kemudian dibacanya ayat yang artinya : "Setan menyuruh menjanjikan melarat untukmu dan menyuruhmu berbuat yang keji-keji. '

Turmidzi mengatakan hadits ini hasan gharib.

Syaikh Muhammad Abduh seketika menafsirkan ayat ini berkata:

"Sudah menjadi suatu kenyataan bahwa di dalam batin segala yang tercinta ini memang tersembunyi kekuatan-kekuatan besar yang menjadi sendi dari kekuatan dan kerapiannya, yang tidak mungkin dipungkiri sedikitpun oleh orang yang mempergunakan akal. Orang yang tidak beriman kepada wahyu, mungkin keberatan menamainya Malaikat, sebab itu setentah menamainya tenaga alam atau Natuurkrachten tetapi sudah nyata bahwa mereka tidak dapat memungkiri dengan akal sehat akan adanya makhluk itu, yang di dalam agama dinamai Malaikat. Namun hakikatnya hanyalah satu. Adapun orang yang berakal tidaklah nama-nama itu mendindingnya buat sampai kepada yang dinamai."

Demikianlah sedikit penjelasan tentang Malaikat. Kemudian kita teruskan lanjutan ayat.
Setelah itu Allah pun rnelanjutkan apa yang telah Dia tentukan, ya.itu menciptaka.n khalifah itu; itulah Adam.

وَ عَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
"Dan telah diajarkanNya kepada Adam nama-namanya semuanya. " (pangkal ayat 31).

Artinya diberilah oleh Allah kepada Adam itu semua ilmu:

ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُوْنِيْ بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ
Kemudian Dia kemukakan semuanya kepada Malaikat. lalu Dia berfirman : Beritakanlah kepadaKu nama-nama itu semua, jika adalah kamu makhluk­makhluk yang benar.'-
(ujung ayat 31).

Sesudah Adam dijadikan, kepadanya telah diajarkan oleh Tuhan nama-nama yang dapat dicapai oleh kekuatan manusia, baik dengan pancaindra ataupun dengan akal semata-mata, semuanya diajarkan kepadanya.

Kemudian 'I'uhan panggillah Malaikat-malaikat itu dan Tuhan tanyakan adakah mereka tahu nama-nama itu ? Jika benar pendapat mereka selama ini bahwa jika khalifah itu terjadi akan timbul bahaya kerusakan dan pertumpahan darah, sekarang cobalah jawab pertanyaan Tuhan : Dapatkah mereka menunjukkan nama-nama itu ?

قَالُوْا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
"Mereka menjawab :Maha Suci Engkau! ? idak ada pengetahuan bagi kami, kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Karena sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Tahu, lagi.Maha bijcakscaraa. " (ayat 32).

Di sini nampak penjawaban Malaikat yang mengakui kekurangan mereka.Tidak ada pada mereka pengetahuan, kecuali apa yang diajarkan Tuhan juga. Mereka memohon ampun dan karunia., menjunjung kesucian Allah bahwasanya pengetahuan mereka tidak lebih daripada apa yang diajarkan juga, lain tidak. Yang mengetahui akan semua hanya Allah. Yang bijaksana membagi-bagikan ilmu kepada barangsiapa yang Dia kehendaki, hanyalah Dia juga.

Sekarang Tuhan menghadapkan pertanyaanNya kepada Adam :

قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ
"Berkata Dia : Wahai Adam ! Beritakanlah kepada mereka nama-nama itu semuanya. " (pangkal ayat 33)

Oleh Adam titah Tuhan itupun dijunjung. Segala yang ditanyakan Allah dia jawab, dia terangkan semuanya di hadapan Malaikat banyak itu.

فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَّكُمْ إِنِّيْ أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ وَ أَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ
"Maka tatkala diberitahukannya kepada mereka nama-nama itu semuanya berfirmanlah Dia : Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku lebih mengetahui rahasia langit dan bumi, dan lebih Aku ketahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan. " (ujung ayat 33).

Dan merenung ayat ini, ahli-ahli tafsir dan kerohanian Islam mendapat kesimpulan bahwasanya dengan menjadikan manusia, Tuhan Allah memperlengkap pernyataan kuasaNya.

Mereka namai tingkat-tingkat alam itu menurut tarafnya masing-masing. Ada alam Malaikat yang disebut Alam Malakut sebagai kekuatan yang tersembunyi pada seluruh yang ada ini.

Ada pula Alam Nabati, yaitu alam tumbuh-tumbuhan yang mempunyai hidup juga, tetapi hidup yang tidak mempunyai kemajuan.

Ada Alam Hayawan, yaitu alam binatang yang hidupnya hanya dengan naluri belaka (instinct, gharizah) dan lain-lain sebagainya.

Maka diciptakan Tuhanlah manusia, yang dinamai oleh setengah orang Alam Insan atau Alam Nasut.

Maka penciptaan Insan itu lainlah dari yang lain. Kalau Malaikat sebagai salah satu kekuatan bersembunyi dan pelaksana tugas-tugas tertentu, dan kalau alam hayawan (hewan) hanya hidup menuruti naluri, maka insan diberi kekuatan lain yang bernama akal.

Insan adalah dari gabungan tubuh kasar yang terjadi daripada tanah dan nyawa atau roh yang terjadi dalam rahasia Allah termasuk di dalamnya akal itu sendiri. Dan akal itu tidak sekaligus diberikan, tetapi diangsur, sedikit demi sedikit. Mulai lahir ke dunia dia hanya pandai menangis, tetapi kelak, lama- kelamaan, dia akan menjadi sarjana, dia akan menjadi Failasuf, dia akan mengemukakan pendapat-pendapat yang baru tentang rahasia alam ini.

Bahkan dia akan membongkar rahasia alam yang masih tersembunyi, untuk membuktikan kekayaan Allah. Dan dia akan menjadi Nabi. Tuhan menciptakan manusia menjadi alatNya untuk menyatakan kekuasaanNya yang masih Dia sembunyikan dalam alam ini.

Bukan karena Malaikat tidak sanggup berbuat demikian. Tetapi karena Tuhan telah menentukan tugas dan ilmu yang tertentu buat Malaikat pula. Takdir Ilahi, sebagai diakui oleh jawaban Malaikat itu adalah Maha Bijaksana.

Untuk itulah manusia atu dijadikan khalifah. Karena tugas menjadi khalifah itu memang berat, maka manusia itupun selalu dipimpin. Ttu sebab dikirim kelaknya Rasul-rasul dan wahyu, sehingga pantaslah sebagaimana tersebut di dalam Surat al-Qiyamah (Surat 75, ayat 36) :

أَ يَحْسَبُ الْإِنْسانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدىً
"Apakah manusia menyangka bahwa dia akan dibiarkan percuma?" (al-Qiyamah : 36)

Akan dibiarkan menjadi khalifah dengan tidak ada tuntunan ? Dengan demikian bukanlah Tuhan tidak tahu bahwa akan ada kerusakan dan pertumpahan darah, sebagai yang disembahkan oleh Malaikat itu.

Bahkan pengetahuan Malaikat tentang itupun adalah dari Tuhan juga. Tetapi kerusakan tidak akan banyak, jika dibandingkan dengan manfaat bagi alam. Dan penumpahan darah niscaya akan terjadi juga tetapi bumi akan mengalami perubahan besar karena pekerjaan dan usaha daripada makhluk yang dilantik menjadi. khalifah ini.

Tentang Khalifah

Arti yang tepat dalam bahasa kita terhadap kalimat khalifah ini hanya dapat kita ungkapkan setelah kita kaji apa tugas khalifah.

1. Seketika Rasulullah s.a.w telah wafat, sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w sependapat mesti ada yang menggantikan beliau mengatur masyarakat, mengepalai mereka, yang akan menjalankan hukum, membela yang lemah, menentukan perang atau damai dan memimpin mereka semuanya.

Sebab dengan wafatnya Rasulullah, kosonglah jabatan pemimpin itu. Maka sepakatlah mereka mengangkat Saiyidina Abu bakar as-Shiddiq r.a. menjadi pemimpin mereka. Dan mereka gelari dia "Khalifah Rasulullah". Tetapi meskipun yang dia gantikan memerintah itu ialah Utusan Allah, namun dia tidaklah langsung menjadi Nabi atau Rasul pula. Sebab Risalah itu tidaklah dapat digantikan. Jadi di sini dapat kita artikan Khalifah itu pengganti Rasulullah dalam urusan pemerintahan.

2. Kepada Nabi Daud Tuhan Allah pernah bersabda:

يا داوُدُ إِنَّا جَعَلْناكَ خَليفَةً فِي الْأَرْضِ
" Wahai Daud ! Sesungguhnya engkau telah kami jadikan khalifah di bumi. " (Shad: 26)

Ini bisa diartikan sebagai khalifah Allah sendiri, pengganti atau alat dari Allah buat melaksanakan hukum Tuhan dalam pemerintahannya. Dan boleh juga diartikan bahwa dia telah ditakdirkan Tuhan menjadi pengganti dari raja-raja dan pemimpin­ pemimpin dan Nabi-nabi Bani Israil yang terdahulu dari padanya.

3.Tetapi ada pula ayat-ayat bahwa anak-cucu atau keturunan yang dibelakang adalah sebagai khalafah atau khalifah dari nenek-moyang yang dahulu (sebagai tersebut dalam Surat Yunus, Surat 10, ayat 14). Demikian juga dalam surat-surat yang lain-lain.

4. Tetapi di dalam surat an-Naml (Surat 27, ayat 62), ditegaskan bahwa seluruh manusia ini adalah khalifah di muka bumi ini :

أَمَّنْ يُجيبُ الْمُضْطَرَّ إِذا دَعاهُ وَ يَكْشِفُ السُّوءَ وَ يَجْعَلُكُمْ خُلَفاءَ الْأَرْضِ أَإِلٰهٌ مَعَ اللهِ قَليلاً ما تَذَكَّرُونَ
"Atau siapakah yang memperkenankan permohonan orang-orang yang ditimpa susah apabila menyeru kepadaNya? Dan yang menghilangkan ke susahan ?Dan yang menjadikan kamu Khalifah-khalifah di bumi ?Adakah Tuhan lain beserta Allah ? Sedikit kamu yang ingat. "
(an-Naml : 62).

Setelah meninjau sekalian ayat ini dan gelar khalifah bagi Saiyidina Abu bakar, barangkali tidaklah demikian jauh kalau khalifah kita artikan pengganti.

Sekarang timbul pertanyaan : Pengganti dari siapa ?
Ada penafsir mengatakan pengganti dari jenis makhluk yang telah musnah, sebangsa manusia juga, sebelum Adam. Itulah yang akan digantikan:

Ada setengah penafsiran mengatakan Khalifah dari Allah sendiri. Pengganti Allah sendiri. Sampai di sini niscaya dapat dipahamkan bahwa mentang-mentang manusia dijadikan KhalifahNya oleh Allah, bukanlah berarti, bahwa dia telah berkuasa pula sebagai Allah dan sama kedudukan dengan Allah; bukan ! Sebagaimana juga Abu Bakar sama kedudukan Abu bakar dengan Rasulullah.

Maka jika manusia menjadi Khalifah Allah, bukan berati manusia menjadi sama kedudukan dengan Allah! Maka pengertian pengganti di sini harus diberi arti manusia diangkat oleh Allah menjadi KhalifahNya. Dengan perintah-perintah tertentu. Dan untuk menghilangkan kemusykilan dalam hati, kalau hendak dituruti tafsir yang kedua, bahwa manusia adalah Khalifah Allah di muka burni, janganlah dia dibahasa Indonesiakan, tetap sajalah dalam bahasa aslinya : Khalifah Allah !

Sekarang kita lanjutkan tentang kedua penafsiran itu.
Pendapat pertama ialah Khalifah dari makhluk dulu-dulu yang telah musnah. Di kala mereka masih ada di dunia, mereka hanya berkelahi, merusak, bunuh-membunuh karena berebut hidup. Itulah sebabnya maka Malaikat terkenang akan itu kembali lalu me­nyampaikan permohonan dan pertanyaan kepada Tuhan, kalau-kalau terjadi demikian pula.

Maka tersebarlah semacam dongeng pusaka bangsa Iran (Persia), yang kadang-kandang setengah ahli tafsir tidak pula keberatan menukilnya : katanya sebelum Nabi Adam, ada makhluk namanya Hinn dan Binn, ada juga yang mengatakan namanya ialah Thimm dan Rimm.

Setelah makhluk yang dua itu habis, datanglah makhluk yang bernama jin. Semua makhluk itu musnah, sebab mereka rusak­ merusak, bunuh membunuh. Akhirnya kata dongeng dikirimlah oleh Tuhan balatentaranya, terdiri dari Malaikat-malaikat dan dikepalai oleh Iblis, lalu makhluk Jin itu diperangi sehingga musnah. Adapun sisa-sisanya lari ke pulau-pulau dan ke lautan. Kemudian barulah Allah menciptakan Adam.

Dalam setengah kitab tafsir ada juga bertemu keterangan ini, meskipun riwayat ini tidak berasal dari riwayat Islam sendiri.

Tetapi meskipun dia hanya dongeng belaka sudahlah dapat kita mengambil kesimpulan bahwa pendapat tentang adanya makhluk purbakala yang dikhalifahi oleh Adam itu, bukanlah pendapat kemarin dalam kalangan manusia, melainkan telah tua, beratus tahun sebelurn keluar teori Darwin. Bukankah ahli-ahli pengetahuan menggali ilmu juga dari dongeng ?

