Tafsir Al-Azhar Surat Al Furqan - 025



تَبارَكَ الَّذي نَزَّلَ الْفُرْقانَ عَلى‏ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعالَمينَ نَذيراً
(1) Maka berkatlah Tuhan, yang telah menurunkan al-Furqan kepada hambaNya, untuk memberi peringatan kepada seluruh Alam.


ٱلَّذي لَهُ مُلْكُ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَداً وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَريكٌ فِي الْمُلْكِ وَ خَلَقَ كُلَّ شَيْ‏ءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْديراً
(2) Tuhan, yang bagiNyalah Kerajaan seluruh langit Jan bumi, dan tidak Dia mengambil anak, dan tidak ada padaNya sekutu dalam KerajaanNya, dan Dialah yang menjadikan segala sesuatu, lalu diukumya menurut ukuran tertentu.


وَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لا يَخْلُقُونَ شَيْئاً وَ هُمْ يُخْلَقُونَ وَلا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلا نَفْعاً وَلا يَمْلِكُونَ مَوْتاً وَلا حَياةً وَلا نُ
(3) Dan mereka ambil selain dan Dia tuhan-tuhan, yang tidak sanggup menciptakan sesuatu pun, malahan merekalah yang di ciptakan, dan tidak ada kekuasaan mereka terhadap diri mereka sendin untuk mendatangkan bahaya ataupun manfaat, dan tidak mereka dapat rhenguasai maut, tidak pula dapat menguasai hayat dan tidak pula menguasai kebangkitan kembali.


وَ قالَ الَّذينَ كَفَرُوا إِنْ هَذا إِلاَّ إِفْكٌ افْتَراهُ وَ أَعانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ فَقَدْ جاؤُوا ظُلْماً وَ زُورا
(4) Dan berkata orang-orang yang menampik kebenaran itu: ini tidak lain hanyalah kebohongan yang hanya diada-adakan saja , dan dalam hal itu dia dibantu oleh kaum lain. Sesungguhnya orangg-orang ini telah datang dengan sikap yang salah dan sombong.


وَ قالُوا أَساطيرُ الْأَوَّلينَ اكْتَتَبَها فَهِيَ تُمْلى‏ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَ أَصيلاً
(5) Dan mereka katakan pula , ini hanyalah dongeng-dongeng purbakala yang dimintanya orang menuliskan, lalu dibacakan kepadanya pagi dan petang .


قُلْ أَنْزَلَهُ الَّذي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ إِنَّهُ كانَ غَفُوراً رَحيماً
(6) Katakan olehmu Dia (al-Furqan) ini diturunkan langsung oleh Yang Maha Mengetahui rahasia di sekalian langit dan di bumi.Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.


Al-Furqan Sebagai Peringatan

Di ayat yang pertama ditegaskan oleh Tuhan betapa besar berkat yang dilimpahkan kurniaNya kepada perikemanusiaan seluruhnya oleh karena telah diturunkan al-Furqan kepada hambaNya , yaitu Nabi Muhammad saw

Supaya hamba kekasih itu menyampaikannya pula sebagai peringatan kepada seluruh alam. Di dalam ayat ini dijelaskan oleh Tuhan bahwa hambaNya yang dikasihiNya itu tidaklah bertindak atas kehendak sendiri menyebarkan peringatan kepada isi alam. Dia hanya semata-mata pelaksana yang diperintah dan dititahkan Tuhan buat menyampaikan.

Hamba yang terpilih itu membawa perintah, yaitu al-Furqan, nama yang lain daripada al-Quran. Jika al-Quran berarti bacaan, al-Furqan berarti pembeda pemisah. Artinya, apabila orang telah menerima al-Furqan itu memahamkan dan mengamalkan, niscaya dapatlah dia membedakan di antara yang baik dengan yang batil, yang salah dengan yang benar. Al-Quran bukan semata di - dengar, tetapi dibaca dan difahamkan, dimasukkan ke dalam hati. Apabila dia telah lekat di dalam hati, dia akan meninggalkan kesan, yaitu cahaya (nur) petunjuk, sehingga dia tidak perlu kepada petunjuk lain lagi.

Saiyidina Umar bin Khathab setelah memeluk agama Islam dan memahami isi al-Quran, dapatlah dia membedakan yang benar dengan yang salah, yang hak dengan yang batil, sehingga berkali-kali telah terjadi, dia memberikan pertimbangan kepada Rasulullah dalam beberapa perkara, yang kemudian pendapatnya itu sesuai dengan wahyu yang turun. Oleh sebab itu dia diberi 0leh Nabi s.a.w. gelar “al-Faruq" adalah lanjutan daripada “al-Furqan”, sama rumpun artinya, yaitu kesanggupan membedakan buruk dan baiknya sesuatu.

Tegasnya, moga-moga dengan berpedoman kepada “al-Furqan" seseorang akan dapat mencapai "al-Faruq". -Apatah lagi yang membawa al-Furqan itu ialah ‘Abdihi, HambaNya sendiri. Segala kita makhluk ini pada hakikatnya ialah hamba Tuhan, tidak ada yang terlepas.

Tetapi ada orang yang sadar akan perhambaannya dan ada pula yang tidak sadar. Orang yang sadar bahwa dirinya itu adalah hamba dari llahi, sanggup memikul perintah berat dipikul, ringan dijinjing. Ditempuhnya segala kesulitan dan diatasinya segala rintangan karena mengharap ridha daripada Tuhan tempat dia memperhambakan din itu. Orang-orang yang seperti inilah yang diberi kehormatan 0leh Tuhan, lalu dipanggilkan dianya “HambaKu".

Apabila kita perhatikan dengan seksama, tidaklah selalu Tuhan memanggilkan utusanNya itu dengan panggilan ‘Abdun (hamba). Gelar itu hanya dipanggilkan sekali-sekali, yaitu di saat memikul tugas yang berat dan panting.

Apabila kita baca dengan seksama dan mendalam, maka dalam kata ‘abdun itu tersimpan perlindungan dan jaminan Tuhan atas RasulNya, Isra’ dan Mi‘raj ke alam Malaikat, menjemput syariat sembahyang, panggilan ‘Abdihi itulah yang diberikan kepada- nya. Dan apabila disebutkan tugasnya sebagai pembawa titah dan wahyu, sebagai tersebut di surat yang kita bicarakan sekarang, atau sebagai disebutkan dalam Surat al-Kahfi ayat 1, bahwa dia membawa Kitab (al-Quran) yang isinya tidak berbelit-belit, juga disebut panggilan sebagai “‘Abdun".

Dengan kata itu dia mendapat kehormatan tertinggi.Satu jiwa yang besar tidaklah mau tunduk kepada siapa pun di dalam alam ini.Sebab segala isi alam ini hanyalah makhluk sebagai kita juga. Jiwa ini hanya menghambakan dirinya kepada pencipta alam, kepada Khaliq bukan kepada makhluk.

Hanya jiwa yang demikian yang tahan dan sanggup memikul tugas , betapa pun beratnya, Hanya jiwa yang semacam inilah yang sanggup berdiri sembahyang tengah malam (tahajjud) sehingga sampai gatal dan semutan kakinya saking lama berdiri.

Dialah Rasulullah, ikutan kita.

Di dalam ayat ini juga sudah ditegaskan kewajiban Rasul itu. Rasul yang dipanggilkan “'Abdun" dan bangga dengan panggilan itu. Tugasnya ialah membawa wahyu dan memberi peringatan (nadzira). Wahyu yang bemama “al-Furqan"; Lil 'Alamina, kepada seluruh alam. Bukan hanya terbatas kepada suku Quraisy tetapi untuk sekalian suku. Bukan hanya terbatas untuk bangsa Arab, tetapi untuk sekalian bangsa dan bukan terikat pada suatu zaman tetapi buat seluruh zaman.

Setengah ahli tafsir berpendapat bahwasanya ‘Alamin itu meliputi akan seluruh alam ini, bukan manusia saja tetapi buat seluruh yang bemyawa. Dan bukan di bumi saja, bahkan meliputi seluruh langit dan bumi. Tetapi setengah penafsir yang menyatakan lagi bahwasanya yang dimaksud dengan 'Alamin ialah sekalian manusia saja.

Dan setengahnya lagi mengambil jalan tengah, lalu berkata bahwa yang dimaksud dengan Alamin ialah ats-tsaqaIaini, yaitu manusia dan jin. Bau-bau yang ditinggalkan oleh penafsir lama itu tidaklah perlu kita masukkan lagi ke dalam suasana sekarang. Yang terang ialah bahwa ketukan wahyu ialah atas akal dan budi, atas jalan fikiran dan pandangan hidup.

Meskipun berbeda bahasa yang dipakai manusia karena perbedaan iklim dan ruang atau masa, namun seluruhnya makhluk yang berakal selalu mencari kebenaran, selalu menginginkan yang baik dan tidak menyukai yang buruk.

