Tafsir Al-Azhar Surah Baqarah aya 51-91



وَ إِذْ وَاعَدْنَا مُوْسَى أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَ أَنتُمْ ظَالِمُوْنَ

(51) Dan (ingatlah) tatkala Kami janjikan kepada Musa empat puluh malam, kemudian kamu ambil anak lembu sepeninggal­nya; dan adalah kamu orang­ orang yang aniaya.


ثُمَّ عَفَوْنَا عَنكُمِ مِّنْ بَعْدِ ذَلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

(52) Kemudian telah Kami beri maaf kamu sesudah itu, supaya kamu bersyukur.


وَ إِذْ آتَيْنَا مُوْسَى الْكِتَابَ وَ الْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

(53) Dan (ingatlah) seketika Kami datangkan kepada Musa akan Kitab itu dan Pemisahan; supaya kamu beroleh petunjuk.



وَ إِذْ قَالَ مُوْسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

(54) Dan (ingatlah) seketika berkata Musa kepada kaumnya Wahai kaumku ! Sesungguh nya kamu telah menganiaya diri kamu (sendiri) dengan kamu mengambil anak lembu itu; maka taubatlah kamu kepada Maha Penciptamu, dan bunuhlah diri kamu. Itulah yang lebih balk buat kamu pada sisi Maha Penciptamu, niscaya akan diberiNya taubat atas kamu; sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Penyayang.


وَ إِذْ قُلْتُمْ يَا مُوْسَى لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُوْنَ

(55) Dan (ingatlah) tatkala kamu berkata kepada Musa : Hai Musa ! Tidaklah kami mau percaYa kepada engkau, sehingga kami lihat Allah itu dengan terang ! Maka ditimpalah kamu oleh gempa, dan kamupun melihat sendiri.


ثُمَّ بَعَثْنَاكُم مِّنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

(56) Kemudian Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.



وَ إِذْ وَاعَدْنَا مُوْسَى أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَ أَنتُمْ ظَالِمُوْنَ
"Dan (ingatlah) tatkala Kami janjikan kepada Musa empatpuluh malam, kemudian kamu ambil anak lembu sepeninggalnya; dan adalah kamu orang­orang yang aniaya. " (ayat 51)

Ingatlah tatkala telah selamat kamu diseberangkan, dilepaskan dari penindasan dan kehinaan, Tuhan Allah telah memanggil Musa a.s. menghadap Allah, atau bersunyi diri mernbuat hubungan jiwa dengan Allah, di lembah Thuwa di pegunungan Thur ! Sebab apabila kamu telah selamat diseberangkan, kehendak Tuhan ialah supaya kamu diberi pimpinan.

Sebab kemerdekaan saja belumlah cukup. Yang lebih penting ialah, apakah yang harus kamu kerjakan sesudah merdeka. Mana jalan yang akan kamu tempuh, apa peraturan yang wajib kamu pakai. Sebab itu Tuhan memanggil Musa a. s. menghadap, empat puluh hari lamanya; supaya diterimanya perintah-perintah Tuhan untuk keselamatan kamu.

Dan disuruhnya kamu menunggu dia pulang kembali dengan sabar, dibawah pimpinan Harun. Tetapi apa yang telah kamu perbuat setelah Musa a.s. pergi ? Kamu telah berbuat suatu perbuatan yang sangat jahat; kamu ambil perhiasan emas perempuan-perempuan kamu, lalu kamu lebur menjadi sebuah patung anak lembu, kamu sembah itu dan kamu katakan bahwa itulah Tuhan !

Alangkah jahatnya perbuatanmu itu, hai Bani Israil 1 Padahal kamu telah dibebaskan dari kehinaan, karena Fir'aun itu sendiri menganggap dirinya jadi Tuhan. Dan kamu berbuat kejahatan besar itu belum lama sesudah Kami bebaskan. Menunjukkan bahwa kamu tidak juga mengerti guna apa kamu dibebaskan.

ثُمَّ عَفَوْنَا عَنكُمِ مِّنْ بَعْدِ ذَلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
"Kemudian telah Kami beri maaf kamu sesudah itu, supaya kamu bersyukur. " (ayat 52).

Kamu diberi maaf sesudah berbuat kesalahan besar itu, bukan pula karena kamu umat yang istimewa atau suku pilihan Allah, melainkan karena kebodohan kamu, belum Allah hendak menghancurkan kamu seluruhnya. Karena kejadian itu ialah sebelum Musa a. s. pulang membawa Hukum Taurat dan syariat untuk kamu. Supaya kamu bersyukur kepada Tuhan, sebab kepadamu masih diberikan kesempatan buat memperbaiki diri.

Dengan peringatan-peringatan begini, patutlah insaf Bani Israil yang kena peringatan di jaman Rasulullah itu bahwa memang sejak bermula mereka telah keras kepala, sombong tetapi bodoh, tinggi hati tetapi goblok.

وَ إِذْ آتَيْنَا مُوْسَى الْكِتَابَ وَ الْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
"Dan (ingatlah) seketika Kami datangkan kepada Musa akan kitab itu dan Pemisahan; supaya kamu beroleh petunjuk . " (ayat 53).

Ingatlah olehmu hai Bani Israil, bahwa setelah Nabi Musa as. menghadap Tuhan 40 hari lamanya, diapun pulang kembali kepadamu. Dia telah membawa kitab itu, yaitu Kitab Taurat disertai dengan al- Furqan, ialah peraturan-peraturan dan beberapa perundangan yang harus kamu jalankan, sampai kepada peraturan puasa, kurban dan sebagainya. Gunanya ialah untuk pimpinan bagi kamu, dan petunjuk yang wajib kamu jalankan. Al-Furqan yang berarti pemisahan, juga menjadi nama dari a1-Qur'an. Juga menjadi nama dari akal. Sebab dia pemisah di antara yang hak dengan yang batil.

Menurut keterangan Mujahid, yang diriwayatkan oleh Abd bin Humaid clan Ibnu Jarir, al-Furqan ialah keempat kumpulan Kitab Suci : Taurat, Zabur, Injil, dan al-Quran.

وَ إِذْ قَالَ مُوْسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ
"Dan (ingatlah) seketika berkata Musa kepada kaumnya: Wahai kaumku! Sesungguhnya kamu telah menganiaya diri kamu (sendiri) dengan kamu mengambil anak lembu itu. " (pangkal ayat 54) menjadi Tuhan. Kamu telah diberi maaf, karena mungkin kamu belum mengerti benar­ benar perbedaan agama kita yang diturunkan Tuhan dengan paham­paham yang dianut oleh orang Mesir dengan Fir'aunnya itu, sehingga kamu sangka bahwa Tuhan Allah kita serupa juga dengan berhala yang disembah kaum Fir'aun.

Kamu lihat orang Mesir menyembah berhala anak lembu yang bernama Apis; lalu itu hendak kamu tiru pula. Sekarang aku telah datang membawa Kitab dan Pemisahan, ajaran pokok dasar dan ajaran peraturan hidup sehari-hari. Dan kamu telah paham siapa Dia Tuhan kita yang sebenarnya. Setelah kamu paham akan hakikat pegangan dan anutan kita, niscaya mengertilah kamu bahwa kamu yang memuja berhala anak lembu itu telah bersalah besar.

Dan kalau telah insaf bahwa bersalah, niscaya tidak ada lain jalan melainkan bertaubat; mintalah ampun kepada Allah. Dan oleh karena kamu sendiripun telah mengerti bahwa kesalahanmu ini sangat besar, maka taubatnyapun bukan sembarang taubat.

Taubatnya ialah dengan membunuh dirimu sendiri. Siapa yang merasa bersalah, turut campur membuat berhala anak lembu, dan menyembahnya menjadikan Tuhan, hendaklah dia bersedia membunuh dirinya sendiri. Dengan demikian barulah benar taubatmu.

فَتُوْبُوْا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ
"Maka taubatlah kamu kepada Maha Penciptamu, dan bunuhlah diri kamu. Itulah yang lebih baik buat kamu pada sisi Maha Penciptamu, niscaya akan diberiNya taubat atas kamu. "

Kalau hanya taubat-taubatan begitu saja, kamu anggap ringanlah perkara ini. Kamu telah dibebaskan dari Mesir karena kita tidak suka penyembahan berhala, padahal setelah keluar dari Mesir kamu membuat berhala. Obat buat membersihkan ini tidak lain hanya taubat dengan mencabut nyawa sendiri. Hidup karena ini tidak berguna lagi. Kalau sudah begitu barulah taubat kamu benar-benar taubat:

إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
"Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, lagi Penyayang. " (ujung ayat 54).

Memang beginilah pimpinan yang harus diberikan Musa a. s. pada waktu itu. Agar menjadi i'tibar buat selanjutnya. Kesalahan yang lain mungkin akan banyak timbul, namun kesalahan mempersekutukan yang lain dengan Allah, tidaklah habis dengan minta maaf saja. Tuhanpun telah memberi maaf, sebagai tersebut pada ayat 52 tadi. Tetapi kalau maaf Allah itu diterima demikian saja, umat itu akan lupa lagi.

Dengan begini barulah sepadan pemaaf Allah dengan taubat nashuha hambaNya. Di dalam kitab Taurat yang ada sekarang (keluaran pasal 32, ayat 28) bahwa yang membunuh diri karena taubat itu adalah sebanyak 3.000 orang. Di dalam Tafsir al-Qur'an di antaranya dalam Tafsir Jalalain, dikatakan 70.000 orang sedang aI­Qur'an sendiri tidaklah menyebut berapa jumlah itu sebab yang penting bukan jumlah orang yang mati melainkan betapa hebat dan kerasnya pimpinan Musa a. s. dalam melakukan taubat.

Keterangan yang lebih luas tentang mereka menyembah berhala anak lembu itu adalah dalarn Surat al-A'raf dan Surat Thaha, yang keduanya telah terlebih dahulu diturunkan di Mekkah. Dalam susunan ayat-ayat Surat al-Baqarah sekarang ini, hanya sebagai mengingatkan hal itu kepada Bani Israil.

Taubat dengan mernbunuh diri dalam syariat Musa a. s. ini adalah berlaku sebagai hukuman. Dengan demikian bukan berarti bahwa seseorang yang merasa dirinya bersalah besar, dibolehkan membunuh dirinya dengan kehendak sendiri. Terutama dalam syariat Muhammad s.a.w .

Di jaman dahulu kita kenal hakim-hakim Yunani memutuskan hukuman atas diri Socrates, dengan perintah minuman racun. dan di dalam cerita-cerita Yunani dan Romawi kuno, kita dapati catatan bahwa raja-raja menghukum orang besarnya yang bersalah dengan diperintahkan membunuh diri sendiri, meminum racun atau memotong urat nadinya dengan pisau saja sehingga darahnya habis.

Pada pendapat saya, dijaman kita sekarangpun kalau hakim memutuskan hukuman bunuh bagi seseorang lalu orang itu diperintah membunuh dirinya sendiri, sebagai pelaksanaan hukuman, tidaklah orang itu berdosa karena membunuh diri. Yang berdosa ialah membunuh diri sendiri di luar keputusan hukum. Karena itu namanya menjadi hakim sendiri.
Menurut riwayat Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas, berkata dia bahwa Musa a. s. memerintahkan kaumnya itu, sebagai pelaksanaan perintah Allah, agar mereka membunuh diri. Maka menekurlah segala orang yang menyembah Ijil itu dengan bertekuk lutut. Lalu datanglah mana yang tidak turut menyembah membawa pedangnya masing-masing, menikam, menyembelih dan membacok. Lalu turunlah suasana yang gelap gulita, di waktu itulah berlaku penyembelihan besar-besaran itu.

Menurut riwayat Ibnu A.bi Hatim dari Ali bin Abu Thalib, kata beliau, kaum itu bertanya kepada Nabi Musa a.s. : "Bagaimana caranya kami taubat ? " Nabi Musa a. s. menjawab : "Yang setengah kamu, yaitu yang tidak bersalah, membunuh yang bersalah. "Maka mereka ambillah pisau-pisau, lalu saudara membunuh saudaranya, ayahnya dan anaknya, sehingga matilah sampai 70.000 orang dengan tidak ambil pusing lagi siapa yang terbunuh. Setelah itu datanglah wahyu kepada Nabi Musa a.s. menyuruh berhenti, sebab kewajiban itu telah selesai, yang bersalah telah mati, dan yang tinggal sudah diberi taubat.

Berdasar kepada riwayat yang dua ini, lebih jelas lagi bahwasanya bunuhlah diri-diri kamu berarti bapak membunuh anak, anak membunuh bapak, saudara rnembunuh saudara. Artinya sama dengan membunuh diri sendiri, sebab yang dibunuh itu ialah dirimu juga, belahan diri, satu darah dan satu turunan.

وَ إِذْ قُلْتُمْ يَا مُوْسَى لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللهَ جَهْرَةً
"Dan (ingatlah) tatkala kamu berkata kepada Musa: Wahai Musa! Tidaklah kami mau percaya kepada engkau, sehingga kami lihat Allah itu dengan terang. " (pangkal ayat 55).

Ingatlah hai Bani Israil, bahwa setelah nenek-moyang kamu itu membuat berhala anak lembu sampai disuruh taubat dengan membunuh diri, janganlah kamu sangka bahwa mereka telah berhenti hingga itu saja. Patutlah hal itu menjadi peringatan bagi yang lain. Tetapi tidak! Kesalahan yang lain berulang lagi; ada pula yang berani berkata kepada Nabi Musa a.s., tidak beberapa lama sesudah itu, bahwa mereka belum hendak percaya kepada apa yang diperintahkan oleh Musa a. s., sebelum Musa a.s. memperlihatkan Allah itu terang-terang kepada mereka.

Apakah lantaran mereka tidak juga percaya bahwa Allah Ta'ala itu ada ? Mereka telah percaya, tetapi kepada Musa lah mereka tidak mau percaya kalau Musa a.s. tidak mau mempertemukan mereka pula dengan Allah, sebagaimana Musa a.s. sendiri telah bertemu.

Mengapa Musa a.s. dan Harun a.s. saja yang boleh bertemu dengan Allah dan bercakap dengan Allah terang-terangan ? Bukankah nikmat Allah itu harus rata ? Semua kita ini keturunan Israil, dari Ishak a.s. dan dari Ibrahim a.s.; mengapa maka Musa a.s. dan Harun a.s. saja harus lebih ? Kamipun berhak sebagai keturunan Ibrahim a. s., Ishak a. s. dan Ya'qub a.s. untuk melihat Allah terang-terangan.

Perkataan ini mereka nyatakan lagi setelah Nabi Harun a.s. meninggal dan hanya tinggal Nabi Musa a.s. menghadapi mereka. Akhirnya tentu kamu masih ingat, hai Bani Israil bahwa moyang moyangmu yang berani berkata demikian mendapat hukum setimpal dari Allah:

فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُوْنَ
"Maka ditimpalah kamu oleh gempa, dan kamupun melihat sendiri. " (ujung ayat 55).

Di dalam kitab mereka (Kitab Bilangan, Pasal 16) disebutkan, bahwa setelah mereka mengucapkan kata demikian, murka Allah turun, bumipun belah, maka tenggelamlah orang-orang yang ingin melihat Allah itu ke dalam belahan bumi itu, dan menyalalah api dari sudut yang lain, nyala api itu menjilat kemah dan banyaklah pula yang mati terbakar. Yang lain, yang tidak turut dalam gerak yang jahat itu menyaksikan sendiri segala kejadian itu.

ثُمَّ بَعَثْنَاكُم مِّنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
"Kemudian Kami bangkitkan kamu sesudah mati, supaya kamu bersyukur. " (ayat ,56).

Ada riwayat setengah ahli tafsir bahwa orang-orang mati dihantam gempa atau nyala api yang timbul dari dalam bumi itu dihidupkan kembali; maka bersyukurlah mereka, lantaran mereka dihidupkan kembali. Ada lagi tafsir mengatakan, bahwa mereka mati betul-betul, tetapi sudah hampir mau mati, mungkin karena kontak listrik yang timbul dari bumi yang menimbulkan gempa dahsyat itu. Maka setelah gempa berhenti, merekapun berangsur dibangunkan, dan bersyukur kepada Tuhan mereka dihidupkan untuk bertaubat kembali.
Dalam Surat al-A'raf ( Surat 17, ayat 142), terkisah bahwa setelah Nabi Musa a. s. pingsan.

وَ خَرَّ مُوسى‏ صَعِقاً
"Tersungkurlah Musa dalam keadaan pingsan. " (al-A'raf 143)

Di ayat itu tertulis Sha'iqan, Musa pingsan. Di ayat yang tengah kita tafsirkan ini, orang-orang yang ingin hendak melihat Tuhan dengan terang itupun kena Sha'iqan, jadi pingsan. Jadi setengah mati. Berdasar kepada pengertian itu - kata ahli tafsir itu - teranglah bahwa mereka bukan terus mati. Setelah hilang geseran listrik dari sebab gempa itu, merekapun siuman bangun kembali.

Dan ada lagi tafsir bahwa yang mati karena ditimpa gempa itu telah terus mati. Mereka musnah. Dan kebanyakan ialah orang-orang yang telah berumur.

Banyak orang mati seketika membunuh diri sebagai taubat karena menyembah berhala anak lembu, dan banyak pula yang mati karena dihancurkan gempa karena meminta hendak melihat Allah itu, sehingga terancamlah mereka dengan kemusnahan. Tetapi Bani Israil dihidupkan kembali, tidak sampai musnah, karena anak-cucu mereka berkembang. Angkatan baru menggantikan angkatan yang lama, untuk melanjutkan hidup mereka sebagai kaum. Dengan sebab demikian, patutlah mereka bersyukur kepada Allah.

Yang tua-tua telah habis. Ada mati sampai umur, ada mati karena azab Tuhan, tetapi kehidupan diteruskan oleh anak-cucu, sehingga di jaman Nabi Muhammad mereka masih ada, sebagai Bani Israil. Mereka ini patutlah bersyukur kepada Tuhan, sebab dapat melanjutkan hidup nenek-moyang mereka. Itu pula sebabnya maka mereka semua dipanggil dengan nama yang mulia, nama yang tetap hidup sampai kepada anak-cucu mereka: "Hai Bani Israil !"

Itulah maksudnya, kata setengah ahli tafsir itu, bahwa mereka dihidupkan kembali sesudah mati.
 



 وَ ظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَ السَّلْوَى كُلُوْا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَ مَا ظَلَمُوْنَا وَلَكِنْ كَانُوْا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

(57) Dan telah Kami teduhi atas kamu dengan awan dan telah Kami turunkan kepada kamu manna dan salwa. Makanlahdari yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepada kamu. Dan tidaklah mereka yang menganiaya Kami, akan tetapi adalah mereka menganiaya diri mereka sendiri.


وَ إِذْ قُلْنَا ادْخُلُوْا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوْا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَداً وَ ادْخُلُوْا الْبَابَ سُجَّداً وَ قُوْلُوْا حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَ سَنَزِيْدُ الْمُحْسِنِيْنَ

(58) Dan (ingatlah) seketika Kami berkata : Masuklah kamu ke dalam negeri ini, maka makanlah daripadanya bagaimana yang kamu kehendaki dengan puas, dan masukilah pintu itu dengan merendah diri dan ucapkanlah kata permohonan ampun, niscaya akan Kami ampuni kesalahan-kesalahan kamu, dan akan Kami tambah (nikmat) kepada orang-orang yang berbuat baik


فَبَدَّلَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا قَوْلاً غَيْرَ الَّذِيْ قِيْلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا رِجْزاً مِّنَ السَّمَاء بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْن

(59) Maka menggantilah orang-or­ang yang durhaka dengan kata­kata yang tidak diperintahkan kepada mereka, lalu Kami turunkan atas orang-orang yang zalim itu siksaan dari langit, oleh karena mereka melanggar perintah.


وَ إِذِ اسْتَسْقَى مُوْسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِب بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْناً قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ كُلُوْا وَ اشْرَبُوْا مِن رِّزْقِ اللهِ وَلاَ تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِيْن

(60) Dan (ingatlah) seketika Musa memohonkan air untuk kaumnya, lalu Kami katakan : Pukullah dengan tongkatmu , itu akan batu ! Maka memancarlah daripadanya dua­belas mata air, yang sesungguhnya telah tahu tiap ­tiap golongan tempat minum mereka , makanlah dan minum­lah dari karunia Allah , dan janganlah kamu mengacau dan membuat kerusakan di bumi.


وَ إِذْ قُلْتُمْ يَا مُوْسَى لَن نَّصْبِرَ عَلَىَ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ أَدْنَى بِالَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُوْا مِصْراً فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَآؤُوْا بِغَضَبٍ مِّنَ اللهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِآيَاتِ اللهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيِّيْنَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّ كَانُوْا يَعْتَدُوْنَ

(61) Dan (ingatlah) seketika kamu berkata : Wahai Musa, tidakiah kami akan tahan atas makanan hanya semacam. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhan engkau, supaya dikeluarkan untuk kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, dari sayur-sayurannya, dan mentimunnya, dan bawang putihnya, dan kacangnya dan bawang-merahnya. Berkata dia : Adakah hendak kamu tukar yang amat hina dengan yang amat baik ? Pergilah ke satu kota besar, maka sesungguh­nYa di sana akan dapatlah apa yang kamu minta itu ! Dan dipukulkanlah atas mereka kehinaaan dan kerendahan, dan sudah layaklah mereka ­ditimpa kemurkaan dari Allah. Yang demikian itu ialah karena mereka kufur kepada perintah- perintah Allah dan mereka bunuh Nabi-nabi dengan tidak patut. Yang demikian itu ialah karena mereka telah durhaka dan mereka telah melewati batas.



Kemudian diperingatkan Tuhan pula nikmat lain yang telah diberikan kepada mereka:

وَ ظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَ السَّلْوَى
"Dan telah Kami teduhi atas kamu dengan awan dan telah Kami turunkan kepada kamu manna dan salwa. " (pangkal ayat 57).