Ada lagi pendapat yang sejalan dengan itu, yaitu dari beberapa golongan kaum Shufi dan kaum Syi'ah Imamiyah.

Al-Alusi, pengarang tafsir Ruhul Ma'ani mengatakan bahwa di dalam kitab Tami'ul Akbar dari orang Syi'ah Imamiyah, pasal 15, ada tersebut bahwa sebelum Allah menjadikan Adam nenek kita, telah ada 30 Adam.

Jarak di antara satu Adam dengan Adam yang lain 1.000 tahun, setelah Adam yang 30 itu, 50.000 tahun lamanya dunia rusak binasa, kemudian ramai lagi 50.000 tahun barulah dijadikan Allah nenek kita Adam.

Ibnu Buwaihi meriwayatkan di dalam Kitab at Tauhid, riwayat dari Imam Ja'far as-Shadiq dalam satu hadits yang panjang, dia berkata : "Barangkali kamu sangka bahwa Allah tidak menjadikan manusia (basyar) selain kamu. Bahkan, demi Allah! Dia telah menjadikan 1.000 Adam (Alfu Alfi Adama), dan kamulah yang terakhir dari Adam-adam itu !"

Berkata al-Haitsam pada syarahnya yang besar atas Kitab Nahjul Balaghah: "Dan dinukilkan dari Muhammad al-Baqir bahwa dia berkata : Telah habis sebelum Adam yang Bapak kita 1.000 Adam atau lebih. "Ini semua adalah pendapat dari kalangan Imam- imam Syiah sendiri : Ja'far as-Shadiq dan Muhammad al-Baqir, dua di antara 12 imam Syi'ah Imamiyah.

Kalangan kaum Shufi pun mempunyai pendapat demikian as­ Syaikh al-Akbar Tbnu Arabi berkata dalam kitabnya yang terkenal al­Futuhat al-Makkiyah, bahwa 40.000 tahun sebelum Adam sudah ada Adam yang lain.

Malahan untuk menjadi catatan, Imam Syi'ah yang besar itu, Ja'far as-Shadiq menyatakan bahwa di samping alam kita ini, Tuhan Allah telah menjadikan pula 12.000 alam, dan tiap-tiap alam itu lebih besar daripada tujuh langit dan tujuh bumi kita ini.

Di dalam beberapa ranting yang mengenai Kepercayaan terdapat perbedaan sedikit-sedikit, sebagai kita yang dinamai Ahlus-Sunah, dengan kaum Syi'ah. Tetapi di dalam hal yang mengenai ilmu pengetahuan alam ini, amat sempitlah paham kita kalau sekiranya kita tidak mau memperdulikan, mentang- mentang dia timbul dari Syi'ah.

Karena hal lkhwal yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan itu adalah universal sifatnya. Yaitu menjadi kepunyaan manusia bersama. Apatah lagi sampai kepada saat sekarang ini dan seterusnya, penyelidikan ilmiah tentang alam., tentang hidupnya manusia di dunia ini. tidaklah akan berhenti.

Cobalah cocokan tentang keterangan Imam Ja'far as-Shadiq ini dengan hasil penyelidikan alam yang terakhir , yang mengatakan bahwa alam cakrawala itu terdiri dari pada berjuta-juta kekeluargaan bintang- bintang masing- masing dengan Mataharinya sendiri yang dinamai Galaxi.

Berdasarkan kepada semunya ini, maka ditafsirkan oleh setengah ahli tafsir, bahwa yang dimaksud dengan Adam sebagai Khalifah, ialah Khalifah dari Adam-adam yang telah berlalu itu, yang sampai mengatakan seribu-ribu (sejuta Adam).

Dan dongeng Iran yang diambil dan dimasukkan ke dalam beberapa tafsir itupun menunjukkan bahwa dalam kalangan Islam sudah lama ada yang berpendapat bahwa sebelum manusia kita ini sudah ada makhluk dengan Adamnya sendiri terlebih dahulu. Sekarang tidaklah berhenti orang menyelidiki hal itu, sehingga akhirnya datanglah pendapat secara ilmiah, diantaranya teori darwin, dilanjutkan lagi oleh berpuluh penyelidikan tentang ilmu manusia, pada fosil-fosil yang telah membatu menunjukkan bahwa 400.000 tahun yang lalu telah ada manusia Peking atau manusia Mojokerto.

Adapun al-Qur'an, karena dia bukanlah kitab catatan penyelidikan fosil, atau teori Darwin, tidaklah dia membicarakan hal itu. Tidak dia menentang teori itu, malahan menganjurkan orang meluas dalamkan ilmu pengetahuan tentang apa saja, sehingga bertambah yakin akan kebesaran Allah.

Penafsiran yang ke dua ialah Khalifah dari Allah sendiri.
Di antara makhluk sebanyak itu manusialah yang telah dipilih Allah menjadi KhalifahNya, yaitu Adam dan keturunannya. (Lihat Surat an-Naml ayat 62). Demikian kata mereka.

Pada manusia itulah Allah menyatakan hukumNya dan peraturanNya; Dia menjadi Khalifah untuk mengatur bumi ini, untuk mengeluarkan rahasia yang terpendam di dalamnya. Dianugerahkan kepadanya akal. Akal itupun suatu yang ajaib dan ghaib.

Bentuknya tidak nampak, tetapi bekasnyalah yang menunjukkan bahwa akal itu ada. Manusia yang ketika mulai lahir lemah tadi, kian lama kian diberi persiapan. Kekuatan yang ada padanya amat luas dan keinginan hendak tahu tidak terbatas. Memang kalau sendiri-sendiri dia lemah tidak berdaya. Tetapi kumpulan dari bekas usaha orang-seorang itu dapat mengesan dan membekas pada seluruh bumi.

Dari keturunan demi keturunan manusia itu bertambah dapat menguasai dan mengatur bumi. Telah dikuasainya lautan dan telah diselaminya. Telah terbang dia di udara, telah pandai dia bercakap bersambutan kata, padahal yang seorang di Kutub Utara dan yang seorang di Kutub Selatan. Gunung ditembusinya dan dibuatnya jalan kereta-api di bawahnya. Dan banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lain yang akan dapat dikerjakan dalam bumi, terutama sejak terbuka rahasia tenaga Atom dalam abad 20 ini.

Memang ilmu yang luas itu tidak diberikan semuanya kepada orang-seorang, dan tidak pula diberikan sekaligus, melainkan dari penyelidikan mereka sendiri. Yang karena kesungguhan mereka, rahasia itu dibukakan dan dibukakan lagi oleh Tuhan.

Jadi dapatlah dipahamkan bahwasanya ayat 31 yang menerangkan bahwa Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam, dan seketika ditanyakan kepada Malaikat, Malaikat menyembahkan bahwa pengetahuan mereka hanya terbatas sekedar yang diajarkan Allah kepada mereka (ayat 32), lalu Adam disuruh menerangkan, maka diapun menerangkanlah semua nama-nama itu.

Dapat ditarik maksud yang dalam tentang keistimewaan yang diberikan Allah kepada manusia, yang kian lama kian dibukakan rahasia segala nama itu kepada manusia; namun keghaiban semua langit dan bumi masih banyak lagi yang belum diajarkan kepada Malaikat ataupun kepada manusia, sebagaimana yang tersebut pada ujung ayat 33.

Kepada tafsiran yang manapun kita akan cenderung, baik jlka ditafsirkan bahwa Adam dan keturunannya diangkat jadi Khalifah dari makhluk yang telah musnah, ataupun sebagai Khalifah daripada Allah sendiri, namun isi ayat sebagai lanjutan daripada ayat sebelumnya telah menyingkapkan lagi tabir pemikiran yang lebih luas bagi manusia, agar janganlah mereka kafir terhadap Allah, ingatlah bahwa kedudukannya dalam hidup bukanlah sembarang kedudukan. Janganlah disia-siakan waktu pendek yang dipakai selama hidup di dunia ini.

Demikian besar sanjungan yang diberikan Allah, sangatlah tidak layak kalau manusia menjatuhkan dirinya ke dalam kehinaan, di sini disebutkan bahwa dia adalah khalifah. Di waktu yang lain Tuhan katakan bahwa manusia telah dijadikan sebaik-baiknya bentuk (Surat
at-Tin 95, ayat 4). Dan dikala yang lain Dia Allah, sanjung dia tinggi­tinggi.

وَ لَقَدْ كَرَّمْنا بَني‏ آدَمَ وَ حَمَلْناهُمْ فِي الْبَرِّ وَ الْبَحْرِ وَ رَزَقْناهُمْ مِنَ الطَّيِّباتِ وَ فَضَّلْناهُمْ عَلى‏ كَثيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنا تَفْضيلاً

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan Bani Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri rezeki mereka dengan yang baik-baik, dan sungguh-sungguh Kami lebihkan mereka daripada kebanyakan (makhluk) yang telah Kami jadikan, sebenar-benar dilebihkan. " (al-Isra: 70).

Demikianlah kemulian yang telah dilimpahkan Tuhan kepada manusia, adakah patut kalau manusia tiada juga sadar akan dirinya dari hubungannya dengan Tuhannya ?
 



وَ إِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوْا لِآدَمَ فَسَجَدُوْا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَ كَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ

(34) Dan (ingatlah) tatkala Kami berkata kepada Malaikat : Sujudlah kamu kepada Adam! Maka sujudlahmereka,kecuali iblis enggan dia dan me­nyombong, karena adalah d i a d a r i golongan makhluk yang kafir.

وَ قُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَ زَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَ كُلاَ مِنْهَا رَغَداً حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الْظَّالِمِيْنَ

(35) Dan berkata Kami : Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istri engkau di taman ini, dan makanlah berdua daripadanya dengan senang sesuka-sukamu berdua, dan janganlah kamu mendekat ke pohon ini, karena (kalau mendekat) akan jadilah kamu berdua dari orang-orang yang aniaya.

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ وَ قُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَ لَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَ مَتَاعٌ إِلَى حِيْنٍ

(36) Maka digelincirkanlah kedua­nya oleh setan dari (larangan) itu , maka dikeluarkan nyalah keduanya dari keadaan yang sudah ada mereka padanya. Dan berkatalah Kami : Turunlah kamu ! Dalam ke­adaan yang setengah kamu terhadap yang setengah ber­musuh-musuhan dan untuk kamu di bumi; adalah tempat ketetapan dan bekal, sehingga sampai satu masa.

فَتَلَقَّى آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

(37 ) Setelah itu, menerimalah Adam dari Tuhannya beberapa kalimat, maka diampuniNya akan dia; sesungguhnya Dia adalah Pemberi ampun, lagi Maha Penyayang.

قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعاً فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ

(38) Kami firmankan : Turunlah kamu sekalian dari (taman) ini, kemudian jika ada datang pada kamu satu petunjuk daripada­Ku, maka barangsiapa yang menuruti petunjukKu itu, tidak lah ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.

وَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَ كَذَّبُوْا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ

(39) Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan kepada ayat ­ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, yang mereka di dalamnya akan kekal.


وَ إِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوْا لِآدَمَ فَسَجَدُوْا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَ كَانَ مِنَ الْكَافِرِيْن
"Dan (ingatlah) tatkala Kami berkata kepada Malaikat : Sujudlah kamu kepada Adam! Maka sujudlah mereka, kecuali iblis, enggan dia dan menyombong, karena adalah dia dari golongan makhluk yang kafir. " (ayat 34).

Inilah kelanjutan dari pelaksanaan keputusan Allah mengangkat Khalifah di bumi itu. Adam telah dijadikan dan telah diajarkan kepadanya berbagai nama, dan banyak ilmu yang diberikan kepadanya, yang tidak diberikan kepada Malaikat. Kemudian diperintahkan Tuhanlah Malaikat-malaikat itu menyatakan hormat kepada Adam, dengan bersujud.

Sudah lama kita maklumi, sebagai tersebut di dalam beberapa Surat dalam al-Qur'an. Misalnya dalam Surat al Haj (Surat 22) ayat 18, atau an- Nahl (Surat 16) ayat 49, atau ar-Ra'ad (Surat 13) ayat 16, atau surat ar- Rahman (Surat 55) ayat 6, bahwa seluruh makhluk bersujud kepada Tuhan, sejak dari Malaikat, atau isi semua langit dan bum, bahkan kayu-kayuan, bahkan bintang di langitpun sujud kepada Tuhan.

Kita manusiapun sujud dan diperintahkan sujud kepada Tuhan. Bagi kita manusia yang dikatakan sujud itu ialah mencecahkan kening ke bumi, lengkap dengan anggota yang tujuh, yaitu kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua telapak kaki ditambah kepala.

Tetapi bagaimana sujudnya pohon-pohon ? Bagaimana sujudnya Malaikat ? Niscaya tidaklah sampai pengetahuan kita ke sana. Yang terang dengan sujud itu terkandunglah sikap hormat dan memuliakan.

Maka diperintahlah Malaikat memulia.kan Adam dan bersujud, yaitu sujud cara Malaikat, yang kita tidak tahu, dan tidak perlu dikarek­ korek lagi buat tahu. Malaikatpun melaksanakan perintah itu kecuali satu makhluk, yaitu iblis. Dia enggan menjalankan perintah Tuhan itu dan dia menyombong.