Keinginan kepada kebenaran itulah yang diberi tuntunan dengan "al-Furqan". Dan meskipun makhluk Allah yang lain tidak menerima khithab (seruan) syariat, namun segala makhluk dapat dipergunakan oleh manusia di dalam daya hidupnya. Gunung didaki manusia mencari rahasianya, laut diseberangi mencari simpanannya, bahkan binatang dan burung-burung, tanam-tanaman dan kayu di hutan pun dipegang oleh tangan manusia dan dipergunakan.

Kalau jiwa manusia tidak dapat membedakan di antara yang baik dengan yang buruk, maka segala barang yang terpegang oleh tangannya akan terancam kebinasaan tidak membawa rahmat dan tidak membawa berkat. Oleh sebab itu jika yang dituju dengan ‘AIamin ialah manusia, maka perbaikan jiwa manusia itu akan berpcngaruh juga kepada alam lain di sekelilingnya.

Di ujung ayat ini diterangkan tugas itu dalam satu kata, yaitu nadziran memberi peringatan atas bahaya-bahaya yang akan menimpa jika kehendak Tuhan dilanggar. Kata nadziran bertimbalan dengan kata basyiran, memberi khabar kesukaan dan kegembiraan bagi orang yang patuh menuruti perintah Tuhan dan menghentikan larangannya. Maka nadziran itulah yang cocok dan tertonjol di sini, karena yang dihadapi ummat manusia yang lengah dan Ialai karena dipesona oleh kehendak-kehendak yang rendah, tersebab kegelapan fikiran (zhulm) dan kepalsuan (zur).


Kerajaan Tuhan

Di ayat 2 diterangkan kekuasaan dan kebesaran Tuhan Allah yang menurunkan al-Furqan dan mengutus hambaNya itu kepada seluruh alam. Dia adalah Tuhan yang menguasai seluruh langit dan bumi. Penguasa dari sekalian Penguasa Raja dari sekalian Raja, menaikkan dan menurunkan, memuliakan dan menghinakan.

KekuasaanNya adalah mutlak dan kekal. Alamat kekuasaan itu terasa apabila ilmu kita bertambah. Dengan ilmu pengetahuan alam dapatlah kita sedikit demi sedikit melihat kekuasaan yang mutlak itu.

Perjalanan matahari yang teratur detlk demi detik, persamaan terbit dan terbenamnya pada persamaan tanggal dan bulannya, sehingga satu detik pun tidak ada selisih, adalah bukti nyata dari kekuasaiannya. Dan apabila kita menambah ilmu pengetahuan kita tentang llmu Alam, llmu Bumi, llmu Tumbuh-tumbuhan dan sekalian cabang ilmu yang lain, bertambah nyatalah kekuasaan yang mutlak itu sehingga kian manusia dapat mengetahui suatu cabang ilmu, kian insaflah dia bahwa yang di-ketahuinya ini adalah perkara yang telah ada sejak berjuta tahun.

llmu pengetahuan manusia bukanlah menambah peraturan yang baru pada peraturan yang telah ada, melainkan hanya semata-mata telah mengetahui perkara yang tadinya belum diketahui.

Yang kedua, DIA tidak memungut anak, atau sebagai ditegaskan lagi dalam Surat al-lkhlas, tidak Dia beranak dan tidak Dia diperanakkan.Beranak dan berketurunan adalah suatu peraturan Tuhan di dalam alam supaya yang bemyawa itu sambung menyambung hidup. Orang seorang pasti mati apabila badan jasmani tidak kuat lagi menanting badan nafsani. Ayah me-
rindukan mendapat anak untuk menyambung hidupnya.

Bagaimana Tuhan Allah akan memerlukan sambungan kehidupan, padahal Dia hidup terus?
Dia tidak pemah lemah, sehingga mengharapkan bantuan ?
Kalau dalam satu ayat Tuhan menyatakan dirinya "Lam yalid”, tidak beranak karena Tuhan yang senantiasa Hidup tidak memerlukan adanya keturunan, maka dalam ayat ini disebut "Lam yat takhidz waladan", tidak memungut anak, tidak mengambil anak, atau cara sekarang ini tidak “mengambil anak pungut".

Tegas dalam ayat ini dinyatakan pendirian Islam, pcndirian yang disampaikan oleh Utusan Tuhan itu kepada seluruh alam. Suatu faham yang mengatakan Tuhan beranak atau Tuhan mengambil anak pungut, tidaklah dapat diterima oleh fikiran yang sihat. Yang ada hanyalah Tuhan Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan Kudrat lradatNya.

Nabi lsa yang dilahirkan tidak melalui jalan biasa, yaitu dengan perantaraan ayah, bukanlah anak Tuhan atau anak pungut Tuhan, sebagaimana Nabi Adam yang lahir di luar keayahan dan keibuan bukan anak Tuhan atau anak pungut Tuhan. lsa a.s. dan Adam a.s. adalah makhluk (dijadikan) sebagai yang lain pun makhluk.

Dan Dia pun tidak berserikat dan bersekutu dengan yang lain dalam kekuasaanNya yang mutlak itu. Persekutuan adalah alamat kelemahan. Persekutuan adalah gabungan dan beberapa kekuasaan, dan kekuasaan yang digabungkan sama-sama tidak penuh kekuasaan.

Kalau ada Tuhan sendiri yang menguasai langit dan ada Tuhan sendiri yang menguasai bumi, maka jelaslah Tuhan langit tidak sampai kekuasaannya ke bumi, dan Tuhan bumi tidak sampai kekuasaannya ke langit. Dan kalau mereka telah bersekutu, persekutuan adalah hasil dari kompromi, yakni sama-sama berjanji tidak akan mencampuri kekuasaan, dalam hal kedua-duanya sama-sama tidak puas dengan kekuasaan yang ada. Kalau dalam pemerintahan yang didirikan oleh manusia, temyata tidak lancamya (stabil) kalau ada kekuasaan, atau negara lain dalam negara, maka dalam kekuasaan seluruh alam tidak masuk di akal adanya dua kekuasaan.

Kalau di ujung dijelaskan lagi bagaimana Tuhan melaksanakan kekuasaanNya itu. Yaitu bahwa segala sesuatu diatur dan dihinggakan dcngan ukuran-ukuran dan peraturan-peraturan yang tertentu dan tetap yang sedikitnya tidak boleh berubah.

Dan apabila berubah sedikit saja pun, kehancuranlah yang akan menimpa, "runtuh sebuah, berkucaian semua".
A. Cressy Morison menulis dalam bukunya; “ Man Does Not Stand Alone " (Manusia tidak tegak sendiri).* Demikianlah di antara lain.

“Demikian banyaknya syarat-syarat yang diperlukan bagi keperluan hidup di bumi kita ini, sehingga secara Ilmu Pasti adalah tidak mungkin bahwa semua syarat itu pada suatu waktu dapat terwujud secara kebetulan saja pada tiap-tiap bumi dalam hubungan yang layak .

Oleh sebab itu mestilah ada suatu arah yang diperhitungkan di dalam alam ini. Andaikan hal ini benar, maka tentulah harus ada maksudnya;” Katanya selanjutnya: “Beberapa ahli falak menerangkan kepada kita bahwa kemungkinan dua buah bintang akan saling melewati dengan jarak yang demikian dekatnya, sehingga membangkitkan air pasang yang dahsyat
serta menimbulkan malapetaka, adalah dalam deret jutaan, sedangkan kemungkinan terjadinya suatu tubrukan adalah demikian kecilnya sehingga berada di luar perhitungan.

Namun salah satu teon-teori llmu Bintang mengatakan bahwa pada suatu ketika katakanlah duaribu juta tahun yang Iampau, sebuah bintang pemah bersilangan dengan matahari demikian dekatnya, sehingga menimbulkan air pasang yang hebat, sedangkan benda-benda berpelantingan ke ruang angkasa yang kita kenal sebagai planet, bagi kita alangkah besamya, akan tetapi di dalam dunia perbintangan tidak berarti. Di antara benda-benda yang berpelantingan ke luar tadi terdapat segumpal kosmos yang kemudian menjadi apa yang kita namakan bumi. Dalam dunia perbintangan ia tiada seberapa penting, sungguhpun begitu sepanjang pengetahuan kita dapat ditunjukkan sebagai yang terpenting.

Kita haus mendugakan bahwa bumi kita ini terdiri dan beberapa unsur yang terdapat pada matahari akan tetapi yang tidak ada di lain-lain tempat unsur-unsur ini berada di bumi dalam perbandingan prosentase terutama yang sepanjang mengenai permukaan bumi telah ditentukan dengan kepastian yang memuaskan. Ukuran besar bumi sekarang telah berkurang menjadi ukuran luas yang sangat permanen, sedangkan massanya sudah dipastikan orang.