Empat puluh tahun lamanya mereka tertahan di padang TIH, sebagai hukuman karena mereka tidak berani masuk ke negeri yang dijanjikan itu, sebagaimana kelak akan ada lagi ayat yang lain menjelaskannya. Tetapi sungguhpun 40 tahun dipadang-belantara kering itu, mereka selalu ditudungi dengan awan.

Kalau tidaklah ada tudungan awan niscaya habis matilah mereka karena teriknya panas di padang pasir. Inilah suatu rahmat Tuhan lagi yang mereka terima, meskipun mereka di padang Tih itu sedang dihukum. Patutlah mereka mensyukurinya. Kemudian di masa itu juga mereka diberi makanan yang bernama manna dan salwa. Menilik arti saja, manna ialah karunia, salwa boleh diartikan penawar hati. Tetapi yang dimaksud ialah dua macam makanan enak yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka.

Menurut riwayat lbnul Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, beliau berkata bahwa manna adalah suatu makanan manis, berwarna putih yang mereka dapati tiap-tiap pagi telah melekat pada batu-batu dan daun-daun kayu. Rasanya manis dan enak; semanis madu, sehingga ada penafsir yang memberinya arti madu.

Apabila makanan itu mereka makan, mereka kenyang. Mereka boleh membawa keranjang setiap pagi untuk memungutinya. Adapun salwa ialah burung putih sebesar burung puyuh. Terbang berbondong-bondong dan mudah mereka tangkap. Dagingnya gurih dan empuk. Sewaktu­waktu burung itu datang berbondong-bondong, sehingga mereka tidak kekurangan daging.

كُلُوْا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ
"Makanlah dari yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepada kamu. "

Artinya semuanya itu dianugerahkan Allah dengan penuh rasa rahmat, sebab itu memakannya pun haruslah dengan baik.

وَ مَا ظَلَمُوْنَا وَلَكِنْ كَانُوْا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ
"Dan tidaklah mereka yang menganiaya Kami, akan tetapi adalah mereka menganiaya diri mereka sendiri" ( ujung ayat 57).

Tegasnya, jika Allah Ta'ala mendatangkan suatu perintah clan menurunkan Agama, bukanlah Tuhan menyia-nyiakan jaminan hidup bagi manusia, bahkan diberiNya perlindungan dan makanan yang cukup. Maka sebagai tanda syukur kepada Ilahi, patutlah mereka beribadat kepadaNya. Kalau nikmat Tuhan tidak disyukuri, sengsaralah yang akan menimpa.

Maka kalau sengsara menimpa, janganlah Tuhan disesali, tetapi sesalilah diri sendiri. Dan Tuhan tidaklah akan teraniaya oleh perbuatan manusia. Misalnya jikapun manusia durhaka kepada Al­lah, tidaklah Allah akan celaka lantaran kedurhakaan manusia itu, melainkan manusialah yang mencelakakan dirinya.

وَ إِذْ قُلْنَا ادْخُلُوْا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوْا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَداً وَ ادْخُلُوْا الْبَابَ سُجَّداً وَ قُوْلُوْا حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَ سَنَزِيْدُ الْمُحْسِنِيْنَ
"Dan (ingatlah) seketika Kami berkata : Masuklah kamu ke dalam negeri ini, maka makanlah daripadanya sebagaimana yang kamu kehendaki dengan puas, dan masukilah pintu itu dengan merendah diri dan ucapkanlah kata permohonan ampun, niscaya akan Kami ampuni kesalahan-kesalahan kamu, dan akan Kami tambah (nikmat) kepada orang-orang yang berbuat baik. " (ayat 58).

Setelah mereka dikeluarkan dari tempat perhambaan di Mesir itu dan dijanjikan kepada mereka tanah-tanah pusaka nenek-moyang mereka, yaitu bumi Kanaan atau tanah tanah Mesopotamia yang sekarang : Palestina sekeliling Sungai Yordania.

Tetapi masuk ke sana itu tidaklah secara melenggang saja, melainkan dengan perjuangan. Kepada mereka diberikan perintah bagaimana cara menaklukkan sebuah negeri; hasil bumi negeri itu boleh dimakan, sebab sudah menjadi hak mereka. Sebab itu boleh kamu makan dia dengan puas clan gembira. Dan ketika masuk ke dalam negeri itu hendaklah dengan budi yang balk, dengan sikap yang runduk, jangan menyombong, jangan membangkitkan sakit hati pada orang lain, dan bersyukurlah kepada Allah atas nikmat yang telah dikaruniakanNya dan kemenangan yang telah diberikanNya, dan ucapkanlah perkataan yang mengandung semangat mohon ampun kepada Ilahi. Kalau perintah ini mereka turuti, niscaya jikapun ada kesalahan mereka dalam peperangan atau dalam hal yang lain akan diampuni oleh Tuhan, dan kepada orang-orang yang sudi berbuat baik akan dilipatgandakan Tuhan nikmatNya.

Untuk melihat contoh teladan tentang menaklukkan dan memasuki negeri musuh dengan jalan begini, ialah teladan Nabi Muhammad sendiri seketika beliau memerlukan Mekkah, setelah 10 tahun beliau diusir dari negeri itu. Beliau masuk dengan muka tunduk, sampai tercecah kepala beliau kepada leher untanya yang bernama al-Qashwa' itu, tidak ada sikap angkuh dan sombong.

فَبَدَّلَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا قَوْلاً غَيْرَ الَّذِيْ قِيْلَ لَهُمْ
"Maka menggantilah orang-orang yang durhaka dengan kata-kata yang tidak diperintahkan kepada mereka. " (pangkal ayat 59).

Maka kata Hiththah yang berarti permohonan ampun kepada Ilahi, mereka ganti dengan kata lain, yaitu hinthah yang berarti minta gandum kepada Ilahi. Artinya bukanlah mereka merundukkan kepala dengan segala kerendahan hati kepada Tuhan, sebab negeri itu telah dapat ditaklukkan, melainkan hanya mengingat beberapa puluh karung gandumkah yang akan mereka dapat dengan merampas kekayaan penduduk yang ditaklukkan.

Meskipun memang demikian ditulis oleh setengah penafsir, tetapi yang terang ialah bahwa tidak mereka lakukan sebagai yang diperintahkan melainkan mereka merubah perintah Tuhan sekehendak hati, tidak sebenar-benar patuh jiwa mereka kepada disiplin Tuhan. Ada rupanya yang membuat langkah-langkah dan cara yang lain.

فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا رِجْزاً مِّنَ السَّمَاء بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْن
"Lalu Kami turunkanlah atas orang-orang yang zalim itu siksaan dari langit, oleh karena mereka melanggarperintah. " (ujung ayat 59).

Maksud ayat ini sudah tegas, yaitu ada dalam kalangan mereka yang tidak setia menjalankan apa yang diperintahkan. Tidak menurut sebagaimana yang diinstruksikan. Disuruh tunduk, mereka menyombong. Disuruh memakai kata-kata yang berisi mohon ampun, mereka minta gandum. Disuruh makan baik-baik mereka makan dengan rakus. Padahal itulah pantang besar dalam perjuangan. Karena tentara adalah alat semata-mata dari panglima yang memegang komando.

Oleh karena mereka merubah-rubah perintah, maka mana yang merubah itu atau yang zalim itu mendapatlah siksaan dari langit. Dengan memperingatkan ini kembali kepada Bani Israil di jaman Nabi, terbukalah rahasia kebiasaan mereka, yaitu tidak tulus menjalankan perintah, dan bagi Nabi s.a.w sendiripun menjadi peringatan bahwa keras kepala adalah bawaan mereka sejak dari nenek-moyang mereka. Kalau kita lihat catatan sejarah Bani Israil ketika dibawa dan dibimbing Nabi Musa a. s. itu, la sendiripun kerapkali mencela mereka dengan memberi cap keras kepala, keras tengkuk dan sebagainya. Dan siksaan yang datangpun sudah bermacaam-macam terhadap yang salah.

Kadang-kadang ditenggelamkan, kadang-kadang disapu oleh bahaya sampar.

وَ إِذِ اسْتَسْقَى مُوْسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِب بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ
"Dan (ingatlah) seketika Musa memohonkan air untuk kaumnya, lalu Kami katakan: Pukullah dengan tongkatmu itu akan batu. " (pangkal ayat 60).

Dalam perjalanan jauh itu tentu bertemu juga dengan padang belantara yang kering dari air. Kalau berjumpa dengan keadaan yang demikian, Bani Israil itu sudah ribut, mengomel dan melepaskan kata­kata yang menunjukkan jiwa yang kecil kepada Nabi Musa a.s. . Tiba di tempat yang kering kurang air, mereka mengomel, mengapa kami dibawa ke tempat ini. Mengapa kehidupan kami yang senang, cukup air di Mesir disuruh meninggalkannya dan dibawa ke tempat yang kering ini. Apa kami disuruh mati ? Musapun memohonlah kepada Tuhan agar mereka diberi air. Maka disuruh Tuhan kepada Musa a.s. memukul batu dengan tongkat:

فَانفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْناً
"Maka memancarlah daripadanya duabelas mata air, "

sebanyak suku-suku Bani Israil,

قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ
"yang sesungguhnya telah tahu tiap-tiap golongan akan tempat minum mereka. "

Dan sebagaimana rahmat turunnya manna dan salwa, disuruhkan juga kepada mereka agar nikmat ini diterima dengan syukur. Kalau bukanlah dengan mukjizat dan karunia Ilahi tidaklah mereka akan mendapat air ditempat sekering itu, padang pasir yang tandus. Sebab itu Tuhan bersabda:

كُلُوْا وَ اشْرَبُوْا مِن رِّزْقِ اللهِ وَلاَ تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِيْن
"Makanlah dan minumlah dari karunia Allah, dan janganlah kamu mengacau dan membuat kerusakan di bumi. " (ujung ayat 60).

Ini diingatkan kembali kepada Bani Israil, demikian besar nikmat Tuhan atas mereka. Dan diperingatkan pula kepada manusia umumnya, janganlah sampai setelah nikmat bertimpa-timpa datang, lalu lupa kepada yang memberikan nikmat, lalu berbuat kekacauan dan kerusakan. Jangan hanya mengomel menggerutu ketika kekeringan nikmat, lalu mangacau dan menyombong setelah nikmat ada.

وَ إِذْ قُلْتُمْ يَا مُوْسَى لَن نَّصْبِرَ عَلَىَ طَعَامٍ وَاحِدٍ
"Dan (ingatlah ) seketika kamu berkata : Wahai Musa, tidaklah kami akan tahan atas makanan hanya semacam. " (pangkal ayat 61).

Ini juga menunjukkan kekecilan jiwa dan kemanjaan. Mereka telah diberi jaminan makanan yang baik, manna dan salwa. Manna yang semanis madu dan daging burung, salwa yang empuk lezat. Dengan demikian mereka tidak usah menyusahkan lagi makanan lain pada tanah kering dan tidak subur dan tidak dapat ditanami itu. Tetapi mereka tidak tahan. Masih mereka lupa dari sebab apa mereka dipindahkan dari Mesir. Manakah perjuangan menuju tempat bahagia yang tidak ditebus dengan kesusahan ? Lalu mereka mengeluh :

فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ
"Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhan engkau, supaya dikeluarkan untuk kami dari apa yang ditumbuhkan bumi. "

Kami telah terlalu ingin perubahan makanan, jangan dari manna ke manna, dari salwa ke salwa saja. Kami ingin

مِن بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا
"dari sayur-mayurnya, dan mentimunnya dan bawang­putihnya dan kacangnya dan bawang- merahnya. "

Mendengar permintaan yang menunjukkan jiwa kecil dan kerdil itu, Nabi Musa a.s. menjawab :

قَالَ أَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ أَدْنَى بِالَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ
"Berkata dia : Adalah hendak kamu tukar dengan yang amat hina barang yang amat baik ?"

Mengapa Nabi Musa a.s. menyambut demikian ? Memang, mereka meminta sayur-sayur yang demikian, ialah karena mereka teringat akan makanan mereka tatkala masih tinggal di Mesir; ada mentimun, ada bawang merah, ada kacang, ada bawang putih. Tetapi dalam suasana apakah mereka di waktu itu ? Ialah suasana perbudakan dan kehinaan. Sekarang mereka berpindah meninggalkan negeri itu, karena Allah hendak membebaskan mereka, tetapi karena tujuan terakhir belum tercapai, yaitu merebut tanah yang dijanjikan dengan keperkasaan, karena pengecut mereka juga, ditahanlah mereka di padang Tih 40 tahun. Makanan dijamin, "Ransum"disediakan. Itupun bukan ransum sembarang ransum.

Nabi Musa a. s. mengatakan tegas, bahwa makanan yang mereka minta itu adalah makanan hina, makanan jaman perbudakan. Dan makanan yang mereka tidak tahan lagi itu adalah makanan jaman pembebasan. Makanan karena cita ­cita. Untuk misal yang dekat kepada kita, adalah keluhan orang tua­ tua yang biasa hidup senang dijaman penjajah Belanda dahulu, mengeluh karena kesukaran di jaman perjuangan Kemerdekaan. Mereka selalu teringat jaman itu yang mereka namai jaman normal. Dengan uang satu rupiah jaman itu sudah dapat beli baju dan lebihnya dapat dibawa pulang untuk belanja makan minum. Tetapi sekarang setelah merdeka hidup jadi susah. Sampai ada yang berkata : "Bila akan berhenti merdeka ini ! - "Lalu Musa a. s. berkata:

اهْبِطُوْا مِصْراً فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ
"Pergilah ke kota besar. Maka sesungguhnya di sana akan kamu dapatkart apa yang kamu minta itu. "

Inilah satu teguran yang keras, kalau mereka sudi memahamkan. Pergilah ke salah satu kota besar, apa artinya ? Ialah keluar dari kelompok dan menyediakan diri jadi budak kembali. Atau melepaskan cita-cita. Laksana pengalaman kita bangsa Indonesia di jaman perjuangan bersenjata dahulu yang makanan tidak cukup, kediaman di hutan. Mana yang kita tidak tahan menderita, silahkan masuk kota. Di kota ada mentega dan ada roti, coklat dan kopi susu. Tetapi artinya ialah meninggalkan perjuangan, menghentikan sejarah diri sendiri dalam membina perjuangan.

Kalimat Ihbithu mishran yang berarti pergilah ke kota besar, kalau menurut qira'at (bacaan) al-Hasan dan Aban bin Taghlib dan Thalhah bin Mushrif ialah Ihbithu mishra dengan tidak memakai tanwin (baris dua). Menurut qira'at ini artinya ialah : "Pergilah kamu pulang kembali ke Mesir, di sana akan kamu dapati apa yang kamu minta itu ! "Dengan demikian maka perkataan Nabi Musa a.s. menjadi lebih keras lagi. Segala yang kamu minta itu hanya ada di Mesir. Kalau kamu ingin juga, pulanglah ke sana kembali menjadi orang yang hina, diperbudak kembali.

Akhirnya bersabdalah Tuhan tentang keadaan jiwa mereka :

وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَآؤُوْا بِغَضَبٍ مِّنَ اللهِ
"Dan dipukulkanlah atas mereka kehinaan dan kerendahan, dan sudah layaklah mereka ditimpa kemurkaan dari Allah. "

Kehinaan ialah hina akhlak dan hina jiwa, tidak ada cita-cita tinggi. Jatuh harga diri, padam kehormatan diri, jatuh moral. Itulah yang dikenal dengan jiwa budak (slavengeest). Apabila diri sudah hina, niscaya rendahlah martabat, menjadi miskin. Mata kuyu kehilangan sinar. Ukuran cita-cita hanya sehingga asal perut akan berisi saja, payah dibawa naik. Atau malas berjuang karena ingin makanan yang enak-enak saja. Dengan demikian tentu tidak lain yang akan mereka terima hanyalah kemurkaan Allah. Lalu disebutnya sebabnya yang utama:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِآيَاتِ اللهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيِّيْنَ بِغَيْرِ الْحَقِّ
"Yang demikian itu, ialah karena mereka kufur kepada perintah perintah Allah, dan mereka bunuh Nabi-nabi dengan tidak patut."

Sedangkan membunuh sesama manusia biasa lagi tidak patut, apalagi kalau sudah berani mengangkat senjata membunuh Nabi-nabi yang menunjuki mereka jalan yang benar. Menurut riwayat selama riwayat Bani Israil, tidak kurang dari 70 Nabi yang telah mereka bunuh. Itulah akibat dari jiwa yang telah jahat, karena meninggalkan iman.

ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّ كَانُوْا يَعْتَدُوْنَ
"Yang demikian itu ialah karena mereka telah durhaka dan adalah mereka melewati batas. "( ujung ayat 61).

Tersebab jiwa yang telah hina dan rendah, kerdil dan miskin, yang berpangkal daripada kufur kepada kebenaran, segala pekerjaan yang keji dan hina, membunuh Nabi, menipu dan ingkar akan seruan kebenaran berturutlah terjadi. Maka penuhlah riwayat Bani Israil dengan itu, yang anak-cucu mereka tidak akan dapat memungkiri kejadian itu. Sebab telah menggenang di dalam mata sejarah. Durhaka dan melewati batas. Durhaka menjadi maksiat; dosapun banyak diperbuat. Melewati batas, melanggar hukum. Sehingga peraturan­ peraturan dalam Taurat Nabi Musa a.s. tidak berjalan lagi, meskipun disebut-sebut juga dengan mulut.



(62) إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ الَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِيْنَ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْ

Sesungguhnyaorang-orangyang beriman dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi'in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran di sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka-cita.


(63) وَ إِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَ رَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَ خُذُوْا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَ اذْكُرُوْا مَا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Dan (ingatlah) tatkala telah Kami ambil perjanjian dengan kamu, dan telah Kami angkatkan gunung di atas kamu; Pegang­lah apa yang telah Kami berikan kepada kamu dengan sungguh-sungguh, dan ingatlah olehmu apa yang ada di dalamnya, supaya kamu semua­nya takwa.


(64) ثُمَّ تَوَلَّيْتُم مِّنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَتُهُ لَكُنْتُم مِّنَ الْخَاسِرِيْنَ

Kemudian kamupun berpaling sesudah itu. Maka kalau bukanlah karunia Allah dan belas-kasihanNya atas kamu, sesungguhnyalah telah jadilah kamu dari orang-orang yang merugi.


(65) وَ لَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خَاسِئِيْنَ

Dan sesungguhnya telah Kami ketahui orang-orang yang me­langgar perintah pada hari Sabtu, maka Kami firmankan : Jadilah kamu kera-kera yang dibenci !


(66) فَجَعَلْنَاهَا نَكَالاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَ مَا خَلْفَهَا وَ مَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْن

Maka Kami jadikanlah dianya sebagai suatu teladan bagi mereka yang semasa dengan nya dan bagi yang dibelakang­nya, dan pengajaran bagi orang­orang yang bertakwa.


إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman. " (pangkal ayat 62).

Yang dimaksud dengan orang beriman di sini ialah orang yang memeluk agama Islam; yang telah menyatakan percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w dan akan tetaplah menjadi pengikutnya sampai Hari Kiamat :

وَ الَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِيْنَ
"Dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi'in ",

yaitu tiga golongan beragama yang percaya juga kepada Tuhan tetapi telah dikenal dengan nama-nama yang demikian,

مَنْ آمَنَ بِاللهِ
"barangsiapa yang beriman kepada Allah".

Yaitu yang mengaku adanya Allah Yang Maha Esa, dengan sebenar-benar pengakuan, mengikut suruhanNya clan menghentikan laranganNya

وَ الْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً
"dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, "

yaitu Hari Akhirat, kepercayaan yang telah tertanam kepada Tuhan dan Hari Kemudian itu, mereka buktikan pula dengan mempertinggi mutu diri mereka.

فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ
"Maka untuk mereka adalah ganjaran di sisi Tuhan mereka:

Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merek apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shahih yang telah mereka kerjakan itu.

وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْ
"Dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita. " (ujung ayat 62).

Di dalam ayat ini terdapatlah nama dari empat golongan:
1. Orang yang beriman.
2. Orang-orang yang jadi Yahudi.

3. Orang-orang Nasrani.
4. Orang-orang Shabi'in.

Golongan pertama, yang disebut orang-orang yang telah beriman, ialah orang-orang yang telah terlebih dahulu menyatakan percaya kepada segala ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w yaitu mereka-mereka yang telah berjuang karena imannya, berdiri rapat di sekelilling Rasul s. a.w sama-sama menegakkan ajaran agama seketika beliau hidup. Di dalam ayat ini mereka dimasukkan dalam kedudukan yang pertama dan utama.

Yang kedua ialah orang-orang yang jadi Yahudi, atau pemeluk agama Yahudi. Sebagaimana kita ketahui, nama Yahudi itu dibangsakan atau diambil dari nama Yahuda, yaitu anak tertua atau anak tertua dari Nabi Ya'qub a. s. . Oleh sebab itu merekapun disebut juga Bani Israil. Dengan jalan demikian, maka nama agama Yahudi lebih merupakan agama "keluarga" daripada agama untuk manusia pada umumnya.

Yang ketiga, yaitu Nashara, dan lebih banyak lagi disebut Nasrani. Dibangsakan kepada desa tempat Nabi Isa al-Masih dilahirkan, yaitu Desa Nazaret (dalam bahasa Tbrani) atau Nashirah (dalam bahasa Arab). Menurut riwayat Ibnu Jarir, Qatadah berpendapat bahwa Nasrani itu memang diambil dari nama Desa Nashirah.
Ibnu Abbas pun menafsirkan demikian.

Yang keempat Shabi'in; kalau menurut asal arti kata maknanya, ialah orang yang keluar dari agamanya yang asal, dan masuk ke dalam agama lain, sama juga dengan arti asalnya ialah murtad. Sebab itu ketika Nabi Muhammad mencela-cela agama nenek-moyangnya yang menyembah berhala , lalu menegakkan paham Tauhid, oleh orang Quraisy , Nabi Muhammad s.a.w itu dituduh telah shabi' dari agama nenek-moyangnya.