Mengapa dia enggan dan menyombong ? Di ujung ayat sudah ada penjelasannya, yaitu karena memang dia telah mempunyai dasar buat kufur. Dan dalam ayat-ayat yang lain sampai dia menyatakan sebab kesombongan itu, yaitu karena Tuhan menjadikannya dari api, sedangkan manusia Adam yang disuruh dia bersujud kepadanya itu dijadikan Tuhan dari tanah"

Dengan sikap iblis yang menyombong sendiri itu, mulailah kita mendapat pelajaran bahwasanya Allah mentakdirkan di dalam iradatNya bahwasanya tanda kekayaan Tuhan itu bukanlah jika Dia menjadikan roh yang baik saja.

Disamping yang baikpun dijadikanNya yang buruk. Di samping yang patuh dijadikanNya pula yang durhaka. Ini sudah ada sejak dari permulaan. Sehingga bagi Nabi kita Muhammad s.a.w sendiri yang tengah berjuang menyampaikan seruan Allah seketika ayat ini diturunkan, menjadi pengertian lebih mendalamlah bahwa keingkaran dan kekufuran penentang-penentang beliau, baik waktu di Mekkah atau waktu di Madinah, sudahlah suatu kenyataan yang tidak dapat dielakkan. Kalau dasar telah ada kufur, Tuhan Allahpun mereka tentang sebagai yang dilakukan oleh iblis itu.

وَ قُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَ زَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَ كُلاَ مِنْهَا رَغَداً حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الْظَّالِمِيْنَ
"Dan berkata Kami : Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istri engkau ditaman ini, dan makanlah berdua daripadanya dengan senang sesuka­ sukamu berdua; dan janganlah kamu berdua mendekat pohon ini, karena (kalau mendekat) akan jadilah kamu berdua dari orang-orang yang aniaya (ayat 35).

Setelah lepas dari ujian tentang nama-nama ilmu yang diajarkan Allah, dan lulus dari ujian ini melebihi Malaikat, setelah lepas dari ujian kepada Malaikat yang diperintahkan sujud, dan sujud semua kecuali Iblis, barulah Adam disuruh berdiam di dalam taman itu bersama istrinya.

Nyatalah sekarang dalam ayat ini bahwa sementara itu istri beliau telah dijadikan Allah. Ialah yang telah diketahui namanya oleh pemeluk ketiga agama: Islam, Yahudi dan Nasrani, yang bernama Hawa, dan dalam ejaan orang Eropa disebut Eva.

Tidaklah dijelaskan dalam ayat ini asal kejadian itu dan tidak pula diterangkan pada ayat yang lain. Orang Yahudi dan Nasrani, berdasar kepada Kitab Perjanjian Lama (kejadian, pasal 2 ayat 20 sampai 24) mempunyai kepercayaan bahwa Hawa itu dijadikan Tuhan daripada tulang rusuk Nabi Adam; dicabut tulang rusuknya sedang dia tidur, lalu diciptakan menjadi perempuan dijadikan istrinya.

Di dalam Islam kepercayaan yang umum tentang Hawa terjadi dari tulang rusuk Nabi Adam itu, bukanlah karena percaya kepada kitab kejadian pasal 2 tersebut, karena Nabi s.a.w telah memberi ingat bahwa Kitab-kitab Taurat yang sekarang ini tidaklah asli lagi, sudah banyak catatan manusia dan manusianya itu tidak terang siapa orangnya.

Bahkan naskah aslinya sampai sekarang tidak ada. Hal ini diakui sendiri oleh orang Yahudi dan Nasrani. Tetapi Nabi s.a.w sendiri pernah bersabda, ketika beliau memberi ingat kepada orang laki-laki tentang perangai dan tabiat perempuan supaya pandai-pandai membimbingnya. Maka tersebutlah dalam sebuah Hadits yang dirawikan oleh Imam Bukhari dan Muslim daripada Abu Hurairah, demikian sabda beliau :

"Peliharalah perempuan perempuan itu sebaik-baikraya, karena sesungguhnya perempuan dijadikan dari tulang rusuk, Dan sesungguhnya yang paling bengkok pada tulang rusuk itu, ialah yang sebelah atasnya. Maka jika engkau coba meluruskannya niscaya engkau patahkan dia. Dan jika engkau tinggalkan saja dia akan tetap bengkok. Sebab itu peliharalah perempuan­ perempuan baik-baik. "

Hadits ini Muttafaq `alaihi, artinya sesuai riwayat Bukhari dengan riwayat Muslim.
Apabila kita perhatikan bunyi Hadits ini dengan seksama, tidaklah dia dapat dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa perempuan, atau terutam Siti Hawa, terjadi daripada tulang rusuk Nabi Adam.

Tidak ada tersebut sama sekali dalam Hadits ini dari hal tulang rusuk Nabi Adam. Yang terang maksud hadits ini ialah membuat perumpamaan dari hal bengkok atau bengkoknya jiwa orang perempuan, sehingga payah membentuknya, sama keadaanya dengan tulang rusuk, tulang rusuk tidaklah dapat diluruskan dengan paksa. Kalau dipaksa-paksa meluruskannya, diapun patah. Kalau dibiarkan saja, tidak dihadapi dengan sabar, bengkoknya itu akan terus.
Apatah lagi Hadits ini dituruti oleh Hadits lain di dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga, demikian bunyinya.

Bukhari dan Muslim.


"Perempuan itu adalah seperti tulang rusuk; jika engkau coba meluruskannya diapun patuh. Dan jika engkau bersuka sukaan dengan dia, maka bersuka-suka juga engkau, namun dia tetap bengkok. "

Dan pada satu riwayat lagi dengan Muslim:
 

"Sesungguhnya perempuan itu dijadikan dari tulang rusuk. Dia tidak akan dapat lurus untuk engkau atas suatu jalan. Jika engkau mengambil kesenangan dengan dia, namun dia tetap bengkok. Dan jika engkau coba meluruskannya, niscaya engkau mematahkannya. Patahnya itu talaknya. "

Ada lagi Hadits lain dengan makna yang serupa, diriwayatkan oleh ahli hadits yang lain pula.
Pada Hadits pertama sudah nyata tidak ada tersebut bahwa Hawa terjadi dari tulang rusuk Adam. Pada Hadits yang kedua sudah jelas lagi bahwa itu hanya perumpamaan. Hadits yang ketiga menjadi lebih jelas karena telah ada Hadits yang kedua, bahwa itu adalah perumpamaan. Hadits yang ketiga menambah jelas lagi, bahwa kalau laki-laki tidak hati-hati membimbing istrinya kalau terus bersikap keras saja, talaklah yang terjadi dan patah aranglah rumah tangga.

Maka teranglah sekarang bahwa yang dimaksud disini ialah jiwa atau bawaan segala perempuan dalam dunia ini. Pertimbangannya tidak lurus, kata orang sekarang, tidak objektif. Perempuan di dalam mempertimbangkan sesuatu lebih banyak memperturutkan hawanya, yang cara sekarang kita namai sentimen.

Hadits-hadits ini telah memberi petunjuk bagi seorang laki-laki terutama bagi seorang suami, bagaimana caranya menggauli istrinya dan mendidik anak-anaknya yang perempuan. Supaya terjadi rumah tangga yang bahagia, hendaklah seorang laki-laki mengenal kelemahan jiwa perempuan ini, yaitu laksana tulang rusuk yang bengkok.

Seorang suami yang berpengalaman, dapat mengerti dan memahami apa maksud Hadits-hadits ini. Kelemahan perempuan yang seperti ini, pada hakikatnya, kalau laki-laki pandai membawakannya, inilah yang menjadi salah satu dasar penguatan satu rumah tangga.

Jiwa perempuan itu akan nampak bengkoknya di dalam mempertimbangkan sesuatu keuntungan dan muslihat yang umum, jika bertentangan dengan muslihat rumah tangga. Seorang suami yang sedang kesusahan belanja, tidaklah boleh meminta dengan kekerasan supaya istrinya meminjami perhiasan gelang dan subang emasnya untuk digadaikan sementara untuk dijadikan modal, meskipun menurut akal yang waras, sudahlah patut dia menyerahkan pada waktu itu, sebab barang itupun digunakan untuk pertahanan di waktu sangat susah.

Kalau diminta dengan keras, dia akan bertahan. Kalau sama­ sama keras cerailah yang akan timbul. Tapi kalau laki-laki mengenal rahasia jiwa perempuan yag bengkok itu, dia mesti menjauhi jalan kekerasan.

Setengah dari sifat bengkoknya jiwa perempuan, ialah jelas hiba kepada orang yang sedang susah. Kalau kelihatan nyata oleh istrinya bahwa dia susah, dan kalau ditanyai oleh istri, tidak lekas­ lekas menyatakan kesusahan itu, dia akan gelisah melihat kesusahan suaminya.

Dia tidak akan enak makan dan tidak akan terpicing matanya tidur karena melihat kesusahan yang menimpa suaminya, yang sangat dicintainya itu. Kalau si suami pandai, dia sendiri yang akan menanggalkan gelang atau subangnya itu, untuk dikurbankannya bagi kepentingan suaminya. Inilah satu contohi .

Contoh yang lain ialah keinginannya akan perhiasan. Kalau si laki-laki tidak pandai membimbing , berapa saja belanja tidaklah akan cukup untuk memenuhi keinginannya akan perhiasan. Kalau si suami keras, bakhil, cerailah yang akan timbul.

Tetapi kalau si suami memperturutkan saja keinginan-keinginan istrinya itu, akan sangsailah (sengsaralah) mereka dalam rumah tangga, sehingga berapapun persediaan belanja tidaklah akan sedang menyedang.

Kalau laki-laki tidak mengenal bengkoknya jiwa istri ini, lalu bersikap keras, akan terjadilah perceraian. Atau kalau diperturutkan saja, akhirnya karena tidak terpikul, cerai juga yang akan timbul. Sebab itu hadits ini memberikan tuntunan yang sangat mendalam, agar laki-laki jangan lekas-lekas menjatuhkan talak.

Kalau tidak puas dengan perangai istrinya Orang Minangkabau mempunyai pepatah: "Tidak ada lesung yang tidak berdetak", artinya tidak ada perempuan seorangpun yang sunyi dari pada kelemahan jiwa yang demikian. Tetapi laki-laki yang memegang ketiga-tiga Hadits ini akan sanggup hidup rukun dengan istrinya, dalam irama rumah tangga, yang kadang-kadang gembira dan kadang-kadang muram.

Kembali kepada hadits-hadits tadi, memang ada sebuah riwayat pula yang dikeluarkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, al Baihaqi dan Tbnu `Asakir, yaitu perkataan dari Ibnu Abbas , Ibnu Mas'ud dan beberapa orang dari kalangan sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. Mereka berkata:

"Tatkala Adam telah berdiam di dalam surga itu, berjalanlah dia seorang diri dalam kesepian, tidak ada pasangan (istri) yang akan menenteramkannya. maka tidurlah dia, lalu dia bangun. Tiba-tiba disisi kepalanya seorang perempuan sedang duduk, yang telah dijadikan Allah daripada tulang rusuknya. "

Riwayat ini sudah terang bukanlah dari Sabda Rasulullah s.a.w melainkan perkataan Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Masud. Oleh karena riwayat ini adalah perkataan Sahabi, bukan sabda Rasul, niscaya nilainya untuk dipegang sebagai suatu akidah tidak sama lagi dengan Hadits yang shahih dari Nabi, apatah lagi dengan al-Qur°an.

Mungkin sekali, bahkan besar sekali kemungkinan itu, bahwa pernyataan kedua sahabat itu terpengaruh oleh berita-berita orang Yahudi yang ada di Madinah ketika itu, yang berpegang kepada isi kitab "Kejadian",pasal 2, ayat 21:

"Maka didatangkan Tuhan Allah kepada Adam itu tidur yang lelap, lalu tertidurlah Ia. Maka diambil Allah tulang ditutupkannya pula dengan daging. Maka daripada tulang yang telah dikeluarkannya dari dalam Adam itu, diperbuat Tuhan seorang perempuan, lalu dibawanya akan dia kepada Adam."

Sebagaimana telah kita beri penerangan di mukaddimah tafsir ini. Rasulullah s.a.w telah memberikan pedoman kepada sahabat­ sahabat beliau dalam hal menilai.laerita-berita yang disampaikan oleh Ahlul-Kitab.
 

"Dan telah mengeluarkan Bukhari daripada Hadits Abu Hurairah. Kata Abu Hurairah itu : Adalah ahlul-kitab itu membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan mereka tafsfrkan dia ke dalam bahasa Arab untuk orang-orang Islam. Maka berkatalah Rasulullah s.a.w.: Janganlah kamu langsung membenarkan ahlul kitab itu dan jangan pula langsung kamu dustakan, tetapi katakanlah: Kami beriman kepada Allah. "

Berdasar kepada hadits ini jadi besarlah kemungkinan bahwa riwayat Siti hawa terjadi dari tulang rusuk Adam yang diberikan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud ini didengar mereka dari Taurat yang dibacakan oleh ahlul kitab itu, lalu mereka terima saja bagaimana adanya sebagai satu fakta yang mereka terima, yang boleh diolah dan diselidiki pula oleh orang lain.

Lantaran itu pula maka tidaklah salah pada pendapat penafsir yang dha'if ini kalau ada orang yang tidak memegang teguh i'tikad bahwasanya Hawa terjadi daripada tulang rusuk Nabi Adam, sebab tidak ada firman Tuhan menyebutkan di dalam al-Qur'an, dan tidak pula ada sabda Nabi yang tepat menerangkan itu. Yang ada hanya berita atau penafsiran dari Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Mas'ud dan beberapa sahabat yang lain yang besar kemungkinan bahwa cerita ini mereka dengar dari orang Yahudi yang membaca kitab "Kejadian"salah satu dari kitab catatan Yahudi yang mereka sebut Taurat itu.