Kecepatan mengelilingi matahari sangat tetap. Putaran pada sumbunya telah dipastikan orang dengan demikian cermatnya, sehingga perubahan sebanyak satu detik dalam satu abad akan berakibat perhitungan ahli-ahli falak akan menjadi kacau-balau. Bumi disertai oleh sebuah satelit yang kita kenal sebagai bulan, yang gerak-geraknya telah pula dapat ditetapkan orang, dan urutan perubahan-perubahannya berulang kembali dalam 18 tahun.

Sekiranya ukuran bumi ini lebih besar atau andaikata kecepatannya berlainan, maka letaknya akan jauh atau lebih dekat dengan matahari, dan keadaan yang sangat berlainan ini sangat berpengaruh atas segala macam hidup, termasuk ummat
manusia.

Demikian dalamnya pengaruh ini, sehingga keadaan bumi dalam salah satu dari kedua hal yang disebut tadi cukup berlainan dan yang sekarang , tidak akan mungkin ada hidup seperti yang kita kenal sekarang. Di antara semua planet sepanjang pengetahuan kita, bumi adalah satu-satunya yang memungkinkan adanya hidup, yang disebabkan oleh hubungannya dengan matahari .

Kemudian itu beliau mengemukakan pula hasil-hasil ilmiah yang menyatakan bahwa pada bintang-bintang seumpama Mercury atau Mars, ataupun bintang-bintang yang lain tidak mungkin terdapat kehidupan, kemudian beliau menyatakan pula tentang bumi.

"Bumi berputar pada sumbunya dalam waktu duapuluh jam, atau dengan kecepatan kira-kira seribu mil sejam. Misalnya ia berputar dengan kecepatan seratus mil sejam. Mengapa tidak boleh jadi ? Maka dengan demikian hari-hari siang dan malam hari akan berlangsung sepuluh kali lebih lama daripada sekarang. Pancaran panas matahari selama musim kemarau akan membakar segala tumbuh-tumbuhan selama hari siang yang lama itu, sedangkan pada malam hari, dalam keadaan yang demikian itu, setiap tunas akan membeku.

Matahari yang merupakan sumber segala kehidupan, pada permulaannya mempunyai derajat panas tertinggi 12,000 derajat Fahrenheit, dan jauh letak bumi kita ini dan matahari itu adalah demikian rupa , sehingga “api abadi” itu menjadi cukup untuk sekedar memanaskan kita dan tidaklah terlampau panas.

Derajat panas ini sungguh mengagumkan, dan selama jutaan tahun perubahan perubahan adalah demikian kecilnya, kita kenal ini dapat berlangsung terus. Sekiranya derajat panas di bumi ini rata-rata berubah sebanyak lima puluh derajat dalam satu tahun, maka segala macam tumbuh-tumbuhan akan mati, hangus atau menjadi beku, demikian juga manusia.

Bumi beredar mengelilingi matahari dengan kecepatan delapan belas mil tiap detik. Andai kata kecepatan edaran ini berlainan, katakanlah enampuluh atau empatpuluh mil satu detik, jarak antara bumi dengan matahari akan terlampau jauh atau terlampau dekat bagi kehidupan kita untuk berlangsung terus.

Tentang sempitnya daerah dan ruang untuk hidup beliau berkata: "Jarang sekali kita sadari bahwa segala hidup adalah terbatas pada ruang di antara salju-salju di puncak-puncak gunung dengan panas perut bumi. Dibandingkan dengan garis tengah bumi, maka kesempitan daerah tadi adalah setipis setengah halaman dari sebuah buku yang mempunyai 1,000 halaman. Sejarah semua makhluk hanya tertulis di atas permukaan setipis kertas itu.

Seandainya segala udara yang akan menjadi cair, ia akan menggenangi bumi sedalam tiga puluh lima kaki atau sebagian dari enamratus ribu dari jarak ke pusat bumi, suatu penyesuaian yang tepat.

Tentang bulan beliau berkata :
“Jauh letak bulan adalah 240,000 mil, dan pasang naik dan pasang surut air yang terjadi dua kali sehari adalah merupakan ingatan yang halus bahwa bulan itu ada. Di beberapa tempat air pasang di samudera sampai mencapai tinggi enampuluh kaki, bahkan kulit bumi dua kali mclengkung keluar sebanyak beberapa inci yang disebabkan oleh tarikan bulan.

Segala keadaan nampaknya biasa saja, demikian rupa sehingga sedikit pun kita tidak merasakan kekuatan dahsyat yang mengangkat seluruh daerah samudera sampai beberapa kali tingginya serta melengkungkan bumi, yang kelihatannya begitu
kokoh. Mars mempunyai bulan kecil hanya enam ribu mil jauhnya daripadanya.

Sekiranya bulan kita itu, misalnya tidak sejauh sekarang, akan tetapi hanya lima ribu mil saja, maka air pasang akan demikian hebatnya, sehingga segala tanah-tanah rendah yang terdapat di semua benua akan digenangi air bah yang demikian dahsyat sehingga gunung-gunung pun akan segera dihanyutkan, dan barangkali tidak akan ada benua yang akan timbul dari dasar yang dalam itu cukup cepat untuk kembali pada keadaan seperti sekarang.

Bumi akan pecah remuk dalam bencana malapetaka ini dan arus-arus udara tiap hari akan menimbulkan angin taufan.
Seandainya semua benua terhapus 0leh air, maka dalam air di seluruh bumi ini akan rata·rata satu setengah mil dan tak mungkin akan ada hidup lagi.

Kecuali di dasar samudera yang tak terduga berapa dalamnya, yang di sana makhluk dapat mancari makanannya séndiri, sampai dia lenyap pula. llmu pengetahuan kelihatannya menyokong teori yang mengatakan bahwa keadaan ini memang pemah terjadi pada zaman kacau-balau purbakala, sebelum bumi menjadi padat.

Menurut hukum-hukum yang diakui, air-air pasang tadilah yang telah mendorong bulan makin lama makin jauh letaknya dan sementara itu pun memperlambat kecepatan edaran bumi, sehingga hari-hari yang dahulu lamanya enam jam, sekarang telah menjadi 24 jam.

Dengan demikian bulan yang baik budi itu sekarang telah menjadi kesenangan bagi mereka yang sedang berkasih-kasihan dan mempunyai daya harapan akan tetap tinggal dalam keadaan begitu selama ribuan jutaan tahun. Ahli-ahli falakiyah juga percaya bahwa jauh di masa hadapan berdasarkan dalil-dalil falak, bulan akhimya akan kembali kebumi, dan akan meletus apabila sudah cukup mendekati dunia dan menghiasi bumi kita yang mati itu dengan cincin-cincin seperti keadaannya semula dengan Satumus!”

Akhirnya sarjana Morison berkata: “Dari kekacauan percampuran unsur-unsur yang terlepas dari matahari yang berderajat duabelas ribu hawa panasnya , dan dilontarkan ke ruang angkasa yang luas dengan kecepatan seberapa saja yang dapat kita khayalkan, timbullah sistem matahari kita ini.Dari kekacauan timbullah keadaan yang teratur, demikian baiknya, sehingga tempat yang akan dihiasi oleh tiap-tiap bagian .pada setiap waktu dapat dirasakan sampai kepada satu detik . Keseimbangan keadaanini adalah demikian sempumanya, sehingga tidak berubah-ubah dalam waktu seribu juta tahun dan tetap demikian sampai hari kemudian.

Dan semuanya itu dikendalikan oleh hukum. Dengan hukum ini pula maka keadaan teratur ini sebagaimana yang kita lihat pada sistem matahari, di tempat lain berulang kembali .." Sekian kita salin tinjauan A. Cressy Morison.

Bacalah buku ini dengan seksama sampai tamat, niscaya akan anda Iihat dan rasakan bahwa segala sesuatu yang amat teratur, tersusun dan seimbang didalam alam ini tidaklah mungkin terjadi sendirinya dan manusia pun tidaklah sunyi sepi hidup dalam alam ini:

Benar-benarlah Tuhan .(Menjadikan segala sesuatu, lalu diukumya menurut ukuran tertentu).

Apabila kita turuti tuntunan Islam di dalam kehidupan moden ini, lalu kita tuntut ilmu pengetahuan alam dengan seksama akan lebih mengertilah kita apa yang dimaksud dengan kalimat “ Takdir ’ ? , yang akan jauh lebih maju artinya dalam tanggungan kita, daripada faham kita yanglama-lama.

Dan setelah kita baca dan kita rasakan isi ayat yang kedua itu , dapatlah jiwa kita mengerti maksud ayat ketiga selanjutnya:

"Dan mereka ambil selain DIA (Allah) menjadi tuhan-tuhanan, yang tidak sanggup menciptakan suatu pun, malahan merekalah yang diciptakan dan tidak ada kekuasaan mereka terhadap diri mereka sendiri untuk mendatangkan bahaya ataupun manfaat , dan tidaklah mereka itu menguasai maut , tidak pula menguasai hayat dan tidak pula menguasai hari kebangkitan kembali."