Menurut riwayat ahli-ahli tafsir, golongan Shabi'in itu memanglah satu golongan dari orang-orang yang pada mulanya memeluk agama Nasrani, lalu mendirikan agama sendiri. Menurut penyelidikan, mereka masih berpegang teguh pada cinta-kasih ajaran al-Masih, tetapi disamping merekapun mulai menyembah Malaikat. Kata setengah orang pula, mereka percaya akan pengaruh bintang­ bintang. Ini menunjukan pula bahwa agama menyembah bintang­ bintang pusaka Yunani mempengaruhi pula perkembangan Shabi'in ini.

Di jaman sekarang penganut Shabi'in masih terdapat sisa-sisanya di negeri Irak. Mereka menjadi warga negara yang baik dalam Republik Irak.

Di dalam ayat ini dikumpulkanlah keempat golongan ini menjadi satu. Bahwa mereka semuanya tidak merasai ketakutan dan duka-cita asal saja mereka sudi beriman kepada Allah dan Hari Akhirat golongan itu diikuti oleh amal yang shalih. Dan keempat-empat lalu iman kepada Allah dan Hari Akhirat itu akan mendapat ganjaran di sisi Tuhan mereka.

Ayat ini adalah suatu tuntunan bagi menegakkan jiwa, untuk seluruh orang yang percaya kepada Allah. Baik dia bernama mukmin, atau muslim pemeluk Agama Islam, yang telah mengakui kerasulan Muhammad s.a.w atau orang Yahudi, Nasrani dan Shabi'in. Disini kita bertemu syarat yang mutlak.

Syarat pertama iman kepada Allah dan Hari Pembalasan, sebagai inti ajaran dari sekalian agama. Syarat pertama itu belum cukup kalau belum dipenuhi dengan syarat yang kedua, yaitu beramal yang shalih, atau berbuat pekerjaan-pekerjaan yang baik, yang berfaedah dan bermanfaat baik untuk diri sendiri ataupun untuk masyarakat. Mafhum atau sebaliknya dari yang tertulis adalah demikian : "Meskipun dia telah mengakui beriman kepada Allah (golongan pertama), mengaku beriman mulutnya kepada Nabi Muhammad, maka kalau iman itu tidak dibuktikannya dengan amalnya yang shalih, tidak ada pekerjaannya yang utama, tidaklah akan diberikan ganjaran oleh Tuhan."

Demikian juga orang Yahudi, walaupun mulutnya telah mengakui dirinya Yahudi, penganut ajaran Taurat, padahal tidak diikutinya dengan syarat pertama iman sungguh-sungguh kepada Allah dan Hari Akhirat, dan tidak dibuktikannya dengan amal yang shalih, perbuatan yang baik, berfaedah dan bermanfaat bagi peri-kemanusiaan, tidaklah dia akan mendapat ganjaran dari Tuhan.

Begitu juga orang Nasrani dan Shabi'in. hendaklah pengakuan bahwa diri orang nasrani atau Shabiin itu dijadikan kenyataan dalam perbuatan yang baik. Iman kepada Allah dan Hari Akhirat ! Inilah pokok pertama, sehingga pengakuan beriman yang pertama bagi orang Islam, pengakuan Yahudi bagi orang Yahudi, pengakuan Nasrani bagi orang Nasrani, pengakuan Shabi'in bagi pemeluk Shabi'in, belumlah sama sekali berarti apa-apa sebelum dijadikan kesadaran dan kenyakinan dan diikuti dengan amal yang shalih.

Beriman kepada Allah niscaya menyebabkan iman pula kepada segala wahyu yang diturunkan Allah kepada RasulNya; tidak membeda-bedakan di antara satu Rasul dengan Rasul yang lain, percaya kepada keempat kitab yang diturunkan.
Di dalam sejarah Rasul s.a.w berjumpalah hal ini. Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan sahabat-sahabat yang utama, telah lebih dahulu menyatakan iman.

Kemudian baik seketika masih di Mekkah atau setelah berpindah ke Madinah, menyatakan iman pula beberapa orang Yahudi, sebagai Abdullah bin Salam, Ubai bin Ka'ab dan lain-lain. Orang-orang Nasranipun menyatakan pula iman kepada Allah dan Hari Akhirat yang diikuti dengan amal yang shalih, seumpama Tamim ad-Dari, Adi bin Hatim atau Kaisar Habsyi (Negus) sendiri dan beberapa lagi yang lain. Cuma yang tidak terdengar riwayatnya ialah orang Shabi'in.

Salman al-Farisipun berpindah dari agama Majusi, lalu memeluk Nasrani dan kernudian menyatakan iman kepada Allah dan Hari Akhirat dan mengikutinya dengan amal yang shalih. Maka semua orang-orang yang telah menyatakan iman dan mengikuti dengan bukti ini, hilanglah dari mereka rasa takut, cemas dan duka­cita.

Apa sebab ?

Apabila orang telah berkumpul dalam suasana iman, dengan sendirinya sengketa akan hilang dan kebenaran akan dapat dicapai. Yang menimbulkan cemas dan takut di dalam dunia ini ialah apabila pengakuan hanya dalam mulut, aku mukmin, aku Yahudi, aku Nasrani, aku Shabi'in, tetapi tidak pernah diamalkan.

Maka terjadilah perkelahian karena agama telah menjadi golongan, bukan lagi dakwah kebenaran. Yang betul hanya aku saja, orang lain salah belaka. Orang tadinya mengharap agama akan membawa ketentraman bagi jiwa, namun kenyataannya hanyalah membawa onar dan peperangan, kerena masing-masing pemeluk agama itu tidak ada yang beramal dengan amalan yang baik, hanya amal mau menang sendiri.

Kesan pertama yang dibawa oleh ayat ini ialah perdamaian dan hidup berdampingan secara damai di antara pemeluk sekalian agama dalam dunia ini. Janganlah hanya semata-mata mengaku Islam, Yahudi atau Nasrani atau Shabi'in, pengakuan yang hanya di lidah dan karena keturunan. Lalu marah kepada orang kalau dituduh kafir, padahal Iman kepada Allah dan Hari Akhirat tidak dipupuk, dan amal shalih yang berfaedah tidak dikerjakan.

Kalau pemeluk sekalian agama telah bertindak zahir dan batin di dalam kehidupan menurut syarat-syarat itu tidaklah akan ada silang sengketa di dunia ini tersebab agama. Tidak akan ada fanatik buta, sikap benci dan dendam kepada pemeluk agama yang lain.

Nabi Muhammad sendiri meninggalkan contoh teladan yang amat baik dalam pergaulan antara agama. Beliau bertetangga dengan orang Yahudi, lalu beliau beramal-shalih terhadap mereka. Pernah beliau menyembelih binatang ternaknya, lalu disuruhnya lekas-lekas antarkan sebagian daging sembelihannya itu ke rumah tetangganya orang Yahudi.

Seketika datang utusan Najran Nasrani menghadap beliau ke Madinah, seketika utusan-utusan itu hendak menghadap di waktu yang ditentukan, semuanya memakai pakaian-pakaian kebesaran agama mereka sebagaimana yang kita lihat pada pendeta-pendeta Katholik sekarang ini , sehingga mereka terlalu terikat dengan protokol-protokol yang memberatkan dan kurang bebas berkata-kata, lalu beliau suruh tanggalkan saja pakaian itu dan mari bercakap lebih bebas. Yahudi dan Nasrani itu beliau ucapkan dengan kata hormat: "Ya Ahlal Kitab " : Wahai orang-orang yang telah menerima Kitab-kitab Suci.

Dalam kehidupan kita di jaman modern pun begitu pula. Timbul rasa cemas di dalam hidup apabila telah ada di antara pemeluk agama yang fanatik. Yang kadang-kadang saking fanatiknya, maka imannya bertukar dengan cemburu: "Orang yang tidak seagama dengan kita, adalah musuh kita. "Dan ada lagi yang bersikap agresif., menyerang, menghina, dan menyiarkan propaganda agama mereka dan kepercayaan yang tidak sesuai ke dalam daerah negeri yang telah memeluk suatu agama.

Ayat ini sudah jelas menganjurkan persatuan agama, jangan agama dipertahankan sebagai suatu golongan, melainkan hendaklah selalu menyiapkan jiwa mencari dengan otak dingin, manakala dia hakikat kebenaran. Iman kepada Allah dan Hari Akhirat, diikuti oleh amal yang shalih.

Kita tidak akan bertemu suatu ayat yang begini penuh dengan toleransi dan lapang dada, hanyalah dalam al-Qur'an ! Suatu hal yang amat perlu dalam dunia modern. Kalau nafsu loba manusia di jaman modern telah menyebabkan timbul perang-perang besar dan senjata­senjata pemusnah, maka kaum agama hendaklah mencipta perdamaian dengan mencari dasar kepercayaan kepada Allah dan Hari Akhirat, serta membuktikannya dengan amal yang shalih. Bukan amal merusak.

Kerapkali menjadi kemusykilan bagi orang yang membaca ayat ini, karena disebut yang pertama sekali ialah orang-orang yang telah beriman. Kemudiannya baru disusuli dengan Yahudi, Nasrani dan Shabi'in. Setelah itu disebutkan bahwa semuanya akan diberi ganjaran oleh Tuhan, apabila mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, lalu beramal yang shalih. Mengapa orang yang beriman diisyaratkan beriman lagi ?

Setengah ahli tafsir mengatakan, bahwa yang dimaksud di sini barulah iman pengakuan saja. Misalnya mereka telah mengucapkan Dua Kalimat Syahadat, mereka telah mengaku dengan mulut, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Tetapi pangakuan itu baru pengakuan saja, belum diikuti oleh amalan, belum mengerjakan Rukun Islam yang lima perkara.

Maka iman mereka itu masih sama saja dengan iman Yahudi, nasrani dan Shabi'in. Apatah lagi orang Islam peta bumi saja atau Islam turunan. Maka Islam yang semacam itu masih sama saja dengan Yahudi, Nasrani dan Shabi'in. Barulah keempatnya itu berkumpul menjadi satu, apabila semuanya memperbaharui iman kembali kepada Allah dan Hari Akhirat, serta mengikutinya dengan perbuatan dan pelaksanaan.

Apabila telah bersatu mencari kebenaran dan kepercayaan, maka pemeluk segala agama itu akhir kelaknya pasti bertemu pada satu titik kebenaran. Ciri yang khas dan titik kebenaran itu ialah menyerah diri dengan penuh keikhlasan kepada Allah yang Satu, itulah Tauhid, itulah Ikhlas, dan itulah Islam! Maka dengan demikian, orang yang telah memeluk Islam sendiripun hendaklah menjadi Islam yang sebenarnya.

Untuk lebih dipahamkan lagi maksud ayat ini, hendaklah kita perhatikan beberapa banyaknya orang-arang yang tadinya memeluk Yahudi atau Nasran'z di jaman modern ini, lalu pindah ke Islam. Mereka yang memeluk Tslam itu bukan sembarang orang, bukan orang awam. Seumpama Leopold Weiss, seorang wartawan dan pengarang ternama dari Austria; dahulunya dia beragama Yahudi, lalu masuk Islam. Pengetahuannya tentang Islam, pandangan hidup dan keyakinannya ditulisnya dalarn berbagai buku. Di antara buku yang ditulisnya itu terpaksa ke dalam bahasa Arab, untuk diketahui oleh orang-orang Islam sendiri di negeri Arab, yang telah Islam sejak turun­ temurun.

Bahkan di waktu dia menyatakan pendapatnya tentang Dajjal di dalam suatu majelis yang dihadiri oleh Mufti Besar Kerajaan Saudi Arabia, Syaikh Abdullah bin Bulaihid, maka beliau ini telah menyatakan kagumnya dan mengakui kebenarannya. Namanya setelah Islam ialah Mohammad Asad.

Pada bulan Mei 1966 seorang ahli ruang angkasa Amerika Serikat bernama Dr. Clark telah menyatakan dirinya masuk Islam, lalu memakai nama Dr. Ibrahim Clark. Apa yang menarik hatinya memeluk Islam, kebetulan setelah dia tiba di Indonesia pula ? Ialah sebagai seorang ahli ruang angkasa dia bergaul dengan beberapa sarjana Indonesia, beliau mendapat suatu pendirian hidup yang baru dikenalnya, yang tidak didapatnya di Barat. Yaitu bahwa sarjana-sarjana beragama Islam itu, yang berkecimpung di dalam bidangnya masing­ masing, selalu berpadu satu antara pendapat akal dan ilmu (Science)nya dengan kejiwaan.

Kesan inilah yang memikat minatnya untuk menyelami Islam, sehingga bertemulah dia dengan hakikat yang sebenarnya; memang begitulah ajaran Islam. Akhirnya dengan segenap kesadaran hati, dia memilih Islam sebagai agamanya dengan meninggalkan agama Kristen (Protestan).

Dalam minggu pertama dalam bulan Mei itu juga datang lagi seorang sarjana perempuan bangsa Austria, pergi beri'tikaf ke dalam Masjid Agung A1 Azhar selama tiga hari tiga malam sambil berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala moga-moga tercapai1ah perdamaian di dunia ini, dan berdamailah kiranya perang Vietnam. Dia bersembahyang dengan khusyunya dan dia mengatakan bahwa dia telah memeluk Islam sejak sejak 7 tahun, dan telah tujuh kali mengerjakan puasa Ramadhan. Namanya Dr. Barbara Ployer.

Kita kemukakan ketiga contoh ini disamping beratus-ratus contoh yang lain seperti Malcolm X, Negro dari Amerika dan lain-lain di seluruh perjuangan dunia ini.
Menurut sabda Nabi s.a.w kepada sahabat beliau Amr bin al-Ash, seketika beliau ini yang tadinya amat benci kepada Nabi s.a.w., lalu masuk Islam dan meminta maaf kepada beliau atas kesalahan kesalahan yang telah lalu Nabi s.a.w telah bersabda kepadanya: "Hai Amr, Islam itu menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu."Artinya, mulai dia memeluk Islam itu, habislah segala kesalahan yang lama, dimulailah hidup baru.

Kalau setelah mereka memeluk Islam, mereka melanjutkan studi mereka, dan mereka perdalam iman kepada Allah dan Rasul, mereka insafi akan hari Akhirat, lalu mereka ikuti dengan amal yang shalih, niscaya tinggilah martabat mereka di sisi Tuhan daripada orang-orang yang Islam sejak kecil, Islam karena keturunan, tetapi tidak tahu dan tidak mau tahu hakikat Islam. Tidak menyelidiki terus-menerus dan tidak memperdalam.

Telah bertahun-tahun penulis ini mencoba mencari tafsir dari ayat ini, namun hasilnya belumlah memuaskan hati penafsir sendiri, apatah lagi yang mendengarkannya. Tetapi setelah bertemu suatu riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim daripada Salman al- Farisi, barulah terasa puas dan tafsir yang telah kita tafsirkan ini adalah berdasarkan kepada riwayat itu.

"Telah meriwayatkan lbnu Abi Hatim daripada Salman, berkata Salman bahwasanya aku telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w dari hal pemeluk-pemeluk agama yang telah pernah aku masuki, lalu aku uraikan kepada beliau bagaimana cara sembahyang mereka masing­ masing dan cara ibadah mereka masing-masing. Lalu aku minta kepada beliau manakah yang benar. Maka beliau jawablah pertanyaanku itu dengan ayat: Innalladzina amanu wal-ladzina hadu dan seterusnya itu."

Artinya ialah bahwa berlainan cara sembahyang atau cara ibadah adalah hal lumrah bagi berbagai-ragam pemeluk agama, karena syari'at berubah sebab perubahan jaman. Tetapi manusia tidak boleh membeku disatu tempat, dengan tidak mau menambah penyelidikannya, sehingga bertemu dengan hakikat yang sejati, lalu menyerah kepada Tuhan dengan sebulat hati. Menyerah dengan hati puas. Itulah dia Islam.

Lantaran itu tidaklah penulis tafsir ini dapat menerima saja suatu keterangan yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim yang mereka terima dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini telah mansukh, tidak berlaku lagi. Sebab dia telah dinasikhkan oleh ayat 58 daripada Surat Ali- Imran yang berbunyi :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ ديناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَ هُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخاسِرين
"Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi Agama, sekali­kali tidaklah akan diterima daripadanya. Dan dia di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi. " (Ali Imran 85).

Ayat ini bukanlah menghapuskan (nasikh) ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dari Hari Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada firmanNya, segala RasulNya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih.

Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan oleh ayat 85 Surat Ali- Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik, mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk kita saja. Tetapi kalau kita pahamkan bahwa di antara kedua ayat ini adalah lengkap-melengkapi, maka pintu dakwah senantiasa terbuka, dan kedudukan Islam tetap menjadi agama fithrah, tetapi dalam kemurniannya, sesuai dengan jiwa asli manusia.

Nabi s.a.w menegaskan menurut sebuah hadits yang dirawikan oleh Muslim daripada Abu Musa al-Asy'ari:

"Berkata Rasullah s.a.w. : Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari umat sekarang ini. Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka. "

Dengan Hadits ini jelaslah bahwa kedatangan Nabi Muhammad s.a.w sebagai penutup sekalian Nabi (Khatamul-Anbiyaa) membawa al-Qur'an sebagai penutup sekalian wahyu, bahwa kesatuan umat manusia dengan kesatuan ajaran Allah digenap dan disempurnakan. Dan kedatangan Islam bukanlah sebagai musuh dari Yahudi dan tidak dari Nasrani, melainkan melanjutkan ajaran yang belum selesai.

Maka orang yang mengaku beriman kepada Allah, pasti tidak menolak kedatangan Nabi dan Rasul penutup itu dan tidak pula menolak wahyu yang dia bawa. Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya nerakalah tempat mereka kelak. Sebab iman mereka kepada Allah tidak sempurna, mereka rnenolak kebenaran seorang daripada Nabi Allah.

Janganlah orang mengira bahwa ancaman masuk neraka itu suatu paksaan di dunia ini, karena itu adalah bergantung kepada kepercayaan. Dan neraka bukanlah lobang-lobang api yang disediakan di dunia ini bagi siapa yang tidak mau masuk Islam, sebagaimana yang disediakan oleh Dzi Nuwas Raja Yahudi di Yaman Selatan, yang memaksa penduduk Najran memeluk agama Yahudi, padahal mereka telah memegang agama Tauhid, lalu digalikan lobang (Ukhdud) dan diunggunkan api di dalamnya dan dibakar orang-orang yang ingkar itu, sampai 20.000 orang banyaknya.
Neraka adalah ancaman di hari Akhirat esok, karena menolak kebenaran.

Agama Islam telah berkembang luas selarna 14 abad, tetapi pihak kepala gereja-gereja Yahudi dan Nasrani sendiri berusaha besar­ besaran menghambat perhatian pemeluknya terhadap Nabi Muhammad s. a.w dan Agama Islam, membuat berbagai kata bohong, lalu dinamai Ilmiah, sehingga terjadilah batas jurang yang dalam di antara mereka dengan Islam, dan selalu menggangap bahwa Islam itu musuhnya. Padahal Islam selalu membahasakan mereka dengan hormat, yaitu Ahlul Kitab - pemegang kitab-kitab suci; dan kedatangan mereka senantiasa ditunggu. Bukan dengan paksaan, sebagaimana kelak akan dijelaskan di dalam ayat 256 Surat al-Baqarah ini. (Permulaan Juz 3), melainkan dengan pikiran jernih dan akal yang terbuka.**
Dengan sebab itu pula maka Bani Israil dengan rentetan ayat­ ayat ini tidak terlepas dari seruan dakwah, agar mereka berpikir.

وَ إِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَ رَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَ خُذُوْا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ
"Dan (ingatlah tatkala telah Kami ambil perjanjiun dengan kamu, dan telah Kami angkatkan gunung diatas kamu: Peganglah apa yang telah Kami berikan kepada kamu dengan sungguh-sungguh ". (pangkal ayat 63).

Diperingatkan lagi janji yang telah diikat di antara mereka dengan Tuhan bahwa mereka akan beriman kepada Allah Yang Tunggal, tidak mempersekutukan dan tidak membuat berhala, hormat kepada kedua ibu-bapak, jangan berzina dan mencuri. Lalu diangkatkan gunung ke atas kepala mereka. Setengah ahli Tafsir mengatakan bahwa benar­benar gunung itu diangkat. Tetapi setengah penafsiran lagi menolak penafsiran demikian. Karena Allah Maha Kuasa berbuat dernikian, dan itu tidak mustahil bagi Allah; namun yang begitu adalah berisi paksaan. Tentu saja paksaan begitu akan hilang bekasnya kalau gunung itu tidak terangkat lagi. Tetapi ayat yang lain, yaitu ayat 170 dari Surat al A'raf (Surat 7), memberikan kejelasan apa arti gunung diangkat di atas mereka itu.

وَ إِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَ ظَنُّوا أَنَّهُ واقِعٌ بِهِمْ خُذُوا ما آتَيْناكُمْ بِقُوَّةٍ وَ اذْكُرُوا ما فيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dan (ingatlah) tatkala Kami angkatgunung itu di atas mereka, seakan­akan suatu penudung dan mereka sangka bahwa dia akan jatuh ke atas mereka : Ambillah apa yang Kami datangkan kamu, dan ingatlah apa yang ada padanya, supaya kamu terpelihara. " ( al-A'raf: 171)

Ayat ini telah menafsirkan ayat yang tengah kita perkatakan ini. Yaitu bahwa mereka berdiam di dekat gunung yang tinggi, yang selalu mereka lihat seakan-akan menudungi mereka dan sewaktu-waktu rasa rasakan jatuh juga menimpa mereka. Mungkin dari gunung itu selalulah menguap asap, tandanya dia berapi. Menjadi peringatan kepada mereka, demikianpun kepada kita umat manusia yang tinggal di lereng-lereng gunung berapi, bahwa ancaman Allah selalu ada. Sebab itu peganglah agama yang didatangkan Allah dengan teguh. Ketahuilah bahwa alam ini selalu mempunyai rahasia-rahasia dan pesawat, yang setiap waktu dapat menghancurkan manusia :

وَ اذْكُرُوْا مَا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
"Dan ingatlah kamu apa yang ada di dalamnya. "Yaitu syari'at yang tersebut di dalam Kitab Taurat itu; "supaya kamu semuanya takwa." (ujung ayat 63). Yakni terpelihara dari bahaya.