Dan Hadits-hadits Bukhari dan Muslim yang tiga buah di atas tadi, kita terima dan kita amalkan dengan segala kerendahan hati,untuk pedoman hidup menghadapi kaum perempuan , sebagai teman hidup laki-laki dalam dunia ini. Apatah lagi setelah datang Hadits lain yang menguatkan nasehat bagi kaum laki-laki di dalam bergaul baik-baik dengan perempuan, yang dirawikan oleh Imam Bukhari dan Muslim juga :

"Peliharalah perempuan perempuan itu sebaik-baiknya, karena kamu telah mengambilnya dengan amanat dari Allah, dan kamu halalkan kehormatan mereka dengan kalimat-kalimat Allah. "

Syaikh Muhammad Abduh di dalam pelajaran tafsirnya, yang dicatat oleh muridnya Sayid Muhammad Rasyid Ridha di dalam tafsirnya al-Manar menyatakan pula pendapat bahwa Hadits mengatakan perempuan terjadi dari tulang rusuk itu bukanlah benar-benar tulang rusuk, melainkan suatu kias perumpamaan belaka, sebagai ada juga contoh demikian di dalam Surat 21, Surat al-Anbiya ayat 37 :

خُلِقَ الْإِنْسانُ مِنْ عَجَلٍ
"Telah diijadikan manusia itu dari sifat terburu buru. "

Dalam segala urusan dia mau lekas saja. Padahal kesanggupannnya terbatas. Mungkin tidak juga ada salahnya kalau kita berpaham tentang arti Hadits yang mengatakan bahwa kaum perempuan terjadi dari tulang rusuk itu, selain dari satu perumpamaan tentang keadaan jiwanya ialah pula satu perlambang tentang kehidupan manusia di atas dunia ini .

Seorang laki-laki yang telah patut kawin, adalah seumpama orang yang masih belum ada tulang rusuknya, sebab istri itupun disebut dalam kata lain dengan teman hidup. Seorang duda adalah seorang yang goyah jiwanya, karena tidak ada sandaran.

Demikian juga seorang perempuan, kalau belum juga dia bersuami padahal sudah patut bersuami, samalah keadaannya dengan sebuah tulang rusuk yang terlepas dari perlindungan. Bila dia telah bersuami, dia telah diletakkan ke tempatnya semula, dan dia telah terlindung oleh kulit pembungkus rusuk itu, yaitu perlindungan suaminya.

Sebab, benar atau tidaknya riwayat Siti Hawa terjadi daripada tulang rusuk nabi Adam itu, namun sekalian istri tidaklah terjadi dari tulang rusuk suaminya !

Sekarang kita kembali kepada 'Tafsir.

Maka disuruhlah Adam dan istrinya duduk di dalam taman indah berseri itu. Mereka keduanya diberi kebebasan, makan dan minum, memetik buah-buahan yang lezat ranum., yang hanya tinggal memetik. Artinya bebas merdeka.

Tetapi di dalam ayat ini kita bertemu lagi satu pelajaran tentang filsafat merdeka. Kemerdekaan ialah kebebasan membatasi diri ! Semua bebas dimakan, kecuali buah daripada pohon yang terlarang: "Jangan kamu berdua mendekat kepada pohon ini". Sama juga dengan beberapa larangan dalam al-Qur'an:"Jangan kamu mendekati zina!"Karena kalau sudah mendekat ke sana, niscaya termakan juga kelaknya buah itu. Kalau dia kamu makan, niscaya kamu merugi.

Orang yang tidak sanggup memelihara kemerdekaannya, niscaya akan kehilangan kemerdekaan itu. Dan jika kemerdekaan telah hilang, kerugianlah yang akan berjumpa.
Penafsir tidak hendak menyalinkan buah pohon apakah yang dilarang mereka memakan itu?

Ada orang yang mengatakan buah khuldi, atau buah kekal. Penafsiran ini niscaya salah. Sebab yang menamainya syajaratul-khuldi, pohon kekal siapa yang memakannya tidak mati-mati, bukanlah Tuhan, tetaapi setan sendiri seketika merayu Adam (lihat Surat 20, Thaha ayat 120).

Padahal kita bertemu sabda Tuhan yang lain untuk mendekatkan kita memahamkan syajarah atau pohon apakah yang dilarang Adam dan Hawa memakannya itu. Di dalam Surat Ibrahim (surat 14, ayat 24 sampai 26), Tuhan mengambil perumpamaan tentang dua pohon; pohon yang baik dan yang buruk. Pohon yang baik ialah kalimat yang baik. Kalimat yang baik ialah "La Ilaha Illallah." Dan pohon yang jahat ialah perumpamaan dari kalimat yang buruk. Kalimat yang buruk adalah segala macam kedurhakaan kepada Allah. Dan yang paling buruk ialah "syirik", mempersekutukan Tuhan dengan yang lain.

Maka pelanggaran kepada larangan saja, sudahlah namanya mulai memakan buah pohon yang buruk. Adam dan Hawa dilarang mendekati pohon yang terlarang itu.

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ
"Maka digelincirkanlah keduanya oleh setan dari (larangan) itu, dan dtkeluarkanlah keduanya dari keadaan yang sudah ada mereka padanya. " (pangkal ayat 36).

Artinya masuklah setan ke tempat mereka, lalu merayu dan memperdayakan mereka, supaya mereka makan juga buah pohon yang terlarang itu, sampai setan mengatakan bahwa itulah pohon kekal, siapa yang memakan tidak akan mati-mati.

Sampai karena pandainya setan merayu keduanya tergelincir, termakan juga akhirnya buah pohon terlarang itu. Demi mereka makan, keadaan mereka menjadi berubah, ternyata terbukalah aurat mereka. (al-A'raf, Surat 27, ayat 22), bertukarlah keadaan, insaflah mereka bahwa mereka telah bertelanjang, alangkah malunya.

Maka tahulah Tuhan bahwa laranganNya telah dilanggar:

وَ قُلْنَا اهْبِطُوْا
"Dan berkatalah Kami : Turunlah semua ! "

Adalah tiga pribadi yang dimaksud oleh ayat itu, yaitu Adam dan Hawa dan setan yang menggelincirkan keduanya itu. Semua disuruh turun dari tempat yang mulia itu, tidak boleh tinggal di sana lagi; yang berdua karena melanggar larangan, yang satu lagi karena menjadi si langkanas* memperdayakan orang.

بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ
"Yang setengah kamu dengan yang setengah jadi bermusuh! "

Karena dasar permusuhan sudah nampak sejak semula si Tblis atau setan tidak mau sujud karena sombong merasa diri lebih, tetapi menanam dendam dalambatin untuk mencelakakan manusia. Rupanya sudah ditakdirkan Allahlah bahwa permusuhan ini akan terus menerus dibawa kemuka bumi.

وَ لَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَ مَتَاعٌ إِلَى حِيْنٍ
"Dan untuk kamu di bumi adalah tempat berdiam, dan perbekalan, sampai satu waktu. " (ujung ayat 36).

Disuruhnya mereka, semuanya, ketiganya, meninggalkan tempat itu, pindah ke bumi. Di sanalah ditentukan tempat kediaman mereka; tetapi hanya buat sementara, tidak akan kekal disana. Di bumi itulah mereka menyediakan bekal yang akan mereka bawa kembali menghadap Tuhan apabila waktu yang tertentu bagi hidup itu sudah habis.

Niscaya menyesallah Adam atas kesalahan yang telah diperbuamya, telah dilanggarnya larangan, karena tidak tahan dia oleh rayuan setan iblis. Lalu memohon ampunlah dia kepada Allah:

فَتَلَقَّى آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
"Maka menerimalah Adam daripada Tuhannya beberapa kalimat, maka diampunilah akan dia : sesungguhnya Dia adalah Pemberi ampun, lagi Maha Penyayang. " (ayat 37).

Menyesallah Adam akan nasibnya. Dia yang bertanggung jawab, sehingga istrinyapun telah turut tergelincir karena rayuan setan itu. Dia memohonkan kepada Tuhan agar mereka diampuni, diberi maaf, diberi taubat atas kesalahan itu. Kesalahan yang timbul karena belum ada pengalaman atau karena kurang awas atas perdayaan musuh yang selalu mengintai kelemahan dan kelalaian. Tetapi Adampun tidak tahu dengan cara apa menyusun kata yang berkenan kepada Tuhan. Yang pantas buat diucapkannya agar permohonannya diterima.
Maka tersebutlah di dalam Hadits Qudsi:

"RahmatKu, kasih-sayangKu, mengalahkan murkaKu. "

Tuhan ajarkanlah kepada Adam betapa cara memohonkan ampun itu, itulah beberapa kalimat yang disebutkan dalam ayat ini. Dalam Surat al-A'raf ( Surat 7, ayat 23), bertemulah kalimat yang diajarkan Tuhan itu:

رَبَّنا ظَلَمْنا أَنْفُسَنا وَ إِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنا وَ تَرْحَمْنا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخاسِرينَ
"Ya Tuhan kami !Kami telah menganiaya diri kami, maka jika tidaklah Engkau beri ampun kami, dan Engkau beri rahmat kami, sesungguhnya jadilah kami orang-orang yang rugi. "

HambaNya Adam dan Hawa merasa menyesal, tetapi tidak tahu dengan susun kata apa untuk menyampaikan permohonan ampun, lalu diajarkanNya. Dan merninta ampun dan diampuniNya. Adakah lagi satu kasih yang melebihi ini ? Sungguh, Dia sedia selalu mernberi ampun, Dia kasih selalu dan sayang selalu.

Setelah Adam dan istrinya diberi ampun, barulah mereka disuruh berangkat:

قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعاً
"Kami firmankan: Turunlah kamu sekalian dari taman ini, " (pangkal ayat 38).

Berangkatlah dan tinggalkanlah tempat ini. Pergilah ke bumi yang telah Aku sediakan buat kamu itu. Setelah kamu sampai di sana kelak, tidaklah akan Aku biarkan saja kamu, melainkan akan Aku kirimkan kepada kamu petunjukKu kelak.

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ
"Maka barangsiapa yang menurut petunjukKu, tidaklah akan ada ketakutan atas mereka dan tidaklah rnereka akan berduka-cita. " (ujung ayat 38).

Sungguh terharu kita membaca ayat ini, apatah lagi kalau dalam asli bahasa al-Qur'an.

Benar Adam telah salah melanggar larangan, tetapi karena rayuan, bujuk dan cumbu iblis. Dan dia menyesal, lalu memohonkan ampun. Oleh Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang telah diberi ampun. Maksud pertama dari Adam bukanlah berbuat salah, dasar isi jiwa manusia adalah baik,bukan jahat.

Dia disuruh pindah ke bumi, karena akan diberi tugas yaitu apapun kesenangan di tempat itu, di taman atau di surga, namun tidak layak lagi baginya. Dan disuruh pindah ke bumi, karena akan diberi tugas, yaitu menurunkan umat manusia. Mengumpulkan bekal di bumi, yang akan dibawa kembali menghadap Allah.

Memang dia telah berdosa, tetapi dosanya telah diampuni. Sekarang dia harus berani menempuh hidup di bumi itu. Jangan kesana dengan hati iba dan duka-cita. Hidup di bumi berketurunan beranak cucu. Tuhan berjanji akan selalu mengiriminya tuntunan, petunjuk dan bimbingan. Lantaran itu, betapapun hebat permusuhannya dengan setan iblis, dengan adanya tuntunan Tuhan itu, asal dipegangnya teguh, dipegang teguh pula oleh anak-cucu di belakang hari, mereka akan selamat dari rayuan setan iblis. Mereka tidak akan di serang oleh rasa takut dan tidak pula akan ditimpa penyakit duka-cita.

Apabila saudara-saudara kaum Muslimin telah merenungkan ayat-ayat ini dapatlah saudara-saudara melihat perbedaan dan persimpangan jalan di antara kepercayaan kita kaum muslimin dengan pemeluk agama Nasrani. Keduanya sama mengaku bahwa Adam telah berdosa melanggar larangan.

Tetapi kita kaum muslimin percaya bahwa dosa itu telah diampuni. Dia tidak usah takut dan duka- cita lagi. Adam bukanlah diusir dari surga, tetapi diberi tugas menegakkan kebenaran dalam bumi dan diberi tuntunan. Orang Nasrani mengatakan bahwa dosa Adam itu telah menjadi dosa waris turun­ temurun kepada segala anak-cucunya, dan naiknya Isa al-Masih ke atas kayu saliblah yang menebus dosa warisan Adam itu. Kita mengakui bahwa kejadian dari manusia, gabungan akal dan nafsu, pertentangan cita-cita mulia dengan kehendak-kehendak kebinatangan berperang dalam diri kita.

Kalau kita berbuat dosa, bukanlah itu karena dosa yang kita warisi dari Adam, dan kita sendiri, bisa rneminta ampun dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, niscaya akan diampuni, karena Tuhan itu Pengasih dan Penyayang.

Tidak masuk dalam akal murni kita bahwa Allah menurunkan dosa warisan Adam kepada anak­cucunya dan mengutus Isa al-Masih ke dunia untuk naik ke atas kayu palang, buat mati di sana bagi menebus dosa waris manusia tadi.

Padahal dikatakan pula bahwa Isa Almasih itu adalah Allah sendiri menjelma ke dalam tubuh Gadis Suci Maryam, kemudian menjelma menjadi putra. Inilah yang dijadikan dasar kepercayaan, yaitu Allah Ta'ala sendiri menjelma menjadi anakNya, yaitu Kristus.