Apabila kita renungkan alam dengan pengetahuannya yang luas , sebagai sejemput kecil telah dibayangkan oleh Morison tadi, berfikirlah kita: Segala isi cakrawala, bulan, bumi, bintang-bintang Satumus dan Venus, Mars dan Jupiter dan berjuta bintang yang lain, semuanya diatur menurut suatu HUKUM yang telah ditentukan (ajalin musamman), tidak boleh keluar dari garis itu walaupun sedetik, sehingga semuanya tidak ada yang berkuasa atas dirinya; Maka betapa lagi makhluk yang lain,

Baik manusia sendiri yang jaminannya untuk hidup hanya pada setengah halaman dari buku tebal 1,000 halaman ? Ataupun makhluk yang lain ? , Alangkah bodoh manusia yang menuhankan sesuatu yang selain Allah ! Berhala yang mereka sembah tidak dapat menjadikan sesuatu pun tidak dapat menciptakan dirinya sendiri! Berhala itu hanya ciptaan belaka dari manusia , dan manusia adalah ciptaan Tuhan, dalam daerah terbatas di bumi yang sempit.

Di ayat keempat dan kelima dikatakan bahwa orang-orang yang kafir , yang menampik kebenaran dengan serta-merta telah menolak seruan kebenaran yang dibawa oleh Nabi. Mereka dakwakan bahwasanya segala yang diserukan oleh Rasul Allah itu hanya kata bohong yang dibuat-buat belaka , dan dalam kebohongan itu dia dibantu oleh suatu kaum dari tukang-tukang dongeng , dikumpulnya dongeng itu lalu dihafalkannya. Dan dongeng itulah yang diulang-ulangkan pagi dan petang.

Di ujung ayat keempat dinyatakan bahwa orang yang pada sikap pertama (a priori) telah bersikap menampik kebenaran (kafir), selalu memilih jalan gelap (zhulm) untuk mempertahankan keingkarannya. Dia tak mau mengerti , dia tidak dapat diajak berunding. Dirinya didindingnya dengan kepalsuan (zhur).

Sebab itulah maka agama Islam selalu menghasung ummat manusia supaya mempergunakan otak berfikir dan menyelidik. Agama lslam menyuruh dan menggalakkan setiap orang menuntut ilmu pengetahuan.

Karena hanya orang yang berilmu jualah yang dapat terbebas daripada zhulm (kegelapan sikap) dan zhur (kepalsuan).
Sesudah itu datanglah ayat yang keenam dengan secara lemah-|embut :

“Katakanlah olehmu, hai utusanKu , bahwasanya yang menurunkan segala wahyu yang Furqan ini ialah Allah. Yaitu Tuhan Yang Maha Mengetahui akan segala rahasia yang terkandung di seluruh langit dan di bumi pun. Dan Allah Yang Maha Mengetahui akan segala rahasia langit dan bumi itu adalah mempunyai ayat Pemberi Ampun dan Penyayang atau Pemurah."

Sikapmu yang penuh dengan kegelapan dan kepalsuan, lain tidak hanyalah karena semata hatimu belum terbuka.
Kalau mata hati telah terbuka , engkau hanyalah semata makhluk kecil saja, yang hidup di bawah kasihan Tuhan. Kalau kamu telah menginsafi ini, dan kamu pun surut ke dalam garis , kebenaran, maka segala dosa keingkaranmu selama ini akan diampuni. Tuhan amat kasihan melihat kamu meraba-raba di dalam gelap-gulita hidup , tidak melihat cahaya terang.

Kebenaran itu ada, tetapi dia masih tersembunyi di dalam sekali , tertimbun oleh kebebalan dan kelengahanmu, sehingga engkau hidup dalam serba kegelapan , walaupun matahari ada , dan kepalsuan walaupun sepuhan warna emas tidak dapat menyembunyikan tembaga atau emas lancung. Terimalah seruan Nabi ini, niscaya hatimu akan dipenuhi oleh terang, sehingga kamu , akan dapat membedakan yang buruk dcngan yang baik, yang baik dengan yang hak.

Karena untuk inilah dia diturunkan, yaitu untuk "Furqan“ membedakan yang terang dengan yang gelap ....



 وَ قالُوا ما لِهذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعامَ وَ يَمْشي‏ فِي الْأَسْواقِ لَوْلا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذيراً
(7)
Dan mereka berkata pula;Mengapa Rasul ini memakan makanan dan jalan-jalan di pasar ? Mengapa tidak diturunkan kepadanya malaikat , untuk memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?


أَوْ يُلْقى‏ إِلَيْهِ كَنْزٌ أَوْ تَكُونُ لَهُ جَنَّةٌ يَأْكُلُ مِنْها وَ قالَ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلاَّ رَجُلاً مَسْحُور
(8)
Atau(mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan , atau dia mempunyai kebun untuk makannya?
Dan berkata pula orang-orang yang aniaya itu, bahwasanya yang kamu ikuti itu hanyalah sescorang yang telah dirasuk sihir.


ٱنْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثالَ فَضَلُّوا فَلا يَسْتَطيعُونَ سَبيلا
(9)
Cobalah engkau perhatikan ( wahai utusanKu ) betapa mereka telah berbuat perumpamaan mengenai dirimu.
Maka sesatlah mereka dan tidaklah mereka sanggup lagi untuk berjalan .


تَبارَكَ الَّذي إِنْ شاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْراً مِنْ ذلِكَ جَنَّاتٍ تَجْري مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهارُ وَ يَجْعَلْ لَكَ قُصُوراً
(10)
Amat berkatlah Tuhan , yang jika Dia suka, akan dibuatkanNya untuk engkau taman yang lebih baik dari itu, yaitu taman-taman mengalir di bawahnya sungai-sungai dan diperbuatkanNya pula untuk engkau istana.


بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ وَ أَعْتَدْنا لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعيراً
(11)
Tetapi sebenamya mereka adalah mendustakan saat (kiamat) itu dan telah Kami sediakan buat orang yang tidak mempercayai akan hari kiamat itu neraka sa‘ir.


إِذا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكانٍ بَعيدٍ سَمِعُوا لَها تَغَيُّظاً وَ زَفيراً
(12)
Apabila mereka kelihatan dari jauh, niscaya akan kedengaran kemarahannya yang bernyala dan suara gegap-gempita.


وَ إِذا أُلْقُوا مِنْها مَكاناً ضَيِّقاً مُقَرَّنينَ دَعَوْا هُنالِكَ ثُبُوراً
(13)
Dan jika mereka dijatuhkan ketempat yang sempit dalam neraka sambil dibelenggu, di kala itulah mereka menyerukan nasibnya yang malang.


لا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُوراً واحِداً وَ ادْعُوا ثُبُوراً كَثيراً
(14)
Pada hari ini janganlah hanya menyerukan nasib malang satu kali saja, serukanlah nasib malang itu berkali·kali.


قُلْ أَذلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتي‏ وُعِدَ الْمُتَّقُونَ كانَتْ لَهُمْ جَزاءً وَ مَصيراً
(15)
Katakanlah olehmu ( hai utusanKu ), nasib demikianlah yang baik ? Ataukah syurga al-Khuld ( kekal ) yang telah dijanjikan untuk orang-orang yang takwa ? Yang telah disediakan bagi mereka sebagai ganjaran dan tempat kembali.


لَهُمْ فيها ما يَشاؤُونَ خالِدينَ كانَ عَلى‏ رَبِّكَ وَعْداً مَسْؤُولا
(16)
Di sana tersedia apa yang mereka kehendaki, lagi kekal selamanya. Itu adalah janji Tuhan yang selalu dimohonkan orang.


Berfikir Yang Kacau-balau

Sebagaimana telah disebutkan pada ayat 4 yang terdahulu , orang yang kafir dan menampik dan akan tetap dalam tampikannya selama dia belum mau berfikir yang teratur . Dinding tebal menghambat mereka dari pada kebenaran, dinding itu ialah zhulman wa zuran. Zhulman ialah kegelapan, dan kegelapan menimbulkan serba sesuatu yang salah. Bertambah bertumpuk kesalahan-kesalahan, bertambah bertumpuklah kebohongan. Maka dalam ayat 7 ini bertemu lagi kelanjutan kesalahan dan kebohongan itu.

Mereka tidak merasa puas , mengapa maka seorang manusia biasa diangkat menjadl Rasul ? , Mengapa Rasul itu makan dan minum , mengapa dia berjalan masuk keluar pasar. Rasul itu mestinya tidak begitu. Dia mesti lain dari manusia biasa. Atau sekurang-kurangnya, kalau manusia juga hendak diangkat menjadi Rasul , adakanlah pembantunya dari bangsa malaikat, supaya mereka bekerjasama menyampaikan peringatan-peringatan Tuhan itu kepada ummat manusia.