Pendeknya, asal betul-betul kamu pegang isi Taurat, pastilah tidak akan ada selisihmu dengan ajaran Muhammad s.a.w ini. Peganglah apa yang Kami berikan kepadamu itu dengan sungguh­sungguh, dengan bersemangat dan dengan hati-hati. Jangan sebagai menggenggam bara panas, terasa hangat dilepaskan. Pegang benar­benar dari hati sanubari, jangan hanya pegangan mulut. Ingat baik­baik apa yang tertulis di dalamnya; jangan hanya mengaku beragama, padahal isi agama tidak diamalkan. Dengan demikian barulah ada faedahnya beragama. Barulah mereka akan menjadi orang yang terpelihara atau orang yang takwa.

Ayat ini bagi kaum Muslimin yang telah 14 abad lamanya berjarak dengan Rasulullah s.a.w pun dapatlah diambil bandingan. Jangan kita sebagai Bani Israil di jaman Muhammad s.a.w mendakwakan diri pengikut Musa, tetapi isi kitab Musa tidak dipegang sungguh ­sungguh. Ada janji dengan Tuhan, tetapi janji itu tidak ditepati. Bukankah kitapun pernah jatuh hina sehingga tanah air kaum Muslimin dijajah oleh bangsa lain, karena kita tidak lagi memegang isi al-Qur'an dengan sungguh-sungguh. Sehingga ada orang yang lancang menuduh bahwa kemunduran hidup kita adalah karena kita masih saja memegang agama kita. Padahal setelah dia tidak kita pegang sungguh-sungguh lagi baru kita jatuh hina.

Ayat ini dilanjutkan kepada Bani Israil :

ثُمَّ تَوَلَّيْتُم مِّنْ بَعْدِ ذَلِكَ
"Kemudian kamupun berpaling sesudah itu. " (pangkal ayat 64).

Janjimu dengan Tuhan telah kamu lupakan. Kesungguhan telah kamu ganti dengan main-main. Agama hanya menjadi permainan mulut, tidak berurat ke hati.

فَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَتُهُ لَكُنْتُم مِّنَ الْخَاسِرِيْنَ
Maka kalau bukan karena karunia Allah dan belas­kasihanNya atas kamu, sesungguhnya telah jadilah kamu dari orang-orang yang merugi. "(ujung ayat 64).

Belas-kasihan dan karunia Tuhanlah yang menyebabkan kamu masih ada sekarang, masih ada anak-cucu yang akan melanjutkan keturunan. Kalau tidak sudah lamalah kamu hancur.Maka selama kamu sebagai anak-cucu masih ada, keadaan yang telah hancur karena kesia-siaan nenek moyangmu itu masih dapat kamu perbaiki. Yaitu dengan mengakui kebenaran yang dibawa oleh Muhammad s.a.w .

Sejarah berjalan terus. Undang-undang Tuhan berlaku terus buat umat manusia. Di saat kini kaum Bani Israil itu telah dapat mendirikan kembali Kerajaannya di tengah-tengah Tanah Arab, di Palestina yang telah dipunyai oleh orang Arab Islam sejak 1.400 tahun, dan beratus­ ratus tahun sebelum itu telah dikuasai negeri itu oleh orang Romawi dan Yunani.

Sudah lebih dari 2.000 tahun tidak lagi orang Yahudi mempunyai negeri itu.Tetapi dengan uang dan pengaruh, mereka menguasai pendapat dunia untuk tidak mengakui negeri Islam itu. Tujuh Negara Arab, hanya satu yang tidak resmi negara Islam, yaitu Negara Libanon. Ketujuh Negara Islam itu kalah berperang dengan mereka (1948), dan langsung juga negeri Israel berdiri.

Maka setelah ditanyai orang kepada Presiden negeri Mesir, (ketika itu Republik Arab Persatuan) Jamal Abdel Nasser, apa sebab tujuh Negara Arab dapat kalah oleh satu negara Israel, Nasser menjawab : "kami kalah ialah karena kami pecah jadi tujuh, sedang mereka hanya satu."

Pada Tahun 1948, peperangan hebat di antara orang Islam Arab dengan Yahudi itu, yang menyebabkan kekalahan Arab, negara-negara Arab baru tujuh buah. Kemudian, tengah buku "Tafsir Al-Azhar"ini masih dalam cetakan yang pertama (Juni 1967), Negara Arab tidak lagi tujuh, melainkan telah menjadi tiga belas. Waktu itu sekali lagi Israel mengadakan serbuan besar-besaran. Sehingga dalam enam hari saja lumpuhlah kekuatan Arab Islam, hancur segenap kekuatannya. Beratus buah pesawat terbang kepunyaan Republik Arab Mesir dihancurkan sebelum sempat naik ke udara. Belum pernah negeri­negeri Arab khususnya dan umat Islam umumnya menderita kekalahan sebesar ini, walaupun dibandingkan dengan masuknya tentara kaum Salib dari Eropa, sampai dapat mendirikan Kerajaan Palestina Kristen selama 92 tahun, sepuluh abad yang lalu.

Maka dikaji oranglah apa sebab sampai demikian ?

Setengah orang mengatakan karena persenjataan Israel lebih lengkap, dan lebih modern. Setengah orang mengatakan bahwa bantuan dari negara-negara Barat terlalu besar kepada Israel, sedang Republik Arab Mesir sangat mengharap bantuan Rusia. Tetapi di saat datangnya penyerangan besar Israel itu, tidak datang bantuan Rusia itu.

Setengahnya mengatakan bahwa Amerika dan Rusia menasihati RepublikArab Mesir agar jangan menyerang lebih dahulu; kalau sudah diserang baru membalas. Tetapi Israellah yang memang menyerang lebih dahulu, sedang pihak Arab telah taat kepada anjuran Rusia dan Amerika itu.

Tetapi segala analisa itu tidaklah kena mengena akan jadi sebab ­musabab kekalahan. Kalau dikatakan persenjataan Israel lebih lengkap, senjata Republik Arab Mesir tidak kurang lengkapnya. Kalau bukan lengkap persenjataan Mesir, tentu Presiden Jamal Abdel Nasser dan terompet-terompetnya di radio tidak akan berani mengatakan bahwa kalau mereka telah menyerang Israel pagi-pagi, sore harinya mereka sudah bisa menduduki Tel Aviv.

Kalau dikatakan bahwa orang Yahudi Israel itu lebih cerdas dan pintar, maka sejarah dunia sejak jaman Romawi sampai jaman Arab menunjukkan bahwa bangsa yang lebih cerdas kerapkali dapat dikalahkan oleh yang masih belum cerdas. Bangsa Jerman yang waktu itu masih biadab, telah dapat mengalahkan Romawi. Bangsa Arab yang dikatakan belum cerdas waktu itu, telah dapat menaklukkan Kerajaan Romawi dan Persia.

Sebab yang utama bukan itu. Yang terang ialah karena orang Arab khususnya dan orang Islam umumnya telah lama meninggalkan senjata batin yang jadi sumber dari kekuatannya. Orang-orang Arab yang berperang menangkis serangan Israel atau ingin merebut Palestina sebelum tahun 1967 itu, tidak lagi menyebut-nyebut Islam. Islam telah mereka tukar dengan Nasionalisme.Jahiliyah, atau Sosialisme ilmiah ala Marx.

Bagaimana akan menang orang Arab yang sumber kekuatannya ialah imannya, lalu meninggalkan iman itu, malahan barangsiapa yang masih mempertahankan ideologi Islam, dituduh Reaksioner. Nama Nabi Muhammmad sebagai pemimpin dan pembangun dari bangsa Arab telah lama ditinggalkan, lalu ditonjolkan nama Karl Marx, seorang Yahudi.

Jadi untuk melawan Yahudi mereka buangkan pemimpin mereka sendiri, dan mereka kemukakan pemimpin Yahudi. Dalam pada itu kesatuan akidah kaum Muslimin telah dikucar­ kacirkan oleh ideologi-ideologi lain, terutama mementingkan bangsa sendiri. Sehingga dengan tidak bertimbang-rasa, di Indonesia sendiri, di saat orang Arab bersedih karena kekalahan, Negara Republik Indonesia yang penduduknya 90% pemeluk Islam, tidaklah mengirimkan utusan pemerintah buat mengobat hati negara-negara itu, melainkan mengundang Kaisar Haile Selassie, seorang Kaisar Kristen yang berjuang dengan gigihnya menghapuskan Islam dari Negaranya.

Ahli-ahli Pikir Islam modern telah sampai kepada kesimpulan bahwasanya Palestina dan Tanah Suci Baitul-Maqdis , tidaklah akan dapat diambil kembali dari rampasan Yahudi (Zionis) itu, sebelum orang Arab khususnya clan orang-orang Islam seluruh dunia umumnya, mengembalikan pangkalan pikirannya kepada Islam. Sebab, baik Yahudi dengan Zionisnya, atau negara-negara Kapitalis dengan Christianismenya, yang membantu dengan moril dan materil berdirinya Negara Islam itu, keduanya bergabung jadi satu melanjutkan Perang Salib secara modern, bukan untuk menantang Arab karena dia Arab, melainkan menantang Arab karena dia Islam.

وَ لَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ
"Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar perintah pada hari Sabtu. " (pangkal ayat 65).

Diperingatkan lagi bagaimana sekumpulan Bani Israil melanggar perintah memuliakan hari Sabtu. Memuliakan hari Sabtu, istirahat bekerja pada hari itu dan sediakan diri buat beribadat. Memuliakan hari Sabtu adalah salah satu janji mereka dengan Tuhan. Tetapi mereka mencari helah, memutar hukum dengan cerdik sekali. Kata setengah ahli tafsir, kejadian ini ialah di danau Thabriah, kata setengah di Ailah dan kata setengah di Madiyan.

Di manapun tempat kejadian tidaklah penting, sebab perangai begini bisa saja terjadi di mana-mana karena hendak menghelah-helah (memutar-mutar) hukum.Menurut ahli tafsir mereka tinggal di tepi pantai. Mereka dilarang mengail atau memukat di hari Sabtu. Segala pekerjaan mesti dihentikan di hari itu. Mereka dapat akal buruk; mereka pasang lukah hari Jum'at petang hari, lalu mereka bangkitkan pada hari Ahad pagi. Sabtu itu sangat banyak ikan keluar. Rupanya ikan sudah mempunyai naluri bahwa mereka tidak akan dipancing dan dipukat pada hari Sabtu.

Mereka merasa bangga sebab telah dapat mempermainkan Allah. Tetapi mereka tidak tahu bahwa mereka telah celaka besar lantaran itu.

فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خَاسِئِيْنَ
"Maka Kami firmankan : ,jadilah kamu kera-kera yang dibenci " (ujung ayat 65).

Berkata pula ahli tafsir, mereka dikutuk Tuhan sehingga menjadi kera atau jadi beruk semua. Kata setengah penafsir pula, ada yang jadi babi. Kata setengah penafsir pula, ada yang jadi keledai. Tetapi kalau kita lanjutkan merenungkan ayat itu, jika mereka dikutuk Tuhan menjadi kera, monyet, beruk atau babi dan keledai, bukan berarti bahwa mesti mereka bertukar bulu, berubah rupa. Tetapi perangai merekalah yang telah berubah menjadi perangai binatang. Rupa, masih rupa manusia, tetapi perangai, perangai beruk, adalah lebih hina daripada disumpah menjadi beruk Iangsung. Sebab kalau beruk berperangai beruk, tidaklah heran dan bukanlah azab. Yang azab ialah jika manusia berperangai beruk. Orang tidak benci kepada beruk berperangai beruk, yang orang benci ialah manusia beruk.

Adakah anda pernah melihat "orang jadi beruk". Seorang Mubaligh Islam di Minangkabau, saudara Duski Samad pernah membuat misal : "Beruk tua terpaut". Kebiasaan di Minangkabau orang menurunkan buah kelapa dengan mempergunakan beruk. Setelah beruk itu tua, dipautkan dia oleh empunya di sudut rumah. Apa kerjanya ? Akan disuruh memanjat kembali, dia tidak kuat lagi. Dan dia belum juga mati. Maka kerjanya setiap hari hanya mencabuti bulunya sendiri, sehingga tinggal kulit licin seperti baju kaos. Tiap orang yang lalu-lintas, walau orang itu Engku Imam atau Engku Lebai sekalipun, selalu dicibirkannya. Kalau diberi makanan, cepat sekali disambutnya. Kalau tidak diberi dia menjijir. Berapapun diberikan, disambutnya, meskipun perutnya telah kenyang. Namun makanan itu disimpannya terus dalam lehernya sampai gembung, dan dia masih saja meminta.

فَجَعَلْنَاهَا نَكَالاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَ مَا خَلْفَهَا
"Maka Kami jadikanlah dianya sebagai suatu teladan bagi mereka yang semasa dengannya dan bagi yang di belakangnya. " (pangkal ayat 66).

Itulah orang-orang yang merasa bangga karena telah banyak mendapat keuntungan, tetapi tidak insaf bahwa mereka telah tersisih dari masyarakat manusia yang berbudi. Yang mereka ingat hanya keunturgan sebentar itu saja. Budi mereka menjadi kasar. Semua orang yang berakal budi dan memegang agama dengan baik, tidak mau lagi mendekati mereka. Sebab perangai orang yang demikian tidak ubahnya dengan kera dan beruk. Kawan sendiripun kalau dapat dimakannya akan dimakannya juga. Diisinya lehernya banyak-banyak dan penuh­penuh dengan persediaan makanan walaupun bentuk hidupnya sudah menjemukan dan mernbencikan orang. Ini menjadi pengajaran bagi umat yang hidup di jaman mereka, dan menjadi pengajaran juga bagi umat yang datang di belakang, sebab dimana-mana jika ada orang yang demikian, tidak ubahnya mereka dengan beruk dan kera, menjemukan dan menimbulkan muak.

وَ مَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْن
"Dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa. "(ujung ayat 66).

Karena bagi orang yang bertakwa biarlah sedikit mendapat, asal halal. Asal jangan menghelah-helah agama dengan cerdik beruk.

Sebab itu maka penafsir ini tidaklah berpegang pada setengah ahli tafsir yang menafsirkan bahwa mereka disumpah Tuhan, sehingga langsung bertukar jadi beruk, jalan dengan kaki empat, gigi berganti dengan saing. Tetapi lebih hebatlah azab itu; tubuh tetap tubuh manusia tetapi perangai sudah menjadi perangai beruk dan kera. Dia datang berkelompok-kelompok ke ladang orang. Bukan saja hasil ladang itu dimakannya sekenyang perut sampai berlebih dalam lehernya, tetapi batang-batang pisang, ketela, jagung yang bertemu mereka rusakkan dan patahkan. Sesudah hasil mereka ambil, dasar yang tinggal mereka rusakkan pula, sehingga tidak bisa tumbuh lagi. Kalau dikejar merekapun lari, dan dari tempat jauh mereka menjijir dan mencibir kepada orang-orang yang mengejarnya.

Mereka lari dan hilang bersembunyi ke hutan dengan perut kenyang dengan harta dicuri, lehernya gembung menyimpan makanan yang dirampok, dan orang yang empunya kebun tinggallah mengutuk dan menyumpah, karena mereka ditinggalkan dengan dua kerugian; kerugian hasil ladangnya yang dirampas dan kerugian bekas yang telah hancur rusak, padahal sudah berbulan-bulan dipelihara karena mengharapkan hasilnya. Bukankah perangai beruk itu menimbulkan benci ?

Ada beberapa riwayat penafsiran tentang Bani Israil yang dikutuk Tuhan menjadi kera atau monyat itu. Menurut riwayat dari Ibnu Ishak, Ibnu Jarir dan Ibnu Abbas, semua mereka itu dikutuk sehingga berubah rupa menjadi monyet. Tetapi setelah mereka menjadi monyet itu, mereka tidak bisa makan dan tidak bisa minum, sehingga tidak sampai tiga hari sesudah perubahan rupa itu, merekapun mati semua. Satu riwayat pula dari Ibnul Mundzir, katanya dari Ibnu Abbas juga, bahwa segala monyet dan segala babi yang ada sekarang ini adalah keturunan mereka. Tetapi pada riwayat Ibnu Mundzir yang diterimanya dari al-Hasan ini, keturunan mereka terputus. Sebab itu menurut pendapat al-Hasan ini, kera dan babi yang ada sekarang tidaklah dari keturunan mereka.

Di dalam riwayat yang lain dari Ibnu Mundzir juga disertai riwayat dari Ibnul Abi Hatim, yang mereka terima dari Mujahid : "Yang disumpah Tuhan sehingga menjadi kera dan monyet itu ialah hati mereka, bukan badan mereka."Kejadian ini adalah sebagai suatu perumpamaan sebagaimana tersebut dalam ayat :

كَمَثَلِ الْحِمارِ يَحْمِلُ
"Laksana keledai memikul kitab-kitab." ( al-Jum'ah : 5)

Maka penafsiran mujahid yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir ini­lah yang lebih dekat kepada faham saya sebagai penafsiran sekarang ini.
 



 وَ إِذْ قَالَ مُوْسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً قَالُوْا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ أَنْ أَكُوْنَ مِنَ الْجَاهِلِيْنَ

( 67) Dan (ingatlah) seketika berkata Musa kepada kaumnya : Se­sunggulnya AIlah memerintahkan kamu menyembelih seekor lembu betina. Mereka berkata : Apakah akan engkau ambil kami ini jadi permainan ? Dia berkata : Berlindung aku kepada Allah, daripada jadi seorang di antara orang-orang yang bodoh.


قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لّنَا مَا هِيَ قَالَ إِنَّهُ يَقُوْلُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لاَّ فَارِضٌ وَلاَ بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ فَافْعَلُواْ مَا تُؤْمَرُوْ

( 68) Mereka berkata : Serulah untuk kami kepada Tuhan engkau, supaya diterangkanNya , bagaimana lembu itu ?
Berkata dia : Sesungguhnya Dia ber­sabda, bahwa dia hendaklah lembu betina yang belum tua benar dan tidak sangat muda, pertengahanlah di antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu itu .


قَالُوْا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا لَوْنُهَا قَالَ إِنَّهُ يَقُوْلُ إِنّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِيْنَ

(69) Mereka berkata : Serulah untuk kami kepada Tuhan engkau, supaya Dia jelaskan kepada kami, bagaimana warnanya: Berkata dia : Sesungguhnya Dia bersabda, bahwa dianya ialah seekor lembu betina yang kuning, berkilau warnanya, menyenangkan mereka yang melihat.


قَالُوْا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ البَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّآ إِنْ شَاءَ اللهُ لَمُهْتَدُوْنَ

(70) Mereka berkata : Serulah untuk kami kepada Tuhan engkau, supaya Dia jelaskan (lagi) kepada kami , karena
sesungguhnya lembu-lembu itu serupa-serupa atas kami, dan sesungguhnya kami, Insya Allah, akan dapat petunjuk.


قَالَ إِنَّهُ يَقُوْلُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لاَّ ذَلُوْلٌ تُثِيْرُ الْأَرْضَ وَلاَ تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لاَّ شِيَةَ فِيْهَا قَالُوْا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ فَذَبَحُوْهَا وَ مَا كَادُوْا يَفْعَلُوْنَ

(7 1) Dia berkata : Sesungguhnya dia mengatakan bahwa dia itu hendaklah lembu lembu betina yang tidak digunakan pem­bajak tanah, dan tidak peran­cah sawah, tidak bercacat, tidak ada belang padanya. Mereka berkata : Sekarang engkau telah datang mem­bawa kebenaran ! Maka mereka sembelihlah dia, dan nyarislah mereka itu tidak sanggup mengerjakan.


وَ إِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيْهَا وَاللهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ

(72) Dan (ingatlah) seketika kamu membunuh satu diri, maka bersitolak-tolakkan kamu padanya, dan Allah menge­luarkan apa yang kamu telah sembunyikan.


فَقُلْنَا اضْرِبُوْهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِي اللهُ الْمَوْتَى وَيُرِيْكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ

( 73) Dan Kami katakan : Pukullah olehmu dengan sebagian dari­padanya ! Demikianlah Allah menghidupkan yang telah mati dan memperlihatkan ayat ­ayatNya, supaya kamu berpikir.


ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُم مِّنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَ إِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَ إِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاء وَ إِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

(74) Kemudian telah kesat hati kamu sesudah itu , maka adalah dia laksana batu atau lebih keras. Dan sesungguh­nya daripada batu kadang­ kadang terpancarlah dari padanya sungai-sungai , dan Se sesungguhnya setengah dari padanya ada yang belah, maka keluarlah air dari dalamnya. Dan sesungguhnya dari se­tengahnya pula ada yang runtuh dari takutnya kepada Allah. Dan tidaklah Allah lengah dari apa yang kamu perbuat.


Menyembelih Lembu Betina

Setelah menerangkan beberapa nikmat yang telah dikaruniakan kepada Bani Israil itu, dan beberapa pula pelanggaran mereka akan janji dengan Tuhan, sesudah itu beberapa kali pula mereka telah dihukum karena pelanggaran janji, dan berapa kali pula Allah telah memberi kesempatan bagi mereka buat hidup untuk memperbaiki diri dan menempuh jalan yang benar, sekarang Tuhan mengemukakan lagi suatu kisah yang kejadian pada mereka , yaitu urusan menyembelih lembu betina.

Asal-usul maka timbul perintah menyembelih lembu betina ialah karena terjadi suatu pembunuhan gelap, tidak terang siapa pembunuhnya. Maka untuk menghabiskan perselisihan yang bisa menimbulkan huru-hara di antara satu suku dengan suku yang lain, atau satu kampung dengan kampung yang lain, Nabi Musa memerintahkan menyembelih seekor lembu betina.