Islam mengajarkan bahwa dosa bukanlah timbul karena warisan, melainkan karena gejala-gejala pertentangan yang ada dalam batin manusia itu sendiri. Adam sendiri terlanjur memakan buah yang terlarang, karena pertentangan hebat yang ada dalam jiwa, sehingga ciri mulia kalah oleh hawa-nafsu keinginan.

Tetapi, sebagai terdapat pada tiap-tiap manusia kemudiannya, bila telah lepas dari berbuat dosa itu, sesalpun timbul. Adam memohon ampun kepada Tuhan dengan sunguh-sungguh lalu dia diampuni. Lalu dian)urkan tiap-tiap manusia mengikuti imannya kepada Allah dengan. amal shalih. Sehingga kalahlah timbangan yang jahat oleh timbangan yang baik. Dengan tidak perlu membuat gelisah jiwa sendiri, dengan merasa berdosa terus menerus, karena dosa itu diwarisi.

Alamat kasih Tuhan akan hambaNya, bukanlah dengan cara dia sendiri menjelrna ke dalam tubuh perawan suci, lalu lahir ke dunia menjadi anak. Melainkan T'uhan dari masa ke masa mengutus Rasul rasulNya, yaitu di antara manusia-manusia sendiri yang Dia pilih, untuk menyampaikan wahyunya kepada seluruh manusia. Barangsiapa yang menurut tuntunan wahyu itu selamatlah dia dalam perjalanan hidupnya, dan barang siapa yang tidak memperdulikannya, celakalah dia. Di antara Rasul yang diutus itu, termasuklah Isa al­Masih sendiri.

Ada juga perbincangan di antara IJlama-ulama Tafsir tentang jannah tempat kediaman Adam dan Hawa itu. Sebagaimana dimaklumi, arti yang asal dari jannah ialah taman atau kebun, yang disana terdapat kembang-kembang, bunga-bunga, air mengalir dan penuh keindahan. Dan diberi arti dalam bahasa kita Indonesia, dengan suarga atau syurga. Yang menjadi perbincangan, apakah ini sudah jannah yang selalu dijanjikan akan menjadi tempat istirahatnya orang­orang yang beriman dan beramal shalih di hari akhirat ? Apakah ini sudah Darul Qarar (negeri tempat menetap) dan Darul Jaza' (negeri tempat menerima balas jasa). Ataukah Jannah yang dimaksud disini baru menurut artinya yang asli saja, yaitu suatu taman yang indah di dalam dunia ini ?

Kata setengah ahli tafsir, memang ini sudah surga yang dijanjikan itu terletak di luar dunia ini, di suatu tempat yang tinggi. Oleh sebab itu setelah Adam, Hawa dan Iblis disuruh keluar dari dalamnya, disebut Ihbithu, yang berarti turunlah ! Atau ke bawahlah !

Tetapi setengah penafsir lagi mengatakan bahwa tempat itu bukanlah surga yang dijanjikan di akhirat esok. Salah seorang yang berpendapat demikian ialah Abu Manshur al-Maturidi, pelopor ilmu kalam yang terkenal. Beliau berkata di dalam Tafsirnya at- Ta'wilaat :

"Kami mempunyai kepercayaan bahwasanya jannah yang dimaksud di sini ialah suatu taman di antara berbagai taman yang ada di dunia ini, yang di sana Adam dan Istrinya mengecap nikmat Ilahi. Tetapi tidaklah ada perlunya atas kita menyelidiki dan mencari kejelasan di mana letaknya taman itu. Inilah Mazhab Salaf. Dan tidakluh ada dalil yang kuat, bagi orang-orang yang menentukan di mana tempatnya itu, baik dari Ahlus Sunnah atau dari yang lain-lain."

Inipun dapat kita pahamkan, sebagaimana dikemukakan oleh setengah ahli tafsir. Kata mereka bagi menguatkan bahwa itu belum surga yang dijanjikan di hari depan ialah karena di surga yang disebutkan ini masih ada lagi makanan yang dilarang memakannya, sebagaimana dapat kita lihat pada ayat-ayat yang menyatakan sifat­sifat dan keadaan surga; malahan khamar yang istimewa dari pabrik surgapun boleh diminum di sana.

Yang kedua, kalau itu sudah surga yang dijanjikan, tidaklah mungkin roh jahat sebagai iblis itu dapat masuk ke dalamnya.

Maka mengkaji di mana letak jannah itu, jannah duniakah atau jannah yang telah dijanjikan, demikian halnya. Menunjukkan betapa bebasnya Ulama-ulama dahulu berpikir. Dan kita tidak mendapat alasan kuat pula buat mengatakan bahwa yang satu lebih kuat dari yang lain.

Kemudian itu tersebut pula dalam riwayat yang dibawakan oleh Ibmi Jarir dalam tafsirnya, dan dibawakan pula oleh Ibmi Abi Hatim yang katanya diterima dari sahabat Rasulullah s.a.w, Abdullah bin Mas'ud dan beberapa sahabat yang lain, bahwa iblis hendak masuk ke dalam surga itu, tetapi di pintu dihambat oleh Khazanahnya.

Yaitu Malaikat pengawal surga, akhirnya dia tak dapat masuk, lalu dirayunya seekor ular, dimintanya menumpang dalam mulut ular itu. Disebut pula di situ bahwa ular pada masa itu masih berkaki empat. Ular itu tidak keberatan, maka masuklah iblis ke dalam mulutnya dan menyelundup masuk ke dalam surga, tidak diketahui oleh Malaikat pengawal tadi, sehingga dia leluasa dapat bertemu dengan Nabi Adam.

Dengan bercakap melalui mulut ular, sehingga oleh Nabi Adam dikira bahwa ular itulah yang berbicara, mulailah iblis melakukan rayu dan cumbunya, agar Adam dan Hawa memakan buah yang terlarang itu. Tetapi Adam tidak mau percaya, lalu Iblis keluar dari persembunyiannya, lalu merayu dengan berterus-terang sampai Hawa tertipu, dan kemudian Adam menurut.

Riwayat semacam ini bolehlah kita masukkan juga ke dalam Israiliyat, kisah Taurat yang didengar oleh Abdullah bin Mas'ud dan beberapa sahabat lain dari orang Yahudi, dikutipnya dari dalam Taurat, sebagaimana diingatkan oleh Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari yang telah kita salinkan di atas tadi, yang tidak boleh lekas ditelan, dibenarkan semuanya dan tidak boleh didustakan semuanya.

Yang penting ialah bahwa di dalam al-Qur'an sendiri tidak ada cerita iblis numpang dalam mulut ular itu, yang bagaimana kita membacanya mestilah meninggalkan kesan bahwa Malaikat Khazanah surga telah dapat ditipu oleh Iblis, sehingga derajat Malaikat sudah sama saja dengan manusia biasa, dapat dikicuh.

Mempercayai cerita semacam ini agaknya sama saja dengan mempercayai bahwa kalau ada perempuan dalam bunting (hamil), hendaklah dipakukan ladam kuda di muka pintu rumah, supaya hantu-hantu jahat jangan berani masuk , sebab ada ladam itu.

Menurut satu riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang katanya diterimanya dari Abdullah bin Umar, bahwa Adam turun ke dunia di Bukit Shafa dan Hawa turun di Bukit Marwah. Dan riwayat lain dari Ibnu Abi Hatim juga, katanya diterimanya dari Ibnu Umar juga, Adam turun di bumi di antara negeri Mekkah dengan Thaif

Ada pula riwayat Tbnu Asakir yang katanya diceritakan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Adam turun di Hindustan dan Hawa turun di Jeddah.

Kata orang itulah sebabnya maka Jiddah bernama Jeddah (Jiddah), karena arti Jiddah ialah nenek-perempuan.

Dan ada pula satu riwayat yang mengatakan bahwa tempat turunnya Nabi Adam bukan di Mekkah, bukan di Hindustan, tetapi di Pulau Serendib.

Di mana Pulau Serendib ?
Syaikh Yusuf Tajul Khalwati dalam surat-suratnya yang di­kirimkan dari Sailan (Ceylon) kepada murid-muridnya di Makasar dan Banten pada akhir abad ketujuhbelas, sebelum beliau dipindahkan ke Afrika Selatan, selalu menyebutkan bahwa beliau bersyukur karena di pulau pengasingan ini, pulau Serendib, tempat turunnya nenek kita Nabi Adam, dan beliau masih dapat beribadat kepada Tuhan. Maka Syaikh Yusuf dengan demikian memegang pendapat yang umum pada waktu itu bahwa Pulau Serendib ialah Pulau Ceylon (sekarang Sri Langka).

Tetapi dalam penyelidikan ahli-ahli terakhir menunjukkan bukti­ bukti pula bahwa Pulau Serendib bukanlah Ceylon, melainkan Pulau Sumatera. Sebab nama Serendib adalah bahasa Sansekerta yang ditulis dengan huruf Arab. Aslinya ialah pulau Swarna Dwipa, yaitu nama Sumatera di jaman dahulu, sebagai juga Jawa Dwipa nama dari Pulau Jawa.

Kita salinkan segala riwayat ini, sudahlah nyata bahwa kita tidak berpegang kepada salah satu daripadanya. Sedangkan yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Umar, lagi dua macam, yang mengatakan Adam turun di Bukit Shafa dan yang satu lagi mengatakan Nabi Adam turun di antara Mekkah dengan Thaif. Ditambah lagi dengan riwayat yang mengatakan turun di Hidustan, ditambah lagi dengan riwayat yang mengatakan turun di pulau Ceylon, dan Sumatera, sehingga penafsir ini bisa pula berbangga, bahwa asal seluruh manusia yang ada di atas dunia ini adalah dari Pulau Sumatera, sebab Serendib adalah Swarnadwipa dan Swarnadwipa adalah Sumatera; semuanya itu tidaklah ada sebuah juga yang dapat dipertanggungjawabkan menurut bahan-bahan sejarah. Dan riwayat-riwayat semacam inipun tidak ada yang dikuatkan oleh hadits yang shahih, walaupun sebuah.

Dahulu kalau kita naik haji, seorang penunjuk jalan akan membawa kita ziarah ke kuburan yang dinamai kuburan Siti Hawa di Jiddah itu, panjangnya sampai seperempat kilometer atau lebih. Dan di Ceylon pun kita bisa dibawa orang ke atas puncak gunung yang dinamai "Talapak Nabi Adam"

Semuanya ini adalah cerita bagus-bagus untuk khayal, tetapi akal yang terlatih di bawah bimbingan al-Qur'an dan hadits Rasulullah tidaklah akan dapat menelan saja cerita-cerita semacam ini walaupun ada disuntingkan pada setengah tafsir.

Sebagai kunci dari sabda-sabda mengenai Adam clan istrinya ini, maka berfirmanlah Tuhan selanjutnya.

وَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَ كَذَّبُوْا بِآيَاتِنَا
"Dan orang-orang yang kafir, dan mendustakan ayat-ayat Kami. " (pangkal ayat 39).

Yaitu yang tidak mau memperdulikan pesan-pesan yang telah diberikan Allah kepada Adam dan istrinya seketika mereka dilepas dari Jannah itu ke dalam dunia ini, sehingga orang-orang itu jatuh ke dalam perangkap setan iblis yang menjadi musuhnya turun ­temurun.

أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ
"Mereka itulah penghuni neraka, yang mereka di dalarnnya akan kekal. " (ujung ayat 39).

Dengan ayat ini sebagai pengunci kisah, terbentanglah dihadapan kita suatu petunjuk bahwa kita tidak akan berhenti berjihad, besungguh-sungguh, bekerja keras, bersemangat di dalam dunia ini. Kita sebagai turunan Adam telah diangkat menjadi khalifah Allah, menyambung tugas nenek moyang kita. Dan kita menghadapi satu kenyataan, yaitu di dalam melaksanakan tugas itu kita selalu diganggu dan diperdayakan oleh setan iblis.

Di sini pula kita mendapat suatu kesan yang mendalam tentang ajaran agama di dalam menentukan musuh kita. Kaum yang tidak bertuhan, atau kaum yang hendak mempertahankan kekuasaan kezaliman, selalu membesar-besarkan bahaya musuh dari luar, supaya rakyat lupa atau dipalingkan perhatian mereka dari kelemahan pemerintahnya.

Lalu dikatakan bahwa musuh yang besar itu ialah Kapitalis, Imperialis dan Kolonialis. Sampai-sampai kalau rakyat tadi telah lapar, habis dihisap darahnya oleh pemerintahnya sendiri, dikatakan juga bahwa sebab-sebab kesengsaraan itulah kaum Kapitalis dari luar.

Tetapi di dalam kehidupan beragama, diajarkan dan dititik beratkan sejak jaman dahulu bahwa musuh besar turun-temurun itu ialah iblis, atau setan. Yang kadang-kadang menjalar atau mengalir di dalam tubuh anak Adam, sebagaimana menjalar dan mengalirnya darahnya sendiri.

Oleh sebab itu di dalam agama orang diperintahkan menilik musuh terlebih dahulu di dalam dirinya sendiri, sebelum mengadakan propaganda besar-besaran menipu orang banyak, supaya menghadapkan perhatian ke luar diri.
 



 يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَ أَوْفُوْا بِعَهْدِيْ أُوْفِ بِعَهْدِكُمْ وَ إِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ

(40) Wahai Bani Israil : Ingatlah nikmatKu yang telah Aku karuniakan kepada kamu dan penuhilah janjimu, agar Aku penuhi (pula) janjiKu, dan sernata-mata kepadaku sajalah kamu takut.


وَ آمِنُوْا بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ وَلاَ تَكُوْنُوْا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلاَ تَشْتَرُوْا بِآيَاتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُوْ

(41) Dan percayalah kepada apa yang Aku turunkan, yang bersetuju dengan apa yang ada sertamu, dan janganlah kamu jadi orang yang mula sekali mengkufurinya. Dan jangan­lah kamu jual ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit; dan semata-mata kepadaKu saja­lah kamu bertakwa.


وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَ تَكْتُمُوا الْحَقَّ وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْن

(42) Dan janganlah kamu campur­adukkan yang benar dengan yang batil dan kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui.


وَ أَقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَ آتُوا الزَّكَاةَ وَ ارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْن

(43) Dan dirikanlah sembahyang dan berikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'.


أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَ تَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَ أَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُوْن

(44) Apakah kamu suruh manusia berbuat kebajikan, akan kamu lupakan dirimu (sendiri) pada hal kamu membaca kitab; apakah tidak kamu pikirkan ?


وَ اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلاَةِ وَ إِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِيْن

(45) Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan sembahyang. Dan sesungguhnya hal itu memang amat berat, kec°uali. atas orang-orang yang khusyu.


اَلَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُّلاَقُوْ رَبِّهِمْ وَ أَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْن

َ(46) (yaitu) orang-orang yang sungguh percaya, bahwasanya mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka, dan bahwasa­nya mereka akan kembali kepadaNya.


Dakwah Kepada Bani Israil

Sebagai telah kita maklumi pada keterangan-keterangan di atas selain dari persukuan Arab Bani Aus dan Bani Khazraj, maka ada pula penduduk Madinah dari pemeluk agama Yahudi. Mereka bukanlah bangsa Arab keturunan Qahthan atau Adrian.

Tetapi mereka adalah keturunan dari Nabi Ya'qub a.s , Ya'qub putra dari Ishak a. s. dan Ishak putra dari Ibrahim a.s., semuanya adalah Rasul Allah.
Beliau beranak laki-laki 12 orang , di antaranya Nabi Yusuf a.s. Maka berkembang-biaklah anak keturunan Nabi Ya'qub a. s. yang 12 orang ini. Gelar kehormatan yang diberikan Tuhan kepada Nabi Ya'qub a. s. ialah Israil. Ll di ujung itu ialah bahasa Ibrani yang artinya Allah. Israil kononnya berarti Amir pejuang bersama Allah.

Bani Israil menerima Taurat dari Musa a. s.. Lama-lama timbullah pada mereka kesan bahwasa nya agama yang mereka pusakai dari nenek-moyang mereka itu yang dirumuskan dalam Taurat Nabi Musa a.s. dan Nabi-nabi yang lain sesudah Musa a.s., adalah khusus buat mereka belaka. Di antara 12 suku Bani Israil itu, yang terbesar adalah keturunan suku anak yang kedua, yaitu Yahuda. Lama kelamaan menjadi kebiasaanlah mereka menyebut diri Yahudi dan agama mereka agama Yahudi, yang dibangsakan kepada Yahuda itu. Padahal yang lebih tepat, supaya semuanya tercakup ialah kalau disebutkan Bani Israil.

Maka selain dari dakwah untuk orang Arab, Qahthan dan Adnan, Nabi Muhammad s.a.w diperintahkan Tuhan menyampaikan dakwah kepada Bani Israil , persukuan mereka yang besar di Madinah ketika itu adalah Bani Nadhir, Bani Qainuqa, Bani Quraizhah dan lain-lain persukuan yang kecil-kecil.

Dengan pindahnya Nabi Muhammad s.a.w ke Madinah, rapatlah pergaulan dengan mereka. Apatah lagi ketika itu kegiatan perdagangan ada di tangan mereka. Mereka selalu bertemu di pasar. Dan telah dibuat perjanjian akan hidup berdampingan secara damai.

Maka diperintahkan kepada Rasulullah supaya menyampaikan dakwah pula kepada mereka.

يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَ أَوْفُوْا بِعَهْدِيْ أُوْفِ بِعَهْدِكُمْ وَ إِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ
"Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmatKu yang telah Aku karuniakan kepada kamu dan penuhilah janjimu agar Aku penuhi (pula) janjiKu, dan semata-mata kepadaKu sajalah kamu takut. " (ayat 40).

Dihadapkanlah seruan kepada mereka, karena patutlah mereka yangterlebih dahulu menerima kebenaran yang dibawa Muhammad s.a.w mengingat nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Di antara bangsa-bangsa yang sejaman dengan mereka dahulunya, kepada merekalah dikhususkan Tuhan nikmat wahyu.

Sampai mereka dilepaskan dari perbudakan Fir'aun dan diberi tanah istimewa pusaka nenek-moyang mereka Ibrahim a. s. dan Ishak a.s., dan berpuluh-puluh banyaknya Nabi dan Rasul dibangkitkan dalam kalangan mereka.

Patutlah mereka mengingat nikmat itu dan dari sebab itu patut pulalah mereka yang dahulu sekali menyatakan percaya pada Muhammad s.a.w. Di samping itu disuruh mereka mengingat kembali janji khusus mereka dengan Allah. Meskipun kitab Taurat sudah tidak ada aslinya lagi, namun janji itu masih bertemu, yaitu bahwa mereka tidak akan mempersekutukan yang lain dengan Allah. Dan supaya beriman kepada Rasul-rasul Allah yang datang menegakkan kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa itu.

Dan dijanjikan pula kelak kemudian hari akan diutus pula searang Rasul dari antara saudara mereka, yaitu Bani Ismail. Itulah Nabi Muhammad s.a.w sekarang Nabi itu telah datang mernbawa ajaran persis ajaran yang telah mereka janjikan dengan Allah itu pula, yaitu Tauhid mengesakan Tuhan. Patutlah mereka ingat janji itu kembali.

Dan Tuhanpun telah berjanji pula dengan mereka, akan memberi mereka kemuliaan di antara manusia dan bangsa-bangsa. Asal mereka tetap setia akan janji itu, Tuhanpun akan memenuhi janjiNya pula. Dan kata Tuhan selanjutnya, kepadaKu sajalah takut! Jangan takut kepada yang lain. Jangan segan menyatakan iman kepada Muhammad karena ancaman dari ketua-ketua mereka, rabbi-rabbi dan ahbar (pendeta-pendeta) mereka. Dan jangan segan menyatakan iman, karena takut akan kalah pengaruh.

Kemudian dijelaskan lagi oleh Tuhan:

وَ آمِنُوْا بِمَا أَنزَلْتُ
"Dan percayalah kamu kepada apa yang Aku turunkan. " (pangkal ayat 41)

Yaitu al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.

مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ
"Yang bersetuju dengan apa yang ada sertamu. "yaitu kitab Taurat.

Tika kamu tilik kembali isi Taurat, yang memerintahkan kamu percaya kepada Allah Ta'ala atau Allah Yang Esa, jangan membuat berhala untukNya dan hendaklah hormat kepada ibu bapakmu, jangan berzina, jangan mencuri, jangan naik saksi dusta, niscaya kamu akan mengakui kebenaran al-Qur'an yang memang itu pulalah pokok ajaran yang dibawanya.

وَلاَ تَكُوْنُوْا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ
"Dan janganlah kamu menjadi orang-orang yang mula­mula mengkufurkannya. "

Karena kalau kamu kufuri, kamu tolak dan kamu tentangkan al-Qur'an itu, berarti kamu menentang kitab yang ada dalam tanganmu sendiri :

وَلاَ تَشْتَرُوْا بِآيَاتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلاً
"Dan janganlah kamu jual ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit. "

Artinya, karena mcngharapkan kemegahan, lalu kamu dustakan kebenaran ayat Allah. Berapapun pangkat yang kamu dapat lantaran mendustakan kebenaran, namun itu masihlah harga yang sedikit jika dibandingkan dengan kerugian rohani yang kamu dapat.

وَإِيَّايَ فَاتَّقُوْ
"Dan semata-mata kepadaKu sajalah kamu bertakwa. " (ujung ayat 41)

artinya semata-mata perhubungan dengan Allahlah yang patut kamu pelihara clan perbesarlah perasaan tanggungjawabmu dengan Tuhan. Karena kesegananmu menerima kebenaran, lain tidak hanyalah karena kamu hendak memelihara perhubungan dengan kepala-kepala dan ketua-ketua kamu, padahal kepala-kepala dan ketua­ketua itu tidak akan dapat melepaskan kamu daripada bahaya yang akan ditimpakan Allah kepada kamu.

وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَ تَكْتُمُوا الْحَقَّ وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْن
"Dan janganlah kamu campur-adukkan yang benar dengan batil dan kamu sembuyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui. " (ayat 42).

Rasul akan datang dari kalangan saudara sepupu mereka Bani Ismail. Tanda-tandanya sudah jelas dan sekarang tanda itu sudah bertemu. Tetapi pemuka-pemuka agama mereka melarang pengikut mereka percaya kepada Rasul s.a.w karena kata mereka dalam Kitab-kitab Nabi-nabi mereka itu tersebut juga bahwa akan ada Nabi-nabi palsu.

Lalu mereka katakan kepada pengikut-pengikut itu bahwa ini adalah Nabi palsu. Bukan Nabi yang dijanjikan itu. kalau pengikut mereka datang bertanya, mereka sembuyikan kebenaran, dan kitab mereka sendiri mereka tafsirkan lain dari maksudnya semula, padahal mereka telah mengetahui bahwa memang Muhammad s.a.w itulah Nabi dari Bani Ismail yang ditunggu-tunggu itu. Untuk mempertahankan kedudukan, mereka telah sengaja mencampur-adukkan yang benar dengan yang salah, dan menyembunyikan yang sebenarnya.

Ayat 41 untuk peringatan bagi orang-orang awam mereka dan ayat 42 untuk peringatan bagi pemuka-pemuka agama mereka.

وَ أَقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَ آتُوا الزَّكَاةَ وَ ارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْن
"Dan dirikanlah sembahyang dan berikanlah zakat, dan rukulah bersama-sama orang-orang yang ruku. " (ayat 43)

Setelah diperingatkan kepada mereka kesalahan-kesalahan dan kecurangan mereka yang telah lalu itu, sekarang mereka diajak membersihkan jiwa dan mengadakan ibadat tertentu kepada Allah, dengan mengerjakan sembahyang, dan mengeluarkan zakat. Dengan sembahyang, hati terhadap Allah menjadi bersih dan khusyu dan dengan mengeluarkan zakat, penyakit bakhil menjadi hilang dan timbul hubungan batin yang baik dengan masyarakat, terutama orang­ orang fakir-miskin, yang selama ini hanya mereka peras tenaganya, dan mana yang terdesak mereka pinjami uang dengan memungut riba.

Apabila Tuhan Allah telah memerintahkan supaya iman kepada keesaan Allah itu lebih di dalamkan dengan mengerjakan sembahyang, kemudian dengan mengeluarkan zakat, maka akan tumbuhlah iman itu dengan suburnya. Karena ada juga orang yang telah mengaku beriman kepada Allah tetapi dia malas sembahyang. Berbahayalah bagi iman itu, karena kian lama dia akan runtuh kembali. Dan hendaklah dididik diri bermurah hati dengan mengeluarkan zakat; karena bakhil adalah musuh yang terbesar dari iman. Apabila berperangai bakhil, nyatalah orang itu tidak beriman !

Kemudian mengapa disuruh lagi ruku' bersama dengan orang yang ruku' ? Tidakkah cukup dengan perintah sembahyang saja ? Apakah ini bukan kata berulang ?

Bukan ! Ada juga orang yang berfaham bahwa asal aku sudah sembahyang sendiri di rumahku, tidak perlu lagi aku campur dengan orang lain. Itulah yang salah ! Sembahyang sendiripun belum sempurna, tetapi rukulah bersama-sama dengan orang yang ruku', bawalah diri ke tengah masyarakat. Pergilah berjama'ah !.

Maksud yang kedua, arti ruku ialah khusyu'. Jangan hanya sembahyang asal sembahyang, sernbahyang mencukupi kebiasaan sehari-hari saja, tidak dijiwai oleh rasa khusyu' dan ketundukan.

Inilah yang diserukan kepada Bani Israil yakni agar mereka teruskan saja agama yang diajarkan Musa a.s. kepada lanjutannya, yaitu yang diteruskan oleh Muhamrnad s.a.w agar mereka menjadi Muslim, menyerah diri kepada Tuhan, dan hiduplah sebagai Muslim yang sejati.

Kemudian itu Allah meneruskan lagi sabdaNya kepada Bani Israil dengan mengingatkan
kesalahan selama ini :

أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَ تَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَ أَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُوْن
"Apakah kamu suruh manusia berbuat kebajikan dan kamu lupakan dirimu (sendiri), padahal kamu membaca kitab, apakah kamu tidak pikirkan?" (ayat 44).