Maka di ayat 9 Tuhan menyuruh kepada utusanNya Nabi Muhammad s.a.w. itu, betapa orang-orang membuat perum -  pamaan , macam·macam kata yang mereka keluarkan. Dlpandang sepintas lalu sanggahan itu benar, tetapi apablla dipertlmbangkan dengan akal yang sihat, dan pengalaman rohani yang suci murni, segala perumpamaan yang mereka keluarkan itu timbul dari kesalahan penilaian mereka belaka.

Kesalahan itu kian lama kian bertumpuk , yang membawa mereka kian lama kian sesat. Kian lama mereka “dimaling” oleh belukar yang mereka perbuat sendiri , akhirnya mereka tidak sanggup lagi melepaskan diri buat meninggalkan tempat
itu, selangkah pun mereka tidak dapat maju. Tak tahan lagi jalan yang mana yang akan dltempuh.

Dan kita pun ummat Muhammad marilah kita sama merenungkannya dengan Nabi kita sendiri , akan nilai perumpamaan-perumpamaan yang mereka tonjolkan itu.

Mula-mulanya dltuduhnya bahwa wahyu Tuhan kepada Nabi itu hanya buatan-buatannya saja (ayat 4), dan kata buatan itu pun ditolong pula oleh kaum yang lain. Tetapi kaum yang lain itu tldak jelas. Mereka tidak sanggup menilai inti kebenaran Tauhid, bahwa Tuhan tidak berserikat , bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak memungut anak. Lalu kata demikian mereka
tuduh buatan saja, padahal merekalah yang menyembah berhala. Kemudian mereka dlkatakannya pula bahwa seruan Tau- hid yang dibawa 0leh Nabi itu hanya dongeng-dongeng purbakala yang dikumpulkan dari mulut ke mulut, lalu dibacakan nya ke hadapan umum pagi-pagl dan petang-petang.

Nyata bahwa mereka sendiri tidak tahu apa arti yang mereka katakan dongeng-dongeng purbakala , baik di Timur (India} atau di Barat (Yunanl), atau di sekelillng bangsa-bangsa, Semit dan bangsa Arab sebelum lbrahim, seluruhnya adalah berisi pemujaan kepada dewa-dewa, penyembahan kepada berhala menakuti dan mempertuhankan sesama manusia, atau mendewakan bintang-bintang di langit. itulah yang dongeng (Asaathir) dari orang dahulu kala.

Alangkah bodohnya dan dangkalnya perumpamaan yang mereka kemukakan ini. Walaupun begitu, namun Nabi Muham - mad diutus Tuhan menghadapi cara yang mereka pakai ini dengan dada lapang, dan pintu buat mereka insaf masih begitu lebar (ayat 6).

Sekarang keluar lagi sanggahan lain. Kalau dia benar-benar Nabi mengapa dia masih makan makanan sebagai manusia biasa? Kalau dia memang seorang Rasul, mengapa dia kelihatan berjalan-jalan di pasar-pasar sebagai manusia biasa? Mengapa tidak diberi dia pembantu, yaitu malaikat ? Supaya malaikat itu turut mambantunya menyebarkan peringatan Tuhan?

Fikirkanlah sekarang dengan akal yang teratur! Adakah nilainya perkataan atau sanggahan yang mereka keluarkan ini? Mereka sendiri kalau ditanya dari hati ke hati, mengakui bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa yang bernama Allah itu
memang ada. Meskipun mereka mengenal adaNya Tuhan, sayangnya mereka tidak mengenal Kebesaran Tuhan. Bukan Muhammad saja, bahkan berkali-kali sebelum Muhammad, termasuk nenek-moyang orang Arab sendiri.

Nabi lbrahim, yang juga makan makanan dan berjalan di pasar. Mereka itu telah dipilih dan kalangan manusia buat meneri ma wahyu llahi dan ditugaskan menyampaikan kepada anak manusia. Mereka makan, mereka minum, kawin dan berjalan di. pasar, sebab mereka memang manusia. Tetapi jiwa mereka telah digembleng oleh Tuhan buat menerima wahyu yang agung itu. Dan malaikat memang diturunkan kepada mereka buat menyampaikan wahyu itu. Bahkan kadang-kadang mereka ditemani oleh malaikat itu ke manapun mereka pergi, tetapi tidak kelihatan oleh mata manusia.

Bagaimana hendaknya lagi? Hendaknya kalau dia Rasul hendaklah belanjanya ditanggung dari langit. Turun hendaknya emas bergumpal-gumpal dari langit untuk perbelanjaannya. Dan bagaimana lagi. Atau ada sebuah kebun luas, cukup tumbuh di sana gandum dan korma, sehingga Muhammad hanya datang memetik saja untuk makannya?

Kemudian ada pula yang berkata: Apa gunanya Muhammad itu diikuti. Dia hanya seorang yang rusak ingatan karena kena sihir.Nilailah semua jalan fikiran yang demikian, niscaya akan temyata kacaunya, timbul dan orang yang kacau fikiran.

Yang mesti dinilai, bagi orang sihat fikiran, bukanlah cara hidup yang ganjil-ganjil itu; Orang-orang yang berakal sihat, tidak lah dapat ditaklukkan dengan turunnya emas dari langit. Orang yang sihat fikiran tidaklah akan terpesona oleh tiba-tiba muncul saja sebuah kebun besar dan luas penuh buah-buahan. ltulah dia yang dongeng.

Hanya enak buat didongeng dan dikhayalkan. Bahkan Tuhan Allah tidak sanggup akan berbuat demikian. Nabi-nabi
yang terdahulu sebagai Nabi Musa, telah dapat dengan izin Allah membelah laut dengan tongkatnya. Maka kagum dan terpesonalah orang sebentar, kemudian yang kafir kafir juga, yang Mu’min mu’min juga. Nabi Shalih sudah diberi mu‘jizat unta keluar dari liang batu, karena ummat itu sendiri yang meminta nya. Tetapi setelah unta ganjil dan mu‘jizat itu keluar tidak jugalah semua mereka beriman. Bahkan datang satu komplot membunuh unta itu.

Bukan Tuhan tak sanggup membuatkan Muhammad taman indah , mengalir di bawahnya sungai-sungai yang jernih aimya, dan bukan Tuhan tidak sanggup membikinkan Muhammad istana (ayat 10). Tetapi segala hal itu tidaklah menjamin akan mengubah fikiran orang yang tadinya telah dimulai dari pangkalan yang tidak sihat. Ada pepatah Minangkabau yang terkenal :
“Kambing di parak panjang janggutnya. Orang yang enggak banyak sebutnya”.

Pokoknya ialah bahwa mereka hendak sengaja mendustakan hari kiamat. Mengapa mereka dustakan? Karena mereka telah biasa dengan hidup cara lama. Bukanlah perkara mudah bagi satu kelompok yang telah keenakan memegang cara yang  lama buat berpindah saja kepada suatu ajaran baru yang mengubah samasekali.

Muhammad mengajarkan Tuhan hanya satu. Bagaimana berhala mereka?
Muhammad mengajarkan jangan makan riba, bagaimana harta mereka?
Muhammad mengajarkan bahwa orang yang mulia di sisi Tuhan , hanyalah orang yang takwa kepadaNya.
Bagaimana mereka akan mau disamakan dengan si Bilal, budak belian dengan penghulunya "Tuan” Mughirah ?
Muhammad menganjurkan membayar zakat, menolong fakir miskin.

Padahal selama ini harta benda bagi mereka bukan untuk disedekahkan kepada si miskin, karena tidak ada taedahnya yang akan didapat daripada memberi itu. Mereka hanya mengenal mengadakan jamuan-jamuan besar pada sesama hartawan, bermegah-megah dengan menghormati tetamu orang besar-besar. memperhitungkan kemegahan suku. Karena itu berba - lasan !

Muhammad mengatakan ada lagi hidup di belakang hidup yang sekarang.
Di sana manusia akan menerima pembalasan. Kalau ajaran itu diterima, nilai kepada kemegahan berubah sama sekali. Selama ini seseorang menjadi amat terpandang dalam kaumnya karena banyak hartanya. Karena berpuluh ekor
menyembelih unta untuk mengadakan jamuan atau karena menang dalam perlombaan mempertahankan nama kabilah atau kaum karena bertanding siapa lebih pandai bersyair dan sebagainya.

Sebagai Rasul Nabi Muhammad harus bersikap tegas menerangkan bahaya yang akan menimpa mereka kalau mereka masih terus bertahan pada pangkalan berfikir yang salah itu. Mereka mendustakan hari pembalasan.
Mereka sebenamya telah lupa bahwa hidup yang seperti ini tidak akan lama.
Mereka disadarkan, diberi peringatan (nadziran) bahwa amat besarlah akibat yang akan menimpa diri mereka karena mendustakan hari pembalasan itu.