وَ إِذْ قَالَ مُوْسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً
"Dan (ingatlah) seketika berkata Musa kepada kaumnya : Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyembelih seekor lembu betina. " (pangkal ayat 67).

Perintah itu sudah jelas menyembelih lembu betina. Dan kalau mereka tidak keras kepala, niscaya perintah itu dapat dilaksanakan sebentar itu juga. Sebab lembu betina itu banyak berkeliaran di padang rumput mereka. Tetapi mereka ingin bertukar pikiran atau memandang enteng juga kepada pemimpin dan Rasul mereka.

قَالُوْا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا
"Mereka berkata : Apakah akan engkau ambil kami ini jadi permainan ?"

Perintah itu telah mereka pandang sebagai mempermain-mainkan mereka saja. Mungkin hati mereka yang kesat itu berkata, kita sekarang ini tengah mencari penyelesaian pembunuhan, tahu-tahu lembu betina yang disuruh sembelih. Mendengar sambutan mereka yang demikian:

قَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ أَنْ أَكُوْنَ مِنَ الْجَاهِلِيْنَ
"Dia berkata berlindung aku kepada Allah daripada jadi seorang di antara orang-orang yang bodoh. " (ujung ayat 67).

Dengan jawaban demikian Musa telah menjelaskan bahwa dia tidak memberikan perintah main-main. Sebab menjatuhkan perintah hanya untuk bersenda gurau, bukanlah perbuatan orang yang berakal budi, melainkan perbuatan orang yang bodoh. Apatah lagi dia adalah seorang Rasul Allah. Aku berlindung kepada Tuhan daripada perangai demikian.

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لّنَا مَا هِيَ
"Mereka berkata : Serukanlah untuk kami kepada Tuhan engkau, supaya diterangkanNya, bagaimana lembu itu ?" (pangkal ayat 68).

Lembu betina banyak berkeliaran di padang rumput. Kami mau jelas yang bagaimana macamnya lembu itu. Menjatuhkan perintah hendaklah yang terang ! Cobalah tanyakan kembali kepada Tuhanmu itu, lembu betina yang macam mana dikehendaki.

قَالَ إِنَّهُ يَقُوْلُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لاَّ فَارِضٌ وَلاَ بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ فَافْعَلُواْ مَا تُؤْمَرُوْ
" Berkata dia: Sesungguhnya, Dia bersabda, bahwa dia hendaklah lembu betina yang belum tua benar dan tidak sangat muda, pertengahanlah di antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu itu. " (ujung ayat 68).

Kesombongan mereka dan cara mereka bertanya, sebenarnya telah mempersulit mereka sendiri. Dengan jawaban Nabi Musa yang demikian, menyuruh mencari lembu betina yang belum tua, tetapi tidak pula muda lagi, supaya dicari yang pertengahan di antara tua dan muda, mereka telah mempersulit diri.

Tadinya jika mereka tangkap saja sembarangan lembu betina, entah muda entah tua, perintah itu telah terlaksana dengan baik. Tetapi dengan perintah yang sekarang ini, mereka sudah mesti menyaring benar terlebih dahulu dan menaksir umur lembu-lembu betina yang hendak disembelih itu. Nabi Musa memerintahkan lekas-lekaslah laksanakan perintah itu, dengan maksud supaya mereka jangan bertanya lagi. Tetapi mereka tidak mau mengerti. Mereka masih bertanya juga :

قَالُوْا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ
"Mereka berkata: Serulah untuk kami kepada Tuhan engkau. "(pangkal ayat 69).

Cobalah tanyakan kembali kepada Tuhanmu itu :

يُبَيِّن لَّنَا مَا لَوْنُهَا
"Supaya Dia jelaskan kepada kami. Bagaimana warnanya ?"

Sekarang warnanya pula yang mereka tanyakan kepada beliau. Padahal kalau mereka tidak tanyakan warna, sembarang warnapun jadi.

قَالَ إِنَّهُ يَقُوْلُ إِنّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِيْنَ
"Berkata Dia : Sesungguhnya dia bersabda, bahwa dianya ialah seekor lembu betina yang kuning, berkilat warnanya, menyenangkan rnereka yang melihat. " (ujung ayat 69).

Jawaban Nabi Musa ini mempergandakan kesulitan mereka. Tadi sudah diperintahkan agar segera perintah itu laksanakan. Tetapi karena hendak menunjukkan bahwa mereka orang ahli bertanya semua , sekarang mereka minta penjelasan warnanya Dan telah dijawab oleh Nabi Musa, hendaklah kuningnya bukan sembarang kuning, hendaklah kuning kilau-mengkilau, senang mata memandangnya. Belum juga mereka insaf rupanya bahwa mencari lembu betina yang demikian warnanya, demikian pula umurnya bukanlah perkara yang mudah lagi; sedang urusan pembunuhan belum lagi diselesaikan. Dan itupun belum juga memuaskan mereka; mereka masih juga bertanya:

قَالُوْا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ البَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا
"Mereka berkata : Serulah untuk kami kepada Tuhan engkau, supaya Dia jelaskan (lagi) kepada kami, karena sesungguhnya lembu-lembu itu serupa-serupa atas kami. " (pangkal ayat 70).

Lembu itu banyak, lantaran banyaknya kami jadi ragu.

وَإِنَّآ إِنْ شَاءَ اللهُ لَمُهْتَدُوْنَ
"Dan sesungguhnya kami, Insya Allah, akan dapat petunjuk. " (ujung ayat 70).

Mudah-mudahan kami kelak diberi petunjuk Allah mencarinya, sehingga dapat yang kita cari itu.

قَالَ إِنَّهُ يَقُوْلُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لاَّ ذَلُوْلٌ تُثِيْرُ الْأَرْضَ وَلاَ تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لاَّ شِيَةَ فِيْهَا
"Dia berkata : Sesungguhnya Dia mengatakan bahwa dia itu hendaklah lembu betina yang tidak (pernah) digunakan pembajak tanah, dan tidak perancah sawah, tidak bercacat, dan tidak ada belang padanya. " (pangkal ayat 71).

Dengan jawaban Nabi Musa seperti ini bertambah kesukaran mencari lembu betina yang tidak muda lagi, belum tua benar, kuning warnanya, berkilau-kilau dan belum pernah diambil penarik bajak membuka tanah atau membajak sawah dan tidak ada cacat, tidak ada luka atau parut, dan tidak ada belangnya. Benar-benar seekor sapi peliharaan (pilihan).

Tetapi bagaimana mereka atas jawaban yang terakhir itu. Mereka bangga dan

قَالُوْا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ
"Mereka berkata : Sekarang engkau telah datang membawa kebenaran ! "

Kalau begitu barulah kami percaya bahwa engkau sungguh-sungguh seorang Nabi yang diutus Allah membawa kebenaran.

فَذَبَحُوْهَا
"Maka mereka sembelih dia, "

yaitu sesudah bekerja keras berhari-hari lamanya mencari lembu betina dengan syarat-syarat yang demikian. Alangkah susahnya; bertemu lembu betina berkilau-kilau warnanya, sayang bukan kuning. Bertemu kuning berkilau-kilau, tetapi ada cacat bekas luka. Bertemu yang tidak luka, sayang ada belangnya. Ada lembu betina yang bagus, sayang masih terlalu muda. Ada yang belum diambil menenggala atau membuka sawah, sayang sudah agak tua. Dan macam-macam kesukaran yang lain, sehingga:

وَ مَا كَادُوْا يَفْعَلُوْنَ
"Dan nyarislah mereka itu tidak sanggup mengerjakan. " (ujung ayat 71).

Maka panjanglah, keterangan ahli-ahli tafsir tentang cara mencari lembu betina itu, sehingga dengan kisah tambahan ahli tafsir, maka kisah asli dari al-Qur'an ditambahi bumbu di sana sini sehingga menjadi semacam roman sampai ada yang mengatakan bertemu juga akhirnya lembu betina dengan cukup segala syarat itu tetapi harus dibayar harganya dengan uang emas sepuluh kulit lembu itu. Oleh karena tambahan, tidak berdasar Hadits yang shahih, maafkanlah kita jika tidak kita bawakan. Bahkan berkata Imam as-Syaukani di dalam tafsirnya Fathul-Qadir. "Hal ini telah diriwayatkan dengan kisah macam-macam, yang tidak ada hubungannya dengan pokok, dan tidak banyak faedahnya."

Sekaranglah barulah dijelaskan sebab-sebab perintah menyembelih lerribu betina itu.

وَ إِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيْهَا وَاللهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ
"Dan (ingatlah) seketika kamu rnemburauh satu diri, maka bersitolak­ tolakkan kamu padanya, dan Allah mengeluarkan apa yang kamu sembunyikan. "(ayat72).

Kedapatan orang mati terbunuh, tetapi tidak terang siapa pembunuhnya. Maka timbul talak menalak, tuduh menuduh. Maka disembelihlah lembu betina itu, yang akan digunakan pencari siapa pembunuhnya :

فَقُلْنَا اضْرِبُوْهُ بِبَعْضِهَا
"Dan kami katakan : pukullah olehmu dengan sebagian daripadanya. " (pangkal ayat 73).

Apakah bangkai orang yang telah mati itu dipukul dari sebagian tubuh Iembu betina yang telah dipotong itu ? Atau apakah kuburnya ? Atau dengan bagian dalam sapi yang mana dipukul ? Kata setengah ahli tafsir dengan ekor lembu betina itu. Kata yang lain dengan tunjang kakinya, dan kata yang setengah dengan lidahnya. Yang mana. yang benar, tidaklah penting. Sebab kalau al-Qur'an sudah menyatakan sebagian daripada tubuhnya, sampailah dia kepada puncak kecukupan. Yang penting diperhatikan ialah lanjutan sabda Tuhan:

كَذَلِكَ يُحْيِي اللهُ الْمَوْتَى وَيُرِيْكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ
°'Demikianlah Allah menghidupkan yang telah mati, dan memperlihatkan ayat-ayatNya supaya kamu berpikir. " (ujung ayat 73).

Patut juga kita ketahui serba sedikit penafsixan tentang ini. Menurut yang diriwayatkan oleh Abd bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, lbnu Abi Hatim dan a1-Baihaqi dalam sunnahnya yang riwayatnya diterima dari Ubaidah as-Salmani, dipukulkan bagian badan lembu betina itu ke kubur orang yang mati terbunuh itu, lalu dia bangkit dari kuburnya, terus bercakap;

"Yang membunuh aku ialah anak saudaraku, karena mengharapkan warisanku, sebab aku tidak beranak, maka dialah yang berhak meraerima waris. Sebab itulah aku dibunuhnya. "

Sehabis bercakap itu dia jatuh kembali dalam keadaan semula, yaitu bangkai dan langsung dikuburkan kembali. Karena mendengar keterangan sejelas itu , maka anak saudaranya itu ditangkap dan dijalankanlah hukum qishash atas dirinya.

Dengan jalan penafsiran seperti inilah dipahamkan ujung ayat tadi, bahwa Tuhan Allah telah memperlihatkan kekuasaannya, ayat­ ayatNya; orang yang telah mati dapat dihidupkan kembali.

Dan Ibnu Abid-Dunya menyalinkan pula riwayat ini dalam kitabnya yang bernama Man `aasy ba'dal mauti (orang yang hidup sesudah mati).

Dari Ibnu Abibas. Tetapi kedua ayat ini dan riwayat yang lain, walaupun disalin oleh Imam as-Syaukani dalam tafsir beliau, beliau katakan tidak banyak faedahnya. Sebagai tadi kita salinkan. Sekarang kita nuqilkan lagi penafsiran Syaikh Muhammad Abduh untuk kita perbandingkan penafsiran yang lebih disandarkan kepada pengumpulan riwayat, dengan penafsiran yang lebih mempergunakan dirayat yaitu analisa.

Syaikh Muhammad Abduh menurut yang diriwayatkan oleh muridnya Sayid Rasyid Ridha di dalam Tafsir al-Manar berkata:

"Telah aku katakan kepada tuan-tuan bukan sekali dua, bahwa wajiblah kita awas benar dengan kisah-kisah Bani Israil ini dan kisah-kisah Nabi­ nabi yang lain dan jangan Ickas percaya dari apa yang ditambah­ tambahkan atas al-Qur'an dari kata-kata ahli-ahli tarikh dan ahli-ahli tafsir. Orang-orang yang berminat besar kepada penyelidikan sejarah dan ilmu pengetahuan di jaman kini sependapat dengan kami , bahwa tidak boleh dipercaya saja barang sesuatu dari tarikh jaman-jaman lampau itu yang mereka namai Jaman Gelap, melainkan sesudah penyelidikan yang mendalam dan membongkar bekas-bekas kuno yang terpendam. Tetapi kita dapat memberi maaf ahli-ahli tafsir yang membumbui kitab-kitab tafsir dengan kisah-kisah yang tidak dapat dipercayai itu, karena maksud merekapun baik juga. Tetapi kita tidak boleh berpegang saja kepadanya, bahkan kita larang keras. Cukup jika kita berpegang saja dengan nash-nash yang seterang itu dalam al­Qur'an dan tidak pula kita lampaui lebih dari itu. Kita hanya suka mengambil untuk penjelasan jika penjelasan itu sesuai dengan bunyi al-Qur'an, apabila shahih riwayatnya."

Demikian keterangan Syaikh Muhammad Abduh.

Dengan jalan pikiran yang seperti ini niscaya kita hendak tahu bagaimana cara mereka menafsirkan ayat ini. Yaitu bahwa orang yang mati dihidupkan kembali dan Allah memperlihatkan ayat-ayatNya, artinya tanda kckuasaanNya.

Saiyid Rasyid Ridha dalam tafsirnya menilik kembali hubungan kisah lembu betina ini dari Kitab Taurat yang ada sekarang, karena Islampun mengakui bahwa tidak seluruhnya Kitab Taurat yang ada sekarang ini sudah bikinan tangan manusia semua.Masih banyak terselip yang harus jadi perhatian kitapun, cari sekedar untuk menjadi dasar belaka daripada kisah lembu-betina itu.

Maka bertemulah dalam Kitab Ulangan, Pasal 21 tentang Peraturan Bani Israil kalau terjadi pembunuhan gelap dengan menyembelih lembu betina.

Kitab Ulangan Pasal 21:

1. Sebermula, maka apabila didapati akan seorang yang kena tikam dalam negeri, yang akan dikaruniakan Tuhan Allahmu kepadamu akan milikmu pusaka, maka orang mati itu terhantar di padang tiada ketahuan siapa yang membunuh dia.

2. Maka hendaklah segala tua-tua dan hakim kamu keluar pergi mengukur jarak negeri-negeri, yang keliling tempat orang yang dibunuh itu.

3. Maka jikalau telah tentu mana negeri yang terdekat dengan tempat orang dibunuh itu, maka hendaklah diambil oleh segala tua ­tua negeri itu akan seekor lembu betina daripada kawan lembu, yang belum tahu dipakai kepada pekerjaan dan yang belum tahu dikenakan kok (Pasangan yang dikenakan pada leher sapi atau kerbau untuk menarik gerobak atau membajak).

4. Dan hendaklah segala tua-tua negeri itu menghantar akan lembu muda itu kepada anak sungai yang selain mengalir airnya dan yang tanahnya belum tahu ditanami atau ditaburi, maka di sana hendaklah mereka itu menyembelihkan anak lembu itu dalam anak sungai.

5. Lalu hendaklah datang hampir segala imam, yaitu anak-anak Levi, karena dipilih Tuhan Allahmu akan mereka ikut, supaya mereka itu berbuat bakti kepadaNya dan memberi berkat dengan nama Tuhan, dan atas hukum mereka itupun putuslah segala perkara perbantahan dan perdakwaan.

6. Maka segala tua-tua negeri yang terdekat dengan tempat orang yang dibunuh itu hendaklah membasuhkan tangannya di atas lembu muda yang disembelih dalam anak sungai itu.

7. Sambil kata mereka itu demikian : "Bukannya tangan kami menumpahkan darah ini dan mata kamipun tiada melihatnya."

8. Adakan apakah ghafirat atas umatmu Israil, yang telah kau tebus, ya Tuhan ! Jangan apalah kau tanggungkan darah orang yang tiada bersalah di tengah-tengah umatmu Israil. Maka demikianlah diadakan ghafirat atas mereka itu daripada darah itu.

9. Dan kamupun akan menghapuskan darah orang yang tiada bersalah itu dari tanganmu, jikalau kamu telah berbuat barang yang benar kepada pemandangan Tuhan.

Dengan salinan Taurat bahasa Indonesia ini sudah terang duduk perkara. Jika terdapat orang mati terbunuh, tidak terang siapa pembunuhnya, maka menurut peraturan hendaklah ukur jarak tempat bangkai orang itu dengan kampung terdekat. Sembelih lembu betina di sungai.

Orang tua-tua negeri yang terdekat hendaklah membasuh tangannya di atas lembu itu sambil membaca-bacaan semacam sumpah. Mana yang berani membasuh tangan di sana, selamatlah dan mana yang tidak mau, tandanya dia bersalah. Hukumpun dilakukan, hutang nyawa dibayar nyawa. Dengan berjalannya aturan kisah ini, artinya telah dihidupkan orang yang mati. Itulah ayat-ayat Allah; artinya supaya kamu pergunakan pikiranmu menyelidik rahasia hukum Ilahi dan menerimanya dengan segala kepatuhan.

Dengan penafsiran secara ini dijelaskan bahwa menghidupkan orang yang mati bukanlah artinya bahwa orang itu bangun dari kubur memberi keterangan bahwa dia dibunuh anak saudaranya, tetapi dengan berlakunya hukum qishash, artinya orang yang telah mati dihidupkan kembali, menurut ayat 179 dari Surat ini yang akan ditafsirkan kelak, Insya Allah.

Celaan keras pada ayat-ayat tersebut ini, terutama tentang cerita penyembelihan lembu betina itu meninggalkan kesan mendalam di hati kaum Muslimin, bahwa Tuhan Allah menurunkan suatu perintah dengan perantaraan RasulNya adalah dengan terang, jitu dan ringkas. Agama tidaklah untuk mempersukar manusia. Sebab itu dilarang keraslah bersih banyak tanya, yang kelak akan menyebabkan itu menjadi berat. Bukanlah perintah agama yang tidak cukup, sebab itu jalankanlah sebagaimana yang diperintahkan.

Dirawikan oleh Ibnu Jarir at-Thabari dalam tafsirnya, dengan riwayat yang shahih dari Ibnu Abbas :

"Kalau mereka sembelih saja sembarang lembu betina yang mana mereka
kehendaki, sudahlah diteri»aa. Tetapi rrlereka mempersukar atas diri mereka
sendiri, sebab itu Allah pun mempersukar. "
Dan ada lagi Hadits shahih yang lain, nasehat buat kita kaum Muslimin :

"Dan dibenci pada kamu konon khabarnya dan kata si anu, dan membuang-buang harta dan bersibanyak tanya. "

Agama mudah dijalankan, yang menukarkannya ialah apabila banyak "kalau begini, kalau begitu."

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُم مِّنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً
"Kemudian telah kesat hati kamu sesudah itu, maka adalah dia laksana batu atau lebih keras. " (pangkal ayat 74).

Lebih keras daripada batu, sebab tidak ada pengajaran yang bisa masuk ke dalam.

وَ إِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ
"Dan sesungguhnya daripada batu kadang-kadang terpancarlah daripadanya sungai-sungai. "

Artinya daripada batu yang dikatakan keras itu masih juga ada faedah yang diharap; dia dapat memancarkan sungai. Tapi hati yang keras tak dapat memancarkan faedah apa-apa.

وَ إِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاء
"Dan sesungguhnya setengah daripadanya uda yang belah, maka keluarlah air dari dalamnya."

Dapatlah menjadi rninuman orang; berfaedah juga.

وَ إِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ
"Dan sesungguhnya dari setengahnya pula ada yang rurrtuh dari takutnya kepada Allah. "

Maka kalau hatimu dimisalkan sekeras batu, padahal daripada batu masih banyak faedah yang diharapkan dan dari batu yang runtuh karena takutnya kepada Allah dan tunduk sujudnya kepada Tuhan, apakah lagi misal yang layak bagi hatimu yang kesat lagi keras itu ? Sungguhpun demikian:

وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
"Dan tidaklah Allah lengah dari apa yang kamu perbuat. " (ujung ayat 74).

Tidaklah Allah akan lengah. "tidaklah kamu lepas dari titikan Tuhan. Pasti datang masanya kamu akan membayar sendiri dengan mahal segala kejahatan hatimu itu. Jika pengajaran yang lunak tidak berbekas kepada hatimu, karena lebih keras dari batu, maka palu godam azablah yang akan menimpa dirimu kelak. Waktunya akan datang.

Sayangnya hal yang dimisalkan kepada orang Yahudi ini, lama kelamaan telah bertemu pula pada orang Islam sendiri. Masalahnya tidak ada, lalu diadakan. Hal ini terdapat dalam kitab-kitab Fiqh Mutaakhirin (jaman terkemudian). Panjang lebar membicarakan hukum istinja', rukun bersuci dan panjang lebar memperkatakan niat sembahyang. Sehingga kadang timbul yang lucu-lucu.

Dengan cara sangat sederhana Nabi Muhammad s.a.w. mengajarkan dan memberi contoh dengan perbuatan beliau sendiri, yaitu memulai sembahyang hendaklah dengan membaca Takbir: Allahu Akbar. Semua orang dapatlah memahamkannya, walaupun anak kecil atau orang tua, orang awam atau ulama.