Teguran keras ini adalah kepada pemuka-pemuka dan pendeta­pendeta mereka. Bukan main keras larangan mereka : "Ini haram !" Bukan main keras perintah mereka : "Ini wajib", seakan-akan merekalah yang empunya agama itu, padahal diri mereka sendiri mereka lupakan. Hanya mulut mereka yang keras mempertahankan agama untuk dipakai oleh orang lain, adapun untuk diri mereka sendiri, tidak usahlah dipersoalkan; padahal mereka membaca kitab, hafal nomor ayatnya, ingat pasalnya, bahkan salah titik dan salah baris sedikit saja, mereka tahu. Tetapi apa isi dan intisari dari kitab itu, apa maksudnya yang sejati, tidaklah mereka mau mengetahui dan tidak mereka pikirkan.

Inilah penyakit pemuka-pemuka atau yang disebut pendeta atau ahbar mereka pada waktu itu. Dengan keras mengoyak mulut mempertahankan apa yang rnereka katakan agama, padahal sudah tinggal hanya mempertahankan kata (textbook), tetapi tidak ada paham mereka sama sekali akan maksud. Paham menjadi sempit dan fanatik, takut akan perubahan, dan gentar mendengar pendapat baru. Maka datanglah teguran : Apakah tidak kamu pikirkan ? Atau lebih tegas lagi; Apakah kamu tidak tidak mempergunakan akalmu ?

Dengan ini Tuhan telah memberikan terguran bahwa iman yang sebenarnya, melainkan iman yang tumbuh dari hati sanubari. Sebab itu jika ayat ini tertentu kepada pemuka Yahudi pada mulanya, namun dia telah direkam dalam al-Qur'an untuk ingatan kita. Jangan sampai kita membacanya, lalu Yahudi yang terbayang di hadapan kita, tidak diingat bahwa Islam sendiripun akan runtuh dari dalam, kalau iman sudah hanya jadi hafalan mulut, tidak rumpunan jiwa.

وَ اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلاَةِ
"Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan sembahyang. " (pangkal ayat 45).

Dipesankan dalam rangka nasehat kepada pemuka-pemuka Yahudi, sebagai merangkul mereka ke dalam suasana Islam, supaya meminta tolong kepada Tuhan, pextama dengan sabar, tabah, tahan hati dan teguh, sehingga tidak berkucak bila datang gelombang kesulitan.

Maka adalah sabar sebagai benteng. Dengan sembahyang, supaya jiwa itu selalu dekat dan lekat kepada Tuhan. Orang yang berpadu di antara sabarnya dengan sembahyangnya, akan jernihlah hatinya dan besar jiwanya dan tidak dia akan rintangan dengan perkara-perkara kecil dan tetek-bengek.

Percobaan yang harus kita tempuh dalam menyeberangi kehidupan ini kadang-kadang sangatlah besarnya. Sehingga jiwa harus kuat dan pendirian harus kokoh. Sebab itu untuk memintakan agar selalu mendapat pertolongan dari Tuhan, agar kita dikuatkan menghadapi kesulitan itu, tidaklah botch terpisah di antara keduanya ini. Sabar dan Shalat yaitu membuat hati jadi tabah dan selalu mengerjakan sembahyang.

Ingatlah betapapun menyabarkan hati., kadang-kadang karena beratnya yang dihadapi, jiwa bisa bergoncang juga. Maka dengan sembahyang khusyu sekurang-kurangnya 5 waktu sehari semalam, hati yang tadinya nyaris lemah niscaya akan kuat kembali.

Maka sabar dan sembahyang itulah alat pengokohkan pribadi bagi orang Islam. Sebab selalu terjadi di dalam kehidupan, suatu marabahaya yang kita hadapi sangatlah sakitnya, kadang-kadang tidak tertanggung, padahal kemudian, setelah marabahaya itu lepas, barulah kita ketahui bahwa bahaya-bahaya yang kita lalui itu adalah mengakibatkan suatu nikmat yang amat besar bagi diri kita sendiri. Yang saya katakan ini adalah pengalaman berkali-kali, baik bagi diri saya ataupun diri tuan.

Dalam cerita Nabi Ibrahim a.s. (kelak pada ayat 124 Surat al-Baqarah ini) kita akan bertemu kenyataan itu. Beliau diuji dengan berbagai ujian , dan setelah dengan segala kesabaran ditempuhnya ujian itu dan diseberanginya, diapun diangkat menjadi IMAM. Kehidupan Nabi­-nabi adalah contoh teladan yang harus diambil orang yang beriman.

Tetapi ayat selanjutnya mengatakan:

وَ إِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ
"Dan sesungguhnya hal itu memang berat. "

Yang dimaksud ialah sembahyang; bahwa mengerjakan sembahyang itu amat berat. Orang disuruh sabar, padahal hatinya sedang susah. Lalu dia disuruh sembahyang; maka dengan kesalnya dia menjawab: "Hati saya sedangsusah, saya tidak bisa serrrbahyang. "Mengapa dia merasa berat sembahyang ? Sebab jiwanya masih gelap, sukarlah menerima nasehat supaya sabar dan sembahyang. Kalau nasehat yang benar itu ditolaknya, tidaklah dia akan terlepas dari kesukaran yang tengah dihadapinya. Lalu datang penutup ayat :

إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِيْن
"Kecuali bagi rnang-orang yang khusyu'. " (ujung ayat 45)

Khusyu artinya tunduk, rendah hati dan insaf bahwa kita ini adalah hamba Allah. Dan Allah itu cinta kasih kepada kita. NikmatNya lebih banyak daripada cobaanNya. Saat kita menerima nikmat lebih banyak daripada saat menerima susah. Lantaran yang demikian itu, jika diajak supaya sabar dan sembahyang, orang yang khusyu itu tidak bertingkah lagi. Sebab dia insaf bahwa memang keselamatan jiwanya amat bergantung kepada betas kasihan Tuhannya. Jika datang percobaan Tuhan, bukanlah dia menjauhi Tuhan, tetapi bertambah mendekatiNya.
Dan siapakah orang yang bisa menjadi khusyu ?

اَلَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُّلاَقُوْ رَبِّهِمْ وَ أَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
"Yaitu orang-orang yangsungguh percaya, bahwasarrya mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka, dan bahwasanya kepadaNya mereka akan kembali. " (ayat 46).

Untuk menambahkan khusyu hendaknya kita ingat, sampai menjadi keyakinan, bahwasanya kita ini datang ke dunia atas kehendak Tuhan dan akan kembali ke akhirat dan akan bertemu dengan Tuhan. Di hadapan Tuhan akan kita pertanggung jawabkan semua amal dan usaha kita selama di dunia. Maka dari sekarang hendaklah kita latih diri mendekati Tuhan. Ibaratnya ialah sebagai apa yang disebut di jaman sekarang dengan kalimat relasi (relation). Datang tiba-tiba saja kita berhadapan dengan Tuhan, padahal makrifat terlebih dahulu tidak ada, dan hubungan kontak jarang sekali, tentu akan membuat bingung, karena tidak ada persiapan. Sampailah Imam Ghazali mengatakan bahwa jika kamu berdiri sembahyang hendaklah sebelum kamu takbir kamu ingat seakan-akan itulah sembahyangmu yang terakhir. Mungkin nanti engkau akan mati, sebab itu engkau khusyukan hatimu menghadap Tuhan.

Inilah beberapa seruan kepada Bani Israil, untuk mengembalikan mereka kepada pangkalan agama yang sejati. Sebab inti agama yang mereka peluk selama ini itulah dia inti Islam dan marilah menjadi Islam. Kamulah yang lebih patut mula-mula menyambutnya.

Dalam ayat ini bertemu kalimat yazhunnuuna, yang kita artikan "Mereka yang sungguh percaya". Pokok ambilan kalimat ialah zhann yang menurut arti asalnya ialah berat pikiran kepada satu jurusan dan belum yakin benar. Hasil ijtihad di dalam seorang mujtahid menetapkan suatu hukum tidaklah ada yang yakin, melainkan zhann saja.

Kalau yazhunnuuna [ يَظُنُّوْنَ ] dalam ayat ini kita artikan: "Orang-orang yang telah berat sangkanya bahwa dia akan berjumpa dengan Tuhannya, "niscaya tidaklah kena maksud iman. Sebab seorang mukmin wajiblah yakin bahwa hari akan kiamat dan dia akan mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Tuhan. Di dalam ayat 4 daripada Surat 2, al­Baqarah dijelaskan sifat-sifat orang yang takwa, yaitu orang yang yakin akan hari akhirat.

Oleh sebab itu maka kebanyakan Ulama Tafsir memberi arti Yazhunnuuna, dengan "mereka yang sungguh-sungguh percaya. "Bukan menurut artinya yang asal, yaitu "orang-orang yang berat sangkanya".

Ibnu Jarir menegaskan dalam Tafsirnya: "Orang Arab kadang­kadang menamai yakin itu dengan zhann, sebagaimana juga mereka pernah menamai gelap dengan sadafah dan terang dinamainya sadafah. Orang yang menyeru meminta tolong mereka namai shaarikh , dan orang tempat memohonkan pertolongan itu kadang-kadang mereka namai shaarikh juga. Dan ada lagi beberapa perumpamaan pemakaian nama-nama yang lain, yaitu menamai sesuatu keadaan dengan lawannya."Sekian kata Ibnu Jarir.

Memang terdapat dua tiga kali di dalam al-Qur'an, kata zhann artinya yakin. Di antaranya terdapat dalam Surat 69, al-Haqqah ayat 20. Dan pernah juga terdapat dua ayat berdampingan, keduanya memakai kalimat zhann, ayat yang pertama berarti berat sangka saja. Dan ayat yang kedua berarti saya yakin. Yaitu jelas tertulis di dalam Surat 17, al-Isra' ayat 101 dan 102, menerangkan dialog bertukar-kata di antara Fir'aun dengan Nabi Musa a. s., di ayat 101 Fir'aun menyatakan perasaanya bahwa dia menyangka Nabi Musa a.s. seorang tukang sihir. Sedang di ayat 102 Musa. a.s. membalas, menyatakan bahwa dia yakin bahwa Fir'aunlah yang akan kena bencana kemurkaan Tuhan.
 



 يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَ أَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِيْنَ

(47) Wahai Bani Israil ! Ingatlah olehmu akan nikmatKu yang telah Aku karuniakan kepada mu, dan sesungguhnya. Aku telah pernah memuliakan kamu atas bangsa-hangsa.


وَ اتَّقُوْا يَوْماً لاَّ تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْئاً وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ هُمْ يُنْصَرُ

(48) Dan takutlah kamu Akan hari, yang tidak akan dapat melepaskan satu diri sesuatu apapun dari diri yang lain. dan tidak akan diterima daripada­nya permohonan dan tidak diambil daripadanya penebusan dan tidak mereka akan ditolong.


وَ إِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ سُوْءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُوْنَ أَبْنَاءَكُمْ وَ يَسْتَحْيُوْنَ نِسَاءَكُمْ وَ فِيْ ذَلِكُمْ بَلاَءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ

(49) Dan (ingatlah) tatkala Kami selamatkan kamu daripada kaum Fir'aun, yang telah menindas kamu dengan se­buruk-buruk siksaan; mereka sembelih anak-anak laki--laki kamu dan mereka hidupi perempuan-perempuan kamu; dan pada yang demikian itu adalah bencana yang besar daripada Tuhan kamu.


وَ إِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنجَيْنَاكُمْ وَ أَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَ أَنتُمْ تَنْظُرُوْنَ

(50) Dan (ingatlah) tatkala Kami belahkan lautan untuk kamu, maka Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan kaum Fir'aun padahal kamu melihat sendiri.



يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ
"Wahai Bani Israil" (pangkal ayat 47).

Mereka dipanggil lagi dengan nama yang terhormat itu. Dengan menyebut nama nenek­ moyang mereka yang mulia itu, nama kehormatan yang dianugerahkan Tuhan kepada Ya'qub a. s. Amir Pahlawan Allah, moga-moga mereka sadar kembali. Memang Tuhan mengajarkan kepada RasulNya agar memanggil orang dengan nama yang Dia senangi. Apatah lagi dengan memanggil mereka dengan nama itu, tercakuplah mereka jadi satu semua, tidak ada lagi bagi kabilah ini dan kabilah itu yang rasa tersisih.

اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَ أَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِيْنَ
"Ingatlah olehmu akan nikmatKu yang telah Aku karuniakan kepadamu, dan sesungguhnya Aku telah pernah memuliakan kamu atas bangsa-bangsa " (ujung ayat 47).

Diperingatkan hal ini, bahwa kemulian yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka itu, bukanlah karena darah keturunan mereka lebih tinggi dari darah keturunan yang lain. Sekali-kali tidaklah Tuhan mengajarkan perbedaan suku (ras), tinggi itu rendah ini. Mereka pernah dimuliakan melebihi bangsa dan suku yang lain, sebab merekalah penerima waris ajaran nenek-moyang mereka Ibrahim a. s., Ishak a. s. dan Ya'qub a. s. tentang percaya kepada Allah Yang Maha Esa.

Selama Tauhid itu mereka pegang teguh, kemuliaan itu tidaklah akan dihilangkan atau dicabut dari mereka. Jadi mereka diberi kemuliaan ialah karena kemuliaan pendirian. Adapun kalau Tauhidnya telah hilang, dan yang mereka pertahankan telah tinggal kemegahan saja menyebut-nyebut kebesaran yang lampau, hinalah mereka dan bangsa lain yang menerima dan menjunjung Tauhid itu pulalah yang akan dimuliakan Tuhan.

وَ اتَّقُوْا يَوْماً لاَّ تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْئاً
"Dan takutlah kamu akan hari, yang tidak akan dapat melepaskan suatu diri sesuatu apapun dari satu diri yang lain. " (pangkal ayat 48).