Mereka akan masuk neraka sa‘ir, neraka nyala. Dari jauh-jauhan pun sudah kedengaran gelegak gelora dan deru dahsyatnya api neraka sa‘ir itu. Bahkan dikala mereka masih hidup pun telah mendengar suara itu dalam hati sanubari mereka sendiri, debar-debar dan denyutan jantung mereka karena kusut fikiran, kusut pangkal menyebabkan kusut ujung.

Di ayat 12. 13, 14 diterangkan sifat-sifat mereka itu. Bunyinya yang dahsyat kedengaran dari jauh-jauh. Penuh kemarahan dan kemurkaan.Dilemparkanlah manusia yang berdosa itu ke dalam api nyala itu, sambil dibelenggu tangannya. Sempit tempat itu. Karena saking takut, pedih dan siksa, meraung memckiklah méreka di sana, meminta ampun dan karena tiada jalan.Di ayat 14 dijelaskan lagi, berkali-kali pun mereka meraung dan memekik, meminta ampun. tidak ada lagi faedahnya. Hutang mesti dibayar, dosa mesti diganjar. Kalau tidak ada yang demikian, manakah lagi keadilan ? lni mesti terjadi, tak dapat tidak!

Apabila ayat-ayat ini dibaca dalam asli Arabnya, terasalah betapa dahsyatnya neraka itu. Terbayang semua yang ngeri dan menakutkan. Kita dengar dengan penuh takut dan ngeri apabila sebuah gunung mulai meletus. Kedengaran gemuruhnya dalam perut bumi. Kita lihat betapa ngeri seketika lahar mengalir, penuh belerang dan panas membakar, melanda segala bangunan, menghanyutkan segala yang bertemu di jalan. Kita dengarkan dengan penuh kengerian jerit berputus asa apabila terjadi air bah besar dan banjir hebat ditengah malam. Suara pekik dan menakutkan. Ngeri kita melihat seorang ibu
hamil menggendong analknya, mencoba melangkah meraba-raba tanah dengan kakinya, tetapi tak berdaya, dia pun hanyut terus memekik terus , sambil hilang pekiknya dan pekik anaknya ditelan Banjir.

Satu kali kita melihat di rimba Panti Air hangat menggelak dalam hutan , sebentar-sebentar muncul dari bawah sebagai kepala hantu, kedengaran gemuruhnya, ngeri dan menakutkan .ltu semua belum apa-apa jika dibandingkan dengan neraka.

Maka timbullah pertanyaan Tuhan, disampaikan olah lidah utusanNya pada ayat berikutnya·(ayat 15).
Apakah itu yang baik ? Ataukah Syurga Khuldi ? Syurga yang kekal ?
Mengapa hanya takut kepada siksa Tuhan, dan tidak ingat betapa sangat dermawannya Tuhan memberi nikmatnya kepada hambaNya dengan tanpa perhitungan?
Percaya kepadaNya, tidak diperserikatkan Dia dengan yang lain, maka pintu rahmatNya terbuka sekali.Segala dosa dapat diampuni, karena manusia payah mensucikan dirinya dari kesalahan, asal saja yang satu itu , yaitu mangesakan Allah,
tidak memperserikatkanNya , dipegang teguh , tak dilepaskan .

Diperbuat satu kebajikan, diberi pahala sepuluh. Alangkah royalnya memberi?
Diberikan sedekah kepada fakir dan rriiskin, atau dikurbankan harta benda untuk jalan Allah, maka diberi pahala 700 kali lipat ? Bayangkanlah di fikiran , seorang nyonya rumah memberikan uang 100 rupiah kepada seorang miskin , tiba-tiba di akhirat kelak dia menerima balasan 700 kali 100 ?

Seorang yang beriman mengajak orang yang masih belum beragama supaya memeluk agama lslam, orang itu pun masuk Islam. Tiba di akhirat dia menerima pahala “Khairun minad dunya wama fiha”. Lebih baik daripada suatu dunia bersama ségala isinya. Hanya kerja kecil, mensyahadatkan orang , namun pahalanya besar berjuta ganda dari yang dikerjakan? Diperbuat amal kebajikan, sepuluh pahalanya. Diperbuat satu kesalahan, hanya satu dosanya.

Berijtlhad bersungguh-sungguh memecahkan satu soal, lalu terdapat hasil yang benar, mendapat dua pahala. Pahala berijtihad dan pahala benar hasil ijtihad. Berijtihad pula bersungguh-sungguh memecahkan suatu soal , lalu salah
hasil usaha itu, berpahala juga walaupun hanya satu, yaitu pahala ijtihad.

Dan tidak berdosa kalau hasil itu salah, karena tidaklah salah yang disengaja Siapa Tuhan lain yang seroyal ini. Siapa Tuhan lain yang sekasih ini ? Penuh hidup selama ini dengan dosa, lalu insaf dan taubat, segala dosa tadi dihabiskan Tuhan dan diberi kesempatan membangun hidup baru ! Begitu pemurah Tuhan, masih jugakah hati kita membatu ?

Azab siksa neraka yang mengerlkan itu, tidak dapat dielakkan lagl nanti , kalau kiamat telah datang. Lebih baik sekarang saja menjauhinya, dan tidak sukar. Percaya keesaan Tuhan dengan mempergunakan akal yang murni. Beibadat kepada Allah dan mengasihi sesama manusia.

Berbuat jasa untuk pakaian hidup yang sekarang dan hidup yang sesudah mati. Memang ngeri orang yang durjana dan fasik meringkuk dalam neraka. Tetapl apakah tidak mena‘jubkan bagi seseorang manusia yang tadinya tersesat atau kehilangan
jalan, lalu memlih jalan baik , dosanya diampuni , dia diberi nur dari kehidupan dan dia kekal di syurga di belakang hari , padahal yang dikerjakan di dunia tidak leblh dari pada apa yang dikerjakan oleh manusla.

Dalam syurga, terdapat apa yang dikehendaki dan diinginkan, dan kekal pula. Hal itu bukanlah main-main dan senda-gurau, tetapi kata yang benar , janji yang tidak akan dimungkiri. Dan itulah yang selalu diminta, dimohonkan dan diharapkan oleh hati kecil manusia.

Sebagai ummat yang telah dari bermula menyatakan percaya kepada Tuhan, dan percaya pula kepada Rasul yang diutusNya, percaya bahwa neraka itu benar dan syurga itu benar. Di samping azab siksanya yang kejam keras kepada yang tidak mengikuti kebenaran , kemurahannya berlimpah tidak berjangka kepada orang yang taat.

Dan di dalam hati sanubari kita sendiri , dalam lubuk jiwa kita adalah sesuatu yang hidup, yaitu percaya dan yakin. Ada sesuatu yang hidup yaitu kepercayaan akan kebaikan. Kita mengakui bahwa pada kita ada desakan-desakan nafsu yang merayu kita keluar dan garis, tetapi dasar baik maslh tetap ada pada pihak kita untuk menuruti dan menjalani garis yang telah ditunjukkan oleh Nabi. Kita tidaklah semata-mata jahat. Apatah lagi ajaran Islam mengakui kebersihan manusia dan fikirannya. Manusia tidak dilahirkan dalam dosa, tetapl dalam suci .Sebab ltu pada seorang Musllm tidak ada rasa putusasa akan berbuat baik.



 ُلاءِ أَمْ هُمْ ضَلُّوا السَّبيلَ وَ يَوْمَ يَحْشُرُهُمْ وَما يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ فَيَقُولُ أَأَنْتُمْ أَضْلَلْتُمْ عِبادي هٰؤ
(17)
Dan pada had itu Tuhan akan mengumpulkan seluruh mereka dan segala yang mereka sembah selain Allah itu. Maka bersabdalah Tuhan : Kamukah yang telah menyesatkan hamba-hambaKu itu, ataukah mereka yang telah tersesat sendiri?


قالُوا سُبْحانَكَ ما كانَ يَنْبَغي‏ لَنا أَنْ نَتَّخِذَ مِنْ دُونِكَ مِنْ أَوْلِياءَ وَ لكِنْ مَتَّعْتَهُمْ وَ آباءَهُمْ حَتَّى نَسُوا الذِّكْرَ وَ كانُوا قَوْماً بُوراً
(18)
Menjawablah mereka: Maha Suci Engkau ya Tuhan, tiadalah layak bagi kami akan mengambil pula selain Engkau menjadi pemimpin-pemimpin. Tetapi Engkau telah memberikan kesenangan kepada mereka dan kepada nenek-moyang mereka, sehingga mereka pun lupa akan peringatan, maka lantaran itu jadilah kaum yang hancur luluh.