Tetapi datanglah beberapa pembahasan dalam setengah Kitab Fiqh, bahwa hendaklah membaca T'akbir itu serentak sekali dengan nat. Hendaklah penuh niat di dalam huruf yang delapan dari Takbir itu. Penuhnya ialah mengandung qashad, yaitu sengaja hati. Artinya hendaklah mengerjakannya itu sejak awal permulaan dengan takbir dan akhir penutupan dengan salam seketika mengucapkan takbir yang pertama (Takbiratul Ihram) itu, dan hendaklah ta'yiin, yaitu jelas benar ditentukan sembahyang yang mana yang akan didirikan itu, sembahyang wajibkah? Kalau wajib, apakah Zuhur atau Ashar dan sebagainya. Dan kalau sembahyang Nawafil (sembahyang sunnat), hendaklah ta'yiin, sembahyang qabliyahkah atau ba'diyah ? Dhuhakah atau tahajud ?

Setelah disyarati begitu dia jadi sukar. Padahal kalau dikerjakan saja sebentar sudah selesai.
Misalnya pula bagaimana hukumnya kalau seorang perempuan berjanggut dan tebal janggutnya itu, apakah wajib juga baginya menyampaikan air ke urat janggutnya itu: Fafihi Qaulani. Dalam hal ini ada dua kata!

Kata setengah Ulama wajiblah baginya menyampaikan air ke urat janggut itu, sebab itulah yang sebenarnya anggota wudhu', sebab janggut bukanlah asal baginya. Berkata yang setengah lagi, tidaklah mengapa jika tidak sampai air ke urat janggut, sebab masyuqqat baginya. Maka berkata orang jaman sekarang : "Di antara 300 juta perempuan Islam di dunia ini di jaman sekarang, barangkali tidak akan ada barang 3 orang yang berjanggut. Perlu apa masalah ini diadakan ? Dan kalau dia perempuan cantik lebih baik dicukurnya saja, habis perkara !"

Dan berpanjang-panjang pula dalam soal ta'liq dalam talak: bagaimana kalau seorang laki-laki menta'liq istrinya; kalau engkau naik ke loteng, jatuh talakku, kaiau engkau turun ke bawah jatuh pula talakku; bagaimana perempuan-perempuan itu harus mengelak supaya talak itu jangan jatuh ? Maka berbagai pulalah qaul tentang itu. Katanya setengahnya, turun saja dari jendela! Datang orang jaman sekarang berkata : "Talak itu tidak akan jatuh sama sekali, sebab otak laki-laki yang menta'liq itu wajib dioperasi."

Padahal Saiyidina Umar bin Khathab, kalau orang datang bertanya suatu masalah, selalu beliau bertanya pula : Yang engkau tanyakan itu pernah kejadian atau tidak ? Kalau tidak, disuruhnya orang itu berhenti bertanya, karena tidak ada gunanya.
 



 أَفَتَطْمَعُوْنَ أَنْ يُؤْمِنُوْا لَكُمْ وَ قَدْ كَانَ فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُوْنَ كَلاَمَ اللهِ ثُمَّ يُحَرِّفُوْنَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوْهُ وَ هُمْ يَعْلَمُوْن

(75) Apakah kamu ingin benar agar mereka percaya kepada kamu, padahal sesungguhnya telah ada segolongan dari mereka yang mendengar Kalam Allah, kemudian mereka obah-obah dia sesudah mereka naengexti, padahal mereka mengetahui


وَ إِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ آمَنُوْا قَالُوْا آمَنَّا وَ إِذَا خَلاَ بَعْضُهُمْ إِلَىَ بَعْضٍ قَالُوْا أَتُحَدِّثُوْنَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَآجُّوْكُم بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ أَفَلاَ تَعْقِلُوْنَ

(76) Dan apabila mereka berjumpa dengan orang.-orang yang beriman, merekapun berkata : kami telah beriman ! Dart apabila bersendiri sebagian mereka dengan yang set?agAan, berkatalah mereka : Apakala akan kamu ceritakan kepada mereka apa yang telah di bukakan Allah kepada kamu, supaya nanti mereka mendakwa kamu di hadapan Tuhan kamu ? Apakah kamu tidak mengerti ?


أَوَلاَ يَعْلَمُوْنَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَ مَا يُعْلِنُوْنَ

(77) Apakah tidak mexd:ka talbu bahwasanya Allah mengetahui apa yang mexeka rahasiakan dan apa yang mereka nyata­kan ?


وَ مِنْهُمْ أُمِّيُّوْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ الْكِتَابَ إِلاَّ أَمَانِيَّ وَ إِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّو

(78) Dan setengah dari mereka adalah yang tidak kenal tulisan, tidak mereka ketahui akan al-Kitab, kecuali dongeng-dongeng, dan tidak ada mereka selain bersangka ­sangka.


فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوْا بِهِ ثَمَناً قَلِيْلاً فَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُوْنَ

( 79) Maka celakalah bagi orang­orang yang menulis kitab dengan tangan mereka, kemudian mereka katakan : Ini adalah dari sisi Allah, karena mereka hendak menjualnya dengan harga yang sedikit. Celaka bagi mereka dari apa yang ditulis oleh tangan mereka, dan celaka bagi mereka lantaran penghasilan mereka.


Melakukan dakwah kepada orang-orang Yahudi itu adalah dalam rangka wajib juga. Tetapi jangan terlalu diharapkan bahwa lantaran mereka telah diberi dakwah, mereka akan masuk berbondong ke dalam Islam.

Memang pokok-pokok yang memungkinkan mereka memeluk Islam banyak. Terutama karena dasar yang satu di antara ajaran mereka dengan Islam, yaitu teguh pada Tauhid. Tetapi itu jangan terlalu diharapkan. Karena ada sebab yang lain-lain yang menghalangi, yaitu dasar tidak jujur mereka.

أَفَتَطْمَعُوْنَ أَنْ يُؤْمِنُوْا لَكُمْ وَ قَدْ كَانَ فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُوْنَ كَلاَمَ اللهِ ثُمَّ يُحَرِّفُوْنَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوْهُ
"Apakah kamu ingin benar agar mereka percaya kepada kamu ?Padahal sesungguhnya telah ada segolongan dari mereka yang mendengar Kalam Allah, kemudian mereka obah-obah dia sesudah mereka mengerti. " (pangkal ayat 75).

Hal ini diperingatkan kepada Nabi Muhammad s.a.w,dan umatnya , khusus kepada sahabat-sahabat beliau yang hidup ketika ayat diturunkan , yang sangat mengngharap moga-moga lantaran selalu mendapat seruan , orang Yahudi itu akan berbondong masuk lslam.

Ayat ini memperingatkan jangan terlalu diharap , sebab mengubah-ubah ayat atau isi maksud ayat, dan menafsirkannya secara lain , sudahlah menjadi kebiasaan mereka , bahkan sudah sejak jaman Musa lagi sudah demikian.

Mereka dengar Kalam Allah. Sabda Taurat .Mereka akui itu memang Kalam Allah, tetapi kemudian mana yang mereka rasa berat mereka ubah dengan sengaja. Bahkan ini terasa sendiri oleh Nabi Musa , ketika beliau masih hidup dan telah dekat kepada ajalnya, sehingga diperintahkannya menulis segala isi Taurat untuk diingat oleh anak cucu . Namun demikian, seketika dia dipanggil menghadap oleh Allah Ta'ala bersama Yusya' yang akan meneruskan pimpinannya atas Bani Isril .jika beliau meninggal, Tuhanpun telah memperingatkan kepada Musa, bahwa sepeninggal Musa kelak kaumnya ini akan menyembah dewa-dewa dan meninggalkan Allah.[ Lihat kitab Bilangan , Taurat , Pasal 31 , ayat 16 dan 17 ]

Sebab itu meskipun seketika Taurat tertulis lengkap , lagi berani mereka mengubah maksudnya menurut kehendak mereka, apatah lagi Taurat yang ditulis dijaman Nabi Muhammad s.a.w, sampai ke jaman kita sekarang bukan lagi Taurat yang ditulis di jaman Musa itu.

وَ هُمْ يَعْلَمُوْن
"Padahal mereka mengetahui" (ujung ayat 75).

Bunyi ayat ini memperjelas lagi bahwa penafsiran yang salah , atau menyalahkan penafsiran adalah mereka lakukan dengan sengaja dan dengan sadar.

Sedangkan sebelum timbul Nabi Muhammad s.a.w dan belum timbul gerakan Islam ini di Madinah, mengubah isi Kalam Allah menurut kemauan mereka dan untuk menjaga martabat mereka, mereka lagi mau , apatah lagi setelah kekuatan Nabi Muhammad s.a.w sudah bangkit demikian rupa dan mereka mulai terdesak. Niscaya mengubah-ubah maksud itu akan kejadian lagi.

وَ إِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ آمَنُوْا قَالُوْا آمَنَّا
" Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang telah beriman ,merekapun berkata : Kami telah beriman. " (pangkal ayat 76)

Di sini jelas jiwa yang mulai lemah dan ragu. Kebenaran Islam dengan semangat yang baru itu tidak dapat dihalangi lagi , tetapi mereka berat melepaskan yang lama .Sebab terpaksa mereka bermuka manis , kepada orang-orang yang telah beriman kepada Nabi Muhammad s.a.w, dan mereka mengaku beriman pula untuk menjaga diri atau melihat angin. Sebab tenaga buat menghalanginya tidak ada lagi.

وَ إِذَا خَلاَ بَعْضُهُمْ إِلَىَ بَعْضٍ قَالُوْا أَتُحَدِّثُوْنَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللهُ عَلَيْكُمْ
"Dan apabila bersendiri sebugian mereka dengan sebagian , berkatalah mereka : Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka apa .yang telah dibukakan Allah kepada rnereka ?'

Timbullah bisik-bisik , namun meskipun di antara kita telah ada yang mengaku beriman pula untuk menjaga diri , sekali-kali jangan dibukakan kepada mereka isi kitab yang sebenarnya , yang telah dibukakan Tahan Allah kepada kita sejak dahulu, bahwa memang akan ada Nabi Akhir Jaman , yang kita telah berjanji dengan Tuhan akan mematuhi syari'at Nabi itu jika dia datang. Apakah rahasia itu akan kamu sampaikan kepada mereka ?

لِيُحَآجُّوْكُم بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ أَفَلاَ تَعْقِلُوْنَ
"Supaya nanti mereka mendakwa kamu di hadapan T'uhan kamu ? , apa kamu tidakmengerti ? " (ujung ayat 76).

Bagaimanapun rapat pergaulan orang-orang yang menganut keimanan baru , pengikut Muhammad itu, namun rahasia kitab kita jangan dihuka. Karena kalau mereka tahu hal itu tentu berkata kepada kita : Kalau sudah seterang itu tersebut di dalam Kitab kamu , mengapa kamu tidak juga bernar-benar percaya . Sebab itu hendaklah kamu awas benar, bila berdebat dengan Muhammad dan pengikut-pengikutnya itu. Apakah kamu tidak mengerti bahwa kalau rahasia itu terbuka, akan membawa celaka bagi kita dan meruntuhkan kedaulatan agama kita , Pusaka turun-temurun nenek-moyang kita ? Tetapi bagi mereka hal itu dipandang rahasia. Bagi Tuhan tidak ada yang dapat mereka rahasiakan.

أَوَلاَ يَعْلَمُوْنَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَ مَا يُعْلِنُوْنَ
"Apakah tidak mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang rnereka nyatakan. " (ayat 77)

Banyak hal dapat kita simpulkan dari ayat ini.
Pertama menjadi teranglah bahwa memang Nabi kita dan sahabat-sahabatnya tidak pernah terlebih dahulu membaca Kitab Taurat sebagaimana yang didakwakan oleh setengah kaum Oietitalis , di antaranya Goldziher seorang Orientalis Yahudi. Maka pengetahuan Nabi Muhammad bahwa dirinya ada tersebut dalam Taurat , adalah semat-mata dari wahyu. Dan kesan yang lain ialah bahwa rahasia kecurangan itu dengan ayat ini telah dibuka. Inilah rahasia yang dibuat jadi rahasia oleh Ahbar dan Rubban mereka , yang teruss disingkirkan oleh ayat , sehingga mereka mesti berhitung benar-benar terlebih dahulu sebelum terus-menerus berbuat. curang.

Lain pula halnya dengan para pengikut mereka. Yaitu yang keras fanatik mempertahankan pendirian, tetapi tidak mengerti apa sebenarnya isi Kitab yang mereka pertahankan itu. Mereka disebut pada ayat seterusnya.

وَ مِنْهُمْ أُمِّيُّوْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ الْكِتَابَ إِلاَّ أَمَانِيَّ وَ إِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّو
"Dan setengah dari mereka adalah yang tidak kenal tulisan, tidak mereka ketahui akan al-Kitab, kecuali dongeng-dongeng dan tidak ada mereka selain bersangka-sangka. " (ayat 78).

Mereka hanya taqlid kepada guru. Apa kata guru, itulah yang benar. Menyelidik dan memakai pikiran sendiri tidak sanggup. Bahkan menulis dan membacapun tidak bisa, apatah lagi akan membaca Kitab Taurat itu. Yang mereka pegang hanya apa yang diterangkan guru. Maka penuhlah mereka dengan dongeng-dongeng, khayal, pelajaran yang tidak-tidak dan tidak dekat sedikit juga dengan kebenaran. Kalau diajak membicarakan yang sekarang, mereka hanya sanggup menceritakan yang dahulu.

Kalau diajak kepada kenyataan, mereka lari ke dalam angan-angan. Agama mereka hanya sangka-sangka, entah ia entah tidak. Tetapi bagi mereka angan-angan itu adalah pegangan teguh. Dan mereka tidak boleh ditegur atas kesalahan mereka. Telah membatu dan membeku faham mereka. Dalam ketaatan mereka pegang apa yang diajarkan oleh guru dengan tidak memakai pikiran, mereka berhati sempit dan benci kepada orang lain.

Demikianlah keadaan kaum Bani Israil atau Yahudi seketika syari'at Islam mulai bangkit, agama yang telah tinggal dalam sebutan lidah belaka. Dan beginilah suasana beragama pada segala jaman, apabila kebebasan berpikir telah dibendung clan ditutup oleh orang­orang yang disebut pemimpin agama sendiri.

Sebab itu bila membaca ayat yang seperti ini, seyogyanya kita umat Islam yang telah 14 abad jaraknya dari zaman Nabi Muhammad saw berfikir kalau-kalau kita telah ditimpa pula oleh penyakit seperti ini .

Syukurlah agama kita Islam tidak mempunyai kependetaan , yaitu pemuka-pemuka agama yang wajib dipatuhi , walaupun telah jauh terpesong daripada yang telah digariskan Allah. Sungguhpun demikian dalam peredaran jaman, gejala-gejala seperti ini pernah juga kejadian. Salah satu dari sebab kerusakan yang menimpa Bani Israil itu disebutkan pada ayat yang selanjutnya.

فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوْا بِهِ ثَمَناً قَلِيْلاً
"Malaka celakalah bagi orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka, kernudian mereka katakan : "Ini adalah dari sisi Allah. "Karena mereka hendak menjualnya dengan harga yang sedikit. " (pangkal ayat 79).

Padahal Kitab Taurat mereka sendiri sudah ada. Sekarang mereka tambah lagi dengan penafsiran sendiri, membuat hukum ushul dan furu' pokok dan ranting. Setelah pekerjaan membuat kitab itu selesai , mereka berkata bahwa ini adalah dari Tuhan. Disamakan dengan wahyu IIahi yang tidak boleh diganggu-gugat lagi.

Orang yang bodoh, yang ummi, tak tahu tulis baca sebagai tersebut tadi, menerimalah apa yang beliau-beliau tulis itu sebagai wahyu Ilahi, kata suci yang tidak boleh dibantah. Orang-orang yang mencari keuntungan untuk diri berbesar hatilah dan maulah membayar. Dibayar dengan uang berbilang atau dengan pangkat, kedudukan, kebesaran duniawi. Berapapun besar jumlahnya, atau berapapun tinggi pangkat yang didapat, semuanya adalah harga yang sedikit; atau lebih tegas lagi tidak ada harganya.

فَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيْهِمْ
"Celaka bagi mereka dari apa yang ditulis oleh tangan mereka. "

Karena yang ditulis itu adalah palsu. Karena mereka akan bertanggungjawab di hadapan Allah karena berbohong dan menipu manusia

وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُوْنَ
"Dan celaka bagi mereka lantaran penghasilan mereka. " (ujung ayat 79).

Memang orang Yahudi mempunyai lagi di samping Taurat kitab agama yang bernama Talmud. Akan berapalah lamanya penghasilan harga yang sedikit itu akan mereka rasai ? Padahal mereka telah memutar-balik kebenaran? Akan berapa lamakah kepalsuan bisa berlaku ? Akan berapa lamakah manusia bisa diperbodoh ?

Pemeluk agama yang manapun yang memimpinnya sudah sampai kepada taraf jual-beli agama seperti ini, namun kutuk Tuhan mesti memakan mereka. Kecelakaan tidak dapat dielakkan. Oleh sebab itu ayat ini yang sebab turunnya ialah Bani Israil di jaman Rasul, namun kita kaum Muslimin haruslah mengoreksi diri sendiri dengan dia. Sebab tersebut dalam Hadits yang shahih, sabda Rasulullah s.a.w :
 



 وَقَالُوْا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلاَّ أَيَّاماً مَّعْدُوْدَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُوْن

(80) Dan mereka berkata : Sekali­kali tidak kami akan disentuh oleh api-neraka kecuali berbilang hari saja. Katakanlah : Apakah kamu telah membuat janji di sisi Allah ? (Kalau demikian). Maka tidaklah Allah akan memungkiri janji­Nya, atau apakah kamu meng­atakan terhadap Allah barang yang tidak kamu ketahui ?


بَلَى مَن كَسَبَ سَيِّئَةً وَ أَحَاطَتْ بِهِ خَطِيْئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ

(81) Tidak begitu ! Barangsiapa yang berusaha jahat, sedang dosanya telah meliputinya, maka mereka itu adalah penghuni neraka, mereka akan kekal di dalamnya.


وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ عَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ
(82) Dan orang-orang yang beriman dan beramal yang shalih ­shalih , mereka itu adalah penghuni syurga; merekapun akan kekal di dalamnya.


وَ إِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ لاَ تَعْبُدُوْنَ إِلاَّ اللهَ وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَ ذِي الْقُرْبَى وَ الْيَتَامَى وَ الْمَسَاكِيْن وَ قُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْناً وَ أَقِيْمُوا الصَّلاَةََ وَ آتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيْلاً مِّنكُمْ وَ أَنْتُمْ مِّعْرِضُوْن

(83) Dan (ingatlah) tatkala Kami membuat janji dengan Bani Israil, supaya jangan mereka menyembah melainkaii kepada Allah, dan terhadap kedua ibu ­bapak hendaklah berbuat balk, dan (juga) kepada keluarga yang hampir, dan anak-anak yatim dan orang ­orang miskin , dan hendaklah mengucapkan perkataan yang baik kepada manusia, dan dirikanlah sembahyang dan keluarkanlah zakat. Kemudian , berpaling kamu , kecuali sedikit, padahal kamu tidak memperdulikan.


Sekarang disingkapkan lagi salah satu penyakit kesombongan mereka.

وَقَالُوْا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلاَّ أَيَّاماً مَّعْدُوْدَةً
"Dan mereka berkata : Sekali-kali tidak kami akan disentuh oleh api-neraka, melainkan berbilang hari saja. "                 (pangkal ayat 80).

Mereka merasa demikian istimewa di sisi Tuhan. Kalau mereka dimasukkan ke neraka esok, hanya sebentar saja. Kata yang setengah kalau dimasukkan ke neraka orang Bani Israil, hanya selama empat puluh hari saja, yaitu selama mereka menyembah berhala anak-sapi, seketika ditinggalkan oleh Nabi Musa empat puluh hari.

Demikian riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Jarir. Dan satu riwayat lagi dibawakan oleh Ibnu Jarir juga, dan Ibnu Ishaq , dan Ibnul Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, bahwa: menurut kepercayaan orang Yahudi umur dunia kita ini adalah 7.000 tahun. Maka mana yang berdosa di antara mereka akan diazab dalam neraka sehari dalam 1.000 tahun. Menjadi hanya tujuh hari saja mereka di neraka, kemudian dikeluarkan dan dipindahkan ke surga.
Menurut Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhari, seketika memerangi Khaibar, benteng pertahanan orang Yahudi yang terakhir, Nabi s. a. w menanyakan kepada mereka, siapa ahli neraka ? Mereka menjawab bahwa kami hanya akan masuk neraka sebentar, sesudah itu keluar. Inilah menurut setengah riwayat asal turunnya ayat ini.

قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللهِ
"Katakanlah: Apakah kamu telah membuat janji di sisi Allah ?"

Kalau janji itu memang ada cobalah tunjukkan bukti, di pasal mana dalam Tauratmu ada tertulis.

فَلَنْ يُخْلِفَ اللهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُوْن
"Atau upakah kamu mengatakun terhadap Allah barang yang tidak kamu ketahui ?" (ujung ayat 80).

Atau itu hanya kata-kata ahbar-ahbar dan pendeta-pendeta kamu saja ?
Perkataan yang mereka karang--karangkan itu menyebabkan agama diperingan-ringan oleh pengikut mereka. Kalau hanya beberapa hari saja di neraka, apa salahnya kalau dibuat dosa banyak-banyak, didurhakai Allah dan dikhianati manusia ? Bantahan Allah adalah keras:

بَلَى
"Tidak begitu!" (pangkal ayat 8l.),. Tetapi yang sebenarnya ialah :

كَسَبَ سَيِّئَةً وَ أَحَاطَتْ بِهِ خَطِيْئَتُهُ
"Barangsiapa yang berusaha jahat, sedang dosanya telah meliputinya. "

Orang yang usahanya selalu jahat , tidak ada lagi nilai yang baik, dan dosa telah mencengkeram mereka meliputi mereka, sehingga tidak ada lagi upaya mereka melepaskan din daripadanya.

فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ
"Maka mereka itu udalah penghuni neraka. "

Peraturan itu berlaku sekalian manusia, sebab dikatakan barangsiapa. Tidak perduli apakah dia mengaku Yahudi, Nasrani atau Islam.

هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ
"Mereka akan kekal di dalamnya. " (ujung ayat 81).

Keadilan dan hukum Ilahi berlaku buat semua orang Di sini disebut dua hal yang menyebabkan kekal di neraka. Pertama kejahatan sudah menjadi usaha, kedua kesalahan itu sudah mengepung dan meliputi diri. Tidak ada kekerasan hati lagi buat membebaskan diri dari kepungan kejahatan. Dan puncak dari segala kejahatan ialah mempersekutukan Tuhan dengan yang lain. Segala dosa pangkalnya ialah karena mempersekutukan Tuhan. Di antaranya ialah dengan mempersekutukan Tuhan dengan hawa-nafsu dan dengan setan.

Sebaliknya dari itu:

وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ عَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ

"Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih-shalih ,mereka itu adalah penghuni surga, merekapun akan kekal di dalamnya. " (ayat 82).

Tidak pandang apakah dia Yahudi, atau Nasrani atau Islam sebagai yang telah diterangkan pada ayat 62 yang 1alu.

Dapatkah agaknya kita kaum Muslimin tertegun sejenak memikirkan ayat ini ? Yang sebab turunnya ialah Bani Israil di Madinah, tetapi ayatnya telah terlukis tetap di dalam al-Qur'an ? Siapa yang membaca ayat ini sekarang , apakah kita atau Bani Israil ?

Bagaimana orang yang mengaku dirinya Islam atau keturunan Islam, tetapi seluruh usaha hidupnya dipengaruhi oleh nafsu-nafsu jahat ? Dan dia tidak lagi dapat memmbebaskan diri dari kepungan dosa ? Bagaimana dengan orang yang berkeyakinan apabila dia membaca Qul-Huallahu-Ahad 1.000 kali atau membaca syahadat 10.000 kali, atau membaca Surat Yasin malam Jum'at atau membaca Ayat Kursi seketika akan tidur, dijamin pasti masuk surga ?

Kelak kita akan berjumpa dengan ayat 214 dari Surat al-Baqarah ini yang berkata bahwa kamu jangan mengira-ngira mudah saja masuk ke dalam surga, sebelum kamu sanggup menderita sebagai yang diderita oleh orang-orang yang dahulu-dahulu; ditimpa oleh berbagai kesulitan, kesukaran, kemelaratan dan sampai digoncangkan oleh berbagai cobaan, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman - saking hebatnya goncangan itu - sampai mengeluh memohon kepada Tuhan, mana pertolongan yang telah dijanjikan.

Dengan demikian orang diuji, dan jika lulus ujian itu baru masuk surga. Mengapa kamu sangka masuk surga hanya dengan membaca Qul - Huallahu - Ahad sekian ratus kali ? Bahkan ada pula yang berkata, bahwa kita orang Islam tidak akan lama dalam neraka; persis seperti kata orang Yahudi itu. Apakah sudah ada janji kita dengan Tuhan dalam perkara ini ? Atau apakah kita berbicara dengan tidak berpengalaman, dan membicarakan soal Allah tidak dengan pengetahuan ?

Kemudian diingatkan lagi janji Bani Israil dengan Allah yang sekehendaknya mereka pegang teguh, tetapi telah mereka mungkiri. Adapun ayat ini sudah khusus dihadapkan kepada Rasulullah s.a.w sendiri, untuk mengetahui betapa janji itu telah diikat dengan mereka, supaya Rasul s.a.w lebih mengetahui betapa telah jauhnya mereka sekarang daripada janji itu.

وَ إِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ لاَ تَعْبُدُوْنَ إِلاَّ اللهَ
"Dan (ingatlah) tatkala Kami membuat jan ji dengan Bani Israil, supaya jangan mereka menyembah melainkan kepada Allah. " (pangkal ayat 83).

Inilah pokok pertama janji, dipusatkan kepada Tauhid, yang sampai sekarang masih terpancang dengan teguhnya dalam yang dinamai Hukum Sepuluh di dalam Taurat.

وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً
"Dan terhadap kedua ibu-bapak hendaklah berbuat baik. "

Inilah janji yang kedua; yakni sesudah menyembah Allah hendaklah berkhidmat, berbuat baik kepada kedua ibu-bapak. Karena dengan rahmat dan karunia Allah , kedua ibu-bapak telah menumpahkan kasih kepada anak, mendidik dan mengasuh. Terutama di waktu belum dewasa, tidaklah sanggup si anak menempuh hidup dalam dunia ini kalau tidaklah kasih sayang dianugerahkan Allah kepada ayah dan bunda.

وَ ذِي الْقُرْبَى
"Dan juga kepada keluarga yang hampir. "

Yaitu saudara, paman, saudara ayah dan saudara ibu, nenek laki-laki dan nenek perernpuan, pendeknya semua yang bertali darah.

Di bawah perlindungan Allah, seorang anak telah hidup dalazn asuhan ibu-bapak, di dalam rumah tangga yang berbahagia. Dan rumah tangga itu bertali-tali dengan keluarga yang lain, sehingga timbullah kekeluargaan besar, yang berupa suku, kabilah dan kaum. Maka tidaklah bisa seorang hidup sendiri dan hidup hanya dengan ibu-bapak atau dengan anak dan istri saja.

Semua ada pertaliannya. itulah yang membentuk masyarakat besar, berupa negeri dan negara. Maka memelihara hubungan yang balk dengan keluarga itupun menjadi salah satu janji penting Bani lsrail dengan Tuhan.

وَ الْيَتَامَى وَ الْمَسَاكِيْن
"Dan anak-anak yatim dan orang-arang miskin. "

Anak yatim, yakni anak yang telah kematian ayah di waktu la masih kecil, hendaklah pula dikasihi, diperlakukan dengan balk, diasuh dan dididik. Karena dengan kematian ayahnya, tidaklah sanggup ibunya saja mengasuhnya sendiri, apatah lagi bila ibu itu telah bersuami yang lain pula.

Seorang yang beragama hendaklah turut memikirkan anak yatim , turut memelihara dan mendidiknya. Kalau dia menerirna waris kekayaan besar dari ayahnya, maka tolonglah pelihara sehingga kekayaan pusakanya itu dapat dipergunakannya dengan baik setelah dia dewasa.

Apatah Iagi kalau dia miskin; sudilah berkurban buat dia, orang miskinpun janganlah sampai dibiarkan melarat. Hendaklah yang kaya memikirkan nasibnya, menolongnya.

Tolonglah usahakan dan carikan jalan supaya dia dapat berusaha pula melepaskan dirinya dari kemiskinan.

وَ قُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْناً
"Dan hendaklah mengucapkan perkataan yang baik kepada sesama manusia. "

Maka selain daripada sikap baik kepada ibu-bapak, kaum keluarga, anak-yatim dan fakir miskin, bercakaplah yang baik kepada sesama manusia. Bercakap yangbaik bukanlah berarti bermulut manis saja. Itulah sebagian dari yang balk. Tetapi yang baik adalah lebih sangat luas dari itu. Hendaklah menanam jasa kepada sesama manusia , memberi nasehat dan pengajaran; amar ma'ruf, nahi munkar. Menyuruh berbuat baik, melarang berbuat munkar, menegur mana yang salah. Kalau sudah nampak perbuatan yang salah, jangan didiamkan saja, tetapi tegurlah dengan pantas. Yang berpengalaman hendaklah mengajar yang bodoh. Yang kurang ilmu hendaklah menuntut kepada yang pandai. Sehingga bersama-sama mencapai masyarakat yang lebih baik.

وَ أَقِيْمُوا الصَّلاَةََ
"Dan dirikanlah sembahyang. "

Untuk merapatkan hubungan dengan Tuhan Allah yang disembah itu, sebab sembahyang adalah ibadat. Sembahyang adalah satu usaha mematuhkan diri mendekati Tuhan, dan dengan sebab sembahyang maka segala janji janji yang tersebut tadi dapatlah dipegang teguh:

وَ آتُوا الزَّكَاةَ
"Dan keluarkanlah zakat. "Jangan bakhil. Sebab zakat artinya ialah pembersihan.

Membersihkan hati sanubari daripada penyakit bakhil, membersihkan jiwa daripada diperbudak harta, dan membersihkan hubungan di antara yang kaya dengan yang miskin, sehingga timbul kasih-sayang yang mampu atas yang miskin dan timbul pula kasih ­sayang dan cinta yang miskin kepada yang mampu. Hapus rasa benci dari si kaya dan hilang rasa dendam dari si miskin.

Semua itulah janji yang telah diikat di antara Tuhan dengan Bani Israil, tercatat di dalam kitab Taurat , diperingat berulang-ulang oleh Nabi Musa a.s. dan Harun a.s. sebelum mereka meninggal dan diteruskan memperingatkannya oleh Nabi Yusya' a. s. seketika dia telah dilantik oleh Tuhan meneruskan pimpinan Bani Israil setelah kedua Nabi yang berjasa itu meninggal.
Tetapi

ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ
"kemudian berpaling kamu. "

Satu demi satu janji itu kamu mungkiri. Perintah Allah dilanggar. Dia dipersekutukan dengan yang lain, kadang-kadang dengan harta dan kekayaan, pangkat dan kedudukan. Anak-anak telah banyak yang mendurhakai orang tua, kaum keluarga dekat sudah tak diperdulikan, sehingga silaturrahmi menjadi putus. Anak yatim dibiarkan terlantar, fakir miskin dibiarkan kelaparan, nasihat ­menasihat di antara sesama manusia tidak diperdulikan lagi, sehingga maksiat memuncak, sembahyang dilalaikan, zakat tidak keluar.

إِلاَّ قَلِيْلاً مِّنكُمْ
"Kecuali sedikit diantara kamu. "

Artinya sebagai juga terdapat dalam setiap agama, di antara yang durhaka masih ada yang insaf, tetapi sedikit. Katanya tak didengar orang lagi, malahan kadang-kadang dicemoohkan karena tidak pandai menyesuaikan diri;

وَ أَنْتُمْ مِّعْرِضُوْن
" padahal kamu tidak memperdulikan. " (ujung ayat S3).

Sehingga kebebasan agama itu telah hilang, hanya tinggal namanya.

Inilah yang diperingatkan Tuhan kepada Nabi kita Muhammad s.a.w, yaitu pada dasarnva agama yang dibawa Nabi Musa a.s. kepada Bani Israil itu adalah agama yang murni dan balk. Tuhan tidak menyia-nyiakan mereka, segala yang patut dikerjakan sudah dibuat menjadi janji. Maka jika sekarang, yaitu di jaman ayat turun , Bani Israil banyak yang ingkar, bukanlah karena agama mereka yang tidak lengkap, tetapi merekalah yang telah meninggalkan segala janji itu.

Niscaya ayat inipun menjadi kesan pulalah bagi umat Muhammad. Sebab janji Tuhan dengan Bani Israil itu , janji itu juga yang diulang kembali dengan kita. Intisari Agama Islam pun adalah itu; menyembah Allah Yang Tunggal, menghormati ibu-bapak , membela keluarga , membela anak-anak yatim dan fakir miskin , bersikap baik kepada sesama manusia , sembahyang dan berzakat. Dapatlah kiranya kita membanding-banding dengan hidup kita sendiri; sudahkah agaknya peringatan Tuhan tentang Bani Israil ini patut dijadikan peringatan bagi kita ? Apakah bukan kita telah berpaling ? Dan hanya tinggal sedikit yang setia memegang janji ?

Mari kita camkan. Supaya jangan seenaknya saja membawanya untuk Bani Israil, padahal ayatnya tinggal menjadi pusaka pedoman hidup kita.



 وَقَالُوْا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلاَّ أَيَّاماً مَّعْدُوْدَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُوْن

(80) Dan mereka berkata : Sekali­kali tidak kami akan disentuh oleh api-neraka kecuali berbilang hari saja. Katakanlah : Apakah kamu telah membuat janji di sisi Allah ? (Kalau demikian). Maka tidaklah Allah akan memungkiri janji­Nya, atau apakah kamu meng­atakan terhadap Allah barang yang tidak kamu ketahui ?


بَلَى مَن كَسَبَ سَيِّئَةً وَ أَحَاطَتْ بِهِ خَطِيْئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ

(81) Tidak begitu ! Barangsiapa yang berusaha jahat, sedang dosanya telah meliputinya, maka mereka itu adalah penghuni neraka, mereka akan kekal di dalamnya.


وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ عَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ
(82) Dan orang-orang yang beriman dan beramal yang shalih ­shalih , mereka itu adalah penghuni syurga; merekapun akan kekal di dalamnya.


وَ إِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ لاَ تَعْبُدُوْنَ إِلاَّ اللهَ وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَ ذِي الْقُرْبَى وَ الْيَتَامَى وَ الْمَسَاكِيْن وَ قُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْناً وَ أَقِيْمُوا الصَّلاَةََ وَ آتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيْلاً مِّنكُمْ وَ أَنْتُمْ مِّعْرِضُوْن

(83) Dan (ingatlah) tatkala Kami membuat janji dengan Bani Israil, supaya jangan mereka menyembah melainkaii kepada Allah, dan terhadap kedua ibu ­bapak hendaklah berbuat balk, dan (juga) kepada keluarga yang hampir, dan anak-anak yatim dan orang ­orang miskin , dan hendaklah mengucapkan perkataan yang baik kepada manusia, dan dirikanlah sembahyang dan keluarkanlah zakat. Kemudian , berpaling kamu , kecuali sedikit, padahal kamu tidak memperdulikan.


Sekarang disingkapkan lagi salah satu penyakit kesombongan mereka.

وَقَالُوْا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلاَّ أَيَّاماً مَّعْدُوْدَةً
"Dan mereka berkata : Sekali-kali tidak kami akan disentuh oleh api-neraka, melainkan berbilang hari saja. "                 (pangkal ayat 80).

Mereka merasa demikian istimewa di sisi Tuhan. Kalau mereka dimasukkan ke neraka esok, hanya sebentar saja. Kata yang setengah kalau dimasukkan ke neraka orang Bani Israil, hanya selama empat puluh hari saja, yaitu selama mereka menyembah berhala anak-sapi, seketika ditinggalkan oleh Nabi Musa empat puluh hari.

Demikian riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Jarir. Dan satu riwayat lagi dibawakan oleh Ibnu Jarir juga, dan Ibnu Ishaq , dan Ibnul Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, bahwa: menurut kepercayaan orang Yahudi umur dunia kita ini adalah 7.000 tahun. Maka mana yang berdosa di antara mereka akan diazab dalam neraka sehari dalam 1.000 tahun. Menjadi hanya tujuh hari saja mereka di neraka, kemudian dikeluarkan dan dipindahkan ke surga.
Menurut Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhari, seketika memerangi Khaibar, benteng pertahanan orang Yahudi yang terakhir, Nabi s. a. w menanyakan kepada mereka, siapa ahli neraka ? Mereka menjawab bahwa kami hanya akan masuk neraka sebentar, sesudah itu keluar. Inilah menurut setengah riwayat asal turunnya ayat ini.

قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللهِ
"Katakanlah: Apakah kamu telah membuat janji di sisi Allah ?"

Kalau janji itu memang ada cobalah tunjukkan bukti, di pasal mana dalam Tauratmu ada tertulis.

فَلَنْ يُخْلِفَ اللهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُوْن
"Atau upakah kamu mengatakun terhadap Allah barang yang tidak kamu ketahui ?" (ujung ayat 80).

Atau itu hanya kata-kata ahbar-ahbar dan pendeta-pendeta kamu saja ?
Perkataan yang mereka karang--karangkan itu menyebabkan agama diperingan-ringan oleh pengikut mereka. Kalau hanya beberapa hari saja di neraka, apa salahnya kalau dibuat dosa banyak-banyak, didurhakai Allah dan dikhianati manusia ? Bantahan Allah adalah keras:

بَلَى
"Tidak begitu!" (pangkal ayat 8l.),. Tetapi yang sebenarnya ialah :

كَسَبَ سَيِّئَةً وَ أَحَاطَتْ بِهِ خَطِيْئَتُهُ
"Barangsiapa yang berusaha jahat, sedang dosanya telah meliputinya. "

Orang yang usahanya selalu jahat , tidak ada lagi nilai yang baik, dan dosa telah mencengkeram mereka meliputi mereka, sehingga tidak ada lagi upaya mereka melepaskan din daripadanya.

فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ
"Maka mereka itu udalah penghuni neraka. "

Peraturan itu berlaku sekalian manusia, sebab dikatakan barangsiapa. Tidak perduli apakah dia mengaku Yahudi, Nasrani atau Islam.

هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ
"Mereka akan kekal di dalamnya. " (ujung ayat 81).

Keadilan dan hukum Ilahi berlaku buat semua orang Di sini disebut dua hal yang menyebabkan kekal di neraka. Pertama kejahatan sudah menjadi usaha, kedua kesalahan itu sudah mengepung dan meliputi diri. Tidak ada kekerasan hati lagi buat membebaskan diri dari kepungan kejahatan. Dan puncak dari segala kejahatan ialah mempersekutukan Tuhan dengan yang lain. Segala dosa pangkalnya ialah karena mempersekutukan Tuhan. Di antaranya ialah dengan mempersekutukan Tuhan dengan hawa-nafsu dan dengan setan.

Sebaliknya dari itu:

وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ عَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ

"Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih-shalih ,mereka itu adalah penghuni surga, merekapun akan kekal di dalamnya. " (ayat 82).

Tidak pandang apakah dia Yahudi, atau Nasrani atau Islam sebagai yang telah diterangkan pada ayat 62 yang 1alu.

Dapatkah agaknya kita kaum Muslimin tertegun sejenak memikirkan ayat ini ? Yang sebab turunnya ialah Bani Israil di Madinah, tetapi ayatnya telah terlukis tetap di dalam al-Qur'an ? Siapa yang membaca ayat ini sekarang , apakah kita atau Bani Israil ?

Bagaimana orang yang mengaku dirinya Islam atau keturunan Islam, tetapi seluruh usaha hidupnya dipengaruhi oleh nafsu-nafsu jahat ? Dan dia tidak lagi dapat memmbebaskan diri dari kepungan dosa ? Bagaimana dengan orang yang berkeyakinan apabila dia membaca Qul-Huallahu-Ahad 1.000 kali atau membaca syahadat 10.000 kali, atau membaca Surat Yasin malam Jum'at atau membaca Ayat Kursi seketika akan tidur, dijamin pasti masuk surga ?

Kelak kita akan berjumpa dengan ayat 214 dari Surat al-Baqarah ini yang berkata bahwa kamu jangan mengira-ngira mudah saja masuk ke dalam surga, sebelum kamu sanggup menderita sebagai yang diderita oleh orang-orang yang dahulu-dahulu; ditimpa oleh berbagai kesulitan, kesukaran, kemelaratan dan sampai digoncangkan oleh berbagai cobaan, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman - saking hebatnya goncangan itu - sampai mengeluh memohon kepada Tuhan, mana pertolongan yang telah dijanjikan.

Dengan demikian orang diuji, dan jika lulus ujian itu baru masuk surga. Mengapa kamu sangka masuk surga hanya dengan membaca Qul - Huallahu - Ahad sekian ratus kali ? Bahkan ada pula yang berkata, bahwa kita orang Islam tidak akan lama dalam neraka; persis seperti kata orang Yahudi itu. Apakah sudah ada janji kita dengan Tuhan dalam perkara ini ? Atau apakah kita berbicara dengan tidak berpengalaman, dan membicarakan soal Allah tidak dengan pengetahuan ?

Kemudian diingatkan lagi janji Bani Israil dengan Allah yang sekehendaknya mereka pegang teguh, tetapi telah mereka mungkiri. Adapun ayat ini sudah khusus dihadapkan kepada Rasulullah s.a.w sendiri, untuk mengetahui betapa janji itu telah diikat dengan mereka, supaya Rasul s.a.w lebih mengetahui betapa telah jauhnya mereka sekarang daripada janji itu.

وَ إِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ لاَ تَعْبُدُوْنَ إِلاَّ اللهَ
"Dan (ingatlah) tatkala Kami membuat jan ji dengan Bani Israil, supaya jangan mereka menyembah melainkan kepada Allah. " (pangkal ayat 83).

Inilah pokok pertama janji, dipusatkan kepada Tauhid, yang sampai sekarang masih terpancang dengan teguhnya dalam yang dinamai Hukum Sepuluh di dalam Taurat.

وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً
"Dan terhadap kedua ibu-bapak hendaklah berbuat baik. "

Inilah janji yang kedua; yakni sesudah menyembah Allah hendaklah berkhidmat, berbuat baik kepada kedua ibu-bapak. Karena dengan rahmat dan karunia Allah , kedua ibu-bapak telah menumpahkan kasih kepada anak, mendidik dan mengasuh. Terutama di waktu belum dewasa, tidaklah sanggup si anak menempuh hidup dalam dunia ini kalau tidaklah kasih sayang dianugerahkan Allah kepada ayah dan bunda.

وَ ذِي الْقُرْبَى
"Dan juga kepada keluarga yang hampir. "

Yaitu saudara, paman, saudara ayah dan saudara ibu, nenek laki-laki dan nenek perernpuan, pendeknya semua yang bertali darah.

Di bawah perlindungan Allah, seorang anak telah hidup dalazn asuhan ibu-bapak, di dalam rumah tangga yang berbahagia. Dan rumah tangga itu bertali-tali dengan keluarga yang lain, sehingga timbullah kekeluargaan besar, yang berupa suku, kabilah dan kaum. Maka tidaklah bisa seorang hidup sendiri dan hidup hanya dengan ibu-bapak atau dengan anak dan istri saja.

Semua ada pertaliannya. itulah yang membentuk masyarakat besar, berupa negeri dan negara. Maka memelihara hubungan yang balk dengan keluarga itupun menjadi salah satu janji penting Bani lsrail dengan Tuhan.