Inilah salah satu pokok ajaran Islam. Jangan sampai anak-cucu merasa bahwa mereka akan terlepas dari tanggungjawab di akhirat, semata-mata dengan membanggakan bahwa mereka turunan si anu, anak-cucu si fulan. Bani Israil jangan sampai mendabik dada mengatakan kami ini keturunan Ya'qub a.s. dan Yusuf a.s.; karena kalau telah datang waktu perhitungan di akhirat kelak Ya'qub a.s. dan Yusuf a.s. tidaklah dapat mereka pergunakan.

وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ
"Dan tidak akan diterima daripadanya permohonan. "

Yakni semua memohon grasi atau ampunan karena kesalahan yang telah lalu, yang dimintakan oleh orang lain. Memohon kepada Tuhan supaya si anu yangbersalah dibebaskan saja.

وَلاَ يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ
"Dan tidak diambil daripadanya penebusan. "

Secara jelasnya, tidaklah ada harta walaupun emas sebesar gunung untuk dijadikan uang jaminan. Karena harta untuk menjamin itu tidak ada sama sekali kepunyaan manusia. Semuanya Allah yang punya.

وَلاَ هُمْ يُنْصَرُ
"Dan tidak mereka akan ditolong. "( ujung ayat 48).

Karena yang akan dapat menolong ketika itu lain tidak hanyalah usaha sendiri yang disiapkan dari sekarang.

Hal ini diperingatan kepada Bani Israil, supaya pendirian yang salah ini segera mereka buang.
Mereka menutup hati buat menerima petunjuk walaupun dari mana datangnya, sebab mereka merasa merekalah Sya'bullah al ­Mukhtar, yakni bangsa kepunyaan Allah yang telah dipilih.

Penyakit kebanggaan yang seperti ini kalau dibasmi akan menimbulkan permusuhan dengan bangsa atau golongan yang lain. Bahkan penyakit ini telah berlarut-larut, yang menyebabkan beratus tahun lamanya bangsa-bangsa Eropa memandang kaum Yahudi itu manusia terkutuk yang harus disisihkan dari pergaulan hidup mereka. Sehingga kampung kediaman mereka dinamai Ghetto. Bahkan sebelum agama Islam masuk ke negeri Spanyol, sangatlah hinanya mereka dipandang oleh orang Nasrani.

Barulah nasib mereka berubah setelah Islam datang ke Spanyol. Tetapi kebencian kepada mereka menjadi turun-ternurun, berkali-kali mencapai puncak, dan yang terakhir di jaman kita ialah kekejaman Jerman Nazi dan Hitler memusnahkan berjuta-juta orang Yahudi di Eropa.

Dan dijelaskanlah dalam ayat 48 ini memperingatkan kepada mereka bahwa kemulian mereka di jaman dahulu itu memang diakui bukan karena darah mereka istimewa dalam alam, tetapi karena mereka mempunyai pegangan agama yang benar, yaitu Tauhid, dan nenek-moyang mereka mengamalkannya dan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh.

Dari ayat-ayat ini kita melihat teguran yang jelas sekali dari Tuhan kepada Bani Israil, atau kaum Yahudi yang ada di Madinah pada masa itu. Tuhan mengakui, bahwa di jaman dahulu memang mereka diberi kemuliaan oleh Tuhan, melebihi segala bangsa-bangsa yang ada dikeliling bangsa-bangsa tetangga mereka adalah penyembah berhala.

Tetapi setelah Nabi Muhammad datang, Tauhid hanya tinggal menjadi sebutan. Yang penting bagi mereka ketika itu ialah mengumpulkan kekayaan. Paham agama menjadi membeku. Merasa diri lebih tinggi dan lebih unggul dari golonggan lain. Arab di Madinah mereka pandang hina dan rendah. Penyakit merasa diri lebih ini menghinggapi juga bangsa-bangsa yang lain.

Nabi Muhammad s.a.w pernah mengatakan bahwa bangsa Arabpun adalah semulia-mulia bangsa. Yang dimaksud Nabi bukanlah bahwa darah Arab itu istimewa dari darah bangsa bangsa yang lain, melainkan karena Tuhan menurunkan wahyu ke dunia ini dengan memakai bahasa Arab sehinggga mulialah orang Arab, sebab mereka yang terlebih dahulu dapat memahami wahyu. Tetapi kalau orang Arab lalu bangga dan mendabik dada lantaran wahyu itu padahal tidak menjunjung dan mengamalkan, dengan sendirinya kemuliaan yang mereka terima itu tidak ada lagi.

Kita umat Islampun dengan terus-terang harus kita akui, kadang­kadang ditimpa juga oleh penyakit Yahudi ini. Tuhan telah pernah menganugerahi kemuliaan dan karunia kepada kaum muslimin berabad-abad lamanya, sampai menaklukkan Dunia Barat dan Timur. Tetapi satu waktu pamor muslimin menjadi muram dan negerinya dijajah oleh bangsa bangsa lain, dan mereka mundur dalam lapangan politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan, sehingga yang dapat dibanggakan oleh anak-cucu yang datang di belakang, tidak lain hanyalah pusaka nenek-moyang yang dahulu. Dengan tidak sadar si anak-cucu tadi membanggakan kemuliaan nenek-moyang, tetapi tidak mau insaf dan tidak mau membina kemuliaan yang baru, atau sambungan, karena menyeleweng jauh dari garis agama yang diajarkan Rasul. Maka samalah keadaan kita dengan Yahudi.

وَ إِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ سُوْءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُوْنَ أَبْنَاءَكُمْ وَ يَسْتَحْيُوْنَ نِسَاءَكُمْ وَ فِيْ ذَلِكُمْ بَلاَءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ
"Dan (ingatlah) tatkala Kami selamatkan kamu daripada kaum Fzr'aun yang telah menindas kamu dengan seburuk-buruk siksaan; mereka sembelih anak-anak laki-laki kamu dan mereka hidupi perempuan perempuan kamu, dan pada yang demikian itu adalah bencana yang besar daripada Tuhan kamu. " (ayat 49).

Seketika mereka sampai ke puncak kemegahan yang menimbulkan kesombongan, merasa diri istimewa daripada bangsa lain, diingatkanlah betapa mereka hidup dalam tindasan dan siksaan di negeri Mesir. Menjadi lebih hina daripada budak. Empat ratus tahun lamanya Bani Israil hidup di negeri Mesir sejak Nabi Yusuf a.s. menjadi Raja Muda Kerajaan Mesir dan ayahnya Nabi Ya'qub a. s. datang dari dusun atas undangan Nabi Yusuf a.s..

Dua belas orang bersaudara laki-laki keturunan Ya'qub a.s. itu pada mula kedatangan ke Mesir masih hidup dengan baik dan sederhana. Tetapi sesudah Ya'qub a.s. dan Yusuf a.s. meninggal, penduduk Mesir asli membenci mereka, karena mereka kian lama kian kembang. Kedudukan mereka di negeri Mesir dipandang membahayakan.

Tetapi mereka tidak diusir melainkan diperbudak. Di suruh mengerjakan pekerjaan yang berat-berat. Mereka ditindas dengan kejam sekali. Di antara kekejaman itu ialah rencana Fir'aun (Raja Mesir) memusnahkan anak laki-laki. Sehingga diperintahkan kepada bidan-bidan agar segera membunuhnya kalau perempuan Bani Israil melahirkan anak laki-laki. Dan anak perempuan ditinggalkan hidup. Tetapi dengan demikian pada perhitungan Fir'aun, Bani Israil itu akan musnah. Kalau perempuan saja banyak, bolehlah perempuan­perempuan itu dijadikan istri kedua atau hamba-sahaya dari kaum Fir'aun sendiri, anak laki-laki dari perhubungan itu tentu menjadi orang Qibthi, suku Fir'aun. Itulah bencana besar bagi mereka di waktu itu.

Ini disuruh ingatkan kepada mereka, agar mereka tahu bahwa mereka bukanlah datang mulia saja. Empat ratus tahun lamanya mereka hina, rendah dan tertindas. Kemudian mereka dimuliakan Tuhan. Karena sudah menjadi Sunnah dari Tuhan (Sunnatullah) bahwa orang atau kaum yang sudah dianiaya demikian rupa, akhirnya akan dibangkitkan kembali. Dahulu hal ini berlaku dan kemudian pun berlaku :

وَ نُريدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَ نَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَ نَجْعَلَهُمُ الْوارِثينَ
"Dan Kami hendak menunjukkan jasa atas mereka yang ditindas di bumi, dan Kami hendak menjadikan mereka pemimpin pemimpin, dan Kami hendak menjadikan mereka pewaris (bumi). " (al-Qashash : 5)

Kamu memang mulia, sebab kamu manusia. Tetapi kamu telah dihinakan oleh Fir'aun dan kaumnya, tidak dianggap sebagai manusia lagi. Maka dibangkitkan Tuhan kamu daripada kehinaan itu. Diutus Tuhan Musa a.s. dan dibantu oleh Harun a.s., dari kalangan kaummu sendiri. Ingatlah itu !

وَ إِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ
"Dan (ingatlah) tatkala Kami belahkan lautan untuk kamu. " (pangkal ayat 50).

Yaitu tatkala telah berpuluh tahun Musa a.s. dan Harun a.s., Utusan Kami berjuang membangkitkan kamu dari dalam lembah kehinaan dan perbudakan, dan ingin membawa kamu ke tanah pusaka nenek-moyang kamu yang kaya dengan susu dan madu, Fir'aun menahan kamu tidak boleh pergi, karena kalau kamu pergi Fir'aun kehilangan 600.000 manusia yang telah diperbudak dan diperas tenaganya. Lalu dengan bimbingan Utusan Kami, Musa a.s. dan Harun a. s. kamu tinggalkan negeri itu, tetapi terhalang oleh laut.
Maka laut itupun Kami belah supaya kamu 12 suku Bani Israil selamat sampai ke seberang.

فَأَنجَيْنَاكُمْ وَ أَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَ أَنتُمْ تَنْظُرُوْنَ
"Maka Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan kaum Fir'aun, padahal kamu melihat sendiri. "[ ujung ayat 50).

Janganlah kamu salah mengartikan ini. Kamu diseberangkan dengan selamat, bukan karena kamu orang istimewa, tetapi karena telah 400 tahun kamu dihinakan. Alangkah besarnya pertolongan Tuhan kepada kamu. Sampai lautan dibelah dan kamu dapat berjalan selamat di dasar laut itu. Ketika kamu menyeberangi itu, bersibak laut jadi dua, laksana gunung yang besar layaknya. Suatu hal yang cuma sekali terjadi selama dunia berkembang.

Selamat kamu sampai ke seberang. Tetapi kamu dikejar oleh Fir'aun dan tentaranya; mereka tempuh jalan yang hanya dibukakan Tuhan buat kamu. Setelah mereka sampai dipertengahan laut, lautan Kami pertemukan kembali, dan merekapun tenggelam di dalamnya. Kamu sendiri melihat kejadian itu dengan mata kepalamu sendiri dari seberang, dari tempat yang kamu telah sampai ke sana dengan selamat.

Apa yang patut kamu lakukan terhadap Tuhan lantaran pertolongan itu ? Dari bangsa budak kamu telah dimerdekakan? Bukankah sudah patut kamu bersyukur selalu bila mengingat hal itu? Dan tidak patut kamu menyombong bertinggi hati, dan tidak patut kamu bersikap angkuh menerima kedatangan Utusan Tuhan, sedang kaji yang dibawanya adalah menggenapkan kaji yang diajarkan kepada kamu juga.

Allah membelah laut sebagai mu'jizat di jaman Musa a.s., bukanlah suatu dongeng. Tetapi disaksikan oleh 600.000 orang pengungsi Bani Israil. Disaksikan pula oleh sisa yang tinggal dari kaum Fir'aun yang tinggal di Mesir, dan menjadi kenangan dari bangsa­ bangsa sekeliling lautan Qulzum itu masa demi masa.

Sehingga manusia-manusia yang tidak percaya kepada mu'jizat kekuasaan Allah, ada yang mencoba mengatakan bahwa hal itu bukanlah Mukjizat, tetapi "pasang turun - pasang naik".

Ketika Bani Israil menyeberang 600.000 orang, pasang sedang surut, dan setelah Fir'aun dan tentaranya masuk kesana pasangpun naik. Padahal sampai sekarang Lautan Qulzum tempat penyeberangan Musa a. s. dan Bani Israil itu masih ada> sudah 4.000 tahun lebih kejadian yang hebat itu terjadi, belumlah ada berita bahwa pernah pasang surut, sehingga ada orang dapat menyeberang di tempat itu, atau pasang naik sehingga ada orang terbenam. Hendaknya kalau yang ingkar dari mukjizat itu hendak mempertahankan pendirian demikian, seyogianyalah mereka mengadakan suatu ekspedisi ilmiah ke tempat itu. Tetapi kalau ekspedisi itu ada, niscaya mereka akan pulang dengan pengakuan akan adanya mu'jizat juga.

Sebab menurut ilmu pengetahuan, hanyutnya atau pasir dibawa air hujan ke laut, menyebabkan kian lama kian dangkalnya pinggir laut, tegasnya kian dangkallah sekarang Lautan Qulzum itu dibandingkan dengan 4.000 tahun yang lalu. Namun demikian, belum pernah kita mendengar bahwa di jaman sekarang ada pasang surut, yang menyebabkan di tempat penyeberangan Nabi Musa a.s. dengan Bani Israil itu dapat dilalui orang ketika pasang surut itu.