فَقَدْ كَذَّبُوكُمْ بِما تَقُولُونَ فَما تَسْتَطيعُونَ صَرْفاً وَلا نَصْراً وَ مَنْ يَظْلِمْ مِنْكُمْ نُذِقْهُ عَذاباً كَبيرا
(19)
Maka (sabda Tuhan): Sesungguhnya mereka telah membohongi apa yang telah kamu katakan itu. Maka tidaklah kamu akan berdaya untuk mengelakkan siksa dan tidak pula ada yang dapat menolong. Dan barangsiapa di antara kamu masih berlaku aniaya, akan Kami timpakan siksa yang besar.


وَما أَرْسَلْنا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلينَ إِلاَّ إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعامَ وَ يَمْشُونَ فِي الْأَسْواقِ وَ جَعَلْنا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَ كانَ رَبُّكَ بَصيرا
(20)
Dan tidaklah Kami mengutus sebelum engkau seorang Rasulpun melainkan semuanya memakan makanan dan berjalan dipasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu menjadi percobaan bagi yang lain. Adakah kamu sabar ? Dan adalah Tuhan engkau itu selalu memperhatikan.


Pertentangan Yang Memuja Dengan Yang Dipuja

Kelak hari kiamat itu pasti datang: Seluruh insan akan dikumpulkan oleh Tuhan, dan dikumpulkan pula bersama dengan mereka segala orang atau barang yang selama ini mereka jadikan pujaan, yang mereka sembah. Entah yang mereka sembah dan puja itu berhala buatan tangan mereka sendiri, atau lambang yang timbul dari rangkaian khayal, lalu dipaksa supaya dipandang sebagai suatu kenyataan, atau syaitan dan hantu, pohon dan batu, keris atau pedang pusaka, atau kuburan guru yang telah mati, atau seorang pemimpin sudah dianggap sebagai Tuhan, walaupun lidah tidak mengakui.

Semua yang disembah itu akan dihidupkan bersama dengan yang menyembah tadi dalam suatu pertemuan besar, lalu ditanyakan kepada persembahan-persembahan itu apakah mereka yang telah mengajarkan ajaran yang sesat kepada si penyembah itu ? Adakah mereka menanamkan pengaruh dan penipuan, sebagai perbuatan Fir‘aun atau Namrudz di zaman purbakala, atau manusia-manusia yang lupa diri karena mencapai kebesaran di dunia modern, sehingga mereka meminta, supaya mereka diagungkan sebagaimana mengagungkan Tuhan , dan kalau sedikit saja kurang pemujaan kepada mereka, mereka pun marah , sehingga berakibat bahwa manusia yang disesatkan itu tidak sanggup berfikir dan meninjau kesalahan mereka?

Ataukah si pemuja penyembah tadi yang sesat karena ketolollannya . Mereka takut melihat tempat yang seram, lalu mereka puja tempat yang seram itu. Mereka muliakan suatu benda lalu mereka sembah?

Manusia-manusia yang telah mabuk oleh kebesaran bisa menyusun fikiran orang banyak secara teratur, supaya mengakui bahwa beliau adalah Maha Kuasa. Lama-lama datanglah bisik-desus teratur bahwa beliau mendapat wahyu dari Tuhan, bahwa perbuatan beliau tidak pemah salah dan di zaman purbakala sengaja dikatakan bahwa raja-raja bukanlah berasal dari manusia , tetapi putera Tuhan, keturunan dari Dewa Zeus (lskandar) atau anak dari Sang Surya Matahari atau Raja (Fir‘aun Mesir). Dai Nippon mempunyai dasar kepercayaan bahwa raja-rajanya adalah keturunan Amaterasu Omikami yang datang dari matahari dan menciptakan pulau-pulau Jepang.

Selain daripada itu raja-raja yang dipuja 0rang·0rang yang shalih atau orang-orang yang berjasa, seteah dia mati dipuja kubumya, setelah dia hilang dibuatkan patungnya.

Manusia-manusia ataupun raja, ataupun pemimpin, ataupun orang-orang yang berjasa yang dipuja, akan dihadapkan dalam sidang majlis Tuhan bersama dengan orang-orang yang memuja itu , ditanyai , kaliankah yang telah menyebabkan orang-orang ini jadi sesat ? Ataukah mereka sendiri yang tolol , yang sontok fikiran, lalu khayal ingatan mereka sendiri mereka tuhankan?

Salah satu dari keduanya pasti ada atau dipusatkan oleh orang-orang yang berkuasa itu, atau manusia sendiri sesat karena tidak ada bimbingan.Manusia sendiri menjadi sesat, karena tidak tahu jalan. Kebesaran alam yang diciptakan Tuhan mempesonakan sehingga lupa bahwa yang menciptakan alam itulah Yang Maha Besar, bukan alam itu sendiri, karena dia hanya ciptaan.

Pada ayat 18 ini dinyatakan jawaban orang-orang atau barang-barang yang dipuja itu atas pertanyaan Tuhan tadi. Maha Suci Engkau. lnsaflah kami bahwa ini tidak berarti apa-apa, tidak ada kekuatan dan kebesaran pada kami , hanyalah anugerah Engkau jua. Mereka itulah yang salah. Anugerah kesenangan dan kemewahan hidup yang pemah Engkau berikan kepada mereka, mereka lupa daratan, mereka tidak memperdulikan lagi pengajaran yang baik , sehingga akhimya mereka pun binasa. Hilanglah dasar tempat tegak dan kaburlah tujuan kehidupan. Dan kalau.dasar dan tujuan telah hilang tuntutlah
peribadi, dan apabila peribadi tidak tegak lagi itulah dia kebinasaan.

Di sini patutlah direnungkan apakah artinya kebahagiaan hidup itu. Banyaklah manusia yang salah faham, menggantungkan pengharapan hidup semata kepada kemewahan dan kecukupan. Di zaman moden orang berlomba menuju hidup yang mewah. Barang-barang yang kurang perlu dipandang sangat perlu, scbaliknya yang amat perlu tidak menjadi perhatian. Orang menyangka bahwa penilaian hidup adalah semata-mata pada pangkat yang tinggi, rumah yang mcwah, kendaraan mobil model yang paling baru. Sepintas lalu kelihatan kegembiraan mereka itu. Tetapi kian lama hilanglah suatu yang amat
penting yaitu kekayaan batin, Penuh di luar, tetapi kosong di dalam. Kemewahan kerapkali menjadi racun bagi jiwa. Diberi Allah Ta‘ala kesempatan, tetapi tidak pandai mempergunakan kesempatan itu. Akhimya menyembah dan memuja kepada benda dan makhluk, mendewakan sesama manusia atau barang yang tidak ada harganya, hanyalah dipaksakan kepada jiwa diri sendiri buat memujanya.

Di ayat 19 membalikkan bicara kepada 0rang-0rang yang memperserikatkan Tuhan dengan manusia atau benda itu. Tuhan bersabda: Sesungguhnya jelaslah sekarang bahwa pemuja-pemujamu itu telah mendustakan atau memungkiri apa yang kamu katakan. Mereka melepaskan diri daripada tanggung-jawab, mereka pun merasakan bahwa tidak ada sesuatu pun
yang berhak dijadikan sebagai pelindung selain Allah , tidak ada Wali lain. Wali hanya satu , yaitu Tuhan Allah.

Oleh sebab itu kamu tidaklah dapat menghindarkan diri lagi daripada siksa Ilahi dan tidak seorang pun yang dapat menolong dan membela kamu di dalam menghadapi azab `llahi itu. Dari masa ke masa Tuhan telah mengirimkan utusanNya buat memberikan penerangan yang jelas tentang Hak` Nabi dipuja, dengan sendirinya, kamu juga yang tidak perduli.

Sudahlah hal yang wajar bahwa barangsiapa yang bersalah akan merasai siksaan yang besar. Apatah lagi di dalam ayat yang lalu sudah dijelaskan pula oleh Tuhan;

إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَ يَغْفِرُ ما دُونَ ذلِكَ لِمَنْ يَشاءُ وَ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرى‏ إِثْماً عَظيماً
"Tuhan tidak dapat mengampuni jika Dia dipersekutukan dengan yang lain, dan Dia dapat memberi ampun dosa yang lain, (selain syirik) bagi barang siapa yang dikehendakiNya. ” (an-Nisa’ 48)

Kemudian itu diulang lagi menjelaskan pada ayat 20, bahwasanya sejak zaman purbakala, jauh masanya sebelum Nabi Muhammad s.a.w. telah berulang-ulang jua Tuhan mengirimkan utusan ke dalam alam ini. Utusan itu dipilih dan kalangan manusia sendiri. Manusia, bukan malaikatl Manusia bukan jin ! Karena tidaklah sesuai kalau yang akan diben peringatan itu makhluk insani , lalu dipilih utusan yang bukan insani. Semua Rasul-rasul itu makan dan minum sebagai manusia yang lain, masuk pasar keluar pasar seperti manusia yang lain.