وَ الْيَتَامَى وَ الْمَسَاكِيْن
"Dan anak-anak yatim dan orang-arang miskin. "

Anak yatim, yakni anak yang telah kematian ayah di waktu la masih kecil, hendaklah pula dikasihi, diperlakukan dengan balk, diasuh dan dididik. Karena dengan kematian ayahnya, tidaklah sanggup ibunya saja mengasuhnya sendiri, apatah lagi bila ibu itu telah bersuami yang lain pula.

Seorang yang beragama hendaklah turut memikirkan anak yatim , turut memelihara dan mendidiknya. Kalau dia menerirna waris kekayaan besar dari ayahnya, maka tolonglah pelihara sehingga kekayaan pusakanya itu dapat dipergunakannya dengan baik setelah dia dewasa.

Apatah Iagi kalau dia miskin; sudilah berkurban buat dia, orang miskinpun janganlah sampai dibiarkan melarat. Hendaklah yang kaya memikirkan nasibnya, menolongnya.

Tolonglah usahakan dan carikan jalan supaya dia dapat berusaha pula melepaskan dirinya dari kemiskinan.

وَ قُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْناً
"Dan hendaklah mengucapkan perkataan yang baik kepada sesama manusia. "

Maka selain daripada sikap baik kepada ibu-bapak, kaum keluarga, anak-yatim dan fakir miskin, bercakaplah yang baik kepada sesama manusia. Bercakap yangbaik bukanlah berarti bermulut manis saja. Itulah sebagian dari yang balk. Tetapi yang baik adalah lebih sangat luas dari itu. Hendaklah menanam jasa kepada sesama manusia , memberi nasehat dan pengajaran; amar ma'ruf, nahi munkar. Menyuruh berbuat baik, melarang berbuat munkar, menegur mana yang salah. Kalau sudah nampak perbuatan yang salah, jangan didiamkan saja, tetapi tegurlah dengan pantas. Yang berpengalaman hendaklah mengajar yang bodoh. Yang kurang ilmu hendaklah menuntut kepada yang pandai. Sehingga bersama-sama mencapai masyarakat yang lebih baik.

وَ أَقِيْمُوا الصَّلاَةََ
"Dan dirikanlah sembahyang. "

Untuk merapatkan hubungan dengan Tuhan Allah yang disembah itu, sebab sembahyang adalah ibadat. Sembahyang adalah satu usaha mematuhkan diri mendekati Tuhan, dan dengan sebab sembahyang maka segala janji janji yang tersebut tadi dapatlah dipegang teguh:

وَ آتُوا الزَّكَاةَ
"Dan keluarkanlah zakat. "Jangan bakhil. Sebab zakat artinya ialah pembersihan.

Membersihkan hati sanubari daripada penyakit bakhil, membersihkan jiwa daripada diperbudak harta, dan membersihkan hubungan di antara yang kaya dengan yang miskin, sehingga timbul kasih-sayang yang mampu atas yang miskin dan timbul pula kasih ­sayang dan cinta yang miskin kepada yang mampu. Hapus rasa benci dari si kaya dan hilang rasa dendam dari si miskin.

Semua itulah janji yang telah diikat di antara Tuhan dengan Bani Israil, tercatat di dalam kitab Taurat , diperingat berulang-ulang oleh Nabi Musa a.s. dan Harun a.s. sebelum mereka meninggal dan diteruskan memperingatkannya oleh Nabi Yusya' a. s. seketika dia telah dilantik oleh Tuhan meneruskan pimpinan Bani Israil setelah kedua Nabi yang berjasa itu meninggal.
Tetapi

ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ
"kemudian berpaling kamu. "

Satu demi satu janji itu kamu mungkiri. Perintah Allah dilanggar. Dia dipersekutukan dengan yang lain, kadang-kadang dengan harta dan kekayaan, pangkat dan kedudukan. Anak-anak telah banyak yang mendurhakai orang tua, kaum keluarga dekat sudah tak diperdulikan, sehingga silaturrahmi menjadi putus. Anak yatim dibiarkan terlantar, fakir miskin dibiarkan kelaparan, nasihat ­menasihat di antara sesama manusia tidak diperdulikan lagi, sehingga maksiat memuncak, sembahyang dilalaikan, zakat tidak keluar.

إِلاَّ قَلِيْلاً مِّنكُمْ
"Kecuali sedikit diantara kamu. "

Artinya sebagai juga terdapat dalam setiap agama, di antara yang durhaka masih ada yang insaf, tetapi sedikit. Katanya tak didengar orang lagi, malahan kadang-kadang dicemoohkan karena tidak pandai menyesuaikan diri;

وَ أَنْتُمْ مِّعْرِضُوْن
" padahal kamu tidak memperdulikan. " (ujung ayat S3).

Sehingga kebebasan agama itu telah hilang, hanya tinggal namanya.

Inilah yang diperingatkan Tuhan kepada Nabi kita Muhammad s.a.w, yaitu pada dasarnva agama yang dibawa Nabi Musa a.s. kepada Bani Israil itu adalah agama yang murni dan balk. Tuhan tidak menyia-nyiakan mereka, segala yang patut dikerjakan sudah dibuat menjadi janji. Maka jika sekarang, yaitu di jaman ayat turun , Bani Israil banyak yang ingkar, bukanlah karena agama mereka yang tidak lengkap, tetapi merekalah yang telah meninggalkan segala janji itu.

Niscaya ayat inipun menjadi kesan pulalah bagi umat Muhammad. Sebab janji Tuhan dengan Bani Israil itu , janji itu juga yang diulang kembali dengan kita. Intisari Agama Islam pun adalah itu; menyembah Allah Yang Tunggal, menghormati ibu-bapak , membela keluarga , membela anak-anak yatim dan fakir miskin , bersikap baik kepada sesama manusia , sembahyang dan berzakat. Dapatlah kiranya kita membanding-banding dengan hidup kita sendiri; sudahkah agaknya peringatan Tuhan tentang Bani Israil ini patut dijadikan peringatan bagi kita ? Apakah bukan kita telah berpaling ? Dan hanya tinggal sedikit yang setia memegang janji ?

Mari kita camkan. Supaya jangan seenaknya saja membawanya untuk Bani Israil, padahal ayatnya tinggal menjadi pusaka pedoman hidup kita.



  وَ لَقَدْ آتَيْنَا مُوْسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِن بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَ آتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَ أَيَّدْنَاهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيْقاً كَذَّبْتُمْ وَ فَرِيْقاً تَقْتُلُوْنَ

(87) Dan sesungguhnya telah Kami berikan Kitab kepada Musa dan Kami iringi dibelakangnya dengan beberapa Rasul, dan telah Kami berikan kepada Isa anak Maryam keterangan­keterangan dan Kami sokong dia dengan Ruhul Qudus.
Maka apakah setiap datang kepada kamu seorang Rasul dengan yang tidak sesuai dengan hawa-nafsu kamu, kamupun menyornbong ? Maka sebagian kamu men­dustakan dan sebagian kamu membunuh.


وَ قَالُوْا قُلُوْبُنَا غُلْفٌ بَل لَّعَنَهُمُ اللهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيْلاً مَّا يُؤْمِنُوْنَ

(88) Dan mereka berkata : Hati kami tertutup ! Bukan ! `I'ctapi mereka telah dikutuki oleh Allah dari sebab kufur mereka, rnaka sedikitlah mercka yang beriman..


وَ لَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِنْدِ اللهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَّا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهِ فَلَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْكَافِرِيْنَ

(89) Dan tatkala datang kepada mereka Kitab dari sisi Allah , membenarkan bagi apa yang serta mereka, padahal pernahlah mereka dahulu memohonkan kemenangan atas orang-orang yang kafir. Maka tatkala telah datang kepada mereka apa yang telah mereka kenal itu merekapun tidak percaya kepadanya; maka kutuk Allah­lah atas orang-orang yang kafir .


بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوْا بِمَا أَنْزَلَ اللهُ بَغْياً أَنْ يُنَزِّلَ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ فَبَآؤُوْا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ وَ لِلْكَافِرِيْنَ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ 

(90) Alangkah buruknya harga yang dengan itu mereka menjual diri mereka, bahwa rnereka kafiri apa yang diturunkan Allah karena dengki, bahwa diturun­kan Allah dari karuniaNya ke atas barang siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba­Nya. Maka patutlah mereka itu kena murka diatas murka. Dan bagi orang yang kafir adalah azab yang menghinakan.


وَ إِذَا قِيْلَ لَهُمْ آمِنُوْا بِمَا أَنْزَلَ اللهُ قَالُوْا نُؤْمِنُ بِمَآ أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَ يَكْفُرُوْنَ بِمَا وَرَاءهُ وَ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُوْنَ أَنبِيَاءَ اللّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُم مُّؤْمِنِيْنَ 

( 91) Dan apabila dikatakan kepada mereka : Percayalah kepada apa yang diturunkan Allah. Mereka berkata : Kami percaya kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kami tidak hendak percaya kepada. apa yang di­belakangnya. Padahal dia itu adalah kebenaran, mem­benarkan apa yang ada serta mereka. Katakanlah : Maka mengapa kamu bunuh Nabi­-nabi Allah dahulunya , jikalau kamu memang beriman ?



Kalau rnereka insafi akan kebenaran, tidaklah patut mereka berlarut-larut menentang Rasulullah s.a.w :

وَ لَقَدْ آتَيْنَا مُوْسَى الْكِتَابَ
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan Kitab kepada Musa. "
Yaitu Kitab Taurat yang mereka pusakai itu.

وَقَفَّيْنَا مِن بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ
"Dan Kami iringi di belakangnya dengan beberapa Rasul." (pangkal ayat 87).

Banyaklah Rasul-rasul yang mengiringi ke­datangan Musa, menegakkan Syariat Taurat itu. Daud a. s., Sulaiman a.s., Daniel a.s. dan Yasy'iya a.s., Armiya a.s., Hazqil a.s., Zakariya a. s. dan putranya Yahya a. s., dan lain-lain; semuanya itu adalah Rasul­ rasul kepada Bani Israil dan dari kalangan Bani Israil sendiri; pendeknya kayalah mereka dengan kedatangan Nabi-nabi dan Rasul ­rasul.

وَ آتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ
"Dan telah Kami berikan kepada Isa anak Maryam keterangan­ keterangan. "

Yaitu mu'jizat-mu'jizat yang besar, sebagai menyembuhkan orang sakit kusta dengan izin Allah, menghidupkan orang rnati dengan izin Allah , menyalangkan kembali mata orang yang telah buta dengan izin Allah.

وَ أَيَّدْنَاهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِ
"Dan Karni sokong dia dengan Ruhul Qudus. "

Yaitu Roh Kesucian,. Setengah ahli tafsir mengatakan bahwa Ruhul Qudus itu ialah Malaikat Jibril dan tengahnya lagi mengatakan bahwa Roh Isa itu sendiri disuci-bersihkan Tuhan. Nabi kita Muhammad s.a.w pernah mendoakan kepada Tuhan agar Hasan bin Tsabit, syair beliau disokong dengan Ruhul Qudus.

Maka semua Rasul itu, sejak Musa sampai Isa dengan Kitab yang mereka bawa keterangan-keterangan, yang rnereka perlihatkan semuanya adalah untuk Bani Israil. Tetapi tidak ada di antara Rasul dan Nabi itu yang tidak mendapat gangguan dari mereka demikian juga.. Sebab itu datanglah pertanyaan tempelak Tuhan:

أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيْقاً كَذَّبْتُمْ وَ فَرِيْقاً تَقْتُلُوْنَ
"Muka apakah setiap datang kepada kamu seorang Rasul dengan tidak sesuai dengan hawa-nafsu kamu, kamupun menyombong ? Maka sebagian kamu rnendustakan dan sebagian kamu membunuh. "( ujung ayat 87).

Sukarlah bagi Bani Israil , sampaipun kepada jaman kita ini buat mengelakkan diri dari tempelak Tuhan yang seperti ini. Sebab di dalam kitab-kitab mereka sendiri bertemu catatan itu. Bahkan Nabi Musa sendiri seketika dekat ajalnya diperingatkan oleh Tuhan bahwa sepeninggal dia mati kelak, kaumnya ini akan menyembah dewa-dewa dan akan melanggar segala janji mereka.

Di dalam Zaburnya Nabi Armiya a.s. yang sampai sekarang ada di dalam kumpulan `"Perjanjian Lama" kita membaca ratap tangis Nabi Armiya a.s., dan kita membaca penyesalan Hazqil a.s. dan peringatan Yasy'iya a.s atas bahaya negeri mereka dilanda habis aleh bangsa Babil.

Kedatangan Isa a1-Masih pun tidak mereka terima dengan baik, dan mereka menuduhnya anak di luar nikah. Maka disebutlah kejahatan-kejahatan rnereka itu, bahwa sebagian dari mereka mendustakan setiap Nabi dan Rasul yang datang dan sebagian mereka pula, membunuh Nabi, atau turut mempermudah terjadinya pembunuhan itu, sebagai yang dilakukan kepada Nabi dua beranak Zakariya yang telah sangat tua dengan putranya Yahya yang telah jadi Rasul di usia muda remaja. Bahkan ada riwayat, tidak kurang dari lima puluh atau tujuh puluh orang Nabi Bani Israil yang dibunuh oleh kaumnya sendiri.

وَ قَالُوْا قُلُوْبُنَا غُلْفٌ
"Dan mereka berkata: Hati kami tertutup. " (pangkal ayat 88).

Dengan terus-terang karena sombongnya, mereka mengatakan kepada Rasulullah s.a.w seketika datang tempelak-tempelak semacam ini bahwa hati mereka tertutup. Artinya pengajaran dari siapapun tidak akan masuk lagi, lalu disambut Tuhan:

بَل
"Bukan!" Bukan hati mereka yang tertutup.

لَّعَنَهُمُ اللهُ بِكُفْرِهِمْ
"Tetapi mereka telah dikutuki oleh Allah dari sebab kufur mereka."

Sebenarnya hati mereka bisa baik kembali, tetapi sayang telah mereka sumbat sendiri hati itu dengan kufur, laknat Allah datang:

فَقَلِيْلاً مَّا يُؤْمِنُوْنَ
"Maka sedikitlah mereka yang beriman. " (ujung ayat 88).

Yang sedikit itulah yang menggabungkan dirinya kepada Islam, seperti Abdullah bin Salam dan beberapa orang yang dapat dihitung dengan jari.

Setengah tafsir mengatakan arti ghulfun bukanlah hati tertutup. Tetapi menafsirkan hati kami adalah perbendaharaan, atau pura yang penuh dengan ilmu pengetahuan, kami tahu semua soal. Maka oleh karena mereka merasa segala tahu, tidaklah mereka mau lagi menerima kebenaran dari mana sajapun datangnya. Lalu disambut oleh jawaban wahyu itu, bukan hati mereka perbendaharaan segala ilmu, tetapi tempat simpanan segala kufur sehingga kutuk Tuhanlah yang mereka derita.

وَ لَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِنْدِ اللهِ
"Dan tatkala datang kepada mereka Kitab dari sisi Allah. "( pangkal ayat 89).

Yaitu Kitab Suci al-Qur'an, dan Kitab yang datang itu.

مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ
"Membenarkan bagi apa yang ada serta mereka. "

Yaitu membenarkan isi Taurat, tidak ada selisih pada pokok, sebab sama-sama berisi pengajaran Tauhid dan beberapa janji sebagai yang telah berkali-kali diterangkan di atas tadi.

وَ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْا
"Padahal pernahlah mereka dahulu memvhonkan kernenangarz atas vrung-orang yang kafzr. "

Sebab sudah disebutkan dalam Taurat akan datang seorang Rasul untuk menyempurnakan isi Taurat, dan itu sudah menjadi keyakinan mereka. Sehingga kalau mereka berhadapan dengan orang-orang kafir, yaitu orang-orang musyrikin itu akan disapu-bersih oleh Rasul itu. Malahan mereka kenal tanda­ tanda Rasul itu sebagaimana diisyaratkan di dalam Kitab mereka:

فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَّا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهِ
"Maka tatkala telah datang kepadu mereka apa yang telah mereka kenal itu, merekapun tidak percaya kepadanya. "
Menurut riwayat dari Ibnu Ishaq, yang diterimanya dari orang tua-tua Anshar, bahwa ayat ini turun ialah mengenai mereka dan orang Yahudi di Madinah, bahwa di jaman jahiliyah pernah kami orang Madinah mengalahkan mereka padahal kami belum memeluk Islam, dan mereka masih Ahlul-Kitab.

Meskipun telah kalah, tetapi pernah mereka mengatakan: Kini kami kalah, kelak akan diutus Tuhan seorang Rasul. Kalau Rasul itu datang , kami semua akan menjadi perrgikutnya. Masanya tidak lama lagi. Waktu itu kelak kamu semuanya ini akan kami sapu bersih, kami bunuh seperti terbunuhnya kaum Aad dan Iram.

Dari riwayat ini nyatalah bahwa di saat mereka pernah kalah perang dengan kafir-musyrik, mereka telah mengharapkan bahwa mereka akan mencapai kemenangan kembali jika Rasul itu datang ! Hal ini diingat benar oleh orang tua-tua Anshar di Madinah.
Sekarang Rasul itu telah datang. Tetapi apa jadinya ? Usahkan mereka bersedia jadi pengikutnya untuk berperang menegakkan agama bersama dia, bahkan mereka dustakan dan mereka kafir. Dan orang-orang yang mereka hinakan dahulu itulah yang menjadi pengikut Rasul itu.

فَلَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْكَافِرِيْنَ
"Maka kutuk Allahlah atas orang-orang yang kafir. " (ujung ayat 89).

Apabila kutuk laknat sudah datang, apa saja yang dikerjakan menjadi serba salah.

بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ
"Alangkah buruknya harga yang dengan itu mereka menjual diri mereka. " (pangkal ayat 90).

Itulah suatu penjualan diri dan penggadaian pendirian yang sangat rugi dan hina. Yaitu mempertukarkan kebenaran dengan kebatilan,

أَنْ يَكْفُرُوْا بِمَا أَنْزَلَ اللهُ بَغْياً
"Bahwa mereka kafiri apa yang diturunkan Allah, karena dengki. "

Inilah sebab yang utama, yaitu dengki, sehingga kesesatan jadi berlarut-larut , Apa yang mereka dengkikan ?

أَنْ يُنَزِّلَ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
" Bahwa diturunkan Allah dari karuniaNya ke atas barang siapa Yang Dia kehendaki dari hamba­ hambaNya. "

Dengki ! Mengapa Nabi atau Rasul yang ditunggu itu tidak timbul dari kalangan mereka ?
Mengapa dari orang Arab ? Mengapa dari Bani Ismail , tidak dari Bani Israil ? Padahal memilih seorang Nabi atau Rasul adalah kehendak Tuhan , dan Tuhan pun tidak pernah menjanjikan kepada mereka bahwa Nabi atau Rasul itu hanya akan diangkat Tuhan dari Bani Israil saja.

Karena kedengkian itu tidaklah mereka terima lagi syariat yang dibawanya, walaupun isi syariat itu cocok sesuai dengan isi Kitab mereka. Lantaran demikian:

فَبَآؤُوْا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ
"Maka patutlah mereka itu kena murka di atas murka. "

Kena murka Allah berlipatganda, karena kekufuran mereka berlipatganda pula. Dengan memungkiri Muhammad s.a.w. mereka sudah dapat satu kemurkaan, dan oleh karena Taurat menyuruh menyambut dan beriman kepadanya mereka ingkari pula., dapatlah mereka murka yang kedua.

وَ لِلْكَافِرِيْنَ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ
"Dan bagi orang yang kafir adalah azab yang menghinakan. " (ujung ayat 90).

Maka dengan kalimat yang dipakai Tuhan bahwa bagi orang yang kafir adalah azab yang menghinakan : tidak pandang bangsa, dia. Bani Israil atau golongan yang lain. Karena hukum keadilan Tuhan itu berlaku dimana-mana kepada siapapun yang melanggar. Supaya orang lain yang membacanya jangan hanya menghinakan orang Yahudi yang bersalah, tetapi hendaklah membawa i'tibar bagi dirinya sendiri, supaya menjauhi kekufuran.

وَ إِذَا قِيْلَ لَهُمْ آمِنُوْا بِمَا أَنْزَلَ اللهُ
"Dan apabila dikatakan kepada mereka : Pcrcayalah kepada apa yang diturunkan Allah. " (pangkal ayat 91).

Terimalah al-Qur'an dengan hati terbuka, karena isinya adalah lanjutan juga daripada yang dibawa oleh Nabi-nabimu yang dahulu itu.

وَرَاءهُ قَالُوْا نُؤْمِنُ بِمَآ أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَ يَكْفُرُوْنَ بِمَا
"Mereka berkata: Kami (hanya) percaya kepada apa yang diturunkan kepada kami; dan kami tidak hendak percaya kepada apa ( yang diturunkan ) di belakangnya. "

Taurat itu sudah cukup bagi kami.

وَ هُوَ
"Padahal dia itu " yaitu al--Qur'an yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w; itu

الْحَقُّ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَهُمْ
"adalah kebenenaran , membenarkan apa yang ada serta mereka."

Kalau mereka jujur tentu hendaknya mereka terima dan iman, sebab kebenaran hanya satu.:Tetapi hati mereka tertutup oleh dengki dan hawa-nafsu.

قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُوْنَ أَنبِيَاءَ اللّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُم مُّؤْمِنِيْنَ
"Katakanlah: Menggapa kamu bunuh Nabi-nabi Allah dahulunya , jikalau kamu memang beriman ? " (ujung ayat 91).

Oleh sebab itu teranglah bahwa dakwaanmu bahwa kamu hanya beriman kepada yang diturunkan kepada kamu saja , dan tidak mau menerima yang datang kemudian , pun adalab bohong semata-mata .

Sebab kalau benar itu saja yang kamu mau percayai , tidaklah akan kejadian beberapa Nabi mati karena kamu bunuh. Tidak akan kejadian pembunuhan atas Utusan Allah kalau memang kamu beriman kepada Kitab yang kamu pegang itu.Inilah satu tangkisan yang amat jitu terhadap mereka.