Bukan mereka segolongan kecil manusia yang hidup dalam istana gading, berani memberikan pelajaran tentang hidup, padahal dia sendiri tidak berani masuk ke dalam gelanggang hidup. Rasul·rasul itu hidup dalam kalangan manusia, makan dan minum, masuk pasar, artinya hidup di tengah·tengah masyarakat ramai. Mereka datang membawa wahyu, menunjukkan jalan dan tuntunan yang diberikan ilahi tentang bagaimana caranya melaksanakan dan mengisi hidup dengan cita-cita tinggi dan mumi.

Nabi Muhammad s.a.w. pemah mengatakan;

“Perkara-perkara yang berhubungan dengan agama , maka termasuklah ke dalam tugasku. Tetapi perkara-perkara yang berkenaan dengan duniamu , kamu lebih mengerti."

Dalam pergaulan hidup yang luas itu, Rasul-rasul sama-sama memikul yang berat dan menjinjing yang ringan. Kadang-kadang suatu pemikiran mendapat ujian atau percobaan sebab pergaulan hidup itu ialah tempat menguji kebenaran fikiran.
Itu sebaliknya maka dikatakan dalam inti ayat 20 ini.

“Dan Kami jadikan sebagian kamu menjadi ujian untuk yang Iain."

Banyak sekali rahasia jiwa yang terkandung di dalam ayat ini. Seorang Rasul ataupun seluruh Rasul menyerbukan dirinya ke tengah masyarakat, tetapi dia akan memimpin masyarakat itu kepada kehidupan yang lebih tinggi dan cita yang lebih mulia.

Bukan mereka di luar pagar menunjuk-nunjuk, ini benar ini salah, padahal tak berani ke tengah, Rasul bukan begitu.
Tetapi mereka berjalan di muka sekali memben contoh dan berkata: "Mari turutkan aku!”

Adu-mengadu nilai, banding-membanding kebenaran. Yang sejati tidak akan dijalankan dengan paksaan. Kebenaran memang dengan sendirinya , tetapi pintu hati buat menerima kebenaran, tidaklah semudah menarikkannya.

Kebenaran mutlak datang dari Tuhan, dan Rasul adalah saluran Tuhan menyampaikan kebenaran itu kepada manusia, berupa wahyu. Yang mendapat wahyu hanyalah Nabi itu saja. Ketika Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w. menerima tugas wahyu itu, dia makan dan minum dan dia masuk ke tengah pasar, ke tengah pergaulan hidup. Kata wahyu itu dilemparkan nya ke tengah masyarakat. Ada golongan yang menerima sebagai Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali dan seluruh sahabat yang mula-mula, dan ada pula golongan yang menolak mentah—mentah , "air tidak lalu, bubur pun tidak lalu”, artiya tidak mau menerima sama sekali. ltulah golongan sebagai Abu Jahal, Abu Lahab dan Abu Sufyan dengan para pengikutnya pula.

Maka datanglah pertanyaan dalam ayat ini. “Atashbiruuna?” Apakah kamu tahan? Apakah kamu tabah? Apakah kamu kuat?
Pertanyaan ini tidak lagi dihadapkan kepada seorang Muhammad sebagai Rasul, tetapi kcpada seluruh yang telah memegang keyakinan yang telah diajarkan Muhammad. "Apakah kamu sekalian sabar ? " Nabi Muhammad s.a.w. dan para pejuang angkatan pertama telah berpulang ke rahmatullah. tetapi al-Quran masih tinggal, sehuruf pun tiada yang hilang, sebaris pun tiada yang lupa dan setitik pun tiada yang hapus. Al-Quran masih tetap tinggal sebagai pedoman, perjuangan kita.

Penerima-penerima waris dari Rasul dan meneruskan perjuangan ini.Sekali kita telah menyatakan tekad bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, sekali kita telah bertekad menganggap al-Quran sebagai imam, tidaklah akan berarti pengakuan itu kalau kita bawa al-Quran itu bersemadi ke dalam istana gading, atau bersembunyi ke rimba sunyi. Bahkan kitapun harus makan minum untuk mcnguatkan tubuh, dan masuk ke tengah pasar ramai, ketengah masyara kat membawa obor kita. Di antara kita akan mendapat ujian tentang kebenaran pendinan kita, pendirian yang berdasarkan pada wahyu. Kebenaran yang mutlak. Apakah kita sabar kena angin dan taufan ?

Apakah kita tabah menghadapi kesulitan ? Kejayaan perjuangan kita sebagian besar tergantung kepada kesabaran dan ketabahan kita juga.·Kerap kali orang tidak Iekas menerima kebenaran yang kita bawa ,bukanlah karena dia tidak benar, melainkan karena kitalah yang tidak sanggup memperjuangkannya.

Kadang-kadang kita·gagal, maka jika kita gagal, janganlah ragu akan kebenaran yang kita perjuangkan. Mungkin teknik belum kena atau taktiknya belum sempuma. Tertumbuk biduk dibelokkan, tertumbuk kata difikiri ! Perjalanan teruskan juga.

Di akhir ayat diberilkanlah peringatan bahwa Tuhan selalu melihat memperhatikan dan memandang dengan amat teliti apa jua pun yang kita kerjakan . lsi yang mendalam lagi pada ayat ini, ialah bahwa sekalian Rasul itu adalah manusia belaka, manusia pilihan. Mereka adalah manusia yang dipilih-pilih dari kalangan manusia sendiri, akan diutus kepada sesamanya manusia. Maka jika dia memberikan contoh teladan dapatlah mata kita menyaksikan dan dapat pula kita tiru. Dengan tegas Tuhan bersabda:

"Sesungguhnya adalah Rasul itu menjadi teladan yang baik untuk kamu."

Kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. adalah contoh kehidupan yang paling sempurna, yang dirumuskan oleh salah seorang Pujangga Islam dengan sebutan “The Ideal Prophet" atau " Al-Matsalul KamiI ", artinya teladan hidup yang paling sempuma. Maka sejak kita menerima taklif dari Ilahi, kita akan berusaha meneladan kehidupan itu sedaya upaya kita. Tujuan terakhir kehidupan kita ialah: "Hidup menyontoh kehidupan Nabi, menurut tenaga yang ada pada kita.”

Pengalaman ummat-ummat yang terdahulu menjadi perbandingan bagi kita ummat yang datang di belakang. Dan kita bersyukur bahwa al-Quran telah terkumpul secukup selengkapnya di dalam Mushhaf. Sehingga penyelewengan tidak bisa terjadi. Ummat Yahudi telah tersesat seketika dari rasa dendam mereka menuduh bahwa Nabi Isa ‘alaihis-salam adalah anak yang dilahirkan di luar nikah. Alangkah rendahnya tuduhan itu. Sebaliknya orang Kristen karena sangat cinta kepada Nabi Isa dan sebagai menghargai pengurbanan mengatakan pula bahwa beliau " Anak Tunggal Tuhan ”.

Tidak !

Seluruh utusan Allah itu adalah manusia yang telah dipilih. Dan rohnya telah dilatih buat menerima wahyu itu. Seluruh utusan, sejak Adam atau sejak Nuh, melalui Ibrahim, Musa, Isa dan sampai kepada Muhammad s.a.w. semuanya manusia. Manusia pilihan dan terpilih !

Kalau al-Quran sebagai tempat pulang yang mutlak bagi seorang Muslim tidak terpelihara baik-baik, ada juga kemungkinan bahwa Nabi Muhammad itu sendin pun akan dilupakan pula , kedudukannya dari manusia dinaikkan kepada derajat ke tuha nan Bahkan meskipun al-Quran ada, pemah juga dicoba orang buat membawanya ke sana, sebagaimana terjadi dalam pelajaran-pelajaran kaum Shufi yang kemasukan pengaruh dari kaum filsafat Neo Platonisme. Mereka mengatakan bahwa Muhammad itu adalah mempunyai dua arti.

Arti yang lahir ialah Muhammad anak Abdullah yang terjadi daripada 'alaq , sebagai manusia yang lain juga.
Tetapi arti yang hakiki, bahwa Muhammad itu adalah "Al·Haqiqatul Muhammadiyah",yaitu Allah Ta‘ala menyatakan diriNya yang hakikat Muhammad , (Ibraza Haqiqatihil Muhammadiyah), malahan Jismahu (tubuhNya) Waruhahu (rohNya) dan
Ma‘naahu. Malahan ada penafsir yang mengatakan bahwa ketika dia dilahirkan ke dunia langsung dari perutnya , seumpama orang yang dibedah .

Al-Quran dengan tegas menyatakan:

“Saya ini tidak lain, melainkan manusia sebagai kamu juga, lalu diwahyukan kepadaku."

Al-Quran sekali lagi al-Quran.

Jangan sampai kita diselewengkan oleh penafsir setengah penafsir yang sadar atau tidak sadar , sudah kemasukan pelajaran lain yang diselundupkan ke dalam Islam.

SELESAI TAFSIR JUZU’ 18 DENGAN KURNIA DAN HIDAYAT ALLAH